Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 23

Maaf, Aku tak Sealim Penampilanku​

DUA TAHUN YANG LALU

Sepasang sahabat yang sudah lama tak bertemu itu hanya bisa saling tertawa dan tersenyum ditengah obrolan hangat yang terucap diantara mereka. Pertemuan terakhir keduanya terjadi saat perpisahan SMA, empat tahun sudah berlalu tanpa ada kabar yang didengar. Kali ini di sebuah rumah makan sederhana mereka kembali berjumpa sambil melahap dua porsi bakmi jawa.

“Gak nyangka, lama gak ada kabar tau – tau udah nikah aja, selamat yah Ndra !”

“Hahaha makasih Rif, dirimu kapan ? malu sama jenggot”

Hendra dan Arif sepasang sahabat karib yang dipertemukan di salah satu SMA favorit kota Yogjakarta. Tiga tahun waktu yang mereka habiskan bersama dipenuhi oleh kenangan yang tak dapat tergantikan. Mereka terpaksa berpisah karena memilih jalan hidup yang berbeda. Hendra harus mengikuti ayahnya untuk melanjutkan kuliah di Jakarta sedangkan Arif menetap di Yogya dan melanjutkan kuliah disana.

Hendra dan keluarga memang asli Yogya, sedari kecil Hendra menghabiskan masa – masa indahnya di kota yang penuh kenangan ini, barulah semenjak kakeknya meninggal Hendra terpaksa hidup di Jakarta karena ayahnya merupakan pewaris utama perusahaan milik kakeknya.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara Hendra adalah kader yang dipersiapkan oleh ayahnya untuk melanjutkan bisnis keluarga yang sudah berlangsung sejak lama. Hari ini merupakan hari pertama bagi Hendra untuk menemani ayahnya dalam melakukan perjalanan bisnis. Tak disangka tak diduga dalam perjalanan itulah ia bertemu kembali dengan sahabat lama yang ia rindukan.

“Ngomong – ngomong siapa nama istrimu ? Farida ? eh Firda yah ? gimana kalian bertemu kok bisa dapet istri cakep begitu” Arif bertanya karena penasaran sembari tangannya memegangi sumpit untuk menyuapi mulutnya sesuap bakmi yang ia kombinasikan dengan nasi.

“Hahaha dia teman sekampus Rif, agak susah juga dulu buat dapetinnya, berkali – kali ditolak tapi akhirnya luluh juga” Hendra tertawa mengingat perjuangannya dulu.

“Wahh selamat deh yah, ngomong – ngomong gimana rasanya malem pertama ?” kata Arif bercanda.

“Hey hey hey apa maksudnya ini ?” Hendra tersinggung memandangi sahabatnya dengan ketus.

“Hahaha bercanda kok Ndra, bercanda, tapi kalau mau ngasih tau ya gapapa” Arif tertawa hingga membuatnya nyaris tersedak.

“Enak lah pokoknya Rif, nikmat tiada duanya, kapan – kapan dirimu harus nyoba !” jawab Hendra bangga.

“Eh mencoba istrimu maksudnya ?”

“Nikah maksudnya, enak aja !” jawab Hendra yang membuat Arif tertawa.

Obrolan kembali terjadi sembari mengingat kenangan lama bagai perjalanan nostalgia, teringat dulu mereka bermain bola basket bersama di halaman sekolah hingga lemparan Hendra mengenai kaca ruangan kepala sekolah beruntung ia tak dimarahi karena ayahnya datang untuk membayar ganti rugi, gantinya dirinya yang dimarahi oleh ayahnya habis – habisan di rumah.

Begitupula dengan kisah cinta Arif yang berkali – kali ditolak oleh beberapa gadis favorit di SMA nya. Bermodal rambut agak kribo dengan kulit gelap membuat Arif dijauhi berkali – kali oleh beberapa gadis apalagi Arif selalu mengincar gadis favorit yang membuat peluangnya untuk berhasil semakin kecil. Hendra lah yang selalu menemani dan memotivasi Arif tanpa lelah hingga kini ia telah sukses menggandeng seorang pacar cantik bernama Salwa.

“Gimana kabar Salwa Rif, kapan mau dihalalin ?” Hendra bertanya sambil menyeruput es tehnya hingga habis.

“Ah dia masih kuliah Ndra, mungkin nanti setelah lulus baru ke rumahnya buat halalin” raut wajah Arif berubah.

“Kenapa wajahmu ? apa ada masalah diantara kalian ?”

“Gak tau Ndra, akhir – akhir ini ia agak gimana gitu, ya mungkin malu kali yah punya pacar jelek gini” Raut wajahnya sedih seperti memikirkan masa depannya yang tak begitu jelas bersama gadis yang ia cintai, tangannya mengangkat gelas dan menggerak – gerakannya hingga dua buah es batu didalamnya saling berbentur menciptakan sebuah irama.

“Tenang aja Rif, kita gak pernah tau apa yang terjadi di masa depan, selama dirimu berjuang dan membuktikan keseriusan & ketulusan cintamu kepadanya gak ada yang gak mungkin, diriku aja berkali – kali ditolak oleh Firda tapi sekarang ? kalaupun dulu menyerah gak mungkin diriku bisa merasa sebahagia ini ketika mampu hidup bersamanya, lelaki itu berkata dengan perbuatan bukan dengan ucapan, camkan itu dalam hati”

Arif kembali tersenyum, hatinya merasa lega memang benar karena semua itu hanyalah prasangka buruknya saja. Mungkin Salwa memang sibuk dengan perkuliahannya yang mendekati semester akhir, ia harus memikirkan cara untuk memantaskan diri dan bekerja lebih giat lagi agar bisa menjadi suami yang pantas untuk hidup bersama Salwa sebagai kekasih abadi.

“Duh ayahku SMS nih, disuruh kembali ke rumah paman, besok ada beberapa client lagi soalnya yang harus ditemui” kata Hendra setelah melihat layar hapenya.

“Oh yaudah duluan aja Ndra, aku mau stay sebentar dulu, mumpung wifi nya kenceng disini hahaha”

“Iya dah terserah, untuk kali ini aku yang bayar, wes tenang ae pokoke !”

“Weh serius ? kalau gitu pesenin satu es jeruk lagi dong, biar gak malu – malu amat nongkrong sendiri cuma nyari wifi.

“Dasar nyusahin ! untuk kali ini iyain aja deh, kapan – kapan gantian yah !”

“Iya gampang, tapi harus di tanggal baru yah hahha”

Mereka berdua tertawa dan Hendra harus pergi kembali menuju rumah yang dulu ia tempati, berhubung ia dan kedua orangtuanya berpindah ke Jakarta, rumah itu dihibahkan kepada om Adi adik kandung dari ayahnya. Disana om Adi tinggal bersama Rudi yang memilih kuliah di Yogyakarta sebagai kader untuk memimpin perusahaan cabang yang dikuasai oleh pamannya.

“Aduh mana antrinya panjang banget sih”

Rumah makan bernuansa sederhana itu memang cukup ramai dikunjungi, selain harganya cukup murah letaknya yang berada di sisi jalan yang ramai membuat pengunjung begitu suka untuk makan disini, varian menunya juga banyak dan semuanya bernuansa jawa membuat rumah makan ini memiliki ciri khas yang unik untuk selalu dikunjungi baik yang dari dalam ataupun luar Yogyakarta.

Setelah lima menitan mengantri akhirnya hanya tersisa satu orang lagi yang mengantri didepannya.

“Untuk dua porsi makanan dan minuman jadi tujuh puluh ribu yah mbak” kata sang kasir.

“Eh kok tujuh puluh ribu ? bukannya cukup enam puluh ribu aja yah kalau sesuai yang tertera di buku menu ?” tanya sang gadis kebingungan.

“Wah maaf mbak itu menu lama jadi belum kami ubah untuk daftar harganya”

Aduh duitnya kurang lagi, gimana ini ?

Gadis itu tampak bingung, ia berulang kali merogoh isi sling bag nya untuk menemukan satu lembar atau dua lembar uang. Barangkali ada yang nyempil didalam sana.

“Ini mas untuk pembayaran mbak ini” tangan Hendra maju menyerahkan selembar kertas berwarna merah kepada sang kasir. Gadis itu terkejut juga dengan sang kasir.

“Eh mas gak usah, gak usah, ini sebentar lagi mau ketemu kok uangnya” kata gadis itu merasa malu.

“Udah gapapa, ditabung aja dulu punyamu, toh gak terlalu banyak kok nominalnya sekalian mau mecahin uang” jawab Hendra tersenyum.

“Ma…. makasih yah mas” gadis itu tersipu hingga pipinya memerah, buru – buru ia pergi bersama rekan kerjanya menjauhi Hendra.

Hendra menatap kepergiannya dengan tatapan terpana pada pandangan pertama, siapa gadis manis berkacamata tadi ? bibirnya tipis dan senyumnya indah, wajahnya pun anggun dengan hijab berwarna hijau daun yang menutupi rambutnya, jantung Hendra jadi berdebar kencang memikirkan gadis yang perlahan mulai hilang dari pandangannya.

“Kalau untuk porsi makanan yang mas pesan totalnya lima puluh ribu” kata sang kasir membangunkan Hendra dari lamunannya.

Lima… puluh… ribu ?

Hendra merogoh isi dompetnya, dicari cari ia tak menemukan satupun lembaran yang cocok untuk ia bayarkan.

“Rif kemari, bantuin bayar dong !”

“Hahh !!!!”

Arif terkejut.

***​

Keesokan harinya setelah melakukan rapat mendadak di sebuah hotel dari siang hingga sore hari, Hendra berpisah dengan ayahnya untuk menemui sahabat lamanya kembali. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, rintik hujan pun turun membasahi bumi Yogyakarta. Orang – orang diluar sana yang tidak siap berlarian kesana kemari mencari perlindungan dari tetesan hujan yang semakin lama semakin deras.

Untung bawa mobil.

Tak berselang lama, tatapan matanya terfokus pada seseorang yang tengah berlindung dibawah halte bis. Ia seperti pernah melihatnya disuatu tempat, ia membanting stir mendekat ke arah sosok yang menarik perhatiannya itu. Ia tengah berdiri sendiri tiada yang menemani, gamisnya agak basah dan ia terlihat kedinginan.

Kaca mobil turun Hendra melongok keluar jendela untuk menyapa.

“Permisi mbak, mbak bukannya yang kemarin yah ?”

“Eh ini mas yang kemarin bayarin ?”

“Iya benar, butuh tumpangan gak mbak ? udah malam gak baik juga kalau berada disini sendiri”

Karena keadaan mendesak gadis itu menurut untuk masuk ke dalam mobil, dengan bergegas Hendra keluar untuk membuka pintu mobil bagian depan sebelah kiri, gadis itu berlari dan memasuki mobil dengan perasaan menggigil.

“Ah dingin banget hawanya” kata Hendra setelah menutup pintu mobil.

“Hehe, iya mas” jawabnya.

Hendra melihat bahwa gadis itu menggigil kedinginan, ia melepas jas yang sedari tadi ia pakai untuk memberikannya pada sang gadis, ia membiarkan dirinya hanya mengenakan kemeja putih juga dasi hitam yang melekat di tubuhnya atletis.

