Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Cerita Sex Dewasa Tiara’s Story S2 Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita sebelumnya : Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 22

“Hi Cha..” aku call marissa diperjalanan menuju kota hujan setelah meeting yang menghebohkan tadi di kantor

“Hi ell… xixixixi kaangggeeennnn….”

“sama sayang…”

Sejak senin aku memang agak jarang telepon marissa karena otakku dipenuhi hal-hal terkait pekerjaan.

“Kamu ke sini gk malam ini?”

“OTW honey….”

“Assyiiikkkk…”

“Kamu nanti dimana?”

“DI hotel sayang..”

“ssiiippp, c u there ya..”

“Miss u a lot el..”

“Miss u too cha..”

“nanti langsung ke kamar yang biasa ya el”

“ssippp”

Aku mengetuk pintu dan marissa udah siap dengan lingerie hitam menerawang berbahan tile atau jaring-jaring halus. Sejenak aku memandangnya dari atas sampai bawah. Lingerie itu lebih banyak memperlihatkan ketelanjangan marissa daripada menutupinya, puting kecoklatannya tampak sedikit menyembul, lalu bagian bawahnya jembut marissa tampak nakal keluar keluar gak beraturan dari balik G Sringnya.

Aku minta marissa berbalik, codetnya tampak tersamar, pantatnya terekspos bebas karena Gsting sama sekali gk menutupi bagian pantat sexy ini.
Aku mendekat dan membaui seluruh tubuhnya, gk ada bau parfum, hanya wangi cewek habis mandi.

“Sexy gk sayang?”

“banget banget banget hehehehe”

“Coba balik.. gila pantat mu ini loh…” aku lalu berlutut berfokus gumpalan daging yang berbentuk bulat sempurna ini tempat alas duduk marissa.

Asli nih pantat, masih terbayang olehku kala aku dan roni memandangi pantatnya di ruang meeting dan saat ini apa yang kupandangi waktu itu ada dihadapanku skin to skin dengan bibirku. Kuciumi pantat sexy ini sembari tanganku meremas-remas belahan pantat sebelahnya. Rasanya kenyal dan padat, berwarna terang dihiasi gurat agak gelap di area tumpuan duduknya.

“Sexy banget sih cha…”

“Kamu suka el?”

“Boleh aku gigit?”

“kamu apain aja boleh koq…”

Setelah puas dengan pantatnya, aku kembali berdiri dan Marissa membantuku melepaskan seluruh pakaianku dan menggantungnya di hanger dalam lemari. Kemaluanku sudah tegak pada ukuran maksimalnya

Gantian marissa yang berlutut di depanku, dengan aku berdiri bersandar pada meja. Tangan lembutnya meraba area seputar pahaku dan kemudian dengan perlahan memijit lembut kontolku.

“el, udah keras banget sayang..”

“trus mau diapain?”

Tanpa menjawab, marissa dengan sigap memasukkan kepala kontolku pada mulutnya sambil tetap memijat batang kemaluanku. Kalau soal yang satu ini Gladys jauh lebih berpengalaman dan jago dalam melakukannya, tapi se amatir-amatirnya cewek nyepong, tetap enak aja sih..

Slllurrrpppp.. clop clop clop clop marissa mulai mengocok kontolku dengan mulutnya. Menimbulkan sensasi yang dahsyat.

“udah sayang…” kataku mengajaknya ke tempat tidur.

“kamu boboan aja ya el, aku mau nikmatin kamu sebanyak mungkin aku sanggup”

Aku rebahan dan marissa mulai nungging dengan mebelakangiku, dengan gerakan sexxy kontolku dibelai-belai sekali lagi lalu diarahkan pada lubang kenikmatan basah miliknya.

Pelan, pelaaann banget tanpa terburu-buru marissa menekan pantatnya kemudian di tarik lagi lalu ditekan lagi, satu gerakan yang seharusnya bisa dilakukan dengan sekali tekan, olehnya diperlambat seolah mau merasakan sekecil apapun rangsangan yang dirasakan atas tergeseknya kulit kelaminku dengan sensor kenikmatan di dalam vaginanya.

SShhh… elll….
Sesak banget di dalem sayang….

