Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 47

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 47 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 46

Kembali, Terbakar Gairah

Pergi kencan Malam Mingguan,
nonton film yang 17 Tahun ke atas.
Ada adegan syuuur… bikin deg-degan,
Ikutin naluri pacar yang mulai-mulai nakal-nakal…!

(Oppie Andaresta – Ingat-ingat Pesan Mama)‚Äč

Entah, mungkin niat Trias dan Suzie untuk menikah benar-benar tulus. Hingga semua urusan terasa dilancarkan. Bayangkan, belum genap sebulan sejak Ghani memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Suzie, sekaligus menjadi ‘titik awal’ kejelasan hubungan antara Trias dan Suzie. Namun, dalam waktu yang termasuk singkat itu, hubungan mereka telah berkembang begitu signifikan.

Belum sebulan, mereka telah mendapatkan restu dari orang tua Suzie, hingga didapatlah tanggal pernikahan, terhitung dua bulan sejak hari ini. Mereka pun telah berjumpa dengan ibunda Trias yang menderita depresi berat, namun mendadak tenang dan tersenyum ketika berjumpa Suzie.

Sepulang dari Rumah Sakit Jiwa, Suzie tiba di kost-an lebih cepat daripada Trias. Wajar, karena ia mengendarai kendaraan bermesin. Sementara Trias mengandalkan tenaga dari tubuhnya sendiri untuk melajukan sepeda. Terlebih rute menuju Ciwaruga sarat dengan tanjakan lumayan terjal.

Namun, setelah tiga puluh lima menit menunggu, wanita itu pun mendadak khawatir, karena sang kekasih tak juga muncul.

Nggak mungkin sampai selama ini, batinnya. Trias kenapa-kenapa, gitu?

Secara sadar, ia pun keluar kost-an, untuk mencari keberadaan Trias.

Tiga menit kemudian, kekhawatiran itu hilang. Berganti menjadi rasa kesal, menyaksikan Trias sedang duduk santai di depan minimarket yang terletak di pertigaan Jl. Waruga Jaya. Sebotol minuman isotonik dan sepotong roti teronggok di sampingnya. Lelaki pesepeda itu malah asyik bergurau dengan tukang parkir minimarket.

Dasar anak nakal, rutuknya di dalam hati. Aku mengkhawatirkan dia, yang dikhawatirkan malah lagi asyik cengengesan!

Suzie pun menghampiri Trias. Saking asyiknya bergurau dengan tukang parkir itu, Trias sampai tidak menyadari kedatangan Suzie. Ketika wanita itu berdiri tepat semeter di hadapannya, barulah Trias mendongak. Tanpa perasaan berdosa, lelaki itu tersenyum.

“Mau belanja, Zie?” tanyanya.

Suzie menggelengkan kepala, seperti biasa dilakukan seorang ibu ketika mendapati putranya malah membeli kelereng dengan menggunakan uang untuk belanja mentega.

“Pulang,” ucapnya tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergerak.

Trias langsung mengangguk. Meski tanpa suara, namun ia tahu, Suzie sedang kesal. Sorot mata sang wanita yang melotot, menjadi bukti sahih kekesalan tersebut.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri Jl. Waruga Jaya. Suzie berjalan kaki di sisi kiri, dan Trias di sebelah kanannya sambil menuntun sepeda. Pernah lihat adegan menuntun sepeda di akhir video klip “Andai Dia Tahu” milik Kahitna? Kira-kira seperti itulah. Bedanya, wajah Trias tidak sekeren wajah para vokalis Kahitna.

“Enak, ya?” gumam Suzie. “Kamu mengobrol, ketawa-ketawa. Sementara aku khawatir karena kamu nggak datang juga.”

Trias menoleh, menatap Suzie. “Kenapa kamu mesti khawatir?”

“Kamu ini…” ujar Suzie, lalu mendengus kesal. “Pikirkan sendiri. Kamu udah dewasa.”

Trias memilih untuk tidak menanggapi kata-kata Suzie. Ia tahu persis, wanita yang bersamanya sedang marah. Bersikap terlalu ofensif, bisa jadi bumerang. Alih-alih ingin menyelesaikan masalah, justru malah bisa jadi menimbulkan masalah lebih pelik. Jadi, Trias pun memilih untuk diam.

Dan saling diam itu berlangsung hingga keduanya memasuki koridor kost-an. Suzie langsung menghampiri kamar, dan membuka pintu yang bahkan tadi tak sempat lagi ia kunci, saking mengkhawatirkan keadaan Trias. Sementara Trias menggotong sepeda ke depan kamarnya, memarkirkannya, kemudian bergegas kembali menghampiri Suzie.

Suzie menatap kedatangan Trias dengan mata nanar. Trias menyunggingkan senyum, namun Suzie bergeming. Trias mencoba meraih lengan kiri Suzie, dan secara spontan wanita itu berkelit. Kening Trias berkerut.

“Ada masalah apa, Zie?” tanya Trias.

Suzie menjawab dengan gelengan kepala. Sebuah bentuk jawaban yang sangat ambigu.

“Aku berbuat salah?” tanya Trias lagi. “Kalau iya, apa salahku?”

Suzie menyunggingkan senyum tipis, lalu kembali menggeleng.

“Terserah, kalau kamu nggak mau jawab,” Trias menyerah, sambil membalikkan tubuh. “Aku ke kamarku.”

