Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 54

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 54 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 53

Malam Pertama, Meski Tertunda

Keesokan harinya, saat malam menjelang,

Sikap Trias agak aneh. Dan Suzie dapat menangkapnya dengan jelas.

“Kamu kenapa, Aa?” tanyanya. “Kelihatan gundah. Ada yang lagi dipikirkan?”

“Nggak ada,” jawab Trias singkat, sambil menggeleng.

“Nggak mungkin,” Suzie tidak lantas puas dengan jawaban sesingkat itu. “Cerita, atuh. Terbuka dan jujur sama aku. Seperti biasanya. Karena itulah yang bikin aku jatuh cinta sama kamu.”

“Nggak ada apa-apa, Sayang,” Trias tersenyum, sambil mengusap lembut pipi kiri Suzie. “Hayu kita keluar kamar. Bapak dan Ibu pasti udah menunggu kita.”

Suzie mengangguk pelan. Ada sedikit kepenasaran atas tingkah ganjil sang suami, namun disimpannya di dalam hati.

Kalau udah waktunya, dia pasti cerita, batinnya. Karena begitulah Trias. Selalu terbuka.

Benar saja. Bapak dan Ibu sudah duduk di ruang tengah, dengan tumpukan piring, nasi serta dua macam lauk di hadapannya. Trias dan Suzie sama-sama tersenyum geli, saat menyadari dua lauk itu adalah sisa masakan dari pihak katering kemarin.

“Sampai kapan kita makan dengan menu hajatan, Bu?” canda Suzie.

“Sampai masakan ini habis,” jawab Ibu, sambil tertawa kecil. “Jangan bosan, ya?”

Suzie terkekeh.

“Ya sudah, ayo kita makan,” putus Bapak. “Kalian terlalu lama di dalam kamar, Bapak sudah lapar.”

“Iya,” tambah Ibu, sambil menatap Trias dan Suzie dengan sorot jahil. “Sudah berapa ronde?”

Trias dan Suzie saling pandang, lalu tertawa kecil.

Sebenarnya, tidak ada hal jauh yang dilakukan Trias dan Suzie di malam pertama perkawinan mereka. Keduanya sudah sama-sama merasa terlalu lelah dengan acara resepsi pernikahan, hingga tidak terpikir untuk berbuat lebih lanjut. Mereka hanya berbincang, hingga akhirnya secara alamiah tertidur.

Dan seharian ini, meski lebih banyak dihabiskan di dalam kamar, mereka malah sibuk memberesi barang masing-masing. Juga membuka kado pernikahan. Tidak ada bermesraan. Kalau pun ada, hal tersebut sekilas saja mereka lakukan, sambil tetap fokus dengan kegiatannya.

Kembali pada acara makan malam. Keempat orang di ruang tengah itu sudah mulai menyantap porsi makannya masing-masing. Sambil berbincang, tentu saja. Mungkin, bagi keluarga ini, makan malam adalah sebuah ruang demokrasi. Semua anggota keluarga duduk di tempat yang sama, dan bisa mengemukakan pendapat.

Ini hal baru bagi Trias. Dulu, ketika ia, Mendy dan kedua orang tuanya masih tinggal satu rumah, mereka jarang sekali makan bersama. Sang ayah lebih sering pulang larut malam. Mereka terbiasa asyik dengan urusan masing-masing. Sedikit banyak, hal tersebut berpengaruh pada pembentukan watak introvert Trias, juga hubungannya dengan Mendy yang tidak terlalu akrab.

Maka, ketika Trias kecewa dengan tindak korupsi yang dilakukan Papah, dengan mudah ia kabur dari rumah. Tokh, baginya, tak ada bedanya antara terasing di luar rumah dan ‘sendiri’ di dalam rumah. Sama-sama kesepian.

“Jatah cuti nikahmu sampai kapan?” tanya Bapak.

“Cuma sampai besok, Pak,” jawab Trias. “Lusa, saya udah mulai kerja lagi.”

Bapak mengangguk paham. “Lusa, kalian tetap tinggal di sini, ‘kan?”

Trias dan Suzie saling pandang.

“Kami berharap” lanjut Bapak. “Kalian mau tinggal di sini.”

“Tapi, kami juga tidak bisa memaksa,” imbuh Ibu. “Bagaimana enaknya kalian saja.”

Bapak membenarkan dengan anggukan kepala. “Biar bagaimana pun, kalian sendirilah yang harus memutuskan segala hal tentang rumah tangga kalian. Termasuk urusan tempat tinggal.”

“Kami udah punya rumah, Pak, Bu,” ucap Trias. “Yah… meskipun kecil dan masih harus dibangun lagi. Maklum, rumah bersubsidi dari pemerintah.”

Bapak dan Ibu menatap Trias penuh antusiasme. Lalu menatap Suzie, seolah minta pembenaran.

“Bukan rumah kami, tapi punya Trias,” bantah Suzie. “Karena Trias beli rumah itu sebelum dekat sama aku.”

“Tapi, aku bakalan menempati rumah itu sama kamu, Néng,” ujar Trias. “Masa’ aku tinggal di sana, sementara kamu tetap nge-kost?”

Suzie tergelak. “Kamu tega kalau harus seperti itu?”

“Nggak,” jawab Trias cepat.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita, Dé?” tanya Bapak.

“Trias melarang, Pak,” jawab Suzie.

“Kenapa?” tanya Bapak lagi.

“Kami nggak mau sombong, Pak,” kini Trias yang menjawab. “Banyak orang yang punya kemampuan lebih dari kami. Jadi kami nggak berhak untuk jumawa dengan keadaan kami saat ini.”

Bapak menggelengkan kepala. Terlihat jelas gestur kagum di sorot matanya.

“Wajar, sangat wajar,” gumamnya. “Pantas putri Bapak mau kamu nikahi, Trias.”

“Jadi, kalian akan segera tinggal di rumah kalian itu?” tanya Ibu.

