Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 35

Ada Aku Untukmu

Sejak Trias mengalami insiden saat bersepeda, segalanya berubah bagi Suzie. Setelah Trias blak-blakan soal perasaannya, dan akhirnya membuat Suzie juga secara jujur mengungkapkan rasa yang sama, keseharian sepasang teman se-kost-an itu pun menjadi berbeda. Kini, keduanya menyadari, bahwa mereka saling cinta, meski tak bisa bersama.

Pihak lain yang terkena imbasnya adalah Ghani. Lelaki itu merasakan betapa drastisnya perubahan sikap Suzie. Ya, meski ia tahu bahwa kedekatan dirinya dan Suzie didasari keterpaksaan sang wanita. Namun, masih ada sikap hangat yang Suzie berikan.

Pasca insiden Trias, sikap hangat itu nyaris tak ada lagi. Suzie bersikap sangat dingin. Ghani menyadari itu. Dan secara sadar, ia tahu penyebab itu semua adalah Trias. Makin gusarlah Ghani terhadap lelaki goweser itu.

“Kamu yakin, dia pergi ke mana pun dengan sepeda karena memang suka?” ujar Ghani, terkesan melecehkan. “Aku nggak yakin dia benar-benar seperti itu.”

“Kenapa kamu beranggapan seperti itu?” sanggah Suzie.

“Menurut aku,” gumam Ghani. “Karena miskin, dan nggak mampu beli motor, makanya dia pakai sepeda.”

“Asal kamu tahu,” Suzie menatap Ghani tajam. “Dia pakai motor sport ketika datang ke acara akad nikah Anna dan Jan.”

“Kamu bisa menjamin kalau motor sport itu bukan hasil pinjam?” cibir Ghani.

“Oh, seperti kamu, begitu?” Suzie tertawa kecil. “Seenaknya mengejek Trias, padahal motor yang kamu pakai juga pinjam dari orang tua, ‘kan?”

Ghani terdiam. Kata-kata dari bibir Suzie memang tepat sasaran.

“Trias beli motor itu, dari hasil kerjanya,” lanjut Suzie. “Tapi, adiknya yang pakai, karena adiknya merengek minta motor. Dan Trias belum bisa memenuhi, karena sedang fokus mengumpulkan dana untuk uang muka rumah di Soreang. Akhirnya, dia tetap bersepeda, adiknya pakai motor.”

Ghani masih terdiam.

“Jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang dia pakai, Ghani,” sambung Suzie lagi. “Kadang seseorang yang sehari-hari cuma bersepeda kayak si Adul, malah jauh lebih berisi daripada orang yang naik mobil mewah hasil korupsi.”

“Oh yeah?” tandas Ghani dengan nada mengejek. “Whatever you said about him. Kenyataannya, kamu lebih memilih dekat denganku daripada dia, ‘kan? Itu udah cukup jadi bukti, bahwa aku lebih dari dia.”

Fuck-off! umpat kesal Suzie di dalam hati.

Ghani tentu tak bisa mendengar umpatan di hati Suzie, namun ia bisa melihat jelas refleksi dari kekesalan di wajah wanita itu.

“Jangan cemberut gitu, dong,” tutur katanya mendadak lembut.

Suzie bergeming. Tak diindahkannya ucapan Ghani.

“Sayang…” ucap Ghani lagi, seraya beringsut mendekati, dan menyentuh bahu kiri Suzie. “Aku datang jauh-jauh ke sini, masa’ mau kamu cemberuti?”

“Resiko dari bibir kamu yang pedas dan hobi menghina orang lain,” Suzie menatap Ghani tajam. “Diri sendiri masih banyak kekurangan, seenaknya merendahkan orang lain.”

“Maaf,” gumam Ghani. “Aku benar-benar minta maaf.”

Diam sejenak. Lalu,

“Oke, aku maafkan,” gumam Suzie.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Ghani manis.

Suzie mengangguk. “Nah, setelah ini, apa?”

“Kamu pasti tahu,” Ghani tersenyum dengan mata berkilat jahil.

“Tahu apa?” tanya Suzie.

