Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 51

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 51 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 50

Sudah Kubilang, Aku Pasti Pulang

Pukul 08.23,

Tiga hari sudah, Trias dan kedelapan rekannya menempuh perjalanan bersepeda menuju Bandung. Kini mereka telah memasuki wilayah Jawa Barat. Tepatnya, Trias dan kawan-kawan sedang beristirahat di area parkir situs purbakala Ciung Wanara, di kawasan Karangkamulyan, Ciamis.

Sembilan sepeda terparkir rapi di depan salah satu warung yang menjual lotek, karedok dan nasi rames. Mayoritas dari mereka memilih lotek dan nasi sebagai menu sarapan. Kecuali Trias dan Kang Recky, yang kompak memesan nasi rames. Namun, yang pasti, semuanya menyertakan nasi, untuk menabung karbohidrat, karena selepas ini, trek akan sangat melelahkan.

Ya, kontur wajah dataran Jawa Barat yang mayoritas berupa pegunungan, berarti banyaknya jalan menanjak dan berkelok. Berbeda dengan saat melintasi Jawa Tengah, yang didominasi jalanan lurus dan berkontur datar. Perjalanan hari ini akan menjadi lebih lama. Itulah sebabnya, rombongan telah meninggalkan hotel di Majenang, Cilacap, sekitar pukul empat pagi.

Cukup banyak kendala yang dialami rombongan. Selain kondisi fisik yang telah menurun, kondisi sepeda pun tidak seprima saat perjalanan menuju Kediri. Ada saja keluhan terhadap sepeda, padahal ketika berangkat semua baik-baik saja. Trias saja sempat tiga kali memaksa rombongan berhenti, akibat sepedanya mengalami gangguan pada rem dan crank.

Yang unik, tidak ada satu pun anggota rombongan yang mengalami pecah ban. Mungkin, alam berbaik hati, dengan menyingkirkan segala jenis material tajam dari permukaan jalan, yang berpotensi merusak karet roda sepeda mereka.

Hingga akhirnya tibalah mereka di Karangkamulyan, regrouping point ketiga setelah Wanareja, Cilacap dan Tugu Perbatasan Jateng-Jabar. Jaraknya sekitar 41 kilometer dari hotel tempat mereka menginap tadi malam, yang dilalap dalam waktu empat jam. Sejauh ini, semua selamat. Tak ada insiden yang menyebabkan peserta terluka.

Selepas makan, Trias langsung menyingkir ke tempat yang lengang. Semua rekannya dapat menebak apa yang akan dilakukannya. Tentu saja, menelepon Suzie.

Sedikit agak lama, Suzie tidak menjawab panggilan telepon itu. Butuh empat kali nada sambung.

“Iya, Dul?” sapa Suzie dengan nada suara sumringah.

“Lagi sibuk, ya?” tanya Trias. “Tumben, sampai empat kali nada sambung.”

Terdengar Suzie terkekeh. “Aku lagi di dapur, bantu Ibu memasak.”

Sejak kemarin siang, Suzie memang pulang ke kediaman orang tuanya. Sesuai permintaan Trias. Dan menurut cerita Suzie, setiap dirinya berada di rumah, sang ibunda pasti mengajaknya memasak. Mewariskan ilmu, alasan Ibu.

“Yang tekun belajar masaknya ya, Sayang,” tanggap Trias. “Biar bisa menyenangkan suamimu, kelak.”

Suzie tertawa.

“Kalian udah sampai mana?” tanya Suzie.

“Karangkamulyan,” jawab Trias.

“Sepedamu ditenggeri monyet lagi, nggak?” seloroh Suzie.

“Kali ini tidak, Zie,” ujar Trias. “Monyet itu memilih sepeda Kang Recky, yang lebih bagus.”

Suzie tertawa lagi.

Sesaat obrolan terhenti, karena dari kejauhan Kang Yadi memberikan isyarat, bahwa sepuluh menit lagi perjalanan akan dilanjutkan.