“Iya, terserah,” gumam Suzie akhirnya. “Pergi ke Jogja lagi aja, biar sekalian jauh.”

Trias menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik menghadapi Suzie.

“Kamu kenapa, Zie?” tanyanya bingung.

Suzie kembali bergeming. Dan Trias, didorong keheranan di benaknya, sontak menghampiri dan menarik Suzie untuk masuk kamar. Tak lupa, ditutupnya pintu, agar para tetangga se-kost-an tak mendengar jelas andai pada ujungnya berubah menjadi pertengkaran.

Di dalam kamar,

“Tolong, cerita sama aku,” ucap Trias. “Aku bingung dengan sikapmu, Zie.”

Bukannya memenuhi permintaan Trias, Suzie malah bungkam. Lalu, sejurus kemudian, wanita itu justru menjatuhkan tubuh ke atas ranjang, dan membaringkan tubuhnya miring membelakangi Trias. Trias menggelengkan kepala dengan putus asa.

“Oke, nggak apa-apa,” gumam Trias. “Kapan pun kamu siap, tolong cerita.”

Suzie masih tetap bergeming.

Trias pun memutuskan untuk keluar kamar, membiarkan Suzie sendiri.

“Kamu nggak merasakan, gimana khawatirnya aku karena tadi kamu nggak kunjung datang,” ujar Suzie lirih, tepat saat Trias berdiri di ambang pintu, bersiap melangkah menjauhi kamar itu.

Trias berbalik, menatap Suzie. Wanita yang akan segera menjadi istrinya itu telah duduk, sedang menatapnya tajam.

“Kamu nggak akan tahu,” lanjut Suzie. “Setelah kamu kabur ke Jogja, aku selalu khawatir saat berjauhan dengan kamu. Khawatir kamu bakalan menghilang lagi. Khawatir bakalan kehilangan kamu lagi…”

“Gusti…” gumam Trias.

“Tolong peka, Dul,” tambah Suzie.

Trias perlahan menghampiri ranjang, lalu duduk tepat di sisi kiri Suzie.

“Aku ‘kan cuma nongkrong sebentar di minimarket,” ucapnya. “Kamu nggak usah khawatir.”

“Apa aku tahu, kalau tadi kamu lagi nongkrong di minimarket?” tanya Suzie.

Trias terdiam.

“Aku takut kehilangan kamu…” lirih Suzie. “Aku nggak mau hidup tanpa kamu.”

“Zie…” gumam Trias, sambil tangan kanannya merangkul pinggang Suzie. “Aku minta, tolong hilangkan kekhawatiran itu. Aku udah mengajak kamu untuk menikah. Itu artinya aku nggak akan meninggalkanmu lagi.”

Suzie tak menjawab. Ia bergeming, sibuk dengan pikiran buruk di otaknya.

“Kaburnya aku ke Jogja, adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan terhadap kamu,” ujar Trias. “Dan aku bersumpah, nggak akan pernah meninggalkan kamu tanpa kabar lagi.”

“Tadi itu apa?” tanggap Suzie datar.

“Aku cuma nongkrong sebentar, Zie,” jawab Trias. “Wajar, ‘kan? Kamu juga tahu sendiri, trek ke Ciwaruga sangat melelahkan buat pesepeda. Wajar kalau aku cari minum dan duduk-duduk sebentar.”

Suzie tak menjawab.

“Aku sayang kamu,” sambung Trias. “Aku mau hidup sampai tua bareng kamu. Itulah kenapa aku mau menikahi kamu. Jangan pernah berpikir kalau aku rela meninggalkan kamu, setelah semua perjuangan yang aku lakukan.”

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, betapa peristiwa menghilangnya Trias selama berhari-hari telah meninggalkan trauma di hati Suzie. Hingga ia merasa tak mampu membayangkan, apa jadinya kesehariannya, andai Trias tak ada di sampingnya.

“Please, Dul…” lirih Suzie. “Jangan pernah tinggalkan aku.”

“Aku berjanji,” Trias mengangguk. Direngkuhnya wajah Suzie dengan kedua telapak tangannya. “Aku nggak akan pernah tinggalkan kamu lagi.”

“Sampai mati?”

“Sampai mati.”

“Terima kasih…” gumam Suzie. “Aku benar-benar butuh ketenangan sebelum kita benar-benar hidup bersama. Aku nggak mau membayangkan hidup tanpa kamu. Siapa lagi lelaki selain kamu, yang bisa bikin aku merasa berharga, setelah semua habit burukku di masa lalu?”

“Nggak ada, Zie,” tanggap Trias. “Cuma aku, satu-satunya lelaki yang tepat untukmu.”

Suzie menahan senyum. “Kalau dari dulu kamu se-pede ini, pasti banyak perempuan yang kejar-kejar kamu.”

“Selama ini, memangnya nggak ada perempuan yang kejar-kejar aku?” tanya Trias.

“Mmm…” Suzie berlagak berpikir. “Nggak ada.”

“Nggak ada?” Trias menatap Suzie lekat-lekat.

“Nggak ada,” Suzie menundukkan kepala.

“Nggak ada yang menangis waktu aku menghilang?” goda Trias.

Suzie merengut.

“Ini yang aku harapkan terjadi di antara kita, setelah hubungan kita direstui orang tua masing-masing,” ucap Trias. “Kita saling goda, saling canda. Bukan malah bertengkar.”

