Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 39

Balada Ghani

Nasib orang, tak pernah ada yang tahu. Hari ini, seseorang berada di atas angin, esok mungkin berada di titik nadir. Sebaliknya, hari ini, seseorang mengalami keterpurukan, bisa jadi esok hari ia melangkah mantap sebagai pemenang. Hanya Tuhan yang tahu.

Ghani mengalami hal itu.

Pekan lalu, ia boleh jumawa. Berkat video porno itu, Ghani sangat yakin bahwa Suzie tidak akan pernah bisa meninggalkannya. Apapun yang ia perbuat, meski akan menyakiti perasaan Suzie, takkan mampu membuat sang wanita pergi darinya. Suzie benar-benar berada di dalam rengkuhan tangannya.

Hari ini, keadaan jauh berubah. Ghani hanya bisa merelakan Suzie pergi dari kesehariannya. Bahkan, secara sadar, ia meminta wanita molek itu untuk menjauh dan mengejar semua yang diinginkannya. Suzie yang terkekang, sontak berubah menjadi laksana burung pipit yang bebas hinggap di dahan pohon manapun sesukanya.

Semua bertanya-tanya, apalagi Suzie. Sebagai pihak yang paling dekat dengan keseharian Ghani, tentu ia begitu heran dengan perubahan sikap lelaki itu. Ia tahu, dalam situasi normal, tak mungkin Ghani bersikap begitu. Ada apa dengan Ghani?

***

Pusat perbelanjaan di Jl. LLRE Martadinata,

“Aku mau lihat-lihat mainan diecast dulu,” ucap Jan, seraya melemparkan pandangan ke arah sudut pusat perbelanjaan yang menampilkan rak display dengan deretan miniatur mobil berbagai skala itu. “Boleh?”

Anna menatap Jan lekat-lekat. “Yakin, cuma mau lihat-lihat?”

“Mmm…” bola mata Jan berputar jenaka. “Iya, kalau nggak ada yang bagus.”

“Kalau ada?” tanya Anna lagi.

“Yaa… dibeli,” jawab Jan, sambil nyengir.

Anna melotot.

“Paling banyak beli dua, Nduk,” janji Jan.

“Dua lusin?” sergah Anna. “Gimana kamu deh, Aa.”

Jan mengacungkan jempolnya. Anna melotot lagi. Jan malah terkekeh menyebalkan.

Jan pun berbalik arah, melangkah menuju deretan rak yang menampilkan beragam mainan itu. Sementara Anna memilih untuk menunggu sambil duduk-duduk di jajaran kursi metal, tak jauh dari sudut mainan tersebut.

Sejak kecil, Jan menyukai mainan, layaknya anak-anak lain. Namun, karena terlahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana, membeli mainan menjadi skala prioritas terendah. Terkalahkan oleh makanan, fasilitas pendidikan, juga iuran bulanan macam-macam.

Ketika dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, bahkan cenderung berlebih seiring makin pesatnya omset workshop konveksi miliknya, kesenangan masa kecil yang tak terlampiaskan itu menemukan wadahnya. Jan mulai mengumpulkan beragam mainan diecast, meski jumlahnya tidak terlalu banyak karena Anna terus mengontrolnya.

Belum lama melihat-lihat deretan beragam jenis miniatur mobil, Jan mendengar suara benda terjatuh dan berantakan. Ketika melemparkan pandangan ke arah suara tersebut, ia mendapati berbagai barang belanjaan yang tercerai-berai. Seorang gadis memungutinya, dibantu Anna.

Jan pun bergegas menghampiri, sontak melupakan niatnya berburu mainan diecast.

“Kenapa, Nduk?” tanya Jan, sambil membungkuk di sisi Anna, dan ikut membereskan barang-barang yang terserak ke dalam kantong plastik.

Sang istri dan gadis itu menoleh bareng ke arah Jan.

“Kang Jan?” tegur gadis itu.

Jan mengalihkan mata pada sosok gadis itu, lalu sedikit tercekat. “Lho, Saski?”

Gadis yang dipanggil dengan nama ‘Saski’ itu tersenyum.

“Kok bisa berantakan begini?” tanya Jan.

