Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat
LDR (Long-lust Distance Relationship)
Hubungan nafsu jarak jauh​

Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku – Cuaca disiang hari ini sangatlah panas seakan mentari sedang menunjukan amarahnya kepada penduduk di muka bumi. Apa yang sebenarnya terjadi ? Mungkin kejadian di dalam kamar mandi di sebuah perusahaan di ibu kota menjadi salah satu penyebabnya.

Seorang lelaki yang sudah tak mengenakan pakaian itu tampak tersenyum cerah. Tubuhnya sangat kurus, tulangnya tercetak dengan jelas dibalik kulit kusamnya. Sedangkan penisnya yang dikelilingi oleh rambut lebat diselangkangannya mulai layu. Dari lubang kencingnya nampak menetes sisa cairan kental yang berwarna putih,

“hahahaha” tawa lelaki tersebut sambil memandangi layar hpnya,

Ia menatap sebuah video yang baru diunggahnya ke grup WA beberapa detik yang lalu, tak berselang lama ada seseorang yang mengomentari video tersebut,

“wahhh boleh juga nih barang barunya” komen lelaki tersebut,

“hahah ini dah lama bro, kemana aja ?” balas lelaki yang mengunggah video tersebut,

“loh iya kah ? kok gue baru tau?” tanyanya,

“hahaha ini miss M loh, masa gak kenal?” tanya balik,

“hahhhh beneran jang? Miss M yang berhijab itu?” tanyanya,

“lahhh baru sadar hahaha, iya bro betul” jawab ujang,

“beruntung banget bisa ngenikmatin tubuh beningnya” balasnya,

“haha iya dong, jangan lupa yah, gue yang pertama kali ngerebut keperawananya” ucap ujang dengan bangga,

Sementara itu dibalik tawa jahatnya terdapat wanita yang tengah terbaring lemas di lantai kamar mandi. Wajahnya tampak kelelahan, rambutnya pun berantakan. Dan dari dalam vaginanya ada cairan kental berwarna bening yang mengalir keluar begitu banyak. Terlihat air mata mengalir membasahi wajah ayunya,

***​

POV Firda

Aku sedang menunggu di salah satu kantin dekat ruangan meeting berlangsung. Tepat saat ini mas Hendra serta beberapa petinggi perusahaan lainnya sedang melakukan rapat guna memajukan perusahaan ini sekaligus membahas solusi dari permasalahan yang sedang menimpa perusahaan akhir – akhir ini,

Namun jam demi jam waktu yang sudah kuhabiskan untuk menunggu datangnya waktu istirahat di tengah rapat ini membuatku bosan. Akan tetapi sisi baiknya aku bisa terhindar dari pak manto.

Aku tak dapat membayangkan apabila diriku saat ini sedang berada di rumah. Bisa jadi nafsu didalam tubuhku mampu menuntunku untuk menyerahkan tubuh ayuku lagi padanya. Ini aneh, kenapa akhir – akhir ini aku bisa menjadi seperti ini yah, tak kusangka sisi lain dari diriku bisa separah ini,

Teringat dahulu ketika aku pertama kali melakukan aksiku di tempat umum. Kalau tidak salah itu terjadi di kamar mandi tempat dimana aku kuliah dulu. Hampir saja seseorang merenggut keperawananku. Beruntung aku masih tertolong sehingga suamiku lah yang dapat merasakan sempitnya vaginaku untuk pertama kali,

Namun akhir – akhir ini, aku seperti kehilangan harga diriku, aku seperti tak ada bedanya dengan seorang pelacur. Apa gunanya pakaian syar’i yang selama ini kukenakan ? Apakah semua ini hanya sekedar pakaian saja ?

