Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44

Cerita Sex Dewasa Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 31 – BanyakCerita99

Keakraban yang Kembali

Tak ada acara khusus, tak ada pengajian di kediaman Nika. Namun Trias tentu ingat bahwa hari ini adalah tepat 100 hari pascakematian Nika.

Tak ada yang berubah dalam kehidupan Trias semenjak Nika meninggalkan dunia. Ia tetap melanjutkan hidup seperti adanya. Rutinitas bekerja, bersepeda, dan minum kopi sebelum pergi tidur tetap dilakukannya, tak ada beda. Yang berbeda adalah situasi isi hati Trias.

Sepeninggal Nika, Trias benar-benar merasakan hakikat dari kesendirian. Kepergian Nika, yang saat kehadirannya sukses melengkapi sekeping puzzle kehidupan Trias itu, seolah mencerabut rasa bahagia yang ia rasakan. Papan puzzle itu kini terbalik, berantakan, dan kepingannya tak lengkap lagi. Ikut dibawa Nika yang telah jauh di sana.

Besok, aku solo touring ke Cirebon, Nika, ucap Trias di dalam hati. Seperti cita-cita kamu sebelum meninggal.

***

Trias berjalan melewati pintu kamar Suzie yang terbuka. Perhatian Suzie dari acara infotainment yang ditayangkan salah satu channel TV pun teralihkan pada sosok tubuh pesepeda itu. Ia bangkit.

“Dul!” panggilnya riang.

Yang dipanggil menoleh, lalu tersenyum sekilas, tanpa berhenti melangkah menuju kamarnya. Setelah tiba di depan kamar, ia melangkah berbalik arah. Menghampiri Suzie.

“Ada apa, Zie?” sapanya.

“Ah, nggak,” Suzie nyengir. “Sekadar menegur, kok!”

“Oh,” bibir Trias membulat.

“Besok ‘kan libur,” ucap Suzie. “Aku mau…”

“Aku ke kamar dulu, ya!” potong Trias. “Mau setting sepeda dan packing barang. Besok jam empat subuh aku touring ke Cirebon.”

Suzie yang sedianya akan mengajak Trias merayakan ulang tahunnya yang jatuh esok hari, dengan makan bersama di sebuah warung kakilima, hanya bisa mengangguk. Ia terpaksa mengurungkan niatnya itu.

Trias berlalu, masuk kamar.

***

Suzie menyadari betapa Trias seolah menghindarinya. Semua berawal dari dirinya yang tak mampu menepati janji. Yang membuatnya bingung, mengapa Trias dapat begitu marah hingga berlarut-larut seperti ini. Hingga berbagai hal baik yang pernah Suzie lakukan, seolah menguap begitu saja.

Aku memang pernah punya salah, batinnya. Tolong maafkan salahku itu, Dul…

***

Di lain pihak, Trias menyadari bahwa sikap menghindar yang ia lakukan terhadap Suzie, berpotensi menyakiti hati wanita cantik itu.

Aku minta maaf kalau sikapku menyakiti hati kamu, ucapnya di dalam hati. Tapi, nggak akan ada asap kalau nggak ada api, Zie.

***

Selepas pukul tujuh malam, Trias merampungkan persiapannya untuk berangkat touring besok subuh. Kedua tas pannier telah di-packing, siap dipasang pada rak belakang, besok pagi. Pengecekan sepeda dan sparepart vitalnya pun telah dilakukan dengan teliti.

Dan kini, saatnya makan malam!

Trias bersiap mencari makan di luar. Sekitar tiga ratus meter dari rumah kost ini terdapat sebuah area yang dijajari belasan gerobak dengan komoditas dagangan beragam. Area itulah yang menjadi tujuan Trias saat ini.

Para penghuni kost menjuluki area tersebut sebagai Alun-alun. Meski julukan tersebut tidak tepat, karena tak ada lapangan luas di sana. Namun, mengingat kesemarakan yang terjadi di sana pada setiap jam makan, penyematan nama Alun-alun menjadi cukup beralasan.

Area tersebut adalah pusat keramaian dari satu wilayah yang menjadi kantung permukiman kelas pekerja dan mahasiswa ini.

Saat menutup dan mengunci pintu, Trias melihat Suzie sedang terpekur di kamarnya, duduk menghadapi meja tulis. Entah apa yang sedang dilakukannya, Trias tak bisa melihatnya dengan jelas.

“Zie,” sapa Trias di ambang pintu.

