Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 32 – BanyakCerita99

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 31

Kue Ulang Tahun, Seks, dan Kemarahan

“Sekarang kita makan kue, Ghani,” ujar Suzie sumringah.

“Sebentar,” Ghani menatap kue tart yang disuguhkan oleh Suzie. “Ulang tahunmu ‘kan kemarin, kok kuenya baru disuguhkan sekarang?”

Suzie tertawa geli. “Ada sedikit kecelakaan.”

“Kecelakaan?” Ghani tak mengerti. “Maksudnya?”

“Jadi dua hari yang lalu aku pesan kue, buat disuguhkan sama kamu,” jelas Suzie. “Penjual bilang, kue bakal diantarkan besok pagi, alias kemarin.”

“Kemarin aku benar-benar nggak lihat kue ini,” ujar Ghani. “Kamu sembunyikan di mana?”

“Tunggu, dengar dulu,” sela Suzie. “Ternyata kurirnya kecelakaan, kuenya berantakan. Akhirnya, kue pengganti dikirim penjual kuenya langsung, sore harinya.”

“Dan aku udah keburu pulang?” tebak Ghani, menahan senyum.

Suzie mengangguk, sambil tertawa. “Berhubung niat awalnya memang mau aku makan bareng kamu, jadi kue ini sama sekali belum aku sentuh.”

“Padahal kamu makan aja kue bagian kamu,” Ghani tersenyum.

Suzie menggeleng. “Makan kue sendiri itu nggak seru, Ghani.”

“Iya, sih,” gumam Ghani. “Ya udah, sekarang kita makan kuenya sama-sama.”

Suzie pun bangkit untuk mengambil masing-masing dua buah piring dan sendok kecil. Setelah kembali, ia langsung memotong kue, meletakkan potongan kue tersebut di atas piring kecil, lalu menyodorkannya kepada Ghani.

Ghani menerimanya dengan antusias. “Potongan kue pertama buat aku. Berarti, aku orang yang istimewa, dong?”

“Cuma ada dua orang di sini,” Suzie tertawa. “Kalau potongan pertama kumakan sendiri, nanti kamu bilang kalau aku curang!”

Ghani pun ikut tertawa. “Iya, sih…”

Potongan berikutnya, jelas, untuk Suzie sendiri. Keduanya lalu menikmati kue bagian masing-masing. Ghani yang memang sedang lapar, karena sejak pulang kerja perutnya belum sempat diisi sebutir nasi pun, melahapnya dengan penuh semangat. Sepotong kue itu pun tandas dengan segera.

“Kamu order kue ini di tempat biasa, ‘kan?” tanya Ghani.

“Iya,” jawab Suzie, yang masih asyik dengan kuenya. “Kenapa, gitu?”

“Rasanya lain,” ujar Ghani. “Lebih enak dari biasanya.”

“Iya, gitu?” Suzie sedikit sangsi.

Ghani mengangguk. “Karena lebih enak dari biasanya, boleh aku minta sepotong lagi?”

“Ngomong dari tadi!” tukas Suzie, lalu tergelak. “Mau minta lagi aja, mesti berbelit-belit.”

Ghani nyengir.

Suzie pun kembali memotong kue dan memberikan potongan keduanya untuk Ghani. Kembali, Ghani menerimanya dengan sangat antusias. Suzie tertawa geli.

“Aku tahu kamu lapar,” komentar Suzie. “Tapi, tolong jaim sedikit, atuh!”

Ghani tergelak. “Orang jaim nggak kebagian, Ceu.”

“Dasar!” umpat Suzie, lalu juga tertawa.

Ghani mulai menyantap potongan kue keduanya. Suzie memerhatikan, sambil menyandarkan punggung di salah satu dinding kamar. Hatinya senang, karena Ghani menyukai kue ulang tahun berukuran sedang yang dipesannya itu.

“Kamu nggak akan makan kue lagi?” tanya Ghani, di sela kunyahannya.

“Nanti aja,” Suzie tersenyum. “Aku kenyang.”

“Baru makan?” tanya Ghani lagi.

Suzie mengangguk. “Jam setengah tiga, tadi.”

“Oh,” Ghani manggut-manggut. “Dan sekarang kamu mengantuk, ‘kan?”

Suzie nyengir. Mengakui kata-kata yang diucapkan Ghani.

