Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 43

I Do Hate You!

Ini bukan kali pertama bagi Trias, melakukan biketouring ke Jogja. Namun, kali ini Trias melakukannya sendirian. Solo touring. Nyaris tanpa persiapan yang cukup. Hanya bermodalkan kenekatan.

Idealnya, seperti yang selama ini dilakukan Trias, ia mempersiapkan segala hal selama sepekan sebelum keberangkatan. Mulai dari servis dan setting sepeda, packing pakaian, hingga berbelanja keperluan logistik, baik baginya maupun sepeda. Semua dipikirkan, semua nyaris tak ada yang terlupakan.

Kali ini, Trias melakukan persiapan touring selama tiga jam saja. Rencana yang mendadak, seiring suasana hati yang tak menentu, membuat Trias tanpa pertimbangan yang matang, memutuskan untuk mengawali perjalanannya sesegera mungkin.

Alhasil, beberapa kebutuhan terlupakan. Beruntung, kekerabatan antargoweser sangat kental, hingga kekurangan tersebut dapat teratasi berkat bantuan saudara sesama pesepeda.

“Mas Trias ini memang juara, kayak kota asalnya,” seloroh Santho, anggota klub sepeda Jogja yang akan menampung Trias selama berada di kota Gudeg itu, sesaat setelah berjumpa di depan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. “Touring sendirian ke sini, mendadak pula.”

Trias hanya tertawa.

“Jangan bilang Mas Trias lagi patah hati,” canda Santho. “Terus nekat ke sini sendirian.”

Trias tertawa lagi. “Kebetulan jatah cuti tahun ini belum diambil. Aku ambil aja buat touring ke Jogja. Nah, berhubung udah ngebet banget, dan kebetulan nggak ada yang bisa berangkat karena ini hari kerja, yo wis, aku berangkat sendiri aja.”

“Nah, kalau buat jambore ke Kediri bulan depan,” cetus Santho. “Ambil jatah cuti tahun kapan?”

“Terpaksa bolos,” Trias nyengir. “Atau bikin surat sakit palsu, deh!”

Santho tergelak. “Benar-benar juara.”

Dan ya, meski ditampung di kediaman Santho, Trias lebih banyak beraktifitas sendiri. Lagi-lagi, karena Santho harus bekerja. Namun, ia lebih menyukai bersepeda sendirian berkeliling Jogja. Karena hal itulah tujuan utama keberangkatan dirinya ke kota tersebut.

Saat ini, Trias berada di sebuah warung angkringan di bilangan Taman Siswa. Menikmati segelas susu jahe dan roti bakar keju. Sendirian saja. Berbeda dengan pengunjung lain yang berduaan, atau ramai-ramai bersama teman se-geng-nya.

Trias memang tidak mengatakan tujuan gowesnya malam ini kepada Santho. Saudara se-gowes itu ngotot ingin menemani, namun Trias tak kalah ngototnya menolak dan bersikukuh ingin pergi sendiri.

“Yo wis, silahkan,” Santho menyerah. “Kalau ada apa-apa, SMS aku, Mas.”

“Siap,” Trias mengacungkan kedua ibu jari tangannya.

Ditemani segelas susu jahe dan roti bakar keju, pikirannya kembali melayang pada peristiwa pertemuannya yang tak disengaja dengan seorang lelaki paruh baya bernama Majid Abdullah. Sosok yang berprofesi sebagai hakim itu mengingatkannya pada almarhum Bapak, beserta segala kekecewaan dan kemarahannya.

Trias sama sekali tak pernah membenci hakim tersebut. Ia beranggapan, vonis yang dijatuhkan hakim Majid Abdullah adalah wajar. Bapak adalah seorang koruptor, dan hukuman penjara adalah kepantasan. Tak ada keraguan.

Ia ingat, di hari penjatuhan vonis itu, ketika Ibu dan Mendy, adiknya, menangisi nasib Bapak, Trias justru tersenyum. Ia ingat, para kerabatnya mencibir sikap Trias, lalu mengucilkannya hingga kini. Dan ia ingat benar, kala itu, hanya Jan yang berdiri membelanya.

Trias tak pernah mengira, guratan nasib akan mengajaknya kembali menjumpai hakim Majid Abdullah. Meski beliau berada di pihak yang benar, Trias tak bisa mungkir jika nama Majid Abdullah akan selalu mengingatkannya pada peristiwa yang mengakibatkan kehancuran keluarganya itu.