“Mau lanjut, ya?” duga Suzie.

“Sepuluh menit lagi,” jawab Trias.

Regrouping point berikutnya di mana?” tanya Suzie.

“Di Imbanagara,” jawab Trias.

“Rumah Makan Nike Ardilla, ya?” tebak Suzie.

“Iya,” gumam Trias. “Kami cuma pinjam lahan parkirnya untuk regrouping, tapi nggak makan. Mudah-mudahan nggak diusir pemilik rumah makan.”

Suzie tertawa.

“Berikutnya di Jamanis,” lanjut Trias. “Yang ada Masjid Itjeu itu, lho. Di sana kita minum dan ngemil.”

“Selanjutnya di mana?” tanya Suzie lagi.

“Di Nagrek,” jawab Trias. “Selepas Lingkar Nagrek.”

“Jauh banget jaraknya, Dul!” komentar Suzie.

“Setelah Masjid Itjeu, mayoritas rute menanjak,” jelas Trias. “Jadi, kami nggak menentukan regrouping point. Insidental aja, kalau merasa capek, ya berhenti. Jujur, kami nggak bisa mengestimasi waktu tempuh, soalnya treknya pedas banget. Perjalanan bakal jadi lebih lama, dan lebih sering berhenti.”

“Semangat, Sayang!” seru Suzie.

“Pasti,” tanggap Trias, sambil kemudian tersenyum. “Aku pasti bersemangat, karena di ujung etape, ada kamu yang menanti.”

Suzie tertawa kecil.

“Sebentar,” Trias diam sejenak. Lalu, “Aku ‘kan udah kasih rundown perjalanan. Kenapa kamu masih bertanya lagi?”

“Sekadar mengetes daya ingat kamu,” jawab Suzie, kentara nada jahil pada suaranya. “Ternyata kamu udah hafal rundown itu di luar kepala.”

“Asem,” rutuk Trias.

Suzie terkekeh menyebalkan.

“Udah dulu ya, Zie,” ucap Trias. “Nanti aku menelepon lagi, di regrouping point berikutnya.”

“Oke,” tanggap Suzie. “Hati-hati. Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu,” balas Trias.

Sambungan telepon pun ditutup Trias.

***

Kediaman orang tua Suzie, 135 kilometer dari posisi terkini Trias,

Segera setelah Trias memutus sambungan telepon, Suzie kembali ke dapur. Dan disambut tatapan penuh arti sang ibunda.

“Siapa yang menelepon?” tanya Ibu, meski sebenarnya sudah tahu, melihat dari wajah sumringah putrinya.

“Adul,” jawab Suzie, sambil langsung mengambil posisi berdiri di sisi kiri Ibu, tepat di depan talenan dan irisan lobak yang tadi sempat ditinggalkannya.

“Trias,” ralat Ibu. “Kamu harus mulai memanggilnya dengan nama asli. Atau, dengan panggilan ‘Aa’. Sebulan lagi, Trias jadi suamimu, lho!”

Suzie tertawa. “Rasanya geli, Bu. Memanggil Adul dengan sebutan Aa.”

“Trias,” kembali, Ibu meralat, sambil tersenyum.

“Iya, Trias,” ulang Suzie.

“Lama-lama, kamu pasti terbiasa,” tutur Ibu. “Tidak terasa, tahu-tahu kamu akan terbiasa memanggilnya ‘Sayang’.”

Kalau panggilan itu, ucap Suzie di dalam hati. Sekarang pun udah makin sering kok, Bu!

“Dia sudah sampai di mana?” tanya Ibu.

Suzie tidak menjawab.

Ibu menoleh ke arah Suzie. Lalu menjawil pipi kanan putrinya. “Lho, malah senyum-senyum.”

“Eh, kenapa?” Suzie agak gelagapan. “Ibu tanya apa tadi?”

Ibu menggelengkan kepala. Tanpa perlu bertanya, beliau sudah tahu, hal apa yang membuat tingkah Suzie seperti itu.