Suzie mengangguk. “Aku minta maaf. Mungkin reaksiku memang berlebihan. Aku cuma terlalu khawatir kamu meninggalkan aku lagi.”

“Aku mengerti,” Trias tersenyum. “Saatnya kamu menghilangkan kekhawatiran itu. Jangan pernah ada lagi.”

Suzie mengangguk lirih.

“Aku sayang kamu, Suzie,” bisik Trias.

“Aku juga sayang kamu, Trias…” balas Suzie.

Satu demi satu kerikil yang mengganjal dalam hubungan mereka terlempar jauh. Hingga mereka bisa sepenuhnya memberikan segenap rasa cinta bagi pasangannya, tanpa ada unek-unek yang tersisa. Bukankah itu adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan asmara, apalagi yang berlanjut hingga tahap pernikahan?

Situasi yang terjadi di antara Trias dan Suzie pun kembali menghangat. Hati Suzie yang beberapa menit lalu sempat membeku akibat dilingkupi kekhawatiran, mulai meleleh.

Trias mengecup bibir Suzie dengan hangat, dan sang wanita membalasnya tak kalah mesra. Lama, mereka mengirimkan rasa cinta pada pasangannya melalui organ oral tersebut. Saling pagut nan lembut itu seolah menegaskan betapa mereka sama-sama tak ingin kebersamaan ini berakhir. Tak ingin terpisahkan lagi.

Entah bagaimana awalnya, lambat laun kecupan lembut Trias dan Suzie berganti menjadi lumatan yang makin nakal dan liar. Tanpa berhenti berciuman, Trias mengajak Suzie berbaring. Lelaki itu pun menindih erat tubuh sintal Suzie. Kedua telapak tangannya merengkuh lekat pipi Suzie.

Sementara di bawah, Suzie menyambut perlakuan Trias dengan tak kalah hangat. Dilingkarkannya erat-erat kedua tangannya di punggung Trias, seolah meminta agar sang lelaki memeluknya dalam-dalam. Jujur, ia menikmati keadaan dirinya yang sepenuhnya berada dalam ‘penguasaan’ Trias.

Seiring ciuman yang makin panas, kedua telapak tangan Trias telah beralih dari wajah menuju pundak Suzie. Sementara Suzie yang terhanyut, mulai menyusupkan kedua tangannya ke dalam pakaian Trias, menggerayangi kulit punggung dan pinggul sang lelaki.

Mungkin keduanya mulai terbakar birahinya. Tercermin dari dengus napas yang makin tak beraturan, serta geliat-geliat kecil tubuh mereka. Seolah sengaja ingin memberikan stimulasi bagi lawan mainnya. Kecupan lembut di awal, sama sekali tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah keliaran.

Suzie agak terhenyak, ketika telapak tangan kiri Trias tiba-tiba meremas pelan bongkah payudara kanannya. Namun, sesaat kemudian ia terpekik di dalam hati,

Si Adul terangsang!

Timbul niatnya untuk meladeni sekaligus menggoda lelaki yang mengaku masih perjaka itu. Ia pun menyusupkan telapak tangan kanannya ke dalam celana Trias, dan meremas pelan bongkah pantat kiri sang lelaki. Trias melenguh pelan, namun sama sekali tidak menunjukkan reaksi penolakan.

Reaksi justru ditunjukkan area pangkal paha Trias yang terasa mengembang, seiring mengerasnya alat vital. Suzie merasakan selangkangannya mulai tersodok batang kemaluan yang masih tersembunyi di balik celana jeans dan underwear itu. Desakan benda tumpul itu membuat kepalanya mulai pusing.

Merasa pancingannya mulai mengena, Suzie makin intens melumat bibir Trias. Geliat tubuhnya pun makin liar. Kini ia berniat sepenuhnya untuk mengajak Trias mengikuti arus permainan yang dibuatnya. Berusaha mencari celah kelemahan birahi sang lelaki, dan menyerangnya di titik tersebut.

Gerayangan kedua telapak tangan Suzie singgah di hampir semua titik tubuh Trias yang bisa dijangkaunya. Mulai dari pantat, punggung, dada hingga leher. Diperhatikannya reaksi sang kekasih, mencari tahu area favorit Trias.

Sayangnya, reaksi Trias terbilang statis. Meski tampak terangsang, namun sejauh ini Trias tetap bisa mengendalikan libidonya. Seolah tidak terpengaruh dengan stimulasi yang dilakukan Suzie.

Dengan tetap berciuman erat, Trias mengajak Suzie berguling hingga kini posisi mereka berbalik. Posisi baru ini membuat Suzie leluasa. Bermenit-menit ia hanya bisa menerima perlakuan Trias, sedikit saja mampu bertindak seperti keinginannya. Kini, Suzie bisa lebih bebas bereksplorasi.

Hal pertama yang ia lakukan adalah menyusupkan tangan kanan di balik t-shirt Trias dan mengusap perlahan dada sang lelaki. Sementara telapak tangan kirinya mulai menyibakkan satu-satunya helai kain yang menempel di tubuh atas Trias. Tidak sampai tanggal, namun sebagian tubuhnya mulai terekspos.

Suzie menanti reaksi penolakan Trias. Nihil. Sang lelaki tampak tidak terganggu dengan perbuatannya itu. Jelas, Suzie merasa senang.