“Kamu tahu yang kita mau,” jawab Ghani.

“Kita…” ujar Suzie pelan. “Aku yakin, untuk saat ini, cuma kamu yang mau.”

“Kamu nggak mau?” tantang Ghani.

“Iya,” tegas Suzie.

“Kamu bohong,” Ghani tak kalah tegas.

Ghani menggenggam ujung bawah t-shirt putih Suzie, lalu mengangkatnya. Suzie buru-buru menepis tangan Ghani, dan menurunkan kembali ujung bawah t-shirt putihnya itu. Ghani menatap dengan gestur Tumben-kamu-menolak-ditelanjangi!

“Aku lagi nggak mau, Ghani,” ucap Suzie.

“Tapi aku mau,” Ghani sedikit bekeras, seraya kembali mencoba membuka pakaian atas Suzie.

“Aku nggak mau,” tegas Suzie.

“Aku nggak butuh kerelaan kamu,” gumam Ghani. Kedua tangannya mengangkat t-shirt putih Suzie hingga bra merah hati yang membungkus bongkah payudara wanita itu terlihat. Lalu, tangan kirinya meraba selangkangan Suzie. “Aku butuh ini.”

Sikap tegas yang cenderung represif dari Ghani membuat Suzie sadar bahwa penolakan fisik dalam bentuk apapun tak akan membuat laki-laki di hadapannya mengurungkan niatnya. Hal itu membuat Suzie terpaksa merelakan tubuhnya dilucuti. Namun hati dan otaknya terus mengajak Ghani berkonfrontasi secara batin.

“Aku tahu kamu lagi malas ngentot,” bisik Ghani. “Nggak tahu kenapa.”

Karena sikapmu yang buruk, Tolol! umpat Suzie di dalam hati. Mana ada perempuan yang bisa memelihara mood setelah tindakanmu yang melecehkan orang tadi? Apalagi, orang yang kamu lecehkan adalah temanku!

“Tapi, sikap malas nggak akan bikin memekmu menutup,” lanjut Ghani. “So, aku nggak peduli.”

Suzie menggelengkan kepala.

Tak sampai lima menit, Suzie sudah telanjang sepenuhnya, tergolek polos di atas ranjang. Ghani sendiri hanya memelorotkan celana jeans dan underwear-nya hingga sebatas lutut. Lalu memposisikan tubuh di atas tubuh Suzie. Siap menggagahi wanita molek itu.

Dan bless… tanpa basa-basi, Ghani melesakkan batang penisnya ke dalam rongga kemaluan Suzie. Tanpa foreplay, tanpa sentuhan rangsangan demi memancing libido pasangan mainnya. Membuat Suzie terkejut.

“Uuuhhh…” rintih Suzie, saat penis Ghani bergesekan dengan vagina kesatnya yang kurang stimulasi itu. Kedua kelopak matanya menyipit, menahan sedikit rasa perih. “Vaginaku masih kering, Ghani.”

“Resiko,” desis Ghani. “Salah sendiri kamu nggak mau.”

Dada Suzie pilu. Dan kepiluan berimbas pada sikapnya. Suzie menghadapi perlakuan Ghani dengan dingin dan kaku. Ia menjalani persetubuhan ini dalam diam, tergolek tanpa suara. Kalau pun terdengar desah dari mulutnya, itu bukanlah refleksi dari rasa nikmat, melainkan pedih.

Penis yang kini sebadan dengannya adalah penis yang sama, yang telah puluhan kali merangsek ke dalam rongga vaginanya, bahkan puluhan kali pula mengantarnya meraih orgasme. Dan tubuh yang kini naik-turun menindihnya adalah tubuh yang sama, yang telah puluhan kali menggumulinya.

Namun, kali ini Suzie tak merasakan kenikmatan apapun. Ia hanya ingin Ghani secepatnya mengalami ejakulasi dan mengakhiri persenggamaan ini.