“Ma.. makasih mas” jawabnya malu setengah menunduk.

“Ju… juga soal yang kemarin, Duh aku jadi gak enak ngerepotin mas terus” lanjutnya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Gapapa mbak, oh yah kok sendirian aja habis darimana ?”

“Aku baru pulang kerja mas, gak nyangka kalau malam ini hujan, oh iya dengan mas. . . . . ?”

“Ah , namaku Hendra panggil aja mas Hendra, kalau mbak sendiri ?”

“Aku Syakila mas, makasih yah mas” jawab Syakila tersenyum.

“Oh iya dimana rumahmu ? biar kuantarkan”

“Kalau boleh tolong antarkan aku ke xxx yah mas”

“Siap La, dengan senang hati” Hendra tersenyum dan menginjak gas menuju tempat yang ditentukan.

Selama perjalanan, mereka saling mengobrol memperkenalkan diri tanpa saling menatap karena merasa malu hingga tersenyum, sesekali Syakila menatap wajah Hendra yang tampan sambil menggenggam erat jas yang Hendra berikan padanya. Senyum manis yang berulang kali Syakila berikan membuat hati Hendra berdebar dengan kencang.

Setelah mengobrol panjang kali lebar sama dengan luas Hendra baru tau kalau Syakila Aulia Ramadhani adalah nama panjangnya, Syakila baru berusia duapuluh tahun merupakan mahasiswi semester empat yang juga bekerja paruh waktu di suatu tempat yang tak jauh dari kampusnya berada, itu semua dilakukannya demi membantu perekonomian keluarga, ia tak ingin menjadi beban keluarga hingga ia mencoba mandiri untuk mencari rezeki hingga malam hari.

Sifatnya yang ceria, wajahnya pun manis dengan kacamata berlensa bening yang melekat diatas hidung mancungnya, bibirnya tipis, senyumnya juga mempesona membuat siapapun yang melihatnya tersipu akan kecantikannya yang sempurna.

Tidak cuma itu saja yang membuat beberapa pria begitu ngebet ingin berkenalan dengannya, payudaranya yang besar terbungkus oleh bra berukuran 36C menjadi daya tarik tersendiri baginya untuk menjadi magnet bagi lelaki manapun untuk mendekatinya tak terkecuali pada Hendra. Tapi sebagai lelaki gentleman bukan itu yang membuat Hendra tertarik untuk mendekati Syakila melainkan karena keceriaannya yang membuat hatinya selalu berdebar – debar.

Keheningan kini melanda mereka berdua, setelah lama berbincang untuk memperkenalkan diri mereka ragu untuk membuka topik pembicaraan, Hendra seperti berfikir langkah apa yang harus ia lakukan sekarang ? baru seminggu yang lalu ia menikahi seorang wanita yang sudah lama ia perjuangkan bernama Firda dan malam ini ia sudah berada di mobil yang sama bersama seorang gadis lain yang telah membuat hatinya berdebar kencang.

Saat Hendra melirik, ia melihat Syakila tengah tersenyum malu menundukan kepalanya, Hendra luluh, ia sangat mudah ditaklukan apabila melihat wanita yang bertingkah malu – malu seperti ini.

Duh Syakila, manis banget sih senyum kamu ini, kenapa kita baru dipertemukan setelah diriku baru menikah.

Hendra buru – buru membuang muka ketika Syakila tiba – tiba melirih ke arahnya.

“Hayoo ketahuan lirik – lirik yah mas” Syakila tertawa.

“Duh ketahuan, habis kamu senyum – senyum sendiri kan mas jadi takut” Hendra tersipu melihat senyum Syakila bagai madu, manis dan membuat candu.

“Hihihi lucu aja soalnya mas, baru semalam kita bertemu eh sekarang bertemu lagi, padahal kita tak saling kenal sebelumnya” Syakila kembali tersenyum melihat ke arah luar jendela yang dapat dilihat jelas oleh Hendra dari pantulan bayangannya.

“Apa jangan – jangan kita jo . . . . . ?” Hendra hanyut dalam senyuman Syakila, ia berasa mengambang oleh aliran sungai yang begitu tenang membawanya ke hilir.

“Jomblo hihihihi” Syakila tertawa begitupula dengan Hendra, waktu terus berjalan dengan kebahagiaan memenuhi hati mereka hingga keduanya telah sampai di lokasi yang Syakila minta.

“Disini tempatnya La ?” tanya Hendra.

“Iya disini aja, nanti aku jalan sendiri ke kosan aku” jawab Syakila malu – malu.

Syakila membuka pintu beruntung hujan sudah agak mereda, ia pun berdiri di depan pintu mobil tanpa mengucap sepatah katapun, dari raut wajahnya ia seperti ingin berbicara tapi lidahnya kelu untuk mengucapkannya.

“Makasih mas atas semua bantuannya, pe.. permisi” Syakila tersenyum malu – malu untuk pamit menuju kosan. Hendra menggeleng – gelengkan kepala memandang sikap Syakila yang sangat manis seperti itu, sesaat sebelum pergi jauh Hendra memanggil Syakila kembali.

“Eh tunggu, Syakila . . . . “

Syakila berbalik membuat wajahnya yang cantik bening terkena pancaran sinar rembulan yang menyilaukan, Hendra terpana untuk kesekian kalinya padanya, Syakila memandanginya sejenak menanti kata – kata yang ingin diucap oleh pria yang baru ditemuinya.

“Eh anu, boleh minta nomor whatsapp ?”

Syakila tersenyum dan mengeluarkan hapenya, ia mendekati Hendra dan mengucapkan satu persatu urutan angka dari nomor hape yang dimilikinya.

“Coba aku cek lagi, kosong delapan lima . . . . . ., benar gak la ?” tanya Hendra.

“Bener bangets” jawab Syakila kembali tersenyum manis.

Deg

Hendra kembali terpana tak mampu berkata – kata, ia seperti terhipnotis oleh senyumannya yang manis.

“Permisi yah mas, terima kasih atas semua kebaikannya” Syakila pergi dengan menundukan kepalanya karena malu, wajahnya memerah dan hatinya ikut berdebar merasakan getaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Perasaan apa ini ? Syakila memegangi dadanya bingung atas sesuatu yang baru dirasakannya kali ini.

“Eh Syakila . . .” Hendra kembali memanggil membuat Syakila kembali menengok untuk menatap wajahnya, Syakila begitu menanti apa lagi yang ingin diminta oleh penolongnya selama dua malam terakhir ini.

“Jasnya jangan dibawa pulang dong”

“Eh iya . . .” Syakila merasa malu hingga tak sadar jas milik Hendra masih menempel di bahunya.

Hendra tertawa diikuti oleh Syakila setelahnya.

***​

Sekitar pukul sembilan malam, sebuah pesan masuk ke dalam hape Syakila.

“Selamat malam Syakila, ini aku Hendra”

“Malam mas, aku save yah nomornya” jawab Syakila tersenyum.

Sebuah perbincangan hangat kembali terjadi diantara mereka berdua kali ini melalui chat whatsapp. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, mata Syakila masih terjaga, senyum tak henti – hentinya merekah di wajah ayunya. Ia meminum secangkir kopi untuk menahan dirinya agar tetap terjaga berkomunikasi dengan Hendra.

“Sudah malam, kapan – kapan kita sambung lagi yah La, jangan terlalu malam tidurnya, jaga dirimu !”

“Iya mas, mas Hendra juga, jangan sampai kecapekan kerjanya”

“Mimpi indah yah, Wassalamualaikum”

“Walaikumsalam, mas juga mimpi indah yah”

Hendra membalas dengan emot senyum yang juga dibalas oleh Syakila dengan emot senyum, Syakila merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan melekatkan hapenya ke dada, ia memandangi langit – langit merasakan kebahagiaan yang tak terduga. Siapa lelaki yang baru ditemuinya ? getaran apa yang sedang melanda hatinya ?

Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi mas.

***​

Matanya fokus menatap ke arah depan, tangan kanannya memacu gas mengencangkan kendaraan motor yang sedang ia naiki. Sesekali ia melihat ke arah jam yang berada di tangan kirinya. Raut wajahnya gelisah khawatir apabila dirinya terlambat untuk tiba di tempat tujuan.

Sesampainya ia di depan butik gamis, ia memakirkan kendaraan motor bermerek scoo*y, ia bergegas masuk ke dalam untuk menemui pemiliknya. Wajahnya berkeringat terkena sinar matahari yang begitu terik di tengah hari.

Tubuhnya juga bermandikan peluh merasa gerah atas segala perjuangan yang ia tempuh untuk bisa tepat waktu berada di tempat yang tadi ia tuju. Ia memandangi layar hapenya melihat pantulan bayangan yang terpancar disana untuk meluruskan Hijab yang agak miring karena sempat terburu – buru.

“Hufttt untung gak terlambat” ucapnya lirih dengan nafas tersengal – sengal kelelahan.

Tak berselang lama pemilik butik yang bernama Annisa berusia 31 tahun keluar mendatangi gadis tadi. Annisa tersenyum menepuk bahunya membuat gadis itu terkejut karena terlampau fokus bercermin menggunakan layar hapenya.

“Astaga mbak Nisa bikin kaget aja, kirain siapa”

“Hihihi Syakila disana ada kaca besar kenapa harus pake kaca hape yang kecil ?”

“Hehehe malu mbak diliatin karyawan lain, maaf nih agak telat karena baru pulang kuliah” Syakila tersenyum manis membuat Annisa bahagia melihatnya.

“Gapapa La, lagipula toko juga baru buka beberapa jam yang lalu kok, pagi gini memang tidak terlalu ramai pelanggan karena memasuki jam sibuk kerja, beberapa ada yang sedang bekerja dan ada juga beberapa yang sedang kuliah kaya kamu”

“Tapi kan mbak, khawatir aja kalau aku telat nanti dimarahin mbak huhuhu” raut wajah Syakila berubah ketakutan khawatir ia bakal ditegur oleh atasannya.

“Syakila kamu ini gemes banget sih, mana mungkin mbak marahin kamu yang sudah mbak anggap sebagai adik sendiri” Annisa mencubit pipi Syakila karena gemas melihat ekspresinya.

“Makasih mbak, aku sayang mbak” Mereka berdua berpelukan erat saling berbagi cinta melepas rasa penat yang dirasakan sebelumnya.

Kala itu Syakila mengenakan hijab biru serta kemeja kotak – kotak agak ketat membuat dadanya mengacung tegak terhimpit oleh sesaknya kemeja yang ia kenakan, bawahannya ia mengenakan celana jeans juga berwarna biru menampakan kaki jenjangnya yang ramping. Siapapun yang melihatnya langsung tahu bahwa Syakila merupakan seorang mahasiswi dari outfit yang dikenakannya.

“Ayo La ganti baju dulu pakai seragamnya” ajak mbak Nisa tersenyum.

Syakila menuju ruang ganti karyawan yang berada di ruang tengah yang biasa menjadi ruang privat karyawan butik disini. Annisa menggeleng – gelengkan kepala memandangi Syakila selama perjalanannya ke ruang bagian dalam.

Huft, anak jaman sekarang sukanya pakai baju yang ketat – ketat.

