Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat

Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 30

Sh*t Happens

Kekasih hatiku,
janganlah kau bermuram durja.
Lebih baik bersepeda mengitari kota,
suka-suka.

(The Changcuters – Suka-suka)​

Trias duduk sendiri menghadapi secangkir kopi hitam dan setangkup surabi oncom. Mmm… tidak sepenuhnya sendiri, karena ada tiga pasang muda-mudi di sekelilingnya, melakukan hal yang sama. Trias adalah satu-satunya orang yang tanpa teman di lapak surabi sederhana itu. Bahkan si pedagang pun adalah sepasang suami-istri.

Trias pun menjadi satu-satunya orang yang menyambangi lapak itu dengan sepeda. Tunggangan kesayangannya bersanding dengan empat sepeda motor, milik tiga pasang muda-mudi dan sepasang suami-istri pemilik lapak. Namun ia sama sekali tidak merasa minder. Pengalaman membuktikan, Trias tak pernah mati gaya hanya karena bersepeda. Justru sebaliknya.

Satu-satunya ganjalan kecil hanyalah kenyataan bahwa dirinya harus membungkam diam karena datang ke tempat tersebut tanpa teman bicara. Tanpa Nika, yang tiga bulan lalu pernah ia ajak ke tempat yang sama, setelah melewati perjalanan dengan sabar, karena gadis manis itu harus meniti setiap jalan menanjak dengan tempo kayuhan yang lambat.

Tempat ini akan selalu mengingatkannya kepada sosok Nika. Gadis yang pernah dan masih sangat dicintainya, meski rohnya telah pergi lebih dari sembilan pekan yang lalu. Kepergian Nika tidak serta membuat memori di otak Trias ikut pergi. Justru sebaliknya, bayang gadis itu bersemayam kuat di benaknya.

Ya, kehadiran Nika dalam keseharian Trias hanya sebentar saja. Namun, kesan yang ditinggalkannya begitu mendalam. Hingga Trias pun tak mampu lantas bangkit hanya dalam hitungan hari. Entah berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk benar-benar bisa berdiri kokoh lagi.

Malam ini, cuaca Lembang terasa lebih dingin daripada biasanya. Mungkin karena tadi sore kota Bandung diguyur hujan deras.

“Surabinya jadi cepat dingin ya, Bu,” ujar Trias.

Ibu penjual surabi itu tersenyum. “Maklum, hawa lagi dingin pisan, Cép.”

“Iya,” Trias ikut tersenyum. “Coba Ibu berinovasi, atuh!”

“Inopasi apa, Cép?” kening si Ibu berkerut.

“Bikin surabi yang panasnya awet,” jawab Trias. “Tahan sampai dua jam, gitu!”

“Gimana caranya atuh, Cép?” si Ibu tergelak. “Udah kodratnya, semua makanan juga lama-lama pasti dingin kalau udah diangkat dari cetakan atau katel-nya.”

Trias menahan tawa.

“Kalau inovasi rasa, pasti bisa atuh, Bu?” lanjut Trias. “Bikin yang rasa coklat, keju, atau blueberry.”

“Masa’ merek hape dijadikan rasa surabi?” protes si Ibu.

“Itu mah Blackberry, Ibu…” Trias tergelak.

“Oh,” gumam si Ibu, menutup mulutnya yang menyunggingkan senyum dengan telapak tangan kirinya.

“Jadi kumaha, Bu?” tanya Trias lagi.

“Kumaha apanya, Cép?” tanya si Ibu.

“Itu… ide inovasi rasa,” jawab Trias.

Si Ibu langsung menggeleng. “Ibu mah bikin surabi tradisional aja, lah. Surabi yang rasanya aneh-aneh ‘kan udah bagian orang lain.”

“Eh, dicoba aja, Bu,” saran Trias. “Siapa tahu lapak Ibu jadi makin ramai.”

“Segini juga udah ramai, Cép,” si Ibu tertawa kecil. “Buktinya, Acép sama teman-temannya, sama pacarnya, sering ngagowes ke sini. Padahal Ibu cuma jualan surabi tradisional.”

“Iya, sih…” Trias nyengir.

Ketika dunia telah dipenuhi hal-hal berbau modern, manusia cenderung mencari sesuatu yang tradisional dan masih kuat memegang teguh patron lokal. Mungkin hal itu pulalah yang membuat Trias, juga tiga pasang muda-mudi lainnya, memilih untuk tetap menyantap surabi klasik, meski banyak surabi dengan topping modern ‘menggempur’ kota Bandung.

