Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 52

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 52 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 51

Akhir Sebuah Penantian

If you love someone, set them free.
If they come back, they’re yours;
if they don’t, they never were.

(Richard Bach, penulis asal Amerika Serikat)​

Setengah jam berlalu, Suzie masih belum bisa menghubungi Trias. Nomor ponsel lelaki itu tidak aktif. Suzie makin khawatir dan panik.

“Dul… kamu kenapa lagi, sih?” ratapnya.

Ibu dan Bapak pun sama bingungnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menatap sang putri bungsunya yang sejak tadi tak bisa diam walau satu menit saja.

“Coba kamu tanya sepupunya itu,” saran Ibu. “Siapa namanya?”

“Jan,” jawab Suzie. “Dia juga belum dapat kabar, Bu. Dan sekarang dia sama bingungnya seperti aku.”

Suzie kembali mencoba menghubungi Trias. Hasilnya tetap sama, nomor ponsel sang kekasih tidak aktif.

“Please, Dul…” mohon Suzie. “Jangan bikin aku bertanya-tanya. Jangan bikin aku sedih. Jangan tinggalkan aku…”

Ibu bangkit, dan menghampiri Suzie. Dipeluknya sang putri, sambil berbisik,

“Berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan Trias, Dé.”

Ibu menuntun Suzie agar duduk di atas karpet ruang tengah. Putrinya menurut. Setelah duduk, ia menatap ibundanya.

“Aku takut dia celaka, Bu,” ucapnya lirih.

Ibu hanya mengangguk.

“Aku takut dia…” Suzie menggeleng cepat. “Aku nggak mau membayangkan itu. Aku nggak bisa. Aku…”

Suzie tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Ia malah mulai terisak. Ibu langsung memeluknya erat.

“Berdoa, Sayang,” bisiknya. “Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini.”

Suzie hanya mengangguk di sela tangisannya.

***

Kediaman Jan dan Anna,

“Kenapa lagi itu anak?” rutuk Jan.

Anna mengangkat bahu. “Semoga cepat ada kabar tentang Trias. Mudah-mudahan Trias nggak kenapa-kenapa. Kalau pun sesuatu terjadi, semoga Suzie cepat dapat kabar.”

“Aku takut si Adul…” Jan urung menyelesaikan kalimatnya. Lalu menggeleng. “Nggak. Si Adul nggak boleh pergi.”

Anna merangkul sang suami. “Jangan dulu berpikir terlalu jauh, Aa. Mendingan kita berusaha cari informasi.”

Sebersit ide hadir di kepala Jan. “Aku kenal seorang rekan satu komunitas Adul. Aku tanya dia. Sebentar, Nduk.”

Jan mengambil ponselnya yang ia letakkan di sebelah TV. Lalu menghubungi sebuah nomor telepon.

“Halo, Jan,” sapa orang di seberang. “Pasti mau cari kabar Trias.”

“Iya, Yad,” jawab Jan. “Anak itu kenapa?”

“Nggak tahu, Jan,” ujar seseorang yang dipanggil Jan dengan sebutan ‘Yad’ itu. “Kami satu rombongan. Aku jadi voorijder, Trias jadi sweeper, posisi paling buncit. Pas regrouping di Samsat Bandung Timur, dia nggak muncul juga. Kebetulan ponselku mati sejak di Limbangan, jadi kami nggak bisa kontak Trias.”

“Lha, kok sekarang aku bisa telepon kamu?” tanya Jan heran.

“Aku ikut men-charge ponsel di kios rokok,” jawab orang itu. “Pas aku menghubungi Trias, ponselnya nggak aktif.”

“So do I, Yad,” tanggap Jan, terdengar putus asa.

“Hmm… apa dia langsung ke rumah pacarnya?” duga orang itu.

“Nggak, Yad,” jawab Jan. “Pacarnya malah panik. Katanya, ketika lagi video call, tiba-tiba si Adul teriak kaget. Lalu gambar di layar bergoyang, dan sambungan video call terputus.”

“Haduh…” tanggap orang itu. “Seorang rekan kami udah balik lagi. Katanya mau menyisir dari Cileunyi sampai sini. Dia belum kembali.”

“Ya udah,” gumam Jan. “Kalau udah ada kabar soal si Adul, langsung hubungi aku, ya. Aku juga pasti kabari kamu, kalau ternyata dapat kabar lebih dulu.”

“Oke,” sanggup orang itu.

