Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 43

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 43 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 42

“Investigasi” Jan

“Udah dua hari Trias nggak ada kabar, Aa,” ucap Anna, di sela makan siangnya bersama sang suami dengan menu karédok leunca itu. “Suzie nekat mencari ke tempat kerjanya, ternyata Trias udah dua hari bolos. Ke mana anak itu, ya?”

Jan mengangkat bahu. “Jujur, aku mah udah biasa melihat si Adul menghilang.”

“Tapi, Suzie nggak begitu,” sanggah Anna. “Dia benar-benar merasa kehilangan, Aa!”

“Iya, aku mengerti,” Jan mengangguk sekilas. “Bagaimana awalnya, sampai tiba-tiba si Adul pergi dan menghilang?”

Anna pun mengalihceritakan apa yang terjadi pada hari Minggu, dua hari yang lalu, sesuai yang diceritakan oleh Suzie. Sedapat mungkin tanpa dikurangi atau dibumbui.

“Sebentar,” sela Jan. “Sebelum si Adul tiba-tiba pergi, mereka datang ke rumah Uwak… siapa tadi?”

“Uwak Majid,” jawab Anna. “Kamu mengira Trias pundung gara-gara dimarahi Uwak Majid, begitu? Beliau nggak galak, kok! Aku pernah sekali bertemu beliau.”

Jan menggeleng. Lalu beralih menghadapi layar komputer di meja kerjanya. Membuka Chrome, dan mengetikkan alamat situs sebuah surat kabar dengan tiras terbesar di Jawa Barat.

“Kok malah buka web?” protes Anna, saat menyadari bahwa sang suami malah asyik di depan layar komputer. “Kita lagi makan, Sayang…”

“Sebentar, Nduk,” Jan mengangkat tangan kirinya sejajar dengan wajah Anna. Tangan kanannya tetap memegangi mouse. “Perhatikan aja. Sepertinya aku tahu, penyebab si Adul tiba-tiba bersikap aneh.”

Anna menarik piring berisi makan siangnya. Lalu kembali menyantapnya, dengan tatapan mata tidak lepas dari layar komputer. Memerhatikan pointer yang bergerak-gerak membuka laman demi laman, mencari sesuatu yang menurut Jan dapat menjadi penyebab menghilangnya Trias.

“Sayang,” gumam Anna. “Sini. A’ dulu…”

Jan membuka mulutnya, disusul Anna memasukkan sendok berisi nasi ke dalam mulut yang terbuka itu. Jan pun mengunyahnya.

“Kok jadi disuapi, sih?” protes Jan.

“Lha itu, kamu…” lawan Anna. “Kok mau aku suapi?”

“Kamu suruh aku buka mulut,” alasan Jan. “Ya aku menurut.”

Anna tertawa geli.

Setelah beberapa menit,

“Nah…” gumam Jan. Pointer di layar komputer bergerak memutari sebuah nama. “Ini nama lengkap Uwak Majid, bukan?”

“Majid Abdullah,” baca Anna. “Kalau nggak salah, sih…”

“Beliau hakim?” tanya Jan.

“Iya,” jawab Anna pendek.

Semuanya menjadi lebih terang bagi Jan. Ia kembali membuka beberapa laman. Dan tak lama, kelopak matanya menyipit.

“Coba lihat gambar ini,” ucapnya, sambil memperlihatkan foto seseorang yang mengenakan rompi oranye, melambaikan tangan, dengan seorang polisi berdiri di sebelahnya, juga beberapa orang lagi di sekitarnya.

“Lho, kalau nggak salah, ini ‘kan Deden Herman,” ujar Anna. “Yang dipenjara akibat korupsi, lalu beberapa bulan kemudian ditemukan gantung diri di sel penjara Sukamiskin, ‘kan?”

Jan mengangguk. “Mirip siapa?”

Anna mengamati sejenak foto itu. Keningnya berkerut. “Mirip siapa, ya?”