Tak terhitung sudah berapa lelaki yang mampu menikmati tubuhku baik itu dari sentuhan atau sekedar tatapan. Aku sempat teringat bagaimana tubuhku dipenuhi oleh sperma orang – orang di pasar kala itu,

Aku merinding, aku memeluk tubuhku sendiri membayangkan diriku pernah sekotor ini. Andai saja waktu itu pak manto tidak melecehiku. Mungkin semuanya nampak normal – normal saja. Sudahlah lupakan saja, membicarakan pak manto hanya membuatku teringat saja dengannya,

‘Ngomong – ngomong apa ada balasan dari pak manto yah mengenai foto yang tak sengaja ku kirim kemarin ?’ batinku bertanya – tanya,

Sesaat ketika aku ingin mengambil hp dari dalam tasku, tanganku tertahan oleh tanganku yang lainnya. Aku tak ingin terjebak lagi. Aku tak ingin dipengaruhi oleh hawa nafsuku lagi, tapi aku penasaran.

‘ahhh tidak, gak boleh, jangan mulai lagi’ batinku menolak,

Sesaat suara notif hpku berbunyi, aku tau kalau ini menandakan ada pesan yang masuk melalui aplikasi WA ku. Secara reflek aku langsung melihatnya dan rupanya pesan tersebut berasal dari pak manto,

Jantungku langsung berdegup kencang, aku mulai mengira – ngira pesan apa yang pak manto kirimkan padaku. Ingin rasanya aku membuka pesan tersebut namun suara hatiku menahannya, dikala aku mencoba bertahan fisikku pun menolak. Terasa otak yang berada di kepalaku telah mengirimkan perintah kepada jemariku untuk membuka pesan tersebut dan akhirnya pesan pun terbuka,

“lagi sibuk gak dek Firda? mau video-call?” balas pak manto,

Entah kenapa diriku merasa kecewa, ini tidak seperti apa yang aku harapkan. Apakah mungkin pak manto belum melihat foto sebelumnya yang telah aku kirim?

‘Firda sadar, bukankah ini bagus, ia hanya ingin video call dengan mu bukan ingin hal yang macem – macem lagi’. Suara hatiku kembali menasehatiku,

Kalau aku pikir lagi memang benar, bukankah ini hal yang positif. Mungkin saja dengan mengobrol dengannya melalui video call bisa membantuku untuk menghabiskan waktu menganggur ku disini,

“okey” balas ku singkat,

Sesaat kemudian pak manto langsung mengaktifkan tombol video call nya kepadaku. Jariku sempat tertahan untuk mengiyakannya atau tidak. Namun akhirnya akupun menyetujuinya,

Seketika aku menarik nafas dengan sangat kuat, mataku terbelalak. Berkali – kali aku menengok ke arah kanan dan kiri. Aku menutup mulutku ketika terkejut melihat apa yang saat ini berada di layar hpku,

Dengan beraninya pak manto telah telanjang bulat dengan menampilkan pusaka hitamnya yang telah mengacung dengan indah. Sesaat aku terpesona karenanya. Sesaat aku juga takut ada orang lain yang melihatnya, sesaat akupun rindu ingin mengecupnya,

Aku buru – buru memasang headset sebelum suara anehnya mulai terdengar oleh orang lain. Dari headset ku terdengar dirinya sedang mendesah sambil mengocoknya sambil melihat wajahku yang terpampang di layar hpnya,

“bapak ngapain? kok berani banget?” tanyaku penasaran,

“lohh kok manggil pak lagi sih dek, panggilnya mas dong , jangan terlalu formal gitu” ucapnya mengingatkanku,

“ehh iyya hehe” jawabku,

Entah kenapa mataku masih belum bisa berpaling dari ukurannya. Terlebih ketika ia mengocoknya dengan perlahan. Itu semua sangat mengagumkan. Tanganku gatal ingin melakukan hal yang serupa. Tak sadar lidahku ku julurkan sambil membayangkan betapa nikmatnya bisa memasukan penis sebesar itu ke dalam mulutku,