Setelah berganti pakaian ia keluar menuju ruang depan ke tempat biasa ia menunggu menanti datangnya pembeli yang ingin dilayani dengan menawarkan produk terbaru dan terbaik dari kain gamis yang dijual disini.

Selama menunggu datangnya pelanggan, Syakila selalu tersenyum mengingat hari – hari indah atas kehadirannya yang telah membuat hidupnya lebih berwarna. Dua hari telah berlalu semenjak Syakila memberikan nomor WA nya pada mas Hendra, selama dua hari itu pula mereka jadi lebih sering bertemu baik itu secara virtual melalui video call ataupun bertemu secara langsung untuk sekedar berbincang atau menyantap makan malam berdua.

Baru kemarin sore menjelang malam Syakila diajak oleh mas Hendra menuju Mall untuk dibelikan sesuatu. Tak jarang tangan mereka saling memegang walau diawali dengan rasa malu – malu, ketika mereka saling menatap hanya senyuman yang terucap. Dikala mereka sedang menyantap makan malam bersama, tangan Hendra bergerak menjalar menyentuh tangan Syakila. Syakila tersenyum begitupula Hendra, Hati Syakila berdebar begitupula Hendra, Rasa malu timbul di wajah Syakila begitupula Hendra.

Ah indahnya hidup.

Syakila mengangkat lengan bagian kirinya, ia menarik lengan seragamnya sedikit sehingga sebuah gelang pasangan yang terbuat dari logam terlihat disana.

From your king, Hendra.

Syakila tersenyum setelah membacanya di dalam hati, ia sempat heran dengan diri sendiri bagaimana bisa dirinya begitu senang oleh sebuah hubungan yang tak pasti ini, tak berselang lama sebuah notifikasi berbunyi dari hapenya.

“Mas Hendra?”

Buru – buru ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Hendra melalui aplikasi Whatsappnya, jantungnya berdebar menanti pesan apa yang dikirimkan olehnya di jam kerja seperti ini, jemarinya bergetar dan wajahnya tak henti – hentinya tersenyum menanti dibukanya pesan yang masuk ke layar hapenya.

Selamat siang my queen Syakila, malam ini ada waktu gak? kita ketemuan yuk di cafe x kudengar tempatnya cukup romantis, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu dan juga mungkin ini pertemuan kita terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta, untukmu siang ini semangat yah kerjanya !

Syakila tersenyum juga bersedih karena hari ini merupakan hari terakhir bertemu dengannya.

Apa yang ingin dibicarakan oleh Mas Hendra denganku ? di cafe x yang bernuansa romantis ? apakah malam ini mas Hendra akan mengungkapkan perasaannya padaku ? atau jangan – jangan Hendra ingin melamarku ?

Memikirkan semua itu membuat hati Syakila meleleh, ia tak mampu berfikir jernih membuatnya melamun memikirkan semua hal indah yang terbenak di pikirannya.

“La, Syakila, Syakilaaaa… ” sebuah suara terdengar membangunkan Syakila dari lamunannya.

“Eh iya mbak Nisa, kenapa?” Syakila berlari menuju mbak Nisa yang berada di dalam untuk menerima tugas darinya.

“Syakila kemana aja, dipanggil gak dateng – dateng”

“Hehe maaf mbak tadi sempet gak fokus”

“Gak fokus mikirin apa sih?” Mbak Nisa menggoda membuat Syakila tersipu.

“Enggak, gak ada kok” Syakila mengelak.

“Hihihi iya mbak paham kok, yang lancar yah dengannya” ucap Annisa memahami apa yang ada di pikirannya.

Ammiin

Syakila hanya tersenyum menanti tugas yang diminta oleh atasannya.

“Ini La, tolong cariin sesuai pesanan yang diminta, dia anak dari pemimpin perusahaan besar loh di Jakarta sampai punya cabang juga di Yogya” kata Annisa bersemangat sambil memberikannya hape admin yang berisi pesanan pelanggan.

Deg

Syakila menatap sejenak, ia seperti pernah melihat foto profil WAnya, ia buru – buru mengecek nomor hapenya dan mencocokannya, ternyata benar.

“Mas Hendra?”

Satu persatu kata ia baca dengan seksama, raut wajahnya berubah dan matanya mulai berkaca – kaca.

“Yaudah mbak aku ke gudang dulu yah buat nyari gamis yang dimaksud”

“Iya La, hati – hati yah banyak debu dan. . . . ” ketika Annisa berbalik Syakila sudah pergi memasuki gudang dengan langkah tergesa – gesa.

Anak muda jaman sekarang memang penuh semangat yah, batin Annisa menggeleng – gelengkan kepala.

Syakila memasuki gudang dan menguncinya dari dalam, ia kembali membuka pesan yang dikirim oleh Hendra ke nomor admin butik dimana ia bekerja.

Assalamu’alaikum mbak, saya Hendra dari perusahaan x ingin memesan gamis seperti yang tertera di gambar ini. Kalaupun terjual habis tolong carikan gamis lain yang berkualitas yah, soalnya saya ingin memberikan hadiah spesial untuk ulang tahun istri saya.

Syakila terduduk di salah satu sudut tempat menyender pada dinding, Matanya berkaca – kaca dan air matanya meleleh membasahi pipi. Ia sangat shock dengan kenyataan yang menghampirinya. benarkah ini ?

“Ulang tahun istri ? mas Hendra sudah menikah ?” lirihnya dalam tangisan sesenggukan.

Apa maksud semua ini mas ? kenapa mas sengaja mengajak Syakila ke mall dan membelikan gelang pasangan tuk kita berdua ? kenapa mas sengaja mengajak Syakila makan malam bersama dan menciptakan kenangan indah berdua ? kenapa mas sengaja meminta nomor hape Syakila dan saling mengirim pesan romantis berdua ? kenapa sengaja mas melakukan semua ini ke Syakila tanpa memberi tahu kalau mas ini sebenarnya sudah menikah ? kenapa mas ? kenapa ?

Kakinya lemas membuatnya tak mampu untuk berdiri, rasanya ia ingin menghilang sejenak dari kehidupan yang menyakitkan ini, setelah tahu kenyataan yang terjadi dunia terasa begitu gelap membuatnya ingin menangis semalaman, Syakila bertanya – tanya di dalam hati Apakah ia akan merasa lebih baik apabila dirinya menghilang sejenak dari dunia yang kejam ?

Ia mulai menyeka air matanya memandangi layar hapenya, cukup lama ia berfikir sebelum ia membalas ajakan yang tadi Hendra berikan.

“Y” pesan telah terkirimkan.

***​

Syakila telah menunggu menanti datangnya seseorang di sebuah café yang telah dijanjikan. Ia mengenakan gamis lebar berwarna biru cerah dilengkapi dengan hijab syar’i yang menutupi kepalanya. Ia berusaha tenang menahan perasaannya yang ingin meledak – ledak, ia ingin bertanya langsung mengenai kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Bibirnya mendekat ke arah sedotan yang berdiri bersandar pada gelas yang berisi jus jeruk dingin, Syakila mengulumnya dan menyedotnya hingga sari – sari jeruk yang tersisa masuk ke dalam kerongkongannya. Rasanya begitu enak, manis dan nyaman membuat hatinya tenang sesaat. Ia membuka hapenya membalas satu persatu pesan yang ada dari teman – teman perkuliahannya. Hingga suatu saat pesan darinya masuk ke dalam hapenya.

Aku sudah sampai La, kamu dimana ?

Aku ada di pojok sebelah kiri dari arah pintu masuk.

Syakila agak kesal sebenarnya untuk membalas segala pesan yang berasal darinya terutama setelah tahu tentang kenyataan yang ada, ia menghela nafasnya dan menaruh hapenya diatas meja, ia menyiapkan diri untuk mendengar kenyataan yang sebenarnya terjadi. Syakila memejamkan mata menyiapkan semuanya seolah ia tak pernah mendengar hal itu sebelumnya.

“Syakila selamat malam, kamu cantik banget malam ini” Hendra datang menyapa Syakila yang berusaha tersenyum dibalik hatinya yang bersedih.

“Kamu naik apa ? kok sendirian sih padahal mau aku jemput” Hendra tersenyum memandangi wajah ayu Syakila yang membuatnya terpana.

“Aku naik motor mas” jawab Syakila singkat. Ingin rasanya untuk bersikap biasa tapi sulit untuk berpura – pura melakukannya.

“Oh yah ? yasudah, mau pesan sesuatu dulu gak ?”

“Terserah mas”

Duh kenapa hati ini gak bisa diatur sih ? kesel banget deh udah dibohongi selama ini.

“Terserah ? mau makan sesuatu ? atau minum ?”

“Mas…..” Syakila menyapa namun tatapannya terasa beda tidak terlihat manis seperti dahulu kala.

“Iya La ?” jawab Hendra merasa tak enak melihat perubahan sikapnya.

“Ada apa ? apa yang mau mas omongin ke aku ?” tanya Syakila berusaha menahan perasaannya lagi.

“Oh mengenai itu, sebenarnya. . . .” tangan Hendra bergerak mendekati tangan kiri Syakila yang berdiam diatas meja tetapi Syakila menarik tangannya sebelum tangan Hendra menyentuhnya.

“Syakila kamu kenapa ?”

“Kenapa ? aku cuma mau nanya, kita sudah cukup lama kenal, mungkin ini yang keempat hari dari pertemuan kita, sebenarnya mas anggap aku apa sih ?” Syakila mulai kesal tak dapat menahannya lagi.

“Syakila, itu yang mau aku omongin ke kamu….” Hendra kembali memegangi tangan Syakila dan menggenggamnya erat membuat Syakila luluh tak mampu menolaknya.

“Sejujurnya, aku mencintai kamu La, aku sudah merasakan getarannya semenjak kita bertemu di rumah makan itu” ucap Hendra dengan suara lembut.

Syakila terkejut karena merasakan ketulusan yang dalam dari hati Hendra, tapi perasaan ini . . . perasaan ini . . . .

Plakkk !

“PEMBOHONG !!!” tanpa sadar Syakila marah dan menampar pipi Hendra membuat semua orang yang berada di café tersebut menoleh.

Syakila juga terkejut atas keberanian yang dilakukannya, matanya berkaca – kaca setengah menyesal setengah marah karena merasa dibohongi. Hendra terdiam tak mampu berbicara, ia menatap Syakila bingung menanyakan alasan dari sebab ia menamparnya.

“Syakila, kamu kenapa ?” Hendra dengan bersabar menanyakan sebab yang membuat Syakila berubah, ia menanyakannya dengan lembut membuat Syakila menangis.

“KENAPA ? MASIH GAK PAHAM MAS ? ATAU PURA – PURA GAK PAHAM ?” air mata semakin meleleh membasahi wajahnya. Ia sungguh bingung dengan hatinya, di satu sisi ia begitu marah tapi di satu sisi terkagum akan kelembutan Hendra yang tidak membalas kemarahannya.

“Syakila, aku jujur, aku mencintaimu La, kenapa kamu malah menamparku ? apakah aku salah mencintaimu ?” kembali Hendra bertanya dengan lembut meminta Syakila untuk tenang dan duduk.