“Mungkin mulai bulan depan, Bu,” jawab Trias. “Ada beberapa bagian yang belum rampung, jadi belum memungkinkan untuk dihuni.”

“Kehabisan dana, Bu,” tukas Suzie. “Habis dipakai touring.”

Trias menyikut pelan bahu kiri Suzie. Suzie malah menjulurkan lidah.

“Ibu yakin, mulai saat ini, rumah kalian akan segera berkembang dan layak huni,” tebak Ibu. “Karena kalian sudah menikah.”

“Setuju, Bu,” dukung Suzie. “Ada seseorang yang akan selalu memantau keuangan Trias. Biar nggak habis begitu aja. Biar efektif dipakai membangun rumah.”

“Asal jangan malah kamu yang menghabiskan, Dé,” ingat Bapak.

Suzie terkekeh.

Ia meramalkan, Trias akan menyerahkan sepenuhnya urusan keuangan keluarga kepada dirinya. Dan Suzie siap, jika memang benar seperti itu. Tinggal dirinya yang harus berusaha mengolah segala penghasilan sang suami dengan cermat dan efektif, demi kebaikan keluarganya.

Sepuluh menit kemudian, semuanya telah selesai dengan makan malam masing-masing. Tanpa ada yang memerintah dan mengomandoi, pasangan baru itu langsung membereskan semua sisa makan dan membawanya ke dapur. Bedanya dengan kemarin, pada malam ini Trias dan Suzie mencuci piring bersama-sama.

“Punya kopi, Néng?” tanya Trias pelan, sambil kedua matanya jelalatan ke arah rak kayu.

“Biasanya ada,” jawab Suzie. “Tapi, mungkin bukan kopi hitam. Nggak apa-apa?”

“Mmm… selesai cuci piring, jalan ke luar, yuk?” ajak Trias. “Cari angin, sekalian beli kopi di minimarket. Di dekat sini ada, ‘kan?”

“Hayu,” Suzie tersenyum.

***

Singkatnya, kini mereka telah berada di minimarket. Dan layaknya wanita kebanyakan, misi awal membeli kopi pun berkembang menjadi belanja barang lainnya. Hingga ketika keluar dari minimarket, tangan kiri Suzie menjinjing sebuah kantong plastik berukuran sedang. Isinya, mulai dari camilan, minuman dingin hingga kue kering.

“Dasar ibu-ibu,” Trias memelototi Suzie. “Niatnya cuma beli kopi, malah jadi belanja segala macam.”

Suzie nyengir.

Sepanjang perjalanan menuju kembali ke rumah, mereka berbincang ringan. Tentu, disertai dengan canda tawa. Seperti biasa, sumber tawa adalah gurauan absurd Trias.

“Tahu, ‘kan?” cetusnya. “Setiap upacara 17 Agustus, dibacakan teks Proklamasi sama salah satu petugas upacara?”

“Iya,” gumam Suzie. “Kenapa?”

“Sebutlah si A, jadi pembaca teks itu,” lanjut Trias. Lalu, sambil terus melangkah, ia mengangkat kedua tangan sebatas dada, berlagak sedang membacakan teks. “Ketika tiba saatnya, di depan mikrofon, ia membaca, ‘Proklamasi. Kami Bangsa Indonesia, menyatakan dengan ini Kemerdekaan Indonesia… dan seterusnya.”

Suzie menanti lanjutan cerita sang suami dengan penuh harap.

“Ujungnya seperti ini,” sambung Trias. “‘Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama Bangsa Indonesia. Soekarno’. Lalu si A pun melipat map teks proklamasi, dan kembali ke posisinya.”

“Kok nama Hatta nggak disebutkan?” protes Suzie.

“Nah, kamu percaya, nggak?” tanya Trias, dengan nada ambigu. “Seseorang yang berdiri di belakang si A, berbisik persis seperti yang kamu tanyakan, Néng.”

“Lalu?” kejar Suzie.

“Si A bergegas kembali ke depan mikrofon,” cerita Trias berlanjut. “Dia bilang, ‘Hatta juga’. Lalu kembali ke posisinya.”

Suzie tertawa geli.

Namun, obrolan menjadi agak serius ketika Suzie bertanya,

“Kenapa tadi tingkahmu agak aneh?”

Trias menatap Suzie. “Malah dibahas lagi. Aku udah lupa, lho!”

“Bohong, ah,” Suzie menahan senyum. “Kamu nggak pernah berbohong. Sekali bohong, jadi gampang ketahuan.”

Trias tertawa.

“Cerita, atuh,” bujuk Suzie. “Please…”

“Harus, ya?” tanya Trias, dengan nada putus asa.

Suzie mengangguk semangat dengan gestur jenaka. Trias sampai gemas dibuatnya.

“Kalau nggak ingat saat ini kita lagi di luar,” ujar Trias. “Udah kupeluk kamu.”

“Peluk aja,” tantang Suzie.

“Nanti diciduk sekuriti,” tolak Trias.

“Bukannya bagus?” timpal Suzie. “Diciduk, lalu dinikahkan.”

“Dinikahkan lagi?” seru Trias. “Sama kamu lagi? Kalau sama orang yang berbeda, aku mau.”

Sontak Suzie cemberut. Trias malah tertawa.

***

Bujukan Suzie baru mengena ketika mereka telah kembali masuk kamar. Trias sudah menyeduh kopi, dan kini tersimpan di atas meja rias, bersanding dengan minuman dingin yang tadi dibeli di minimarket.

“Sebelum aku bercerita,” ucap Trias. “Kamu harus berjanji, untuk tidak menertawakan aku.”

Suzie mengangkat tangan kanan, dengan telunjuk dan jari tengah membentuk huruf ‘V’. Kembali, dengan gaya jenaka. Sungguh menggemaskan.

“Jadi, malam ini ‘kan kita bakalan…” Trias tak melanjutkan kata-katanya.

“ML?” tebak Suzie dengan segera.

Trias mengangguk.

“Ada apa dengan ML?” tanya Suzie.