Jan pun memutus sambungan telepon.

Ia berbalik, menatap Anna. Lalu menggeleng pelan.

“Nggak ada kabar, Nduk,” ucapnya.

Anna pun ikut menggeleng. “Kita temui Suzie, Aa. Ke Mekar Wangi.”

“Kenapa bukan ke kost-an?” tanya Jan.

“Sejak kemarin, Suzie pulang ke Mekar Wangi,” jawab Anna. “Trias yang minta, karena dia berencana langsung kasih oleh-oleh untuk orang tua Suzie.”

“Oh,” bibir Jan membulat. “Yo wis, ayo siap-siap, Nduk!”

***

Kembali ke kediaman orang tua Suzie,

“Terakhir aku lihat di video call,” ucap Suzie. “Dia baru aja melewati gedung Polda Jabar. Lalu, nggak lama, sambungan terputus.”

Bapak dan Ibu menatap Suzie dengan gestur bertanya.

“Kita cari ke sana, Pak, Bu,” usul Suzie. “Please… ayo kita cari.”

Bapak dan Ibu terenyuh. Bapak kemudian mengangguk, lalu menatap Ibu.

“Siap-siap, Bu,” perintahnya.

“Iya,” jawab Ibu pendek, seraya kemudian bangkit.

***

Jl. Soekarno-Hatta, sekitar gedung Polda Jawa Barat, setengah jam kemudian,

“Tadi memang ada pesepeda yang jatuh gara-gara menginjak lubang jalan, Néng,” beritahu seorang pria yang ditaksir seumuran ayahnya.

“Sepeda warna hijau, Pak?” tanya Suzie.

“Bapak kurang jelas lihatnya,” jawab pria itu. “Posisi Bapak di warung itu.”

Suzie melemparkan pandangan ke arah warung yang ditunjukkan pria itu. Lumayan berjarak, sekitar 30 meter.

“Yang Bapak ingat,” sambung pria itu. “Sepedanya pakai empat tas, warna biru.”

Iya, itu memang Adul… batin Suzie. Kekhawatiran pun makin menjadi.

Seorang pria lain menghampiri mereka. Usianya mungkin sepantaran.

“Ada apa, Gus?” tanyanya.

“Si Néng ini menanyakan pesepeda yang tadi jatuh,” jelas pria pertama, sambil mengedikkan kepala ke arah Suzie. Lalu menatap Suzie. “Néng ini istrinya?”

Suasana hati yang kalut, membuat Suzie tanpa sadar mengangguk.

“Tadi suami Néng jatuh gara-gara menginjak lubang,” jelas pria kedua.

Teman Bapak udah kasih tahu saya soal itu, Pak, ujar Suzie di dalam hati.

“Ada pengendara motor yang berhenti dan menolong,” lanjut pria kedua. “Dan ada mobil pick-up berhenti. Nggak lama, suami Néng dibawa ke mobil itu. Sepedanya juga.”

Haduh… gumam hati Suzie. Mungkin Adul luka parah. Atau malah udah…

Tanpa sadar, Suzie menggelengkan kepala. Tak kuasa membayangkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada Trias.

“Mungkin suami Néng dibawa ke rumah sakit,” tebak pria pertama, menyebutkan nama sebuah rumah sakit yang terletak tidak jauh dari gerbang masuk perumahan Margahayu Raya itu. “Coba dicek ke sana, Néng.”

Tak mau membuang waktu, setelah berterima kasih pada kedua pria itu, Suzie langsung balik badan. Menghampiri dan naik mobil.

“Kita cari ke rumah sakit, Pak,” putus Suzie.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Bapak segera melajukan mobilnya.

***

Hasilnya nihil. Suzie bertanya pada seorang sekuriti, dua orang perawat dan staf administrasi rumah sakit. Tidak ada yang mengetahui keberadaan pesepeda yang mengalami kecelakaan. Bukan tidak tahu, mungkin Trias memang tidak dibawa ke rumah sakit tersebut.

Sedikit memaksa, Suzie kembali meminta staf administrasi untuk mengecek. Beruntung, staf tersebut tidak merasa kesal. Staf berjenis kelamin perempuan itu tetap memenuhi permintaan Suzie, dengan tetap tersenyum. Dan akhirnya,

“Berdoa saja, semoga teman Tétéh baik-baik saja,” ucapnya. “Tidak ada nama Trias di daftar ini. Mungkin teman Tétéh tidak mengalami luka parah.”

