Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 21

Tamu yang tak Terduga​

Setelah melalui malam yang sangat panjang akhirnya sang fajar pun datang menutup kekhawatiran yang selama ini menghantuiku hingga membuat jantungku berdebar begitu kencang. Aku bersyukur melihat matahari kembali terbit menyinari bumi, suamiku juga terbangun dan tersenyum setelah melihatku tengah duduk disampingnya.

“Selamat pagi bi” sapaku sambil memberikan senyum manis kepadanya.

“Eh umi, selamat pagi juga” jawabnya sambil memberiku kecupan di dahi.

“Umi gapapa kan ? semalam abi bermimpi buruk loh” lanjutnya.

“Eh gapapa kok bi, lagipula itu kan cuma mimpi, tenang aja yah !” ucapku menenangkannya.

Syukurlah ternyata memang mimpi, apa yang harus kukhawatirkan ? lagi pula tidak mungkin juga istriku yang sholihah ini telanjang berlarian di gerbong kereta malam – malam.

Sekitar pukul enam pagi, kereta pun sampai di kota Yogyakarta yang memiliki julukan kota sejuta kenangan. Walaupun harus terlambat selama satu setengah jam setidaknya kami semua bisa sampai dengan selamat, kami pun turun keluar dari gerbong satu persatu, seperti biasa mas Hendra suamiku serta pak Manto pembantuku membawa barang bawaan kami menuruni tangga demi tangga menuju peron kereta.

Tiba – tiba terdengar suara berisik yang berasal dari arah gerbong delapan. Aku tak begitu mendengarkan apa yang terucap dari lisannya. Baik diriku, mas Hendra dan pak Manto pun berbalik arah menengok ke asal muasal suara tersebut.

“Astaga bukannya dia ?” lirihku panik.

“Loh mi ada apa ? umi tahu sesuatu ?” tanya suamiku penasaran.

“Eh, engga kok bi, engga, aku gak tahu” jawabku berbohong setelah melihat kakek yang mengejar-ngejarku semalam telah ditangkap oleh petugas kereta dan dibawanya menuju stasiun untuk diintrogasi lebih lanjut. Anehnya si kakek masih saja melawan seolah keukeuh dengan alasannya bahwa dirinya telah melihat wanita telanjang semalam.

Mataku terbuka lebar ketika tertangkap oleh pandangan matanya, bergegas aku berbalik arah dan meminta suamiku untuk pergi menjauh dari peron kereta ini. Terdengar suara teriakan dari arah belakang yang tidak digubris oleh diriku, aku meminta mereka untuk mempercepat langkah kaki agar bisa pergi sejauh mungkin dari stasiun ini.

Duh semoga aja gak kenapa – kenapa, batinku ketakutan.

Dalam perjalanan menuju pintu keluar stasiun suamiku terlibat obrolan ringan dengan pak Manto terkait tempat tujuan yang akan dituju olehnya.

“Setelah ini mau kemana pak ? mau ikut kami atau langsung pergi menuju rumah orang tua pak manto ?” tanya suamiku.

Kok pake nanya sih bi, usir aja, suruh pergi menjauh dari kita, batinku kesal membayangkan sikap pak Manto apabila tetap bersamaku disini yang bisa – bisa bakal terus menerus menikmati tubuhku seenaknya.

“Mengenai itu sepertinya saya bakal langsung pulang ke Klaten aja pak Hendra, kasian orang tua saya” jawab pak Manto yang membuatku sumringah.

“Baiklah kalau gitu, mau sarapan dulu ?” ajak suamiku.

Ngapain diajak lagi bi ? biarin aja dong.

“Oh gak usah, saya gak enak, saya langsung pulang aja, permisi pak” kata pak Manto setelah melihat bis lewat.

“Baiklah kalau begitu, hati – hati di jalan yah pak” ucap suamiku.

Pak Manto dengan wajah puas setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan segera menaiki bis, ia duduk disamping jendela sambil memandangiku hingga bis itu menjauh dari pandanganku.

Aku mengernyitkan dahi merasa risih, aku sempat heran kenapa dulu diriku sampai memohon ke suamiku untuk memintanya bekerja dirumah ?

