Cerita Sex Tiara’s Story S2 Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Tamat

Tiara’s Story S2 Part 15

Selesai resepsi, kami kambali ke parkiran dan masuk mobil, di perjalanan menuju kembali ke rumah, aku iseng menggoda tiara.

“Tuh kan.. klo gk pake celana dalem, kamu malah dapet tawaran job hehehehe”

“ya ampun mas….. xixixixi… apa hubungannya coba xixixixi”

“nggak ada sih.. hehehehehe”

“eh tapi tadi di dalem semriwing gitu, kayak adem banget loh memekku”

“nah..!!!”

“nanti panasin yah.. pake lidah kamu.. xixixixixi”

“hahahahaha”

“aku kayak cewek gatelan yah..? xixixixi”

“embeeerrr…”

“emang sih, garukin yah.. eh… sodokin aja.. pake ini “ kata tiara meremas kontolku

“ih masih bobo ya… sini ara bangunin..”

“Eh.. jangan macem-macem ya, aku lg nyetir nih…”

“emang gk bisa ya?”

“bahaya cinta!” kataku tegas

“Ya udah deh, gk jadi. Yang punya galak..” kata tiara cemberut

“BTW tadi gimana, sama mbak rohana?”

“ya… aku diminta jadi model buat projectnya dia. Dia blom jelasin sih project apa. Tapi dia mau hubungin agencynya dulu, biar mereka cari model lain buat dampingi aku yang profilnya cocok sama aku”

“trus…”

“trus aku dikenalin ke direksi kamu, yang ngobrol sama kita tadi pak momo, langsung ngomong pokoknya harus aku modelnya.”

“Pak momo CEO ku”

“pantesan kayak dia persistent gitu, mbak rohana manggut manggut aja”

Untung gw gk punya affair di kantor ini, siapa yang tau juga kalau akan begini ceritanya. Kataku dalam hati

“wah pak momo tuh mana bisa diubah, apa yang dia mau ya itu yang harus kita jalanin. Tapi dia sih konsekwen kalau ternyata salah, ya dia terbuka sama saran dari kita2”

“Kalau aku rasa sih kamu cukup disukai sama direksimu, masa depanmu bagus sih mas di sini.”

“Nah itu, aku blom sempet ngomongin ke kamu”

“tentang apa?”

“pak AA datang ke training ku, dia ownernya grup AAA. Trus kita makan siang bareng.”

“Oh dia siapanya Lidia?”

“Kakeknya..”

“oohh…”

“nah terus rabu ini aku diundang presentasi di group AA di hadapan seluruh direksi holding untuk bicara masalah Succession dan development plan”

“trus..”

“hari sabtu kemarin kan lidia lanjutan konsul sama aku soal suaminya, kita sempet ngomongin ini, kata lidia itu tandanya aku mau di hijack ke AAA group”

“hhhhhmmmmm……. klo aku boleh saran sih ya, jangan dulu deh mas, kamu selesain project trainingmu, trus aku selesain project pemotretan ini dulu, habis itu terserah kamu deh, mau gimana”

“aku juga kepikiran gitu, toh dia yang butuh kan..”

“bener mas….”

“tapi rabu sih aku tetep ke sana ya.. seandainyapun aku gk join sama mereka, tapi paling nggak mereka bisa punya gambaran apa projectnya dan mereka bisa cari konsultan lain, gitu ya ra..”

“iya mas.. klo yang rabu besok sih lain ceritanya, kamu harus datang, itu kan bentuk respect kamu sama undangan dari dia”

“sssiiipppp”

“sekarang masih jam 6 mas, kita mau langsung pulang?”

“katanya mau dibikin pingsan?”

“iya sih tapi moment kita ngobrol berdua gini kan jarang. Kita nongki aja yuks..”

“boleh..”

“kamu gk kebelet ngewein aku kan?”

“kebelet sih, tapi tadi udah lumayan dapet secelup dua celup hehehehehe”

“ya udah, kita balik lg ke mall tadi, kayaknya enak nongki di sana..”

“hayuks..”