“Tapi, orang-orang di depan gedung Polda bilang dia dibawa mobil pick-up,” ujar Suzie.

“Mungkin teman Tétéh tidak dibawa ke sini,” asumsi staf administrasi itu.

Kekhawatiran makin memuncak. Perasaan Suzie campur aduk. Namun, ia masih dapat berpikir jernih.

“Kita pulang aja, Pak,” mintanya. “Kita tunggu kabar Adul di rumah.”

Bapak memenuhi keinginan Suzie. Sejak tadi, beliau tidak banyak bicara dan bertanya. Dibiarkannya Suzie berpikir sendiri, tanpa ada yang merecoki. Ibu pun begitu. Beliau hanya berusaha menenangkan hati Suzie dengan sesekali menepuki bahu atau mengusap kepala putrinya lembut.

Kedua orang tua Suzie berusaha untuk tidak ikut panik. Berusaha tetap bersikap tenang. Meski beliau tak bisa memungkiri, betapa kecemasan menyelimuti.

“Kalau tadi aku berhasil memaksanya untuk menutup sambungan video call,” gumam Suzie pelan. “Mungkin konsentrasi Adul nggak bakalan terpecah. Mungkin Adul nggak akan celaka.”

Ibu kembali membelai ubun-ubun Suzie dengan lembut. Ya, karena hanya itu yang dapat beliau lakukan.

“Kalau sampai kemungkinan terburuk yang terjadi,” lanjut Suzie. “Mungkin itu hukuman, karena aku sering menyiakan Adul. Mungkin aku memang nggak pantas untuk hidup bareng Adul.”

Ibu menarik kepala Suzie ke dalam pelukannya. Putri cantiknya itu segera saja terisak.

“Aku sayang kamu, Dul…”

***

Mobil yang dikemudikan Bapak melaju lambat, memasuki perumahan Mekar Wangi. Beliau sempat menurunkan kaca, untuk menyapa sekuriti yang berjaga di pos keamanan. Kediaman keluarga Suzie berada di lorong ketiga, di sisi sebelah kiri.

Di bangku belakang, Ibu terus memeluk Suzie. Tangis Suzie sudah reda. Namun kesedihan yang bercampur dengan rasa gundah dan bingung tetap kentara terlihat di wajahnya.

Singkat kata, mobil telah tiba di depan rumah. Dan pemandangan pertama yang terlihat di halaman, membuat Suzie harus mengucek kedua matanya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dan sejurus kemudian, ia bergegas turun dari mobil dan berlari memasuki halaman rumah.

Sesosok tubuh duduk terpaku di teras berkeramik cokelat itu. Kedua matanya berbinar menyaksikan kehadiran Suzie. Ia terlihat akan bicara sesuatu, namun urung. Karena tamparan telapak tangan kanan Suzie terlanjur melayang dan mendarat di pipi kirinya.

“Aku mohon,” ujar Suzie. “Berhenti bikin aku panik…”

Suzie memeluk erat tubuh itu. Sangat erat. Isak tangis kembali terdengar dari bibir wanita itu. Tangis yang menyiratkan kelegaan. Keharuan yang membuncah. Tangan kiri pemilik tubuh yang dipeluk Suzie, balas melingkari punggung sang wanita. Hanya tangan kiri, karena tangan kanannya tetap terkulai.

Bapak dan Ibu yang baru saja turun dan akhirnya menyadari apa yang terjadi, sontak sama-sama tersenyum. Merasakan kelegaan, karena sang putri dapat menyaksikan seseorang yang kedatangannya begitu dinanti selama berhari-hari, benar-benar hadir di hadapannya. Seseorang yang sebulan lagi akan menjadi menantunya.

Beliau-beliau pun melangkah melewati Suzie yang masih memeluk Trias, untuk membuka pintu rumah.

“Kamu baik-baik aja, ‘kan?” tanya Suzie.

Trias hanya mengangguk.

“Aku takut kamu celaka, Dul,” sambung Suzie.

“Buktinya, aku ada di sini,” Trias tersenyum. “Udah kubilang, aku pasti pulang, Zie. Demi kita.”

***

Setengah jam kemudian, Trias, Suzie, Ibu, Bapak, plus Jan dan Anna yang tiba sepuluh menit yang lalu, telah duduk melingkar di atas karpet ruang tengah. Menyantap makan malam yang menjadi sangat terlambat akibat semua yang sempat terjadi. Menu utama adalah soto lobak daging sapi yang tadi siang dimasak bersama oleh Ibu dan Suzie.