Jan menatap Anna lekat-lekat. Seulas senyum tersungging di wajahnya.

“Hmm… aku tahu,” cetus Anna, akhirnya. “Mirip Papap.”

Papap adalah sebutan bagi mertua Anna, alias ayahanda Jan.

“Bedanya, kulitnya agak coklat, dan badannya gemuk,” lanjut Anna. “Kalau Papap ‘kan kulitnya putih dan badannya langsing.”

“Itu memang adik Papap,” beritahu Jan. “Ayahnya si Adul.”

Anna sontak menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

Tak lama, Jan menunjukkan sebuah berita.

“Coba baca,” mintanya pada Anna, sambil menggerakkan pointer memutari sebuah paragraf.

Anna membaca paragraf tersebut, dan ia menemukan dua nama tertera di sana: Majid Abdullah dan Deden Herman. “Aku mengerti. Yang satu adalah hakim yang menjatuhkan putusan, satu lagi terdakwanya.”

“Bisa mengerti juga, kenapa si Adul menghilang?” Jan tersenyum.

“Iya,” Anna mengangguk. “Tapi kamu tahu, Trias di mana?”

“Sepertinya aku tahu,” jawab Jan, optimistis. “Nanti kita ke sana.”

“Kenapa harus nanti, bukan sekarang?” tanya Anna.

“Karédok leunca itu,” mata Jan melirik makanan yang ia sebut dengan khidmat itu. “Menggoda sekali, Nduk!”

Anna tergelak.

***

Kini, Jan dan Anna sudah berada di dalam kabin mobil. Lelaki itu mengendalikan kendaraannya dengan tempo agak lambat. Mengikuti arus lalu lintas yang pada jam makan siang memang hampir selalu padat dan tersendat itu.

“Kalau boleh kubilang sebagai aib, Mang Deden memang aib keluarga,” cerita Jan. “Satu-satunya, dari lima anak Babéh, yang mahiwal, nyeleneh, masuk ke dunia politik.”

“Babéh itu panggilan buat kakekmu, ya?” sela Anna.

“Iya,” jawab Jan. “Sayang, ya, kamu nggak sempat mengenal beliau. Babéh itu baik sekali sama semua cucunya, juga pacar dan suami atau istri cucu-cucunya itu.”

Anna tersenyum.

“Balik lagi ke cerita tentang Mang Deden,” gumam Jan. “Selain satu-satunya yang masuk dunia politik, beliau paling kaya. Meskipun akhirnya kita semua tahu, hartanya didapat dari mana.”

Anna manggut-manggut.

“Jauh sebelum Mang Deden diperiksa KPK dan ditetapkan sebagai tersangka, Trias udah tahu dan nggak setuju ayahnya korupsi,” lanjut cerita Jan. “Dia udah mengingatkan, tapi ayahnya nggak mau mendengar. Akhirnya, Trias memutuskan keluar dari rumah. Barang yang dia bawa cuma sepeda dan seransel baju.”

“Sepeda yang saat ini dia pakai itu?” sela Anna.

“Iya,” jawab Jan. “Trias marah, dan bersumpah nggak mau menikmati uang hasil korupsi. Apapun bentuknya. Nah… sepeda, tas ransel dan baju yang dia bawa sewaktu kabur dari rumah, memang dia beli sendiri dari hasil kerjanya.”

Anna mengangguk.

“Mang Deden akhirnya disidang, dipidana penjara 12 tahun,” sambung Jan. “Hakim Ketua yang kasih putusan hukuman, adalah Uwak Majid, alias Hakim Majid Abdullah. Mungkin, pertemuan kemarin bikin rasa marah Trias terpicu lagi.”

“Tapi, ‘kan Uwak Majid nggak salah apa-apa,” ujar Anna. “Kenapa Trias mesti marah?”

