Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 39 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 38

Ada Apa Dengan Ghani?

Tiga hari berlalu selepas keberhasilan Suzie mendapatkan file video porno dirinya bersama Ghani. Belum ada progres berarti, karena sejak saat itu, Ghani belum pernah lagi menyambangi kost-an. Suzie pun hanya bisa menduga-duga,

“Mungkin, tanpa kita gertak, Ghani udah sadar kalau saat ini dirinya kalah selangkah.”

Trias hanya menanggapi dugaan tersebut dengan mengangkat bahu. Ia tak mau berspekulasi.

Namun, berkat keberhasilan itu, progres hubungan Suzie dan Trias makin hebat. Ada setitik rasa percaya diri pada keduanya, bahwa sesaat lagi mereka akan bisa bersama. Ada keyakinan bahwa Ghani tak akan bisa berbuat apa-apa lagi demi menghalangi kedekatan mereka. Keduanya sama-sama yakin bahwa kartu AS telah digenggam sangat erat, dan dapat mereka keluarkan kapan saja untuk memenangi pertarungan.

Alhasil, selama tiga hari terakhir, hubungan mereka telah berkembang menjadi makin lekat. Bisa dibilang, di mana ada Trias, di sana pun berdiri sosok Suzie. Keduanya seolah ingin mengganti berbulan-bulan ‘perang dingin’ yang terjadi dengan kehangatan dan kasih sayang. Keduanya seolah sama-sama ingin menunjukkan betapa mereka saling mencintai.

Kasak-kusuk di antara para penghuni Kost-an Sejahtera makin santer terdengar. Meski sejak lama Trias dan Suzie terbilang dekat, namun kedekatan dalam tiga hari terakhir tampak semakin penuh gula. Manis dan menggiurkan untuk dikecap. Tak sama dengan kedekatan layaknya sahabat biasa.

Seorang tetangga mereka yang berstatus mahasiswi sebuah politeknik negeri malah dengan lugas berkata,

“Mas Trias dan Mbak Suzie cocok banget,” ujarnya. “Hangat, mesra, tapi ndak pernah berduaan di kamar yang pintunya terkunci. Adem banget lihatnya!”

Sejenak Suzie teringat pada Ghani. Lelaki itulah yang mengajaknya berinteraksi panas di dalam kamar yang tertutup rapat, namun bersikap datar di ruang publik. Gaya yang sedikit banyak mengadopsi relationship ala bangsa barat. Ucapan tetangganya membuat ia tersadar, betapa gaya seperti itu telah membuat banyak orang merasa tidak nyaman.

Lalu Trias menariknya keluar dari zona tersebut, dan mengajaknya bermain aman. Berinteraksi penuh kehangatan, namun tetap dibalut kewajaran. Suzie merasa sangat nyaman, seperti juga dirasakan orang-orang di sekelilingnya.

Ah… kenapa aku baru menyadarinya sekarang, bukan dari dulu? batin Suzie.

Namun, tak pernah ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik, tho?

Malam ini, keduanya sedang duduk-duduk sambil mengobrol ringan di teras koridor tepat di depan pintu kamar Trias. Selepas keluar untuk mencari makan, mereka malah berbincang seru. Tentu diselingi tawa. Dan sumber tawa adalah banyolan Trias yang terkadang absurd namun menggelikan.

“Kamu tahu, kalau ternyata Bandung punya hubungan erat dengan California?” cetus Trias.

Suzie menatap Trias dengan kening berkerut. “Aku belum pernah dengar soal itu.”

“Tuh,” Trias menunjuk sebuah becak rusak yang sudah lama teronggok di salah satu sudut halaman kost-an, entah milik siapa. “Penjelasannya ada di becak itu.”

“Kok bisa?” Suzie makin tak mengerti.

“Coba perhatikan,” ujar Trias. “Tulisan apa yang ada di body becak itu?”

“Hmm… ‘Bandung Raya’, maksud kamu?” tebak Suzie, melihat tulisan tersebut tercoret di bagian kap kanvas becak.

Trias mengangguk. “Dan coba lihat, gambar apa yang terlukis di jok?”

“Terminator,” jawab Suzie. “Lalu?”

“Kamu pasti tahu ‘kan, aktor utama film itu?” tanya Trias.