“Kalau mau tidur, tidur aja,” ucap Ghani.

“Kamu nggak apa-apa kutinggal tidur?” tanya Suzie, sedikit sangsi.

“Santai aja, Say,” Ghani tersenyum. “Kamu tidur aja.”

***

Saat tanpa sengaja terjaga dari tidurnya, Suzie mendapati Ghani juga berbaring di sisinya, namun dalam posisi memunggunginya. Refleks Suzie menepuk pelan bahu kiri lelaki itu. Dan Ghani langsung berbalik, menghadapi Suzie. Ternyata Ghani tidak sedang tidur.

“Iya, Suzie?” tanya Ghani, seraya tersenyum lembut.

“Kok aku dipunggungi?” tanya balik Suzie. “Menghadap sini, atuh…”

“Iya,” sanggup Ghani. “Aku bakalan terus lihat kamu.”

Suzie tersenyum.

Tak berapa lama, kedua kelopak mata Suzie mulai kembali mengatup. Maklum, kantuknya belum punah. Ia ingin kembali tidur, barang satu-dua jam. Namun sentuhan pelan telapak tangan kanan Ghani di pipi kirinya, membuat mata Suzie kembali membuka.

“Aku tidur dulu, ya?” Suzie minta izin. “Aku mengantuk.”

Ghani mengangguk sambil tersenyum. Suzie membalas dengan balik tersenyum. Lalu kembali mencoba tidur.

Bermenit-menit, Ghani hanya menatap lekat-lekat wajah Suzie yang berjarak tak sampai 10 sentimeter dari wajahnya itu. Tidurnya terlihat pulas benar. Tampak sangat lelah, meski Ghani tak tahu, mengapa Suzie bisa selelah ini.

Namun, kemudian Ghani merasa bosan. Ia mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur, dan gagal. Imbasnya, pikiran iseng mulai hadir di otaknya.

Pertama, Ghani meraba halus leher mulus Suzie. Wanita itu bereaksi minim, dengan hanya mengerang protes, tanpa sedikit pun membuka matanya. Sejurus kemudian, dengkuran pelan malah kembali terdengar dari bibirnya.

Ghani tak patah arang. Percobaan kedua, adalah dengan menyentuh bibir ranum Suzie dengan buku jari telunjuk tangan kanannya. Reaksi Suzie, sederhana saja. Memundurkan wajah, lalu membenamkannya ke dalam bantal hingga bibirnya tak lagi bisa dijahili Ghani.

Kayaknya mesti pakai senjata pamungkas, nih… gumam Ghani di dalam hati.

Dan Ghani pun melancarkan ‘senjata pamungkas’ itu.

Jemari kedua tangannya mulai melolosi kancing kemeja longgar Suzie, satu demi satu. Tanpa gerakan kentara dan penuh kehati-hatian, tentu saja. Ghani tak mau Suzie terlanjur bangun akibat gerakan kejut. Tak lama, bagian kanan kemeja itu pun tersingkap, menampakkan perut kencang dan bagian kanan cup bra hitam sang wanita.

Lalu, perlahan, Ghani menurunkan cup bra itu. Lagi-lagi, dengan sangat hati-hati. Suzie tidak menunjukkan reaksi apapun, pertanda bahwa ia sama sekali tak merasa terganggu oleh perbuatan Ghani. Kini, kedua puting payudara Suzie pun terlihat jelas.

Saatnya membangunkan Suzie, ujar Ghani di dalam hati.

Telunjuk dan ibu jari kedua tangan Ghani mulai menyentuh puting kembar di dada Suzie. Gerakannya lembut, namun perlahan menjadi makin intens. Reaksi mulai ditunjukkan Suzie. Wanita itu bergerak pelan, seraya melepaskan desah napas tertahan. Lalu sejurus kemudian, kedua matanya terbuka.

“Kamu ngapain, Ghani?” protesnya lirih, sambil berusaha mengusir jemari-jemari Ghani yang secara kurang ajar mengutili puting payudaranya.

“Mengamati kamu tidur,” jawab Ghani kalem.

“Kenapa tanganmu ikut-ikutan?” gumam Suzie lagi. “Geli, Ghani…”

“Tapi, pasti enak,” goda Ghani.

Suzie menggeleng.