Desahnya saat semuanya sempurna tertanam. Lagi, dengan gerakan super pelan di angkatnya pantat sexy itu dan ditekannya lagi, berulang-ulang selalu dengan gerakan halus. Gk ada bunyi cclop-clop seperti layaknya orang bersenggama, tapi rasanya seolah seluruh bagian kontolku mulai dari kepada sampai dengan pangkal batangnya digenggam erat dengan tekanan kuat tapi licin. Aku membiarkan saja dirinya menikmati batang legamku, kali ini dia mau berkuasa atas ritmenya sendiri.

Malam itu ntah mengapa, marissa bersemangat sekali. Kami sampai melakukannya empat kali dan baru berakhir ketika jam menunjukkan jam 3 pagi. Lemas dan capek, aku segera tertidur lelap.

Pagi ini aku terbangun karena merasa menyentuh sesuatu yang basah di tanganku. Seperti biasa Marissa udah gk ada, sebuah note menempel di cermin seperti biasa, kali ini wananya merah. Aku memutuskan segera mandi dulu dan memakai pakaian yang sudah disiapkan marissa dalam plastik laundry.

Aku membaca pesan marissa, bukan berisi nanti sarapan bareng seperti biasa tapi sebuah pesan yang isinya romantis banget, pasti gara-gara subuh tadi ,ntah berapa kali marissa orgasme hehehehe.

Since the first day I met you,
that’s first glance in your eyes.
The first time you told me that you loved me,
my life was changed forever.
Your love make me who I am today,
your presence in my life inspires me to be better everyday.
I Love you with all my sense

Icha 🙂

Aku tersenyum, Love u too cha…

Saat sarapan aku gk melihat marissa, jadi aku sarapan cepat aja kemudian melesat ke meeting room untuk prepare di kelas.

“Pagi Bro” sapaku pada roni

“Pagi boss” sapa roni balik kepadaku

“tinggal empat kelas lagi ya bro..”

“iya nih.. dapet banyak kita disini ya hahahaha”

“Iya ron, duit dapet cewek dapet hahahaha”

“klo gw bukan cewek lagi, calon bini.. eh mana marissa?”

“gak tau, semalem nginep bareng gw trus tadi sarapan gk ada, kayaknya lagi sibuk”

“Pagi Bapak-bapak..”

“Pagi…”

“Pak kenalin saya Rahman, saya yang gantiin bu marissa di sini”

“lho dia kenapa? Sakit?”

“Katanya sih resign pak, saya juga kurang tahu, saya baru 2 hari di sini”

“Oh ya?” kataku dan roni hampir bersamaan

“betul Pak, trus saya ada pesan buat Pak Andre”

“Iya saya andre..”

“kamar yang biasa Pak Andre Pakai udah di booking dan dibayar bu marissa sampai selesai event ini ya Pak”

“Oh.. okey makasih ya pak rahman” kataku lagi

Pelatihan ini berjalan seperti biasa, dan roni mulai menambah sessi yang dibawakannya menjadi empat sessi. Akhirnya jam 10 malam selesai juga orang terakhir yang konsul denganku. Dengan langkah lunglai aku kembali ke kamar marissa pasti udah ada di sana dan aku mau menanyakan alasannya resign.

Ternyata marissa gk ada, aku telepon marissa, gk ada nada sambung. Aku WA, cuma ada centang satu. Aku tunggu tapi ternyata marissa gk pernah muncul, sedangkan aku terlalu penat untuk mencari ke rumahnya malam ini, secara semalam kami bertempur sampai stok peju seminggu habis dan hari ini go-show lalu konsul sampai malam.

Sepi..

Kosong…

Biasanya ada marissa dengan celotehannya, kali ini aku bagaikan terbekap kesendirian dan kesunyian. Biasanya ada marissa dengan hidangan hangatnya, kali ini meja itu kosong.

Aku membaca lagi pesan marissa, hhhhssssss….. ternyata itu adalah farewell note.

Hhhhmmm… aku ingat bantal basah yang membangunkanku aku lihat lagi, langsung aku check dan ternyata sudah diganti sarung bantalnya oleh room service.

Entah apa yang kupikirkan selanjutnya tapi aku tertidur kecapekan dalam sepi dan sendiri.

Jam enam pagi aku terbangun, langsung mandi dan merapikan seluruh pakaianku, kemudian sarapan dan langsung checkout. Aku langsung melesatkan ML350 yang bertenaga sangat besar ini ke rumah marissa.