“Arnold Schwarzenegger,” gumam Suzie.

“Dia pernah jadi Gubernur California,” tandas Trias. “Terbukti, Bandung punya kaitan erat dengan California.”

Suzie tergelak. Menertawakan absurd-nya guyonan tak penting Trias.

Dan ternyata canda aneh Trias belum berhenti,

“Jadi, kita boleh berkhayal,” ujarnya. “Suatu saat nanti, lukisan wajah Pak Dada ada di jok becak di California sana.”

Suzie terlihat berpikir sejenak, lalu tergelak hingga matanya berair.

Seingat Suzie, ia tak pernah berinteraksi sesantai dan sesederhana ini saat bersama Ghani. Hubungannya dengan Ghani, mayoritas diisi seks. Malam ini, Trias menghadirkan paradigma baru, betapa canda absurd pun bisa jadi media yang tepat untuk mencurahkan kemesraan. Selama hal itu dilakukan dengan landasan kasih sayang.

Dan ia tahu, di balik sikap Trias yang kerap bertingkah konyol, tersimpan kesungguhan. Salah satunya, adalah kesungguhan dalam membahagiakan pasangan. Melontarkan joke menggelikan, demi memancing tawa, sama halnya dengan usaha membahagiakan pasangan, bukan?

Usaha itulah yang jarang sekali dilihat Suzie pada sosok Ghani. Keseriusan dalam bersikap, nyatanya berbanding terbalik dengan kesungguhannya menjaga keutuhan sebuah hubungan.

“Maaf mengganggu,” tegur seseorang.

Trias dan Suzie sama-sama tercekat. Keasyikan bercanda, membuat keduanya sama-sama tak menyadari bahwa Ghani berdiri tak jauh dari mereka, entah sejak kapan. Mungkin sudah sejak tadi, lelaki itu menyimak obrolan Trias dan Suzie.

“Boleh aku minta waktu untuk mengobrol dengan Suzie?” Ghani menatap Trias.

Trias menatap Ghani tajam. Kilatan marah tersirat pada sorot mata itu.

“Mau apa, Ghani?” justru Suzie yang berkata. “Di sini aja bisa, ‘kan?”

Ghani menggeleng. “Ikut aku, Suzie.”

“Suzie menolak, Bung,” tukas Trias, sambil tiba-tiba bangkit. “Nggak usah memaksa.”

“Urusanku bukan sama kamu,” tegas Ghani. “Nggak usah ikut campur.”

Suzie merasakan pancaran aura pertikaian. Dan ia merasa perlu untuk mengambil tindakan menengahi, demi menghindari konflik makin meruncing. Wanita itu pun berdiri dan mengambil posisi di antara kedua lelaki yang sesungguhnya bersaing itu.

“Kamu tunggu di sini,” ujarnya, menatap Trias. “Nggak lama, kok.”

“Mungkin,” gumam Trias.

“Mungkin,” Suzie menahan senyum. “Kalau lama, hmm…”

“Tinggal tekan tombol panic,” sambung Trias.

Suzie tertawa kecil, sambil menyikut pelan perut Trias.

Ghani menatap seloroh kecil antara Suzie dan Trias dengan mata nanar. Sejujurnya, ada rasa cemburu menyaksikan betapa cairnya interaksi di antara kedua sosok di hadapannya itu. Ia mengakui, tak mampu membuat Suzie nyaman, seperti yang dengan mudahnya dilakukan Trias.

Giliran Suzie menghadapi Ghani.

“Ayo, kita mau mengobrol di mana?” tanyanya. “Di kamarku?”

Ghani menggeleng cepat. “Kalau di kamarmu, nanti ada yang menguping.”

Merasa bahwa kata-kata Ghani ditujukan untuknya, Trias sedikit maju sambil tangannya berusaha menggapai tubuh Ghani. Namun Suzie terlanjur bisa menebaknya.

“Dul, please…” ucapnya, menatap Trias lekat-lekat.

Trias hanya mengangguk pelan.