Aku memutar balik dan dalam lima menit sudah masuk parkiran mall besar kawasan gading serpong.
Setelah jalan pilih-pilih tempat di downtown walk yang super rame ini, kami menjatuhkan pilihan nonton di cineplex yang ada di sana, kami pilih fimnya Seven Pounds, karena ada will smith.

Selesai film, tiara masih sibuk menghapus air matanya, dan kami masuk ke salah satu beerhouse disana.

“Udah nangisnya?”

“Xixixixi… sedih banget filmnya..”

“ya gitu deh, kalau PTSD gk di maintain dengan baik, salah satu risiko paling extreme ya suicidal ideation kayak gitu. Dia tuh kalau dimaintain psikolog, bisa lakukan redemption dengan berbagai cara lain. Tapi emang sutradara mau angkat sisi dramatiknya aja, makanya sepanjang film bicara tentang rencana suicidal ideationnya aja, padahal dibalik itu ada traumatik yang lebih parah yang terjadi, suicidal ideation gk akan pernah muncul begitu aja.”

“tapi itu tetep film yang bagus mas..”

“emang.. tapi kurang lengkap”

“karena kamu sambil mikir nontonnya, aku sih nonton aja xixixixi”

“bener banget,”

“sekali kali kamu gk perlu koq analisa semuanya secara psikologis gitu, kamu cuma tinggal perlu nikmati yang ada aja, and let the miracle happen”

“is it happen to your life?”

“In our case? Yups..”

“beneran?”

“miracle its real my hubby.. i realised it when i met you at our office”

“kamu tau ara… dari semua hal di dunia yang paling bisa aku syukuri dan nikmatin adalah apa?”

“apa, mas?”

“bisa hidup bareng sama kamu ara..”

Tiara menatapku lama sekali, dan bibirnya mengucapkan kata tanpa suara sambil mengenggam tanganku
“amote mas’’

“amote ara..”

Jika diibaratkan makanan, Tiara ini wagyu steak yang sebenarnya. Tapi seenak-enaknya steak, terkadang masih laki-laki membutuhkan bakwan sayur sebagai selingan yang seringkali terasa lebih gurih karena kebanyakan micin, tapi dengan mencicipi bakwan sayur, jadi seorang laki-laki bisa mensyukuri betapa enak steak yang tersedia di rumah.

Kami sudah ada di ranjang kami setelah aktivitas hari ini yang menguras tenaga.

Malam ini adalah penyempurnaan suasana romantis yang secara gk sengaja kami bangun dari siang tadi. Setelah mandi dan memberikan kecupan selamat malam ke kedua anak kami, kami masuk kamar dan rebah bersisihan.

Aku pandangi istriku yang sudah mempersembahkan hidupnya untuk diriku, ku belai rambutnya sekedar mengungkapkan kekagumanku atas segala yang dimiliki Tiara.

“makasih ya ara.. tadi di resepsi kamu tampil cantik banget”

“demi kamu mas…”

“amote ara..”

“amote mas..”

Aku kecup pelan kening istriku, dia malah membalas dengan cubit toketku.

“apa janjinya?”

“apaan?”

“Awas ya aku sunat lagi kamu”

“hehehehehe… iya ampppuuuunnnn, tapi… capek ah..” kataku sambil membelakangi tiara

“eh… awas ya.. berani punggungin aku, gk dapet jatah sebulan kamu mas..”

“heheheh iya… “

Aku membalik badan, tiara udah nungging dan memeknya tepat dihadapanku

“nih, dia nagih janji minta dienakin..xixixixixi” kata tiara sembari mengarahkan memeknya ke mulutku

Kalau udah gini, jelas aku gk bisa nolak lagi. Siapa juga cowok yang bisa nolak disodorin memek seindah ini.

“perek banget sih kamu, nyodorin memek ke cowok gini.. hehehehehe”

“emang, perek buat suami sendiri xixixixi sssshhhhh…..”

Tiara berhenti bicara ketika kusibak jembutnya dan langsung ku jilat memeknya..

“Issshhhh…. Kamu tuh…”

“kenapa?”

“enak tau xixixixi ssshhh….”

Bicaranya terhenti lagi ketika lidahku menghampiri kelentitnya dengan sapuan panjang. Aku lanjutkan pekerjaanku menjelajah seputar area lembah nikmat yang ada didepan mataku ini.