Syakila duduk menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, ia benar – benar tak tahu harus bagaimana, hatinya sangat lelah setelah dibohongi oleh sikap pria beristri yang telah mencuri hatinya. Ia sangat lelah juga ketika melihat sikap Hendra yang begitu tenang dalam menyikapi rasa amarahnya, ia menangis sejadi – jadinya dibawah pancaran malam di tengah kemunculan bulan purnama yang bersinar.

“Syakila, tenangkan dirimu, gak usah marah – marah, katakan coba sini apa yang sebenarnya terjadi ?” Hendra yang masih tak tahu alasan Syakila marah mendekatinya dan mengelus – ngelus punggungnya hingga membuatnya merasa tenang. Syakila mulai merasa nyaman namun tangisannya semakin menjadi.

Setelah merasa baikan Hendra mulai bertanya menatap wajah Syakila yang sembap, tanpa berkata – kata Syakila mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung kresek berwarna merah yang besar.

“Sampaikan salamku pada istrimu mas, katakan bahwa aku memberikan doa yang terbaik untuk kebaikan kalian berdua” Syakila mengeluarkan produk gamis yang Hendra pesan yang sudah dikemas dalam sebuah box.

“I…ii..ini ?” tanya Hendra terkejut.

“Gak usah terkejut mas, aku bekerja disana dan aku sudah tahu semuanya jadi gak usah ada yang ditutupi lagi, sekarang aku cuma minta penjelasan” Syakila berkata sesenggukan merasa lega setelah menangisi semuanya, ia menatap Hendra dengan berani menanyakan kenapa ia masih berani mendekatinya padahal ia sudah menjadi suami orang.

“Aku… aku.. bagaimana yah aku mengucapkannya ?” Hendra merasa bingung dan juga bersalah setelah mengambil jalan ini.

“Katakan aja mas, aku cuma butuh kejujuran, apakah mas sama dengan pria lain di luar sana yang cuma mendekati wanita hanya karena tertarik dengan kecantikannya saja ? lantas meninggalkannya dikala wanita tersebut sudah merasa nyaman ?” Syakila bersiap – siap untuk mendengar sesuatu yang menyakitkan hatinya.

“Syakila….” Tangan Hendra kembali menjalar mendekati Syakila.

“Gak usah pegang – pegang mas, sadar !!!”

“Maaf La, kalau aku sudah membuatmu tersakiti, maaf La kalau aku sudah membuatmu kecewa, maaf La kalau aku sudah membuatmu merasa dibohongi, aku tau kalau apa yang aku lakukan ini salah tapi aku juga bingung La dengan perasaan yang ada di hatiku ini, kamu merasakannya juga kan La ?” kata Hendra yang membuat Syakila terkejut.

“Iya kamu benar La kalau aku ini memang pria yang sudah beristri, tapi aku tidak seburuk itu, aku bukan mendekatimu hanya karena kecantikanmu, hatiku bimbang ketika melihatmu tersenyum manis, hatiku bimbang ketika melihatmu tertawa bahagia dan hatiku selalu bimbang setelah melihat keceriaanmu yang selalu membuatku berdebar – debar”

“Syakila, tolong dengarkan aku….. ” Hendra kembali berusaha menggenggam erat tangan Syakila. Syakila melihatnya matanya tampak berkaca – kaca menanti apa yang ingin diucapkan darinya.

“Aku benar – benar mencintaimu Syakila….. dari lubuk hatiku yang paling dalam” Hendra menarik tubuh Syakila mendekat dan wajahnya bergerak menuju bibirnya.

Cupppp

Hendra melumat bibir Syakila, Syakila terkejut hingga matanya terbuka lebar, Hendra sempat memagut bibirnya merasakan manis dari bibir tipisnya sebelum Syakila memberontak dan menolak Hendra hingga menjauh dari dirinya.

Plakkk !!!

Syakila berdiri tanpa berkata – kata setelah menampar pipi Hendra untuk kedua kalinya, bergegas ia membereskan barang – barangnya dan memasukannya ke dalam tas.

“Tenang mas, aku gak akan mengatakan apapun ke istrimu, aku akan bungkan dan menganggap semua ini gak pernah terjadi. Terima kasih atas kenangan indah yang pernah mas buat bersamaku, itu sangat indah… sangat indah ! tapi aku akan berusaha untuk melupakannya, permisi !” Syakila melangkah pergi tanpa menghadap ke arah belakang, ia kembali menangis dalam perjalanan menuju motor scoop* nya.

Ia mengenakan helm dan sempat melihat ke arah Hendra sesaat yang masih mematung tak bisa bergerak, Syakila membuang muka dan pergi meninggalkan Hendra begitu saja.

Hendra menghembuskan nafas merasa kesal dengan kesalahan yang sudah ia buat, matanya berkaca – kaca bukan karena kehilangan Syakila gadis yang sudah membuat hatinya berdebar tapi karena merasa gagal sudah menjadi seorang lelaki karena telah menyakiti dan membuatnya bersedih.

Hendra membuka box kotak yang tadi ditinggali oleh Syakila didalamnya terdapat gamis yang sudah ia pesan untuk Firda sebagai hadiah ulang tahunnya juga satu gelang couple yang tempo hari diberikannya untuk Syakila dan juga. . . .

“Sepucuk surat ?” lirih Hendra.

07 Desember 2018​

Teruntuk mas Hendra

Selamat malam mas Hendra ini dari aku Syakila, gak usah mengkhawatirkan aku, aku gapapa kok, sejujurnya aku tersenyum sewaktu menulis pesan ini, aku masih inget banget gimana kikuknya aku ketika membawa uang yang pas bahkan kurang saat makan bersama rekan kerjaku di rumah makan itu.

Kulihat dari kejauhan mas juga kurang kan uangnya sampe minta ke temennya buat nambahin hihihi, aku juga inget banget kala itu sewaktu motorku masuk bengkel membuatku bingung di malam hari memikirkan bagaimana caranya untuk pulang ke kosan ditambah dengan turunnya rintik hujan.

Untungnya mas kembali datang kali ini untuk mengantarkanku pulang dan kita terlibat pembicaraan yang cukup seru membuatku tak mampu berhenti tersenyum bahkan hingga sekarang dikala ku menulis surat ini.

Terima kasih atas hadiah dan waktu yang sudah mas berikan untukku, aku senang menerimanya tapi aku tak pantas untuk itu mas karena mas sudah memiliki seorang wanita yang lebih berhak menerimanya daripada aku.

Aku cuma mau berpesan mas mulai detik ini, sejak mas membaca pesan dariku, aku meminta tolong untuk jangan terlalu sering memikirkanku. Aku tidak mau membuat mas bersedih karena khawatir telah salah sikap kepadaku, aku baik – baik aja dan aku bahagia telah bertemu denganmu mas. Mungkin akan sulit bagiku untuk menerimanya di awal, jadi maafkan aku yah kalau nanti malam saat kita bertemu aku malah melakukan tindakan yang berlebihan hehe.

Mas… mungkin kebahagiaan bersamamu hanyalah mimpi belaka bagiku, tapi biarlah mimpi itu terus menemani di setiap tidurku, karena sejujurnya di dalam hatiku, aku juga mencintaimu mas.

dariku yang pernah mencintaimu, Syakila.​

Hendra bersedih matanya berkaca – kaca hingga lelehan air mata turun membasahi pipinya, terbayang wajah Syakila dikala tersenyum ketika membaca satu demi satu kata yang tertulis di surat ini.

Ia memasukan kembali surat itu ke dalam amplop dan merenungi segala perbuatan yang telah dilakukannya dalam hati ia berfikir menentukan langkah apa yang harus ia buat untuk menebus semua kesalahan ini.

Syakila maafkan aku.

***​

Di malam yang sama namun berbeda tempat Syakila tengah tersenyum menekuk kakinya naik memandangi keindahan malam yang terjadi di luar, wajahnya sembap dan tetesan air mata masih mengalir dari pelupuk matanya. Ia berusaha tabah menerima semua konsekuensinya karena telah menyerahkan hatinya pada orang yang salah.

Tangannya bergerak untuk menyeka air matanya sendiri, ia berusaha tetap ceria seperti hari – hari biasa, ia mencoba kuat menahan air mata untuk berhenti, toh untuk apa menangisi kepergian pria yang sudah memiliki seorang istri ?

Sesaat ia memandangi hapenya, ia bergerak mendekat untuk membuka layar kuncinya, folder kontak telah dibuka seketika matanya fokus ke arah satu nama.

“Mas Hendra”

Tangisannya kembali turun mengalir mengingat masa – masa indah yang telah dilalui bersama, jemarinya begitu berat untuk memilih pilihan yang ada di depannya.

Delete Contact ?

Seolah hapenya bertanya kepadanya ia hanya perlu memilih yes untuk memulai semuanya kembali dari awal, tapi kenapa semuanya terasa berat baginya ?

Cling

Notifikasi pesan masuk ke dalam hapenya, ia mengernyitkan dahi setelah melihat ada pesan masuk dari Mas Hendra melalui aplikasi berlogo telepon berwarna hijau. Haruskah ia membukanya ?

Tidak, aku tidak boleh menuruti ini semua, aku harus menghapusnya.

Seketika sebuah pesan kembali muncul, sebuah pesan singkat hingga keseluruhan pesannya muncul diatas layar hapenya.

Tolong baca pesan dariku La !

Syakila membuka pesan dan melihat adanya sebuah kata – kata yang panjang bagai sebuah kereta api. Ia menyeka air matanya mulai membaca pesan yang sudah diketik oleh mas Hendra. Disaat itulah lantunan musik dari Justin Timberlake terdengar dari playlist lagu yang sedari tadi bernyanyi menemani malam kelabunya.

Aku sudah membaca pesan darimu La, terima kasih aku sangat tersentuh oleh coretan pena yang sudah kau buat khusus untukku, inikah perpisahan yang sudah kau siapkan untukku ? Syakila kau bagaikan cermin bagiku, setiap cahaya yang bersinar kearahmu akan selalu terpantulkan ke hatiku, aku tau perkataanku ini salah tapi aku tak bisa hidup tanpamu, pengaruhmu begitu kuat membuatku selalu berharap akan hadirnya sosokmu dalam kehidupanku.

Maaf, mungkin aku sudah meninggalkan kenangan yang buruk padamu tapi tolonglah, adakah cara bagiku untuk menebusnya ? apabila ada tolong ajari aku ! ajari aku caranya untuk berjuang untuk meyakinkan dirimu kalau sebenarnya diriku benar – benar tulus mencintaimu.

Aku tahu semua itu tak mudah untuk kau terima bukan ? maaf, mungkin hanya itu kata yang bisa kuucapkan sekarang. Jadilah wanita yang kuat agar suatu saat nanti ketika kita kembali diizinkan untuk bertemu hanya senyumanlah yang terpancar dari wajah indahmu, itu sudah cukup bagiku untuk melegakan perasaan yang mengganjal karena telah melukaimu.

