Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part
7
Part
8
Part
9
Part
10
Part
11
Part
12
Part
13
Part
14
Part
15
Part
16
Part
17
Part
18
Part
19
Part
20
Part
21
Part
22
Part
23
Part
24
Part
25
Part
26
Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Tamat
Terpurukku di Sini

Cerita Sex Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Cinta

Hiduplah dalam kenangan,
selama diriku masih mencintaimu,
seperti yang dulu.

Kau memori,
yang tersimpan untukku.
Aku mencintaimu.

(Romeo – Memori)‚Äč

Rasanya baru kali ini Suzie mengalami keletihan luar biasa sehabis bercinta. Mungkin, multiple orgasm yang ia alami dalam lima menit terakhir persetubuhannya yang jadi penyebab rasa letih tersebut. Entah teknik apa yang dilancarkan Ghani hingga persenggamaan sore ini terasa begitu memabukkan bagi Suzie.

Padahal, pada awalnya, Suzie merasa sedikit terpaksa saat Ghani mulai mencumbuinya. Namun, sentuhan-sentuhan intens lelaki itu pada titik-titik sensitif di tubuhnya, membuat Suzie terpancing dan terhanyut, mengikuti alur permainan yang diciptakan Ghani. Hingga akhirnya 15 menit persetubuhan tadi pun sukses menjadikan sore harinya begitu indah.

Ya, kian hari, hubungan Suzie dan Ghani kian ‘tidak sehat’. Dulu, mereka menjadikan persetubuhan sebagai sarana pelampiasan nafsu birahi, sebuah alasan yang logis dan lumrah. Namun kini, Suzie dan Ghani kerap menjadikan persetubuhan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka.

Seperti hari ini. Pertemuan mereka baru saja berlangsung kurang dari 10 menit, namun pertengkaran telah dimulai. Semua bermula ketika Trias melintasi pintu kamar Suzie sambil menjinjing sepedanya. Raut wajah murung goweser itu memancing empati Suzie.

“Kasihan si Adul,” gumamnya. “Semenjak Nika nggak ada, nyaris nggak pernah ada senyum di wajahnya.”

Ghani tersenyum. “Kamu pernah kasihan sama aku, nggak?”

“Kasihan kenapa?” kening Suzie berkerut.

“Setiap kamu cerita tentang anak sepeda itu,” jawab Ghani. “Nyaris nggak pernah ada senyum di wajahku.”

Suzie menatap Ghani tajam. “Itu di luar konteks. Nggak sepantasnya kamu ngomong kayak gitu.”

“Sementara, kamu ngomong tentang laki-laki lain di depanku, itu pantas?” Ghani menyerang balik.

“Kamu jealous sama Adul,” sanggah Suxie. “Itu intinya.”

“Dan kamu bahagia karena rivalmu udah tewas,” balas Ghani.

“Kamu…” Suzie tercekat, matanya nyalang menahan amarah. “Mulut kamu, benar-benar sampah.”

Suzie benar-benar naik pitam. Ia merajuk di sudut kamar, sama sekali tak menanggapi kata-kata yang diucapkan Ghani. Ucapan lelaki itu memang keterlaluan. Suzie yakin, andai Trias mendengar, kepalan tangan goweser itu pasti akan mendarat di wajah Ghani.

Namun, Ghani tak kekurangan akal. Tahu persis bahwa libido Suzie mudah terpancing, ia pun menyasar titik tersebut. Meski sempat berontak, lambat laun Suzie terbuai akan stimulasi tanpa henti yang dilancarkan Ghani. Hingga kemudian satu demi satu pakaian di tubuhnya dilucuti.

Dan kemudian terjadilah persetubuhan itu.

Ghani sedang bersiap untuk pulang, seperti biasa dilakukannya saat nafsu birahinya telah terlampiaskan. Kadang, jika merasa belum puas, ia akan kembali memancing gairah Suzie, hingga sang wanita kembali melayaninya. Ya, pria mana yang akan merasa kenyang menggauli tubuh wanita seindah milik Suzie?

Kali ini, Ghani memilih untuk segera pulang setelah menuntaskan satu kali persetubuhan. Suzie pun tidak berusaha memprotesnya. Dengan tubuh yang masih telanjang, tergolek lemas di atas ranjang, ia memberikan anggukan saat Ghani berpamitan. Suzie bahkan tidak lantas bangkit saat Ghani keluar dan menutup kembali pintu kamar.

Pikirannya terus melayang pada sosok Trias di kamar ujung koridor. Amarah Ghani yang memprotes perihal seringnya Suzie membicarakan Trias, sesungguhnya adalah wajar. Tak ada laki-laki yang senang saat teman wanitanya bercerita tentang pria lain di depannya. Jadi, kemarahan Ghani memang beralasan.