“mass… ssshhhh….” tiara hanya mampu mendesah keenakan

Tujuanku kali ini bukan untuk membuatnya orgasme lewat lidahku, tapi mempersiapkan memeknya agar mampu menampung kontolku secara penuh. Jilatan demi jilatan dari aku mulai menampakan hasil, memek ini mulai membasahi liangnya dengan lendir alami.

Setelah kurasa cukup, aku menepuk pantatnya sinyal untuk berganti posisi. Tiara berbalik terlentang dan mengangkang memberikan akses untukku segera melakukan ritual birahi untuk membuahinya.

Aku membasahi kontolku dengan menggesek gesekkan kepalanya pada memek tiara, sejenak kemudian kuarahkan rudalku menuju titik sasaran yang sebenarnya.

Blessss….. masuk kepalanya

Ada rasa hangat di kepala kontolku ketika mulai memasuki liang persenggamaan tiara, pelan ku dorong lagi agar secara penuh dapat masuk seluruhnya.

“Aachhhssshhhh….”. desah tiara ketika semuanya sudah resmi tertanam dalam memek basahnya dan menyentuh bagian terdalam di sana.

“Masss……. ssshhhh….” desahnya seraya memandangku dengan pandangan sayang seorang istri pada suaminya.

Pelan ku gerakkan pinggulku dengan gerakan memompa, cengkeraman memek basah itu begitu terasa seperti membekap kontolku dengan erat. Licinnya lendir di dalam memek memberikan sensasi geli enak pada kepala kontolku.

Aku terus memompanya dengan rpm rendah dan merasakan setiap sensasi gesekan antar dua kelamin kami, sementara bibirku dan tiara berpagutan tanpa henti, lidah kami saling berperang adu kenyal mengungkapkan perasaan cinta terbaik yang kami berdua miliki diiringi desahan tiara yang menggema di kamar tidur kami.

Ketika dirasakan lendirnya sudah cukup banyak tiara mulai mengoyangkan pinggulnya agar mampu memberikan cengkeraman lebih pada kontolku, rasanya kontolku menjadi semakin keras dan besar efek sensasi jepitan yang diberikan memek tiara.

Sudah lebih dari lima menit kami tetap berada pada posisi itu, aku memompa, tiara bergoyang dan bibir kami tak henti saling bercumbu.

“Mas… sshhhhh… aku di atas…”

Dan kami berguling membalik posisi tanpa melepaskan kaitan kelamin kami, setelah ada di atas, tiara mengambil inisiatif lebih, posisi WOT ini memang posisi favorit tiara, karena dia jadi bisa mengatur agar kontolku dapat menggesek titik titik paling sensitif dalam memeknya untuk meningkatkan rangsangan. Kami masih pada posisi missionaris, tapi terbalik, pantat tiara bergerak naik turun agar memeknya mengocok kontolku.

Bunyi memek basah tiara makin keras bergema tambah sexy dengan suara nafasnya dan desahan sexy dari mulutnya.

Beberapa menit dalam posisi ini, tiara kemudian merasa perlu untuk meningkatkan intensitas tekanan dari kontolku, dia merubah posisi dengan tetap di atas, kali ini tubuhnya ditegakkan, kedua kakinya ditekuk seperti menduduki diriku, semuanya tetap dilakukan tanpa melepas kaitan kelamin kami.

Jelas pada posisi ini kepala kontolku akan menekan mulut rahimnya dengan kuat, dia lalu menggoyangkan pinggulnya, bukan mengocok kontolku, gerakan ini akan memberikan tekanan maksimal pada mulut rahimnya, tangan kami bergenggaman agar aku bisa memberikan tempat bertumpu yang baik bagi dirinya selama melakukan aksi ini….

“Sssshhhh… masss…. menttoookkk baannggeettttt”

“Aaasssshhhh ngggiillluuuuuuu”

Seperti yang sudah-sudah gerakan ini membuat memeknya banjir lendir dan suara berdecak dari bertemunya kelamin kami makin keras terdengar. Gila ini sexy banget. Gerakan goyang tiara ini juga membuat aku naik, bertemunya ujung kepala kontolku dengan mulut rahimnya menimbulkan sensasi geli yang gk bisa diungkapkan.

