Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 38 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 37

Sasaran Termakan Jebakan

Sejujurnya, Suzie agak segan bersikap hangat dan mesra terhadap Ghani. Kekesalannya saat laki-laki itu ngotot menyetubuhi dirinya yang not in the mood, masih tersisa. Namun, hal ini harus dilakukan Suzie, demi berjalannya taktik untuk melepaskan diri dari kekangan Ghani.

“Geli, Sayang!” pekik Suzie, saat tangan kanan Ghani yang melingkari pinggangnya, tiba-tiba iseng mengusap puting payudara kanannya dari luar pakaian.

“Geli atau horny?” goda Ghani.

“Mmm… dua-duanya, sih…” Suzie tersipu.

“Kamu kangen sama aku, ya?” selidik Ghani.

“Iya!” Suzie menjawab cepat, meski di dalam hatinya berkata tidak. “Kamu, sih… susah banget ditemui.”

“Sorry…” ucap Ghani pelan. “Kemarin-kemarin aku sibuk.”

Sibuk ngentotin cewek lain, maksudmu? batin Suzie mencibir.

“Sekarang kita ketemu lagi,” lanjut Ghani. “Mau ngapain?”

“Terserah kamu,” jawab Suzie.

Keduanya saling diam beberapa jenak. Lalu,

“Ghani…” gumam Suzie hati-hati. “Aku jadi kepikiran satu hal.”

“Apa, Sayang?” tanya Ghani.

“Kamu masih menyimpan video kita, ‘kan?” tanya Suzie.

Ghani mengerutkan kening. “Kenapa tiba-tiba tanya soal itu?”

Suzie menghela napas. Lalu, “Aku minta copy-an file-nya, dong! Boleh?”

“Lho, kamu juga punya, ‘kan?” Ghani menatap Suzie.

“Lho, ‘kan hilang waktu notebook-ku kena virus,” jelas Suzie.

“Ah, aku lupa. Hmm… buat bahan masturbasi, ya?” goda Ghani. “Kamu ‘kan tinggal minta dientot sama aktornya langsung!”

“Kamu…” Suzie kembali tersipu. “Kadang, kamu sulit dihubungi. Kalau aku sange’, gimana?”

“Iya, sih…” gumam Ghani.

“Boleh ya, aku minta copy-annya?” bujuk Suzie lagi. “Please…”

“Hmm…” Ghani terlihat menimbang-nimbang. “Oke.”

“Asyik!” pekik Suzie riang. “Makasih, Yang…”

“Sama-sama,” Ghani tersenyum. “Tapi, sorry banget, nih. Di dunia ini nggak ada yang gratis.”

“Iya, aku tahu!” Suzie memonyongkan bibir, dengan gestur mencibir. “Aku juga tahu, bayaran yang kamu minta seperti apa.”

“Ah, bagus,” Ghani tertawa kecil. “Kamu memang paling mengerti aku.”

Iya, kecuali satu, ejek Suzie di dalam hati. Kamu nggak mengerti kalau saat ini kamu lagi masuk ke dalam perangkap yang aku buat.

***

“Kamu kangen aku, atau kangen kontolku?” goda Ghani, menyaksikan betapa Suzie begitu intens mempermainkan penisnya dengan indera oral.

Suzie berhenti menjilati batang dan kepala penis Ghani. Ditatapnya laki-laki itu lekat-lekat. “Jangan banyak tanya. Atau kamu cuma mau ngobrol?”

“Galak banget, sih!” rutuk Ghani.

Suzie melotot.

“Iya, sorry… sorry, Néng,” tangan Ghani membentuk gestur meminta ampun. “Teruskan, Yang.”

Suzie tersenyum geli.

Penis Ghani kembali melesak ke dalam rongga mulut Suzie. Ukuran alat vital Ghani belum mencapai ukuran maksimal. Namun Suzie tahu persis, organ tak bertulang namun dapat sekeras tulang itu akan ereksi maksimal sebentar lagi, seiring kuluman dan jilatannya.