Yang tak pernah dimengerti oleh Suzie, adalah mengapa Trias semakin sering merasuki pikirannya. Dulu, benih-benih cinta perlahan tumbuh di hatinya, seiring keakraban dan kebersamaan yang kerap terjadi dalam keseharian mereka. Sesaat Suzie berasumsi, bahwa hal tersebut hanyalah sekadar cinta lokasi saja.

Akhir-akhir ini, lelaki pesepeda itu hampir tidak pernah berinteraksi dengannya. Semenjak Nika tiada, Trias makin larut dalam kesendiriannya. Namun, benak Suzie malah semakin intens menghadirkan sosok Trias di dalam lamunannya. Ini bukan lagi sekadar cinta lokasi, benar?

Keseharian Suzie lebih banyak diisi oleh interaksi dengan Ghani. Namun, secara sadar, pikirannya justru lebih banyak diisi oleh sosok Trias. Hal inilah yang tak dapat dimengerti oleh Suzie.

***

Suzie telah selesai mandi dan berpakaian. Tak ada lagi peluh keringat dan rambut kusut masai sisa persetubuhannya dengan Ghani. Kini Suzie telah kembali segar. Tentu saja, ia terlihat cantik dan memesona.

Ia pun keluar, lalu duduk di salah satu bangku plastik yang selalu ada di depan kamar. Suasana kost-an Sejahtera agak riuh, karena penghuni kamar yang letaknya berbeda empat kamar dari kamar Suzie, sedang kedatangan kakak plus putri-putri kecilnya. Terdengar gelak tawa dan celoteh menggemaskan dari anak-anak balita tersebut.

Suasana kontras terjadi di kamar yang terletak tepat di sebelah kamar riuh itu. Kamar Trias. Pintunya yang terbuka menampakkan apa yang sedang dilakukan goweser sejati itu. Duduk melamun, bersila menghadapi meja tulis. Tatapan yang kosong, menjelaskan secara gamblang betapa kematian Nika benar-benar telah membuat Trias sangat terpukul.

Rasa iba, menggerakkan kaki Suzie untuk mendatangi kamar Trias.

“Dul,” sapanya, berdiri di ambang pintu. “Lagi apa?”

Trias menoleh ke arah suzie, lalu tersenyum. Hanya tersenyum, tanpa ada lanjutan kata-kata apapun.

“Aku boleh masuk?” tanya Suzie lagi.

Trias mengangguk. Lagi-lagi tanpa kata-kata.

Suzie pun masuk kamar, lalu duduk di sebelah Trias. “Cari makan, yuk! Kamu belum makan, ‘kan?”

Trias mengangguk. “Tapi, aku nggak lapar.”

“Kamu harus makan, Dul,” bujuk Suzie. “Cari makan sama-sama, yuk!”

Trias menggeleng.

“Atau mau titip makan sama aku aja?” tawar Suzie. “Mau dibelikan apa?”

“Nggak usah, Zie,” tolak Trias. “Aku beli sendiri aja.”

Suzie menatap Trias lekat-lekat. “Feeling-ku, malam ini kamu nggak akan pernah beli makan sendiri.”

Trias hanya tertawa kecil.

Suzie pun menyerah. Ia kemudian berdiri. “Ya udah, aku cari makan dulu.”

Trias mengangguk, sambil tersenyum.

“Serius, kamu nggak akan cari makan bareng aku?” Suzie mencoba meyakinkan.

Trias kembali mengangguk.

“Oke,” gumam Suzie. “Aku cabut dulu ya, Dul.”

“Hati-hati, Zie,” pesan Trias.

Suzie pun tersenyum.

Ketika Suzie telah berada di ambang pintu, membelakangi Trias,

“Zie…” gumam Trias pelan.

“Iya?” tanya Suzie, seraya balik kanan.

“Aku minta maaf,” ucap Trias.

Suzie diam sejenak, lalu mengangguk lirih.

***

Tak sampai sepuluh menit selepas kepergian Suzie, pintu kamar Trias yang terbuka diketuk seseorang. Trias sontak menoleh ke arah pintu, dan lalu tersenyum mendapati Jan dan Anna berdiri di sana. Tanpa diminta sepasang suami-istri itu memasuki kamar.

“Apa kabar, Dul?” sapa Jan.

“Sehat, Sayang?” tambah Anna.

Trias menjawab dengan senyuman, seraya berdiri dan menyalami sepupu dan iparnya itu. Khusus dari Anna, ia mendapatkan tambahan pelukan hangat layaknya kakak terhadap adik.

“Kelihatan agak pucat,” komentar Jan. “Kamu kurang tidur, ya?”

“Wajar dong, Aa,” tanggap Anna. Lalu menatap Trias. “Aku mengerti, kamu masih nggak bisa enak tidur, ‘kan?”