Aku tahu kalau sebenarnya kau adalah wanita yang baik, semua terlihat dari mata indahmu Syakila, itu yang membuatku berat untuk pergi meninggalkanmu, kau selalu memantulkan tiap cahaya kepadaku yang datang darimu, andai bisa… aku ingin memandangimu sepanjang waktu disisa hidupku. Tolong jangan tinggalkan aku, kuharap kita bisa bertemu lagi dan saling mengobrol tentang segala hal yang membuat kita tersenyum berdua Syakila. :hati:

Syakila tersenyum setelah membaca semua pesan dari Hendra, ia mendekatkan hape ke dadanya memejamkan mata untuk mengenang semua masa indah yang telah diukir bersama. Kenapa hari ini begitu sulit untuk dilalui ? bukankah hidup itu pilihan ? aku hanya harus memilihnya bukan ?

Ia kembali membuka hapenya dan memilih tanda cancel pada folder kontak.

Sebuah pesan terkirim menuju kontak Hendra, Hendra membuka pesannya dan ia tersenyum setelah melihat balasan dari Syakila. Sebuah emotikon hati berwarna biru telah dikirimkan. Hendra merasa lega begitupula Syakila.

Syakila berbaring diatas ranjang menghadap ke arah kanan sambil memeluk guling, ia memeluknya erat mencoba untuk memejamkan mata.

Mas.. mas tahu apa yang membuatku sulit untuk melupakanmu walau sebenarnya ku tahu mas sudah menjadi milik seseorang ? Mas adalah cinta pertamaku, ironis bukan karena mas adalah cinta pertamaku tapi aku tak mampu untuk menjadi cinta terakhirmu.

Syakila tersenyum dengan lelehan air mata yang kembali jatuh.

***​

SATU TAHUN YANG LALU

Hendra tengah bersiap untuk berangkat ke kantornya, sesaat ketika ia sedang mengenakan kaus kaki, seorang wanita berwajah cantik dengan postur tinggi berdada montok datang dengan terburu – buru.

“Bi ini bekalnya jangan ditinggal dong”

“Maaf mi, terima kasih yah udah dibuatin bekal hari ini” Hendra tersenyum dan mengecup dahi Firda yang membuatnya tersenyum manis.

“Oh iya mi, sore ini abi mau berangkat ke luar kota lagi bareng ayah, umi gapapa kan sendirian lagi ?” Hendra tersenyum membelai kepala Firda.

“Yah, kok ditinggal lagi sih” Firda merajuk juga memasang wajah cemberut.

“Maaf, ini juga demi kamu kok mi, kan rezeki yang didapat juga buat makan umi biar makin cantik dan bahenol hahaha” Hendra tertawa yang membuat Firda tersipu dan memberikan pukulan sayang ke arah lengan.

“Yasudah yah mi, abi berangkat dulu, dadahhh” Hendra melambaikan tangan juga dibalas oleh Firda.

“Oh iya mi, jangan lupa yah siapkan bekal untuk pak Manto tetangga kita, soalnya . . . “

“Soalnya Abi gak enak kan ? udah membuat pak Manto kehilangan pekerjaannya karena masalah corona ini ?” jawab Firda sebelum Hendra menyelesaikan kalimatnya.

“Udah hafal aku bi, sampe bosen dengernya” Firda tersenyum membuat Hendra tak tahan ingin mencumbu.

Cupppp

Hendra melumat bibir Firda, memainkan lidahnya ke dalam mulutnya, tangan Hendra dengan gemas meremasi payudara istrinya yang montok, ketika Hendra melepas cumbuannya ada liur yang melekat seolah tak rela melepas percumbuan yang berlangsung begitu panas.

“Maaf yah mi, pasti abi bakal kangen ke umi, apalagi goyangannya umi hahaha” Hendra tertawa membuat Firda berlari mengejar suaminya hingga masuk ke dalam mobil.

Firda melambaikan tangan merindukan kehadiran suaminya yang ia cinta, sementara Hendra dalam perjalanannya ke kantor menerima sebuah pesan dari aplikasi WA nya.

Kapan mas ? serius mau kesini lagi ?

Iya Syakila, ada juga yang mau aku omongin ke kamu, aku juga rindu sama kamu La.

Prettttt, baru juga dua minggu yang lalu kesini udah rindu lagi.

Hahahha itulah dirimu yang membuatku selalu rindu.

Hendra tersenyum begitupula Syakila disana.

Esoknya di malam hari.

Disebuah rumah makan bernuansa sederhana sepasang pria dan wanita tengah duduk disalah satu meja makan menyantap satu porsi ikan gurame bakar berukuran besar. Hendra mencincing lengan kemejanya bersiap menggenggam seporsi nasi untuk masuk ke dalam mulutnya.

Didepannya terdapat gadis cantik mengenakan mengenakan hijab dan gamis lebar berwarna hijau muda, diwajahnya melekat kacamata yang membuat Hendra terpana akan kecantikannya yang sempurna.

“Apa liat – liat mas ?”

“Emang gak boleh yah La ? ayo dimakan gak usah takut gendut, aku tetep suka kok”

“Heh, inget istri di rumah mas” jawab Syakila mencubit daging ikan dan mencelupkannya ke sambel untuk dimakan.

“Hahaha ingat gak La, setahun yang lalu kita bertemu disini dengan semua kisah lucu yang terjadi”

“Apa sih mas, kenal aku yah ?”

“Ah Syakila ini diajak nostalgia kok malah ngambek” kata Hendra mencolek dagunya yang indah bagai lebah bergantung. Syakila cemberut justru membuatnya semakin imut.

“Iya mas inget kok, siapa yah yang rela ngutangin aku padahal ujungnya ia juga ngutang ke temen hihihi”

“Ah aku kan cuma mau keliatan keren di depan kamu”

“Jangan pura – pura keren lah mas, itu gak keren sama sekali wleekkk”

“Biarin, yang penting aku senang hati melakukannya”

Syakila cemberut membuat Hendra tak tahan ingin menggodanya.

“Syakila…. ?”

“Iya mas ?”

“Kamu cantik sekali malam ini” Syakila tersenyum begitu juga dengan Hendra.

Setelah selesai menyantap makan malam, Hendra mulai memasang wajah serius untuk mengobrol dengannya. Ia menggenggam kedua tangan Syakila dan mengusapnya pelan, matanya menatap wajah Syakila membuat Syakila menundukan wajahnya karena malu.

“Syakila, sejujurnya kita gak bisa seperti ini terus . . ..”

Deg, perasaan Syakila mulai gak enak, ia memandangi wajah Hendra dengan tatapan harap – harap cemas menanti lanjutan kata yang hendak diucapkannya.

“Aku sudah menikah dan kaupun tahu itu, aku khawatir kalau pertemuan yang sudah sering kita lakukan selama setahun belakangan ini akan ketahuan dan membuat keluarga yang sudah kubina hancur berantakan.”

Syakila menunduk, raut wajahnya bersedih memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi dalam pikirannya, perpisahan misalnya.

“Tapi dilain sisi aku juga gak bisa meninggalkanmu Syakila, kau terlalu indah untuk ku tinggalkan, kau terlalu manis untuk ku abaikan dan kau terlalu ku sayang membuatku enggan untuk melepaskan. Sebenarnya aku ada ide, bagaimana menurutmu kalau . . . .”

“Kalau ?”

“Kau menikah dengan adikku Rudi”

“Hah, maksudnya mas ? aku cuma mencintaimu mas, aku gak mau menikah dengan lelaki lain bahkan apabila harus menjomblo pun itu lebih baik bagiku daripada harus menikah dengan lelaki lain yang tak ku cinta”

“Iya Syakila, tapi coba bayangkan, kalau misal kamu menikah dengan adiku maka Firda gak akan curiga kalau kita sering bertemu, paling – paling ya dampaknya tidak terlalu besar daripada kita terus seperti ini, iya kan La ?”

Syakila mengangguk pelan, tapi ia berat untuk melakukan apa yang Hendra perintahkan, dihatinya cuma ada satu dan itu hanya Hendra seorang.

“Maaf Syakila telah membuatmu harus memilih ke dalam pilihan yang sulit, tapi aku telah menimbangnya bahwa itulah langkah terbaik untuk kelanjutan hubungan terlarang kita La”

Hendra menggenggam erat tangan Syakila dan mendekatkan bibirnya untuk mengecup dahi Syakila dengan pelan. Syakila tersenyum merasakan ketulusan cinta dari lelaki yang ia cintai. Syakila kembali menyedot sisa minuman yang ada menggunakan sedotan sebelum tersedak setelah mendengar omongan Hendra.

“Dan setelah menikah dengan Rudi, maukah Syakila memberikan keperawanannya ke aku ?” Hendra tersenyum menggoda membuat Syakila kesal karena telah membuatnya tersedak.

“Dasar genit ih, nyebelin !” Syakila memberikan pukulan sayang kepada Hendra.

“Emang gak mau nih ?”

“Mau” jawab Syakila membuat Hendra tersenyum.

Syakila Tersipu malu.

***​

Dua bulan kemudian,

“Saya nikahkan engkau Rudi Tabuti bin Haji Joko Susilo dengan Syakila Aulia Ramadhani binti Riansyah dengan mas kawin emas 28 gram dibayar tunai” ucap Riansyah ayah Syakila.

“Saya terima nikahnya Syakila Aulia Ramadhani binti Riansyah dengan mas kawin emas 28 gram dibayar tunai” ucap Rudi.

“Sah !!!!” para hadirin yang datang berteriak dengan bahagia ketika Rudi menyelesaikan lafadz ijab qobulnya.

Semua orang bahagia tak terkecuali Syakila dan Rudi sendiri, namun tatapan Syakila menatap ke arah Hendra begitupula dengan Hendra yang sedang bersama dengan Firda disebelahnya. Tanpa sepengetahuan orang lain mereka berdua saling tersenyum.

Sore hari sebelum datangnya malam pertama, Hendra dan Firda sedang duduk berdua di ruang tamu bersama keluarga besar dari Hendra dan juga Syakila. Mereka tengah berbincang ringan mengakrabkan diri juga menyesuaikan diri.

Syakila yang berasal dari keluarga biasa – biasa saja merasa sungkan dengan rumah yang ditempati oleh Rudi karena ukurannya cukup besar. Begitu juga dengan orangtuanya yang berulang kali menyenggol lengan putri tercintanya sambil memberikan kode.

Pinter kamu nak nyari suami.

Salah satu dari keluarga jauh Rudi datang menanyakan keberhasilan Rudi dalam mendapatkan wanita secantik Syakila. Dengan santai Rudi menjawab kalau ia dikenalkan oleh istrinya ini dari Hendra kakaknya. Semua orang yang berada di ruangan itu menengok ke arah Hendra termasuk Firda yang penasaran bagaimana suaminya ini kenal baik dengan Syakila yang memiliki wajah tak kalah cantik dari dirinya.

“Hey hey ada apa nih kalian kompak ngeliatin aku ?” Hendra tersenyum ringan, Syakila tertawa dari kejauhan.

“Coba jelasin gimana abi bisa kenal sama Syakila” Firda menatap suaminya dengan tatapan cemburu.

“Tenang mi, Syakila ini salah satu pegawai di salah satu butik gamis yang sering aku kunjungi untuk memberikan oleh – oleh ke dirimu mi, disaat itulah aku kepikiran Rudi adikku, kasian juga kan adikku di umur yang kesekian belum nikah – nikah, makanya aku kenalkan, eh cocok” jawab Hendra.