Namun, harap bedakan fenomena tersebut dengan pilihan Trias untuk bersepeda di tengah gempuran sepeda motor yang kian lama kian membanjiri negara kita. Karena pada kenyataannya, di belahan Eropa sana, yang kerap dikatakan sebagai bangsa modern dan maju, sepeda justru menjadi moda transportasi harian favorit, mengalahkan sepeda motor dan mobil.

Itulah sebabnya mengapa Trias tak pernah merasa minder bersepeda setiap hari, ke mana pun dan kapan pun. Justru sebaliknya, ia bangga karena sudah memberikan sedikit solusi mengatasi masalah pencemaran lingkungan. Ia berharap, makin banyak rekan-rekannya yang rutin bersepeda sebagai alat transportasi. Tidak sebatas bersepeda di akhir pekan saja.

Tiba-tiba, Trias teringat akan ucapan Nika

“Kalau aku udah sembuh, kita touring ke Cirebon, yuk?”

Kala itu, Trias mengiyakan, dengan syarat gadis itu harus sudah benar-benar sembuh. Jarak antara Bandung dan Cirebon sangat jauh bila ditempuh dengan bersepeda. Ia tak mau mengambil resiko, andai Nika anfal di tengah perjalanan, karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

Nyatanya, saat penyakit kanker Nika makin berkurang, gadis itu terlanjur dipanggil Tuhan dengan cara yang berbeda. Dan rencana touring itu pun harus kandas. Ikut terkubur bersama jasad Nika.

Sebuah ide mendadak muncul di otak Trias,

Kenapa aku nggak solo touring ke Cirebon aja? batinnya mendadak bersemangat. Aku bawa cita-cita Nika ke sana.

Sambil tetap menghadapi surabi oncom dan kopi hitam, rencana pun tersusun di otak Trias. Layaknya pesepeda dengan genre perjalanan jarak jauh, Trias bersemangat sekali. Benaknya penuh dengan rasa antusias. Andai saat ini ia sedang duduk berdua dengan seorang rekannya sesama pesepeda, obrolan pasti akan melulu berisi soal touring.

Hari keberangkatan, 35 hari dari sekarang, putusnya. Alias tepat 100 hari kematian Nika.

Ia menghitung, masa 35 hari sudah lebih dari cukup untuk melakukan persiapan, baik sepeda, perbekalan, juga pengkondisian tubuh. Hingga saat D-day, tubuh Trias akan berada pada level maksimal, sesuai kemampuan tubuhnya.

Trias merasa sangat excited. Hal yang cukup langka ditemukan pada dirinya, pasca kematian Nika. Namun, sikap antusias tersebut mendadak hadir, hanya karena membayangkan perjalanan bersepeda jarak jauh.

Ah… dasar goweser! gumamnya di dalam hati. Mengaku sulit move on, tapi mendadak bisa bangkit cuma gara-gara ide touring.

Diam-diam Trias tersenyum geli.

Bukan Kang Jan atau Teh Anna, apalagi Suzie, yang membantuku bangkit. Tapi sepedaku.

Sejurus kemudian, Trias pun melupakan Suzie dan segala kekecewaannya terhadap wanita seksi itu. Berganti bayangan tentang Cirebon, touring, dan tentu saja, Nika.

***

Belasan kilometer dari Lembang, di Kost-an Sejahtera,

Suzie bingung sendiri. Di satu sisi, Nika dan Anna memintanya untuk menemani dan menjaga Trias. Dengan caranya yang berbeda, baik Nika dan Anna seolah memaksa Suzie untuk berjanji, akan membahagiakan Trias.

Namun, di sisi lain, sang objek malah terus menghindarinya. Menemukan Trias di kamarnya, adalah hal langka. Lelaki itu lebih banyak berada di luar kost-an, dan baru kembali ketika malam telah cukup larut. Sebaliknya, Trias sudah keluar kost-an pagi benar, bahkan sebelum Suzie terbangun.

Kalau begini, bagaimana bisa Suzie menepati janjinya terhadap Nika dan Anna?

Situasi makin pelik, ketika Ghani bertingkah makin aneh. Tanpa mau mengerti perasaan dan suasana hati Suzie, pria itu makin sering meminta hal-hal di luar kewajaran. Ghani tahu cara tepat memanfaatkan video porno tersebut untuk mengikat Suzie. Dan Suzie tahu, tak ada gunanya melawan, karena ia tak punya kekuatan.