“Rasanya baru kemarin, Ibu mengantar kamu masuk SD,” ucapnya lirih. “Melihat kamu keluar kelas sambil tersenyum, karena dapat nilai sembilan ketika ulangan Bahasa Sunda. Sekarang, Ibu melihat kamu tersenyum-senyum karena baru ditelepon lelaki.”

“Waktu cepat berlalu ya, Bu,” gumam Suzie, tanpa berhenti mengiris lobak.

“Tidak terasa,” lanjut Ibu. “Sebulan lagi, Ibu akan mengantarkan kamu yang akan dipinang lelaki itu.”

Suzie menatap Ibu, lalu tersenyum.

“Setelah itu, kamu lepas dari orang tua,” sambung Ibu. “Kamu jadi tanggung jawab Trias. Berbakti pada Trias.”

Suzie merangkul pinggang kanan Ibu dengan hangat. “Doakan aku bisa jadi istri yang baik, Bu.”

“Selalu, Dé,” tanggap Ibu. “Ibu selalu mendoakan kamu jadi istri yang baik, yang berbakti pada suami. Kamu harus menuruti perintah suami. Karena bagi seorang wanita, surga ada di tangan suami.”

“Seperti Ibu kepada Bapak?” tanya Suzie.

“Hanya Tuhan yang bisa menilai,” Ibu tersenyum.

Yang dilihat Suzie, Ibu adalah sosok yang benar-benar mengabdi pada Bapak, sang suami. Sosok yang tidak banyak menuntut, hanya berusaha menuruti perintah Bapak. Bahkan ketika kehidupan keluarga berada di titik nadir, Suzie yang kala itu masih remaja melihat Ibu begitu sabar. Sama sekali tidak memprotes, apalagi memaki.

Padahal, ketika itu, problem yang menimpa rumah tangga mereka terbilang berat. Bapak dipergoki punya wanita idaman lain. Tapi Ibu tetap berdiri di samping Bapak. Meski untuk itu, beliau harus rela menahan tekanan batin.

“Kenapa Ibu tetap membela Bapak?” protes Kak Resie, kakak semata wayang Suzie yang kini ikut sang suami tinggal di Strasbourg, Prancis itu. “Bapak selingkuh, Bu. Bapak meninggalkan Ibu.”

Ibu menggeleng. “Bapak mungkin khilaf. Kita doakan saja semoga Bapak segera tergugah.”

Dan Bapak memang tergugah. Suami mana yang takkan terenyuh menyaksikan ketabahan sang istri, yang sesungguhnya telah ia khianati? Hingga kemudian Bapak kembali pada keluarganya, dan mengabdikan tenaga serta pikirannya demi keluarganya. Bapak benar-benar tersadar, betapa ada tiga wanita di rumah, yang semestinya ia bimbing menuju surga.

“Aku kepingin jadi istri sehebat Ibu,” ujar Suzie.

“Harus, Dé,” tanggap Ibu. “Calon suamimu itu lelaki yang hebat, lho. Dia bisa melewati ujian berat dalam hidupnya, sampai bisa jadi seperti Trias yang kamu kenal. Masa’ kamu tidak mau jadi istri yang hebat pula?”

Suzie mengangguk, sambil tersenyum.

“Nah, kamu bisa jadi istri yang hebat,” imbuh Ibu. “Dimulai dengan membiasakan diri memanggilnya dengan ‘Trias’. Bukan ‘Adul’. Simpel, ‘kan?”

Suzie terkekeh.

“Kamu belum jawab pertanyaan Ibu tadi,” cetus Ibu. “Trias sudah sampai di mana?”

“Karangkamulyan,” jawab Suzie.

“Situs Ciung Wanara?” tebak Ibu.

Suzie mengangguk.

“Sebentar lagi sampai,” komentar Ibu, sambil tangannya bergerak menyalakan kompor gas untuk mendidihkan kembali kaldu sapi di dalam panci. Potongan daging sapi telah lebih dulu berada di dalam panci tersebut.