“Ohh begitu” Firda masih tak percaya, sifatnya yang masih curiga membuat saudara – saudaranya tertawa menggoda kecemburuan Firda kepada suaminya.

Syakila tertawa melihat sikapnya, Hendra menatap Syakila dan mereka berdua saling menukar senyum.

“Sebelum kita pulang ke rumah masing – masing, gimana kalau kita main game ‘tentu saja’ dulu untuk mengetes kejujuran pasangan” kata om Adi.

“Permainan ‘tentu saja’ gimana maksudnya Di ?” tanya pak Joko ayah dari Hendra dan juga Rudi.

“Sekarang saya akan menanyakan beberapa pertanyaan ke Hendra dan juga Rudi, pokoknya kalian cuma harus jawab ‘tentu saja’ gak ada yang lain, paham ?

“Coba aja langsung om, bingung juga kalau denger penjelasan, ntar juga paham sendiri hahaha” Hendra tertawa.

“Untuk Rudi, jawab pertanyaan ini dengan kata tentu saja yah, kalau gak jawab atau telat jawab kalah !”

“Sejujurnya, aku tak mencintai istriku Syakila ! lima detik dari sekarang, satu.. dua…” om Adi bertanya disambut tawa oleh orang – orang disekitarnya yang mulai memahami maksud dari permainan ini.

“Eh itu anu… ya, tentu saja !” Rudi menjawab pertanyaannya karena gugup. Orang disekitarnya tertawa kecuali Syakila yang memberikan senyum kecut pada suami barunya.

“Ohhh gitu, iya mas faham kok, aku mah apa” Syakila pura – pura ngambek ketika Rudi mendekati istrinya untuk meminta maaf. Para tamu tertawa melihat kebingungan yang dialami oleh Rudi.

“Sekarang giliranmu Ndra,”

“Okey, silahkan om sebutkan pertanyaannya !” Hendra percaya diri membuat semua orang menanti apa yang bakal terjadi dengan pertanyaan dari om Adi.

“Aku lebih mencintai Syakila daripada Firda” kini semua orang mulai menahan tawa, sementara Firda disebelahnya harap – harap cemas menanti jawaban dari suaminya, walau ini hanya permainan tapi semua orang tampak bersenang – senang.

“Eh tunggu om, kok pertanyaan jebakan lagi sih ?” Hendra protes namun waktu tetap berjalan, wajahnya menatap Firda terlihat istrinya menatapnya serius seolah ingin mengucek – ngucek wajahnya kalau jawaban yang terucap tidak sesuai dengan yang ada di hatinya. Disisi lain Syakila justru tersenyum memberikan senyum termanis yang pernah ada membuat hatinya berdebar ingin segera mencubit pipinya.

Jiwa gentleman Hendra yang tak pernah mengenal kekalahan mendekati Firda, Firda terkejut menanti apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Kedua tangan Hendra melekat di kedua telinga Firda, dari mulutnya terucap sebuah jawaban yang sedari tadi dinanti.

“Tentu saja” sontak seluruh audience tertawa dan terkagum mendengar jawaban dari Hendra juga sikap yang dilakukannya dalam menutupi telinga Firda. Firda tertawa langsung dipeluk oleh suaminya, dari telinganya terdengar ucapan lirih dari suaminya yang meminta maaf. Firda tersenyum membalas pelukan suaminya.

Syakila tertawa mendengar jawaban dari Hendra, ia mulai terbiasa dengan suasana keakraban ini walau agak berat untuk melihat lelaki yang dicintai sedang berpelukan dengan istri sahnya.

Menjelang senja tiba, satu persatu tamu baik dari saudara jauh atau dekat mulai kembali ke rumah masing – masing. Rumah yang begitu luas ini perlahan mulai sepi ditinggalkan penghuninya, Rudi sedang berada di ruang tamu tengah dinasihati oleh mertuanya untuk bisa merawat Syakila sebaik mungkin, sementara Firda meminta izin ke suaminya untuk menemui Lina salah satu dari geng Jasmine yang kebetulan juga ada di Yogya untuk melakukan kopdar di salah satu café yang sudah dijanjikan.

“Pak Budi tolong siapkan minuman untuk tamu kita ini” pinta om Adi pada pembantu yang sudah lama bekerja disini.

Hendra melihat pak Budi melangkah ke dapur, kini ia berada di ruang tamu menemani Rudi yang sedang dinasehati oleh pak Riansyah sebelum terdengar bunyi notifikasi yang masuk ke dalam hapenya.

Syakila ?

Hendra meminta izin ke belakang untuk menemui Syakila yang ingin mengajaknya bertemu, ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar paling ujung yang jauh dari keramaian. Dalam perjalanannya ia berpaspasan dengan pak Budi yang sedang membawa beberapa gelas teh hangat diatas nampan.

“Loh pak, ini tehnya sudah dibuatkan”

“Taruh sana dulu aja pak, nanti saya balik lagi kok” jawab Hendra, pak Budi tak henti – hentinya memandangi Hendra yang terus melangkah menjauh.

Pintu terbuka didalamnya Syakila tengah tersenyum mengenakan kaus berlengan panjang ketat menampakan dadanya yang ranum mencuat ke depan. Kakinya yang jenjang terbungkus celana ketat membuat Hendra menggeleng – gelengkan kepalanya melihat gadis cantik, baik, putih, mulus dan halus berdiri di depannya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mempesona.

Syakila tersipu malu melihat ekspresi Hendra yang terkagum – kagum padanya, ia menggeliat menutup tubuhnya, ia memberanikan diri menatap wajah Hendra yang masih mematung berdiri di sana.

“Masss…..” Syakila mendekat menggantungkan tangannya ke leher Hendra.

Deg

Muka Hendra memerah begitu juga Syakila ketika wajah mereka begitu dekat sehingga mampu menikmati keindahan yang terlukis di wajah. Syakila tersenyum malu terutama ketika tangan Hendra sudah melingkar di pinggangnya.

“Masss.. Syakila mau minta tolong, walaupun kita gak bisa hidup bersama tapi Syakila mau mas Hendra lah yang menjadi orang pertama yang melepas segel keperawanan Syakila.” Ucap Syakila membuat Hendra membuka matanya lebar – lebar terkejut candaannya tempo hari ditanggapi serius olehnya.

“Tapi, tapi, tapi La, akkuu”

Cuppppp

Syakila mengecup bibir Hendra membuat kedua insan ini saling memejam menikmati percumbuan yang berlangsung. Hendra perlahan mulai hanyut nafsunya bangkit membalas dengan melumat bibir Syakila yang tipis, mulut mereka terbuka lidah bereka saling melilit dan menjepit, bibir mereka secara bergantian mengulum dan mengapit lidah lawan mainnya. Liur mereka saling tertukar tak peduli dengan status yang saat ini mereka pegang.

Tangan Hendra gemas tak tahan ingin merangkak bergelantungan manja di dada Syakila yang ranum, Syakila menghela nafas menggeliat akan rasanya ketika diremas untuk pertama kalinya.

Percumbuan mereka terhenti ketika mereka saling menatap mata satu sama lain. Mereka tersenyum merasakan cinta yang mereka pendam selama ini terwujud.

“Aku sayang kamu mas !”

“Aku juga Syakila !”

Hendra mendorong Syakila hingga mentok ke arah dinding, kedua tangan Hendra menggenggam kedua tangan Syakila, jemari mereka saling terkait membuat Syakila pasrah membiarkan lelaki yang ia cintai bebas mendominasinya.

“Hamilin aku mas !” ucap Syakila menggoda Hendra.

Nafsu Hendra memuncak, Hendra kembali melumat bibir Syakila, Syakila membalasnya, suara kecapan terdengar mengisi ruangan, lidah mereka kembali beradu, saling melilit kadang juga menjepit,

Hendra memagut bibir atas Syakila merangsang birahinya hingga cepat memuncak, Hendra melepaskan genggamannya, tangannya bergerak memegangi bongkahan pantat Syakila dan meremasnya dengan kuat,

Syakila lemas tak berdaya nafsunya begitu cepat naik dengan nafasnya yang memburu, semakin ia pasrah semakin nafsu pula Hendra dalam melumatnya. Tangan Hendra mulai masuk ke dalam celana Syakila, diremasnya permukaan kulitnya yang halus membuat Syakila mendesah ditengah percumbuannya.

“Ahhhhh ouhhh masss”

Tangan Hendra bergerak naik ke dalam kaus yang Syakila kenakan, tangannya meraba punggung Syakila yang mulus bergerak ke atas menuju kait bra yang Syakila kenakan.

Oops.

Bra yang Syakila kenakan terlepas jatuh ke lantai, Hendra tersenyum memandangi keindahan gadis yang berada didepannya, Syakila berdiri malu – malu ketika mata Hendra menatap fokus sesuatu yang menegak di balik kaus yang Syakila kenakan.

“Ini apa sayang namanya, kok udah tegak gini ?” tanya Hendra memainkan puting Syakila dari luar dengan menekannya dan menggesek geseknya naik turun.

“Uhhmmm masss geliii, geliiii”

“Makanya mas nanya, apa namanya ini sayang ?”

“Ehmmm itu, ahhhhh, pentil iya pentilll ahhhh”

“Pinter kamu sayang”

Nafsu Syakila memuncak ketika genggaman Hendra meremas payudara Syakila dengan kuat dari luar kausnya. Bibirnya kembali dilumat diikuti oleh gesekan yang dirasakannya di antara selangkangannya.

“Uhhmmm, uhmmm, ahhhhh masssss”

Nafas Syakila berhembus menerpa wajah Hendra, Hendra sudah merasakan hawa nafsu yang memuncak dari gadis perawan yang tempo hari bertemu secara tidak sengaja, Hendra tersenyum dan membisikan sesuatu di telinganya.

“Aku mulai sekarang yah, istri rahasiaku”

Hendra melepas kaus yang Syakila kenakan, berikut dengan celananya menyisakan hijab berwarna hitam berikut dengan kacamata berlensa beningnya, tidak ada lagi kain yang menutupi keindahan gadis perawan ini kecuali hijab & stocking yang melekat di kakinya.

Hendra mundur dua langkah memandangi gadis cantik yang sebentar lagi akan ia perawani, Hendra menatap bangga akan keindahan tubuh Syakila yang mempesona. Dibalik gamis yang sering ia kenakan tersimpan dua bulatan indah dengan puting berwarna merah muda yang mencuat tegak ingin segera di hisap,

lekuk tubuhnya juga aduhai dengan pinggang ramping berkulit putih bening, kakinya juga panjang nan jenjang dengan rambut tipis rapih disekitar kemaluannya, terlihat Syakila ini sering merawat tubuhnya bahkan di area kemaluannya.

“Bagaimana mas ?” tanya Syakila malu – malu.

“Kamu sempurna sayang, aku jadi gak sabar ingin memilikimu malam ini”

“Kalau gitu ayo, hihihi”

Hendra tak sabar melihat godaan Syakila yang sangat ingin diperawani olehnya, ia membawa Syakila ke atas ranjang dan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya. Hendra sudah bertelanjang bulat dengan wajah tampan dan tubuh berisi walau tak begitu kekar, penisnya tengah mengacung tegak dikelilingi oleh rambut – rambut semrawut yang begitu tebal.