Suzie tampak agak tercekat, lalu menoleh. Ia tersenyum. “Iya, Dul?”

“Cari makan, yuk!” ajak Trias. “Karena aku baru dapat rezeki, makan malam kali ini aku yang traktir.”

“Gaya!” Suzie tertawa kecil. Lalu bangkit. “Tunggu sebentar, aku pakai jaket dulu.”

Trias pun menutup pintu, lalu duduk di kursi plastik di depan kamar Suzie.

***

“Kamu yang pilih, mau makan di mana,” ujar Trias. “Nggak usah pikirkan harganya.”

“Mmh… sombong,” tukas Suzie.

“Pikirkan aja gimana cara bayarnya,” lanjut Trias.

Suzie tergelak.

Pilihan mereka adalah lapak pecel lele. Trias memesan pecel ayam, sementara Suzie memilih menu utama di lapak tersebut: pecel lele. Pilihan yang mentok, sebenarnya. Karena telah puluhan kali mereka memilih lapak tersebut saat makan malam bersama.

“Berapa orang yang berangkat besok?” tanya Suzie, saat menanti pesanan selesai diracik.

“Satu orang,” jawab Trias.

“Satu orang?” seru Suzie. “Maksudnya, kamu sendirian?”

Trias mengangguk mantap. “Namanya solo touring.”

Mendadak Suzie merasakan kekhawatiran. “Nggak takut?”

“Kenapa mesti takut?” tanya balik Trias.

Kalau kamu pacar aku, batin Suzie berandai-andai. Udah pasti kularang pergi, Dul!

“Hati-hati di jalan, ya,” gumam Suzie. “Kamu mesti balik lagi ke sini.”

“Iyalah!” Trias tergelak. “Aku kost di sini, masa’ pulang ke Soreang?”

“Nggak lucu,” tukas Suzie, seraya menyikut pinggang Trias.

Pesanan mereka tiba.
“Ah… makan besar kita!” seru Trias bersemangat.

Suzie tersenyum geli. Terlebih ketika melihat laki-laki di sebelahnya langsung menggarap nasi dan pecel ayamnya dengan begitu lahap.

“Prepare buat touring itu bikin lapar, ya?” ledeknya.

“Hmm?” Trias hanya bisa bergumam karena mulutnya penuh makanan. Setelah menelan makanannya, “Menabung kalori dan karbohidrat, Zie. Bersepeda jarak jauh butuh banyak tenaga, membakar banyak kalori. Jadi, dua hari sebelum keberangkatan, alias sejak kemarin, aku udah harus menyimpan kalori, untuk dilepas selama perjalanan.”

“Iya, sih,” tanggap Suzie. “Jadi, selama perjalanan, kamu sama sekali nggak makan?”

“Sekali pas jam makan siang,” jelas Trias. “Sekali lagi makan malam pas sampai di tujuan. Di tengah perjalanan, diganjal dengan pisang, cokelat atau roti. Bahaya juga kalau di tengah perjalanan kita makan terlalu kenyang.”

Suzie manggut-manggut. “Nah, kamu udah menyiapkan pisang, cokelat dan rotinya?”

“Udah,” jawab Trias. “Kamu punya niat membelikan, ya? Silakan. Buat perjalanan pulang.”

“Ge-er!” umpat Suzie, diiringi derai tawa.

“Dul…” gumam Suzie. “Tujuan kamu touring besok, apa?”

“Nggak ada tujuan spesifik,” jawab Trias, berbohong. Ia tak mau membeberkan alasan yang sebenarnya, karena tak ingin membuat Suzie cemburu. “Aku belum pernah gowes ke Cirebon. Itu aja.”

“Benar cuma itu?” selidik Suzie. “Nggak ada motif lain?”

“Contohnya?”

“Pelarian, misalnya.”

Trias tergelak. “Pelarian kok pakai sepeda. Penggowesan, Zie.”

“Lagi-lagi, nggak lucu,” rutuk Suzie, cemberut.

Selanjutnya, keduanya makan dalam diam. Trias baru kembali bicara, saat nasi dan pecel ayam di piringnya tandas, sementara Suzie telah lebih dulu menghabiskan makan malamnya.

“Sebenarnya, ada satu alasan lagi, kenapa besok aku gowes,” ujar Trias.

Suzie menatap Trias dengan gestur bertanya.

“Aku mau menegaskan kesendirian,” ujar Trias. “Makanya aku gowes sendiri.”

“Maksudnya?”