Ghani sedikit beringsut, hingga wajahnya berada sangat dekat dengan dada Suzie. Suzie menatap Ghani dengan gestur ujungnya-selalu-seperti-ini. Ghani menyadari makna tatapan tersebut, namun memilih tak peduli. Ia tetap fokus pada tujuannya.

Dan Suzie melenguh pendek ketika lidah Ghani tiba-tiba menyentuh puting payudara kirinya. Tentu disertai getaran pelan tubuhnya, yang mau tidak mau, merasakan gatal akibat sentuhan ujung lidah sang lelaki, meski sedikit saja.

Jelas, Ghani menjadi semakin bersemangat. Kini, telunjuk dan ibu jari tangan kirinya hinggap di puting payudara kanan Suzie yang bebas. Dicubitnya perlahan puting yang lambat laun mulai mengeras itu. Membuat Suzie kembali melenguh.

“Jangan, Ghani…” cegahnya. “Aku kepingin tidur.”

Namun niat Ghani tak akan luntur hanya oleh penolakan alakadarnya. Lelaki itu malah makin intens mempermainkan salah satu titik sensitif di tubuh Suzie. Perlahan, libido sang wanita pun terpancing. Suzie mulai mengikuti dan membiarkan gairahnya terbawa arus yang diciptakan Ghani.

Paham bahwa Suzie telah mulai terhanyut, Ghani segera memberikan stimulasi lanjutan. Tugas lidahnya digantikan oleh jemari tangan kanannya. Sementara organ oralnya mulai bergerak mengecup dan menjilati perut kencang Suzie. Wanita itu pun menggelinjang.

“Enak, Sayang?” tanya Ghani, sesaat menghentikan gerakan mulutnya.

Suzie menggeleng cepat. Namun sorot mata sayunya membuat Ghani tak mungkin memercayai gestur membantah tersebut.

Tanpa menghentikan rangsangan kedua tangan pada buah dada Suzie, Ghani beringsut hingga kini wajahnya berhadapan dengan wajah sang wanita. Ditatapnya kedua mata sayu Suzie dengan lembut.

Tak tahan dengan tatapan Ghani, Suzie berusaha memalingkan wajah ke kanan. Namun tangan kiri Ghani langsung merengkuh pipi Suzie, agar kembali menatapnya. Perlahan, Ghani mendekatkan wajahnya dengan wajah Suzie, hingga akhirnya bibir mereka bertautan.

Siapa sangka, justru Suzie yang berinisiatif melumat bibir Ghani dengan agresif. Tentu saja Ghani melayaninya sepenuh hati. Ia tahu, rasa geli yang dirasakan Suzie pada kedua puting dadanya, membuat wanita itu butuh pelepasan lain. Dan saat ini, hal tersebut ditemukan pada bibir Ghani.

“Katanya nggak enak…!” goda Ghani.

Suzie tersipu.

“Jadi, mau dilanjutkan?” tanya Ghani.

Suzie menjawab dengan anggukan lirih.

Mendapatkan angin, Ghani pun bertindak lebih lanjut. Ia segera melolosi celana jeans selutut yang dikenakan Suzie. Wanita sintal itu pun kini nyaris telanjang. Di tubuhnya hanya tersisa sehelai celana dalam, bra yang telah melorot hingga bertengger di perut , juga kemeja longgar yang telah tersibak karena seluruh kancingnya terlucuti.

“Sabar atuh, Ghani,” protes Suzie lirih. “Buru-buru amat, sih…”

“Nafsuku udah sampai ubun-ubun, Sayang,” Ghani tersenyum mesum. “Mana bisa sabar?”

Bibir Suzie mengerucut lucu.

Dan Ghani membuktikan ucapannya, karena sejurus kemudian ia segera memelorotkan jeans dan celana dalamnya. Jelas terlihat, penisnya sudah tegak, ereksi maksimal. Alat kelaminnya itu mungkin sudah sejak tadi penasaran mencari korban.

“Aku masukkan, ya?” izinnya.

Suzie tertawa. “Kalau aku menolak, tetap bakalan kamu masukkan, tho?”

Tak urung, Ghani pun tertawa.

Suzie merasakan hal yang sudah cukup lama tak pernah ia rasakan. Kerelaan untuk disetubuhi. Ya, beberapa waktu terakhir, persenggamaan antara dirinya dan Ghani terjadi karena ada sedikit paksaan dari pihak lelaki. Meski akhirnya menikmati, Suzie selalu menolak di awal percumbuan.