***

Ghani mengajak Suzie ke sebuah kafe sederhana di daerah Gegerkalong, tak jauh dari ruas Jl. Setiabudhi. Sedianya ia berniat bicara di salah satu kedai makanan yang ada di Ciwaruga. Namun, mengingat saat ini adalah ‘prime time’ bagi para penghuni kost-an untuk mencari makan, kedai-kedai tersebut padat pengunjung.

Alhasil, Suzie mesti rela mengikuti ajakan Ghani untuk sedikit menjauh dari Ciwaruga. Itu pun setelah sang lelaki memberikan garansi,

“Mungkin ini terakhir kali aku mengajak kamu ke luar,” ucapnya. “Jadi, aku mohon, kamu jangan menolak.”

Meski agak heran, namun Suzie cukup senang dengan kata-kata tersebut. Yah… walau ada sedikit keraguan, akankah Ghani konsekuen dengan janjinya itu?

“Kamu mau mengobrol soal apa?” tanya Suzie.

“Tentang kita,” jawab Ghani.

“Maaf, Ghani,” sejenak Suzie menarik napas, lalu terlihat berpikir untuk sesaat. “Aku nggak bisa dekat dengan kamu lagi. Aku nggak takut sama ancaman kamu yang memakai video kita sebagai alat. Terserah, kamu mau sebarkan. Kamu sendiri ikut malu, karena wajah kamu jelas terlihat di video itu. Kamu mau edit, terserah. Tokh, aku juga punya file aslinya.”

Ghani hanya menatap Suzie, selagi wanita itu bicara. Lalu, “Udah?”

Suzie tidak menjawab.

Ghani mengeluarkan notebook dari tas punggungnya, menaruhnya di atas meja, lalu mengaktifkannya.

“Aku udah hapus file video itu,” ucapnya pelan. “Aku juga menghapus file yang kusimpan di media penyimpanan data online dan flashdisk.”

“Bohong,” tanggap Suzie. “Aku nggak mungkin percaya.”

“Silakan kamu cek sendiri,” Ghani menggeser notebook hingga layarnya menghadap Suzie.

Diiringi tuntunan Ghani, Suzie pun mengecek keberadaan file video porno tersebut di tempat-tempat yang mungkin bisa dijadikan media untuk menyembunyikannya. Lima belas menit kemudian, Suzie tak berhasil menemukan itu.

“Justru saat ini, cuma kamu yang punya file itu,” ujar Ghani.

“Dan Lily,” tambah Suzie.

Ghani menggeleng. “Udah sejak lama, Lily menghapus file itu. Tanpa diminta.”

Jujur, Suzie sangat heran dengan tindakan yang diambil Ghani. Setelah berbagai ancaman dan intimidasi yang dilakukannya selama ini, dengan mudah Ghani ‘membuang’ satu-satunya senjata untuk dapat terus mengekang Suzie.

“Aku sadar, cara ini salah,” tutur Ghani, seolah tahu isi kepala Suzie. “Aku nggak bisa terus memakai cara pemaksaan. Karena dengan cara itu, aku cuma bisa mendapatkan tubuh kamu. Tapi tidak hatinya.”

“Bukannya kamu memang cuma kepingin alat kelaminku aja?” cetus Suzie, diiringi sungging senyum sinis di bibirnya.

“Kamu salah,” bantah Ghani. “Dari dulu, semenjak kita masih sekolah, aku udah mengagumi kamu. Tapi kamu nggak pernah menyadari.”

Suzie tertegun.

“Lalu, kebetulan kita bisa bertemu lagi di acara pameran otomotif itu,” lanjut Ghani. “Bahkan kita bisa jadi dekat.”

“Sangat dekat,” ralat Suzie.

“Sangat dekat,” ulang Ghani. “Jauh lebih dekat daripada yang pernah aku impikan. Sayangnya, hatimu nggak pernah benar-benar dekat denganku.”

Suzie terpekur. Selama ini, ia tak pernah menyadari betapa Ghani telah membayangi hidupnya sejak lampau, bahkan menjadikannya idola. Wajar, karena di bangku sekolah dulu, ia adalah bunga sekolah yang dikerubuti banyak lelaki. Wajah yang berkonotasi binal serta tubuh sintal, terutama buah dada yang mekar, membuat banyak lelaki yang ingin menjamahnya.