“Masih lama, Bu,” sanggah Suzie. “Karena mayoritas rutenya menanjak, jadi mereka nggak bisa ngebut.”

Ibu mengangguk paham. “Kamu sudah tidak kuat menahan kangen, ya?”

“Ibu…” Suzie tersipu. “Apaan, sih?”

“Ibu juga pernah muda, Dé,” Ibu tersenyum. “Kangen dan marah, itu adalah bumbu cinta. Tidak usah malu untuk mengakui kerinduan kamu. Apalagi, Trias selalu ada di keseharian kamu. Jadi, wajar kalau kamu rindu, karena seminggu lebih tidak bertemu Trias.”

Suzie tertawa kecil.

“Aku juga heran, Bu,” gumam Suzie. “Setiap hari aku ketemu dia, tapi nggak pernah ada rasa bosan atau jenuh.”

“Mungkin karena dia selalu bersikap jujur,” tebak Ibu.

“Mungkin,” Suzie membenarkan. “Sikap dia sama aku, nggak pernah dibuat-buat. Mengalir apa adanya, dan jujur. Mungkin itu yang bikin aku selalu kepingin ketemu dia, karena ada aja hal baru yang dia bawa. Entah itu perbuatan, sikap, atau candanya.”

Ibu menanggapinya dengan senyuman.

“Dia nggak segan menunjukkan isi hatinya sama aku,” lanjut Suzie. “Itu benar-benar bikin aku tersanjung. Karena aku tahu, dia introvert. Bahkan sama Jan, sepupu yang katanya paling dekat dengannya, dia jarang terbuka. Sama aku…”

“Trias percaya kamu,” potong Ibu. “Karena, mungkin, tanpa kamu sadari, kamu pun bisa bersikap jujur pada Trias. Sampai akhirnya dia merasa nyaman, dan terbuka dengan kamu, Dé.”

Suzie mengangkat bahu.

“Kalian berdua memang cocok,” lanjut Ibu. “Rasanya Ibu tenang, melepasmu untuk menikah dengan Trias.”

“Selesai, Bu,” ujar Suzie, seraya meletakkan pisau di atas talenan. Semua lobak telah selesai diirisnya. “Apa lagi?”

Ibu melirik panci berisi air yang sedang dijerangnya. Mulai bergelembung, pertanda hampir mendidih. “Masukkan lobaknya, Dé.”

Suzie memasukkan lobak hasil irisannya ke dalam panci. “Lalu, apa lagi?”

“Tambahkan bumbu,” perintah Ibu.

“Ibu aja, ah,” cetus Suzie, sambil mundur selangkah. “Takut nggak pas.”

“Kamu harus coba,” dorong Ibu. “Kalau tidak dicoba sekarang, kapan lagi? Trias akan senang, kalau kamu yang memasak untuknya. Dijamin, dia akan selalu ingin cepat pulang kerja, karena tidak sabar makan hasil masakanmu.”

Suzie bergeming.

“Ayo, Dé,” tekan Ibu. “Masih berniat jadi istri yang baik, ‘kan?”

Suzie pun menyerah.

***

Sembilan jam kemudian,

Rombongan telah tiba di Cileunyi, dan berhenti di sebuah warung kopi dan mie rebus, tak jauh dari persimpangan gerbang tol. Meski sangat lelah, namun kegembiraan tersirat di wajah para anggota rombongan. Wajar, karena tak sampai 15 kilometer lagi, mereka akan tiba di Samsat Bandung Timur, sebagai regrouping point terakhir sekaligus titik bubar rombongan.

Perjalanan panjang nan melelahkan namun penuh kenangan itu akan segera menemui ujungnya. Berakhir dengan kesan. Sebentar lagi, mereka akan kembali pada keluarganya, pada kekasihnya. Pada orang-orang yang disayanginya. Orang-orang yang menjadi alasan terbesar mereka untuk pulang.