Suzie begitu fokus merangsang penis Ghani. Ia menggabungkan sentuhan yang dilakukan bibir, rongga mulut, deretan gigi dan lidahnya. Bagi Ghani, rasa nikmat yang ditimbulkan sangat menggoda. Karenanya, ia tak henti menggeram dan mendengus, meresapi rasa nikmat yang menjalari aliran darah di tubuhnya.

Suzie melepaskan penis Ghani dari rengkuhan mulutnya. Kemudian mengalihkan batang kemaluan yang sudah menjadi lebih keras itu pada celah di antara bukit payudara montoknya. Ia mesti sedikit menaikkan tubuh atasnya, agar posisi penis Ghani berada tepat di tengah lembah dadanya.

Kedua tangan Suzie meremas masing-masing buah dadanya. Dijepitnya batang penis Ghani dengan mahkota kenyal di tubuh atasnya itu. Lalu ia menggoyang-goyangkan payudara dengan kedua telapak tangannya.

Imbasnya bagi Ghani, adalah rasa nikmat. Gesekan kulit batang penisnya dengan kulit payudara Suzie, menciptakan sensasi hebat. Ghani tak mampu lagi menahan diri untuk tidak mendesah dan menggeram keenakan.

Merasa kurang puas, Ghani menggoyangkan pinggulnya, hingga penisnya seolah menyetubuhi payudara Suzie. Nah, untuk aksi ini, Suzie-lah yang merasakan imbasnya. Meski agak ngilu, namun rasa nikmat lebih terasa kentara. Ia pun mulai ikut mendesah dan merintih.

Ghani mengerti akan rasa ngilu yang dialami Suzie. Dengan gerakan tangannya, ia meminta Suzie untuk menghentikan jepitan payudara pada penisnya.

“Sepong lagi aja, Suzie,” mintanya.

Suzie segera menuruti kemauan Ghani. Kembali rongga mulutnya melahap kemaluan sang lelaki dengan penuh gairah. Jilatan, hisapan, hingga gesekan gigi, menciptakan kenikmatan yang tiada tara.

Namun, seperti biasa, puncak permainan oral adalah deep-throat. Hal itu dilakukan pula oleh Suzie. Bahkan, wanita itu sempat menahan ujung penis Ghani menyentuh pangkal tenggorokannya hingga hampir 20 detik. Si pemilik penis sampai blingsatan, karena tak ingin buru-buru mengalami orgasme.

Ghani mendorong wajah Suzie, hingga penisnya tercabut dari rongga mulut wanita itu.

“Nggak tahan ya, Sayang?” goda Suzie.

Ghani mengangguk lirih. “Sepongan kamu juara. Selalu juara.”

Suzie tersenyum puas.

“Sekarang, giliran aku yang bikin memek kamu keenakan,” ujar Ghani.

Ghani menuntun Suzie agar berdiri. Lalu, dengan sekali rengkuh, Ghani sukses membopong tubuh sintal Suzie yang telah telanjang dada itu. Dipangkunya Suzie, dan didudukkannya di atas sofa.

Kedua tangan Ghani lalu mulai memereteli rok ketat hitam Suzie, kemudian juga bikini kuning di baliknya. Suzie sedikit mengangkat pantat untuk memudahkan Ghani melolosi dua helai pakaian itu dari tubuhnya. Kini Suzie telah bugil sepenuhnya.

Ghani membuka paha Suzie, dan membenamkan wajah pada selangkangan wanita itu.

“Ooohhh… Ghani…” rintih Suzie, sambil mengejankan perut.

Rintihan Suzie membuat Ghani makin menggila. Dan stimulasi menggebu yang dilakukan Ghani membuat Suzie terhanyut. Selanjutnya, Suzie sudah tak mau tahu lagi, apa yang akan dilakukan Ghani terhadap dirinya.

Namun, meski sensasi ekstase bercinta mulai melingkupi sekujur tubuhnya, Suzie masih mampu mengingat bahwa semua ini ia lakukan demi mendapatkan copy-an file video itu. Demi bisa lepas dari jerat yang diciptakan Ghani terhadap dirinya. Demi Trias.

Aku bersumpah, tekadnya di dalam hati. Ini akan jadi ML terakhirku dengan laki-laki selain Trias.