Lima menit lebih tiara bertahan pada posisi in, dari wajahnya kulihat dia sangat tersiksa keenakan, beberapa kali tiara menyibakan rambutnya, menengadahkan kepalanya dan keringat mulai membasahi sebgian rambut panjangnya dan tubuhnya.

“Masss…. bareenggaaann saaayyaaanggg……” pinta tiara

Akupun bereaksi dengan sesekali menaikkan pantatku untuk memberikan tekanan lebih dahsyat lagi pada memeknya dan meningkatkan sensasi geli di kontolku…
Selama beberapa menit, gerakan kami makin cepat dan intens. Goyangan pinggul tiara mulai tak beraturan, menambah cengkeraman pada kontolku menimbulkan sensasi diperas peras secara cepat.

“Masss… ayyooo masss…. tekaannn laaagiii…. ssshhhhh…..”

“Masss… ggilllaa kooontttooool kaaammmuuu…. ssshhhh……”

“Aaassshhhhhhhhh eeenaaaakkk baaanngggeeettttt….”

“Sssshhhhhh…. nngggiiillluuunnnyaaa tteeerrrlllaallluuu eeennnaaakkkkkk……”

“Massss..ssssshhh baarreeennnggggiiiiiinnnnnn”

Aku makin berkonsentrasi pada ujung kepala kontolku ketika terlihat tiara mulai sesak nafas, tanda orgasmenya sebentar lagi dicapai. Dan benar saja, tiara tiba-tiba terdiam gerakan pinggulnya kasar antara menggoyang, menghentak dan memeknya keras meremas batang kontolku. Aku segera melepaskan pertahananku dan

“Aaaaccchhhhhhhh maasss……. aaaakkkkkkuuuu ssshhhhhssshhhh nnnyaaammppeeeee……”

Sebuah lengkingan menandai tiara berhasil mencapai orgasmenya sedangkan aku

“Eeerrggg…. sshhh sshhh eerrgggg….. sshhhhsshhh eerrrgggg…..” bagaikan bendungan jebol kontolku memuntahkan jutaan benih ke dalam memeknya dibarengi kenikmatan tiada tara yang kurasakan membetot kesadaranku…..

Selama beberapa saat kemudian aku merasakan kontolku masih berkedut memuntahkan isinya, sementara memek tiara masih meremas-remas.

Kami kemudian terdiam, hanya nafas kami yang masih memburu dan tiara rebah di dadaku lemas, rambutnya menutupi wajah kami berdua, aku pun lemas kehabisan tenaga enggan menyibak rambut tiara. Kami berdua tanpa sadar tertidur dalam posisi itu, masih telanjang polos.

***

Setelah sabtu yang melelahkan mental dan fisikku, kemarin di hari minggu waktuku banyak kuhabiskan di rumah untuk bercengkrama dengan 2 jagoanku.

Hari ini, senin aku berangkat kantor seperti biasa ditemani marissa dengan callnya dan beberapa gambar toket serta memek marissa yang segera saja aku hapus dari memori HPku untuk alasan keamanan rumah tangga.

Jam 11.45 siang di kantor, tiba-tiba ext ku berbunyi, ketika aku baru saja duduk di ruangan setelah meeting mingguan.

“Siang Pak Andre.., pandu Pak…”

“Ya mas Pandu?” pandu adalah resepsionis di kantorku

“ada tamu di lobby, pak. Namanya Bu Gladys. Saya harus sampaikan apa ya pak?”

What? Gladys? Koq dia tahu kantorku dimana?

“hhm… gpp saya temuin aja”

“Siap pak.”

Aku bergegas ke lobby untuk menemui Gladys.

“Hi there…” kataku menyapa Gladys

“Hi Ndre…” kami cipika cipiki

“What a surprise!!” (Wow kejutan)

“Really? Busy dude?” (masak sih, sibuk gk loe)

“no.. its almost lunchtime, just finished my weekly meeting” (nggak koq, tadi habis meeting)

“sorry for not inform you before” (sorry ya gk info sebelumnya)

“aah.. np, whaz up dear?” (gpp koq, ada apa neeh?)