Yang membuatnya miris, kenangan pahit itu dibawa oleh Suzie, sosok wanita cantik yang sukses membuatnya kembali merasakan manisnya cinta, dalam bayang-bayang masa lalu hidupnya yang kelabu. Oleh Suzie, yang ternyata adalah keponakan sang hakim.

Ingat kamu, Zie, batin Trias. Bikin aku ingat Bapak. Bikin aku marah sama kebodohan Bapak.

Berdekatan dengan Suzie, berarti berdekatan pula dengan memori masa lalu hidupnya yang suram. Trias sekuat tenaga menolak kenyataan tersebut. Namun, ia tahu, itu tak mungkin. Alhasil, Trias memilih untuk melarikan diri, menjauh dari Suzie.

Lima hari sudah, ia melarikan diri dari Suzie. Berhasilkah Trias? Tidak. Kenangan buruk itu tetap membayang. Dan rasa rindunya akan sosok Suzie makin mengental.

***

Kamar kost Suzie, ratusan kilometer dari Jogja,

“Makan dulu, Say,” bujuk Anna, sambil menyodorkan kotak gabus berisi makanan Jepang ke hadapan Suzie.

Suzie menggeleng pelan. “Aku nggak lapar, Anna.”

“Terakhir kali kamu makan, itu kemarin sore,” ujar Anna. “Kamu bohong, kalau bilang nggak lapar.”

Suzie tak menanggapi.

“Please, Suzie,” mohon Anna. “Jangan menyiksa diri seperti ini.”

“Adik iparmu yang menyiksa aku,” Suzie menatap Anna tajam. “Kalau dia ada di sini, aku nggak mungkin seperti ini!”

“Aku minta maaf,” gumam Anna, penuh penyesalan. “Tapi, ini di luar kapasitas aku, Suzie. Aku nggak bisa merayu Trias untuk pulang.”

“Aku butuh dia…” lirih Suzie, lalu mulai terisak.

Anna segera memeluk Suzie.

***

Kembali ke warung angkringan di Taman Siswa, Jogja,

Aku nggak pernah malu untuk mengakui, kalau Bapak seorang koruptor dan gantung diri di penjara, ujar Trias di dalam hati. Aku juga nggak malu, kalau saat ini Ibu dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi berat.

Lalu, kenapa Trias tak pernah menceritakan soal kisah buruk dalam hidupnya kepada siapa pun, bahkan Suzie yang sangat dekat dengannya?

Semua dilakukannya karena Trias terlalu jengah untuk mengingatnya. Hatinya perih setiap kali memori itu kembali terlintas di benaknya. Akhirnya, Trias memilih untuk menguburnya dalam-dalam.

Trias memandang berkeliling, memerhatikan situasi yang sedang berlangsung di sekitarnya. Sekelompok wanita manis yang tertawa-tawa kecil. Sepasang kekasih yang mengobrol nyaris tanpa suara. Sekumpulan remaja lelaki yang saling ejek ditimpali gelak tawa. Hingga dua orang pengamen yang menyambangi tiap kelompok di angkringan.

Pandangan Trias berakhir pada sesosok wanita yang duduk sendiri, hanya tiga meter dari posisinya. Di atas meja lesehan di hadapannya, tersaji segelas teh susu dan sebuah gelas kosong yang isinya mungkin telah tandas diminumnya. Trias bisa menduga, wanita itu telah cukup lama berada di angkringan ini.

“Benar tho Mas, pacarku belum muncul ke sini?” tanya wanita itu pada pemilik angkringan.

“Iya, Mbak,” jawab pemilik angkringan. “Buat apa aku bohong, tho?”

Trias dapat menebak, pemilik angkringan sudah kenal akrab, baik kepada wanita itu, juga sang pacar yang entah siapa.

“Suwe tenan!” rutuk wanita itu kesal. “Jam berapa saiki?”

Pemilik angkringan melirik jam di gerobaknya. “Setengah sepuluh.”

“Janjinya mau datang jam delapan.”

“Ndak coba ditelepon, Mbak?”

“Ora aktif!”

Trias tersenyum di dalam hati. Empat hari belakangan, ponselnya mati. Tepatnya, sengaja dimatikan. Bahkan, untuk sekadar mengabari Santho perihal kedatangannya ke Jogja, Trias sampai harus mencari warnet, dan membuka akun aplikasi Whatsapp-nya di layar PC.

Kira-kira, berapa puluh SMS dan pesan WA yang masuk pas ponselku aktif, ya? gumamnya di dalam hati. Pasti bejibun, apalagi dari Suzie.