Gk seperti biasa, kali ini pagarnya dikunci. Dengan satu lompatan, aku melewati pagar itu dan masuk ke rumah. Semua letak furniture masih sama seperti terakhir kali aku kemari, tapi banyak sekali debu sampai meninggalkan jejak sepatuku di lantainya, artinya rumah ini sudah beberapa saat tidak dibersihkan.

Aku keluar lagi dan bertanya pada pedagang rokok yang ada di ujung jalan,

“Punten mang…”

“Mangga..”

“Mang, tau sama yang punya rumah gede warna hijau pupus di sana?”

“tau kang, itu teh punya bu marissa, aya naon kang?”

“nggak, saya lagi cari rumah daerah sini, dijual gk ya?”

“wah saya mah kurang tau, tapi emang udah agak lama saya nggak liat bu marissa, biasanya kan ada aja yang dibeli kemari.”

“Berapa lama mang?”

“aduhh.. saya gk perhatiin atuh.. tapi klo dua apa tiga minggu sih ada kali”

“hhhhmmmm…”

“Masuk aja atuh kang kalau mau liat2. Pagernya gk pernah dikunci”

“tapi ini tadi dikuci mang”

“masak sih, dari jaman bapaknya pagernya ketutup doang, gk pernah dikunci atuh kang, katanya biar kalau ada warga yang mau minta tolong, bisa ketok2 pintunya”

“iya tapi ini dikunci tadi mang”

“wah saya kurang paham dah kalau begitu kang”

“Ya udah makasih, ada rokok?”

Setelah membayar informasi dengan membeli sebungkus rokok dan gk ambil kembaliannya, aku kembali ke mobil. Aku menarik nafas berat. Gila sepanjang sejarah, ini kali ketiga aku ditinggal cewek yang aku sayangi, pertama dulu Tiara, lalu janis dan sekarang marissa. Aku gk tau harus cari informasi kemana, marissa gak punya teman dekat.

“Punten mang..”

“Eh.. akang lagi, ada apa lagi kang?”

“Mang tau pak asep?”

“Pak asep mantan kadus?”

“Wah saya mah gk tau mantan kadus apa bukan dia (aku jelaskan ciri-cirinya)”

“iya itu mantan kadus yang nikah sama bu Marissa”

“nah iya… tahu rumahnya?”

“ini kang, akang jalan kaki aja, rumahnya gak masuk mobil. Jadi dari rumah bu marissa akang terus aja sekitar .. satu… dua… empat rumah trus ada gang kecil ke kiri. Ikutin aja gangnya sampe akang ketemu rumah warna putih yang depannya ada lapangan bulutangkis. Nah itu rumahnya Pak Asep.”

“makasih Mang. Hhhmm mang, rokoknya pak asep naon?”

“Ini kang..”

“ada stok berapa?”

“ini masih se selop lebih”

“ya udah saya ambil semuanya”

“Wah makasih kang..”

“sama sama mang”

Berbekal informasi dari tukang rokok, aku mencoba peruntunganku. Tinggal Pak Asep harapanku. Dan aku mulai menyusuri jalan setapak sesuai gambaran tadi. Cukup jauh sampai membuatku berkeringat. Akhirnya setelah bertemu beberapa rumah warna putih, aku menemukan juga rumah putih dengan lapangan bulutangkis.

“Punteeennn..”

Gak ada respon

“Punteeen, pak asep aya?”

Kunci pintu terbuka dan muncul Pak Asep dengan sarung dan bertelanjang dada.

“ya ada… pak.. siapa ya, saya lupa”

“Saya andre pak”

“nah iya betul Pak Andre, mangga masuk pak…”

Sebuah ruang tamu sederhana dengan kursi kayu tua dan lantai keramik entah KW berapa karena warna putihnya tidak semuanya sama. Aku duduk di salah satu kursi kayu. Suara ayam jantan berkokok beberapa kali menambah asri suasana perkampungan ini.

“maaf pak andre, saya tadi habis mandiin si Brandon, ayam jago aduan saya hehehehe” kata pak asep keluar dari kamar sudah dengan kaos bersih tapi banyak lunturnya.

“gak papa pak, saya minta maaf dadakan kemari, tadi tanya alamat Pak Asep dari tukang rokok di ujung jalan.”

“aya yang bisa saya bantu pak andre”

“gini, pak. Saya mah sebenernya atasan Marissa di hotel, marissa udah dari hari senin gk dateng lagi. tadi sempet saya cariin rumahnya pagernya dikunci, jadi saya ke sini, mau tanya sama pak asep. Pan pak asep suaminya…”

“saya juga.. aduh gimana ya ngomongnya..”