Siang ini, nyaris tak ada penolakan ketika Ghani mulai menggerayangi bagian sensitif di tubuhnya. Penolakan berupa gelengan kepala, adalah wujud dari mempertahankan harga diri, karena tak mau dianggap wanita gampangan. Selebihnya, Suzie menerima setiap perlakuan Ghani dengan senang hati.

Mungkin ini adalah perwujudan dari kebahagiaan di hatinya, yang baru saja melewati pertambahan usia.

Ghani mulai memposisikan tubuhnya di atas tubuh setengah telanjang Suzie. Penisnya yang tegak sudah berada di depan area pangkal paha sang wanita, yang masih terbalut celana dalam itu. Tak lama kemudian, vagina itu terpampang jelas, seiring jemari tangan kanannya yang menyibakkan kain penutup selangkangan Suzie ke arah kiri.

Dan, blesss… batang penis Ghani pun melesak ke dalam rongga kemaluan Suzie. Bersarang sedalam-dalamnya.

“Aahhhh… Ghani…” rintih tertahan Suzie.

Dan setengah menit kemudian, rintihan tertahan itu berubah menjadi jeritan dan desahan binal, seiring hunjaman penis Ghani yang makin cepat dan keras.

***

Sekira 15 menit kemudian, Ghani terus menggoyangkan pinggulnya hingga Batang penisnya menghunjam deras di dalam liang kemaluan Suzie. Sang wanita yang berdiri dengan tumpuan lututnya, tak henti menjerit-jerit nakal, menerima sodokan penuh nafsu dari lelaki di belakangnya. Kedua payudara montoknya tak henti menjadi sasaran gerayangan kedua telapak tangan Ghani.

Ghani fokus memburu orgasme pertamanya, sementara Suzie baru saja meraih puncak kenikmatan untuk kali keempat. Namun, merasakan betapa kasarnya permainan seks Ghani, bukan tak mungkin ia akan segera mengalami orgasme kelimanya.

Di sela hunjaman pinggulnya, Ghani menolehkan wajah Suzie hingga berhadapan dengan wajahnya. Serta merta dilumatnya bibir ranum wanita itu dengan penuh nafsu. Suzie membalasnya dengan tak kalah bergairah. Tampak jelas bahwa keduanya sangat menikmati persetubuhan ini.

Ghani menambah torsi penetrasi penisnya. Sangat cepat dan kasar, bahkan cenderung brutal. Suzie sangat menyukai gaya kasar seperti ini. Imbasnya, ejakulasi kelima pun menjelang. Terlihat dari tubuhnya yang makin mengejang, seolah tak mampu lagi menahan desakan kenikmatan di sekujur tubuhnya.

“Aku keluar lagi…!” rintihnya. “Sayang… aahhh… Sayang, aku… aahhh… aku keluaaarrr…!”

Suzie pun ambruk, terhempas di atas ranjang dalam posisi telungkup. Tubuh sintal itu menggelepar bak ikan yang kekeringan. Napasnya tersengal-sengal.

Ghani membalikkan tubuh Suzie hingga telentang. Namun, alih-alih kembali menyetubuhi liang vagina Suzie, Ghani malah berjongkok di atas dada sang wanita. Ia meletakkan batang penisnya di antara bukit kembar payudara montok Suzie, lalu mulai menggoyangkan pinggulnya ke depan dan belakang. Breast f*cking.

Wajah pasrah nan sayu Suzie perlahan berganti menjadi seringai ngilu. Penis keras Ghani yang menyundul keras kedua payudaranya, cukup membuatnya kesakitan. Namun, sensasi lain dirasakannya, mendapati kemaluan perkasa Ghani begitu intim dengan buah dada kebanggaannya itu.

Tak sampai lima menit, liang di kepala penis Ghani pun memuntahkan lahar sperma kental. Pancarannya yang kuat, membuatnya berlelehan hingga wajah dan rambut Suzie. Wanita itu hanya bisa memejamkan mata, karena khawatir air mani Ghani memasuki kelopak matanya.

Adegan panas siang itu diakhiri dengan kuluman rongga mulut Suzie terhadap penis Ghani, sebelum kemudian wanita itu bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa persenggamaan di tubuhnya.