“Yaa… akhir-akhir ini, sehari-hari aku terbiasa sendiri. Cuma touring aja yang bareng teman,” jelas Trias. “Apa salahnya kalau aku mencoba sekali-kali touring sendiri?”

Suzie tak kuasa menanggapi. Speechless. Kalimat itu diucapkan Trias dengan nada enteng, namun Suzie dapat melihat semburat kekecewaan pada sorot mata laki-laki itu.

“Hayu, ah!” seru Trias, sambil menepuk bahu Suzie. “Kita beli jus di depan minimarket.”

Suzie tersadar dari ketertegunannya. Lalu bangkit, mengekor Trias yang ternyata sudah menyelesaikan pembayaran.

Lama juga ya, aku bengong! batinnya.

***

Terlepas dari keceriaan yang ditampilkan Trias, Suzie melihat hal tersebut sebagai kedok untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari lelaki itu. Kesunyian. Perasaan itu kentara sekali dilihat Suzie dari sorot mata Trias.

“Jangan bengong terus,” usik Trias. “Jus stroberi-ku hampir habis, punya kamu malah belum sempat diminum!”

“Kenyang,” alasan Suzie. Padahal, yang terjadi sesungguhnya, adalah mood-nya yang berantakan saat Trias mengatakan alasannya nekat melakukan solo biketouring besok.

“Kalau kenyang, simpan dulu di kulkas aja, ya!” cetus Trias, seraya mengulurkan tangan dengan gestur meminta. “Sini.”

Suzie menyerahkan jus alpukatnya. Trias menyimpannya di dalam salah satu kompartemen lemari es.

“Buat diminum kapan-kapan,” ucap Trias.

Suzie hanya mengangguk sembari tersenyum.

Bermenit-menit, keduanya saling diam. Trias asyik meng-upload foto-foto persiapan touring-nya ke laman grup sepeda di situs Facebook. Sementara Suzie hanya diam, memerhatikan sosok Trias yang duduk di hadapannya.

“Cocok pisan!” seru Trias, tak lama kemudian.

“Apanya yang cocok?” Suzie tergelitik mendengar pekik semangat Trias.

“Ada anggota klub sepeda yang siap menampung selama aku di Cirebon,” jelas Trias. “Jadi aku nggak perlu pusing memikirkan akomodasi.”

“Memang biasa kayak gitu, ya?” tanya Suzie.

“Begitulah,” Trias tersenyum. “Waktu touring ke Bali, selama perjalanan pergi dan pulang, kami sama sekali nggak keluar uang buat sewa penginapan. Selalu ada yang menampung. Tinggal kabari rencana keberangkatan di media sosial, sepanjang perjalanan banyak yang menyambut.”

“Keren,” komentar Suzie kagum.

“So, meskipun besok aku solo touring, kamu nggak usah khawatir,” Trias menatap Suzie lekat-lekat. “Banyak teman yang mengiringi, kok!”

Suzie terdiam lagi, termenung lagi. Trias cukup heran.

“Lagi ada yang dipikirkan, ya?” selidik Trias. “Dari tadi bengong melulu.”

Suzie hanya tersenyum.

“Ghani?” tebak Trias.

Suzie diam, lalu mengangguk pelan.

Aku tahu, bukan Ghani penyebabnya, batin Trias. Penyebabnya justru lagi duduk di depanmu. Duh… maafin aku, Zie…

“Kalau soal Ghani, aku nggak mau ikut campur,” ujar Trias. “Itu privasi kalian.”

Lagi-lagi, Suzie hanya tersenyum.

Ponsel Trias berbunyi lagi. Laki-laki itu kembali asyik dengan gadget-nya. Suzie? Lagi-lagi diam.

Sepuluh menit kemudian, Trias meletakkan ponselnya di atas meja tulis. Lalu,

“Kamu kangen suasana seru kalau kita lagi nongkrong berdua, ya?” cetus Trias. “Karena akhir-akhir ini kita jarang cari makan bareng. Iya, ‘kan?”

Suzie tak menjawab. Malah menundukkan kepala.

“Nggak usah malu untuk mengakui,” lanjut Trias. “Karena aku juga merasakan hal yang sama.”

Suzie masih saja tertunduk.

“Aku minta maaf,” sambung Trias lagi. “Akhir-akhir ini jarang menegur kamu. Nggak pernah ajak kamu cari makan malam lagi.”

