Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 22

Masih Menjadi Misteri​

Malam telah tiba menyelimuti kota Yogyakarta. Gemerlap cahaya berkilauan terlihat ketika mobil yang ku naiki menyusuri jalan raya yang tak begitu ramai. Aku tersenyum memandang ke arah luar jendela, sebuah momen yang indah ketika mampu menikmati jalanan selancar ini berbeda dengan apa yang biasa ku alami ketika berada di ibu kota.

“Kenapa mbak senyum – senyum” tanya Syakila setelah lama memperhatikanku.

“Gapapa la, suka aja dengan keadaan disini” Jawabku tersenyum.

“Tinggal disini aja mbak makanya, lebih seru loh” Ajaknya sambil tertawa.

“Hihihi ikut mas Hendra aja lah akunya” Jawabku tersenyum.

Syakila tersenyum manis, dengan kacamata berlensa bening yang melekat di wajahnya, ia sangat cantik dengan kulit putih yang bersinar cerah, bibirnya tipis merekah menampakan lesung pipitnya yang indah. Aku jadi menyesal setelah kejadian yang kualami di ruangan pasien tadi.

Maafkan aku Syakila sudah melakukan hal itu kepada suamimu.

Sekitar pukul setengah sembilan malam sampailah kami di rumahnya, tak kusangka rumah sudah bersih dengan lantai yang sudah di pel dan dedaunan yang terjatuh di halaman sudah dibersihkan.

Segera diriku meminta izin kepada Syakila untuk menunjukan dimana letak kamar mandi agar diriku bisa mengganti celana dalamku yang sudah sangat basah akibat sperma pak Manto yang meresap didalam. sebelumnya diriku berniat menuju kamar tidurku untuk mengambil pakaian ganti sekaligus handuk untuk membersihkan tubuhku yang sudah sangat ternoda ini. Namun, Syakila menghentikan langkahku dengan menanyakan sesuatu kepadaku.

“Mau mandi air hangat aja gak mbak ? biar aku persiapkan”

“Wah boleh banget La, tolong ya” jawabku tersenyum.

Sesaat sebelum Syakila melangkah menuju kamar mandi, pak Budi muncul dari balik tembok membuat Syakila terkejut.

“Astaga pak Budi ngagetin aja” katanya.

“Hehe maaf non, saya baru dari dapur menyiapkan makan malam, eh mbak Firda ikut dateng yah?” tanya pak Budi.

“Iya pak hehe” jawabku.

Pak Budi hanya tersenyum menyambut ramah kedatanganku ke rumah ini.

Kulihat pak Budi ini berusia empat puluh tahunan akhir bertubuh gempal, berkulit gelap, rambutnya sudah botak menyisakan sedikit saja dipinggirnya dan ada juga sedikit bulu halus di dadanya yang mencuat dibalik kaus polo yang ia kenakan.

“Yasudah, aku mau ke kamar mandi dulu yah buat menyiapkan air panas” Syakila pamit menuju kamar mandi untuk menyiapkan water heater untuk memanaskan air.

“Permisi pak, saya mau ke kamar dulu” kataku sopan.

“Oh silahkan non, silahkan” ucap pak Budi sopan.

Aku tersenyum, ini merupakan kali kedua pertemuanku dengan pak Budi setelah kehadiranku dalam pernikahan mas Rudi dan Syakila sekitar beberapa bulan yang lalu, memang benar apa kata Syakila sepertinya pak Budi ini bukan orang yang neko – neko, berbeda dengan pak Manto yang suka menjilat didepan suamiku namun ketika dihadapanku sifat mesumnya pun muncul dan selalu menggodaku membuatku takluk tak bisa melawan.

Ku tutup pintu kamarku, satu persatu pakaian yang melekat di tubuhku telah ku lepas, aku bergidik jijik ketika melihat celana dalamku yang sudah belepotan sperma seperti ini, bentuknya sudah tidak layak pakai, aku pun menemukan tempat sampah di ujung ruangan dan membuangnya kesana.