Bahkan pelacur pun masih bisa merasakan kenikmatan saat melayani pelanggan, batin Suzie. Maaf, kali ini aku nggak bisa…

Lima menit menggagahi dengan teknik konvensional, Ghani mencabut penisnya dari dalam liang kemaluan Suzie. Ia pun mengarahkan tubuh Suzie untuk menungging. Dan, lagi, tanpa basa-basi, Ghani kembali menyetubuhi Suzie dari belakang.

Ini adalah posisi favorit Ghani saat bercinta dengan Suzie, karena posisi tersebut menawarkan view yang maksimal untuk menikmati pemandangan indah bokong dan pinggul sang wanita yang memang berbentuk lekuk menggairahkan.

Selain itu, posisi doggy style membuat payudara montok Suzie menggantung. Dan bukit kembar tersebut akan berayun-ayun menantang seiring irama hentakan pinggul Ghani melesakkan penisnya ke dalam lubang vagina Suzie.

“Sayang…” geram Ghani. “Memek kamu memang juara!”

Suzie tidak memberikan reaksi, hanya terus menundukkan kepala tanpa ekspresi.

“Toketmu, uuhhh…” gumam Ghani lagi, seraya tangan kirinya menggerayangi bongkah besar payudara Suzie. “Atraktif, binal banget.”

Kembali Suzie tak bereaksi. Ia tahu, pria yang saat ini menyetubuhinya, menyadari kebungkaman dirinya. Tapi tampak jelas betapa Ghani tak peduli. Ia terus menghunjamkan batang penis kerasnya ke dalam vagina Suzie dengan tempo cukup cepat. Tubuh Suzie terhentak-hentak ke arah depan, seiring kedua buah dadanya yang terus terayun-ayun.

Dalam keadaan normal, Suzie tentu akan menjerit-jerit keenakan. Disetubuhi dengan gaya ala anjing, membuat kantung biji scrotum Ghani tak henti menyundul klitoris. Ditambah stimulasi lebih tangan kiri Ghani pada payudara dan puting di tengahnya. Mustahil Suzie akan membisu tanpa desahan.

Namun, kali ini, semua sentuhan Ghani tak terasa memabukkan. Suzie merasa telah menjelma jadi mesin seks, alat pemuas nafsu birahi Ghani. Dan layaknya mesin, tentu tanpa hati.

Bosan dengan doggy style, Ghani mencabut penisnya.

“Kamu di atas,” mintanya, berucap di dekat telinga Suzie.

Suzie menggeleng tegas.

“Itu ‘kan gaya favorit kamu,” sambung Ghani. “Bisa semaunya mengumbar sisi liar, kamu bilang.”

Suzie menggeleng lagi.

Lagi-lagi, Ghani tak memedulikan penolakan Suzie. Laki-laki itu tetap membaringkan tubuh telentang. Kemudian mengarahkan Suzie untuk duduk atau berjongkok di atas area pangkal pahanya. Semau Suzie, yang penting tercipta gaya woman on top. Karena yang disukai Ghani dari gaya ini adalah kebinalan Suzie saat berusaha memuaskan diri dengan geliat binalnya.

Namun, lagi-lagi, Suzie membeku. Ia memang berjongkok di atas selangkangan Ghani, lalu menuntun penis sang pria agar melesak ke dalam rongga vaginanya. But, that’s all. Suzie langsung mematung, sama sekali tak menggerakkan pinggulnya, layaknya posisi WOT. Hmm… ini memang titik nadir petualangan seks Suzie.

Keruan Ghani merasa gemas, menyaksikan betapa pasifnya Suzie. Dengan kasar, ia menghentakkan pinggulnya naik-turun hingga penisnya menghunjam keras rongga vagina Suzie. Saking kasarnya, tubuh Suzie bahkan terlonjak-lonjak, seiring benturan antara pantatnya dan area pangkal paha Ghani.

Tak lama, Ghani pun merasa jengah. Ia masih bisa memahami, andai saat dirinya berinisiatif menyerang, Suzie bersikap defensif. Namun, jika wanita itu tetap defensif di saat diberi kesempatan untuk atraktif, tunggu dulu. Ghani menganggap Suzie telah bersikap keterlaluan.

