Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27

Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru

Cerita sebelumnya : Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 18

Marissa mulai membuka kemejaku dan kaos dalam ku, melipatnya rapi dan memasukkan ke laudry bag. Kemudian menghampiriku lagi dan mencium dadaku sembari tangannya membuka ikat pinggangku dan pengait celana panjangku dan zippernya yang sedetik kemudian membuat celana panjangku melorot sampai ke mata kaki.

Ia kemudian bersuimpuh di hadapanku, melepaskan celana dalamku sembari tangannya tak lupa mengelus pelan rudalku yang mulai bereaksi agak membesar.

“Kamu duduk dulu el” katanya sembari mendorongku ke atas kasur. Kemudian marissa meloloskan celana panjangku dan celana dalamku dari kakiku, kembali semuanya dilipat rapi dan dimasukkan dalam laudrybag.

Marissa angkat telepon dan memanggil bagian room service lalu meletakkan laundry bag di depan kamar.

“dah kamu masuk duluan ke kamar mandi..” katanya memintaku duluan.

Gk lama marissa masuk lagi, tapi ternyata Tshirt dan leggingnya gk dibuka.

“koq gk buka baju?”

“kan yang mandi kamu, ngapain aku buka baju? Lagian aku udah mandi wweeekk”

“kalau basah?”

“Ya gimana caranya supaya gk basah dong..”

“ya udah, aku udah ingetin ya..”

“xixixixi iya…”

Aku segera menghidupkan mengatur tingkat kehangatan air dan menghidupkan shower dan turunlah air menyegarkan kepalaku dan tubuhku. Marissa masih ada di area kering toilet ini.

“udah..?” dia bertanya ketika aku mematikan shower.

“Udah” kataku

Ia kemudian masuk dan mengambil sabun cair mulai menggosok lembut seluruh tubuhku sampai bagian mata kaki. Melihat ia berjongkok seperti itu, timbul niat isengku, aku nyalakan shower yang segera saja disambut pekik kaget marissa karena seluruh tubuhnya menjadi basah.

Sengaja kuputar tubuh marissa agar basahnya menjadi sempurna, ia masih memekik diiringi suara tawaku. Tapi rupanya ini adalah rencana marissa, toketnya segera nyeplak di balik kaos ketat basahnya menampilkan puting sexy dibaliknya.

Dan kulihat legging putihnya juga basah menampilkan cameltoe memeknya dengan jembut menerawang dibaliknya. Rambut basah, wajah cantik, toket nyeplak dan jembut menerawang merupakan paduan sempurna dari kata sexy yang segera membangkitkan batang kelaminku sampai batas maksimalnya.

Marissa kemudian membiarkanku kenyot toketnya dari balik kaos basahnya….
Ssshhhhh….. el.. desahnya menikmati sedotanku ada toket kenyal itu.

“bersihin sabunnya dulu el.. ssshhhh…” katanya sambil menyalakan kembali shower dan membiarkan setiap tetes air membasuh sabun dari tubuhku.

Kemudian kami bercumbu di antara tetesan air hangat dari shower dilengkapi dengan uap dari air hangat yang membuat suasana lebih syahdu. Marissa yang selama kami bercumbu sibuk mengelus lembut kelaminku, berhenti sejenak untuk menurunkan legging basahnya sampai setengah paha kemudian menyelipkan rudalku pada pangkal pahanya, gk dimasukin ke memek, hanya diselipkan saja.

GIla sensasinya, aku merasakan hangat permukaan memeknya pada bagian atas kontolku dan jepitan pangkal paha yang licin pada bagian lainnya ternyata memberikan sensasi tersendiri.

(Note: Gaya ini hanya bisa dilakukan pasangan yang tingginya kurang lebih seimbang ya..)

Kami kembali bercumbu beradu bibir, tanganku sibuk memainkan toketnya dari balik kaosnya sementara pinggulku bergerak maju mundur agar kontolku sempurna menggesek permukaan memek marissa. Gila…. tetesan air hangat, uap air, lampu temaram dan desahan dari marissa Ini foreplay terindah yang pernah aku lakukan sama lawan mainku.

Aku mematikan shower.