Suzie… mungkin keadaan wanita bertubuh sintal tersebut serupa dengan wanita yang posisi duduknya berada tiga meter darinya itu. Bingung, kesal, marah, sekaligus tak ingin kehilangan harapan. Campur aduk, namun satu perasaan yang pasti: tersiksa.

Duh… maafin aku, Zie…

Trias kembali memandang berkeliling. Dan menemukan sebuah outlet seluler kecil sekira lima puluh meter dari posisinya duduk.

***

Dan, kembali lagi ke kamar kost Suzie,

Anna melepaskan pelukannya di tubuh Suzie, saat mendengar dering ponsel.

“Punya kamu, Say?”

Suzie mengangguk, dan dengan sangat ogah-ogahan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas karpet.

Kamu mesti lihat Suzie sekarang, Dul! rutuk Anna di dalam hati. Dan kamu akan menyesal, udah menghilang tanpa kabar.

Sebuah SMS dari nomor tak dikenal,

Sent to: +6289845678XXX
Aku minta maaf. Aku pasti pulang. Aku sayang kamu.

“Tapi kapan, Dul…?” gumam Suzie putus asa, sambil meletakkan ponselnya sembarangan.

Anna menatap Suzie. Lalu mengambil ponsel sahabatnya itu. Dibacanya SMS yang baru diterima Suzie, lalu sejurus kemudian ia tersenyum.

“Kenapa nggak ditelepon?” usulnya.

Suzie menoleh dan menatap ke arah Anna dengan mata berbinar, lalu serta merta merebut ponselnya yang digenggam mantan tetangga kost-nya itu. “Ide bagus.”

Lima detik kemudian, tatapan mata Suzie kembali meredup. Tanpa menunggu penjelasan, Anna sudah tahu apa yang terjadi.

“Nggak aktif…” sesal Suzie.

Tuh, ‘kan? batin Anna.

“Trias kejam,” lirih Suzie.

***

Well I’m going home.
Back to the place where I belong.
And where your love has always been enough for me.
I’m not running from.

(Chris Daughtry – Home)​

Petang menjelang malam, keesokan harinya,

Suzie mendengar siulan seseorang, yang makin lama terdengar makin dekat.

Siapa, sih?! rutuknya di dalam hati. Berisik. Mending kalau bagus!

Sejurus kemudian, Suzie mengetahui sosok yang siulannya dirasa mengganggu itu. Dari gordin yang tersibak, ia melihat seorang pria menuntun sepeda, alih-alih memanggulnya seperti biasanya. Dada Suzie sesak untuk sejenak, meski kemudian langsung lega.

Adul…

Suzie melangkah perlahan mendekati jendela. Diintipnya Trias sedang memarkirkan sepedanya tepat di depan kamarnya. Lalu mengaduk saku tas yang terpasang pada bagasi kiri belakang, dan tak lama memegang kunci di tangannya. Sejurus kemudian, pintu kamarnya terbuka.

Hal berikutnya yang dilakukan Trias adalah memasukkan keempat tas yang terpasang pada sepedanya ke dalam kamar, satu demi satu.

Tepat saat Trias menyimpan tas keempat, Suzie membuka pintu kamarnya. Lalu melangkah perlahan menuju kamar Trias. Sangat perlahan. Berjuta rasa yang hadir di hatinya, seolah membuat langkahnya menjadi berat dan tersaruk-saruk.

Trias selesai memasukkan seluruh tas ke dalam kamar, lalu bersiap menutup daun pintu.

“Dul…” ucap Suzie, menghampiri laki-laki manis itu.

Trias urung menutup pintu, dan sontak tersenyum mendapati Suzie menghampirinya. “Zie? Kukira kamu nggak ada. Pintu kamarmu tertutup. Makanya aku…”

Plakk! Lengan kanan Suzie mendarat di pipi kiri Trias. Telak.

“Hey!” seru Trias, antara kaget bercampur heran. “Kenapa kamu…”

Plakk! Sekali lagi, lengan kanan Suzie menampar pipi Trias.

“Suzie!” Trias menangkap kedua pergelangan tangan Suzie. “Aku minta…”

“Kamu… manusia paling jahat yang pernah kukenal,” desis Suzie, dengan mata menyipit tajam. “I hate you. I DO HATE YOU!”

“Suzie! Please!” Trias menarik tubuh Suzie, dan membenamkannya ke dalam pelukannya.

“Aku benci kamu…” lirih Suzie saat tubuhnya meluruh, lemah di dalam pelukan Trias. Hingga Trias pun terpaksa membopongnya ke kamar wanita bertubuh sintal itu.