“Suzie yang membumbui, lho!” cetus Ibu. “Kalau enak, silakan puji Suzie.”

“Kalau nggak enak…” gumam Trias, menatap Suzie.

Suzie menatap Trias tajam. “Berani bilang masakanku nggak enak?”

Trias jeri. Yang lain tertawa.

Suzie harus menyuapi Trias. Pergelangan tangan kanan kekasihnya itu terkilir, hingga membuatnya tidak cukup kuat untuk memegang dan mengangkat sendok hingga setinggi mulutnya. Cedera ini menambah luka-luka luar di punggung tangan, siku, dan lututnya. Semuanya di sisi kanan. Mungkin karena tubuh bagian kanannya yang lebih dulu membentur aspal jalan.

Sejujurnya Trias malu karena harus disuapi, terlebih di hadapan calon mertua. Ia malu karena saat ini salah satu bagian tubuhnya invalid. Tapi apa mau dikata? Tadi Trias memaksakan untuk makan sendiri, dan hasilnya, ia meringis menahan sakit. Pegangannya terhadap sendok pun terlepas.

“Makanya, sini aku suapi,” Suzie melotot gemas. “Sok-sokan, sih!”

Dan suapan pertama langsung membuat Trias tertegun sesaat.

“Kenapa, Dul?” tanya Suzie agak heran.

“Kalau nasi soto ini jadi manusia,” ujar Trias. “Bakal kunikahi.”

Suzie tergelak. Meski ia tahu, Trias menyitir kata-kata tersebut dari salah satu adegan di film The Fault in Our Stars yang dibintangi Shailene Woodley.

“Kamu bakal menikahi orang yang memasaknya, ‘kan?” bisiknya.

Trias nyengir.

Suzie begitu telaten menyuapi Trias, hingga membuat lelaki itu merasa tak enak hati.

“Gara-gara aku,” gumamnya. “Kamu malah nggak makan.”

“Nggak apa-apa,” Suzie tersenyum. “Selesai menyuapi kamu, giliran aku yang makan. Hitung-hitung latihan.”

“Latihan?” kening Trias berkerut.

Suzie mengangguk. “Kalau udah punya anak, pasti anak yang didahulukan. Termasuk urusan makan. Biar anak kita kenyang dulu, baru ayah dan ibunya.”

“Kamu…” lirih Trias.

Setelah semuanya, kecuali Suzie, menyelesaikan makan malam ‘terlambat’ itu, dan sisa perlengkapan makan tersingkir dari karpet ruang tengah, tibalah saatnya bagi Trias untuk duduk di ‘kursi pesakitan’. Suzie pun ikut menyimak sambil menyantap nasi soto lobak daging sapi racikannya itu.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi tadi, Trias?” tanya Bapak. “Kamu harus bertanggung jawab, karena sudah membuat putri Bapak menangis.”

Trias tertawa, sementara Suzie sontak meringis.

Dan Trias pun mulai bercerita.

***

Trias dan sepedanya telah melewati Bundaran Cibiru.

“Kamu tertinggal lumayan jauh, ya?” cetus Suzie, yang meski lewat sambungan video call dapat Trias dengar suaranya, namun tak dapat dilihat wajahnya, karena ia mengarahkan kamera pada jalan raya, searah laju sepedanya. “Gambar pesepeda di depanmu kecil banget.”

“Yah… seratus meter di depanku, kira-kira,” imbuh Trias. “Beginilah nasib sweeper.”

Terdengar Suzie tertawa.

“Ditambah lagi, aku sambil mengobrol sama kamu,” lanjut Trias. “Pasti gowesanku melambat, Zie.”

“Ya udah, tutup dulu aja, atuh!” usul Suzie. “Biar kamu lebih konsentrasi.”

“Jangan, Zie,” tolak Trias segera. “Posisiku paling bontot. Sepi. Kalau sambil mengobrol sama kamu, jadi nggak terasa bosan.”

Trias membuntuti sebuah mobil sedan yang melaju lambat untuk ukuran mobil. Bahkan Trias dan sepeda dapat membuntutinya. Namun, lelaki itu ingin tetap menaati aturan, hingga tidak berusaha menyalipnya dari lajur kanan.