***

Setengah jam kemudian,

“Masukkan ke sini aja, Ghani,” minta Suzie, sambil menyerahkan sebuah flashdisk pada Ghani.

Ghani, yang sedang berkutat menghadapi notebook-nya, menerima flashdisk itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar compact PC miliknya. Dan tak butuh waktu lama, flashdisk pun telah kembali ke tangan pemiliknya, dengan telah berisi file video rekaman persetubuhan itu.

“Makasih, Ghani,” ucap Suzie tenang, berusaha menahan luapan perasaan karena telah berhasil selangkah.

“Sama-sama,” balas Ghani, sambil tersenyum dan mengelus lembut ubun-ubun Suzie.

Ghani mematikan notebook-nya. Lalu mengalihkan perhatian pada Suzie.

“Cari makan, yuk?” ajaknya.

“Aku kepingin pulang, Ghani,” tanggap Suzie. Kenyataan bahwa dirinya telah berhasil mengantongi copy-an file video itu, membuatnya ingin segera kembali ke kost-an, dan menemui Trias. “Rasanya capek banget, kepingin istirahat.”

“Please…” mohon Ghani. “Anggaplah ini upah kedua karena aku udah kasih file video kita.”

“Dasar!” umpat Suzie, sambil tertawa kecil. “Ya udah, hayu. Tapi jangan lama-lama. Serius, aku capek banget, Ghani.”

“Iya,” sanggup Ghani. “Berangkat sekarang?”

Suzie menjawab dengan anggukan.

Ghani pun bangkit dan melangkah menuju ruang tamu, diikuti Suzie. Setibanya di ruang tamu, lelaki itu sesaat membalikkan tubuh.

“Kenapa?” tanya Suzie.

“Ponselku ketinggalan di kamar,” jawab Ghani. “Aku ambil dulu, ya.”

Suzie mengangguk, seraya kemudian duduk di salah satu kursi ruang tamu.

Bermenit-menit, Ghani tak juga kembali.

Kamar Ghani pindah ke RT sebelah, gitu? batin Suzie. Cuma ambil ponsel, kok lama banget, sih?

Ketika akhirnya kembali, Ghani langsung berujar,

“Aku antar kamu pulang.”

“Sekarang?” tanya Suzie heran.

“Iya, kapan lagi?” tanya balik Ghani.

“Nggak jadi cari makan?” kembali Suzie bertanya.

Ghani menggeleng.

“Kenapa?” kejar Suzie.

“Nggak usah banyak tanya,” ujar Ghani dingin. “Ayo.”

Suzie nunut. Meski agak heran dengan perubahan sikap Ghani, di dalam hati ia bersyukur karena bisa segera kembali ke kost-an.

***

Kediaman Jan dan Anna,

Trias dan Jan menyantap peuyeum bakar buatan Anna. Penganan berupa tape singkong yang diolesi mentega lalu dipanggang di atas pan hingga kecoklatan, lalu ditaburi gula pasir. Cemilan sederhana, namun menjadi istimewa karena dimasak dengan cinta.

Ya, Anna membuatnya sebagai wujud rasa sayang terhadap suami dan adik iparnya. Meraciknya dengan sepenuh perasaan. Hingga citarasa yang dihasilkan pun terasa nikmat di lidah Jan dan Trias.

“Enak?” tanya Anna, yang muncul dengan dua gelas kopi berlainan jenis. Kopi hitam untuk Trias, dan kopi mocca tanpa ampas untuk Jan.

Jan dan Trias mengangguk serempak.

“Cuma sedikit kurang gosong,” komentar Jan.

“Itu ‘kan kamu, suka yang gosong-gosong!” seloroh Anna, lalu terkikik.

“Siapa bilang?” bantah Jan. “Buktinya aku pilih istri yang nggak gosong.”

“Jangan rasis, Kang,” ingat Trias, yang merasa kulitnya kecoklatan akibat terbakar matahari.

Jan dan Anna saling pandang, lalu tertawa bareng.