Hati manusia memang mudah berubah, kadang apa yang kita inginkan di hari kemarin langsung berubah menjadi apa yang tidak kita inginkan di hari ini.

“Mi mau sarapan dulu gak ?”

“Mauuuu” jawabku manja.

Akhirnya setelah sekian lama diriku bisa bersama suamiku lagi hanya berdua tanpa ada gangguan siapapun, aku menggandeng lengan suamiku erat dan tersenyum sepanjang hari. Beberapa kali kupandang wajah suamiku dan kunikmati agar perlahan hawa nafsu yang selama ini menguasaiku mulai mereda.

Dalam hati aku ingin menikmati apa yang sudah dihalalkan untukku agar aku tidak mencari sesuatu yang haram di luar sana, toh nikmatnya juga hanya sesaat.

Di sebuah warung sederhana di luar stasiun, kami masing – masing menikmati satu porsi gudeg sambil membicarakan masa depan bersama, kami saling memandang dan tersenyum kadang kami saling menyuapi dan menyeka makanan yang mengotori mulut kami dengan tisu, aku bahagia hal semacam inilah yang seharusnya kunikmati bersama suamiku selama ini.

Sekitar jam delapan pagi aku dan suamiku sampai di rumah adik suamiku. rumahnya cukup luas dengan desain interior yang mengagumkan, sepasang sofa berwarna biru dengan bantal kecil sebagai hiasan tersedia diatasnya, dibelakangnya ada Aquarium yang berisi ikan hias berwarna warni menyenangkan hati, sebuah TV layar lebar berukuran 20 inch terpampang di ruang tamu membuatku kagum akan kemewahan yang ada.

“Mas, selamat datang” ucap seorang wanita yang menyambut kami.

“Syakila, bagaimana keadaan adik saya ?” tanya suamiku kepada istri dari adiknya.

“Alhamdulillah walau terlibat kecelakaan parah kata dokter mas Rudi baik – baik saja, Cuma ya tubuhnya agak sulit digerakan karena banyaknya bagian tubuh yang patah” jawabnya dengan nada bersedih.

“Mulutnya juga sulit digerakan, berulang kali kalau menginginkan sesuatu mas Rudi selalu memberikan isyarat untuk berkomunikasi denganku” lanjutnya.

“Oh begitu syukurlah, lalu siapa yang menunggunya di rumah sakit ?”

“Ada mbok Darmi pembantu kami”

“Oh yasudah setelah ini tolong antarkan kami yah untuk menemui Rudi”

“Iya mas, mbak Firda oh iya untuk sementara kalian bisa menempati ruangan ini untuk menginap disini” katanya sambil menunjukan kamar yang dimaksud. Kamar yang aku tempati itu berada di dekat pintu masuk.

“Baik Syakila terima kasih, ayo mi kita mandi berganti pakaian dan bergegas menuju rumah sakit”

“Iya bi” jawabku patuh.

Setelah mandi dan mempersiapkan diri aku dan suamiku telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit untuk menemui Rudi adik dari suamiku. Suamiku tampak gagah dengan kemeja putih dan celana kain sedangkan diriku mengenakan hijab simpel berwarna biru muda dengan gamis longgar berwarna pink.

Kami kesana menaiki mobil yang disupiri oleh Syakila, sebenarnya Mas Hendra merasa tak enak kalau Syakila yang harus menyetir tapi Syakila ingin kakak iparnya itu beristirahat sejenak dan mengajukan diri agar dirinya saja yang menyetir mengantarkan kami menuju rumah sakit yang dimaksud.

Limabelas menit kemudian setelah melalui perjalanan yang lancar tanpa ada macet sedikitpun kami tiba di rumah sakit yang dimaksud. Rumah sakit itu tampak besar dengan halamannya yang luas, ruangannya pun banyak dengan lika – liku jalan yang membuatku sulit untuk menghafal rute menuju ruangannya.

Terlihat beberapa pasien didorong oleh suster menggunakan kursi roda, beberapa ada yang mengenakan jaket tebal untuk melindungi diri dari hawa dingin. Memang salah satu nikmat terbesar adalah nikmat sehat, sebisa mungkin aku dan suamiku harus menjaga diri untuk tetap sehat dengan menjaga pola makan dan berolahraga sesekali.

“Ini mas ruangannya” ucap Syakila.