Tanpa sepengetahuanku, pak manto tersenyum melihat ekspresi wajahku. Aku seperti terhipnotis, gairahku langsung memuncak, nafasku terasa berat. Aku tak tahan ingin meraihnya dengan jemariku,

“mau lagi gak dek Firda” ucap pak manto membangunkan lamunanku,

Wajahku tak bisa berbohong, aku sangat menginginkannya kembali, aku tak tahan ingin bermain dengan pusakanya yang begitu menggoda,

Aku langsung menganggukan kepalaku tanpa menunggu lama, kulihat pak manto tersenyum puas, ia terus menggodaku dengan memainkan penisnya, gairahku semakin memuncak, tak sadar kakiku langsung ku rapatkan, ingin sekali rasanya benda itu menembus rahim ku kembali,

“kalau gitu mainin dong dek” ucap pak manto,

Kulihat ia telah melepaskan penisnya dari genggamannya, ia membiarkan penisnya berdiri tegak, sesekali ia menggerakan penisnya tanpa menyentuhnya, aku semakin tergoda, aku semakin tak tahan, ingin rasanya aku mencari tempat aman agar bisa lebih leluasa menatapnya,

“tunggu sebentar yah mas” ucapku beranjak dari kursiku,

Aku langsung bergerak mencari tempat sepi, aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk menemukan tempat tersebut, tapi sayangnya aku masih belum menemukannya, sesaat aku menemukan kamar mandi yang berada tak jauh dari tempat aku menunggu tadi,

“klikk” terdengar suara bilik kamar mandi telah ku kunci, kini aku bisa sendirian berada di tempat sepi sambil menatap penis yang berada di layar hpku,

Saat aku melihat kembali layar hpku, kulihat ukurannya semakin membesar, apakah ini hanya perasaanku saja? terlihat urat yang berada di sekitarnya pun semakin terlihat,

“gimana dek udah aman?” tanya nya,

“udah massss” ucapku tanpa memalingkan pandanganku dari penisnya,

“Kalau gitu buka kancingnya dong” ucapnya menggodaku,

“ehh kancing?” ucapku sambil melihat ke arah kemeja yang sedang ku kenakan,

“kancing kemeja ini?” ucapku meyakinkannya,

“kancing mana lagi dong sayang, iyalah, apa gak ngerasa sempit tuh dengan ukuran payudaramu yang semakin membesar itu?” tanyanya yang membuatku merasa malu,

Wajahku langsung memerah dibuatnya, aku tersipu malu, tak kusangka ada orang lain yang begitu blak blakan mengomentari ukuran payudaraku yang sangat indah ini,

Dengan malu – malu aku membuka kancing ku satu persatu, kulihat wajah pak manto begitu antusias untuk melihat sepasang buah yang paling menggoda di dunia ini, sesaat bra yang saat ini ku kenakan telah terlihat dibalik kemejaku, sambil malu – malu aku menurunkan cup bra ku hingga puting berwarna merah muda yang selalu menjadi favoritnya kini mulai terlihat,

“cantiknya bidadariku” puji pak manto yang membuatku bahagia,

Aku tak sadar tersenyum mendengar pujiannya, aku berkali – kali menuruti permintaannya seperti sedang terhipnotis, tak sadar tubuhku kini telah telanjang bulat hanya mengenakan kemeja yang sudah tak terkancing lagi beserta hijab yang menutupi kepalaku,

Pak manto selalu memintaku untuk memainkan payudaraku, aku pun memurutinya, berulang kali aku meremas payudaraku sendiri sambil memandangi penisnya, ku pelintir putingku sambil memandangi penisnya, ku bergantian memainkannya yang membuatku terangsang sendiri dibuatnya,

“ahhhhhhhh” desahku,

“indah sekali susumu dek, ini yang paling kusuka darimu” ucapnya mengomentari tubuhku,