“Dia disenggol ibu-ibu,” jelas Anna. “Tepat di depan aku.”

“Yang menabrak cuek,” imbuh Saski. “Malah Tétéh ini yang bantu aku.”

“Tétéh ini istriku, Sas,” Jan tersenyum. Lalu menatap Anna. “Ini Saski, kawan lamaku.”

Anna dan Saski saling pandang dan melemparkan senyum. Lalu berjabat tangan. Anna tetap bersikap santai, karena tidak tahu siapa Saski. Namun tidak begitu dengan Saski. Ia terlihat rikuh.

***

Saski adalah gadis yang pernah sangat dekat dengan Jan. Keduanya pernah saling menyayangi, namun harus berpisah karena Jan tetap tak mampu melepaskan diri dari bayangan sosok Anna, yang kini menjadi istrinya. Saski yang sangat mencintai Jan, terpaksa merelakan lelaki itu mengejar cinta Anna, dengan iringan tangis pilu.

Hampir setahun berlalu sejak peristiwa melankolik itu. Nyatanya Jan kembali berjumpa dengan Saski di sebuah pusat perbelanjaan, tanpa sengaja.

“Belanja sebanyak ini, kamu sendiri?” tanya Jan, di sela-sela membantu memberesi barang-barang belanjaan Saski.

Saski mengangguk. “Pacarku mau jemput, menunggu di parkiran.”

Bibir Jan dan Anna membulat.

“Duduk dulu sini,” ajak Anna, setelah selesai memberesi barang-barang Saski. “Sambil menunggu pacarmu datang.”

“Iya,” imbuh Jan. “Hubungi pacarmu, suruh jemput kamu di sini. Repot bawa barang banyak ke bawah.”

Saski hanya mengangguk. Ia tampak ragu. Namun tak urung diturutinya saran Jan dan Anna. Ia pun duduk di sebelah Anna, lalu mulai mengutak-atik ponselnya. Mungkin mengirimkan pesan singkat untuk kekasihnya.

“Kamu nggak jadi lihat-lihat mainan?” tanya Anna, sambil menatap sang suami yang berdiri menghadapinya.

Jan menggeleng. “Kapan-kapan aja. Sendiri.”

“Biar nggak aku larang untuk beli, ya?” tebak Anna.

“Tepat sekali,” ujar Jan.

Anna merengut.

Tak sampai lima menit, kekasih yang ditunggu Saski pun tiba. Dan kehadirannya sukses membuat Jan dan Anna melongo. Dan kekasih Saski pun menunjukkan reaksi serupa. Reaksi ketiga orang di sekitarnya, membuat Saski heran.

“Kalian saling kenal?” tanyanya.

“Sekadar pernah lihat,” jawab Anna, kentara sekali usahanya untuk menyelamatkan situasi. Telapak tangan kirinya langsung menggenggam lengan kanan sang suami. “Iya ‘kan, Aa?”

Jan hanya menyunggingkan senyum hambar. Sementara kekasih Saski sama sekali tidak tersenyum.

“Kami pergi, Kang, Téh,” pamit Saski, sambil tersenyum lucu. “Makasih bantuannya tadi.”

Anna mengangguk seraya membalas senyum Saski. “Hati-hati.”

Saski dan kekasihnya pun berlalu.

Sepeninggal Saski dan kekasihnya,

“Langsung pulang, kita?” ujar Jan.

Anna menggeleng cepat. “Kita mau makan ramen, ‘kan?”

“Lupa,” Jan menepuk keningnya, sambil nyengir.

***

Di sebuah kedai ramen di Jl. Naripan, sekira tiga kilometer dari pusat perbelanjaan,

“Kita harus kasih tahu Suzie,” ujar Anna. “Kita nggak bisa membiarkan Ghani seenaknya mempermainkan dia, Aa.”

Jan mengangkat bahu. “Aku nggak yakin, Suzie bakalan percaya.”

“Nggak ada bukti, ya?” tebak Anna.

Jan mengangguk. “Nanti nasib kita sama seperti si Adul. Suzie malah balik marah.”

“Iya, sih…” gumam Anna. “Menyesal, kenapa tadi kita nggak mencuri foto mereka.”