Gamisku ku buka menampilkan tubuhku yang mulus hanya bra berukuran 36C saja yang masih melekat disana. Kuambil tisu kering untuk membersihkan sisa sperma yang ada dengan cara menepuk – nepuk di area kewanitaanku secara perlahan. Barulah setelah itu kulepas bra kemudian hijabku hingga diriku bertelanjang bulat didalam kamar yang kutempati sementara ini.

Diam – diam tanpa sepengetahuanku terdapat sepasang mata yang mengintip dari arah jendela luar yang tirai nya tidak tertutup rapat, aku lengah dan membiarkan mata itu menandangiku tanpa ku ketahui sama sekali.

“Ouhhhhh indahnya, uhhhhhh” ucap seseorang sambil memajumundurkan tangannya dibawah sana.

Kukenakan kaus longgar beserta celana training panjang hingga kaki jenjangku tidak tercetak dibawah sana, kukenakan hijab simpel dan melangkah keluar menuju kamar mandi.

Setelah diriku keluar, sepasang mata yang mengintipku tadi menghilang tanpa jejak.

“Mbak Firda, aku mau keluar sebentar yah kayaknya lauk kita di dapur gak cukup, gapapa kan aku beli gorengan ? nanti kalau gendutan dimarahin mas Hendra gak ? hihihi”

“Hihihi ya gapapa lah Syakila, lagian aku juga udah gendutan kok”

“Ah mbak Firda itu mah bukan gendut tapi montok” katanya bercanda yang membuatku tertawa.

Syakila pun pergi keluar rumah membeli gorengan meninggalkanku sendiri yang ingin mandi di kamar mandi. Kakiku melangkah pelan namun fikiranku berat merasa seperti ada yang kurang, namun ku acuhkan semuanya karena tubuhku sudah sangat kotor ingin membersihkan diri dengan air hangat sekaligus untuk melepas penat.

“Wah gak nyangka ada bathtub juga disini” lirihku senang.

Kubuka satu persatu pakaianku kembali, ku gantungkan semuanya di gantungan yang berada di balik pintu, tak lupa ku kuncir rambutku ke belakang yang panjangnya sebahu hingga leher jenjangku terlihat. Kubasuh sejenak tubuhku dengan air hangat agar diriku tak kaget saat berendam didalamnya.

“Ahhhh segarnyaa . . . . .”

***​

Sementara itu sesosok pria mengendap – ngendap masuk ke dalam kamar yang tadi ku tempati, pria itu melihat ke arah sekitar sebelum menemukan celana dalam yang tadi ku buang ke tempat sampah, pria itu tersenyum setelah memperhatikannya.

“Ada bekas pejuh hehehehe”

Ia mengambilnya dan kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk melakukan sesuatu.

***​

Mataku memejam menikmati guyuran shower hangat yang membasuh sekujur tubuhku, ku arahkan shower ini membasahi dadaku hingga payudaraku yang berbentuk seperti buah papaya yang menggantung tersiram basah. Aku mengusapnya dengan tangan kiriku dan tak sadar meremasnya sejenak membuat nafasku sengal menikmati sensasinya.

Pikiranku teringat akan masa – masa di kamar pasien tadi, masih terasa bagaimana hujaman penis pak Manto keluar masuk menggenjot vaginaku, ukurannya yang besar berwarna hitam dan uratnya yang menyelimutinya membuatnya terlihat kekar membelah vaginaku dengan paksa.

Aku menggigit bibirku membayangkan sensasi itu masih terasa. Ku taruh gagang shower kembali ke tempatnya, kedua tanganku meremas payudaraku dengan kuat, putingku ku tekan membuatku menjerit pelan merasakan nikmatnya.

Tangan kiriku turun menyusuri perut rataku dan menuju vaginaku yang berbulu jarang, aku membukanya dengan jemariku, ku biarkan air shower yang hangat masuk dengan derasannya yang membuatku geli nikmat, aku sampai merinding merasakan semuanya, jemariku menekan biji kecil yang biasa disebut sebagai klitoris, ku tekan dengan jari jempol ku sebelum kucubit menggunakan jemari telunjuk dan jemari tengahku.