Semakin lama dilihat, penis itu semakin menggoda saja, aku tak tahan lagi ingin mengulumnya, tak terasa ide aneh pun muncul dari dalam benakku, aku baru ingat kalau cashing hpku bisa merekat apabila ku tempel di dinding, aku pun menempelkannya tepat di pintu kamar mandi sedangkan aku kembali duduk ke arah closet,

kini aku lebih leluasa menggerakan kedua tanganku, aku duduk menyenderkan tubuhku, satu tanganku kugunakan untuk meremas payudaraku, satu tanganku lagi kugunakan untuk merangsang vaginaku, tak terasa vaginaku sudah sangat basah,

aku Kembali teringat bahwa diriku saat ini sedang berada di dalam kamar mandi perusahaan suamiku, tak terbayangkan bagaimana apabila ada seseorang yang memergokiku melakukan aksi liar ini,

‘ahhhh , membayangkannya saja sudah membuatku lemas’ batinku,

Ku lihat ke arah hp, pak manto semakin bersemangat mengocok penisnya, aku pun jadi ikut bersemangat, aku semakin bernafsu untuk memilin putingku sendiri, tak sadar akupun menjilati jariku yang baru saja kugunakan untuk merangsang vaginaku, rasanya sangat asin, namun mampu membangkitkan birahiku,

“ohhhh aku tak tahan lagi” bisikku lirih,

Aku semakin cepat dalam mengobok vaginaku sendiri, aku semakin keras dalam memilin putingku , aku memejamkan mata menikmati semua kenakalanku,

“ohhhh, ohhhh ini enak sekali, ahhh ,ahhhh” desahku,

Nafasku semakin memburu dibuatnya, vaginaku semakin basah, jemariku semakin cepat dalam merangsang klitorisku, kurasakan ada gelombang besar yang akan keluar dari dalam tubuh, aku semakin tak tahan, aku, aku , akuu,

“Eehhhhhhmmmmmmm” desahku yang kutahan agar tak terdengar oleh orang lain,

Sungguh luar biasa, aku kembali mendapatkan orgasme yang sangat nikmat, diriku lemas dibuatnya, mataku berkunang – kunang, nafasku semakin berat dibuatnya, saat ku membuka mata, diriku terkejut, kulihat pintu didepanku basah , apakah ini diakibatkan oleh gelombang orgasmeku?

“ohhh tidak” ujarku panik,

Kulihat layar hpku sebagian juga basah, padahal jaraknya cukup jauh dariku dan tempatnya juga agak tinggi, kenapa masih bisa terkena semburan dariku yah ? semoga hpku gak rusak,

“ahhh aku puas sekali, tapi menyebalkan, semua gara – gara pak manto” ucapku lirih,

Oh yah bagaimana dengannya ? Kembali ku lihat kearah hp rupanya penis pak manto masih mengacung tegak, ia belum mendapatkan orgasmenya, bagaimana bisa ? padahal kulihat sedari tadi ia begitu bersemangat untuk mengocok penisnya, tapi ia masih bisa bertahan ? luar biasa sekali,

Kulihat pak manto seperti mengucapkan sesuatu, akupun Kembali memasang headsetku untuk mendengarkannya,

“luar biasa sekali kamu dek, bisa mendapatkan orgasme sehebat itu” ucapnya yang membuatku malu,

Aku hanya tersenyum saja mendengarkan pujiannya, wajahku memerah, aku sangat malu sekali,

“oh yah, boleh minta tolong sesautu gak dek?” ucapnya,

“apa itu pak? Jawabku,

“aku ingin melihat seluruh tubuhmu yang telanjang di tempat umum ini, bisa lepas semuanya gak yang melekat di tubuhmu” ucapnya,

Aku sempat berpikir sejenak, walaupun tempat ini tertutup, tapi kalau sampai telanjang ya gimana ? namun nafsu mengalahkan akal sehatku, akupun melepaskan kemejaku, juga dengan hijab yang saat ini ku kenakan, begitupula dengan kaus kaki dan semua yang melekat pada tubuhku,