“Boro-boro terpikir, Nduk!” Jan meringis. “Melihat Ghani datang, dan sadar kalau ternyata dialah ‘pacar’ yang dimaksud Saski, sukses bikin otakku tumpul.”

Obrolan terhenti sejenak karena pelayan mengantarkan pesanan mereka. Namun, perbincangan segera berlangsung kembali setelah pelayan itu meninggalkan meja yang mereka tempati. Bedanya, kali ini obrolan dilakukan sambil menikmati ramen.

“Suzie harus tahu secepatnya,” tegas Anna. “Kalau perlu, hari ini juga.”

“Kasih tahu lewat WA aja, atuh,” usul Jan.

Anna menggeleng. “Dikasih tahu langsung aja, Suzie belum tentu percaya. Apalagi lewat WA?”

“Jadi, hari ini kita ke kost-annya?” tanya Jan.

“Kamu nggak keberatan?” tanya balik Suzie.

Jan menggeleng. “Lebih keberatan kalau hidup tanpa kamu.”

“Gombal,” Anna menjulurkan lidah.

Jan nyengir.

Anna tampak mengutak-atik ponselnya, hingga sejenak berhenti menyantap ramennya. Hal ini memicu rasa ingin tahu Jan, yang langsung melongokkan kepala, berusaha mengintip layar ponsel sang istri.

“Jangan mengintip!” tukas Anna, sambil menjauhkan ponselnya dari tatapan Jan.

“BBM-an sama selingkuhan, ya?” tanya Jan asal. “Pasti perempuan.”

“Iya,” jawab Anna enteng. “Aku bosan jatuh cinta sama lelaki. Makanya aku cari perempuan.”

“Laki-laki memang sering bikin sakit hati,” imbuh Jan. “Makanya aku nggak suka laki-laki.”

Anna tergelak.

Anna kembali fokus dengan ramennya. Ponselnya ia geletakkan di atas permukaan meja, tak jauh dari mangkok ramen miliknya.

“Suzie udah kasih balasan?” tanya Jan. “Dia ada di kost-an?”

“Kok kamu tahu kalau aku tadi BBM Suzie?” Anna menatap Jan dengan penuh rasa antusias.

“Aku tahu banyak tentang kamu, Nduk,” jawab Jan.

“Gombal lagi,” rutuk Anna.

Jan kembali nyengir.

“Suzie ada di kost-an,” jelas Anna. “Lagi sama Trias, katanya.”

Jan tersenyum. “Semoga si Adul bisa memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.”

“Maksudnya?” Anna bertanya tak mengerti.

“Kelihatannya Ghani lagi asyik dengan Saski, ‘kan?” tutur Jan. “Nah, mumpung Ghani nggak ada, si Adul mesti memanfaatkannya untuk mengambil hati Suzie.”

“Trias udah sukses mengambil hati Suzie, kok!” Anna tersenyum. “Tapi, entah kenapa, Suzie susah banget jauhi Ghani.”

“Si Adul lagi memperjuangkannya, Nduk,” tenang Jan. “Semoga dia berhasil.”

“Semoga,” gumam Anna, sambil mengangguk pelan.

“Oya,” cetus Jan. “Ngomong-ngomong soal Saski…”

“Kenapa Saski?” tanya Anna.

“Aku perhatikan perutnya agak buncit,” jelas Jan. “Yaa… setidaknya, lebih buncit dibandingkan dengan terakhir kali aku bertemu dia. Karena aku ingat, dulu tubuh Saski ramping.”

“Sering makan terlalu malam, mungkin,” tanggap Anna. “Bisa bikin perut buncit, lho!”

“Bukan itu,” Jan menggeleng. “Saski kelihatan lagi hamil.”

“Husss…!” Anna melotot. “Jangan ngomong sembarangan, Aa.”

“Yah… kelihatannya begitu, Nduk,” gumam Jan. “Dan kamu perhatikan, nggak? Ada perlengkapan bayi di dalam barang belanjaan Saski yang berantakan itu.”

Anna sejenak mengingat, lalu mengangguk ragu. “Iya, sih…”

“Tapi, semoga itu cuma sekadar dugaan yang tidak terbukti,” harap Jan. “Aku nggak bisa membayangkan, gadis semuda itu udah harus menimang anak.”