“Ouhhhhhhhh” desahku hingga tubuhku bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“Indah sekali nonn, goyang lagi, ahhh toketnya udah gede gantung lagi” desah lirih seseorang mengintipku dari ventilasi udara yang berada di atas pintu kamar mandi.

Aku tak mengetahui apapun, fokusku teralihkan akibat pikiran kotor yang kembali menguasaiku. Berulang kali diriku telah bertekad untuk melepaskan diri dari budak hawa nafsuku, tapi tiap kali ada kesempatan kembali entah kenapa diriku selalu menurutinya, aku bingung, aku sampai dilema untuk memilih haruskah aku tetap pada diriku yang sekarang atau kembali ke diriku yang dulu ketika diriku benar – benar tunduk pada nafsuku ?

Aku tak bisa berhenti untuk tidak menekan klitorisku, kumainkan dengan jemariku hingga tubuhku mengejang nikmat, rasanya seperti tersetrum arus listrik membuat darahku berdesir ke seluruh tubuhku, ku lebarkan kakiku dan kumasukan jemari telunjuk dari tangan kananku. Jemariku keluar masuk menggesek dinding vaginaku yang telah basah oleh hawa nafsuku.

Pria misterius itu semakin bernafsu setelah melihatku seperti ini, ia mengocoknya semakin kencang memaju mundurkan penisnya dan ia betot sekuat mungkin. Aku memejamkan mataku dan mengadahkan wajahku ke atas, pria itu panik beruntung diriku menutup mata membuatnya semakin mudah memandang wajahku yang sedang terangsang hebat.

“Ouuhhh mas Manto, uhhhhh” aku tak dapat mengendalikan pikiranku lagi, aku benar – benar telah dikuasai oleh nafsuku. Entah sejak kapan diriku telah berubah menjadi malu tapi mau seperti ini.

Tubuhku mengejang nafasku memburu menikmati aksi soloku di kamar mandi milik adik dari suamiku, kurasakan gelombang nikmat itu akan kembali mendatangiku, kakiku semakin melebar sambil membayangkan penisnya menggenjotku semakin kuat menggesek dinding vaginaku yang sempit dan seret.

“Ahhhhhh, ahhhhhh ahhhhhhh”

Cretttt creettt creetttttt

Gelombang dahsyat keluar dari dalam vaginaku membasahi lantai kamar mandi dan sebagian ada yang mengenai temboknya, rasanya puas sekali membuatku lemas hingga jatuh berlutut disana. Kuremas kembali payudaraku ketika tubuhku kelojotan menikmati sisa – sisa orgasmeku yang masih berlanjut.

Pria misterius itu takjub melihatku orgasme begitu dahsyat, ia semakin kuat mengocoknya membayangkan dirinya mampu menikmati tubuhku yang sedang lemas tak berdaya.

Aku bangkit dan menjatuhkan tubuhku diatas bathub yang sudah berisi air hangat, barulah diriku menyesali apa yang sudah kuperbuat barusan, kupegangi dahiku memikirkan caranya bagaimana terlepas dari jerat nafsu yang sudah mencengkramku selama ini.

Ada apa dengan diriku sebenarnya ? aku ini wanita berhijab yang alim ! kenapa diriku bisa serendah ini membiarkan pria lain menikmati tubuhku seenaknya ? apa kata suamiku apabila tahu bahwa diriku telah berbuat selanjut ini ? kubaringkan tubuhku dan memejamkan mata menikmat basuhan air hangat yang merendam tubuhku.

Lima belas menit sudah diriku berendam air hangat sambil merenungi nasib hidupku yang sudah ku lalui membuatku merasa cukup dan ingin bangkit untuk mengeringkan diri. Tak lupa kubasuh tubuhku dengan sabun cair dan melakukan keramas untuk melakukan ritual mandi wajib. Setelah membilas semuanya dan merasa segar ku ambil handuk untuk berniat mengeringkannya. Tapi . . . .

“Loh handuknya mana ?” tanyaku panik.