“Ngomong-ngomong,” ujar Trias. “Kamu udah siapkan karpet merah untuk menyambutku?”

Suzie tergelak. “Aku malah menyiapkan karpet terbang, Dul.”

Giliran Trias yang tertawa. Namun, sejurus kemudian, tawa itu terhenti. Berganti pekik terkejut, ketika menyadari di depannya terdapat sebuah lubang menganga cukup dalam,

“Waduh, siah…!”

Ya, hanya itu yang dapat dilakukannya. Ia sudah tidak bisa menghindari lubang yang seolah muncul dari kolong mobil di depannya itu. Menarik handle rem pun sudah tidak ada gunanya. Roda depan sepedanya menginjak lubang, yang karena cukup dalam, membuat laju tunggangannya tersentak. Trias pun terpelanting ke arah kanan depan. Sepedanya terhempas di aspal jalan.

Sesaat Trias seperti hilang ingatan, ketika tubuh bagian kanannya membentur permukaan jalan. Lumayan keras. Imbas dari kecepatan laju sepedanya, meski sedang membuntuti mobil yang melaju lambat, namun mencapai 19 kilometer/jam. Cukup cepat untuk ukuran sepeda, meski terbilang lambat bagi sebuah mobil.

Seorang pengendara sepeda motor berhenti untuk menolongnya. Begitu pula dengan sebuah mobil pick-up. Trias langsung bangkit, dan berusaha meminggirkan sepedanya. Saat itulah ia menyadari tangan kanannya terasa begitu sakit. Membuatnya tidak kuat mengangkat sepeda. Ia pun membiarkan sang pengendara sepeda motor memindahkan sepedanya.

Trias pun duduk di trotoar. Pengendara mobil pick-up duduk di sisi kirinya.

“Nggak apa-apa, Kang?” tanyanya. “Bisa lanjut, nggak?”

“Nggak tahu,” jawab Trias, merasa tidak yakin akan mampu bersepeda dengan tangan kanan sesakit ini.

“Saya antar ke rumah sakit, ya!” tawarnya.

Trias menggeleng.

Si pengendara sepeda motor ikut duduk di sisi kanan Trias.

“Ada yang luka?” tanyanya.

Trias menjawab dengan meneliti lutut, siku dan punggung tangan kanannya yang mengeluarkan darah segar.

“Ke rumah sakit atuh, Kang!” usulnya, sama dengan usul si sopir mobil pick-up.

Lagi-lagi, Trias menggeleng. “Sebentar, saya telepon pacar saya dulu.”

Trias bangkit dan menghampiri sepedanya. Celaka dua belas. Layar ponselnya retak, mungkin tadi terbentur aspal jalan. Saat Trias mencoba mengaktifkannya, hasilnya nol. Ia pun berpikir,

Satu-satunya cara, adalah segera melanjutkan perjalanan dan secepatnya tiba di kediaman orang tua Suzie. Biar Suzie nggak khawatir.

Pikiran seperti itu, membuat Trias bergegas bangkit dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Namun, kembali, ketika memegangi handle kanan sepedanya, ia menyadari bahwa hal tersebut adalah tidak mungkin, mengingat tangan kanannya yang terasa sangat sakit.

Si pengemudi mobil menyadari kegundahan Trias.

“Sebenarnya Akang mau ke mana?” tanyanya.

“Mekar Wangi,” jawab Trias.

“Saya antar, deh,” tawarnya. “Kebetulan, saya mau ke Pasar Caringin. Searah, ‘kan?”

Dan akhirnya tibalah Trias di kediaman orang tua Suzie dengan diantar mobil pick-up. Nyatanya, rumah itu kosong. Semua pemiliknya pergi.

***

Cerita Trias pun berakhir. Meski insiden tersebut cukup mengagetkan, terlebih Suzie mengikuti peristiwa itu detik demi detik, namun ujungnya berakhir melegakan. Setidaknya, semua orang dekat Trias tahu, bahwa tak ada lanjutan luar biasa dari insiden tersebut.

“Posisi paling belakang, jatuh, ponsel rusak, dan tangan kanan terkilir,” komentar Anna. “Semuanya disatukan. Jadilah Suzie panik setengah mati.”

Suzie menatap Trias. “Semuanya gara-gara kamu, Dul.”

“Aku minta maaf, Zie,” gumam Trias penuh penyesalan. “Gara-gara aku, semua orang panik dan bingung.”