Tangan kiri Suzie beralih pada telapak tangan kanan Trias. Dituntunnya tangan yang penuh urat hasil rutinitas bersepeda itu agar menyentuh payudaranya. Sejenak Trias menghentikan pagutan bibirnya, dan menatap Suzie dengan gestur bertanya. Suzie mengiyakan dengan anggukan lirih.

Ajaib. Anggukan tersebut direspons Trias dengan remasan kedua telapak tangannya pada bukit kembar dada Suzie. Bahkan telapak kirinya secara lancang menyusup di balik kaus ketat di tubuh Suzie. Menyentuh langsung bongkah payudara kanan nan montok yang masih terbungkus bra itu.

Lebih lanjut, telapak tangan yang sama bergerak menuju punggung. Dan dalam sekali aksi, ia berhasil melepas kaitan bra di sana. Jenis bra tanpa tali bahu yang dikenakan Suzie, membuatnya tanggal dan jatuh dengan mulus.

Kedua mata Suzie sempat membelalak, ketika jemari telapak kanan Trias yang sejak tadi sudah lebih dulu merasuki bagian dalam kaosnya, tiba-tiba mencubit pelan puting payudara kirinya.

“Uuhhh… Dul…” desahnya halus. Belalak kelopak matanya berganti menjadi tatapan sayu.

Pada saat itulah Suzie menyadari, betapa ekspresi nikmat di wajahnya membuat gerayangan tangan Trias makin menjadi.

Ternyata, kamu justru makin semangat saat melihat ekspresi horny aku ya, Dul, batin Suzie. Fenomena yang cukup unik.

Trias kembali mengajak Suzie berguling. Kini ia kembali menindih tubuh sang wanita. Dengan tetap menciumi bibir Suzie, Trias terus meremasi kedua buah dada wanita itu. Puting di tengahnya pun tak luput dari eksplorasi jemari kedua tangan Trias.

Suzie makin lupa diri. Ia yang selama ini terbiasa dengan gaya bercinta yang cenderung kasar, justru sangat terlena dengan stimulasi lembut dan halus yang dilakukan Trias. Gaya itu, ah… membuatnya mengakui bahwa sang lelaki yang sedang memggumulinya ini memang sosok yang selalu bisa bersikap gentle, dalam kondisi apapun.

Sejenak, Suzie pun teringat pada adegan passionate sex yang dulu pernah ia tonton secara sembunyi-sembunyi. Genre adult movie tersebut memang menyajikan gaya bercinta lembut, namun tetap menggairahkan dan mampu mengantarkan kedua pihak pada puncak kenikmatan. Seperti dirinya kini, yang makin terangsang akibat permainan lembut Trias.

Suzie mendorong dada Trias dengan kedua telapak tangannya, memaksa lelaki itu mengangkat tubuh atasnya. Malah akhirnya Trias pun duduk bersila. Dan Suzie langsung duduk di pangkuan sang calon suami. Percumbuan yang sesaat terhenti, kembali dilanjutkan. Meski Suzie kemudian melepaskan pagutannya.

“Dul…” gumamnya, di sela napasnya yang sedikit terengah. “Aku turn on.”

Trias hanya menanggapi dengan senyum dan anggukan. Lantas kembali menyentuh tubuh Suzie dengan bibirnya. Kali ini sasarannya adalah leher kanan. Kecupan dan jilatan lembut mendarat di bagian tubuh Suzie yang atraktif itu. Sementara, kedua tangannya mengusapi pinggang dan punggung sang kekasih.

Sontak Suzie melenguh pelan. Lehernya mendongak, meresapi rasa geli namun nikmat yang ditimbulkan akibat gesekan dengan lidah kasar Trias.

“Sayang…” rintihnya. “Enak…”

Dan birahi yang terpancing membuat Suzie tanpa ragu dan malu menyingkap kaus di tubuh atasnya. Meski kaus itu masih bertengger di dada bagian atas, namun kedua payudaranya telah sepenuhnya terekspos.

“Suzie…!” pekik Trias tertahan. Ia menelan ludah dengan sedikit sulit, menyaksikan buah dada montok sang kekasih terpampang tanpa penghalang di hadapannya. Buah dada wanita pertama yang ia lihat langsung seumur hidupnya, selain milik sang ibunda, tentu saja.

Suzie pun menekan kepala Trias agar wajah itu mendekati payudaranya. Meski terlihat canggung, namun nalurinya menuntun Trias untuk melahap payudara kanan Suzie dengan mulutnya. Disapunya kulit mulus dada Suzie dengan lidah. Dan bertahap, sapuan lidah itu akhirnya tiba di puting yang tegak di bagian tengahnya.

“Ssshhh… Dul…” rintih pelan Suzie. Kepalanya sedikit mendongak ke belakang, berlawanan arah dengan dadanya yang justru dibusungkan ke arah depan.

Sejujurnya, mendengar rintihan Suzie membuat gairah Trias memuncak. Otaknya mulai memengaruhi dirinya untuk berbuat lebih jauh. Ia sendiri tidak mengerti, mengapa bisa bertindak hingga sejauh ini terhadap seorang wanita. Apakah karena wanita yang ada dalam gerayangannya ini adalah calon istri yang sangat dicintainya? Bisa jadi.

Tanpa berhenti mencumbui bukit kembar di dada Suzie, kedua tangan Trias mencoba menanggalkan sepenuhnya kaos sang wanita yang memang sudah tersingkap itu. Suzie pun mempermudahnya. Kini, Suzie telah bertelanjang dada.