Selanjutnya, mereka bertiga asyik melahap makanan ringan buatan Anna. Dalam beberapa momen, mereka sempat berebut potongan yang sama. Sangat kekanakan, namun mereka menikmati kebersamaan ini. Apalagi Trias, yang sudah bertahun-tahun tidak merasakan suasana hangat khas sebuah keluarga.

Keasyikan mereka sedikit terusik, saat ponsel Trias berdering. Laki-laki goweser itu melirik layar ponsel, lalu bergumam, “Suzie.”

Anna dan Jan kompak berdehem jahil.

“Ssstt!” desis Trias.

“Iya, Zie?” sapa Trias, selepas menekan tombol ‘ANSWER’.

“…. …. .. …..”

“Di rumah Kang Jan.”

“Suziiiieee!!” pekik Anna. “Trias-nya dipinjam dulu, yaaaa!”

Trias meringis.

“Oya. Gimana?” lanjut Trias.

“… …. ….. ………”

“Serius? Syukurlah…”

“….. … …….. .. ……..”

“Aku juga.”

“….. …. …….”

“Sebentar lagi aku pulang. Cerita pas aku udah di sana aja, ya?”

“…. …. …. .. …..”

“Iya,” Trias lalu menoleh kepada Jan dan Anna. “Salam dari Suzie.”

“Salam balik, Dul,” jawab Jan dan Anna kompak.

“Salam balik, katanya.”

“…… …… .. …. ..”

“Iya. Bye.”

“… … …… ….”

Trias tersipu, lalu menyakui kembali ponselnya.

“Kenapa mukamu merah?” selidik Anna.

“Iya, mukamu merah,” tambah Jan. “Suzie ngomong sesuatu yang bikin kamu ge-er, ya?”

“Ah, nggak…” tanggap Trias, tersipu. “Kang, Téh, aku harus pulang.”

“Ibu Negara udah memanggil, ya?” goda Jan.

***

Sepeninggal Trias,

“Akhir-akhir ini sikap adik sepupumu banyak berubah, ya?” komentar Anna.

Jan mengangguk. “Mungkin kedekatannya sama Suzie menemui titik terang.”

Anna tersenyum.

“Aku senang banget lihat si Adul kayak begitu,” lanjut Jan. “Bertahun-tahun dia kehilangan hidupnya. Sekarang hidupnya kembali, berkat Suzie.”

***

Kost-an Sejahtera,

“Dul…” gumam Suzie seraya bangkit, menyaksikan Trias, tetangga kost-nya itu berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan bentuk sorot mata yang tak bisa ia definisikan. Dihampirinya laki-laki bertubuh kencang karena rutin bersepeda itu, lalu serta-merta didekapnya erat. “Kita berhasil. Aku sukses dapat copy-an videonya.”

Trias menyentuh bibir Suzie dengan telunjuk kanannya. “Belum sepenuhnya berhasil. Kamu belum buka file itu. Belum tentu isinya video yang kita mau.”

“Kita cek dulu, yuk?” ajak Suzie, seraya melepaskan pelukannya, lalu melangkah ke dalam kamar.

“Kamu cek sendiri, ya!” saran Trias. “Aku malu.”

Suzie pun tersadar, bahwa video tersebut menampilkan adegan panas dirinya bersama Ghani, yang mungkin tak ingin ditonton Trias. “Oke.”

“Aku ganti baju dulu,” pamit Trias.

Suzie mempersilakan dengan anggukan plus senyuman manis.

***

Sepuluh menit kemudian, Trias telah kembali berada di kamar Suzie.

“Benar video itu?” tanyanya.

Suzie mengangguk. “Dan nggak ada yang berubah. Tanpa editan.”

“Syukur, deh…” gumam Trias, tersenyum.

“Kita bisa mulai menggertak Ghani, dong?” ujar Suzie.

“Nanti dulu,” tanggap Trias. “Biar aku upload ke media penyimpanan data online. Setelah itu, baru kita jalankan rencana selanjutnya.”

Beberapa menit, mereka saling diam. Trias meng-upload file video ke dalam akun media penyimpanan data online miliknya. Beruntung, Suzie baru saja mengisi ulang kuota data pada modemnya, hingga Trias tak perlu repot-repot mencari warnet.

