Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 32

Ada Yang Salah Dengan Hatiku

Ghani baru saja pulang, ketika Trias tiba dari perjalanan bersepedanya ke Cirebon. Suzie bernapas lega.
Jadi, Trias nggak perlu ketemu sama Ghani, batinnya.

Entah kenapa, Suzie merasa perlu untuk sebisa mungkin menciptakan situasi di mana Ghani dan Trias tidak saling bertemu dan bertatap muka. Suzie tak mau terjadi kerumitan akibat persinggungan antara dua laki-laki terdekat dalam kesehariannya itu.

Secara kasat mata, hal tersebut merupakan wujud dari sikap menjaga perasaan pasangan. Sikap yang sangat wajar dalam jalinan sebuah hubungan kedekatan dengan lawan jenis. Yang menjadi tidak wajar, Suzie melakukan semua itu demi menjaga perasaan Trias. Bukan Ghani, yang notabene adalah laki-laki yang sangat dekat dengannya.

Ya, Suzie merasakan keanehan dalam perasaannya. Ghani sangat dekat dengan kesehariannya. Laki-laki itu hampir selalu ada di sisinya. Shopping di mal, nonton bioskop, makan, bahkan bercumbu dan bersenggama di ruang tertutup. Semua yang ia lakukan bersama Ghani, menegaskan kedekatan mereka bukanlah isapan jempol belaka.

Sedangkan dengan Trias, kedekatan tersebut lebih menyerupai keakraban antarsesama penghuni kost. Mencari makan malam bersama, mengobrol di sisa malam, hingga saling pinjam alat kebutuhan rumah tangga. Namun, beberapa waktu terakhir, ada desir asing di hati Suzie, saat berinteraksi dengan Trias.

Trias bisa bikin aku nyaman, jujurnya di dalam hati. Hal mana nggak selalu bisa dilakukan Ghani.

“Zie,” sapa Trias, yang telah berdiri di ambang pintu, dengan menjinjing dua kantong kresek hitam. “Aku mengganggu?”

Suzie menggeleng cepat, senyum lebar mengembang. “Masuk, Dul. Ah… gimana touring-nya?”

“Capek,” jawab Trias, seraya melangkah memasuki kamar, lalu duduk di atas karpet. Diletakkannya kedua kantong kresek di hadapan Suzie. “Seperti janjiku, ini oleh-oleh buat kamu.”

“Sebanyak ini?” bola mata Suzie berbinar. “Boleh aku bongkar.”

“Sayangnya, ini benda koleksi yang nggak boleh dibongkar,” seloroh Trias. “Ya boleh atuh, Zie!”

Suzie nyengir. Lalu mulai membongkar oleh-oleh yang dibawakan oleh Trias. Isinya beragam. Mulai dari kerupuk mlarat, kerupuk udang baik yang mentah maupun sudah digoreng, kerupuk lambak hingga sirup Tjampolay. Masing-masing dalam jumlah yang cukup kolosal.

“Wow!” pekik Suzie. “Ada tahu gejrot juga?”

“Iya,” Trias tersenyum. “Kuah dan sambalnya dipisah, jadi mendingan langsung dituangkan ke mangkok.”

“Siap,” Suzie bangkit untuk melakukan apa yang disarankan Trias. “Nanti kita makan sama-sama.”

Trias menatap sekeliling kamar. Di atas meja tulis, ia menemukan dua piring bertumpuk, serta dua sendok kecil di atasnya. Kentara sekali jika alat-alat makan tersebut kotor dan belum sempat ‘diamankan’ oleh Suzie.

“Kayaknya aku terlambat datang, ya?” cetusnya.

“Maksud kamu?” tanya Suzie, yang masih sibuk mencari mangkok untuk kuah dan sambal tahu gejrot itu.

“Ada sisa-sisa pesta kue ulang tahun di sini,” jawab Trias. “Dan aku nggak kebagian.”

“Masih ada di kulkas kok, Dul,” Suzie tergelak. “Kalau kamu mau, ambil dan potong sendiri, ya!”

“Kamu makan kue bareng siapa, Zie?” tanya Trias ringan, sama sekali tidak terdengar seperti menyelidik. “Ghani, ya?”

“Iya,” jawab Suzie, yang telah kembali duduk di dekat Trias. “Niat awalnya, aku mau ajak kamu. Ehh… kamu malah touring!”