“Pindah sayang..” kataku

Marissa mengangguk dan kubimbing menuju area kering toillet dan aku dudukan di closet tertutup. Leggingnya segera ku lepas, kakinya ku arahkan satu bertumpu pada meja, dan kaki lainnya pada kaca pembatas area kering dan basah. Memeknya terbuka mempersilakan rudalku untuk memasukinya, tanpa acara jilmek lagi, aku segera menancapkan rudal coklatku pada liang kenikmatan miliknya.

Langsung kugenjot dengan RPM tinggi yang membuat marissa memekik dan mendesah bekali-kali setiap kali rudalku berhasil menggedor mulut rahimnya dengan keras. Wajah cantik di depanku ini meringis antara keenakan dan ngilu. Aku yang dari pagi udah merasa nanggung gk memberikan kesempatan banyak padanya untuk bernafas.

Setelah lima menit ku hajar marissa dengan terus dengan RPM tinggi diposisi ini, usahaku mulai membuahkan hasil, marissa mengejangkan kakinya lurus ke atas dan tangannya mencengkeram pinggiran closet,

“eeelll… aaaarrggggggg… hosssshhhhh acccchhhhhhh…
terus ell… yang cepet sayang…… acchhhh….
kooocccoookkk eelll… ccceeepppeettt ssshhh….

aaaakkkkk… ssshhhh aaaaakkkkkkkkuuuu ssammmppeeee elll…aaaccccchhhhhhhhhhh

marissa memekik merasakan puncak birahi yang menegangkan semua otot dalam tubuhnya dan membuatnya kseulitan bernafas…..
suasana hening sejenak setelah pekik terakhirnya dan kemudian

sssshhhhhhhhh…….. hhosshhh….. ssshhhh….. hhhooossssshhhhh….

kakinya lemas jatuh ke lantai dan badannya lunglai. Aku menghentikan semua aktivitasku untuk melihat pemandangan indah seorang perempuan didera puncak birahi.

Marissa memandangku dengan syahdu.. sambil mengigit bibirnya.

“Ennaakkk banget ell…”

Aku tersenyum kemudian menunduk mengecup bibirnya

“aku mau lagi.. xixixixi”

Ia kemudian agak menegakkan badannya melepaskan kaos basah yang masih digunakannya. Sementara kelamin kami masih terkoneksi dengan erat.

“sini sayang.. “ kata marissa kemudian melingkarkan tangannya di leherku dan kakinya di pinggulku.

“Udah?”

“El, pindah ke ranjang sayang.. tapi gk boleh lepas ya.. xixixixi”

Sedemikian rupa aku berupaya berdiri dari posisi berlututku dengan marissa tetap menempel pada diriku dan kelamin kami bertautan. Kemudian kubawa marissa ke kasur. Beberapa kali marisa memekik pelan merasakan tekanan kontolku pada mulut rahimnya setiap kali aku melangkah.

Dengan lembut kuletakkan marissa di kasur,

“xixixixi jagoan kamu el… bisa juga, aku pikir bakal lepas loh..”

“meremehkan aku ya hehehehehe”

“iya deh jagoanku, ayo sekarang di pentokin lagi… xixixixi”

“Naik dulu sayang..”

Marissa kembali melingkarkan tangannya di leherku dan kakinya dipinggulku, setelah firm aku merangkak ke atas kasur dan kemudian meletakkan kembali marissa dengan lembut.

“enak kali ya el.. kalau seharian kontol kamu di dalem kayak sekarang.. xixixixi”

“udah jangan kebanyakan mikir” kataku sembari menekan pantatku

“aaachhh.. ngilu tau!! Xixixixi’

“tapi doyan kan?”

“always honey.. making love with you always be a blessing for me”

Kami kemudian berciuman mesra dengan lembut dan pelan. Bagaimanapun moment-moment paling intim bersama seorang wanita apalagi secantik marissa, merupakan sesuatu yang menggairahkan buatku.

Sementara kami berciuman dengan perlahan juga aku mulai menggerakkan pinggulku melanjutkan sessi yang terhenti barusan. Cengkeraman memek marissa jelas lebih dari Tiara yang sudah lebih dulu ratusan kali dirasuki rudalku ini. Dalam penetrasi pelan dan lembut seperti ini, jauh lebih terasa bedanya. Tapi marissa masih alami, belum terlalu ahli dalam memuaskan pasangannya, dalam hal ini tiara jauh menang.

Cumbuan bibir kami dan gesekan tusukan lembut kontolku membuat marissa segera naik kembali birahinya. Desahannya mulai menghiasi pemainan ini.