Sementara, Ghani adalah Mr. Nothing. Sesekali ia pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh teman sekelasnya, karena meraih prestasi kecil di ajang kompetisi sepakbola antar kelas. Tapi, Suzie dan kebanyakan wanita tidak menyukai sepakbola amatiran. Kalah mentereng bila dibandingkan dengan anak basket atau vokalis band sekolah, misalnya.

Wajar jika Ghani nyaris tak pernah ada dalam benak Suzie.

“Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kamu bisa dekat dengan aku,” ujar Suzie. “Membarengi aku, bahkan menggagahi aku. Kamu bisa menarik perhatianku. Kenapa akhir-akhir ini, kamu malah mengambil cara kasar?”

“Semua karena pesepeda itu,” tatapan Ghani menerawang. “Aku bisa merasakan, kamu mulai jatuh cinta sama aku. Jujur, aku senang. Lalu Trias kost di sana, dan hati kamu mulai beralih.”

Suzie tertawa kecil.

“Aku tahu, Trias punya pesona lebih karena pembawaan gentle-nya,” lanjut Ghani. “Wajar kalau kamu menyukai dia.”

“Kenapa kamu nggak berusaha bersikap gentle?” tanya Suzie. “Kamu lebih ganteng dan gagah daripada dia. Kamu punya modal yang cukup untuk bersaing dengan dia.”

“Aku terlanjur kalap dan emosi,” jawab Ghani. “Begitu tahu kalau kamu suka dia, aku marah. Dan kemarahan itu bikin aku nggak mampu berpikir jernih. Aku cenderung menganggap Trias sebagai pengganggu, bukan pesaing sehat. Padahal, aku sadar, Trias nggak pernah mencoba mendekati kamu. Trias hanya bersikap apa adanya. Sayangnya, aku terlambat menyadari itu.”

Kembali Suzie tertawa kecil.

“Andai aku bisa lebih sabar,” kembali Ghani bicara. “Mungkin aku bisa benar-benar memiliki hati kamu.”

Suzie mengangkat bahu. “Semua udah terjadi, Ghani. Kenyataannya, kamu nggak pernah berhasil bikin aku nyaman dengan hubungan kita. Kalau pun aku bertahan, lebih karena video itu.”

“Aku sadar,” Ghani mengangguk. “Makanya, aku memutuskan untuk menghapus semua file itu. Supaya kamu bisa bebas pergi, menjauhiku dan pergi dengan Trias.”

“Aku minta…”

“Nggak perlu minta maaf,” potong Ghani. “Aku yang salah. Kamu hanya korban, Trias juga. Nggak semestinya aku menghalangi kalian untuk bersatu.”

“Maksudku…”

“Aku nggak bisa mendapatkan hati kamu, Suzie,” kembali Ghani memutus ucapan Suzie. “Nggak apa-apa. Setidaknya, aku bisa merelakan hati kamu dimiliki orang yang memang kamu inginkan.”

Ghani menatap sekeliling. Dilihatnya seorang pelayan kafe itu yang menatapnya dengan pandangan agak sebal.

“Kita harus pesan sesuatu,” bisiknya. “Pelayan itu sepertinya kesal karena kita hanya duduk tanpa beli makanan.”

Suzie mencuri pandangan ke arah pelayan yang ditunjukkan Ghani. Lalu tertawa geli.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Ghani.

Suzie menggeleng. “Aku baru makan, masih kenyang.”

“Ah, iya,” Ghani tersenyum datar. “Kamu pasti baru makan malam dengan Trias, makanya mengobrol hangat di koridor kost-an.”

Suzie merasa tak enak dengan kata-kata Ghani.

“Pesan minum aja,” usul Ghani. “Perutmu masih bisa memuat segelas jus alpukat atau stroberi, ‘kan?”

Suzie masih terlihat enggan.

“Please…” bujuk Ghani lirih. “Untuk yang terakhir kali.”

***

Singkat kata, mereka telah kembali ke Ciwaruga. Ghani hanya mengantarkan Suzie sampai di depan kost-an, tanpa ada niat untuk turun dari sepeda motor.

“Tolong sampaikan permintaan maafku untuk Trias,” pesan Ghani, sebelum berlalu. “Aku berharap kalian benar-benar bersatu dan langgeng.”