Mata mas Hendra tampak berkaca – kaca setelah melihat kondisi mas Rudi yang terlihat parah karena hampir disekujur tubuhnya ada perban yang melilitnya. Kakinya dikenakan gips untuk menahan & menjaga tulang yang patah tetap pada posisi yang tepat, serta mencegah area di sekitarnya bergerak selama proses penyembuhan dan dilehernya ada penyangga yang berguna untuk mencegah pergerakan tulang yang mana dapat mengurangi rasa sakit yang diakibatkan oleh pergerakan pasien.

“Dek kamu gapapa ?” tanya mas Hendra.

Rudi tak mampu bergerak, ia hanya memberi isyarat dengan matanya yang naik turun menandakan dirinya baik – baik saja, Hendra tersenyum iba melihat kondisi adiknya seperti ini, Syakila sebagai istrinya pun menjelaskan bahwa suaminya terlibat kecelakaan akibat ketelodoran supir truk yang mengantuk hingga keluar jalur menabrak Rudi yang tengah mengendarai motor dari arah yang berlawanan. Kecelakaan ini memang tidak menumbulkan korban jiwa. Sang supir akhirnya ditahan karena sikapnya yang teledor.

Menit demi menit berlalu diriku tersentuh melihat sikap mas Hendra yang begitu mengkhawatirkan kondisi adiknya, aku tersenyum memandangi suamiku seperti ini, semakin hari bibit cinta semakin tertanam dalam diriku membuatku semakin mudah untuk meninggalkan pikiran kotor yang kadang mendatangiku secara tiba – tiba.

“Kamu beruntung banget mbak punya suami yang perhatian kaya mas Hendra” puji Syakila.

“Eh terima kasih” jawabku tersenyum malu.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul dua siang, rasa lapar mulai melanda perut kami, mbok Darmi pun sudah pulang untuk menjaga rumah sehingga tersisa diriku, mas Hendra, Syakila dan Rudi saja.

“Mi bisa tolong jaga Rudi sebentar gak ? biar Abi sama Syakila yang keluar mencari makan, gimana ?”

Sebenarnya sulit bagiku untuk membiarkan Suamiku berduaan bersama wanita lain walaupun itu istri dari adiknya sendiri, tapi setelah mendengar alasan darinya bahwa Syakila lah yang lebih tau rute di daerah sini dan suamiku juga tidak ingin membiarkanku lelah karena berkeliling mencari makanan akhirnya mas Hendra memintaku untuk menetap disini saja untuk menjaga adiknya yang tengah terluka parah.

“Yaudah deh bi, hati – hati yah di jalan” jawabku secara terpaksa.

Suamiku tersenyum dan memberikanku kecupan di dahi untuk menenangkan perasaanku yang tidak enak, akupun ikut tersenyum dan merelakan suamiku pergi untuk mencari makan siang untuk kami. Namun tak berselang lama kemudian kami dikejutkan oleh kehadiran sosok yang tidak terduga yang kami temui disini.

“Loh pak Hendra disini ?”

“Eh pak Manto ?”

Mendengar nama itu disebut, aku langsung menengok untuk mencari tahu benarkah apa yang didengar oleh telingaku ini ?

“Astaga” lirihku panik.

“Apa yang pak Manto lakukan disini ?” tanya suamiku heran.

“Orang tua saya yang sakit dirawat disini pak, pak Hendra sendiri disini ngapain ?”

“Kebetulan adik saya berada di ruangan ini” jawab suamiku.

“Oh yah pak Manto mau kemana ?” lanjut suamiku.

“Mau beli makanan pak”

“Oh sekalian aja saya yang belikan, gimana kalau pak Manto disini saja sekalian menjaga istri dan adik saya” pinta suamiku yang membuat jantungku terasa berhenti berdetak.

Aku terperangah kaget mendengar ajakan dari suamiku, belum lagi dengan jawaban setuju yang diberikan oleh pak Manto, sebenarnya seberapa besar sih kepercayaan yang suamiku miliki pada pak Manto ini ? kenapa harus dia yang diajak menemaniku disini ? kenapa bukannya Syakila saja atau lebih baik biarkan diriku disini berdua saja dengan Rudi.