Rasanya belum sampai lima menit aku menggenjotnya dengan RPM rendah khas supir angkot lagi hunting penumpang.

“El… ssshhhh… cepetin elll….”

Aku mulai mempercepat RPMku secara gradual tentu membuat desahan marissa makin kerap terdengar.

“gila el…ssshhh…. enak banget sih kontol mu…”

Aku memutuskan melepaskan pertahanku dan segera memompanya dengan RPM maksimal.

“aaaccchhh… sshhhh hhhhoossss aaaccchhhh…. ssshhhhh” marisa hanya mampu memekik dan mendesah

“sssshhh… terus eelll… yang ceeeepppeeettt..”

Tiga menit dalam RPM tinggi membuat marissa mulai gk bisa kontrol gerakannya dan akupun mulai merasa spermaku terkumpul diujung kontol siap dimuntahkan..

“ssshhh… sshh…. shhhh…. cepetttiiin laagii eeelll.. aakkuuu maauuuu nyyyaammmmpeee…”

Aku makin kejam menghujamkan penisku dalam vaginanya berkali kali, suara berdecak keras diiringi desahan marissa membuatku gk tahan

Akhirnya pertahanakan kami berdua jebol,

“Eeerrrgggggg….” aku menggeram dengan menekan habis kontolku pada memeknya

“Aaaaacccccccchhhhhhhh…” marissa memekik panjang kemudian kami berdua mengejang kuat dengan nafas hampir putus.

“Eerrrggg…… eeeerrrggg…. eerrrrggggg….” beberapa kali aku menggeram setiap kali denyutan kontolku memuntahkan isinya dalam memek marissa.

Aku terguling ke sisi marissa membebaskannya dari tekanan tubuhku agar dia bisa mengambil nafas lebih baik. Kami berdua terdiam sibuk menata nafas kami masing-masing.

Aku berpikir kenapa aku merasa capek banget ya, aku coba ingat hari ini, pagi tadi genjot marissa, dan seharian goshow, kemudian melayani konsul sampai malem dan sekarang genjot lagi. hhhhmmm… pantesan tenagaku habis.

“enak el?”

“Banget cha.. tapi udahannya lemes hehehehe”

“Xixixixi terlalu semangat sih kamu sodokin akunya. Xixixixi”

Marissa kemudian bangkit mengambil beberapa tissue ngelap memeknya dan bekas lendir serta sperma di selimut ini.

“mas… boleh bantu buatin sop buntut dua ya.. “
“iya.. billnya masukin ke saya aja”

“tuh aku pesenin sop buntut biar kamu ngecharge lagi”

“makasih sayang…”

Setelah makan aku ke balkon untuk merokok, dan marissa menghampiriku lalu duduk di pangkuanku.

“enakan el?”

“banget, jadi kuat nih dua ronde lagi.. hehehehehe”

“memekku udah perih sayang..”

“emang lecet lagi?”

“dari pertama itu mah lecet terus atuh, tapi tadi di kamar mandi kamu nyodoknya kan langsung kasar gitu, kayaknya lecetnya kali ini lebih deh…”

“mana sini aku lihat”

“hussh enak aja, ini di balkon tau..”

“emang kenapa?”

“nggak mau ah…”

“ya udah.. nanti di dalem aku lihat”

“sperma kamu tadi kental banget loh…”

“emang berasa ya?”

“kan aku lihat dan perthatiin waktu aku lap tadi”

“bau gk?”

“nggak sih el.. maksudnya bau sperma kamu kayak biasanya aja”

“yuks udah, aku lihat memekmu..”

“genddooonnnggg”

Aku membopong marissa masuk, marissa senyum-senyum kegirangan seperti anak kecil.
Dan aku lihat emang ada sobek kecil seperti biasa dialami tiara, tapi di marissa agak lebih panjang sedikit.

“ada sobek kecil sayang…”

“ya aku tahu, dr kemarin juga begitu. Tp ini perih bgt”

“aku kasih liurku ya..”

“istrimu gini juga gk?”

“iya hehehehe”

“biasanya diapain?”

“kalau dia, sperma yg turun dilap tapi ada yg di kasih ke lukanya”

“oh ya? Koq kamu gk kasih tau aku dr kemarin2 sih?”

“kan kamu nggak nanya..”