“Bukan salah kamu, Trias,” tukas Bapak. “Ini musibah. Tidak ada yang mengharapkan ini terjadi. Kalau masih juga terjadi, itulah takdir.”

“Yang penting, Trias baik-baik saja, dan ada di dekat kita,” tambah Ibu. “Meskipun tangan kanannya terkilir, dan ponselnya rusak, Trias tetap bersama kita.”

Trias dan Suzie sama-sama tersenyum.

“Hmm… karena kita semua panik dengan insiden ini,” ujar Bapak. “Kita sampai melupakan touring Trias. Bagaimana perjalanannya?”

“Lancar dan menyenangkan, Pak,” jawab Trias, sambil tersenyum. “Gangguan terparah justru terjadi belasan kilometer sebelum garis finish. Padahal, lebih dari 1000 kilometer, nyaris nggak ada kendala.”

“Itulah yang bikin aku yakin, Adul bakalan pulang dengan selamat, Pak,” imbuh Suzie. “Eh, nggak tahunya…”

“Cuma insiden kecil dan luka ringan, Zie,” tanggap Trias. “Besok juga sembuh.”

“Besok dari Hongkong?” timpal Suzie. “Mengangkat sendok aja nggak kuat, dibilang luka ringan.”

Trias nyengir.

“Oya, sebentar,” ujar Trias, seraya berusaha bangkit.

“Mau ke mana?” tanya Suzie.

“Ambil tas pannier,” jawab Trias. “Oleh-oleh untuk Bapak dan Ibu. Buat Kang Jan dan Téh Anna juga ada.”

“Biar aku yang ambil,” ujar Suzie.

“Nggak usah, Zie,” cegah Trias.

“Dul,” tukas Suzie tegas. “Please… sadar keadaan, dong. Tanganmu sakit. Udah, kamu duduk aja.”

Trias nginyem, dengan tatapan gemas. Yang lain tertawa geli.

***

Singkat cerita, Trias dan Suzie telah berada di kamar kost sang lelaki. Tadi, Jan dan Anna berbaik hati mengantarkan mereka dengan mobilnya. Dengan terpaksa, sepeda Trias dan motor Suzie diinapkan dulu di Mekar Wangi.

Kini Jan dan Anna sudah pulang. Trias sudah memejamkan mata. Suzie yang diminta Trias untuk segera tidur, masih saja terjaga. Ia malah duduk mematung, sambil menatap lekat wajah sang kekasih.

Beberapa jam yang lalu, Suzie sempat berpikir, takkan pernah melihat sosok Trias lagi. Insiden itu sangat mengejutkannya, dan mengundang kepanikan. Kini ia lega, mendapati kenyataan bahwa ternyata kecelakaan yang dialami Trias tidaklah seburuk yang ia kira.

Trias terjaga. Dengan mata memicing, ia menatap Suzie. Menyadari wanita itu tidak sedang tidur, keningnya berkerut.

“Kamu nggak mengantuk?” tegurnya.

Suzie tersenyum sambil menggeleng. “Nggak bisa tidur, Dul.”

“Kenapa?” tanya Trias bergumam. “Kangen aku? Aku udah pulang, lho!”

“Iya,” Suzie tersenyum. “Sekadar menikmati kebersamaan dengan kamu. Mengganti sembilan hari yang terlewati tanpa kamu.”

“Kamu…” tanggap Trias. “Kita ganti dengan kebersamaan seumur hidup. Sebulan lagi, Zie.”

Suzie mengangguk.

“Sayang…” lanjut Trias. “Aku minta maaf, karena insiden itu, semua orang jadi repot.”

Suzie menggeleng, seraya meletakkan telunjuk kanannya di bibir Trias. “Nggak ada yang perlu dimaafkan. Bukan salah kamu, kok!”

“Aku merasa nggak enak hati,” tutur Trias. “Bapak dan Ibu ikut repot, cuma gara-gara aku terjatuh. Dan sebenarnya nggak parah.”

Suzie kembali menggeleng. “Jangan bicara begitu. Bapak dan Ibu itu calon mertua kamu. Orang tuamu juga, Dul. Mungkin, beliau mau repot karena menyayangi kamu.”

Trias menoleh, melemparkan pandangan ke arah halaman. Tatapannya menerawang.

“Kamu dan keluargamu sangat baik sama aku,” gumamnya. “Aku belum bisa membalasnya.”