Tapi, sebelum hal tersebut terjadi, bolehlah sejenak mereka menikmati semangkuk mie rebus panas dan segelas kopi. Sekadar merayakan kesuksesan touring kali ini. Merayakan ujung dari kebersamaan sejauh lebih dari seribu kilometer.

Warung kopi kecil itu tentu tak mampu menampung sembilan pesepeda. Kapasitasnya tidak besar. Akhirnya, setelah memesan dan mendapatkan apa yang diinginkan, mereka memilih untuk menikmatinya sambil duduk di atas trotoar. Di dekat sembilan sepeda yang berjajar rapi.

Canda tawa menghiasi acara ngopi bareng itu. Alam bawah sadar menuntun mereka untuk gembira, karena telah berhasil melewati belasan ruas jalan menanjak yang membuat ‘pedas’ lutut, selepas Imbanagara, Ciamis hingga berujung di Nagrek, Cicalengka.

Jarak sekitar 80 kilometer yang hampir selalu berupa tanjakan itu, ditempuh dalam waktu lebih dari delapan jam. Sangat lambat. Bandingkan dengan saat perjalanan pergi, ketika jarak yang sama, dengan arah sebaliknya, dilalap hanya dalam lima jam saja.

Namun, ‘derita nikmat’ itu berakhir ketika mereka tiba di ujung jalan Lingkar Nagrek. Setelah sempat berhenti sejenak untuk minum sekaligus regrouping, mereka kembali memacu sepedanya. Balas dendam. Jarak hampir 18 kilometer menuju Cileunyi, dilibas dalam waktu 52 menit saja!

“Nggak phone sex sama pacarmu, Trias?” goda Kang Yadi.

Trias terkekeh. “Nanti aja, Kang. Aku mau video call, biar dia bisa mengikuti perjalanan etape terakhir kita.”

“Ah… ide bagus,” komentar Kang Yadi. “Sayangnya, ponselku mati. Kehabisan baterai!”

“Makanya, bawa bekal power bank yang banyak, Kang!” cetus Trias sombong.

Ya, banyak rekannya yang menertawai keputusan Trias membawa tiga unit power bank. Namun, seiring waktu, mereka harus mengakui bahwa ide Trias cukup berguna di tengah perjalanan jauh dengan durasi belasan jam seperti ini. Tidak merasa useless karena ponsel mereka sepenuhnya mati kehabisan tenaga.

Saat ini, satu-satunya anggota rombongan yang memiliki ponsel dalam keadaan aktif hanya Trias. Meski untuk menjaganya tetap memiliki cadangan baterai, tiga power bank yang dibawanya harus kosong. Namun, kini baterai ponselnya masih bersisa 78%. Cukup untuk tetap aktif hingga tiba di kediaman orang tua Suzie, sambil mengaktifkan aplikasi pencatat waktu dan jarak bersepeda serta melakukan video call di sepanjang sisa perjalanan.

Trias menyesap kopi hitamnya dengan khidmat. Rasanya memang tidak berbeda dengan yang ia minum sehari-hari. Tokh, mereknya pun sama. Yang berbeda adalah suasana hatinya yang gembira. Selain karena telah berhasil menempuh lebih dari 1200 kilometer nyaris tanpa kendala berarti, ia gembira karena akan segera berjumpa dengan Suzie.

Ia melamunkan, apa yang akan dilakukan Suzie ketika dirinya tiba. Mungkin, wanita itu akan memeluknya dan melumat bibirnya.

Eh, nggak mungkin, Dul! batin Trias membantah. Selain malu sama bapak dan ibunya, Suzie pasti jijik memeluk dan menciumku. Bau keringat!

Tapi, bukankah cinta dapat membuat seseorang melupakan rasa jijik? Buktinya, seorang wanita dapat dengan begitu rela menelan air mani yang dimuntahkan penis sang kekasih di rongga mulutnya. Bukankah itu menjijikkan?