“gapapa pak, cerita aja.. oh ini ada oleh-oleh buat pak asep” kataku sambil menyerahkan kantong plastik berisi stock rokoknya.

“wah makasih pak andre, repotin atuh..” kata pak asep tersenyum

“gk repot sama sekali atuh pak”

“sebelumnya saya mau tanya, pak andre.. selain sebagai bossnya bu marissa, pak andre ada hubungan kayak hubungan khusus gitu?”

“hhhmmm… bener pak..”

“Iya berarti bener, saya sempat lihat pak andre ada nginep di rumah bu Marissa waktu itu”

“iya betul, saya minta maaf ya pak..”

“Aassshh jangan minta maaf lah pak andre….

Jadi gini, pak andre, kalo pak andre tanya emang sih bener saya suami bu marissa, tapi ya suami pura-puraan aja. Maksudnya gini, waktu dulu saya masih jadi kadus, orang tua perempuan Bu Marissa meninggal, wasiatnya supaya bu marissa nikah di hadapan jenasah almarhumah. Bu Marissa bingung, kan dia orangnya gak bergaul sama siapa-siapa di kampung ini, orangnya pemalu pisan atuh pak. Mungkin karena dia tau dia anak pungut kali ya..”

“hhhmmmm… bisa jadi pak”

“kita rapat sama warga kemudian secepatnya panggil penghulu, diputuskan oleh warga saya sebagai kadus ambil tanggung jawab nikahin bu Marissa. Istri saya juga setuju, karena masalah kemanusiaan aja sih pak. Jauh pisan kalau urusan napsu mah.. gk ada kepikiran di saya waktu itu.”

“gitu ya pak..”

“setelah acara pemakaman, sebagai istri yang sah, bu marissa ngundang saya untuk tinggal di rumahnya. Malem tuh pas dia ngajak nyampur, astaga pak andre… hhmmm.. pak andre udah nyampur sama bu marissa?”

“belum pak..” kataku berbohong

“astaga pak…. saya sampe ngelus dada…. ini bukan bermaksud ngomongin kejelekan atau cacat orang ya, itu bu marissa punya codet panjang banget di punggungnya. Saya kaget dan takut pak andre, saya mah orang kampung biasa lihat perempuan punya codet kayak gitu rasanya kayak mau nyampur sama preman pasar atuh pak… saya kabur, takut atuh saya pak… tapi ini saya simpen sendiri aja, orang sini mah gak ada yang tau bu Marisa punya codet”

“oh ya??”

“iya pak seriusan…pikirin lagi lah pak kalau sama bu Marissa. Khawatirnya saya, dia ada masa lalu yang hubungan sama preman-preman gitu”

“nah Pak Asep kan punya kunci rumah bu Marissa, tapi tadi saya lihat pager depannya dikunci ya?”

“Pak Andre…. sekitar bulan lalu lah, saya ada tanda tangan surat cerai. Jujur aja saya sempet khilaf, saya kepikiran kalau cerai berarti gk dapet warisannya orang tua bu marissa, tapi setelah saya pikir lagi, emang gk pantes saya dapet, kan saya gk nafkahin dia apa-apa. Ya udah saya tanda tangan dah surat cerainya, habis itu semua kunci rumah diminta, jadi ya saya gak bisa lagi bersihin itu rumah pak. Selama ini kan saya yang bersihin, bu marissa ada bayar saya”

“gitu ya pak ceritanya, trus kira-kira nih bu marissa pergi kemana ya Pak Asep?”

“saya sih gak tau pak… beneran… pamit juga kagak ke saya. Tau-tau saya dateng, pager rumahnya udah dikunci.”

Kami berdiam cukup lama-kemudian gk berapa lama seorang perempuan cantik khas desa berusia sekitar 50an tahun membawakan dua gelas kopi untuk kami.

“pak Andre, ini makasih ya rokoknya, saya isep ya..”

“mangga atuh pak..” kataku ikutan menyalakan sebatang rokok.

“eh tunggu pak andre, saya kayaknya tahu kemana bu marissa pergi” dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar

beberapa menit kemudian Pak Asep keluar lagi membawa dua map dokumen.