Suzie tersenyum. “Selama ini kamu bersikap jujur dan baik sama aku, sama Bapak dan Ibu. Itu balasan setimpal. Kamu udah bikin aku selalu tertawa dan ceria, itu nggak ternilai harganya. Kamu… kamu udah bikin aku mengerti arti cinta, itu nggak akan bisa kubayar dengan uang sebanyak apapun.”

“Tapi, aku sering bikin kamu cemas,” timpal Trias. “Bikin kamu khawatir dan panik.”

“Justru hal itu yang bikin aku nggak mau meninggalkan kamu,” sanggah Suzie. “Seperti juga kamu, yang berusaha selalu ada, meskipun jarak sedang memisahkan kita. Please, Dul… nggak ada hitungan matematis dalam sebuah hubungan cinta. Nggak usah saling balas budi. Nggak masuk logika.”

Trias kembali menatap Suzie.

“Kamu ingat, pernah kasih aku oleh-oleh sepulang dari Cirebon?” tanya Suzie. “Kamu juga ingat, pernah kasih aku kado ulang tahun berupa organizer? Harganya nggak semahal oleh-oleh dan kado yang diberikan lelaki lain. Tapi di sini, Dul…”

Suzie meraih telapak tangan kiri Trias, dan menyentuhkannya di dada atasnya.

“Di hati aku,” lanjut Suzie. “Harganya jadi sangat mahal. Sangat berharga. Bikin aku sangat bahagia. Kenapa? Karena kamu yang memberinya.”

Trias hanya tersenyum.

“Kamu nggak perlu berubah jadi sempurna untuk bikin aku bahagia, Dul,” sambung Suzie. “Cukup jadi dirimu apa adanya, dan aku berjanji, akan memberikan segala hal yang aku punya.”

Sejujurnya, Suzie pun tak mengerti, mengapa bisa bersikap seperti ini. Ia bisa menerima Trias apa adanya, dengan segala kekurangannya. Mencintai seorang lelaki yang bahkan sangat jarang memboncenginya dengan sepeda motor. Menganggap para lelaki yang gagah dengan motor sport-nya, kalah kelas dibandingkan Trias, si pesepeda.

Mencintai seorang lelaki yang tidak terlalu tampan. Mengabaikan sederet pria yang hadir dengan segala pesonanya, untuk memilih seorang lelaki sederhana yang kesehariannya gemar bercelana olahraga ke manapun juga. Mencintai lelaki yang menawarkan kesahajaan.

Jika ada satu hal yang diunggulkan dari sosok Trias, adalah kejujuran. Sikap jujur itulah yang membuat lelaki itu menjadi sosok yang gentle. Sangat lelaki. Sikap yang sangat jarang ia temui dari para lelaki yang mengerubutinya.

Sebuah idiom berkata, “Lebih baik nakal tapi jujur, daripada baik tapi munafik”. Suzie beruntung, karena Trias adalah sosok lelaki yang baik dan jujur. Too good to be true? Bisa jadi. Namun, sosok seperti itu berhasil ia temui. Sedang terbaring di hadapannya, dengan pergelangan tangan kanan yang terkilir, luka-luka pada beberapa bagian tubuhnya, yang ia dapat ketika melakoni perjalanan pulang. Demi dirinya.

Suzie membaringkan kepalanya di bahu kanan Trias. Ia mungkin lupa, bahwa gestur tersebut membuat tangan kanan sang lelaki tertimpa tubuhnya.

“Sakit, Zie…” rintihnya.

Suzie pun tersadar, dan langsung bangkit untuk kembali duduk. “Maaf…”

“Nggak apa-apa,” ucap Trias, sambil tersenyum, di tengah seringai kesakitan.

Suzie menatap pergelangan tangan kanan Trias. “Aku berharap tanganmu cepat sembuh. Biar kita bisa berpelukan dengan nyaman.”

Trias tertawa. “Aku berharap kita cepat menikah. Biar kita bisa melakukan apapun dengan nyaman, bukan sekadar berpelukan.”

“Kita percepat jadi besok, gimana?” seloroh Suzie.

“Nggak mungkin, Zie,” sanggah Trias.

“Kenapa?” tanya Suzie. “Kamu belum siap?”

“Bukan,” Trias menggeleng pelan. “Undangan udah naik cetak. Kalau kita mesti mengubah tanggal, kena biaya. Jadi nggak gratis lagi!”

“Perhitungan, ih!” umpat Suzie.

Trias terkekeh.

Bersambung