“Satu hal yang cukup mengganjal, Néng,” tutur Trias pelan. “Itulah yang bikin aku gundah.”

“Apa, Aa?” kejar Suzie.

Trias menarik napas dalam-dalam, lalu dibuangnya perlahan.

“Kalau aku nggak kuat lama,” gumamnya. “Harap dimaklum, ya?”

Suzie tertawa geli.

“Tuh, ‘kan?” protes Trias. “Kamu udah janji nggak akan menertawakan.”

“Oh, iya,” Suzie langsung menghentikan tawanya. “Maaf.”

Trias cemberut.

Suzie pun beringsut, lalu memeluk suaminya.

“Nggak usah dipikirkan, Aa,” gumamnya lembut. “Aku mengerti, kok.”

“Yah… harap maklum,” ulang Trias, sedikit tersipu. “Aku masih pemula. Jadi, mungkin nanti durasinya sebentar, kamu jangan be-te.”

“Nggak usah memikirkan durasi,” Suzie kembali tertawa. “Kamu ini mau menyetubuhi, bukan stand up comedy.”

Tak urung Trias pun tertawa geli.

“Seiring waktu, kamu pasti makin pintar,” lanjut Suzie. “Kalau untuk pengalaman pertama, semua orang pasti merasakan hal yang sama. Wajar, Aa.”

“Kamu jangan kecewa, ya,” lirih Trias.

“Nggak mungkin, lah!” Suzie tertawa kecil. “Memangnya, alasan aku menikah sama kamu cuma seks? Lalu, ketika nggak sesuai harapan, aku lantas meninggalkan kamu? Nggak, ‘kan?”

Trias hanya terdiam.

“Meskipun seks itu penting, tapi banyak hal yang lebih penting daripada sekadar seks,” sambung Suzie. “Banyak hal lain yang aku dapat dari kamu. Kalau memang cuma mengharapkan seks, udah dari dulu aku jauhi kamu. Karena aku tahu, kamu nggak mau ML sebelum menikah. Tapi, aku nggak begitu, ‘kan?”

Trias masih saja terdiam.

“Dibawa kalem, Sayang,” Suzie memperketat pelukannya. “Aku mengerti kamu.”

***

Suara televisi yang ditimpali obrolan antara Bapak dan Ibu di ruang tengah masih terdengar. Pertanda bahwa kedua orang tua Suzie masih terbangun. Namun sang putri seolah tidak peduli. Sangat jelas, wanita itu mulai melancarkan aksinya untuk menggoda Trias. Dan sang suami setengah menolak.

“Nanti terdengar ke luar,” bisik Trias. “Tunggu Bapak dan Ibu tidur dulu, deh.”

Suzie mengedikkan bahu. “ML sambil bisik-bisik aja.”

“Waduh!” Trias tertawa. “Mana bisa, Néng?”

“Memang susah, sih…” gumam Suzie, lalu kemudian ikut tertawa. “Bagaimana kalau sekarang kita ke supermarket bahan bangunan?”

Trias mengerutkan keningnya. “Mau apa?”

“Beli lembaran glasswool,” jawab Suzie. “Buat peredam suara.”

Trias menatap Suzie dengan jenis sorot mata yang sulit untuk didefinisikan.

“Ideku absurd, ya?” gumam Suzie.

“Sama sekali nggak,” jawab Trias, sambil mengacungkan ibu jari tangan kanannya. “Ide brilian, kok. Sangat brilian.”

“Kok kamu bicaranya seperti orang yang lagi gemas?” tukas Suzie, seraya menahan senyum. “Nggak suka sama ideku?”

“Suka sekali,” jawab Trias. “Mana mungkin aku nggak suka dengan ide sebrilian itu, Néng?”

Suzie merengut. “Trias jelek.”

Sejujurnya, Trias memang sangat gemas dengan tingkah Suzie. Sejak di perjalanan dari dan menuju minimarket, hingga peristiwa aktual soal ide peredam suara, sikap sang istri benar-benar membuat otak Trias ‘tercemar’.

“Dulu kamu nggak se-absurd ini, Néng,” tuturnya. “Sekarang lain, ya?”

“Efek negatif dari terlalu seringnya aku bergaul sama kamu, Aa,” jawab Suzie, sambil menjulurkan lidah.

“Kok jadi menyalahkan aku?” protes Trias.

“Jadi, menurut kamu, siapa yang salah?” tanya Suzie. “Jangan bilang si A yang salah gara-gara ketinggalan ‘Hatta juga’!”

Trias tergelak lagi. “Udah, ah. Jangan membahas soal si A lagi.”

“Kenapa?” tanya Suzie.

“Takut terdengar birokrat, lalu jadi inspirasi,” jawab Trias asal. “Nggak lucu, kalau nanti di dekat Jl. Soekarno yang di sebelah Gedung Merdeka itu, muncul nama Jl. Hatta Juga.”

“Dan Jl. Soekarno-Hatta, atau Bandar Udara Soekarno-Hatta, ditambahi kata ‘Juga’ di belakangnya,” imbuh Suzie.

Usai membahas soal ‘Soekarno-Hatta Juga’, mereka perlahan berhenti tertawa-tawa. Situasi kamar kembali terkendali, karena hening lagi, setelah belasan menit dihiasi gelak tawa. Kalau sudah begini, obrolan tentu akan beralih ke masalah hati. Saling rayu, saling memuji. Saling mengungkap rasa cinta.

Ya, kedekatan Trias dan Suzie secara hati yang baru sebentar saja, kemudian dilanjutkan ke jenjang pernikahan, membuat hari pertama usia perkawinan mereka lebih mirip berpacaran. Pacaran halal, tentu saja. Dan mereka menikmatinya.

Trias dan Suzie seolah membalaskan dendam. Jujur, mereka menginginkan kedekatan itu sejak lama. Namun tertunda akibat beragam aral yang hadir di tengah relasi yang mereka jalin. Hingga ketika kedua hati itu bertaut sepenuhnya, begitu besar rasa cinta yang tercurah.