***

Kost-an Sejahtera, satu jam kemudian,

“Lho, katanya lagi sama Trias!” seru Anna, mendapati Suzie hanya sendirian di kamarnya. “Mana dia?”

“Ke warung,” jawab Suzie, sambil mempersilakan Anna dan Jan untuk duduk di atas karpet. “Kehabisan kopi, katanya.”

Jan tertawa. “Itu anak, nggak bisa sebentar aja tanpa menyesap kopi.”

“Iya,” tanggap Suzie, sambil lalu tertawa kecil. “Setiap aku masuk kamarnya, selalu ada segelas kopi di atas meja.”

“Kamu harus belajar meracik kopi, Say,” timpal Anna, menatap Suzie dengan serius. “Biar Trias makin cinta.”

“Kamu apa, sih…?” Suzie tersipu.

Semenit kemudian, Trias melintasi ruas koridor di depan kamar Suzie, dengan beberapa sachet kopi hitam di tangannya. Tanpa sedikit pun melongok ke dalam kamar, ia berlalu menuju kamarnya.

“Dul!” teriak Jan. “Duh… nggak sopan itu anak.”

Kepala dan tubuh atas Trias kembali muncul. “Eh, Kang, Téh… baru datang, ya?”

“Nggak tahu, ah!” jawab Jan. “Pundung.”

Trias terkekeh. “Maaf, aku udah nggak sabar kepingin ngopi. Aku buat kopi dulu, ya!”

“Buat kopi di sini aja, atuh!” saran Suzie. “Stok air panas banyak, kok.”

“Di kamarku aja,” jawab Jan. “Demi menghargai seseorang yang udah repot kasih dispenser buat aku.”

Anna, yang tahu persis bahwa ucapan itu ditujukan padanya, sontak tertawa kecil.

“Yo wis, buat kopi dulu, sana!” cetus Anna. “Langsung balik lagi ke sini, ya? Ada nasi uduk untuk kamu dan Suzie.”

“Ah, kebetulan,” bola mata Trias berbinar. Lalu menatap Suzie. “Kita bisa irit budget makan malam, Zie!”

Suzie, Anna dan Jan tertawa bareng. Trias pun berlalu.

Sepeninggal Trias,

“Kami keukeuh datang ke sini,” ujar Anna. “Mau kasih tahu kamu soal Ghani.”

“Kenapa Ghani?” tanya Suzie, sambil menatap Anna.

Anna malah menatap Jan. Jan tahu, maksud tatapan sang istri adalah perintah untuk bercerita.

“Tadi, di mal, aku ketemu teman lama,” mulai cerita Jan. “Seorang wanita, kalau nggak salah, sekarang masih kuliah tingkat dua.”

“Sebentar,” sela Suzie. “Kamu punya teman lama yang masih anak kuliahan tingkat awal? Teman atau mantan selingkuhan?”

Jan terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.

“Dia tertawa, berarti perempuan itu bukan sekadar teman biasa,” cetus Suzie. Lalu menatap Anna. “Kamu nggak marah, Say?”

“Hmm… aku udah menduga kalau dia adalah seseorang dari masa lalu Jan,” gumam Anna. “Tapi, kalau aku bersikap keras sama masa lalu Jan, nggak mungkin sekarang aku mau berdekatan sama kamu, Say!”

“Iya, sih…” ucap Suzie pelan.

“Aku lanjutkan ceritanya,” mulai Jan. “Di mal, aku dan Anna ketemu dia. Namanya Saski.”

“Nah, hubungannya dengan Ghani?” tanya Suzie, tampak tidak sabar.

“Temanku itu dijemput Ghani,” jawab Jan.

“Oh,” tanggap Suzie datar.

Wanita bertubuh sintal itu malah mengutak-atik ponselnya. Lalu, sejurus kemudian, ia menyorongkan layar ke arah Jan.

“Ini temanmu?” tanyanya.

Jan melihat foto di layar ponsel Suzie, lalu mengangguk. “Posenya, woohoo… cipokan!”

“Berarti, orang yang sama dengan hasil laporan Rida,” gumam Suzie. “Terserah, kamu mau pergi sama siapa, Ghani. Aku udah nggak peduli.”