“selain itu?”

“paling aku kasih liur ku aja sih..”

“ya udah, sok atuh..”

***

Pagi ini aku sarapan ditemani marissa, tidak ada info apapun mengenai Lidia dan Gladys. Aku anggap mereka tidak hadir di hotel ini untuk sessi konsul berikutnya, maka setelah sarapan aku segera meluncur ke ibukota, kembali ke rumah.

Sore hari menjelang malam, seno info aku

“boss, bsk jam 11 di restoXX di kelapa gading ya” sebuah resto yang menjual iga bakar paling enak se ibukota.

“siapa yang hadir?”

“semua, termasuk Pak Johan”

“ssippp, thanks ya seno”

“masama boss”

“ara… hadiah buat anak-anak kantor udah ada?”

“siap, udah rapi boss”

“hahahahaha, jadinya kamu beliin apaan?”

“Yang laki jepitan dasi, yang perempuan bros”

“ada buat pak Johan gk?”

“hah!?! Pak Johan ikut?”

“iya.. barusan seno info”

“hhhmmm.. bentar… kayaknya dasimu sih ada tuh yang belum pernah kamu pake.”

“mana coba?”

“bentar ya aku cariin”

Tiara masuk ke kamar dan sekitar 30 menit kemudian kembali dengan sebuah dasi masih dalam dus aslinya yang belum pernah aku pakai. Aku ingat, ini adalah dasi sisa kisahku dengan janis. Gk ada yang spesial dengan dasi itu, karena hampir tiap bulan janis membelikan aku dasi dari berbagai designer tanpa pernah aku minta. Sebuah dasi dari stefano ricci, berwarna biru terang, lengkap dengan penjepitnya bertatahkan swarowski, rasanya cukup untuk diberikan sebagai hadiah Pak Johan.

“Okey good”

“gak ada memori apapun kan dengan dasi ini?”

“nggak ada, dia tiap bulan dulu beliin aku dasi koq, ini termasuk yang dibeli tiap bulan itu”

“Gila juga ya mbak Janis, ini kan paling nggak sekarang skitar 1.200 US loh..”

“Gitu deh orang yang duitnya gk ada seri sih, mana berasa hahahahaha”

“Ikhlas kan mas?”

“ya iya lah… gk pernah aku pake juga, aku aja lupa masih ada barang itu di rumah ini”

“aku emang sengaja simpen, semua jam mewah kamu juga masih aku simpen, kali aja nanti perlu”

“iya bener simpen aja, aku sih skrg gk ngerasa perlu ya, toh sama aja pake jam mewah sama G-Shock.”

“tapi kan terkadang perlu toh, pake yang top brand, mas”

“kalau ketemu pejabat sih iya, kalau ketemu orang interview? Mana perlu”

“ya udah mas, pokoke semua masih aku simpan dan masih dalam kondisi mint.”

“iya ara sayang… makasih ya..”

Cup! Tiara mengecup pipiku
“aku bungkusin ini dulu ya mas”

“siipp”

Esoknya aku dan tiara pergi bersama ke acara farewellku. Kami sampai di tempat acara, semua sudah berkumpul, termasuk pak johan dan istrinya, Acara dimulai dengan kesan-kesan buat diriku yang disampaikan satu persatu timku, dan diakhiri oleh pak Johan yang kemudian secara pribadi memberikan kenang-kenangan berupa pena merk puncak putih kepadaku, akupun memberikan kenang-kenangan pak Johan yang setelah dibuka membuatnya luar biasa bahagia.

Kemudian timku memberikan kenang-kenangan berupa foto kolase semua kegiatan kami selama empat tahun aku di perusahaan ini, akupun memberikan pada mereka satu-persatu kenang-kenangan yang segera disambut bahagia oleh mereka semua.

Setelah acara makan, secara alamiah grup terbagi menjadi dua, satu grup ngomongin kantor yang terdiri dari bapak-bapak, satu lagi grup ngomongin baju yang terdiri dari cewek-cewek termasuk istri pak Johan.

Tiara tentu saja menjadi narasumber dadakan bagi para cewek-cewek, apalagi sudah beredar luas di kantor kalau istriku ini adalah model dan pengajar di sekolah kepribadian. Sempat kulihat beberpa kali tiara memperbaiki penampilan anak-anakku yang minta advice padanya.