“Semenjak Anna menikah dan berhenti nge-kost, tinggal kamu lah tetangga dan sahabat terdekatku di kost-an ini, Dul,” Suzie mengangkat wajah, dan menatap Trias dalam-dalam. “Lalu tiba-tiba kamu menghindar.”

“Bukan menghindar, tapi aku sibuk,” jawab Trias. “Kerja, kumpul sama anak-anak klub sepeda, dan touring. Aku jadi jarang ada di sini. Kalau pun ada di kamar, pasti tidur. Capek.”

Suzie hanya mengangguk.

“Dan ada Nika,” tambah Trias. “Biar gimana, meskipun kami nggak pernah benar-benar pacaran, aku harus kasih prioritas lebih untuk dia.”

“Begitu, ya?” jelas, Suzie tidak begitu saja percaya dengan alasan yang dikemukakan Trias.

“Dan ketika aku punya waktu luang,” tambah Trias. “Kamu lagi dikunjungi Ghani.”

“Kamu cemburu sama Ghani?” tanya Suzie lugas, tepat sasaran.

Iya, jelas aku cemburu, ucap Trias, hanya di dalam hati. Yang terucap di bibir adalah, “Aku bukan siapa-siapamu. Jadi, aku nggak punya hak untuk cemburu.”

Suzie tersenyum. “Kamu ‘kan sahabatku. Wajar kalau kamu cemburu.”

“Skala prioritas, Zie,” ujar Trias. “Udah semestinya, kamu memprioritaskan Ghani lebih daripada aku, yang cuma sahabatmu. Seperti juga aku memprioritaskan Nika lebih daripada kamu.”

Telak. Kata-kata Trias tepat mengenai sasaran. Hingga Suzie tak mampu membalas lagi.

“Sebentar, aku ke kamar,” pamit Trias, seraya bangkit. “Dua menit.”

Suzie mengangguk.

Dan Trias kembali ke kamar Suzie dengan sebuah bingkisan kado berukuran sedang di tangannya. Suzie sampai terlongo.

“Semoga kamu mengerti, kalau aku nggak bisa kasih kado ini tepat di hari ulang tahun,” ucap Trias. “Nggak apa-apa ya, kadonya sehari lebih cepat?”

Suzie bangkit, dan menerima kado itu. Lalu, tiba-tiba didekapnya tubuh Trias. “Makasih banyak, Trias. Aku sama sekali nggak menyangka.”

Merasa risih, Trias melepaskan diri dari pelukan Suzie. Namun, sorot matanya yang dalam membuat Suzie merasa Trias masih ada dalam pelukannya.

“Kamu pasti heran, kenapa aku bisa tahu kalau besok adalah hari ulang tahunmu,” ujar Trias.

Suzie mengangguk.

“Téh Anna yang bilang, tadi pagi,” beritahu Trias. “Berhubung besok udah ada rencana touring, tadi siang kucari kado. Semoga kamu suka.”

Suzie bersiap membongkar bingkisan pemberian Trias.

“Jangan sekarang,” cegah Trias. “Nanti aja, pas aku udah nggak ada di sini.”

“Oke,” sanggup Suzie.

“Selamat tidur,” ucap Trias pelan.

***

Trias sudah kembali ke kamarnya. Kini Suzie sedang membongkar bingkisan kado dari Trias.

“Gusti…” Suzie menutup mulut dengan telapak tangan kirinya, saat mengetahui isi kado itu.

Kedua matanya mendadak panas. Dan sejurus kemudian, air mata pun menitik dan mengalir di pipi kanannya.

***

7 jam berselang,
“Dul…” bisik Suzie, sambil menepuki pipi kiri Trias dengan telapak tangan kanannya.

Sedetik kemudian, Trias membuka mata. Sedikit mengerutkan kening, lalu tersenyum. “Kenapa, Zie?”

“Udah jam tiga,” beritahu Suzie. “Mau berangkat touring, ‘kan?”

Trias langsung bangkit untuk duduk. “Aku nggak minta dibangunkan. Tapi, makasih ya, Zie.”

“Iya,” jawab Suzie, tersenyum. “Mandi, gih! Biar segar.”

***

Ketika sepuluh menit kemudian Trias keluar dari kamar mandi, kopi hitam telah tersaji. Plus dua potong roti selai nanas.

Trias berjongkok menghadapi piring berisi roti itu, lalu mencomot sepotong di antaranya.
“Aku berasa punya istri,” candanya. “Ada yang membuatkan sarapan.”

Suzie tergelak. “Makanya, cepat nikah!”