Syakila malu menatap tubuh telanjang seorang lelaki untuk pertama kalinya, Hendra tersenyum mendekat menindihi tubuh polos Syakila, Syakila dapat merasakan perutnya tergesek oleh benda tumpul yang begitu menggodanya. Hendra kembali membisikan sesuatu ke telinga Syakila.

“Kamu cantik banget La kalau malu malu begini, aku jadi gak sabar untuk segera menikmatimu sayang” Syakila tersenyum mendengarnya.

Hendra melumat bibir Syakila, tangan kanannya meremas kuat payudaranya yang sudah tak terlindungi lagi, tangan kirinya memainkan putingnya dengan menekannya dan menariknya kuat, kadang jemarinya bergerak memelintir putingnya hingga desahan – desahan ringan terucap dari lisannya yang manis.

“Uhhmm, uhhmmmm”

“Kamu terlalu indah sayang untuk dinikmati, aku sangat beruntung bahwa aku memilikimu malam ini” puji Hendra yang membuat Syakila merasa senang.

Mulut Hendra bergerak turun mencumbui putingnya, mulutnya membuka dan menggigit pelan puting sebelah kanannya.

“Ahhhhhh, mass Hendraaa, ouhhhhh geliii”

Giliran puting sebelah kiri yang Hendra gigit membuat Syakila terus menerus mendesah, lidah Hendra keluar menjilati putingnya diikuti oleh remasan kuat di payudaranya membuat Syakila merinding hebat.

Hendra tak bisa puas untuk menikmati keseluruhan tubuh Syakila, Syakila memiliki tubuh indah yang tak bisa dinikmati hanya dengan mulutnya saja, ia ingin melahapnya habis, tangannya kembali meremas sementara mulutnya bergerak mencumbui dada Syakila, jemari Hendra mulai mengincar bibir vaginanya yang masih tertutup rapat,

Hendra tersenyum ketika sentuhannya membuat Syakila mengejang hebat, jemarinya bergerak kanan kiri atas bawah menggesek bibir vaginanya yang perlahan semakin basah. Syakila tak bisa berhenti untuk menggeliat menikmati rangsangannya, tubuhnya terangkat naik kadang melonjak – lonjak penuh nikmat.

“Ahhh masss iini ahhhh , nikmat mass, geliii, ahhhhh”

Liur telah berjatuhan di dada Syakila, nafsu sudah tak mampu ditahan lagi membuat Hendra tak tahan untuk segera memasukan torpedonya. Hendra menenggak ludah, jantungnya berdebar kencang ketika penisnya mulai mendekat bersentuhan pada bibir vaginanya.

“Ahhhhhhhh” Hendra memejam nikmat, baru menyentuh bibir vaginanya saja ia sudah dapat merasakan getaran hebat yang bakal ia rasakan.

Ia mulai mendorong terus mendorong masuk membelah bibir vaginanya untuk memasuki liang kenikmataannnya. Hendra memejamkan mata, penisnya terasa hangat, nyaman dan juga nikmat. Ia menggigit bibirnya sendiri meresapi detik – detik impiannya yang akan terwujud. Syakila mengerang, tangannya menggenggam kuat sprei ranjang berwarna putih, matanya memejam merasakan sakit yang tidak dapat terkira olehnya.

“Masss sakiitttttt” mata Syakila berkaca – kaca, tubuhnya mengejang membuat Hendra datang untuk menenangkannya.

“Sabar Syakila ini Cuma sebentar, tahan dulu sejenak” bisik Hendra ditelinganya.

Hendra mulai merasakan sesuatu seperti penghalang kuat yang sulit untuk ditembus, Hendra menyeringai.

Inikah dinding perawannya ?

Hendra mendorong penisnya untuk terus masuk membuat Syakila berteriak kesakitan, khawatir suaranya terdengar keras hingga keluar kamar, Hendra kembali mendekatkan mulutnya untuk melumatnya ditengah – tengah momen penting ini.

Cuppppp

“Ouhhhh uhhhmmm, ehhmmmm”

Hendra menarik kembali penisnya, ia mengambil ancang – ancang, dimundurkan sedikit pantatnya dengan kekuatan penuh ia kembali menghujamkan penisnya dengan kuat masuk ke dalam vagina Syakila.

“Ouuhhhhhhhhhh” Syakila menangis merasakan rasa sakit yang dideritanya, belum lagi ketika Hendra dengan sekuat tenaga menghentak – hentakan batang penisnya sekuat tenaga untuk memecahkan dinding yang menghalangi penisnya yang masuk lebih dalam lagi.

Air mata meleleh membasahi pipi Syakila, ia merasakan kesakitan yang tiada tara, tak berselang lama Hendra merasakan ada cairan sesuatu yang mengalir disekitar penisnya, ia menariknya lagi dan tersenyum puas melihat ada darah yang keluar membasahi sprei berwarna putihnya.

Syakila menangis sesenggukan membuat Hendra mengambil waktu istirahat untuk menenangkannya, Hendra mengelus kepala Syakila dan menyeka air mata yang turun dari pelupuk matanya.

“Syakila kamu hebat, kamu resmi menjadi seorang wanita sekarang” Hendra tersenyum.

Melihat pria yang dicintainya tersenyum karena berhasil merenggut keperawanannya membuat ia merasa baikan, tapi rasa sakit di vaginanya masih terasa membuat ia kembali berciuman untuk menjaga hawa nafsu tetap terjaga juga remasan di dada membuat nafsu Syakila kembali bangkit menuju puncak.

“Udah siap lagi sayang ?” tanya Hendra yang dijawab anggukan oleh Syakila dengan lemas.

Hendra kembali mengambil ancang – ancang dan melesatkan penisnya masuk ke dalam sana, Syakila memejamkan mata menahan rasa sakit yang masih diderita demi kebahagiaan sang lelaki yang ia cintai.

“Ahhhh, ahhhhh Laaaaa”

Hendra memaju mundurkan pinggulnya menikmati wanita berhijab yang sudah telanjang dengan payudara yang bergerak naik turun begitu indah, Hendra tersenyum menatap wajah Syakila yang tersenyum lemas tak berdaya.

Hendra mengejang, penisnya begitu puas ketika mampu memasuki lubang sempit yang begitu mengapit, penisnya bergerak maju mundur didalam vaginanya rapat. Hendra memejam mengadahkan kepalanya menikmati sensasi bercinta dengan istri dari adik kandungnya sendiri.

“Massss, ahhhhh ahhhhhhh” Syakila mulai menikmatinya, rasa sakit yang tadi dialami sudah menghilang membuat Hendra mempercepat hujamannya sebelum ada orang lain yang datang.

Hendra berusaha mengatur nafasnya ditengah hujamannya yang semakin keras menghujaminya, wajah Syakila memejam bibirnya ia gigit dan payudaranya semakin kencang bergerak tak beraturan. Hendra agak menunduk meremasi payudaranya dengan penuh nafsu, puting ia cubit, ia tarik dan ia pelintir hingga desahan Syakila begitu nikmat menguatkan nafsu birahinya.

Hampir sepuluh menit mereka berada dalam posisi ini sebelum mereka sama – sama merasakan sesuatu yang mengalir dari dalam dirinya. Hendra ambruk menindihi tubuh Syakila, Hendra melumat bibirnya ketika hujamannya semakin kuat menusuk – nusuk vaginanya.

“Syakilaa, sepertinya aku gak kuat lagi, ahhhh”

“Mass ehmmm , aku juga”

Ditengah percumbuan yang semakin panas, pinggul Hendra terus bergerak naik turun menghujami vagina Syakila sebelum ia menekannya kuat membuat kedua insan ini saling mendesah hebat.

“Uhhmmmmmmmmm” mereka berciuman menahan rasa nikmat yang sedang dirasakan berdua diatas ranjang pribadi yang akan menjadi tempat tidur Syakila dan suaminya yakni Rudi adik kandungnya sendiri. Hendra begitu puas mampu memejuhi gadis perawan yang ditemuinya tempo hari.

Syakila tersenyum menatap wajah Hendra yang puas, nafas mereka masih memburu seolah saling beradu, mata mereka saling menatap sebelum kembali mengecup menyelesaikan sentuhan terakhir di malam yang penuh kenangan ini.

Hendra menarik penisnya hingga terdengar bunyi plop yang nyaring sebelum berbaring bersama di samping Syakila.

“Sayang, mulai sekarang kamu resmi menjadi istri rahasia aku” ucap Hendra tersenyum.

“Tapi maunya istri beneran” jawab Syakila merajuk.

“Walau Firda adalah istriku, aku lebih mencintaimu Syakila seperti jawaban yang kuberikan sore tadi” ucap Hendra memuji.

“Beneran ?” tanya Syakila merasa senang.

“Gak tau yah hahahahha” tawa Hendra yang membuat Syakila kesal hingga merajuk menghadap ke sisi kanan membelakangi Hendra.

“Maaf dong sayang, becanda kok tadi” ucap Hendra merangkul tubuh Syakila dengan tangan kiri juga dengan kaki kirinya selayaknya memeluk guling.

“Iya mas aku tahu kok, aku juga bercanda, aku tetep bahagia bisa bertemu mas dan melakukan hal ini bersama lelaki yang aku cintai” jawab Syakila tanpa memandangi Hendra.

Hendra mengecup pipi Syakila membuatnya bahagia ketika lelehan sperma yang bercampur cairan cinta serta darahnya keluar membasahi paha bagian dalam yang mengalir ke sprei.

Sebelum berkemas dan menutupi semua perbuatan perselingkuhannya malam itu, mereka kembali berciuman dan saling menikmati tubuh polos masing – masing dengan merabanya dan meremasnya. Tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata tengah mengintip membawa sebuah hape jadul yang berisi beberapa foto perbuatan terlarang mereka berdua.

“Hehehhe non Syakila nakal juga yah, pak Hendra juga” ucap pria misterius yang terkekeh – kekeh puas.

***​

MASA SEKARANG

Hendra sedang bersandar di kursi kereta bisnis yang ia tumpangi bersama Firda istrinya, Firda akhir – akhir ini sering bermanja – manjaan padanya, kali ini saja ia tengah bersandar di bahunya sambil membicarakan semua kenangan yang sudah mereka buat bersama di kota Yogyakarta ini.

Diam – diam Hendra membuka layar hapenya, ia khawatir karena Syakila belum menjawab pesannya semenjak berpisah pagi ini. Hendra menatap ke arah luar jendela mengingat kejadian kemarin siang ketika harus meninggalkan istrinya sendiri bersama pak Manto untuk menjaga adiknya yang terlibat kecelakaan.

Bersama Syakila ia pergi menuju rumah makan sederhana tempat awal mereka bertemu, wajahnya yang ceria kembali terbayang dalam benaknya, momen romantis juga terekam ketika saling menyuapi nasi pecel yang mereka pesan kala itu.