“ini Pak Andre, saya sebagai suami sempet bantuin bu Marissa akad buat dua rumah ini. mangga dilihat”

Aku mengambil dua map yang disodorkannya, ada fotokopi akte pembelian dua rumah, satu di BNR dan satu lagi di BS.

“pak ini saya photo ya alamatnya” kataku sambil mengeluarkan HPku

“sok pak, mangga Pak”

Aku kemudian mengambil photo dua alamat yang ada di dokumen itu

“Pak Asep, makasih banyak informasinya ya.. semoga saya bisa ketemu Bu Marissa.”

“sama-sama Pak Andre..”

Beberapa menit kemudian aku pamit.

Aku segera memacu mobilku paling dekat adalah ke area BNR. Jadi ini duluan yang aku tuju. Setelah berputar-putar mencari alamatnya, akhirnya aku berhasil menemukan rumah yang dibeli marissa. Kondisinya memprihatinkan, dengan daun pintu dan jendela sudah gk ada dan alan-alang tumbuh subur di halamannya. Jelas rumah ini kosong udah lama, bisa jadi gk pernah sama sekali ditempati.

Aku masih punya harapan satu rumah lagi dikawasan BS.

Kali ini bentuknya cluster dan lebih teratur daripada di perumahan yang satunya, maka dengan cepat aku bisa mendapatkan rumah marissa. Tapi lagi-lagi aku kecewa, rumah ini kosong, gk ada gordyn dan ketika aku intip sama sekali gk ada furniture di dalamnya.

Ssssshhhh….. aku pasrah. Aku mencoba mengingat lagi apakah aku punya kesalahan yang menyakiti hati marissa, rasanya nggak. Apakah marissa tahu kelakuanku dengan Gladys, rasanya juga gk akan tahu. Aku merasa ada bagian yang hilang di hatiku. Gk sesakit waktu kehilangan Tiara maupun Janis, tapi tetap aja, kehilangan orang yang disayangi akan memberikan kekosongan ruang di hatiku.

Aku berkendara keluar cluster dengan sejuta perasaan tak tentu di kepalaku, kemudian memutuskan mampir di sebuah kedai kopi yang terletak di ruko-ruko lokal, dan merenung….

Ketika keadaan menjadi seperti ini, aku sadari bahwa ternyata aku mencintai Marissa cukup dalam meskipun hanya direntang waktu dua bulan sejak kami pertama kali bertemu. Aku coba sekali lagi telepon, tapi tetap tidak ada nada sambung dari marissa, hhhhhssssss……. semoga hal buruk tidak terjadi padanya.

Aku tarik nafas dalam, kini superwomen itu telah pergi begitu aja dari aku, ada sedikit sesal, mungkin dulu ada baiknya aku gk pernah melayani marissa untuk behubungan lebih dekat dan intim, aku teringat teleponnya setiap hari pagi dan sore hari, senyumnya, cara dia ngomong “i love u el” ke aku, cara dia menyapa aku dan roni kalau pagi menjelang acara, cara dia berkata manja, cara dia cemburu waktu bertemu Gladys, dan bagaimana dia orgasme berkali-kali dalam setiap sessi permainan yang kami lakukan.

Aku berpikir, mungkin memang waktuku bersamanya sudah selesai seiring kesembuhan AVPDnya dan waham rujukannya. Kalau paranoia terhadap baby sejauh dia gk punya baby sih akan aman-aman aja.

Aku starter mobilku dan memutuskan untuk pulang diiringi lagu dari Letto – Ruang Rindu

Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke Ujung mata
Dan aku mulai takut Terbawa cinta
Menghirup rindu yang Sesakkan dada…

Jalan ‘ku hampa Dan ‘ku sentuh dia
Terasa hangat Oh di dalam hati
‘Ku pegang erat dan ‘Ku halangi waktu
Tak urung jua ‘Ku lihatnya pergi

Tak pernah ‘ku ragu Dan s’lalu ‘ku ingat
Kerlingan matamu Dan sentuhan hangat
‘Ku saat itu takut Mencari makna
Tumbuhkan rasa yang Sesakkan dada

Kau datang dan pergi Oh begitu saja
Semua ‘ku terima Apa adanya
Mata terpejam dan Hati menggumam
Di ruang rindu Kita bertemu…
Uu-uu-uu…

Kau datang dan pergi Oh begitu saja
Semua ‘ku terima Apa adanya
Mata terpejam dan Hati menggumam
Di ruang rindu Kita bertemu…

Bertemu…

Bersambung