“Trias nggak pernah membenci hakim dan perangkat peradilan lainnya,” jelas Jan. “Dia sadar, ayahnya memang bersalah. Dia tahu, hukum harus ditegakkan. So, satu-satunya orang yang dibenci, adalah ayahnya.”

“Mang Deden pun mulai menjalani hukuman,” Jan bercerita lagi. “Belum setengah tahun dipenjara, Mang Deden gantung diri di sel. Mungkin depresi.”

“Reaksi Trias gimana?” tanya Anna.

“Trias marah karena ayahnya jadi aib keluarga,” jawab Jan. “Marah karena ayahnya jadi koruptor. Dan makin marah ketika ayahnya bunuh diri. Aku ingat, saat itu dia bilang, ‘Nggak ada lagi aib terbesar manusia, selain bunuh diri’.”

Jan membelokkan mobil memasuki area parkir Rumah Sakit Jiwa.

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Anna heran.

“Mungkin, si Adul ada di sini,” jawab Jan.

“Kok bisa?” tanya Anna lagi.

Jan tidak menjawab.

***

Trias terpaku menatap seorang wanita berambut sebahu yang duduk di atas kursi malas, di balik pagar kawat nyamuk, sekitar sepuluh meter dari posisinya berdiri saat ini.

“Kenapa nggak didatangi?” sapa seorang pria.

Trias tercekat, dan menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Jan dan Anna berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan lembut dan begitu tulus.

“Tahu dari mana, aku di sini?” ujar Trias.

“Setelah dengar cerita Suzie, tentang perubahan sikapmu setelah bertemu Hakim Majid,” jawab Jan. “Di mana lagi kami bisa menemui kamu, selain di sini, Dul?”

Trias tersenyum pahit. “Pelarianku terlalu sederhana.”

“Ralat,” potong Jan. “Kami yang terlalu cerdas menyimpulkan berbagai fakta yang ada.”

“Yang mana ibumu?” tanya Anna, hati-hati.

Trias menunjuk pada seorang wanita yang duduk di sebuah kursi malas itu.

“Ah, ya…” gumam Anna. “Aku seperti melihat kamu di wajahnya.”

Trias tersenyum.

“Kenapa kamu nggak datangi beliau?” tanya Anna. “Kelihatannya, beliau cukup, mmh… apa, ya?”

“Jinak, maksud Tétéh?” tebak Trias.

Anna tersipu.

“Ibuku memang selalu tenang,” sambung Trias. “Tapi, kalau aku datang, Mamah selalu menangis. Aku nggak tega. Makanya, aku melihat dari sini aja. Mamah pasti tahu, kalau aku nggak pernah jauh darinya.”

Hati Anna terenyuh.

“Suzie cari-cari kamu,” cetus Jan. “Dia kebingungan dengan sikap kamu.”

Trias tercekat. “Bagaimana keadaan Suzie sekarang?”

“Cepat pulang, Dul…” minta Jan, tak menanggapi pertanyaan Trias. “Jelaskan semua sama Suzie.”

“Tapi, Kang…” bantah Trias. “Aku butuh waktu.”

“Untuk apa?” tanya Jan. “Suzie sama sekali nggak bersalah. Kamu nggak berhak marah dan bersikap sekasar ini sama dia.”

“Aku nggak marah sama Suzie,” bantah Trias. “Aku marah sama keadaan, marah dengan semua yang terjadi di masa lalu. Marah terhadap Bapak.”

“Aku mengerti,” tanggap Jan. “Tapi kenapa Suzie yang jadi korban?”

Trias menggeleng pelan. “Aku masih sulit menerima kalau Hakim Majid adalah kerabat Suzie. Aku belum siap, menerima kenyataan kalau aku akan sering bertemu beliau saat udah jadi suami Suzie, kelak.”

“Kenapa?” tanya Jan lagi.

“Karena itu berarti, aku akan selalu teringat dengan kemarahanku terhadap Bapak,” lirih Trias.

“Tapi, kamu harus hadapi,” tegas Jan. “Itu resiko.”