Juga dimalam harinya ketika kembali bertemu untuk sekedar mengobrol saling melepas rindu. Walau hanya sesaat tapi itu sudah cukup berarti baginya. Ia berfikir apakah ia bisa menjalani kehidupan seperti ini terus ? hatinya merasa tidak enak dan memandangi wajah Firda sejenak.

Selama ini dirimu gak kenapa – kenapa kan mi ? akhir – akhir ini perasaanku gak enak khawatir dirimu terkena karma atas apa yang sudah kulakukan dibelakangmu, untuk itulah aku selalu menitipkan pak Manto yang sudah kupercaya untuk menjagamu, semoga wanita alim sepertimu tidak mendapatkan karma atas perselingkuhan yang kulakukan dibelakangmu ini yah mi.

Hendra mengecup istrinya tiba – tiba ditengah obrolan panjang yang dilakukan istrinya tanpa pernah berhenti membuat Firda heran dan menatap wajah suaminya yang sangat ia cintai.

“Kenapa mi ? Abi cuma sayang umi kok” ucap Hendra yang membuat Firda semakin nyaman untuk bergelayut manja padanya. Hendra melihat ke arah luar jendela, perasaannya masih tidak enak.

Syakila, kenapa kau tidak membalas pesanku ?

***​

Waktu yang sama di tempat yang berbeda.

Wanita cantik itu tengah memejam dengan tubuh polos menyisakan hijabnya saja, dengan posisi berlutut, didepannya terdapat pria tua bertubuh gempal berkulit keriput dengan rambut membotak menyisakan beberapa saja yang sudah berwarna putih, pria tua itu merem melek merasakan penisnya keluar masuk di dalam mulutnya yang manis.

Wanita cantik itu menangis, matanya berkaca – kaca bersembunyi dibalik kacamata berlensa bening yang melekat diatas hidung mancungnya. Tangan pria tua itu memegangi kepala sang wanita yang masih tertutupi hijab dan pinggulnya bergerak maju mundur dengan penuh nafsu.

“Ahhhhh ahhhhhhhhh, nikmat banget nonn, hahahha”

“uhmmm pakk, ehhmmm , tolonggg sudahi semua iniiii” wanita itu memohon namun tak dipedulikan oleh pria tua didepannya.

“Sudahi ? jangan bercanda non Syakila, berbulan – bulan saya menikmati tubuhmu tapi non sendiri gak ngasih izin untuk bisa mengeluarkan sperma di dalam memekmu”

“Pak Budi, tolong aku ini istri dari mas Rudi seseorang yang sudah mempekerjakan bapak sendiri, tolong pak aku mohon sudahi semua penderitaanku ini”

“Enak aja ? Istri pak Rudi atau istri pak Hendra ? kok malam pertama malah enak – enak bareng pak Hendra hahahaha”

“Itu….”

Pak Budi meminta Syakila untuk berdiri, mencumbui bibirnya dan melumatnya dengan penuh nafsu, Syakila pasrah membiarkan pria tua ini memainkan lidahnya di dalam mulutnya yang kecil, tercium aroma busuk dari tubuhnya yang membuatnya mual. Tangannya yang berkeriput tak tinggal diam untuk meremasi dan memainkan puting susunya yang berulang kali ia kenyot berharap ada satu tetes dua tetes yang keluar dari ukurannya yang besar.

“Siap – siap yah non hahaha”

Pak Budi membalikan tubuh Syakila, memintanya menungging untuk dapat memasukan penisnya yang sudah mengacung tegak ingin memasuki sebuah gua yang hangat dan lembap didalam sana.

Syakila memejamkan mata ketika penis yang sangat ia benci memasuki vaginanya, Syakila menggigit bibir bawahnya menggeleng – gelengkan kepalanya berharap semua ini tak terjadi.

“Ahhhhh ahhhhhhh” Syakila mendesah ketika pak Budi mulai memaju mundurkan pinggulnya menghujami vagina Syakila yang begitu rapat dan seret untuk dimasuki.

Tetesan air mata kembali jatuh membasahi pipi Syakila, pagi itu setelah tamu – tamunya berpulang ke rumahnya, pak Budi kembali datang untuk menikmati tubuhnya lagi setelah semalaman menikmati tubuh majikannya sembari memandangi aksi live show kakak iparnya di ruang tamu. Dalam posisi berdiri setengah menungging Syakila pasrah, ia terus menerus menunduk memudahkan air matanya turun membasahi lantai.

Tubuhnya yang hanya menyisakan hijabnya saja bergerak maju mundur seiring sodokan pak Budi yang cukup keras, pak Budi tersenyum menyeringai merasakan penisnya seperti diremas – remas oleh dinding vagina majikannya. Tangannya mengusap – ngusap punggung majikannya dan menampar bokongnya sesekali hingga Syakila mendesah begitu kuat.

Mas Hendraaa tolonggg akuuu. . . . .

Tetesan air matanya semakin deras tak tahan membiarkan pembantu busuknya terus menerus menikmati tubuhnya selama beberapa bulan ke belakang. Pak Budi mengangkat tubuh Syakila berdiri, Syakila terkejut membuka matanya lebar – lebar, ia kembali mendesah ketika pak Budi menghujami vaginanya dengan kuat membuat payudaranya bergerak mendul – mendul.

“Lihat kedepan non, betapa beruntungnya saya bisa menikmati tubuh non yang sesempurna ini, terima kasih telah membiarkan saya memiliki celah untuk bisa memeras non agar mau menyerahkan tubuh non ke saya hahahah”

Syakila melihat ke depan terdapat sebuah cermin yang memantulkan kegiatan nista mereka berdua, seorang wanita hijab bertubuh indah dengan lekuk yang mempesona tengah dihujami penis oleh pria tua bertubuh tambun, berwajah jelek dan berambut botak, Syakila tak sanggup melihat pemandangan buruk itu, semakin melihatnya semakin membuat hatinya sakit.

Masss Hendraaaa. . . . .

Pak Budi meremasi payudara Syakila dengan penuh nafsu ditengah hujaman penisnya, tak berselang lama nafasnya mulai memberat, dadanya terasa sesak sesuatu yang besar akan meledak dari dalam tubuhnya.

Pak Budi melepas genjotannya dari tubuh Syakila dan mengangkat tubuh indahnya ke atas ranjang yang tempo hari digunakan oleh Syakila untuk berselingkuh dengan Hendra untuk pertama kali.

“Ahhhhh” Syakila menjerit ketika tubuh polosnya dilempar ke atas ranjang.

“Pakk tolonggggg, lepasskan” Syakila memberontok mencoba untuk kabur sebelum pak Budi datang dan menindihi tubuhnya.

Tubuhnya yang berat duduk diatas perut Syakila, penisnya besar memanjang diapitkan diantara payudara Syakila, pak Budi mendesah maju mundur merasakan kenikmatan jepitan payudara Syakila yang montok, saking besarnya penis pak Budi membuat ujungnya menghentak dagu Syakila yang indah bagai lebah bergantung. Syakila tak kuat lagi, ia menangis terus menerus diperkosa seperti ini.

“Ahhhh nonnn Syakillaa, ahhhh ahhh”

Pak Budi tak kuat lagi ketika dirinya sudah diambang batas kenikmatan, ia mempercepat sodokannya diatas permukaan kulit Syakila yang halus, penis itu berkedut berkali – kali sebelum akhirnya menyemburkan lahar panas yang begitu banyak mengenai dada, payudara bagian dalam dan beberapa mengenai hijab dan wajah ayunya.

“Ahhhhh nikmat sekali non rasanya” pak Budi puas dan mengelap ujung penisnya menggunakan kain hijab yang masih menempel di kepalanya.

Syakila rasanya ingin menangis sejadi – jadinya, ia tahu kalau semua ini belum berakhir, ia memejamkan mata menahan semua derita yang harus ia lalui selama ini. Ia membuka layar hapenya melihat ada pesan masuk dari mas Hendra, Syakila senyum sesaat membaca pesan dari pria yang ia cintai.

“Maaf mas balasnya lama, aku baik – baik aja kok, tadi aku sibuk masak untuk menyiapkan makan pagi juga bersiap – siap untuk menuju rumah sakit lagi, mas Hendra jaga diri yah disana, hati – hati selama perjalanan, I love u :hati:”Syakila menangis setelah mengirim pesan kepada cinta pertamanya.

Tak usah mengkhawatirkanku mas, aku siap menanggung semua derita ini, aku tahu akan ada konsekuensi dari setiap perbuatan yang kita lakukan, untuk kali ini biarkan aku yang menebusnya, aku rela berkorban agar pernikahan mas Hendra dengan mbak Firda tetap baik – baik aja.

Walau sebenarnya aku tak begitu tahu sampai kapan aku harus begini yang jelas aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu mas, jaga ia, jaga wanita yang layak kau jaga. Jangan sampai ia harus menderita seperti apa yang kualami demi pengorbanan cinta kita.

“Non Syakila, non belum orgasme kan yah ? kasian sini biar saya bantu hahaha” pak Budi kembali mendatangi Syakila dengan tubuh polosnya yang menjijikan.

“Jangann pakk, tolonggg lepaskkan, ahhhhh ahhhhh”

Hijab Syakila telah terbuka menampakan rambut indahnya yang lurus memanjang, kacamatanya masih melekat dan tubuhnya terhentak maju mundur seiring melesatnya penis pak Budi didalam vagina Syakila yang rapat.

Massssss… Mass Hendraaaaa.

***​

Waktu yang sama di tempat yang berbeda,

Perasaan Hendra makin tak nyaman, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, berulang kali ia menatap wajah istrinya tanpa paham apa yang dibicarakan, raga ada disini tapi pikirannya entah dimana.

“Bii, Umi merasa beruntung deh punya Abi yang perhatian, penyayang, suka becanda sama Umi suka deh pokoknya ada Abi yang pengertian di sisi Umi” ucap Firda bergelayut manja di lengan Hendra.

Hendra mengecup kepala Firda dan menemaninya hingga dirinya tertidur. Disaat itulah sebuah pesan masuk ke dalam hapenya. Sebuah pesan dari wanita yang membuatnya selalu khawatir dan ia pun merasa lega di hati.

Ia memandangi wajah sang istri sejenak terlihat wajahnya begitu polos dalam tidurnya bagai bayi yang tertidur di malam hari.

Maafkan Aku sayang, Aku memang belum layak untuk menjadi suami yang pantas untukmu, andai kau tahu mungkin kau tak akan mengucapkan kalimat itu ke aku. Maaf aku telah membohongimu selama ini.

Diam – diam setetes air mata turun membasahi pipinya, Ia mencintai Firda juga mencintai Syakila. Mana yang harus dipilih ? poligami ? Ah rasanya tidak mungkin setelah semua yang telah dilakukannya selama ini.

Maaf sayang, kalau aku tak sealim penampilanku.

***

Kereta api terus melaju menyusuri rel yang tak berujung.
Melajunya sangat cepat sampai tak mengenal batas waktu.
Wahai para pria beristri yang beruntung.
Maukah kau mendengar sebuah kutipan dari suhu Shukaku ?

Hai setiap orang yang memakai api.
Hendaklah menjaga nyalanya dengan baik.
Yang kecil membawa kehangatan dan penerangan.
Namun yang besar akan membakar dan menghancurkan segalanya.

Tamat