Nyaris bersamaan, Trias muncul kembali dengan segelas kopi hitam di tangannya. Lalu duduk tepat di sisi kiri Suzie. Sang wanita langsung melingkarkan tangan kirinya di pinggul Trias.

Anna dan Jan cukup takjub melihat pemandangan tersebut.

“Kalian…” ucap Anna. “Kalian udah makin dekat, tho?”

Trias dan Suzie hanya tersenyum penuh arti.

“Lalu, Ghani gimana?” tanya Jan.

Suzie menggeleng. “Ghani udah menjauh, Jan.”

“Kok bisa?” tanya Jan dan Anna bareng.

Selanjutnya, Suzie menceritakan perihal kedatangan Ghani tempo hari, yang ternyata menjadi momentum awal terbebasnya dirinya dari jeratan lelaki itu. Semuanya, tanpa ada sedikit pun bagian cerita yang terlewat.

Reaksi Jan dan Anna sudah bisa ditebak. Keduanya sama-sama heran dengan sikap Ghani, dan betapa mudahnya lelaki itu berubah. Namun, di sisi lain, mereka mensyukuri hal tersebut, karena itu berarti Trias dan Suzie dapat jalan bersama tanpa ada gangguan lagi.

“Jadi, sekarang kalian mulai berpikir untuk menikah?” tanya Anna.

Trias dan Suzie tertawa bareng.

“Masih jauh, Say,” jawab Suzie. “Tapi, kami nggak mungkir, tujuan akhirnya memang ke arah pernikahan.”

“Kami ikut senang,” ujar Jan. “Semoga semuanya lancar.”

Trias terlihat menatap sekeliling.

“Cari apa, Dul?” tanya Suzie, sambil mencubit pelan lengan kanan Trias.

“Nasi uduk,” jawab Trias enteng. “Lapar, euy!”

Suzie melotot. “Bikin malu, ih!”

Trias nyengir.

***

Sejenak kita tinggalkan Kost-an Sejahtera yang sedang menjadi saksi kehangatan antara Jan dan Anna, serta menjadi tempat kemesraan antara Trias dan Suzie. Biarlah mereka mendapatkan sebentuk cinta yang semestinya telah diraihnya sejak berbulan-bulan lalu, namun terhalang dinding tebal itu.

Kediaman Saski, di bilangan Ciwastra,

“Bagaimana ceritanya, sampai kamu tadi bisa ketemu Jan dan istrinya di mal?” tanya Ghani.

“Oh, jadi Akang memang kenal sama Kang Jan dan Téh Anna?” tanya balik Saski. “Siapa mereka?”

“Justru buat kamu, siapa mereka?” Ghani membalikkan pertanyaan Saski.

Sejenak, Saski menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya perlahan.

“Kalau Akang janji nggak akan marah,” ucapnya pelan. “Aku bakalan cerita.”

“Aku janji, nggak akan marah,” janji Ghani. “Asal kamu juga berjanji, nggak akan marah setelah dengar ceritaku.”

“Kok dari tadi Akang cuma membolak-balik kata-kata aku, sih?” protes Saski.

Ghani tertawa. “Kita sama-sama takut pihak lain marah. Hmm… karena kita sama-sama punya rahasia yang ditutupi.”

“Malam ini, kita buka rahasia masing-masing,” tandas Saski. “Meskipun mungkin menyakitkan. Oke?”

Ghani menyanggupi dengan anggukan.

“Tadi aku disenggol ibu-ibu sampai belanjaanku berantakan,” jelas Saski. “Kebetulan ada perempuan lagi duduk di depanku, jadi dia tolong aku. Lalu nggak lama, datang Kang Jan. Di situ, akhirnya aku tahu kalau perempuan itu adalah Téh Anna, istri Kang Jan.”

“Maksudku, gimana ceritanya kamu bisa kenal mereka berdua?” tanya Ghani lugas.

“Mmh… Akang jangan marah,” lirih Saski. “Aku pernah dekat sama Kang Jan. Sampai akhirnya dia memilih untuk tinggalkan aku, demi mengejar Téh Anna.”

“Seberapa dekat?” desak Ghani.