Trias tersenyum. “Ghani memang lebih berhak untuk itu.”

Suzie speechless.

Tak sampai lima menit, Suzie telah selesai menuangkan kuah dan bahan baku sambal ke dalam masing-masing mangkok. Lalu ia segera berkutat kembali dengan oleh-oleh lainnya. Trias tersenyum senang, menyaksikan betapa wanita di hadapannya ini begitu antusias menerima buah tangan darinya.

Di dalam bungkusan yang lain, Suzie menemukan beberapa kemasan terasi, seplastik manisan mangga dan dua botol sambal bajak. Namun, ada sebuah benda yang membuatnya sempat terdiam. Ditimangnya benda itu, lalu menatap Trias.

“Kamu belikan aku kain batik Trusmi?” gumamnya.

Trias mengangguk. “Cuma bahan, untuk dibikin kemeja, misalnya.”

“Tapi ini banyak, Dul!” seru Suzie. “Mungkin bisa dibuat dua stel.”

“Sengaja, Zie,” jawab Trias. “Biar bisa dibikin kemeja couple.”

“Couple sama siapa, coba?” sergah Suzie.

“Pertanyaan itu lebih cocok dilontarkan buat aku,” Trias terkekeh. “Kamu mah ada Ghani.”

Suzie tertegun.

“Nah, kalau oleh-oleh makanan, sengaja aku beli agak banyak,” lanjut Trias. “Sebagian buat kamu di sini, sebagian bisa kamu kasih ibumu di rumah.”

Suzie makin speechless.

“Aku mandi dulu,” ujar Trias, seraya bangkit. “Nanti aku balik lagi. Kita makan tahu gejrot sama-sama. Oke?”

Suzie tak menjawab. Ia malah terus menatap lekat pada aneka barang oleh-oleh khas Cirebon yang berserakan di hadapannya.

“Oke, Suzie?” ulang Trias. “Kok malah bengong?”

Suzie tersadar dari lamunannya. “Oh… eh, iya… kamu mau ke mana?”

“Lho, ‘kan tadi aku udah bilang!” Trias tertawa kecil. “Aku mau mandi, Zie. Tubuhku lengket-lengket, rasanya nggak nyaman. Nanti aku balik lagi.”

“Oh, iya,” gumam Suzie. “Hati-hati.”

Trias mengerutkan kening.

***

“Enak, Dul,” gumam Suzie dengan mulut masih penuh dengan tahu gejrot.

Trias tersenyum. “Aku senang, kamu menyukai oleh-oleh yang kubawa.”

“Kok, kamu bisa tahu oleh-oleh yang aku mau, sih?” tanya Suzie. “Padahal, aku nggak WA kamu, minta sesuatu.”

“Cuma menebak, Zie,” jawab Trias. “Ternyata kamu suka.”

“Termasuk kado yang kamu kasih itu?” selidik Suzie. “Itu adalah organizer yang paling aku mau, Trias. Kado kamu memang sederhana, tapi paling berkesan. Jauh lebih berkesan daripada kado dari Ghani.”

Di dalam hati, Trias terpekik girang. Namun perasaan tersebut dipendamnya mati-matian, tak ingin meluap di hadapan Suzie.

“Kamu tahu dari mana, kalau aku kepingin banget organizer itu?” tanya Suzie lagi.

Kamu nggak akan menyangka, seberapa banyak yang aku tahu tentang kamu, Suzie… ucap Trias, hanya di dalam hati. Yang terucap secara lisan adalah, “Cuma kebetulan, Zie.”

“Nggak mungkin,” ujar Suzie. “Kamu bohong, Dul.”

“Aku pernah tanpa sengaja mendengar obrolan antara kamu dan Ghani soal organizer itu,” Trias tersenyum. “Aku langsung mencarinya, dan berhasil. Yah… meskipun agak berjudi, khawatir Ghani juga kasih barang yang sama.”

“Ghani nggak pernah kasih organizer itu sama aku,” keluh Suzie. “Malah kamu, yang nggak sengaja curi dengar, bela-belain kasih itu sebagai kado.”

“Mungkin Ghani lupa, Zie,” Trias tersenyum tenang, meski sesungguhnya hatinya melayang. “Nggak usah dipikirkan. Tokh, dia tetap kasih kamu kado, ‘kan?”

Suzie hanya mengangkat bahu.