“Begitulah, Teh,” Trias tersenyum lagi.

Jan menepuk bahu kanan Trias. “Semoga kamu bisa cepat bangkit, Dul. Udah hampir sebulan, lho! Sampai kapan kamu mau terpuruk?”

“Aa,” ujar Anna, sambil memelototi suaminya.

“Sampai kapan, Kang?” gumam Trias. “Nggak ada yang tahu. Termasuk aku.”

“Detik ini juga bisa bangkit, kalau kamu mau,” jawab Jan. “Asal ada niat.”

Trias tersenyum. “Pernah ditinggal mati kekasih, Kang?”

Jan tak menjawab.

“So, jangan pernah memaksa aku untuk buru-buru move on,” tandas Trias.

Seperti yang telah belasan kali terjadi semenjak Nika tiada, Anna kembali terjebak di tengah obrolan sentimentil antara Jan dan Trias. Hal yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam interaksi keduanya.

“Aku kepingin es krim,” cetus Anna tiba-tiba. “Bisa tolong belikan, Aa?”

Jan menatap Anna dengan gestur Ada-angin-apa-kamu-tiba-tiba-minta-es-krim?

Anna balik menatap Jan dengan gestur No-ice-cream,-no-more-tonight’s-dinner.

“Iya, aku beli sekarang,” Jan menyerah. Lalu melangkah keluar kamar.

Sepeninggal Jan,

“Jangan galak sama Kang Jan, Teh,” ingat Trias. “Kasihan…”

Anna tertawa. “Kalau aku nggak kayak gitu, kalian nggak akan berhenti berdebat, tho?”

Trias mengangkat bahu.

“Jan cuma kepingin kamu bangkit, Trias,” ucap Anna. “Karena dia sayang kamu. Nggak mau sepupunya terus terpuruk.”

Trias tersenyum. “Setiap orang punya masalah yang kadarnya berbeda-beda, Teh. Setiap orang bisa terpuruk, dan waktu untuk bangkitnya juga berbeda-beda.”

“Tapi kamu punya niat untuk bangkit, ‘kan?” tanya Anna.

Trias mengangguk. “Tapi, aku nggak tahu, kapan bisa bangkit.”

“Sabar ya, Trias,” Anna menepuk pelan telapak tangan kiri Trias. “Aku tahu, berat banget buat melepas seseorang yang sangat kamu cintai. Kamu butuh waktu untuk bangkit. Tapi, please… jangan lama-lama. Aku nggak tega lihat kamu seperti ini.”

Trias tersenyum sekilas. “Iya, Teh…”

Tak lama, Jan muncul. Tangannya menjinjing sebuah kantong kresek hitam.

“Nih, es krim kamu,” Jan menyerahkan sebuah kemasan es krim pada Anna, lalu sebuah lagi untuk Trias. “Ini buat kamu, Dul. Biar adem.”

Anna menerimanya dengan antusias, sementara Trias hanya tersenyum. Senyum yang selalu tampak hambar.

“Kamu nggak beli, Aa?” tanya Anna.

“Aku udah habis dua es krim di warung,” jawab Jan.

“Curang,” rutuk Anna, sambil mulai membuka kemasan es krim jatahnya.

“Iya, curang,” tanggap Jan. “That’s why you love me, isn’t?”

“Ngaco!” umpat Anna, sambil tertawa lepas.

“Oya, Suzie mana, Dul?” tanya Jan.

“Ngapain tanya soal Suzie?” sanggah Anna. “Kangen, ya?”

“Ahh… ada yang jealous,” goda Jan.

“Siapa yang jealous?” bantah Anna.

“Teman kuliahku,” jawab Jan asal, kentara bahwa ia memang bermaksud menggoda sang istri.

Anna cemberut.

“Suzie lagi cari makan malam,” beritahu Trias.

“Kok kamu tahu?” tanya Jan.

“Tadi dia ajak aku,” jawab Trias. “Tapi kutolak.”

“Udah bisa ditebak,” Jan tersenyum. “Berarti, kamu belum makan malam?”

Trias hanya tersenyum.

“Hari ini, kamu udah makan?” tambah Anna.

Trias kembali hanya tersenyum.

“Berarti belum,” tebak Anna, seraya tiba-tiba bangkit. Lalu menarik lengan kiri Trias dengan sedikit paksaan. “Ayo, kita cari makan.”

Trias bergeming, hingga terpaksa Anna menghentikan tarikannya. Lalu kembali duduk menghadapi Trias. Ditatapnya kedua bola mata adik iparnya itu dalam-dalam.

“Kamu kurang tidur, kurang makan,” gumamnya. “Kamu mau menyusul Nika?”

Trias melotot sesaat, meski kembali meredup.