Jantung Trias berdegup begitu kencang, menyaksikan kepolosan tubuh bagian atas Suzie. Menyaksikan secara utuh, betapa indahnya payudara sang wanita, yang selama ini hanya bisa ia tatap saat dalam keadaan berpakaian. Menyaksikan betapa Suzie adalah sosok yang begitu sempurna baginya.

Trias menghentikan cumbuannya, lalu menatap wajah Suzie.

“Tubuhmu indah, Zie,” gumamnya.

Suzie tersenyum. “Kamu suka?”

Trias mengangguk.

“Sebentar lagi, tubuh ini jadi milik kamu, Sayang,” lirih Suzie. “Hanya untuk kamu, seutuhnya.”

Suzie sedikit beringsut, merengkuh wajah Trias, dan langsung melumat bibir sang lelaki. Lalu, sambil sedikit menghentak, ia mendorong bahu Trias hingga kembali telentang. Suzie sendiri ikut mengejar arah jatuhnya Trias, agar bibirnya tak kehilangan pagutan.

Terbawa suasana, kini kedua tangan Trias mulai mencari sasaran lain. Dengan lancang, dua telapak tangan itu menelusup ke dalam celana jeans Suzie. Meremasi dua bongkah sintal bokong wanita itu, meski masih dilakukan dari luar celana dalam.

Dan seolah belum cukup, telapak tangan kanan Trias dengan berani masuk di balik underwear Suzie. Telunjuknya bahkan mengusap-usap halus area di dekat sunhole. Dan telapak yang kiri kini meremasi gemas bokong kanan wanita itu.

Sesaat, Suzie menunjukkan reaksi keterkejutan. Tak menyangka bahwa Trias berani bertindak seperti itu. Tidak. Ia sama sekali tidak marah. Namun, mengingat betapa lugunya lelaki yang ditindihnya ini, Suzie pun cukup terkejut ketika Trias berani menyentuh salah satu titik sensitif di tubuhnya.

But that’s all! Terlepas dari rasa terkejut itu, Suzie merasa bahagia karena akhirnya Trias berani menyentuhnya dengan lebih liar. Dan tidak salah pula, jika kini ia berharap Trias sudi menyentuh bagian tubuhnya yang lebih pribadi. Bahkan lebih jauh, ia berharap Trias dapat memuaskannya. Sampai meraih orgasme, mungkin?

Ya, Suzie menginginkan lebih. Meski untuk berharap Trias akan menyetubuhinya malam ini, ia tidak berani. Ia yakin, sang lelaki masih akan menghindari perbuatan itu hingga keduanya resmi menjadi sepasang suami-istri. Namun, untuk sekadar saling rangsang hingga meraih puncak kenikmatan tanpa persebadanan, tentu tak jadi masalah.

Aku harus berhati-hati, batinnya. Jangan sampai si Adul kehilangan mood-nya, dan bikin semuanya berakhir sebelum sempat dimulai.

Suzie pun memutuskan untuk menyerahkan kendali sepenuhnya kepada Trias. Ia hanya menunggu perlakuan selanjutnya dari sang lelaki.

Trias mendorong tubuh Suzie hingga berguling telentang ke sisi kanan. Sementara, ia sendiri berbaring menyamping menghadapi Suzie. Kembali dikecupnya bibir ranum sang kekasih dengan hangat. Lalu menjalar turun ke dagu dan leher. Dan berakhir di puting payudara kiri wanita itu.

Suzie makin terbuai. Dan ia nyaris menjerit, ketika tiba-tiba merasakan telapak tangan kanan Trias menyusup ke dalam celana jeans dan underwear-nya, lalu menyentuh pangkal pahanya. Tubuhnya mendadak menggigil, ketika tangan itu menyundul halus biji klitorisnya. Desahan lirih terlantun dari bibirnya.

Dan sensasi itu segera berlanjut ketika telunjuk Trias merangsek memasuki rongga kemaluannya. Refleks ia merengkuh kepala Trias yang tengah beraksi mencumbui dadanya. Berminggu-minggu, ia tak lagi merasakan nikmatnya sentuhan lelaki terhadap area selangkangannya. Dan kini, hal itu didapatnya dari Trias, lelaki yang begitu disayanginya.

Suzie pun sedikit berjudi, dengan mencoba memelorotkan celana jeans-nya. Pertaruhannya adalah, percumbuan akan terus berlanjut atau justru benar-benar terhenti, andai Trias terkejut dengan sikap frontal Suzie.

Trias sontak menarik tangan kanannya keluar dari dalam celana Suzie. Suzie pun bersiap merelakan pergumulan ini berakhir begitu saja. Nyatanya, hal itu dilakukan sang lelaki, agar tangannya dapat ikut membantu menanggalkan celana jeans Suzie.

“Maaf, aku menelanjangi kamu, Zie…” lirih Trias.

Suzie tersenyum sambil mengangguk. “Lakukan apa yang mau kamu lakukan, Sayang.”

Kini, di tubuh Suzie hanya tersisa sehelai celana dalam hitam. Sementara, Trias masih berpakaian lengkap.

“Aku pengen lihat dada kamu, Dul,” ujar Suzie, sambil menggenggam ujung bawah kaos Trias, dan berusaha menyingkapnya.

Trias mengangguk. Perlahan, ia sendiri yang melepas pakaian atasnya. Suzie menatap tubuh atas yang telanjang itu.