Trias menggeleng lagi.

“Kamu sayang Suzie, ‘kan?” cetus Jan, sambil tersenyum penuh makna.

Trias terdiam.

***

Keesokan paginya,

“Apa ini?” gumam Jan, seraya memungut secarik kertas terlipat yang terselip pada celah antara kaca mobil dan wiper.

“Apa, Sayang?” Anna memerhatikan perbuatan suaminya.

Jan membuka lipatan kertas itu. Lalu, tak lama kemudian, ia menghela napas.

“Kenapa, Aa?” tegur Anna.

Jan menjawabnya dengan cara memberikan kertas itu pada sang istri. Anna melihat, dan membacanya.

“Haduh…” keluhnya, sedetik kemudian.

AKU GOWES KE JOGJA.
JANGAN BILANG SUZIE.
BILANG SAMA DIA, AKU BAIK2 AJA.
BILANG JUGA, AKU SAYANG DIA.

Nyatanya Trias butuh waktu lebih lama untuk memutuskan kembali hadir di hadapan Suzie.

“Kalau tahu bakalan jadi seperti ini,” ujar Anna. “Mestinya kemarin kita jemput Suzie, sebelum berangkat ke Rumah Sakit Jiwa.”

Jan hanya tersenyum pahit.

***

Jan merasa perlu mengutus Anna untuk menemui Suzie. Jika ada hal buruk menimpa Suzie yang sedang kebingungan, Jan turut bertanggungjawab. Karena kebingungan Suzie diakibatkan oleh sikap ambigu Trias. Sementara Trias adalah adik sepupunya. Tanggung jawabnya.

Alasan itu pula yang diutarakan pada Anna, ketika sang istri, yang sedikit tersentuh rasa cemburunya, mempertanyakan sikap perhatian Jan terhadap Suzie.

Dan siang ini, di kamar kost Suzie-lah Anna berada. Menjadi pihak yang tak bersalah, namun merasa dipersalahkan.

Trias sialan! rutuknya di dalam hati. Seenaknya bawa-bawa orang lain ke dalam masalah pribadimu.

“Adul di mana, sih…” lirih Suzie. “Tega tinggalkan aku seperti ini. Salahku apa?”

“Trias baik-baik aja, Suzie,” tenang Anna. “Dan kamu nggak salah apa-apa.”

“Dia di mana?” tanya Suzie.

“Aku nggak tahu,” jawab Anna.

“Nggak mungkin kamu bilang Adul baik-baik aja, kalau nggak tahu posisi dia di mana!” omel Suzie, seraya mulai terisak. “Kalau semua orang di dunia berkonspirasi sama aku, nggak masalah. Tapi, kenapa kamu dan Jan ikut-ikutan?!”

Anna sungguh terenyuh. Ia ingat, betapa sahabat di hadapannya ini telah menyelamatkan kehormatannya. Betapa Suzie menjadi orang terdekat yang menjaganya. Dan betapa Suzie telah berjasa mendekatkan kembali dirinya dan Jan, hingga akhirnya menikah.

Anna ingin membantu Suzie. Tapi, pesan Jan melarangnya. Suzie memang sahabatnya, namun Jan adalah suaminya. Sebagai istri, ia tentu harus menuruti perintah Jan. Jan adalah prioritas tertinggi, jauh di atas Suzie.

Anna merangkul pundak Suzie lembut.

“Trias lagi terguncang,” bisiknya. “Dan dia butuh waktu untuk menyendiri. Aku harap kamu bisa mengerti, Suzie.”

“Dia nggak percaya aku?” balas Suzie. “Aku bisa jadi orang yang meredakan guncangan itu, ‘kan?”

“Khusus yang ini, rasanya nggak bisa,” jawab Anna

“Kenapa?” desak Suzie lagi.