Pantas saja tadi diriku merasa ada yang kurang, rupanya aku lupa membawa handuk ke kamar mandi. Wajahku yang penuh dengan air membuat pandanganku sulit untuk melihat ke depan. Tanganku berusaha untuk meraih kausku tapi ketika aku menariknya pakaianku yang lainnya pun terjatuh mengenai lantai kamar mandi yang basah. Aku merasa kesal sekaligus bingung.

“Duh gimana ini ?”

Satu – satunya pakaianku yang selamat adalah kaus dan hijabku, ku gunakan kausku untuk mengelap wajahku untuk memudahkanku untuk melihat kembali. Aku menghela nafas ketika melihat celana trainingku, braku dan celana dalamku semuanya basah terkena lantai kamar mandi. Ingin rasanya marah tapi aku juga bingung bagaimana caranya diriku keluar ke kamar mandi.

“Tokk tokk tokk, Syakilaa, Syakilaa”

Kupanggil namanya berkali – kali tapi ia tak kunjung datang, apakah Syakila belum balik ? lantas bagaimana caraku untuk keluar dari sini. Kuingat – ingat ada pembantunya yang bernama pak Budi, bagaimana kalau tiba – tiba pak Budi memergokiku telanjang ? aku tak ingin kejadian di gerbong kereta itu kembali terulang.

Tapi tubuhku bakal kedinginan kalau harus menunggu hingga Syakila pulang, akhirnya dengan memberanikan diri kubuka gagang pintu kamar mandi dan kepalaku melongok keluar.

Kulihat keadaan rumah yang cukup besar ini sepi, kututup kembali pintu kamar mandi dan kukeringkan sisi tubuhku dengan satu – satunya pakaianku yang masih bersih yakni kausku. Kutaruh semua pakaian yang basah itu ke dalam mesin cuci biarlah nanti kucuci dan kukeringkan setelah kembali berpakaian. Beruntung hijab simpel ku masih tegantung disana.

Tubuhku yang sudah telanjang bulat hanya menyisakan hijabku saja membuka pintu kamar mandi sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Sialnya diriku nyaris terpeleset ketika kakiku menginjak sesuatu yang licin dan kental tepat didepan pintu kamar mandi.

“Apa sih ini ? bikin kaget aja” keluhku.

Kakiku melangkah maju mengendap – ngendap bagai seorang pencuri, diriku merasa malu sekali karena lagi – lagi terpaksa berjalan telanjang hanya mengenakan hijabku saja. Tibalah diriku di pintu yang memisahkan ruang tamu dengan dapur. Aku tidak berani melangkah maju, aku khawatir kalau diriku akan ketahuan oleh orang lain terutama pak Budi satu satunya lelaki yang ada di rumah ini. Tapi hawa dingin menusuk tubuhku, aku kedinginan dan aku tak kuat lagi menahan semua ini disini.

“Pyaarrrrrr” terdengar suara benda pecah dari ruangan yang berada di ujung sebelah utara, kalau tidak salah tadi Syakila bilang itu kamarnya pak Budi, apa yang terjadi ?

Aku langsung kembali ke dapur dengan nafas yang terengah – engah, jantungku berdegup kencang dan bulu kudukku merinding ketika dikejutkan oleh suara itu.

“Duh suara apa sih tadi ?”

Aku jadi semakin ragu untuk melangkah maju menuju kamarku, aku panik tak henti – hentinya wajahku melinguk ke arah sekitar khawatir ada seseorang yang datang kepadaku dari arah yang tak kusangka – sangka.

Aku kembali melangkah maju, hawa dingin yang berhembus mengenai kulitku membuat putingku mengeras dan mengacung indah. Tubuhku makin sensitif terlebih ketika kain hijabku turun dan tergesek mengenai putingku.

Aku kembali terangsang dan merasa tertantang dengan keadaan sepi yang berada di sekitarku, alih – alih langsung ke kamar diriku mencoba duduk di sofa tamu menghadap ke arah utara searah ketika diriku menghadap ke arah TV, wajahku celingak – celinguk melihat ke arah sekitar, kulebarkan kakiku kembali dan jemariku kembali turun meraba bibir vaginaku yang agak basah.