“Masa lalu yang buruk memang harus tercipta, untuk membuat kita mengerti betapa indahnya hidup saat ini,” ujar Trias. “Kalau masa lalu kita selalu indah, kita nggak akan merasakan keindahan hidup di masa kini.”

Suzie butuh waktu untuk mencerna setiap kata-kata yang diucapkan Trias. Barulah ia mengangguk setuju. “Berarti, saat ini, hidupmu indah?”

“Menurut kamu?” tanya balik Trias. “Menikah sama seorang wanita yang benar-benar disayangi. Masa’ hidupku nggak indah?”

Suzie tersenyum. Dirangkulnya leher sang suami, sambil lalu membaringkan kepala di bahu lelaki pesepeda itu.

“Hidupku indah ketika kamu bercanda,” lirihnya. “Dan aku tertawa karenanya.”

“Sesederhana itu, Néng?” Trias tidak sepenuhnya percaya.

Suzie mengangguk. “Kamu kira, kebahagiaan cuma didapat dari harta? Hubungan masa lalu antara kamu dan almarhum Papah, mungkin bisa jadi cerminan.”

Trias mengangguk pelan. Di dalam hati, ia membenarkan kata-kata sang istri. Dulu, ayahnya hampir selalu bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dan segala permintaan istri dan putra-putranya. Tapi, apakah lantas Trias bahagia? Semua terjawab dengan lebih seringnya lelaki itu menghabiskan waktu bersama rekan pesepeda, alih-alih tinggal di rumah.

“Aku nggak akan minta lebih, Aa,” ucap Suzie lagi. “Cukup penuhi kebutuhan primer kita, dan tetaplah ada di sisi keluarga. Aku udah bahagia.”

“Kamu nggak mau dikasih lebih?” tanya Trias.

“Mau,” jawab Suzie. “Tapi, aku nggak mau minta. Kalau kamu bisa kasih, selama dengan cara yang jujur, aku nggak punya alasan untuk menolak.”

Trias menggelengkan kepala.

“Kenapa?” tanya Suzie heran, mendapati gestur sang suami yang tidak semestinya.

“Cuma merasa nggak percaya, Néng,” jawab Trias. “Ada ya, perempuan yang pemikirannya sedewasa kamu?”

Suzie tertawa kecil.

Perlahan, Trias mengajak Suzie untuk berbaring di atas ranjang. Dengan hangat, dipeluknya tubuh wanita itu. Suzie terlihat begitu meresapi perlakuan lembut sang suami. Menikmati setiap bentuk sentuhan yang diberikan Trias. Ia paham, inilah cara lelakinya mengantarkan rasa kasih dari hati menuju tubuhnya.

“Hatiku selalu terbang setiap kamu sentuh,” bisik Suzie, seraya memejamkan mata. “Beda dengan, maaf, sentuhan laki-laki lain.”

“Mungkin, sentuhan mereka punya motif yang berbeda,” tanggap Trias.

Suzie mengangguk. “Sentuhan nafsu. Yang terbang bukan hatiku, tapi birahi. Setelah dekat sama kamu, akhirnya aku sadar, sentuhan dengan motif cinta lebih nikmat.”

Trias mengecup kening Suzie. Lalu ditatapnya kedua bola mata sang istri, begitu dalam. Yang ditatap langsung memalingkan wajah, menghindari tatapan itu.

“Kenapa menghindar?” Trias memalingkan kembali wajah cantik itu, agar bertatapan lagi dengan wajahnya.

Suzie malah menggeleng. “Hati aku meleleh, Aa. Aku benar-benar nggak tahan ditatap seperti itu.”

“Sekadar ditatap, lho,” ujar Trias tersenyum. “Kenapa hatimu sampai meleleh?”

“Aku selalu melihat kejujuran di mata kamu,” jawab Suzie. “Cuma kamu, Aa. Cuma kamu, lelaki yang pernah menatapku sejujur ini.”

Trias mengecup bibir Suzie. Sekilas saja, lalu dilepaskannya.

“Aku menginginkanmu sejak lama, Néng,” lirihnya.

“Dan di sinilah aku sekarang,” Suzie tersenyum. “Jadi milik kamu sepenuhnya. Kamu berhasil meraih apa yang kamu inginkan.”

Trias mengangguk. Lalu kembali mengecup bibir Suzie. Kali ini lebih lama, hingga memberi kesempatan bagi Suzie untuk membalasnya.

Cumbuan pun berlanjut dengan saling raba. Masih dalam batas wajar, dengan menyasar bagian tubuh di luar pakaian. Begitu lembut, namun tetap penuh gairah. Jika ada yang pernah menonton film porno dengan genre art sex, tentu akan tahu bedanya dengan adegan seks hardcore.

Trias tak henti mencumbui Suzie, sambil kedua tangannya terus meraba halus lengan, leher, hingga pipi dan kening sang istri. Sensasi asing mulai dirasakan Suzie. Ia yang selama ini terbiasa dengan sentuhan foreplay yang kasar dan cenderung tergesa, justru sangat terbuai dengan kelembutan Trias.

Kedua tangan suaminya itu belum sempat menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya. Namun, Suzie sudah terangsang. Karena, sentuhan gentle Trias sukses menyentuh titik paling sensitif dalam diri Suzie. Hatinya.

Cuma perempuan nggak waras, yang nggak akan merasa tersanjung dengan sikap lembutmu, Aa… batin Suzie.

Ya, banyak pakar ginekologi yang bilang, bahwa sebelum ‘menggempur’ area vaginal wanita, sentuhlah hatinya. Sanjung dia, puji dia, katakan bahwa dia sangat berarti. Selanjutnya, membuat wanita itu orgasme menjadi hal yang tidak sulit.

Tanpa ia sendiri sadari, Trias berhasil melakukan hal tersebut, dengan sikap jantannya. Dan Suzie sangat menyukainya. Karenanya ia mulai terangsang.