Trias kembali asyik melahap tahu gejrot. Ia tak memerhatikan apa yang dilakukan Suzie. Tahu gejrot di hadapannya ini terlalu lezat untuk tidak dinikmatinya dengan sungguh-sungguh.

Perhatian Trias baru teralihkan, ketika ia mendengar isak tangis tertahan. Hanya satu orang yang berpotensi mengeluarkan tangisan hingga terdengar di telinganya. Ia pun menoleh ke arah Suzie.

“Hei…” ucap Trias, seraya meletakkan pisin berisi tahu gejrot, lalu beringsut menghampiri Suzie. “What’s the matter with you, Suzie?”

Suzie mengangkat tangan kanannya dengan gestur Please,-jangan-mendekat.-Aku-nggak-mau-tangisanku-makin-keras-gara-gara-merasa-nyaman-di-dalam-pelukanmu. Trias pun urung mendekat. Ia hanya menatap Suzie dengan lembut.

“Aku merasa ada yang salah dengan hatiku, Dul,” lirih Suzie, di sela isak tangisnya.

“Apa yang salah, Zie?” tanya Trias pelan-pelan.

Suzie menggeleng. “Aku nggak bisa bilang. Setidaknya untuk saat ini.”

“Oke,” Trias mengangguk, sambil tersenyum menenangkan. “Kapan pun kamu mau, cerita aja.”

Suzie pun tersenyum. Tepatnya, memaksakan diri untuk tersenyum.

***

Sepeninggal Trias yang telah kembali ke kamarnya, Suzie menekuri nasibnya.

Kamu datang dengan segala sikap manismu, Dul, batinnya. Dengan semua rasa sayangmu yang terasa tulus. Aku kepingin membalas itu semua.

Selayaknya Suzie membalas segala kebaikan dan rasa sayang Trias. Trias layak mendapatkannya. Terlebih, Nika pernah berpesan agar Suzie menjaga dan membahagiakan Trias. Namun sayang, ada Ghani yang selalu menghalangi niat tersebut. Hingga situasi memaksanya untuk terus menjaga jarak dengan Trias.

Kamu harus melawan, Suzie, suara di hati Suzie berkata. Sampai kapan kamu rela terjebak seperti ini?

Ya, Suzie harus melawan. Tapi bagaimana caranya? Ia takut video tersebut dijadikan senjata oleh Ghani. Dan ketakutan itu beralasan, karena lelaki itu sudah bersikap melenceng, seolah yakin bahwa Suzie takkan pernah bisa lari darinya.

Kamu bisa minta tolong Jan, Anna, atau bahkan Trias, suara di hati Suzie kembali bicara. Selalu ada cara untuk melepaskan diri dari Ghani.

Memberitahu mereka tentang video porno itu? Ah… itu sama saja dengan membeberkan aib. Apa kata mereka, andai mereka tahu? Apalagi jika Trias juga tahu, Suzie sangat takut lelaki pesepeda itu akan semakin menjauhinya.

Justru di situlah poin pentingnya, Suzie, tegas suara di hati Suzie. Lakukan apapun demi meraih kebahagiaan bersama Trias, yang kamu sayangi. Seperti juga Trias yang pasti akan melakukan apapun demi membahagiakan wanita yang ia sayangi.

Pikiran Suzie makin mumet. Sejujurnya, ia telah begitu jengah, mesti berlama-lama terjerat bersama Ghani. Namun apa yang kini bisa dilakukannya?

Minta bantuan Trias, Suzie! suara di hati Suzie bicara makin tegas. Lakukan itu, lupakan rasa malu dan takutmu yang belum tentu terjadi. Dan kamu akan bahagia.

Minta bantuan Trias. Nanti saja. Mungkin ada baiknya Suzie menghadapi masalah ini sendiri. Berani menghadapi Ghani.

Aku harus saklek sama Ghani, tekad Suzie di dalam hati. Aku nggak bisa terus bertahan, kalau cuma menyiksa. Aku harus berani.

Rasa cintanya terhadap Trias, memicu keberanian dalam diri Suzie untuk melepaskan diri dari jeratan yang diciptakan Ghani. Suzie pun ingin merasakan kebahagiaan, dan ia merasa kebahagiaan tersebut akan didapatkannya dari Trias. Bukan Ghani.

Besok aku harus bicara sama Ghani, tekadnya. Harus.

Bersambung