Rasa khawatir, deg – degan yang melanda diriku membuatku semakin tertantang untuk terus melanjutkan aksiku, entah apa yang terjadi padaku tapi aku menikmati sensasi yang membuat jantungku semakin berdebar. Ku naikan hijabku hingga payudaraku terlihat sedang menggantung indah disana. Aku memejamkan mata begitu hanyut oleh sensasi liar yang melanda diriku, tangan kiriku kugunakan untuk meremas payudaraku sementara tangan kananku kugunakan untuk merangsang bibir vaginaku.

“Ouhhhhhh” desahku tak sadar keceplosan.

Terkejut diriku mengeluarkan suara yang keras membuat diriku kembali panik melihat ke arah sekitar, walau sedikit curiga karena suasana sangatlah sepi diriku kembali melanjutkan aksiku karena merasa nanggung.

Kumasukan jari telunjuk dan jari tengahku secara bersamaan ke dalam vaginaku, aku merinding nikmat merasakan aksi liarku di tempat ini. Nafasku tersengal – sengal, tubuhku mengejang dan payudaraku mengeras ketika hawa nafsu kembali menguasai diriku.

“Ini aneh, ini gak mungkin, baru saja aku mendapatkan orgasme kenapa sekarang aku kembali merasakan sesuatu yang sama” lirihku.

Mulutku menganga tubuhku nyaris tak bisa diam menikmati sensasi kejut yang melanda seluruh tubuhku, andai diriku membawa dildoku, andai pak Manto berada disini atau mungkin pak Budi ? andai siapa saja yang memiliki benda lonjong keras yang besar sedang memasuki vaginaku pasti semua ini akan terasa sempurna.

“Ouhhh ouhhh, ahhhhhhh” pikiranku sudah tak dapat kuatur , nafsu yang meninggi membuatku meracau ingin segera dipuasi.

Kegilaanku semakin menjadi, vaginaku semakin gatal, aku tak puas hanya dengan menggunakan jariku saja. Setelah melihat keadaan masih sangat sepi, diriku segera melangkah cepat untuk menuju kulkas mencari sesuatu.

“Ini dia yang kubutuhkan” ucapku ketika menemukan seonggok terong dingin berwarna ungu yang cukup besar.

Segera diriku berlari ke ruang tamu kembali untuk duduk di sofa yang tadi ku gunakan untuk merangsang vaginaku dengan jemariku. Aku berjongkok, terongku ku tegakan, secara perlahan tubuhku turun membuat vaginaku terbelah oleh sensasi dingin terong yang berada di bawahku.

“Uhhhhn nikmatt sekaliii”

Aku semakin liar ketika hawa nafsu begitu kuat menguasaiku ditambah dengan keadaan yang tengah sendiri membuat vaginaku terasa semriwing tertusuk terong dingin didalam. Tubuhku naik turun merasakan nikmatnya permukaan terong itu menggesek – gesek dinding vaginaku yang sudah sangat basah.

“Ouhhh enakknya, ahhhh ahhhh” payudaraku terguncang naik turun ketika seonggok terong tengah memperkosaku di ruang tamu milik adik dari suamiku.

Diriku melihat ke arah sekitar khawatir ada yang melihat, perasaan ini, ya ini yang kunanti selama ini, sensasi nikmat yang kurasakan di vaginaku ditambah dengan perasaan takut apabila ketahuan membuat obsesiku di masa lalu bangkit.

Seperti ini lah yang ku inginkan dari dulu, aku begitu menikmatinya, nafsu yang semakin menggebu membuat tubuhku menekan terong itu hingga masuk begitu dalam menyundul rahimku. Kedua tanganku tak henti – hentinya meremasi payudaraku sendiri, dipelintirnya putingku dan kutekan dengan ibu jariku.

“Ahhhh ahhhhh ahhhhhhh”

Aku mengulum jari telunjukku, aku heran kenapa diriku menjadi seliar ini, ingin rasanya meminta maaf kepada suamiku karena telah membiarkan tubuh indahku dinikmati oleh orang lain bahkan oleh terong yang sudah basah diliputi oleh cairan cintaku.