“Sangat dekat,” jawab Saski jujur. “Aku sempat berharap Kang Jan jadi suamiku.”

“Seberapa dekat?” ulang pertanyaan Ghani. “Kalian sempat ML?”

Saski diam sesaat, lalu akhirnya mengangguk ragu.

“Sering?” desak Ghani lagi.

Kembali, Saski mengangguk.

Ghani mendengus. “Udah kuduga.”

“Akang udah janji nggak akan marah,” ucap Saski hati-hati. “Please… Kang Jan cuma masa lalu aku.”

Ghani mengangguk lirih. Ia membatin, Jadi, laki-laki yang pernah diceritakan Saski sebagai seseorang yang sangat membuatnya nyaman, adalah Jan. Hmm… kenapa dunia bisa begitu sempit?

“Sekarang, giliran Akang yang cerita,” ujar Saski. “Kenapa Akang bisa kenal Kang Jan dan Téh Anna?”

“Mereka berdua adalah sahabat Suzie,” jawab Ghani.

“Siapa Suzie?” tanya Saski.

“Teman dekatku,” jawab Ghani. “Sangat dekat, sampai kami sering ML.”

Mata Saski agak terbelalak. “Teman dekat, tapi ML?”

“Dia adalah cinta lama, yang kukejar sejak masih SMA,” jelas Ghani. “Tapi selalu gagal. Aku baru bisa dekat dengan Suzie, beberapa bulan terakhir.”

“Sebelum kenal aku?” tanya Saski.

Ghani mengangguk.

“Kenapa Akang masih mau dekat sama aku?” desak Saski. “Akang ‘kan lagi dekat sama seseorang yang diinginkan sejak lama.”

“Dia nggak menginginkan aku, Néng…” gumam Ghani lirih. “Oke, kami ML. Tapi, Suzie nggak pernah kasih hatinya untuk aku.”

Ada sedikit sungging senyum sinis di bibir Saski. “Sama aku, Akang begitu juga. Ngentotin aku, malah sampai hamil, tapi aku nggak yakin, Akang kasih hati sama aku.”

Ghani terdiam. Telak. Kata-kata Saski adalah balasan telak baginya.

Saski tiba-tiba menjentikkan jarinya di depan wajah Ghani, hingga lelaki itu tersadar dari ketertegunannya.

“Kita sama-sama bukan pilihan utama, Kang,” ucapnya. “Kita sama-sama dekat dengan orang yang nggak pernah benar-benar menginginkan kita. Kita jadi korban dari kisah orang-orang yang pergi mengejar cinta sejati.”

“Dan kita bukan cinta sejati itu,” imbuh Ghani.

“Mungkin karena niat kita salah,” Saski tersenyum. “Aku dekat dengan Kang Jan, karena nafsu. Mungkin Akang sama Téh Suzie juga begitu. Dan hasilnya ternyata nggak bagus.”

Ghani hanya mengedikkan bahu.

“Yang penting, kita udah sama-sama buka rahasia,” ujar Saski, berusaha bijak. “Semoga nggak ada lagi rahasia lain di antara kita, Kang…”

Ghani mengangguk pelan.

“Demi rencana pernikahan kita,” sambung Saski. “Demi keluarga kita. Demi calon anak kita di rahimku ini.”

Ghani hanya mampu menatap perut Saski yang makin membuncit seiring usia kehamilannya yang makin bertambah, dengan mata nanar.

Pernikahan kita diawali dengan ‘kecelakaan’, batinnya. Semoga hubungan perkawinan kita nggak ikut celaka, Néng…

Ya, hanya itulah harapan yang dapat diperjuangkan Ghani. Setelah sambungan telepon Saski yang mengabarkan kehamilannya, di hari yang sama dengan persetubuhan terakhirnya bersama Suzie itu, dunia Ghani praktis berantakan. Ia harus rela melepas Suzie, demi wujud tanggung jawabnya terhadap Saski. Melepas Suzie, yang pernah menjadi alasan bagi Ghani untuk terus bersemangat menjalani hidup.

Sekarang hanya ada kamu, batinnya lagi. Aku akan selalu menjagamu, Néng. Karena mungkin kamulah cinta sejati itu. Bukan Suzie.

Bersambung