“Nothing special, just wanna ask you for lunch” (gk ada apa2 sih.. Cuma mau makan siang ma loe)

“sure?” (yakin?)

“Absolutely. why? Any situation?” (beneran koq, kenapa? ada masalah?)

“no definetely not, just wondering” (nggak koq, Cuma heran aja)

“c’mon baby.. nothing special, just lunch..” (ayolah, cuma makan siang biasa aja)

“Oket then.. gimme couple minutes” (ssiiipp, bentar ya)

“take your time, dear..” (silakan..)

Gk sampai 5 menit aku udah keluar lagi, dan aku baru sadar ketika kami bersanding di lift yang dikelilingi cermin ini. Gladys tingginya hanya sedadaku dan kelihatan imut banget dibandingkan aku yang raksasa ini. Aku langsung bayangin kontolku ngaduk-ngaduk memek kecilnya dan dia teriak-teriak antara kesakitan dan keenakan.

Kami makan siang bersama di foodcourt, dimana banyak karyawan tempatku, juga makan di sini. Penampilan Gladys yang K-pop banget jelas menarik perhatian. Anak buahku yang melihat kami, senyum-senyum penuh makna termasuk seno, orang yang kusiapkan sebagai penggantiku.

Beneran gk ada hal serius yang kami bicarakan sepanjang makan siang, dari situ aku justru bertanya-tanya kenapa Gladys sampai rela membelah kota ini hanya untuk makan siang denganku dari kantor mereka di daerah Daan mogot ke sudirman, jelas memerlukan effort dan waktu yang tidak sedikit jika hanya untuk tujuan makan siang.

Selama makan siang, gesturenya pun biasa, kecuali dia menyuapkan nasi kebulinya ke aku ketika dia minta aku cicipin dan ngelap keringat di dahiku yang muncul karena kepedasan ayam geprek yang kumakan siang itu, selebihnya semua normal.

Tapi untuk menanyakan tujuan sebenarnya aku merasa belum waktunya. So let it be..

“tadi siapa pak?” tanya seno anak buahku sekaligus partner in crime yang sering menemaniku ngerokok bareng di sela waktu kerja ketika tiba-tiba masuk ruanganku.

“Temen, baru kenal sabtu kemarin sih, kenapa?”

“imut banget….. tipe gw banget tuh pak..”

“hahahahaha… sayangnya bukan tipe gw..”

“ya kalau dibandingin istrilu yang kemarin sabtu dibawa kondangan sih.. jelas bukan tipe lu pak.”

“hehehehe… bener.. tapi gw takut klo ma dia..”

“lah takut kenapa pak..”

“takut gk muat, gw punya kegedean hahahaha”

“gilingan lu pak, gw pikir apaan hahahahaha”

“udah sono kerja, jangan mesum melulu pikiran loe..” kataku memutus obrolan kami

“kapan-kapan kenalin ya pak..”

“ssiiiipppp, tapi….”

“tapi apa pak?

“gw kenalin setelah abis gw kelonin yah..”

“anjiiirrrr…. katanya bukan tipenya… hahahahahaha” seno tertawa sambil berlalu dari ruanganku.

Menjelang sore, tiba-tiba HPku berbunyi… nomor tidak dikenal

“Ya dengan andre laksamana..”

“sore pak andre.. saya tiur pak, sekretarisnya pak AA”

“oh ya… gimana tiur, ada yang bisa saya bantu?”

“pak andre, pak AA meminta saya konfirmasi untuk kehadiran Pak Andre di meeting hari Rabu Pak,”

“Oh.. okey.. siap. Saya confirm”

“tapi jamnya berubah gpp ya pak?”

“hhhm… jam berapa ya?”

“Jam 7 pagi pak, di kediaman beliau”

Aku berpikir, bagus juga kalau lebih pagi, jadi aku tidak perlu cuti, cukup ijin setengah hari aja.

“dimana ya?”

“di daerah menteng pak.”

“oohh.. okey banget sih, malah lebih baik kalau lebih pagi, alamatnya?”