***

Suatu kali, Ghani pernah berkata bahwa Suzie memiliki tipe wajah yang disukai para penggila seks.

“Wajah kamu tetap cantik, meskipun kusut masai dan berantakan sewaktu lagi ngentot,” ujarnya. “Pas lagi kecapekan sehabis ML, kamu juga tetap kelihatan cantik.”

Mungkin Ghani benar. Namun, tetap saja, kecantikan wajah Suzie dalam keadaan segar dan resik setelah selesai mandi, terasa lebih gereget dan memesona.

Setelah berkali-kali bergegas pergi setelah selesai menuntaskan hajat birahinya, sore ini, Ghani berkesempatan melihatnya lagi. Suzie terlihat sangat cantik, meski selepas mandi tadi wajahnya sama sekali tidak disentuh sapuan kosmetik. Jelas terbukti, bahwa kemolekaan wajah Suzie tercipta secara alami.

Terlebih, Suzie tak henti menyunggingkan senyum. Selain baru saja melewati pertambahan usia, mungkin keceriaan tersebut muncul karena ia baru saja meraih sensasi bercinta yang penuh kenikmatan.

Sayangnya, Ghani merusak mood Suzie.

“Kekasih gelapmu mana?” tanyanya. “Kamarnya kelihatan kosong.”

“Siapa?” tanya balik Suzie.

“Itu…” telunjuk kanan Ghani mengarah pada kamar Trias. “Si goweser idolamu.”

Suzie menatap Ghani tajam. Jelas ia tersinggung.

“Aku heran, kenapa kamu bisa tertarik sama pesepeda miskin itu,” lanjut Ghani, seolah tidak peduli dengan perubahan raut wajah Suzie. “Dia punya apa, selain sepedanya itu?”

Suzie naik pitam.

“Kamu nggak pantas bicara seperti itu tentang si Adul,” tegasnya. “Dia nggak seperti yang kamu bayangkan.”

“Nggak semiskin yang aku bayangkan, maksudmu?” Ghani tersenyum sinis. “Predikat apa lagi, yang pantas buat seseorang yang bepergian ke tempat jauh dengan sepeda, selain nggak mampu bayar tiket bus?”

Suzie terlihat semakin marah.

“Atau, dia memang sok jago, merasa paling hebat,” sambung Ghani. “Karena bisa bersepeda jarak jauh, sementara aku nggak mampu. Begitu?”

“Baru kali ini, aku bertemu manusia dengan pemikiran sepicik itu,” desis Suzie. “Kamu benar-benar keterlaluan, Ghani. Nggak bisa jaga ucapan!”

“Kenapa kamu selalu membela dia?” serang Ghani. “Kalau memang nggak punya perasaan istimewa sama dia, kamu nggak perlu marah seperti ini.”

“Dan kalau kamu nggak cemburu sama dia,” balas Suzie. “Kamu nggak perlu terus menghina dia.”

“Kamu memang jatuh cinta sama…”

“Iya,” potong Suzie. “Kalau video itu nggak pernah ada, dari dulu aku udah tinggalin kamu.”

“Jadi, itu alasan utama kamu bertahan sama aku?” tanya Ghani. “Bukan karena cinta?”

“Aku nggak tahu, Ghani,” Suzie menghela napas. “Aku… aku sayang sama kamu. Tapi, makin ke sini, aku makin ragu. Perasaan ini murni rasa sayang atau sekadar nafsu?”

“Sama dia, perasaan seperti apa?”

“Sama Trias, kalau pun memang benar aku punya rasa sayang, aku berani memastikan kalau perasaan itu murni tanpa nafsu.”

Aku nggak peduli gimana perasaan kamu sama si goweser itu, batin Ghani. Yang pasti, kamu nggak akan bisa lepas dari genggaman aku.

“Ghani…” gumam Suzie pelan. “Lebih baik sekarang kamu pulang.”

“Lho, kenapa?” tanya Ghani.

Suzie menggeleng. “Aku lagi pengen sendiri.”

“Tapi, aku masih…”

“Please, Ghani,” potong Suzie. “Kamu pulang, ya. Aku cuma lagi pengen sendiri. Maaf.”

“Oke,” Ghani menghela napas. “Besok aku jemput kamu pulang kuliah.”

Suzie mengangguk, sambil memaksakan tersenyum.

Bersambung