“Iya, ini aku lagi cari calon istrinya,” tanggap Trias, seraya menatap kedua bola mata Suzie lekat-lekat. Tuh… kode, tuh! Semoga kamu mengerti…

Desir asing menghinggapi hati terdalam Suzie. Membuatnya, dengan tergesa-gesa, memalingkan wajah dari tatapan Trias. Tanpa perlu memandang cermin, ia sudah tahu bahwa saat ini, pipinya merona.

***

Beruntung, Trias membelokkan arah pembicaraan. Tepatnya, SENGAJA membelokkan arah pembicaraan.

“Mau dibawakan apa dari Cirebon?” tanya Trias.

Suzie mengembuskan napas lega.

“Kamu boleh minta apa aja, asal jangan yang bobotnya berat,” sambung Trias. “Ingat. Aku touring pakai sepeda, bukan truk Fuso!”

Suzie tertawa geli. “Hmm… apa, ya? Aku bingung, Dul.”

“Ya udah,” gumam Trias. “Googling dulu, Zie. Nanti kalau udah ketemu, screenshot aja. Lalu kirim via WA.”

Suzie tertawa lagi.

***

Sekitar 35 menit sisa waktu yang tersedia sebelum jadwal keberangkatan, dilewati dengan canda dan tawa. Tepatnya, Trias yang tak henti bercanda, dan Suzie yang terus tertawa. Membuat suasana rumah kost menjadi agak riuh.

Hingga kemudian Trias bersiap untuk pergi. Terlihat dari gestur tubuhnya, yang berdiri dan menjinjing dua buah tas pannier. Barang bawaan itu menggelitik rasa ingin tahu Suzie,
“Gimana cara bawanya, Dul?” tanyanya.

Trias tak menjawab. Ia malah melenggang cuek ke luar kamar, menghampiri sepedanya. Lalu memasangkan kedua tas tersebut pada rak belakang, masing-masing di kanan dan kiri. Setelah rampung, ia kembali masuk kamar.

“Nah, begitu cara bawanya, Zie,” ujarnya, sambil tersenyum.

“Ah, iya,” Suzie mengangguk. “Jadi, itu tho, fungsi rak besi di sepedamu?”

“Yupz,” Trias mengacungkan ibu jari tangan kanannya.

“Yang depan itu,” tatapan mata Suzie mengarah pada rak depan di sepeda Trias. “Fungsinya sama?”

“Sama,” jawab Trias. “Bedanya, ukuran tasnya lebih kecil.”

“Nggak kamu bawa hari ini?” tanya Suzie.

Trias menggeleng. “Karena perjalanan totalnya cuma dua hari, jadi cukup bawa dua tas.”

“Nah, nanti oleh-oleh buat aku, disimpan di mana?” seloroh Suzie.

“Gampang, Zie,” Trias mengedipkan kelopak mata kirinya. “Buat kamu, apa sih yang nggak aku usahakan?”

Suzie mencubit lengan kanan Trias.

***

“Dul…” ucap Suzie pelan.

“Iya, Zie?” tanggap Trias sambil menatap Suzie lembut.

“Hati-hati di jalan,” pesan Suzie. “Kamu harus kembali ke sini. Aku belum bayar utang.”

“Utang apa?” tanya Trias.

“Traktiran,” jawab Suzie. “Aku udah terima kado dari kamu, yang berkesan banget buat aku. Nanti, aku traktir kamu makan enak dan berkesan, mudah-mudahan.”

“Karena kamu janji mau traktiran,” bola mata Trias berbinar. “Aku pasti balik lagi.”

“Dasar,” Suzie tertawa.

***

Trias memakai kaus kaki dan sepatunya, lalu sarung tangan. Terakhir, dipakainya helm merah kesayangannya.

“Aku berangkat,” ucapnya, seraya berdiri. “Cepat tidur, Zie. Aku tahu, kamu sama sekali belum tidur.”

“Demi kamu,” Suzie menjulurkan lidah. “Demi bikin kamu berasa punya istri.”

“Nanti kubalas,” Trias tergelak. “Selamat ulang tahun.”

***

Trias sudah pergi. Memulai perjalanan bersepeda jarak jauh yang, bagi mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk kategori kurang kerjaan. Namun, hal ‘kurang kerjaan’ itulah yang justru sukses memelihara semangat hidup Trias.

Jaga diri, Trias… ucap Suzie di dalam hati. Kamu harus kembali dengan selamat.

Bersambung