“Nanti saya kirimkan, pak. oh ya, katanya pak andre gk usah presentasi. Pak AA hanya mau ngobrol aja. Semacam coffee morning gitu pak”

“Baik bu Tiur, jam 7 pagi di menteng, gk usah presentasi, alamat nanti akan dikirimkan”

“Sip pak Andre. Selamat sore..”

“Sore juga bu Tiur”

Hhhmmmm…. aku segera telp pandu

“Ya Pak Andre..”

“Mas Pandu, sebelum ketemu saya, tadi tamu saya ada ketemu orang lain di kantor ini?”

“gk ada pak.., tapi yang bareng sama dia, kalau gk salah namanya.. sebentar pak…
Namanya Bu Jenny, dia ketemu Pak Momo”

What?!

“okey makasih mas pandu ya..”

Aku segera login ke HRIS, aku cari data pak Momo.
Gotcha! Pak momo sebelum CEO di sini, di AAA group..
Pantes kata Lidia, pak AA punya mata-mata di sini hhhhmmmm….

***

Rabu pagi jam 06.45 aku sudah di depan rumah Pak AA. Sebuah rumah besar dengan halaman yang luas di kawasan elit Jakarta ini.

“Pagi Pak.” Kata security yang menghampiri ku ketika aku membuka kaca mobil

“Pagi, Pak. Saya ada janjian ketemu Pak AA, pagi ini jam 7.”

“dengan pak siapa?”

“Dengan Andre Laksamana, Pak”

Ia kemudian masuk ke pos dan meneliti whiteboard di pos, kemudian kembali lagi ke mobilku bersamaan dengan gerbang membuka secara otomatis.

“silakan, pak. Nanti di teras depan ada yang akan mengantar”

“siap pak, terima kasih”

Aku masuk melewati gerbang dan memutuskan parkir agak berjarak dari teras. Kulihat ada ibu2 berseragam seperti yang pernah aku temui di rumah hideout Lidia.

“Dengan Pak Andre Laksamana ya” kata ibu itu dengan senyum ramah dan logat jawa kental.

“inggih bu..”

“lho, sanget boso tho pak?”

“Kulo tiang kota S”

“oalah, monggo diagem sleeper niki pak” katanya sambil mengambilkan sleeper yang bertuliskan namaku.

“Suwun nggih bu..”

“sami-sami Pak, monggo..” katanya membuka pintu kayu besar mempersilahkanku masuk..

“Mari Pak, saya tiur yang kemarin dulu telepon bapak” sosok wanita berusia 50an tahun sudah ada di depanku.

“baik bu Tiur”

Aku berjalan mengikuti bu Tiur menyusuri koridor samping rumah menuju taman yang ada di bagian belakang. Sebuah gazebo mewah ada di sana, menghadap ke taman bunga yang tidak luas tapi indah banget. Pak AA sudah ada di sana dan berdiri menyambutku, bersama dengan….
Pak Momo!

“Pagi Pak AA, Pagi Pak Momo..” kataku sembari mengulurkan tangan.

“pagi Pak Andre..” sapa Pak AA menyambut uluran tanganku, sementara pak Momo langsung merangkul pundakku.

“yok jangan malu-malu, kita sarapan sembari ngopi..” kata pak Momo dengan suara beratnya.

“kaget aku ketemu Pak Momo di sini hehehehe”

“ssttt, orang kantor gk boleh tahu ya.. hahahahahaha”

“Silakan duduk Pak Andre.. kopi atau teh?”

“kalau boleh, kopi lebih sesuai dengan suasana pagi ini, pak”

Dan pelayan yang standby di bagian lain dari gazebo besar ini segera bergerak menuangkan kopi dan membawanya kepadaku.

“begini Pak Andre, saya langsung aja ya.. Ini Pak, saya ada sesuatu buat Pak Andre” kata pak AA sembari menyodorkan sebuah surat kontrak kerja kepadaku.

“hhhmmmm… sebelum saya baca, kalau boleh ada previewnya dulu, Pak?” sekilas ku lirik kontrak kerja ini kop suratnya bukan logo AAA Group, tapi sebuah PT yang aku sendiri baru lihat sekarang namanya. Gak ada logo AAA group.