“ndre..” kata pak Johan

“Ya pak..”

“saya sangat kehilangan loh, ndre…”

“saya yakin seno mampu mengemban tugas ini, pak. Jadi Pak Johan gk akan merasa kehilangan koq”

“saya udah tahu semuanya, pak momo cerita ke saya”

“oh ya pak?”

“pesan saya hanya satu, hati-hati. Tantangannya besar dan risikonya banyak buat karir kamu dan buat keluarga kamu”

“saya paham, pak. “

“kalau kamu perlu advice saya, jangan ragu, telepon aja. Saya selalu siap bantu kamu, ndre.”

“baik pak. Johan. Terima kasih atas bimbingan Pak Johan selama ini, saya berharap karir pak Johan akan selalu bagus di sini.”

“yang jelas kita satu idea, mengenai HR dan systemnya. Kamu maksud saya.”

“siap Pak. Jadi Pak Johan available juga khan?”

“gk perlu diperjelas lah, ndre.. hehehehe”

“siap pak Johan.”

“Okey ndre, have a bright endeavor career”

“thank you Pak Johan”

“saya jalan duluan, istri saya kalau gk di cut akan makin terhipnotis sama istri kamu, saya yang repot nanti kalau dia minta oplas hehehehe”

“hahahahaha siap pak.. silakan salam buat keluarga ya Pak Johan”

“Okey all.. saya duluann ya..” kata pak johan pamit kepada semuanya dibalas dengan tatapan jutek istrinya yang lagi seru ngobrol sama tiara.

“Tadi ngobrol apa aja kalian?” tanyaku pada tiara

“ya gitu deh, namanya cewek gk jauh jauh soal baju, dandan dan penampilan, xixixi”

“kalau sama istrinya pak Johan?”

“dia mau ikut sekolah kepribadian, gara-gara ketemu kita di kawinan kemarin, Pak Johan jadi sering komplain urusan baju, dandan sama gesture xixixixi”

“oalah, pantesan serius banget..”

“ya gitu deh, aku saranin daftar aja ke J*P aja”

“bener..”

“ntar sore kita kemana, mas?”

“males keluar, ajak anak-anak aja main di taman komplek, biar mereka lari sampe capek”

“sekalian ya… xixixi kamu lihat ibu2 komplek..”

“buat selingan gk ada salahnya sih hehehehehe”

“dasar cowok, matanya gk bisa lihat barang licin dikit, Boys, they all same”

“Ntar malem jatahin gk?”

“palang merah, gk bisa!!”

“Koq jadi jutek sih..”

“aku lagi mens, mas… nggak usah dipikirin klo jutek, emang bawaannya.”

“ya udah… hehehehehe”

***

Senin pagi jam 06.45 aku sudah di depan gerbang rumah Pak AA. Sama seperti minggu lalu, proses masuk ke rumah Pak AA memang seperti itu SOP-nya, tapi kali ini aku diarahkan masuk ke dalam rumah, di samping ruang studio musik. Di sana rupanya ada ruangan yang disulap jadi ruang meeting.

Ada tiga orang berada di sana, aku memperkenalkan diri.
“Dengan Andre..”

“Sandra..”

“Andre..”

“Malik..”

“Andre..”

“Gladys.. xixixixi”

“kayak pernah kenal ya, bu?” kataku pura-pura

“iya.. rasanya saya pernah ketemu..” kata Gladys masih dengan senyum cerahnya

Duuuuhhhh… imut banget sih kamu…. kataku dalam hati

“How do you do, gle?”

“Never been better, welcome to our team ya..”

“Thanks Gle”

“Hadeh melting dah gw, cara kamu ngomong Gle itu loh.. xixixixi”

Gk lama kemudian seorang wanita serusia sekitar 45-an masuk dengan tergesa-gesa
“Ya ampun, bu aliyah ikut juga?”

“Issh mana bisa si babe hidup tanpa saya hehehehehe, welcome ya ndre”

“thank you bu Aliyah”

“hi semua…” tiba-tiba suara berat pak momo terdengar,

“Pagi Pak..” kata kami hampir serempak.

“Okey.. sebelum saya mulai, saya kenalkan dulu, ini andre.. minggu lalu masih tim saya di PT XY, ex HR div head, sekarang memutuskan bergabung dengan kita. Tanggung jawabnya masih sama seperti di perusahaan sebelumnya bidang HR”

Aku berdiri dan mengatupkan jari tangan di dada menghormati semua yang hadir.