“Nggak makan, nggak tidur,” sambung Anna. “Kamu nggak memikirkan kesehatanmu?”

Trias tak menjawab.

“Aku sempat senang, waktu Jan cerita, kamu tetap gowes, rajin masuk kerja,” lanjut Anna. “Berarti, kamu tetap melanjutkan hidup, meskipun baru kehilangan Nika. Sekarang, lihat kamu kayak gini, mana mungkin aku tetap senang, Trias?”

Jan ikut duduk bersila, bergabung dengan Trias dan Anna. Digenggamnya telapak tangan Trias.

“Dul…” gumamnya pelan. “Kami semua sedih banget dengan Nika meninggal. Please… jangan tambah kesedihan kami, gara-gara lihat kamu menyiksa diri seperti ini.”

Trias mengangguk pelan.

“Oke, kami bisa mengerti, kalau kamu murung dan banyak melamun,” tambah Jan. “Tapi, cukup hanya itu. Nggak perlu malas-malasan makan, apalagi sampai begadang nggak jelas. Nanti kalau kamu sakit, kamu sendiri juga yang repot, ‘kan?”

“Kamu gowes rutin, setiap hari,” imbuh Anna. “Kamu bilang, butuh nutrisi dan istirahat yang cukup. Sekarang, kamu malah kurang makan dan tidur. Sama aja bunuh diri, tho?”

Sejenak Trias terpekur, hatinya membenarkan ucapan Jan dan Anna.

“Nika bakalan sedih banget, kalau kamu merusak diri sendiri seperti ini,” sambung Anna. “Kamu nggak mau itu terjadi, tho?”

***

Dan Trias pun bersiap mencari makan bersama Jan dan Anna.

“Kamu mau makan apa?” tanya Anna.

“Terserah Kang Jan dan Teh Anna aja,” jawab Trias.

“Terserah kamu, atuh!” Jan tertawa kecil. “Biar makannya semangat.”

“Di tempat Suzie makan aja, gimana?” usul Anna. “Dia biasa makan di mana?”

“Kalau nggak sate ayam, ya pecel lele,” jawab Trias.

“Kita coba cari di dua lapak itu,” putus Jan.

Nyatanya, di koridor menuju gerbang kost-an, mereka malah berpapasan dengan Suzie yang baru selesai makan.

“Kami baru mau makan,” ujar Anna, seraya memeluk Suzie hangat. “Baru sukses merayu Trias, soalnya!”

Suzie tersenyum pahit. “Aku mah gagal merayu, Say!”

“Oya, tadi kamu makan di mana, Suzie?” tanya Jan.

“Pecel lele,” jawab Suzie.

Jan sontak menatap Trias. “Kamu memang mengerti Suzie, Dul.”

“Hmm?” gumam bertanya Trias dan Suzie, serempak.

Jan hanya menanggapi dengan tertawa kecil.

“Aa, aku mau bicara sama Suzie dulu,” izin Anna. “Kalian duluan aja. Jadinya makan pecel lele, tho?”

Trias mengangguk.

“Hayu, Dul!” ajak Jan.

Kedua lelaki sepupuan itu pun berlalu.

“Mau ngomong apa, Say?” tanya Suzie.

“Di kamarmu aja, yuk!” usul Anna. Lalu mendekatkan bibir ke telinga Suzie, dan berbisik, “Kalau ada yang menguping ‘kan bahaya!”

“Oke, hayu,” sanggup Suzie.

Di dalam kamar Suzie,

“Trias sering melamun dan jarang keluar kamar, ya?” tanya Anna.

“Iya,” jawab Suzie. “Termasuk di jam makan malam.”

“Berarti, dia jarang makan malam?” tanya Anna lagi.

“Setahuku, iya,” Suzie mengangguk.

“Duh…” keluh Anna. “Aku boleh minta tolong sama kamu?”

“Minta tolong apa?”

“Tolong ingatkan Trias kalau dia melamun dan nggak makan malam.”

“Udah, Say. Tapi nihil.”

“Paksa dia,” minta Anna. “Aku khawatir nanti dia sakit.”

“Udah, Say. Tapi nihil,” ulang Suzie. “Tadi, aku ajak dia cari makan, dia cuma menggeleng, senyum, mengangguk, jarang banget ngomong.”

“Tolong mengerti dia ya, Say…” lirih Anna. “Jangan menyerah buat mengajak Trias bangkit.”

“Kenapa harus aku?” tanya Suzie.

“Kenapa harus orang lain?” tanya balik Anna. “Trias butuh kamu, bukan yang lain.”

“Ngarang!” Suzie tertawa renyah.

“Trias butuh kamu,” tegas Anna, sambil menepuk bahu kiri Suzie. “Percaya sama aku.”

Bersambung