Balasan lumatan bibir Suzie terasa menjadi sedikit kasar dan menggebu. Trias tahu, libido Suzie mulai terpancing. Yang ia tak mengerti, adalah mengapa hal itu bisa terjadi, padahal ia belum sempat menyentuh area ‘berbahaya’ di tubuh sang istri.

Ketika tiba-tiba Trias memundurkan kepala hingga pagutan bibirnya terlepas, secara spontan wajah Suzie mengejarnya. Meski ketika sadar, Suzie langsung mengempaskan kembali kepalanya ke atas bantal, dengan wajah sedikit tersipu.

“Sekarang, Sayang?” tanya Trias pelan.

Suzie diam sesaat, lalu mengangguk lirih.

“Tapi, Ibu dan Bapak masih bangun, lho!” ujar Trias.

“Biar, Aa,” tanggap Suzie. “Beliau pasti mengerti.”

“Ya udah,” Trias tersenyum. “Jangan terlalu berisik, ya.”

Suzie mengangguk, lalu menarik wajah Trias dan langsung mencumbuinya.

Tangan Trias kini mulai berani menggerayangi bagian sensitif di tubuh atas Suzie. Tak kurang dari area di belakang telinga, leher hingga ketiak, mendapatkan sentuhan jemari tangan Trias. Perlahan, lenguhan lirih terlantun dari bibir wanita seksi itu. Sesekali, Suzie terpaksa menutup mulut dengan tangannya, ketika menyadari rintihannya terlalu nyaring.

Trias menyudahi cumbuannya, untuk sedikit bangkit. Suzie menatap Trias dengan gestur jangan-berhenti,-Sayang…

“Aku buka bajumu, ya?” izin Trias, seraya menggenggam ujung bawah kaos oblong Suzie.

Suzie menjawab dengan anggukan. Hatinya berucap,

Nggak perlu minta izin, Aa. Aku udah bersumpah akan menyerahkan semuanya untuk kamu.

Namun, Suzie lalu menyadari, bahwa hal inilah yang, sekali lagi, membedakan Trias dengan lelaki lain. Sikap gentle.

Trias mulai menarik kaos oblong Suzie ke atas, dan melolosinya lewat leher. Sang wanita mempermudah, dengan sedikit mengangkat tubuh bagian atasnya. Segera, bra hitam Suzie pun terekspos.

“Tubuhmu indah, Néng…” puji Trias.

Pujian yang terdengar begitu tulus di telinga Suzie. Memaksanya untuk tersipu. Plus sedikit terangsang. Damn! Bahkan dengan sebuah pujian saja mampu membangkitkan gairahnya, hanya karena seorang Trias yang mengucapkannya.

“Aku selalu menyukai saat kamu tersipu,” ujar Trias lagi. “Cantik sekali.”

Suzie merengek manja. Rona merah di pipinya semakin kentara.

Kedua telapak tangan Trias mulai beraksi lagi. Sasaran terbaru adalah perut Suzie. Dengan kedua ibu jarinya, ia melakukan pijatan ringan, dari batas gesper celana hingga batas bawah mangkuk bra. Lalu dengan arah sebaliknya. Begitu, berulang-ulang.

Sesekali, tubuh Suzie menggelinjang pelan. Meresapi sentuhan lembut Trias yang mulai membuatnya melayang. Keduanya, baik hati maupun birahi, sedang membubung menuju titik kulminasi.

“Aa…” panggil Suzie dengan suara sangat lirih, seperti berbisik. “Aku benar-benar sayang sama kamu.”

Trias tersenyum. “Aku juga sayang kamu, Néng.”

Trias menyadari, mungkin nanti Suzie akan gagal meraih puncak kenikmatan dengan penetrasi penisnya. Pengalaman pertama selalu terasa sulit. Terlebih, ‘lawan mainnya’ adalah seorang wanita dengan jam terbang seks yang tinggi. Jomplang sekali. Trias mesti memulai debut kehidupan seksnya dengan menghadapi pemain veteran.

Atas dasar itulah, Trias berusaha memberikan orgasme bagi Suzie, sebelum persetubuhan yang sesungguhnya.

Kini, pijatan kedua ibu jari tangan Trias mulai bergerak naik. Menuju ketiak Suzie yang bersih karena pemiliknya rajin bercukur itu. Gerakannya tetap lembut, sangat lembut. Ia tak mau tergesa, dan memilih untuk bermain sabar.

“Uuuuhhh…” rintih pelan Suzie, ketika kedua ketiaknya disentuh jemari tangan Trias.

Setelah ketiak, pijatan ibu jari Trias berpindah ke dalam, menuju ke arah payudara. Tangannya bermain di sana, pada area yang tidak tertutupi bra. Agak lama, namun tanpa sedikit pun menyusup ke dalam penutup buah dada itu.

Suzie menatap Trias dengan pandangan sayu. Jelas terlihat, gairah sang istri makin terbakar. Sentuhan Trias yang menyasar area buah dada, namun tetap ‘sopan’ dengan menghindari pusat payudara, malah membuatnya penasaran. Lagi-lagi, ia menemukan perbedaan sikap antara Trias dan lelaki lain yang pernah menyentuhnya.

“Masukkan aja, Aa…” minta Suzie.

Trias hanya tersenyum.

Kini, pijatan jemari tangan Trias mulai berani menyelusup ke dalam bra. Aksi tersebut ditanggapi Suzie dengan geliat halus tubuhnya yang makin intens. Berkali-kali, pijatan tersebut nyaris menyentuh puting di tengah payudaranya. Hanya nyaris. Padahal Suzie mengharapkan Trias benar-benar menyentuhnya.

Desahan di bibir Suzie makin sering terlontar, meski tetap berusaha selirih mungkin. Dan ia cukup tersiksa. Kenyataan bahwa orang tua mereka berada di ruangan sebelah, memaksanya menahan diri. Padahal, rangsangan yang dilakukan sang suami mendorongnya untuk mendesah sejadi-jadinya.