Suzie belum sempat mencium penisku, batin Trias melantur. Padahal aku udah kasih dia orgasme dengan aksi oral seksku.

“Melamun cabul, ya?” cetus Kang Yadi, sambil menyikut bahu Trias, dan sontak membuyarkan lamunan nakal itu.

Trias mendelik. “Mengganggu aja, Kang. Aku ‘kan hampir orgasme di dalam lamunanku!”

Kang Yadi tergelak.

Itu hanyalah salah satu contoh canda tawa yang terjadi. Masih banyak banyolan yang saling menimpali di antara kesembilan pesepeda itu. Membuat suasana petang dengan langit yang mulai temaram itu tetap cair dan ceria. Kepuasan bersepeda, membuat mereka sontak melupakan rasa lelah.

Setengah jam kemudian, kesembilan pesepeda telah menyantap habis cemilan dan minumannya masing-masing. Dan setelah semuanya menyelesaikan pembayaran, Kang Yadi memberikan isyarat bagi para peserta untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Tentu saja, seperti pada setiap akan meninggalkan regrouping point, mereka terlebih dahulu berdoa demi kelancaran perjalanan.

“Kita regrouping lagi di Samsat Bandung Timur,” ujar Kang Yadi. “Sekaligus jadi titik bubar. Oke, meskipun cuma 13 kilometer, tapi apapun bisa terjadi. Jadi, kita harus tetap waspada, karena perjalanan belum berakhir. Demi keselamatan kita, berdoa menurut keyakinan masing-masing. Mulai.”

Semua serentak menundukkan kepala, memanjatkan doa, meminta perlindungan selama perjalanan etape terakhir ini. Setengah menit kemudian,

“Selesai,” ucap Kang Yadi.

Semua bergegas menuju sepeda masing-masing. Dan dipimpin Kang Yadi, sang voorijder, rombongan melanjutkan perjalanan.

***

Kediaman orang tua Suzie,

Suzie sedang menekuri layar televisi, bersama Bapak dan Ibu. Menonton program berita di salah satu stasiun TV swasta. Salah satu berita mengangkat peristiwa pembunuhan terhadap seorang duta besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, di Ankara, ibukota negara Turki. Peristiwa ini menjadi viral di seluruh dunia.

Sayangnya, Suzie sama sekali tidak berminat untuk menyimaknya. Meski tatapannya mengarah pada layar televisi, namun semua orang yang berada di ruang tengah tahu, betapa pikiran Suzie berada di tempat lain. Memikirkan Trias, yang saat ini belum lagi memberi kabar soal posisi terkini, setelah terakhir menghubunginya saat regrouping di Nagrek.

Hingga kemudian ponsel yang sedari tadi ditimangnya berbunyi, bola mata Suzie langsung berbinar. Sebuah sambungan video call, dari Trias, tentu saja. Wanita itu langsung bangkit, dan dengan setengah berlari bergegas menuju ruang tamu.

Bapak dan Ibu saling pandang, dan tersenyum penuh arti.

Di ruang tamu, Suzie menjawab sambungan video call tersebut dengan memasang wajah semanis mungkin. Pikirnya, rasa lelah sang kekasih akan berkurang andai disuguhi wajah cantik itu.

“Iya, Dul?” sapanya.

“Halo, Sayang…” sapa balasan Trias.

Suzie manyun. Karena mendapati layar ponselnya hanya menampilkan imaji jalan raya. Tanpa wajah Trias. Ia langsung mengerti, bahwa calon suaminya itu menggunakan handsfree. Layar kamera sengaja diarahkan ke jalan, agar dirinya bisa mengikuti rute perjalanan.

“Aku udah pasang wajah paling cantik,” rutuknya. “Kamu malah pasang jalan aspal.”

Terdengar Trias tertawa. “Wajahmu dan aspal jalan, sama-sama mulus, kok!”

“Ya udah, pacari aja aspal jalan!” omel Suzie.