Sementara Suzie membaringkan tubuh di atas ranjang. Dengan kelopak mata yang mulai berbentuk bulan sabit, ditatapnya Trias yang sedang beraktivitas di depan notebook. Saat ini, malam memang sudah cukup larut. Pukul 22.19. Wajar jika Suzie mulai mengantuk.

“Dul…” gumam Suzie. “Kamu benar-benar nggak berminat nonton video itu? Nggak penasaran?”

Trias tersenyum. “Jujur, aku penasaran.”

“Penasaran kepengen lihat tubuh telanjang aku?” tanya Suzie.

“Mmh… iya,” gumam Trias, agak takut-takut.

“Ya udah, tonton aja, atuh!” ujar Suzie. “Biar nggak penasaran lagi.”

Trias menggeleng. “Aku merasa nggak bakalan bisa menahan emosi, lihat adegan kamu ML sama orang lain. Jadi mendingan aku nggak nonton.”

Keduanya saling diam kembali. Lalu,

“Aku bakal telanjang di depan kamu,” ucap Suzie pelan. “Biar kepenasaranmu terobati.”

“Sekarang?” tanya Trias. “Di sini?”

“Iya,” gumam Suzie.

“Nggak usah,” cegah Trias. “Aku masih bisa sabar menunggu sampai pernikahan kita nanti, kok!”

“Kelamaan, Dul,” cetus Suzie, sambil mulai melepaskan kancing dasternya satu demi satu.

“Jangan, Zie…”

Namun niat Suzie tak akan luntur hanya dengan sebuah kata ‘jangan’. Perlahan tapi pasti, pakaian di tubuhnya tanggal satu persatu. Bagian vital di tubuhnya tersingkap. Hanya tinggal tersisa celana dalam di tubuh erotis tersebut.

Sadar bahwa penolakannya tak digubris, Trias berdiri dan bersiap keluar kamar.

“Jangan pergi, Dul…” cegah Suzie, seraya memegang erat lengan kiri Trias. “Aku cuma berusaha membayar sakit hati kamu, yang cuma bisa diam mengetahui wanita yang kamu sayangi berani telanjang di depan laki-laki lain.”

Kalimat itu menohok perasaan Trias. “Aku mengerti. Tapi bukan dengan cara seperti ini menebusnya.”

Trias menggenggam kedua pergelangan tangan Suzie dengan tangan kanannya.

“Cukup, Zie,” ucapnya pelan. “Kalau diteruskan, aku nggak bisa menjamin, ke depannya bakalan mau berdekatan sama kamu lagi.”

Suzie tercekat. Untuk saat ini, tak ada laki-laki yang diharapkannya selain Trias. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi, andai pria di hadapannya ini kembali menjauh dari kesehariannya.

Trias memakaikan bra ke tubuh bagian atas Suzie.

“Jujur aku terangsang,” gumamnya. “Tapi aku nggak mau kedekatan kita dicemari nafsu birahi.”

Selanjutnya, giliran daster tipis yang dipakaikan Trias ke tubuh Suzie.

“Biar aku sayang kamu apa adanya,” sambungnya. “Tetap tulus, tanpa embel-embel gairah fisik.”

Terakhir, Trias mengenakan celana pendek di tubuh bawah Suzie. Selesai itu, dikecupnya kening wanita cantik di hadapannya dengan sangat lembut.

“Aku sayang kamu,” lirihnya.

***

Sepeninggal Trias,

Ternyata masih ada laki-laki setulus dia di jaman gila kayak gini, batin Suzie. Di saat orang lain curi kesempatan buat mencicipi tubuhku, dia malah menolak mentah-mentah ketelanjanganku.

Sejujurnya, perlakuan Trias tadi membuat hati Suzie bergetar. Telah lama ia tak pernah lagi menemukan lelaki yang bersikap begitu hormat terhadapnya. Sikap yang membuatnya merasa tersanjung dan berharga. Sikap yang membuatnya begitu jatuh cinta!

Dul… lirihnya di dalam hati. Aku janji, bakal kasih semuanya untuk kamu. Cuma untuk kamu…

Bersambung