Nggak sebidang tubuh Ghani, nilainya di dalam hati. Tapi tetap atletis. Mungkin inilah efek dari rutin bersepeda.

Suzie mendorong tubuh Trias agar kembali berbaring telentang. Lalu, ia segera menindihnya sambil mencumbui dada telanjang lelaki itu. Cumbuan ia pusatkan pada puting dadanya. Ia tahu, bukan hanya wanita yang akan merinding saat puting dadanya disentuh. Para lelaki pun akan merasakan hal yang sama.

Terbukti, lenguhan pelan segera terlontar dari bibir Trias. Hal itu dibarengi pula dengan tangan kiri yang bergerak menekan kepala belakang Suzie agar wajah wanita itu makin intens bersentuhan dengan dadanya. Dan, lebih jauh, reaksi ditunjukkan pula oleh area pangkal paha Trias yang terasa menyodok ingin dibebaskan. Menyundul perut Suzie.

Suzie sedikit mengangkat perut dan tubuh bawahnya, hingga tercipta jarak dengan tubuh Trias. Tanpa menghentikan cumbuannya terhadap dada Trias, ia mulai berusaha melepas kaitan kancing dan menurunkan zipper celana jeans sang lelaki. Perlahan, ia memelorotkan celana itu.

Dan Suzie nyaris tak percaya, ketika Trias menunjukkan reaksi dengan mengangkat pantatnya. Hingga ia pun dapat melolosi celana jeans sang lelaki dengan mudah. Kini, kedua insan itu telah sama-sama setengah telanjang, dengan menyisakan sehelai kain saja di tubuhnya.

Tahan sebentar, Zie, gumam hati Suzie. Jangan terburu-buru. Nanti Trias-mu malah kabur.

Ya, banyak lelaki yang menggilai Suzie. Dan kebanyakan para lelaki itu menyukai keagresifan dirinya di atas ranjang. Namun Suzie tahu persis, Trias tidak seperti itu. Lelaki yang saat ini begitu intim dengannya, cenderung malu-malu. Andai Suzie terlalu agresif, bukan tak mungkin, Trias malah akan ‘menyelamatkan diri’.

Kembali, Suzie pun memutuskan untuk menunggu tindakan Trias selanjutnya.

“Kamu horny banget, Dul?” tanya Suzie pelan.

Trias mengangguk.

“Kamu mau ‘itu’?” tanya Suzie lagi.

Trias diam sesaat, lalu menggeleng. “Aku nggak mau melawan kata-kata Mamah.”

Suzie tersenyum. Meski sedikit kecewa karena mungkin malam ini takkan mendapatkan apa yang diinginkan, namun di sisi lain Suzie merasa bangga karena sang calon suami masih berusaha mematuhi amanat ibunda, meski situasi yang saat ini sedang terjadi rentan menjerumuskannya.

“Aku senang, kamu masih ingat sama Mamah,” ucap Suzie lirih. “Aku makin sayang sama kamu, Dul…”

Tensi suasana kembali menurun. Kini, percumbuan yang terjadi antara Trias dan Suzie kembali berlangsung dalam suasana penuh kasih. Tak ada lagi lumatan bibir panas. Mereka malah saling tatap begitu dalam, seolah ingin membuktikan betapa dalam pula rasa sayang yang dapat mereka berikan satu sama lain.

Namun, situasi kembali panas, ketika tanpa sengaja telapak tangan Trias menyentuh puting payudara kiri Suzie, dan membuat wanita itu merintih. Rintihan itu masuk ke telinga Trias, dan diproses otaknya menjadi serupa dorongan birahi. Lelaki itu kembali terangsang akibat suara erotis yang terlantun dari bibir Suzie.

Selanjutnya, Trias kembali menggulingkan tubuh, kembali menindih tubuh sintal Suzie. Dengan gerakan yang cukup liar, ia menggesek-gesekkan pangkal pahanya dengan area selangkangan Suzie. Jika dilihat sekilas saja, mereka tampak seperti sedang bersenggama. Hanya dua cawat di tubuh masing-masing, yang menjelaskan bahwa mereka tidak sedang sebadan.

Namun, meski masih terhalang helai kain, pertemuan dua kelamin itu membuat nafsu birahi keduanya makin merambat menuju puncak. Dengus napas dan erangan serta rintihan nakal terdengar makin intens. Penis Trias yang makin keras, terasa mulai melesak ke dalam rongga vagina Suzie. Beruntung, lagi-lagi, masih ada dua kain cawat yang menjadi tabir.

Namun, di tengah birahi tinggi yang melenakan, otak Suzie masih bisa berpikir sehat. Didorongnya tubuh Trias, hingga lelaki itu pun terpaksa berguling ke samping kanan. Ia sendiri kemudian duduk, yang kemudian juga diikuti Trias.

“Aku nggak mau kita kebablasan, Dul,” ucap Suzie. “Tadi, penismu masuk.”

“Aku tahu,” jawab Trias. “Masih ada kain celana dalam yang mencegah penetrasi, ‘kan?”

Mau tidak mau, Suzie mengangguk setuju.

“Aku masih berpikir dua kali untuk ML malam ini,” lanjut Trias. “Tapi, kita masih bisa puas tanpa perlu bersetubuh, Zie.”

Kembali, Suzie mengangguk.