“ahhhh dekkk, indahh sekaliii, ahhhh ahhhh ahhhhh” ucapnya penuh nafsu,

Aku hanya tersenyum sambil memainkan payudaraku sejenak, kulihat penisnya semakin menggoda, ini aneh walaupun aku sudah mendapatkan orgasmeku tapi aku masih tetap ingin merasakan penisnya lagi, ingin rasanya penis itu menembus rahimku lagi,

‘ini luar biasa, indah sekali tubuhnya, besar sekali payudaranya, tak kusangka ada wanita cantik yang mau menyerahkan tubuh indahnya pada seseorang sepertiku, kau sangat bodoh Hendra membiarkan istri cantikmu seperti ini’ batin pak manto,

Terlihat pak manto semakin bernafsu, jemarinya dengan keras mencekik penisnya sendiri, dengan begitu cepat ia gerakan naik turun untuk memompa penisnya, mulutnya pun ia majukan membayangkannya bisa mengulum payudaraku lagi,

“Ahhhhh dekkkkk , ahhhh ahhhh ahhhhhhh” ucapnya,

Gelombang orgasme pun meledak darinya, spermanya mulai terbang berhamburan keluar dari lubang kencingnya, aku takjub, ini seperti pertunjukan kembang api, bahkan ada yang mengarah tepat ke kamera hpnya, aku membayangkan bagaimana kalau sperma itu keluar di dalam vaginaku, pasti rasanya menggairahkan sekali, ingin rasanya suatu saat nanti merasakan hal itu.

Sementara itu pak manto tersenyum puas, seolah ia telah memenangkan sesuatu, setelah berpamitan padaku, ia langsung menutup sambungan Video call nya, ia membuka galeri nya dan menemukan banyak foto telanjangku yang baru didapatkan dari hasil screenshotnya termasuk foto yang ia dapatkan malam itu,

Aku sangat puas, akupun membersihkan tubuhku dan kembali memakai pakaianku, agak terasa tak nyaman sebenarnya apabila mengenakan pakaian dengan kondisi tubuh masih basah seperti ini,

saat aku telah mengenakan pakaianku lengkap, aku terkejut karena melihat ada celana dalam wanita yang tertinggal di dalam bilik ini, milik siapa ini ? aku pun memerhatikan ke sekitar, rupanya di tempat aku duduk tadi juga ada bekas sperma , milik siapa ini ?

Akupun semakin ketakutan apabila ada yang memergokiku, aku segera keluar dari kamar mandi ini dengan perasaan was – was, namun aku bahagia ketika aku melihat seseorang ketika keluar dari kamar mandiku,

“mayaaaa” sapaku,

Maya pun tersenyum ketika ia juga melihatku, namun entah kenapa wajahnya begitu kelelahan, ia tampak lemas seperti baru kerja lembur semalaman apa yang terjadi padanya ? mungkinkah akhir – akhir ini ia semakin sibuk dengan tugas kantornya,

Beruntung jarak antara kamar mandi yang kupakai tadi dengan ruangan kerjanya maya tak begitu jauh, aku segera mendatanginya dan memeluknya, beginilah akibatnya apabila 2 orang sahabat kembali bertemu setelah sekian lama,

Tanpa sepengetahuanku ada sesosok lelaki kurus yang sedang melirik kami berdua, namun aku tak menyadarinya karena ia sedang memegangi pel untuk membersihkan lantai perusahaan,

***​

Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian itu, setelah kami melakukan video call di kamar mandi perusahaan suamiku, ia jadi lebih sering meng-vc ku, begitu juga sebaliknya terkadang aku yang memulainya duluan, terkadang kami melakukan vc biasa, kadang juga melakukan vc yang luar biasa,

entah kenapa diriku bisa menjadi seperti ini, aku bingung dibuatnya, ingin ku berhenti namun aku tak bisa, seolah aku lebih tunduk pada hawa nafsuku sendiri daripada akal sehatku,