“Ini semua tentang sesuatu yang udah bikin kehidupan Trias jauh berubah,” jelas Anna. “Kapasitas kita ada di luar area itu. Aku harap kamu bisa mengerti.”

“Dia memang nggak percaya sama aku…” ratap Suzie.

“Dia cuma butuh waktu, Say,” Anna tersenyum, berusaha menenangkan. “Aku yakin, dia pasti datang ke hadapanmu, dan cerita semuanya.”

“Tapi kapan, Anna?” keluh Suzie. “Berapa lama aku harus menunggu?”

“Segera,” ujar Anna. “Aku tahu persis, Trias sayang kamu. Dan dia pasti nggak tega bikin kamu sedih berlama-lama.”

***

“Selesai?” tanya Jan, begitu Anna muncul di ambang pintu ruang kerjanya.

Anna tak menjawab. Ia menghampiri suaminya, dan mengecup bibir Jan sekilas. ‘Ritual’ yang biasa terjadi setiap mereka berjumpa dan berpisah.

“Suzie bilang apa?” tanya Jan lagi.

“Kenapa bukan kamu sendiri yang ketemu Suzie, dan bilang semua tentang Trias, sih?” repet Anna. “Dia nggak percaya kalau aku nggak tahu keberadaan Trias. Jadi aku deh, yang kena omelan Suzie!”

Jan tertawa kecil. “Kamu yakin nggak akan berpikir macam-macam, kalau aku menemui Suzie tanpa kamu?”

Anna terdiam.

“Dan aku melihat,” sambung Jan. “Suzie lebih terbuka sama kamu, daripada aku. Makanya, aku minta kamu yang ke sana.”

Anna masih diam. Bibirnya mengerucut.

“Udah, jangan cemberut,” goda Jan. “Kalau kamu cemberut terus, aku seret ke bunker.”

Anna menatap Jan dengan sorot menantang. “Kamu mengancam?”

“Bukan mengancam,” ucap Jan. “Aku cuma mengingatkan.”

“Sama aja!” hardik Anna. “Ya udah, aku mau cemberut terus.”

“Lho, jangan, dong!” bujuk Jan.

“Katanya mau seret aku ke bunker!” omel Anna. “Gimana, sih?!”

Jan pun tersadar jika istrinya hanya berdalih. Ditatapnya mata Anna tajam.

“Bilang jujur kalau mau dientot,” bisiknya. “Jangan berbelit!”

“Kamu juga, bilang aja kalau minta jatah,” balas Anna. “Nggak usah mengancam!”

“Eh, malah melawan suami,” desis Jan. “Mulai berani ya, sekarang!”

“Aa!” bentak Anna. “Mau ML aja kok banyak ngomong, sih?”

Jan tertawa geli. Dan Anna pun tak urung ikut tertawa. Jan pun memboyong tubuh sintal Anna, dan setengah berlari menuju pintu bunker.

“Pelan-pelan aja jalannya, ih!” protes Anna. “Aku takut jatuh!”

“Kamu aman di pangkuanku,” gumam Jan lembut.

“Aa, iiihh…” rengek Anna.

Jan menurunkan Anna di atas lantai bunker yang empuk karena dilapisi karpet tebal itu.

“Nggak jatuh, ‘kan?” godanya.

Anna tersipu. “Iya.”

“Sekarang, Sayang?” bisik Jan, seraya memepet tubuh Anna hingga terdesak di salah satu sisi dinding.

Anna menahan tubuh Jan. “Tutup dan kunci dulu pintunya, Aa.”

Jan bergegas melangkah menuju ambang pintu, lalu menutup dan menguncinya.

“Beres, Sayang,” ucapnya, sambil memutar badan, menatap Anna.

Anna mengangkat ibu jari tangan kanannya. Lalu mulai melucuti satu demi satu kancing blazer-nya. Pergumulan pun dimulai.

“Bikin anak, kita?” canda Jan.

Anna menahan tawa, sambil mencubit halus pinggang kiri sang suami.

Bersambung