Anggukan Suzie ditanggapi Trias dengan kembali membaringkan tubuh sang wanita, lalu melanjutkan percumbuan yang sempat tertunda. Dimulai dari wajah, leher dan berakhir di dada Suzie. Kedua payudara montok Suzie dilumat habis bibir dan lidah Trias. Hampir tak ada bagian yang terlewat, hingga bukit kembar itu berkilat karena basah oleh air liur sang lelaki.

Di sisi lain, libido Suzie makin memuncak akibat stimulasi gencar yang dilakukan Trias. Dan hal itu berimbas pada kedua tangannya yang mendorong kepala Trias ke arah bawah, sebagai refleksi dari keinginannya agar lelaki itu juga menstimulasi tubuh bagian bawahnya.

Trias mengerti. Perlahan, cumbuan bibir dan lidahnya mulai bergerak turun. Hingga menemukan lubang pusar di perut Suzie, dan sejenak mengeksplorasi bagian tersebut. Sang wanita menggeliat-geliat, merasakan geli bercampur nikmat yang membuat darahnya berdesir.

Cumbuan itu kembali bergeser makin ke bawah. Sekilas Suzie menatap kepala Trias yang posisinya semakin dekat dengan area genitalnya. Dadanya berdegup makin kencang, tegang menanti saat di mana Trias akan mulai merangsang daerah selangkangannya. Sedikit khawatir, namun terkalahkan oleh rasa penasaran.

Tak lama kemudian, Suzie merasakan kain cawatnya ditarik. Secara sadar, ia pun mengangkat pantatnya, agar Trias dapat dengan lebih mudah melolosinya. Lalu, dengan mata terpejam, ia pun menanti sentuhan pertama sang lelaki atas area vaginal miliknya.

“Ahhh… Duuull…” rintih Suzie, merasakan ujung jemari Trias menyentuh pelan biji klitorisnya.

Rintihan itu disambut dengan kecupan lembut Trias di bibir vagina Suzie. Lalu dilanjutkan dengan sentuhan dan jilatan lidah. Kedua tangan Trias mendorong paha atas kekasihnya, hingga tungkai kaki Suzie pun mengangkang lebar.

Rangsangan di area vital itu membuat tubuh Suzie menggelinjang hebat. Baginya, ini bukanlah kali pertama, ada seorang pria yang mencumbui vaginanya. Namun, kenyataan bahwa saat ini area pangkal pahanya sedang dicumbui seorang lelaki yang sangat dicintainya, memberikan sensasi dan kebahagiaan tersendiri.

Kebahagiaan seperti inikah yang dirasakan setiap pasangan suami-istri ketika sedang bercinta? batin Suzie bertanya.

Suzie pun mengakui, rasa bahagia itu ternyata tak bisa didefinisikan dengan sekadar kata-kata.

Tanpa berhenti mencumbui bibir vagina, stimulasi lanjutan diberikan oleh Trias, ketika jari tengah tangan kanannya melesak ke dalam rongga vaginanya. Lebih lanjut, lelaki ‘pemula’ dalam urusan seks itu ternyata cukup mahir melakukan foreplay. Bayangkan, tak kurang dari sepuluh detik menggerayangi dinding vagina Suzie, jari tengahnya itu telah sukses menemukan area G-spot!

Suzie pun menjerit cukup nyaring, merasakan betapa nikmatnya menerima rangsangan secara bersamaan pada dua titik sensitif. Ia tak mau memikirkan, dari mana Trias tahu dan belajar soal area G-spot. Suzie hanya menginginkan kepuasan, yang seperti diucapkan Trias beberapa menit lalu, bisa diperoleh tanpa bersenggama itu.

Geliat tubuhnya makin liar, seiring makin intensnya ujung jari tengah Trias menggelitiki titik rangsang paling sensitif di dinding kemaluannya. Suzie makin lupa diri, terbuai dengan tiap sentuhan sang lelaki. Sentuhan yang lembut, namun terasa begitu tajam membangkitkan rasa nikmat di sekujur tubuhnya.

Di sisi lain, Trias pun menjadi sangat terangsang saat melihat reaksi gerakan tubuh Suzie. Betapa hebatnya rangsangan visual yang ditangkap matanya, hingga ereksi penisnya makin memuncak meski Suzie sama sekali belum menyentuhnya.

Imbas dari hal tersebut, adalah semangatnya yang makin menggebu untuk memberikan sebentuk kenikmatan bagi Suzie. Memuaskan Suzie. Bahkan, jika mampu, ia ingin menghadirkan sensasi orgasme untuk Suzie.

Trias pun fokus merangsang klitoris Suzie dengan lidah dan bibirnya. Paduan antara jilatan, kecupan, sedotan bahkan gigitan halus, dilakukan organ oral Trias. Tonjolan di ujung atas bibir vagina itu terasa makin mengembang, pertanda pemiliknya sudah sangat terangsang.

Suzie tak henti merintih dan mendesah binal. Perlakuan Trias terhadap area kemaluannya benar-benar membuatnya mabuk kepayang. Perlahan, orgasme pun menjelang. Diiringi tubuh yang menghentak-hentak liar, dan jeritan tertahan, Suzie pun meraih puncak kenikmatannya. Ejakulasi pertama yang diberikan Trias kepada dirinya.

Selanjutnya, yang tersisa adalah tubuh yang lemas. Serasa seluruh tulangnya dilolosi. Suzie hanya bisa tergolek, sembari menatap Trias nanar.