“ndre, ini Pak Malik, beliau mantan Dir Legal perusahaan tambang nasional”

“mohon kerjasamanya Pak Malik”

“Kemudian ini bu Sandra, mantan Direktur Finance di PT SS (sebuah perusahaan manufaktur)”

“Bu Sandra, mohon kerjasamanya..” kataku

“dan Ini Bu Gladys, baru setahun di Indonesia setelah 12 tahun di Auditor Firm *Y New York, selain relation dengan tim audit kita di perusahaan itu, dia juga disini pegang data, jadi kalau kamu perlu data apa aja, silakan tanya ke Gladys”

“Pak Momo, gk usah kenalin aku sama andre”

“loh kenapa?”

“Kita pernah ngedate Pak xixixixi”

“eeh.. kamu ndre koq nakal ya, nanti saya kasih tau istrimu loh..”

“hahahahaha..” aku hanya bisa tertawa

“Istrinya andre cantik loh, Gladys..”

“Makanya dia ninggalin saya pak xixixixi” balas Gladys

“serius?” pak momo menatap kami bergantian

“bercanda pak, hahahahaha” kataku

“awas ya.. tapi itu urusan kalian lah, yg penting target dan kerjaan kalian beres semua”

“siap pak,” jawab kami hampir serempak

“Okey terima kasih atas kehadiran teman-teman semua di hari senin ini, jadi besok kita skip, langsung ketemu lagi hari kamis ya.

Ndre, kamu ketinggalan informasi ya, saat ini ada sebuah PT DDD yang bergerak di bidang real estate sedang berupaya bangkit dari keterpurukan akibat mismanagement, tapi bank banyak menolak permohonan kreditnya karena sejarah PT DDD ini tidak baik dalam pengelolaan pinjaman.

Beberapa real estate yang dimilikinya tersebar di berbagai daerah di jakarta, tangerang dan bekasi. Investor PT ini sudah beberapa dan semuanya belum mampu menggerakkan PT ini, entah sudah berapa mereka kehilangan uang di sini. Saat ini PT DDD punya beban hutang sebesar 120M pada sebuah bank yang sudah jadi NPL selama 9 tahun.”

“Siap Pak.”

“Next Pak Malik, ada update?”

“Baik pak, ini mengenai legal formal usaha. Beberapa konsensi areanya masih belum digarap dan belum ada perkembangan dalam ganti ruginya. Mereka gk mampu bayar lahan yang dikuasai oleh masyarakat pak. Akibatnya konsensinya terancam dicabut jika dalam setahun ini belum ada progress ganti rugi. Pemda setempat sudah kasih surat peringatan kedua pak.”

“Bu Sandra?”

“Baik Pak, PT ini jelas membutuhkan suntikan dana yang mendesak, saat ini pengajuan sudah dilakukan kepada konsorsium bank, tapi saya rasa masih belum ada respon dari konsorsiumnya, mungkin Pak AA salah satu tumpuan terbesar untuk bisa menyelamatkan PT ini. Saya hitung setelah proses akuisisi, Pak AA akan membutuhkan pinjaman sekitar 40 Milyar untuk mendukung kegiatan operasionalnya dalam waktu 3 tahun ke depan dan 300 M untuk land acquisition awal. PT Ini sembilan tahun lalu assetnya masih sekitar 180M, tapi seiring penjualan dan perpindahan kepemilikan lahan dari perusahaan ke pembeli, saat ini assetnya tinggal sekitar 60M.

“Bu Gladys?”

“Kalau saya lihat dari struktur opex pak, opex perusahaan ini terhitung cukup besar, saya juga ragu mereka punya SOP yang memadai untuk mendukung kegiatan oprasionalnya. Karyawannya masih ada sekitar 400an orang, sebagian besar ada diproperti management di berbagai real estate milik mereka”

“Okey suggest dari kalian apa?”

Kami pun memberikan professional opinion kepada pak Momo untuk mendukung presentasi Pak Momo ke Pak AA. Meeting selesai 3 jam kemudian diakhiri dengan makan siang bersama di gazebo. Aku masih mencoba memahami berbagai informasi, jadi lebih banyak mendengar daripada bicara dalam meeting hari ini.

Bersambung