“Kalau gitu saya titip istri dan adik saya yah pak” pinta suamiku.

“Dengan senang hati pak” jawab pak Manto tersenyum seolah mendapatkan kemenangan yang tak terduga.

Dalam perjalanan untuk mencari makan siang, Hendra menemukan sesuatu yang membuat tatapan matanya tertarik.

“Koran hari ini ?”

Matanya bergerak membaca kata demi kata yang terpampang di halaman depan, ia fokus dan mengernyitkan dahi, setelah membacanya ia meletakan kembali koran yang ia temui tadi diatas salah satu kursi tunggu.

Seorang pria paruh baya ditangkap karena memperkosa pramugari kereta karena bernafsu sekaligus kesal tidak menemukan wanita telanjang yang ditemuinya semalam ? berita macam apa ini ? menemukan wanita telanjang semalam ?

Seketika ia teringat pergerakan istrinya saat berada di stasiun tadi, ia seperti buru – buru menjauhi dari orang yang berteriak tersebut ?

Mungkinkah ?

“Mikirin apa mas Hendra ?” tanya Syakila tersenyum.

“Gak ada kok la, yang jelas bukan mikirin kamu” jawab Hendra tertawa.

“Hihihi iya tau kok, tau” Syakila tertawa sambil merangkul lengan Hendra erat.

***​

Aku memalingkan muka ketika pria itu melangkah mendekat dari arah belakang, aku ketakutan aku tak ingin lagi berurusan dengan pria itu, semenjak mimpi buruk yang ku alami beberapa hari yang lalu, aku sudah bertekad untuk tidak berurusan lagi dengannya, aku ingin bersama suamiku sesering mungkin dan menghindari setiap momen bersama pembantuku yang sudah berkali – kali menikmati tubuhku ini.

“Dek Firda . . . “ terdengar suaranya memanggil seiring langkah kakinya yang semakin dekat.

Aku mencoba berpaling tak menjawab panggilan yang menyeramkan itu, aku ketakutan dan terlihat wajah Rudi seolah memandangi sikap dan raut wajahku yang berubah.

“Jadi ada apa dengan adik dari pak Hendra ini” tanyanya sambil melingkarkan lengan di pinggang sebelah kiriku.

“Lepaskan mas, tolong jangan aneh – aneh lagi” jawabku tegas.

“Ayolah dek, mas kan cuma bertanya apa yang terjadi dengannya” tangan kirinya semakin erat merangkul pinggangku membuatku tidak nyaman.

“Mas, tolong ada mas Rudi didepan kita, jangan aneh – aneh deh” kataku semakin tidak nyaman.

“Loh tapi bukannya adik dari pak Hendra ini gak bisa ngapa – ngapain yah” ucapnya makin berani dengan meremas bongkahan pantatku yang tertutupi oleh gamis lebarku.

“Masss tolongg deh” ucaku kesal.

“Dek Firda kenapa sih, kok akhir – akhir ini jadi begini padahal dulu dek Firda yang deketin mas buat minta ini kan” ucapnya sambil mengelus penisnya yang tersembunyi di balik celananya.

“Hentikan pak, aku tidak mau berurusan dengan itu lagi” Aku menyilangkan lenganku di dada dan membuang muka darinya.

“Ayolah dek jangan kaku begitu” ucapnya makin berani dengan meremas payudaraku dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menyentuh daguku mengarahkan wajahku untuk menatapnya, sebuah cumbuan diberikannya dengan berani didepan Rudi dalam keadaan pintu ruangan yang terbuka.

Mataku terbuka ketika bibirku dilumat habis oleh pak Manto dengan berani, diriku terperanjat ketika harus menerima cumbuannya di tempat seperti ini, beruntung di ruangan ini hanya ada satu pasien yakni Rudi saja, namun pintu ruangan terbuka dan siapapun dapat melihat aksi terlarang kami dari luar ruangan.

Yang lebih mengejutkan lagi, kulihat mata Rudi terbuka sangat lebar seolah terkejut dengan aksi berani yang dilakukan oleh pak Manto didepannya, aku tersadar dan berusaha mendorong pak Manto menjauh dariku.

“Lepaskan pak, tolong jangan kurang ajar yah !” ucapku marah.