Ghani pun berlalu dengan sepeda motor ber-cc besar itu, diiringi tatapan Suzie.

Kenapa justru di pertemuan terakhir, kamu baru bisa bersikap gentle, Ghani? batinnya.

Suzie pun berbalik arah, membuka gerbang dan masuk area kost-an. Meski masih kebingungan dengan perubahan drastis pada sikap Ghani, namun tak ayal langkahnya begitu ringan.

Ia mendapati Trias masih duduk di koridor tepat di depan pintu kamarnya. Sama persis dengan posisi saat Suzie meninggalkannya untuk pergi bersama Ghani, hampir satu jam lalu itu.

“Puas, bikin aku kedinginan di sini?” omel Trias, menyadari sosok molek Suzie melangkah dengan wajah sumringah ke arahnya.

Suzie terkikik geli. “Kenapa kamu nggak menunggu di kamar aja?”

“Kamu suruh aku tunggu di sini, ‘kan?” tanya Trias. “Kamu nggak bilang, ‘Tunggu di kamar’. Iya, ‘kan?”

“Inisiatif, dong!” Suzie memelototi Trias. “Jadi laki-laki kok terlalu menurut sama perempuan, sih?”

“Sekadar berusaha menjalani perintah,” gumam Trias. “Kalau nggak begitu, nanti kamu marah. Aku nggak tahan dicemberuti, meski pun cuma delapan detik. Apalagi sama perempuan secantik kamu.”

Suzie pun mengacak-acak gemas rambut Trias.

Kini keduanya telah duduk di dalam kamar Trias. Suzie di atas kasur, sementara Trias di atas karpet, bersandar pada salah satu sisi dinding kamar.

“Ghani bicara apa?” tanya Trias. “Mengancam lagi? Kamu udah melancarkan solusi yang kita sepakati itu?”

Suzie menggeleng pelan.

“Kenapa?” tanya Trias lagi.

“Sebelum aku sempat menggertak,” jelas Suzie. “Ghani malah bilang, kalau dia udah menghapus semua file video yang dimilikinya. Dan dia bilang, nggak akan menghalangi hubungan kita lagi.”

“Semudah itu?” kening Trias berkerut. “Kok bisa?”

Suzie mengangkat bahu. “Aku juga heran, kenapa Ghani bisa legawa. Kalau kamu yang bersikap legawa, aku bisa maklum. Tapi Ghani?”

Ya, semua ini memang terasa aneh dan mengherankan. Sangat mendadak. Tiga hari lalu, Ghani masih menggunakan sikap otoriternya untuk menyetubuhi Suzie. Sikap yang hampir selalu hadir saat bersama Suzie, yang ia jumpai hanya untuk menjadi sarana pelepasan nafsu birahi.

Tapi malam ini, Ghani menjadi lebih tenang. Masih berusaha bersikap tegas, namun justru kekalutan yang tampak kentara dalam sosok bertubuh tegap itu.

“Apa yang terjadi dengan Ghani, ya?” gumam Suzie. “Malam ini, dia benar-benar lain.”

Trias mengedikkan bahu. “Nggak usah dipikirkan, Zie. Ambil hikmahnya aja.”

“Iya,” Suzie tersenyum. “Sekarang, kita bisa benar-benar dekat. Semoga Ghani benar-benar konsisten dengan ucapannya, yang nggak akan menghalangi kedekatan kita lagi.

Trias mengangguk pelan. “Jadi, kapan aku bisa menemui orang tuamu?”

“Hmm…?” Suzie terbelalak. “Kamu mau minta izin untuk menikahiku?”

“Iya. Kenapa?” tantang Trias. “Kamu takut?”

Suzie menggeleng. “Aku justru tersanjung.”

“Tersanjung?” tanya Trias.

Suzie mengangguk, seraya beringsut dan duduk di atas pangkuan Trias. Direngkuhnya kedua pipi sang pria dengan dua bilah telapak tangannya. “Tersanjung, karena kamu adalah orang pertama yang terang-terangan berniat menikahiku.”

Trias hanya menanggapi dengan senyuman.

“Makasih, Sayang…” ucap lirih Suzie, seraya kemudian mengecup lembut kening Trias, hingga wajah lelaki itu memerah.

Bersambung