Suatu malam, ketika mereka di tengah perjalanan dengan sepeda motor, seusai menyaksikan konser mini di sebuah auditorium, Ghani melontarkan keinginan gilanya,

“Aku nanti minta kamu blowjob kontol aku.”

Permintaan wajar bagi Suzie, mengingat sudah belasan penis pria yang bersarang di rongga mulutnya. Yang tidak wajar, adalah lanjutan kalimat Ghani,

“Di flyover Pasupati, sambil melihat permukiman Taman Sari di bawah sana.”

Disertai sumpah serapah, jelas Suzie menolaknya. Namun, sejurus kemudian, penolakan itu mentah. Video porno itulah kuncinya. Dan mau tidak mau, Suzie memenuhi keinginan Ghani, meski disertai rasa khawatir dan malu, sekaligus sensasi aneh bercinta di bawah atap langit terbuka.

Di hari lain, pada suatu siang di kost-an, Suzie terbangun dari tidur siangnya dalam keadaan busana yang telah terbuka di sana-sini. Saat belum mengerti apa yang terjadi, ia dibuat terkejut ketika menyadari Ghani duduk telanjang bulat di sisinya. Dan belum sempat mempertanyakan, lelaki itu telah menerkam tubuhnya, kemudian melesakkan dalam-dalam penisnya ke rongga kemaluannya.

Dapat dibayangkan betapa perih dan ngilu liang vaginanya, akibat dipenetrasi dalam kondisi kesat. Tanpa stimulasi apa pun.

“Aku lagi sange’ berat,” alasan Ghani. “Daripada perkosa anak SMA, mendingan entotin kamu.”

Perih dan ngilu pun dirasakan hatinya, mendengar alasan tersebut.

Kian hari, Ghani makin tidak peduli situasi. Tidak peduli suasana hati. Keinginannya harus selalu dituruti, jika perlu, sesegera mungkin. Suzie makin sulit mengimbangi ‘gaya main’ yang diinginkan Ghani.

Imbasnya, Suzie semakin yakin bahwa Ghani bukanlah sosok yang tepat untuknya. Ia semakin ingin melepaskan diri dari jerat yang dibuat oleh Ghani. Kesehariannya terasa makin tak nyaman, andai harus dilalui dengan cara seperti ini.

Namun, Ghani lebih cerdik dengan mengikat Suzie makin erat. Jerat yang dibuat Ghani terasa membelit rumit kehidupan Suzie. Hingga tanpa daya apa-apa, Suzie terpaksa mengikuti alur yang diciptakan Ghani.

Suatu sore, Suzie yang datang ke kost-an dengan dikawal Ghani, mendapati Trias sedang mencuci sepeda kesayangannya. Suatu sore yang langka, karena akhir-akhir ini Trias tak pernah berada di kost-an sebelum hari gelap. Jelas, Suzie merasa senang atas kehadiran laki-laki itu.

Dari cara lelaki itu memperlakukan sepeda, siapa pun dapat melihat betapa Trias menyayangi sepedanya itu, layaknya terhadap makhluk bernyawa. Diam-diam, Suzie tersenyum mendapati fenomena relationship unik antara seorang manusia dan benda kesayangannya itu.

Tanpa sengaja, Trias beradu pandang dengan Suzie. Ada sunggingan senyum, namun segera menguncup ketika mendapati Ghani mengekor di belakang Suzie. Sorot matanya, ah… Suzie miris melihatnya. Menyiratkan kekecewaan dan rasa gamang. Sorot mata nanar, tanpa nyawa, meski tetap tersisa kejenakaan di dalamnya.

Suzie lebih menyukai sorot mata nyalang yang menyimpan naluri membunuh. Atau sorot mata birahi yang seolah menelanjangi. Namun, ia selalu tak tahan dengan sorot mata kecewa. Terlebih sorot mata tersebut ia dapati dari bola mata seseorang yang secara perlahan makin merasuki hatinya itu.