Ghani marah. Dan kemarahan membuatnya bersikap kasar. Secara tiba-tiba, didorongnya tubuh Suzie hingga berguling ke samping dan telentang di sisinya. Ia sendiri bangkit, beringsut dan memposisikan tubuh untuk menyetubuhi Suzie dengan gaya missionary.

Kembali, Ghani menyetubuhi Suzie tanpa basa-basi. Dan kembali, Suzie menerima perlakuan Ghani tanpa ekspresi. Meski hampir seluruh titik sensitif di tubuhnya tak luput dari sentuhan Ghani, namun Suzie merasakannya begitu datar.

Penis Ghani mempenetrasi liang vagina Suzie dengan tensi tinggi. Terlihat kentara, laki-laki yang saat ini menindih tubuhnya memporsir ‘serangan’ untuk segera meraih orgasme, dan mengakhiri persenggamaan. Tampaknya Ghani merasa sangat tidak nyaman akibat sikap pasif Suzie.

“Di dalam atau di luar, Sayang?” tanya Ghani.

Suzie tak menjawab. Yang pasti, saat ini ia sedang tidak subur.

Minta keluar di luar juga percuma, batinnya. Kamu pasti bertindak semaunya!

Ghani makin mempercepat hentakan pinggulnya. Penisnya merangsek makin cepat, mengocok vagina Suzie, bahkan cenderung brutal. Puncak kenikmatan makin mendekatinya. Desakan sel sperma dirasakannya akan segera memancar dari lubang di ujung alat vitalnya.

“Sayang… aku mau keluar… sebentar lagi!” geramnya.

Suzie tak menanggapi.

Dan saat momen ejakulasi telah di depan mata, Ghani mencabut penisnya, keluar dari rongga vagina Suzie.

Syukurlah… ucap Suzie di dalam hati. Nggak kamu keluarin di dalam.

Ghani bersimpuh mengangkang di depan wajah Suzie, dan melesakkan batang penisnya ke dalam rongga mulut wanita itu. Suzie terkejut, agak gelagapan, namun tak mau berontak. Diterimanya saja perbuatan Ghani yang kemudian menggoyangkan pinggulnya, hingga terlihat seolah menyetubuhi bibirnya.

Ujung kemaluan Ghani pun memuncratkan air mani kental. Banyak sekali, semua tertumpah ke dalam rongga mulut Suzie. Dan saat orgasmenya mereda, Ghani mencabut penisnya. Ditatapnya Suzie lekat-lekat.

“Makasih…” ucapnya lembut. “Memek dan mulut kamu sama enaknya.”

Suzie hanya tersenyum. Lalu bergegas bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Meludahkan sperma Ghani yang sama sekali tak mau ditelannya sedikit pun.

Suzie kembali, dan duduk di tepi ranjang. Ditatapnya Ghani yang sedang mengenakan celana jeans dan underwear-nya.

“Apa enaknya ngentotin cewek yang diam aja kayak aku tadi?” lirih Suzie, seraya mulai mengenakan kembali pakaiannya helai demi helai. “Apa enaknya ngentotin cewek yang nggak bisa menikmati persenggamaan?”

“Aku udah bilang,” jawab Ghani, tanpa berhenti berpakaian. “Aku nggak peduli. Aku ngentot kamu tadi, demi kenikmatanku pribadi. Bukan kamu.”

Mendengar jawaban seperti itu, hati Suzie benar-benar sakit.

Kalau Trias tahu perlakuan kamu sama aku, batinnya. Kamu pasti udah dicabik-cabik dan dikarungi sama dia.

“Aku pulang,” pamit Ghani, sambil mencoba mengecup kening Suzie. Namun wanita itu menghindar. “Makasih.”

Suzie hanya mengangguk.

***

Sepeninggal Ghani, Suzie sudah tak mampu lagi menahan kepiluan hatinya, akibat perlakuan laki-laki itu. Ia bahkan sampai tak sempat menutup pintu, yang terbuka karena Ghani terlalu terburu-buru pergi dan lupa menutupnya kembali.

Ghani keterlaluan! umpatnya di dalam hati. Tega ngentotin aku, meskipun aku udah menolak.