“Jadi begini, pak Andre. Saya sedang membentuk tim manajemen khusus, tim ini nantinya dikepalai oleh Pak Momo yang langsung report pada saya secara personal, tidak bekerja di AAA Group, tapi bekerja pada saya pribadi. Tugas Pak Andre, membantu Pak Momo di bidang Human Capital sama seperti yang pak Andre lakukan di perusahaan sekarang. Selain Pak Andre, akan ada tiga orang lagi, yang masing-masing ahli di bidangnya, semua akan membantu Pak Momo. “

Aku menengok pada Pak momo dan beliau mengangguk mengiyakan.

“Tugas tim manajemen khusus ini, nantinya untuk mengurus PT yang baru saja saya akuisisi, memperbaiki tata kelola perusahaannya dan membuatnya jadi perusahaan yang sehat, setelah itu merekrut tim manajemen lain yang capable untuk meneruskan mengurus PT ini secara permanen. Setelah tim manajemen permanen terbentuk, Tim Khusus ini akan saya tugaskan di PT lain lagi, begitu seterusnya.”

“hhhmmm… menarik banget Pak. Tantangannya sangat besar”

“betul Pak Andre, dalam bidang Pak Andre salah satu tugasnya adalah memberhentikan orang-orang lama yang tidak capable dan digantikan dengan orang-orang baru yang memiliki pemikiran lebih segar.”

“hhhhmmm… tapi saya kan masih ada project pelatihan dengan AAA Group, Pak. Dan ini terkait dengan pihak ketiga Pak Roni.”

“OOOhhh.. itu gk masalah, silakan selesaikan pekerjaan Pak Andre itu. Saya berikan dispensasi tiap jum’at untuk melakukannya sampai dengan selesai.”

“Lalu seandainya saya tanda tangan, berapa lama saya diberi waktu untuk resign dari perusahaan yang sekarang, Pak AA?”

“hhhmmm.. begini ndre.. kalau kamu ajukan pengunduran diri hari ini, Pak Johan atasan kamu kan pasti akan konsultasi ke saya, saya akan langsung approve. Dan saya akan tugaskan seno untuk menggantikan kamu. Hari jum’at akan ada RUPS di perusahaan kita dan di sana nanti akan ditunjuk CEO baru pengganti saya, Pak Tanu direktur marketing kita. Jadi hari senin kamu dan saya sudah tidak ngantor di sana lagi.” kata pak momo menjelaskan.

“Baik Pak Momo, Pak AA, boleh saya baca kontrak ini dulu?”

“silakan Pak Andre”

Aku membaca dengan seksama surat kontrak itu, disana belum dituliskan tanggal efektif bekerja dan besaran Remunerasinya.

“Pak AA, Maaf saya belum melihat tanggal efektifnya dan besaran remunerasinya ya?”

“hhmm… waktu surat ini dibuat, saya belum konsultasi ke Pak Momo, tapi pagi ini sudah, boleh saya pinjam sebentar suratnya?”

“OOhh.. silakan Pak..” kataku sambil menyerahkan surat itu ke pak AA.

Kemudian pak AA melihat catatannya dan menuliskan sejumlah angka di surat kontrak itu dan tanggal efektifnya, kemudian Pak AA membalik beberapa halaman dan meuliskan lagi sejumlah angka yang berbeda.

“silakan Pak Andre.. katanya sambil menyerahkan surat itu kembali kepadaku.

Aku langsung melihat tanggal efektifnya, ternyata senin minggu depan dan besaran remunerasi yang ku terima sejumlah tiga kali lipat dari apa yang kuterima di perusahaan yang sekarang.

“Dibelakang ada yang spesial pak” pak AA memberikan tambahan

Aku membalik beberapa halaman dan di sana ada tertulis bonus perekrutan sejumlah setahun gajiku di perusahaan sekarang dengan keterangan ditransfer setelah aku menandatangani surat ini. WOW!!!

WWHHHOOOAAA Untung waktu di hotel kemarin aku gk pake si Lidia ataupun Gladys, bisa jadi mereka itu ujian buat aku untuk pertemuan hari ini.

Bersambung