Pada satu titik, jemari tangan Trias tiba-tiba mencubit dan menarik pelan kedua puting payudaranya, hingga tanpa bisa dibendung, desahan cukup nyaring pun terlantun dari bibirnya, disertai gelinjang liar. Dan ketika ia bersiap menerima aksi selanjutnya, mendadak Trias menarik kedua tangannya keluar dari dalam bra.

Suzie bertanya dengan tatapan matanya. Trias menjawab dengan gerakan beringsut, untuk kemudian fokus pada area bawah tubuh. Perlahan, lelaki itu menarik celana training hijau yang dikenakan Suzie hingga terlolosi. Kini terlihatlah celana dalam sewarna dengan bra. Mungkin itu memang satu set bikini.

Lazimnya, setelah menanggalkan celana sang wanita, seorang lelaki akan segera menyentuh area genital di baliknya. Namun, Trias tidak begitu. Saat Suzie bersiap menerima sentuhan pada area pangkal paha, Trias malas kembali beringsut untuk menciumi wajahnya. Wanita bertubuh indah itu pun makin penasaran.

Dan saat ia mulai membalas pagutan bibir Trias, suaminya itu malah menghentikannya.

Lelaki macam apa kamu ini, Aa? batinnya, setengah putus asa, sekaligus makin terangsang dengan pancingan Trias.

Trias kembali melakukan pijatan dengan kedua tangannya. Fokusnya langsung terarah pada bagian perut bawah Suzie. Sesaat beraksi di sana, tangannya kembali beralih pada kedua paha nan mulus sang istri. Dengan penuh respek, ia sedikit membuka kedua paha itu. Lalu meneruskan pijatannya.

Kedua mata Trias tak henti melakukan kontak dengan kedua mata Suzie. Membuat sang wanita semakin turn on. Membuat sang wanita semakin mendambakan sentuhan lebih intens. Mendambakan persetubuhan yang sesungguhnya. Namun Trias tidak serta merta memenuhinya.

Lelaki itu lebih memilih untuk tetap melakukan pijatan. Kali ini, pijatannya mulai ‘menyerempet bahaya’, karena menyasar area pangkal paha. Sentuhan lembut tangan Trias yang begitu dekat dengan bibir vaginanya, membuat Suzie makin penasaran. Berkali-kali, ia mengedikkan pinggul agar jari sang suami menyentuh vaginanya, seolah tanpa sengaja. Namun sebanyak itu pula jari Trias berhasil berkelit.

Tubuh Suzie tak henti menggelinjang. Kedua tangannya sibuk menggapai permukaan ranjang, sebagai usahanya menahan kenikmatan yang makin intens menerpa dirinya. Tatapannya nanar, seolah memohon agar Trias segera menyerangnya di pusat area vaginal.

Napas Suzie memburu, terdengar seperti tersengal lelah. Desahannya lirih, sekuat tenaga ia redam agar kedua orang tua di ruangan sebelah tidak mendengar. Gairah birahi memang sudah begitu memuncak. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa Trias akan menuntaskannya, dan beranjak menuju ‘menu utama’: persenggamaan.

Trias masih asyik memainkan kedua tangannya di tubuh mulus Suzie, sekaligus mempermainkan gairah sang istri. Tekadnya sudah bulat, untuk memberikan orgasme sebelum penetrasi utuh dilakukan.

Hingga pada akhirnya, ibu jari tangan kanan Trias tiba-tiba menyusup ke dalam celana dalam hitam Suzie. Buku jari nakal itu menyundul biji klitoris sang istri. Suzie, yang dalam beberapa menit sangat penasaran dengan sentuhan itu, sontak merintih. Tubuh bagian bawahnya terangkat, lalu terempas lagi di permukaan ranjang.

Lalu, dilanjutkan dengan sentuhan berikutnya, di titik yang sama. Sekali, dua kali, tiga, empat, hingga enam kali. Gelinjang tubuh Suzie makin liar. Dan pada sentuhan ketujuh, wanita itu menjerit pendek, seiring tubuhnya yang mengejan kuat. Kemudian dilanjutkan dengan kedutan-kedutan kecil.

Trias menarik kedua tangannya menjauhi area selangkangan Suzie, memberi kesempatan bagi klitoris itu untuk rehat, karena menjadi sangat sensitif saat ejakulasi. Lalu sedikit beringsut, agar tangan yang baru saja menghadiahi orgasme itu dapat membelai rambut panjang sang wanita. Wajah mereka berjarak sangat dekat. Trias memerhatikan wajah sayu yang sedikit kemerahan itu.

“Aku menyukai ekspresi wajahmu, Néng,” bisiknya. “Kamu cantik.”

Di tengah redanya sensasi orgasme, pujian yang terucap tulus itu pun sukses menjaga mood bercinta Suzie. Dengan kedua telapak tangannya, ia merengkuh wajah Trias.

“Bikin aku orgasme lagi, Aa…” lirihnya memohon.

Kedua tangan Trias bergerak menuju punggung Suzie. Wanita itu mengerti apa yang akan dilakukan sang suami. Karenanya, Suzie pun sedikit mengangkat tubuh atasnya, memuluskan jalan Trias untuk menanggalkan bra-nya, sekaligus menelanjangi dadanya itu.

Payudara montok itu pun polos sudah. Pemandangan yang indah bagi visual Trias. Sejak awal perjumpaan, ia sudah tahu, betapa indahnya buah dada Suzie. Terlebih, dulu, wanita itu kerap berbusana provokatif. Meski belakangan, Suzie malah merasa lebih nyaman dengan pakaian tertutup. Dan itu karena Trias.

Malam ini, Trias kembali melihat bukit kembar itu dalam keadaan telanjang. Sama seperti dua bulan lalu, ketika kedekatan membuat birahi keduanya terpancing, meski masih mampu diredam. Kini, situasinya berbeda. Trias berhak mengeksplorasinya, dan Suzie sangat menginginkan itu.

Trias mencium dan menjilat puting payudara kiri Suzie. Namun hanya sekilas, karena ciuman dan jilatan itu mulai beralih. Turun menuju perut Suzie. Kemudian mengarah ke area selangkangan yang masih terbalut celana dalam hitam itu. Jantung Suzie berdegup kencang, menanti organ oral sang suami menyentuh titik vitalnya.