Ya, secara umum, perlakuan Ghani terhadap Suzie memang tak ubahnya tindak perkosaan. Yang berbeda mungkin hanya sikap Suzie, yang memilih diam saat persenggamaan terjadi. Tak seperti korban pencabulan pada umumnya, yang biasanya berontak dan meronta.

Tapi rasa sakit hatinya sama…

Hal itu pulalah yang membuatnya menangis.

***

Trias tiba di rumah kost-nya. Tanpa sepeda. Pascainsiden, ia belum diperbolehkan bersepeda lagi oleh dokter klinik. Nekat membandel, Suzie pasti akan memelototinya. Terlalu beresiko.

Alhasil, selama empat hari terakhir, Trias berangkat dan pulang kerja bersama seorang rekan sekantornya yang kebetulan tinggal tak jauh dari Kost-an Sejahtera. Dan akan tetap begitu hingga dokter klinik memutuskan dirinya sudah dapat bersepeda kembali, saat sakit di punggungnya sembuh.

Tepat ketika akan melintasi gerbang untuk masuk halaman kost-an, sebuah motor keluar. Lalu melaju cukup kencang. Trias tahu, pengendaranya adalah Ghani. Namun, tampaknya Ghani tak melihatnya.

Ada yang habis minta jatah sama Suzie, batinnya, sedikit mencibir. Atau, hmm… Suzie yang minta jatah? Entahlah.

Yang pasti, sepenglihatannya, tetangga kost-nya yang bohai itu akan terlihat riang usai berjumpa Ghani.

Semenit kemudian, asumsi Trias terpatahkan, saat melintasi kamar Suzie yang pintunya terbuka itu.

Suzie menangis?

Trias pun memutuskan untuk masuk kamar Suzie.

“Maaf ganggu,” ucapnya. “Maaf kalau aku ikut campur.”

Suzie yang berbaring telungkup dengan wajah terbenam di dalam bantal, mengangkat kepala dan menoleh ke arah Trias. Tergesa, disaputnya wajahnya yang basah oleh air mata.

“Eh, kamu…” Suzie memaksakan tersenyum.

“Kamu kenapa?” tanya Trias, sambil melangkah mendekat.

Suzie menggeleng. “Nggak apa-apa.”

“Yakin?” tegas Trias. Ia duduk di tepi ranjang.

Suzie mengangguk.

“Kamu baru pulang, Dul?” tanyanya, sambil lalu duduk bersila di tengah ranjang.

Trias mengangguk.

“Nggak pakai sepeda?” tanya Suzie lagi.

“Aku nggak mau dicemberuti seharian, gara-gara bandel,” seloroh Trias.

“Siapa yang cemberut?” Suzie menahan senyum.

“Orangnya nggak ada di sini,” tandas Trias.

Suzie mencubit lengan kiri Trias dengan gemas.

Trias membuka tas selempangnya, mengeluarkan sebuah kantong kresek putih, lalu menyerahkannya pada Suzie. Suzie langsung membukanya. Isinya adalah dua botol minuman isotonik.

“Buat aku, Dul?”

Trias mengangguk, sambil menadahkan tangan kanan. “Satu buat aku, lah.”

“Iya, aku tahu,” Suzie tersenyum, seraya memberikan salah satu botol minuman isotonik kepada Trias.

“Tadi aku lihat Ghani,” ujar Trias. Mencoba memancing Suzie untuk bercerita perihal tangisannya.

“Dia memang baru dari sini,” tanggap Suzie dengan nada datar.

“Aku tahu,” Trias tersenyum. “Karena yang aku lihat tadi, sewaktu Ghani keluar dari halaman kost-an.”

Bibir Suzie membulat.

“Tumben kamu menangis ditinggal Ghani,” goda Trias. “Biasanya ‘kan sumringah!”

Suzie menatap tajam Trias. “Bukan gara-gara itu.”

“So, kenapa kamu nangis?” desak Trias.

“Aku nggak mau jawab,” Suzie mengangkat bahu. “Sorry…”

Trias memutar tutup botol minuman isotonik hingga berbunyi ‘krek’, pertanda segelnya telah terbuka. Lalu mereguknya.