Seperti biasa kini aku melakukan rutinitas harianku, Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, matahari masih belum begitu terik menyinari dunia, aku berkumpul bersama ibu – ibu RT yang sedang berbelanja di warung berjalannya mang dedi si penjual sayur,

Semenjak aku tahu kalau mang dedi terlibat affair dengan mbak liya, mataku seperti selalu mengawasinya, khawatir ia akan melakukan hal yang buruk padaku, tatapannya pun mencurigakan, tanpa sepengetahuanku, ia seperti ingin menatap apa yang ada di balik daster yang kukenakan,

‘dasar cowok, udah beruntung bisa merasakan kehangatan mbak liya tapi mata masih jelalatan ngeliat cewek lain’ batinku geram,

Akupun jadi kepikiran, bagaimana dengan pak manto yah, apakah matanya jelalatan juga ? ehhh kenapa pak manto, harusnya mah mas Hendra yang kudu kukhawatirkan, ahh sudahlah pikiranku sudah semakin konslet dibuatnya,

Aku lebih memilih fokus pada gosip ibu – ibu yang sedang mereka bicarakan, aku merasa lega ternyata mereka sudah tidak membicarakan seorang wanita telanjang yang tak terlihat akhir – akhir ini, hufft aku merasa bersyukur dibuatnya,

Akupun segera membeli sayur dan pergi secara terburu – buru dari tempat mang dedi berada, kudengar mang dedi seperti memanggilku, ada apa gerangan ? entahlah paling cuma modus aja, aku langsung menuju rumah yang kali ini berada cukup jauh dari tempat mang dedi berhenti,

Sesaat ketika aku hampir sampai di rumah, aku baru teringat bahwa aku belum mengambil kembalian darinya, pantas saja mang dedi tadi memanggilku, aku bergegas kembali menuju tempat dimana mang dedi memberhentikan gerobaknya,

Namun ia sudah pergi , tak terlihat gerobak sayur yang tadi berhenti di sini, untungnya keberuntungan masih berada di pihakku, kulihat ada gerobak sayur yang sedang berhenti didekat pos ronda, namun aneh, kulihat ada kaki yang sedang berselonjor didalamnya,

Akupun mencoba mendekat dan semakin mendekat kudengar ada suara lelaki yang sedang mendesah, itukah mang dedi ? tapi apa yang sedang mereka lakukan ? saat kulihat rupanya mang dedi tengah terbaring lemas dengan penis mengacung yang sedang dikulum oleh mbak liya,

‘Mbak liya?’ batinku terkejut,

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini, tapi mbak liya seperti kerasukan, ia begitu bernafsu dalam mengulum penis mang dedi, kepalanya naik turun dalam mengulum penisnya, kulihat ia seperti menikmati penis yang saat ini berada di mulutnya, matanya memejam dan pipinya mengembung berisi penis besar mang dedi,

Mbak liya yang masih full mengenakan gamis seolah tak peduli apabila ada orang lain yang memergokinya, kuliat penis itu sudah sangat basah, jemari mbak liya dengan lembut menaik turunkan penisnya, hingga kepala penisnya yang tertutupi oleh kulupnya mulai terlihat,

‘astaga aku baru sadar kalau mang dedi gak disunat’ batinku,

Namun mbak liya tak merasa jijik, ia justru semakin menikmati penis tersebut, namun sialnya ketika aku sedang asyik mengamati mereka berdua ada suara kucing yang mengamuk berada di belakangku,

“meeeeoooowwwwwww” terdengar si kucing mengeong,

Sontak baik itu aku, mang dedi dan mbak liya pun terkejut dibuatnya, dan yang lebih mengejutkan lagi baik itu mang dedi dan mbak liya sama – sama menatapku,

“firdaaaaa ???” ucapnya nyaris berbarengan

~To be continued