Trias kembali membuka kedua paha Suzie. Lagi-lagi, dengan sikap yang penuh respek. Tanpa menunda, ia mulai menciumi paha dalam kiri istrinya. Membuat sang wanita mengejang, merasakan paduan antara rasa geli sekaligus nikmat. Dan yang paling utama, rasa penasaran.

Trias mengangkat paha kiri Suzie. Lalu kecupannya hinggap di bagian belakang lutut. Suzie merintih pelan, sambil sedikit menghentakkan pahanya itu. Dan wanita itu makin tegang, ketika ciuman Trias bergerak mendekati bokongnya. Kembali dekat dengan area pangkal pahanya.

Sesaat Trias menghentikan aksinya, untuk melucuti celana dalam Suzie. Lagi-lagi, wanita itu mempermudah dengan mengangkat bokongnya. Hingga kini ia pun telah sepenuhnya tanpa busana. Trias menatap tubuh sintal yang telanjang itu. Indah sekali.

“Kamu seksi, Néng…” gumamnya.

Suzie tersenyum. Lebih mirip tersipu, menandakan betapa ia tersanjung dengan pujian Trias. Lelaki di hadapannya memang bukanlah lelaki pertama yang memuji kemolekan tubuhnya. Namun, lelaki di hadapannya adalah lelaki yang sangat dicintainya. Dan ia bersumpah, akan tetap seperti itu di sisa hidupnya.

“Sekarang, Aa?” tanya Suzie berbisik.

Trias menggeleng sebagai jawaban.

Lelaki itu malah kembali menciumi paha dalam kiri Suzie. Namun, perlahan, cumbuan tersebut mengarah dan makin dekat dengan selangkangannya. Suzie menahan napas, ketika kecupan dan sapuan lidah Trias menyasar area yang terletak sangat dekat dengan bibir kemaluannya.

Dan tak ada yang dilakukan Suzie, selain merintih cukup nyaring, saat lidah Trias benar-benar menyentuh bagian bawah bibir vaginanya. Tubuhnya menggelinjang, pinggulnya sedikit terangkat, menahan dorongan sensasi kenikmatan akibat sentuhan tersebut. Kedua tangannya menekan kepala belakang Trias, seolah meminta agar wajah sang suami tetap berada di sana.

Dua menit kemudian, Suzie telah melupakan kedua orang tuanya yang berada di ruangan sebelah, yang mungkin mendengar jeritan tertahan dari bibirnya. Rasa nikmat ini begitu sayang jika dilewatkan dengan mulut yang membungkam. Nafsu birahi membuatnya melupakan rasa malu.

Sapuan lidah Trias bergerak di sepanjang bibir vagina Suzie. Dari bawah ke atas, lalu kembali ke bawah. Begitu hingga belasan kali. Namun, lidah suaminya itu sama sekali tidak pernah menyentuh biji kelentit di ujung atas vaginanya. Jelas, Suzie pun merasa sangat penasaran. Berkali-kali, ia menggoyangkan pinggul, berharap jilatan Trias bersedia menyentuhnya.

Ketika Trias memenuhi keinginannya itu, Suzie menjerit makin nyaring. Lalu semakin liar, saat giliran kecupan bibir lelaki itu yang menyentuh klitorisnya. Dan sewaktu rongga mulut Trias mengisapnya, Suzie mencapai orgasme.

Trias melepaskan pagutan bibirnya di area pangkal paha Suzie, dan duduk di sisi sang istri yang dilanda ekstase, tergolek dengan napas tersengal. Ia pun memanfaatkan jeda sesaat itu dengan segera menanggalkan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, serupa istrinya.

Suzie sedikit bangkit agar dapat meraih batang kemaluan Trias dengan genggaman tangan kanannya. Perlahan dikocoknya penis yang sudah pernah ia lihat dan genggam sebelumnya, namun belum sampai mempenetrasi vaginanya itu. Penis yang sudah keras itu pun makin tegak dalam ereksinya.

Sambil tak berhenti mengocok batang penis itu, Suzie mencium bibir Trias. Sesaat saja. Lalu,

“Masuk sekarang, Aa?”

Trias hanya mengangguk.

“Rileks aja,” Suzie tersenyum. “Kamu yang terbaik, Aa.”

Suzie menghentikan handjob-nya. Lalu berbaring telentang, mencari posisi senyaman mungkin untuk menyambut persetubuhan pertamanya dengan Trias. Hatinya penasaran, ingin segera mengetahui bagaimana rasanya bercinta dengan seorang perjaka macam Trias. Karena selama ini, semua lelaki yang menggaulinya, tak ada yang sepolos suaminya ini.

Di lain pihak, perasaan Trias sedikit dilanda kegamangan. Beragam pertanyaan berkecamuk di otaknya,

Apakah aku bisa kuat lama? Apakah Suzie bisa terpuaskan?

Namun, sifat terbuka yang ditunjukkan Suzie pun akhirnya membuatnya yakin, bahwa semua akan berjalan sempurna.

Trias mulai mengambil posisi merangkak di atas tubuh Suzie. Sang wanita menatapnya sayu, sambil tersipu.

“Masukkan, Sayang…” mintanya, sambil meraih batang penis Trias.

Trias menarik napas. Lalu memajukan pinggulnya. Kepala penisnya telah menyentuh bibir kemaluan Suzie. Sang istri membantu mengarahkan dengan tangannya.

“Dorong pelan-pelan,” minta Suzie.

Trias melakukannya. Ia merasakan ujung kemaluannya bertemu kulit yang hangat dan basah. Rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Nikmat benar. Kini ia tahu, mengapa begitu banyak manusia yang tergoda untuk bersetubuh sebelum menikah. Ternyata memang enak dan melenakan. Padahal, belum sepertiga bagian penisnya yang masuk.