“Diminum atuh, Zie!” serunya. “Aku sengaja beli buat diminum, bukan cuma dipegang.”

Suzie tersadar. Diikutinya apa yang tadi dilakukan Trias terhadap minuman isotoniknya.

“Menangis itu menghabiskan cairan tubuh,” ujar Trias. “Jadi, kamu pasti butuh isotonik.”

Suzie melotot, namun tak urung tersenyum juga.

“Suzie…” ucap Trias hati-hati. “Maaf kalau aku lancang.”

“Lancang gimana?” tanya Suzie.

“Aku tahu, ada sesuatu yang mengikat kamu, sampai nggak bisa lari dari Ghani,” ujar Trias. “Yang aku nggak tahu, sesuatu itu apa.”

Suzie hanya tersenyum.

“Kalau aku berhak tahu,” Trias menyambung. “Sesuatu itu apa, Suzie?”

Suzie menggeleng. “Cukup aku dan Ghani yang tahu.”

“Aku hargai,” ucap Trias pelan. “Tapi, jujur, aku iba sama kamu.”

“Iba?”

“Iya. Kamu jalani hubungan sama Ghani, nyaris tanpa rasa. Berapa kali kamu bilang, kepingin jauhi Ghani, tapi nggak mungkin. Apa kamu bahagia, ada di sisi Ghani?”

Suzie terdiam sejenak. Lalu menggeleng. “Aku terpaksa, Dul.”

“Haduh, Suzie…” Trias menghela napas. “Hmm… Zie. Aku janji, kalau jalan sama aku, kamu bakal kubuat bahagia.”

Kedua telapak tangan Suzie merengkuh pipi kanan dan kiri Trias. “Bisa sedekat ini sama kamu, udah bikin aku bahagia. Tapi…”

“Tapi kamu nggak bisa jauhi Ghani,” sela Trias. “Selalu seperti itu. Please… kasih tahu aku, apa yang udah dilakukan Ghani sama kamu? Ayo, kita cari solusinya. Gampang, ‘kan?”

“Nggak segampang itu,” Suzie menggeleng. “Nggak ada yang bisa kamu lakukan, Dul.”

“Nggak mungkin,” Trias tersenyum. “Semua masalah pasti ada solusinya.”

“Untuk yang satu ini, aku nggak yakin ada solusinya,” gumam Suzie, terdengar gamang dan putus asa.

“Jadi kamu menyerah?” tanya Trias, terdengar penuh sesal.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Suzie pasrah.

“Oke, berarti aku juga menyerah untuk bantu kamu,” Trias mendadak berdiri. “Maaf.”

“Jangan, Dul,” ujar Suzie. “Aku mohon…”

Trias menggeleng. “Untuk apa aku membantu seseorang yang pesimis?”

“Please…” bujuk Suzie, seraya memeluk paha kiri Trias. “Aku bakal cerita semua sama kamu.”

Trias berusaha membebaskan diri dari dekapan Suzie, meski wanita itu bersikukuh. Namun, saat menyadari tatapan lembut Trias, Suzie melonggarkan dekapannya pada paha Trias. Trias pun berjongkok di hadapan Suzie yang bersimpuh putus asa di atas lantai. Direngkuhnya pipi lembut Suzie dengan kedua telapak tangannya.

“Aku janji, bakal berusaha melakukan yang terbaik buat kamu,” ucap Trias, menatap mata Suzie lekat-lekat. “Yang terbaik, yang bisa aku lakukan, untuk bebaskan kamu dari Ghani.”

Suzie mengangguk, lalu menundukkan wajahnya. Jujur, ia tak tahan ditatap sedemikian dalam oleh Trias.

“Zie… ada aku untukmu, selalu,” Trias mengangkat wajah Suzie. “Ayo, kita cari solusi bareng-bareng, ya.”

Air mata bening pun menitik dari sudut kelopak mata kiri Suzie. Trias yang menghapusnya dengan buku ibu jari kanannya, diikuti bibirnya yang mengecup kening Suzie dengan penuh perasaan. Tangis Suzie meledak.

Bersambung