Dul… aku selalu kepingin membahagiakan kamu, batin Suzie. Aku selalu kepingin melihat senyum dan tawa ringan kamu. Aku selalu kepingin kamu seperti itu karena aku, bareng aku. Tapi, aku terjebak, Dul…

Terbersit niat untuk membeberkan cerita tentang video porno yang ia buat bersama Ghani, kepada Trias. Ia berharap, Trias dapat membantunya dengan solusi brilian, hingga dirinya mampu terbebas dari jerat yang mengikatnya. Suzie yakin, Trias tentu cukup cerdas untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Tapi, aku nggak pernah ada ketika si Adul butuh seseorang, ucapnya di dalam hati. Rasanya kurang ajar, ketika sekarang aku malah datang untuk minta bantuan.

Lagipula, Suzie tidak berhasil menemukan celah yang bisa ia gunakan untuk lepas dari kekangan Ghani. So, bercerita kepada Trias hanyalah akan menjadi sekadar mengumbar aib, sementara belum tentu lelaki itu bisa membantunya.

***

Salah satu kebahagiaan menjadi pesepeda, adalah saat menemukan jalan menurun. Karena pada saat itulah seorang pesepeda dapat memacu tunggangannya dengan laju, tanpa perlu mengeluarkan tenaga. Mengikuti hukum gravitasi. Bahkan, seorang pesepeda yang berani dan agak nekat, bisa saja menyalip sepeda motor saat jalan menurun.

‘Kebahagiaan’ serupa itulah yang kini sedang dialami Trias. Menuruni Jl. Setiabudhi, sejak Eldorado Dome hingga persimpangan Jl. Gegerkalong. Tak peduli terpaan angin kencang dan dingin saat sepedanya melaju cepat. Bedanya, Trias tak senekat para pesepeda pemberani itu, karena ia masih sadar untuk secara berkala menarik handle rem.

Banyak pehobi sepeda yang berpendapat, kelebihan merek sepeda seperti yang digunakan Trias adalah dapat melaju lebih cepat saat jalan menurun. Ini karena merek sepeda buatan dalam negeri tersebut memiliki bobot lebih berat dibandingkan sepeda masa kini. Namun, kelemahannya, sepeda berbahan chromoly itu menjadi lebih berat dikayuh saat jalan datar, apalagi tanjakan.

Kelebihan itulah yang membuat Trias tidak berani membesut sepedanya terlalu cepat saat melewati jalanan menurun. Resiko kecelakaan lebih besar.

Trias membelokkan arah sepedanya memasuki ruas Jl. Gegerkalong. Suasana di titik itu masih cukup ramai oleh anak-anak muda yang berlalulalang mencari makan. Wilayah tersebut memang termasuk kantong permukiman mahasiswa, karena tak jauh dari sana terdapat kampus sekolah perhotelan, perguruan tinggi swasta dan universitas keguruan.

Perjalanan Trias hampir mencapai ujungnya. Dari titik tersebut, jarak tempuh hanya tinggal sekitar 2 kilometer lagi. Dengan kondisi kontur jalan datar, jarak sejauh itu akan mampu dilahap Trias dalam 10 menit saja. Namun, karena trek menuju Ciwaruga dihiasi beberapa tanjakan terjal dan menengah, waktu tempuh pun bisa mulut menjadi setengah jam.

Namun, seberat apapun treknya, Trias selalu menikmati perjalanan bersepeda. Tanjakan seterjal apapun pasti akan dilakoninya, meski harus ditempuh dengan kecepatan 7 km/jam sekalipun, dan keringat bercucuran di dahi dan lehernya.

Di daerah Cipedes, Trias melintasi sebuah minimarket. Bukan hal yang istimewa. Namun menjadi cukup menarik perhatian, karena tanpa sengaja ia melihat sosok Suzie dengan sudut mata kirinya. Trias pun melambat, lalu membunyikan klakson sepedanya, hingga wanita itu menyadari keberadaannya.

Suzie tersenyum, dan tentu saja dibalas senyuman jenaka oleh Trias. Namun, sejurus kemudian, senyuman Trias meredup. Dan hal tersebut disusul dengan gerakan kayuhan sinkron kaki kanan dan kirinya yang secara drastis dipercepat, hingga laju sepedanya pun menjadi lebih cepat pula.

Yah… wanita cantik penyejuk hati, gumam Trias di dalam hati. Plus lelaki ganteng nan kurang ajar perusak konsentrasi. F*ck off!

***

“Ke minimarket dulu, ya!” ujar Ghani, saat sepeda motor yang ia tunggangi sambil membonceng Suzie melaju di atas aspal Jl. Setiabudhi.

“Ngapain?” tanya Suzie.

“Rokokku habis,” jawab Ghani.