“Dorong lagi, Aa,” bisik Suzie. “Pelan-pelan aja.”

Trias pun kembali memajukan pinggulnya dengan sangat perlahan. Hingga setengah batang kemaluannya merangsek ke dalam vagina Suzie.

“Oooh…” rintih pendek Suzie. Kedua matanya setengah terpejam. Saat-saat ketika sebuah penis memasuki tubuhnya, memang selalu menghadirkan kenikmatan tersendiri.

Trias mendorong lagi penisnya, perlahan namun pasti, hingga kepala kemaluannya menyentuh dasar rongga vagina Suzie.

“Mentok, Aa,” gumam Suzie. “Uuhhh… vagina aku rasanya penuh. Enak, Aa…”

Sejenak, Trias membiarkan penisnya bersarang di liang kemaluan Suzie, tanpa sedikit pun melakukan gerakan tambahan. Ia merasa perlu untuk membiasakan diri terhadap segala sensasi ini. Ia tak ingin terburu-buru, yang ujungnya malah tidak sesuai harapan.

Di lain pihak, Suzie sangat mengerti, mengapa sang suami terpaku dalam posisi seperti sekarang ini. Ia tidak meminta Trias untuk segera menghunjam vaginanya. Ia menyerahkan semua keputusan kepada Trias.

Kapan pun kamu siap, Aa, ucapnya di dalam hati.

Semenit kemudian, kepercayaan diri Trias telah tumbuh. Terbukti dari pinggulnya yang mulai bergerak maju-mundur. Penisnya pun mempenetrasi, keluar dan masuk vagina Suzie. Meski tensinya bisa dibilang sangat lambat.

Suzie tahu, Trias mencoba menunda gairah yang bisa saja memuncak terlalu cepat.

“Goyang lebih cepat, Aa.”

“Nanti cepat keluar,” timpal Trias, tanpa berhenti melesakkan penisnya. “Nanti kamu gagal orgasme.”

“Udah dua kali, Sayang,” Suzie tersenyum. “Sekarang giliran kamu yang memuaskan diri sendiri.”

Ucapan Suzie menenangkannya. Membuatnya yakin, bahwa sang wanita akan bisa menerima apapun yang terjadi dalam persetubuhan pertama ini. Dan keyakinan tersebut menjadikan Trias semakin percaya diri.

Secara drastis, tempo goyangan pinggul Trias meningkat. Hal ini pun berimbas pada Suzie, yang mulai merasakan sensasi di tubuhnya. Penis keras yang keluar-masuk di rongga vaginanya, memberikan rasa nikmat. Rasa yang sudah berbulan-bulan tak pernah ia rasakan lagi. Dan kini, jujur, Suzie merasa kembali terlahir sebagai seorang perawan.

Lima menit berlalu, torsi hentakan pinggul Trias tidak berubah. Variasi pun sama sekali tidak ada. Andai pria yang menyetubuhinya ini bukan Trias, mungkin sudah sejak tadi Suzie kehilangan mood. Melakoni seks tanpa sensasi. Tak ada satu orang pun di dunia, yang menginginkan itu.

Namun, pemikirannya yang terbuka soal keperjakaan Trias, membuat Suzie tetap merasa turn on. Tetap menikmati persenggamaan ini. Kekuatan cinta terhadap Trias yang begitu besar, membuatnya bisa memaklumi keluguan sang suami.

Hingga setelah delapan menit menghunjamkan batang penisnya ke dalam vagina Suzie, lelaki itu pun mencapai ejakulasinya. Liang di ujung penisnya memancarkan sperma yang dahsyat, tertanam di rahim sang istri. Suzie bahkan belum orgasme, persetubuhan itu pun harus diakhiri.

“Aku minta maaf” lirih Trias. “Gagal bikin kamu orgasme.”

Suzie memeluk tubuh Trias, semakin erat. “Udah dua kali, Aa.”

“Belum, dengan penetrasi penisku,” timpal Trias.

“Nggak usah dipikirkan, Sayang,” Suzie tersenyum. “Bagi lelaki yang baru pertama kali ML, kuat 8 menit itu bagus, lho!”

Trias terlihat mengabaikan ucapan Suzie.

“Dan aku yakin,” lanjut Suzie. “Makin lama, kamu pasti makin mahir dalam seks. Dan kuat makin lama.”

“Semoga,” imbuh Trias, sedikit tidak yakin dengan potensi dirinya.

“Nanti, setelah istirahat, kita coba lagi,” ujar Suzie. “Aku yakin, pasti bakalan lebih lama daripada tadi.”

“ML lagi?” tanya Trias. “Malam ini?”

“Iya,” jawab Suzie. “Kenapa tidak?”

***

Dan di ujung sesi kedua, ucapan Suzie terbukti. Trias mampu bertahan sedikit lebih lama. Dan yang paling penting, ia mampu membuat Suzie orgasme! Bukan dengan oral seks atau finger f*ck, melainkan penisnya, lewat persetubuhan yang lebih variatif.

Kini, kedua insan yang masih dalam keadaan tanpa busana itu tetap berbaring di atas ranjang, sambil berpelukan hangat. Suzie terenyuh dengan perlakuan Trias.

“Nggak pernah ada lelaki yang memelukku, setelah puas menyetubuhi aku,” ucap Suzie lirih. “Kamu benar-benar berbeda.”

“Itulah perbedaan antara motif cinta dan nafsu,” Trias tersenyum. “Kalau mau langsung pergi setelah selesai bercinta, kenapa nggak sekalian sewa PSK?”

Suzie menanggapi dengan tawa kecil.

“Kamu nggak layak diperlakukan seperti itu, Néng,” lanjut Trias. “Dan aku juga nggak mau memperlakukan kamu seperti itu. Kamu berhak dipeluk, dirayu, dan dihargai. Karena kamu layak mendapatkan curahan rasa cinta.”

Suzie pun makin mengetatkan dekapannya. “Aku benar-benar beruntung, punya suami sehebat kamu, Aa…”

+ + + + + T A M A T + + + + +