***

Penuturan secara terbuka pun dilontarkan Trias. Kini Suzie tahu, apa yang menyebabkan laki-laki di hadapannya ini mendadak menghilang. Dan setelah Trias merampungkan ceritanya,

“Kamu bisa cerita semuanya sama aku, Dul…” lirih Suzie. “Jangan sembunyi kayak kemarin. Aku nggak suka, kamu pergi begitu aja. Aku takut…”

“Takut…?” gumam Trias.

“Takut kamu nggak balik lagi,” jawab Suzie. “Takut kehilangan kamu…”

Trias membaringkan tubuhnya miring di sisi Suzie. Dipeluknya tubuh wanita itu erat-erat. Dibelainya rambut panjang Suzie dengan penuh perasaan.

“Aku minta maaf,” ucap Trias. “Aku terlalu pengecut menghadapi ini semua. Aku sulit menerima kenyataan, kalau hakim Majid Abdullah adalah kerabatmu. Beliau nggak bersalah. Tapi aku nggak bisa mungkir, kalau nama itu selalu bikin aku ingat dengan kemarahanku terhadap ayahku.”

“Aku mengerti,” tanggap Suzie. “Tapi, aku minta sama kamu. Ayo kita hadapi bayangan masa lalu itu bersama-sama.”

Trias tak menanggapi. Rasanya ia tidak tega jika mesti menyeret Suzie ke dalam trauma masa lalunya itu. Namun, ia pun tidak tega jika harus meninggalkan Suzie.

“Dul…” ucap Suzie lagi. “Kita hadapi sama-sama. Kamu harus berjanji.”

Trias menjawabnya dengan merengkuh pipi Suzie, dan menatap mata wanita itu lekat-lekat. Lalu, dikecupnya bibir Suzie hangat, dan dilepaskannya lagi.

“Aku berjanji,” ucapnya pelan.

Giliran Suzie yang berinisiatif melumat bibir Trias, tak kalah hangat dan mesra.

“Suzie Sayang…!” teriak seseorang dengan suara wanita bernada riang. “Kamu udah makan… oops, sorry…”

Trias dan Suzie melepaskan pagutan bibir mereka, lalu kompak menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Anna berdiri terpaku di ambang pintu. Trias buru-buru melepaskan tubuh Suzie dari pelukannya, lalu duduk dengan sikap canggung di tepi ranjang.

“Téh,” sapanya kikuk.

“Hmm… aku nggak ganggu foreplay kalian, ‘kan?” tanya Anna, masih mematung di ambang pintu.

“Ini nggak seperti yang kamu lihat, Anna,” ujar Suzie, sambil juga duduk di sisi Trias. “Aku cuma kaget gara-gara Adul tiba-tiba pulang.”

“Saking kagetnya, kamu sampai peluk dan cium Trias tanpa sadar, gitu?” goda Anna, lalu melangkah masuk dan memeluk Suzie hangat.

Suzie cemberut.

Tak lama, Jan muncul dengan tergesa. Namun, demi dilihatnya Trias berada di kamar itu, tak urung Jan tersenyum senang.

“Kamu pulang juga, Dul,” komentarnya, seraya menyalami Trias hangat. “Udah kenyang berhari-hari bikin Suzie nangis darah tiap jam?”

“Aa!” bentak Anna pelan.

“Yang penting Adul udah pulang, Jan,” Suzie tersenyum. “Aku nggak akan ingat-ingat soal tangisan kemarin lagi.”

“Kamu menangis gara-gara kutinggal?” Trias menatap Suzie lekat-lekat.

“Aku menangis gara-gara kamu pergi tanpa bilang apa-apa,” jawab Suzie. “Aku nggak akan menangis cuma gara-gara kamu tinggalkan. Tokh, kelak tiap hari kamu bakal tinggalkan aku untuk kerja, ‘kan?”

“Oh, udah makin menjurus, sepertinya,” cetus Anna. “Kapan tanggal resmi pernikahannya?”

Trias dan Suzie tersipu.

Selanjutnya, obrolan keempat orang tersebut berkembang menjadi penuh canda. Jan yang jadi pemicunya. Selalu ada saja bahan banyolannya yang mengundang tawa. Sementara, objek penderita banyolan-banyolan tersebut, siapa lagi kalau bukan Trias, sang adik sepupu.

Sementara, bagi Trias dan Suzie, obrolan ringan tersebut adalah ajang untuk menggantikan enam hari yang hilang dalam kisah asmara mereka. Ya, hanya enam hari mereka tak berjumpa, entah berapa banyak kisah yang hilang dalam enam hari tersebut.

Namun, tak ada yang peduli. Karena mereka telah kembali bersama.

Bersambung