“Oh,” gumam Suzie. “Di Cipedes ada minimarket yang buka 24 jam.”

“Siap,” sanggup Ghani.

Singkatnya, mereka sudah tiba di minimarket yang dimaksud Suzie.

“Kamu mau beli apa?” tanya Ghani.

“Nggak usah,” jawab Suzie. “Sok aja.”

“Ya udah,” gumam Ghani, sambil bersiap memasuki bangunan minimarket.

“Aku tunggu di sini aja, ya!” seru Suzie.

“Iya,” tanggap Ghani sambil lalu.

Ghani pun memasuki minimarket, sementara Suzie duduk di atas jok sepeda motor.

Minimarket sedang agak ramai. Ketika Ghani masuk, petugas di meja kasir sedang melayani tiga orang konsumen. Terpaksa Ghani ikut mengantri di belakang ketiga orang tersebut, karena tujuannya hanyalah membeli sekotak rokok yang display-nya berada di belakang meja kasir.

Suzie melemparkan pandangan ke arah dalam minimarket. Secara kebetulan, Ghani pun menatapnya dengan gestur no-hope yang menyedihkan, namun di mata Suzie justru terlihat konyol dan menggelikan. Itulah mengapa ia pun tertawa kecil. Dan Ghani cemberut, melihat Suzie menertawakannya.

Ketika situasi normal, Ghani sangatlah menyenangkan. Suzie pun mengakui hal tersebut. Sang lelaki adalah sosok yang tegap dan tampan, berpotensi digilai para wanita. Ketika sikap santai dan jenaka sedang ditampilkan Ghani, semua wanita tentu akan terpesona. Termasuk Suzie, yang pernah sangat mencintai Ghani.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, Ghani lebih sering menunjukkan sikap buruknya. Kerap memaksakan kehendak, dan tak mau mengerti perasaan orang lain. Miris sekali, justru Suzie lebih sering disuguhkan sifat-sifat buruk tersebut. Alhasil, perasaan cinta itu kian meluntur.

Trias adalah kebalikan dari Ghani. Lelaki pesepeda itu mulai hadir di kehidupan Suzie dengan segala sikap misterius dan sisi penyendirinya. Seiring waktu, Trias mulai menunjukkan sifat aslinya yang ramah, kalem dan sedikit konyol itu. Orang-orang yang pada awalnya bersikap sedikit skeptis, berbalik menaruh respek terhadap Trias.

Bersikap gentle, itulah kelebihan Trias dibandingkan Ghani. Hingga meski secara fisik kalah dari Ghani, namun nyatanya banyak wanita yang meras lebih nyaman bersama Trias. Ya, hati wanita mana yang tidak akan meleleh andai diperlakukan secara terhormat, seperti perlakuan Trias?

Duh… kok aku malah membandingkan Ghani dan Adul, sih? keluh Suzie di dalam hati. Hadapi aja seseorang yang sekarang ada di depanmu, Suzie.

Ya, Ghani-lah yang kini selalu berada di dekatnya. Trias entah di mana. So, hadapilah yang ada.

Suzie melemparkan pandangan ke arah jalan, yang mulai lengang karena hari telah cukup larut malam. Arus lalu lintas tidak lagi sepadat sore hari, yang hampir selalu macet itu. Kini hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang, dengan intensitas yang rendah.

Tiba-tiba terdengar suara bel berdenting. Praktis perhatian Suzie pun tersedot pada suara tersebut. Dan disadarinya bahwa suara berdenting itu berasal dari klakson sepeda Trias. Ya, sepeda yang digayuti sebuah tas pannier di bagasi belakang itu melintas di depan minimarket. Sementara sang penunggang menatapnya lekat-lekat.

Suzie tersenyum, dan tentu saja dibalas senyuman jenaka oleh Trias. Namun, sejurus kemudian, senyuman Trias meredup. Suzie agak heran melihat redupnya senyum itu. Terlebih hal tersebut disusul dengan gerakan kayuhan sinkron kaki kanan dan kiri Trias yang secara drastis dipercepat, hingga laju sepedanya pun menjadi lebih cepat pula.

Tak lama, tangan seseorang melingkari pinggang kanannya. Tangan Ghani. Suzie pun langsung tahu, apa yang membuat Trias tiba-tiba mempercepat kayuhan pedal sepedanya.

Adul… batin Suzie. Kenapa kamu mesti secara kebetulan terjebak dalam situasi nggak enak, sih?

Bersambung