Namun, ia mendadak menatap sang lelaki dengan sorot tajam, ketika Trias mulai menanggalkan celana dalamnya. Suzie pun dapat melihat batang kemaluan calon suaminya itu dengan jelas. Penis itu sudah sedemikian tegang. Mengacung tegak, seolah minta dipuaskan.

Yang ada di pikiran Suzie, adalah memberikan rangsangan terhadap penis Trias, dengan kuluman rongga mulutnya. Karena, ya, memang itulah hal paling realistis yang dapat ia berikan untuk Trias di malam ini. Dan Suzie pun sedikit bangkit untuk menyongsong sodoran batang penis Trias.

Nyatanya, yang kemudian dilakukan Trias adalah sesuatu yang di luar dugaan Suzie. Lelaki itu malah mendorong pelan tubuh Suzie hingga kembali telentang. Lalu, Trias kembali mengangkangkan dua tungkai kaki Suzie, dan area pangkal paha itu pun kembali terbuka lebar.

Dan saat Suzie belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, kepala penis Trias sudah menyentuh klitorisnya.

“Dul…!” serunya. “Kamu mau apa?”

Trias tidak menjawab. Ia malah mendorong pelan pinggulnya, hingga batang kemaluannya mulai melesak mili demi mili ke dalam rongga vagina Suzie.

Suzie panik. Meski sempat menginginkan persetubuhan dengan Trias, namun mengingat ucapan sang lelaki perihal amanat bundanya, membuat Suzie berbalik menolak. Ia memang penasaran ingin merasakan sensasi bercinta dengan Trias, tapi tidak malam ini.

Ia pun bertindak cepat, dengan tiba-tiba mendorong kuat-kuat dada Trias, hingga tubuh lelaki itu agak mundur. Dan hal itu dimanfaatkan Suzie dengan menggulingkan tubuh ke samping kiri. Membebaskan diri dari kungkungan sang kekasih. Praktis, penis Trias pun kembali berjarak dengan area pangkal pahanya.

“Ingat ucapan Mamah, Dul…” ucap Suzie lirih, yang kini telah duduk di tepi ranjang. “Kamu nggak akan ML sebelum menikah, ‘kan?”

Trias menatap Suzie dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

“Kamu sayang Mamah, ‘kan?” ujar Suzie lagi. “Jangan membantah ucapan beliau, ya.”

Suzie pun bangkit, dan memunguti pakaiannya yang terserak. Lalu melangkah memasuki kamar mandi. Meninggalkan Trias yang tercenung.

***

Sepuluh menit kemudian, Suzie keluar dari kamar mandi. Trias sudah berpakaian lengkap, duduk di atas karpet. Mendapati Suzie sudah selesai membersihkan tubuh, lelaki itu bangkit. Lalu menghampiri kekasihnya, dan memeluk erat tubuh sintal wanita itu.

“Terima kasih, Zie…” gumamnya pelan.

“Terima kasih?” tanya Suzie. “Untuk apa?”

“Kamu mengingatkan aku tentang amanat Mamah,” jawab Trias. “Tentang ucapannya agar aku bisa menjaga keperjakaan sampai menikah.”

“Bukan aku yang mengingatkan, Dul,” Suzie tersenyum. “Rasa sayangmu sama Mamah, yang bikin kamu ingat amanat itu.”

Diam-diam, Trias membenarkan ucapan Suzie.

Suzie mengajak Trias untuk duduk di tepi ranjang. Lelaki itu menurut. Mereka pun duduk berdampingan.

“Aku minta maaf,” ucap Trias penuh penyesalan. “Aku hampir gagal membendung nafsu birahi.”

Suzie tersenyum. “Aku yang salah, Dul. Aku nggak berusaha mencegah. Aku malah terus memancing birahi kamu.”

“Dan aku membiarkan birahiku terpancing, tanpa berusaha mencegah,” balas Trias. “Karena… karena aku juga menginginkan itu, Zie.”

Lama keduanya saling diam. Disadari atau tidak, kekhilafan yang nyaris mereka lakukan telah membuat mereka shock. Terkejut, betapa nafsu birahi dapat membuat siapa pun melupakan kejernihan pikiran. Ya, dorongan seksual memang penuh resiko. Namun, itulah sifat asasi manusia.

“Kita harus menghindari kejadian tadi, supaya nggak berulang,” ucap Suzie. “Karena kita udah sama-sama berjanji pada diri sendiri, untuk nggak ML sampai menikah.”

Trias mengangguk.

“Tinggal dua bulan lagi kita menikah,” sambung Suzie. “Kita harus bisa jaga diri. Jaga emosi. Jaga nafsu birahi.”

Kembali, Trias mengangguk.

“Daripada memikirkan niat mengumbar birahi,” lanjut Suzie. “Mendingan kita bekerjasama memikirkan konsep pernikahan kita.”

“Mendingan kita bekerjasama memikirkan bekal apa yang harus kubawa ke Kediri,” seloroh Trias.

“Itu urusan kamu,” bantah Suzie. “Aku cuma memikirkan, apa yang harus kamu bawa sebagai oleh-oleh dari Kediri.”

Trias manyun.

“Kamu cukup bawa aku di hati kamu, Dul,” ucap Suzie. “Itu udah cukup sebagai bekal perjalanan ke Kediri.”

Trias menggeleng. “Sekadar bawa kamu di hatiku, sama sekali nggak bisa menolong aku kalau ban sepedaku bocor, Ceu!”

Giliran Suzie yang manyun.

Bersambung