Trias tertawa lagi.

“Aku udah sampai Cibiru, Zie,” kabar Trias. “Sebentar lagi lewat Bundaran.”

“Iya, aku juga lihat,” tanggap Suzie. “Posisi kamu di paling belakang?”

“Iya, paling belakang,” jawab Trias. “Aku kebagian tugas jadi sweeper.”

“Wajar, sih,” Suzie tertawa kecil. “Yang aku tahu, posisi sweeper di touring sebaiknya diisi orang yang berpengalaman. Hmm… bisa dibilang, di rombongan itu, kamu paling berpengalaman, ‘kan?”

“Selain Kang Yadi,” imbuh Trias. “Makanya dia jadi voorijder.”

“Dul…” gumam Suzie. “Sebentar lagi, aku ketemu kamu lagi.”

“Iya, Zie,” ucap Trias. “Satu jam lagi, lah. Udah kubilang, aku pasti pulang. Kamu nggak usah khawatir.”

“Aku nggak sabar,” bisik Suzie, jujur. “Nanti, setelah sampai di Samsat Bandung Timur, kamu langsung ke sini, ‘kan?”

“Iya,” jawab Trias. “Mau ke mana lagi?”

“Siapa tahu, mau kumpul dulu sama rombongan,” ujar Suzie.

“Nggak perlu, lah,” Trias tertawa kecil. “Kami capek, kepingin pulang. Kepingin cepat ketemu orang yang disayangi.”

Suzie ikut tertawa. “Semua rekan kamu udah berkeluarga, ya?”

“Iya, kecuali aku,” jawab Trias.

“Sebentar lagi kamu juga berkeluarga, Sayang,” tutur Suzie lirih.

Suzie melihat Trias dan sepedanya telah melewati Bundaran Cibiru. Pada gambar di layar, posisi Bundaran berada di sisi kanan.

“Kamu tertinggal lumayan jauh, ya?” cetus Suzie. “Gambar pesepeda di depanmu kecil banget.”

“Yah… seratus meter di depanku, kira-kira,” imbuh Trias. “Beginilah nasib sweeper.”

Suzie tertawa.

“Ditambah lagi, aku sambil mengobrol sama kamu,” lanjut Trias. “Pasti gowesanku melambat, Zie.”

“Ya udah, tutup dulu aja, atuh!” usul Suzie. “Biar kamu lebih konsentrasi.”

“Jangan, Zie,” tolak Trias segera. “Posisiku paling bontot. Sepi. Kalau sambil mengobrol sama kamu, jadi nggak terasa bosan.”

Dari gambar di layar ponsel, Suzie melihat Trias membuntuti sebuah mobil sedan yang melaju lambat untuk ukuran mobil. Bahkan Trias dan sepeda dapat membuntutinya. Namun, mungkin kekasihnya itu ingin tetap menaati aturan, hingga terlihat tidak berusaha menyalipnya dari lajur kanan.

“Ngomong-ngomong,” ujar Trias. “Kamu udah siapkan karpet merah untuk menyambutku?”

Suzie tergelak. “Aku malah menyiapkan karpet terbang, Dul.”

Giliran Trias yang tertawa. Namun, sejurus kemudian, tawa itu terhenti. Berganti pekik terkejut,

“Waduh, siah…!”

Dan gambar di layar ponsel pun bergoyang hebat, lalu tiba-tiba menjadi berwarna hitam. Sambungan video call terputus begitu saja.

“Dul…?” tanya Suzie, mulai dihinggapi rasa panik, meski belum benar-benar mengerti apa yang terjadi pada Trias. “Kenapa, Dul?”

Dua menit, tiga menit, Suzie mencoba menelepon Trias. Tidak aktif. Kekhawatiran melanda. Ia pun kembali ke ruang tengah.

“Bu, Adul…” gumamnya bingung, sambil menahan tangis.

“Trias kenapa?” tanya Ibu.

Suzie malah menangis.

Bersambung