Wajahku mengadah ke atas, aku tak kuat dalam menahan sensasi nikmat ini, terong yang kugunakan untuk merangsang vaginaku semakin masuk ke dalam, kini aku duduk menyender ke arah sofa, kuangkat kaki mengangkang, hijabku ku slempangkan ke samping hingga tubuh polosku benar – benar terlihat dari depan. Ku ambil terongnya dan kutarik keluar dari dalam membuat tubuhku mengejang hebat, ku gerakan terong itu keluar masuk membuat mulutku mendesah tak karuan

Aku menggelengkan kepalaku tak kuat, ini terlalu liar, aku sudah tak tahan lagi, mulutku mengatup berusaha untuk meminimalisir suara yang terucap. Dua menit kemudian diiringi dengan lolongan hebat, aku pun berhasil mendapatkan orgasme keduaku di rumah ini dengan cara yang paling liar yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

“Aaahhhhhhhhhhhh”

Satu dua semprotan berhasil keluar membasahi taplak yang biasa digunakan untuk menutupi meja ruang tamu, tubuhku ambruk lemas menyender pada sofa di ruang tamu, nafasku ngos – ngosan dan dadaku naik turun menikmati kepuasan yang tidak terkira kudapatkan.

Aku mengantuk ingin rasanya untuk memejam sejenak, sesaat aku tersadar bahwa diriku sedang berada di ruang tamu, dengan nafas terengah – engah aku berusaha bangkit dan mengambil taplak meja yang terkena semprotan orgasmeku untuk kubersihkan sebelum ada orang lain yang mengetahui.

“Cekreekkkk”

Nafasku berhenti sejenak ketika pintu kamar pribadi pak Budi yang berada di ujung sana perlahan terbuka, walau cukup jauh tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas, aku panik, buru – buru diriku berlari memasuki kamarku yang berada di dekat pintu masuk. Sesaat sebelum diriku masuk kulihat sendal yang biasa Syakila kenakan sudah berada di rak, apa Syakila sudah pulang ? Kalau iya dimana dirinya sedari tadi ?

Kututup pintu kamarku dan kusembunyikan barang bukti yang dapat membuatku malu seumur hidupku.

“Celaka terongnya !!!” ucapku panik.

Dengan terburu – buru kuambil tisu kering dan kuelapkan secara hati – hati untuk mengeringkan vagina serta lelehannya yang mengenai pahaku. Kubuka koper barang bawaanku dan aku tak menemukan bra lain.

“Aduh aku gak bawa bra lagi nih ?” aku semakin bingung, kalau tidak cepat – cepat bisa – bisa terong yang basah terkena lumuran cairan cintaku bakal ketahuan oleh orang lain dan membuatku merasa malu seumur hidup.

Akhirnya aku hanya mengenakan pakaian seadanya dengan kaus serta celana kain panjang yang biasa kugunakan untuk tidur.

Segera buru – buru aku menuju ke ruang tamu lagi dan disana Syakila sedang duduk anteng menonton televisi.

“Degggg” aku lemas, apakah Syakila tahu ? tapi dilihat dari wajahnya ia sangat tenang seperti tak tahu apapun.

Diriku berjalan santai mendekati Syakila, mataku mengintip ke arah sofa yang tadi kutempati untuk memuaskan fantasiku.

Kok terongnya gak ada ?

“Eh Mbak Firda, maaf tadi aku beli gorengannya lama, dicari kemana – mana udah tutup sih hehe, makan yuk”

“Hehe yuk” jawabku ditengah kebingungan yang melanda.

Syukurlah Syakila tak mengetahui apapun, tapi kenapa ia tak curiga juga yah kalau taplak meja di ruang tamunya hilang. Saat menuju ke dapur pak Budi terlihat disana sedang menyiapkan piring untuk makan kami berdua.

“Pak Budi sudah makan ?” tanya Syakila.

“Nanti aja non, saya makan sendiri aja di kamar hehe” jawabnya sopan.

Dilihat dari jawabannya sepertinya ia juga tak tahu apapun, lalu apa yang sedang terjadi disini sebenarnya ? tubuhku jadi merinding memikirkan misteri yang belum terpecahkan ini.

Karena lapar aku sempat melupakannya, Syakila juga orangnya asyik untuk diajak ngobrol, saking asyiknya kami menyantap makan malam nyaris setengah jam. Setelah selesai makan aku duduk di ruang tamu sejenak bersama Syakila dan pak Budi.

Aku kagum walau pak Budi berstatus pembantunya tapi ia dibiarkan duduk diatas sofa ketika Syakila berada disana. Namun sepertinya pak Budi mengetahui sesuatu tentang diriku, diam – diam pandangannya menatap dadaku yang tak mengenakan bra, ini bukan salahnya tapi salahku, lelaki mana yang tidak penasaran akan sesuatu yang bersembunyi di balik pakaianku. Malam itu sebisa mungkin aku menutupi tubuhku dengan hijab simpelku. Setelahnya akupun tertidur tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.

Keesokan harinya pukul delapan pagi. Mas Hendra pulang mengendarai taksi online, aku yang merindukannya langsung datang memeluknya. Setelah semua barang – barang telah dikemas, kami pun meminta izin pulang setelah seharian kemarin menjenguk mas Rudi adik dari suamiku yang terbaring sakit di kamar pasien. Selama perjalanan ke stasiun pikiranku masih bertanya – tanya, nampaknya ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka berdua, bagaimana mereka tidak menyadari taplak mejanya hilang, bagaimana terong yang kugunakan semalam tiba – tiba menghilang dalam sekejap.

Ini aneh.

“Umi kenapa ? mikirin sesuatu yah ?” tanya suamiku.

“Ehh engga kok, engga” jawabku.

Petualanganku di Yogyakarta resmi berakhir, nanti malam diriku sudah berada di rumah lagi, kabar baiknya selama beberapa hari kedepan pak Manto tidak berada di rumah karena masih menemani orang tuanya yang sakit. Memang seperti julukannya, aku tak akan melupakan kenangan indah yang berhasil kuukir di kota ini, termasuk kenangan liar yang kulakukan semalam. Yogyakarta kota sejuta kenangan.

Astaga, kaus dan celana trainingku masih berada di mesin cuci, batinku baru teringat.

***​

Syakila berdiri didepan pintu hingga taxi online yang kunaiki menghilang dari pandangannya, pak Budi mendekat dan memeluk Syakila dari belakang.

“Jadi gimana non ? mumpung pak Rudi sakit dan mereka sudah pergi ada waktu bagi kita untuk melakukannya lagi, iya kan ?” ucapnya sambil mengecup pipi majikannya.

Syakila hanya terdiam membiarkan pembantunya mengecupnya tanpa bereaksi apapun, pandangannya tetap dingin menatap ke depan tak peduli dengan rangsangan pak Budi yang semakin liar ke arah tubuhnya, ia membiarkan tangan pembantunya itu meremasi payudaranya dan memeluk tubuh langsingnya dari belakang. Syakila hanya mengernyitkan dahi merasa tak nyaman dengan sikap kurang ajarnya.

“Tau gak non, dari sekian kali saya menikmati tubuh indah non, kapan waktu yang paling membekas di ingatan saya ?” tanyanya berbisik di telinga Syakila.

“Kapan ?” jawabnya dingin.

“Semalam di kamar saya, ketika bercinta dengan non dalam posisi menungging sambil memandangi kakak ipar non telanjang dan bermasturbasi di ruang tamu hahahaha” tawanya.

Pak Budi melumat bibir Syakila dan dibalas langsung olehnya dengan terpaksa, Syakila pasrah sepertinya ia sudah sering diperlakukan seperti ini oleh pembantunya.

“Non, pagi ini tolong buatkan sayur terong dari terong yang digunakan oleh mbak Firda semalam yah” pintanya ditengah percumbuannya yang hangat dengan Syakila.

Syakila hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Lelehan air mata turun membasahi pipinya. Pintu pun tertutup dan kita tak tahu lagi apa yang akan terjadi di dalam rumah itu lagi.

Mas Hendra… tolong!

~To be Continued.~