“Kurang ajar ? bukannya dek Firda juga menikmatinya, iya kan ?” tanya pak Manto yang membuatku terdiam tak mampu menjawabnya.

“Engga, itu sama sekali gak benar, tolong jauhi aku pak” pintaku.

Pak Manto menangkap lenganku dan mengarahkannya ke arah celananya yang semakin sesak oleh benda lonjong yang perlahan semakin mengeras itu. Mulutku menganga merasakan benda itu telah mengeras kembali, aku heran padahal baru semalam penis itu mengeluarkan spermanya cukup banyak tapi kenapa sekarang sudah keras kembali ?

“Ingat semalam bagaimana rasanya benda ini membelah vaginamu dek ?”

“Ingat semalam bagaimana dirimu terdorong nikmat ketika benda ini keluar masuk menghujami liang kenikmatanmu dek ?” lanjutnya membuatku menenggak ludah membayangkan apa yang kurasakan semalam.

Aku menggelengkan kepala menolak hal ini akan terjadi lagi.

“Engga pak, aku gak mau mengulangi hal itu lagi” ucapku berontak, namun belum sempat diriku menghindar pak Manto sudah mendekap punggungku dan kembali mencumbuiku dengan penuh nafsu.

Aku terdiam merasakan ketika mulutnya melumat bibirku dengan penuh nafsu, bibirku dipagutnya dan lidahnya bergerak masuk mencoba menerobos mulutku yang tertutup rapat. Perlahan hawa nafsuku kembali bangkit ketika menerima cumbuannya yang bertubi – tubi menyerang diriku, belum lagi dengan remasannya yang begitu kuat merangsang payudaraku yang berukuran 36C.

Remasannya begitu kuat merangsang payudaraku yang besar, darahku berdesir dan tubuhku merinding menikmati rangsangannya yang begitu mudah menaklukan tubuhku yang lemah. Aku seakan lupa bahwa diriku berada di rumah sakit dimana di ruangan ini terdapat adik dari suamiku yang terbaring lemah tak berdaya, aku seakan lupa bahwa pintu ruangan tengah terbuka lebar membuat siapapun dapat melihatnya dari luar sana, tapi kenikmatan ini, sensasi ini.

“Ouuhhhhh” aku mendesah takluk merasakan kenikmatan yang tak dapat kuungkapkan dengan lisanku.

Mulutku terbuka membuat pak Manto semakin mudah memainkan lidahnya di dalam mulutku, mulutku diludahinya dan lidahku dikulumnya dengan penuh nikmat, nafasku pun memburu dan dadaku sesak merasakan hawa nafsu yang kembali menguasaiku dengan mudah.

Melihat diriku sudah kembali takluk membuat pak Manto menyeringai senang, tangan kirinya memegangi bagian belakang kepalaku dan bibirnya semakin bernafsu untuk melumatku hingga tubuhku nyaris jatuh terdorong ke belakang andai tangan pak Manto tidak memegangi kepalaku, tak sadar aku membalas cumbuannya, aku membuka mulutku dan memagut bibirnya.

Ada apa dengan diriku ini ? kenapa lagi – lagi aku takluk oleh hawa nafsuku sendiri, kenapa diriku tak bisa berhenti dari kenikmatan fana yang sedang kualami ini, aku … , aku ….., maafkan aku mas Hendra. Izinkan istrimu ini melakukannya sekali lagi !

Tanganku dituntunnya menuju ke arah selangkangannya yang mengembang, aku yang sudah bernafsu tak dapat mengontrol pikiranku sendiri, tanganku bergerak dengan sendirinya meraba penis itu naik turun dari luar celananya, kurasakan desahan nafas pak Manto menerpa wajahku dengan hangat. Aku tak dapat menguasai tubuhku sepenuhnya, aku telah kalah oleh hawa nafsuku sendiri.

“Ayo sini dek . . .”

Pak Manto menarikku untuk bersembunyi di balik pintu masuk agar tidak terlihat dari luar ruangan, pak Manto menurunkan celananya dan seonggok penis besar mencuat dari dalam celananya. Aku lagi – lagi terkejut melihat penis yang sudah berhasil keluar masuk berkali – kali di dalam vaginaku ini.

“Isep dek”

Tanpa menunggu lama, diriku langsung berjongkok dan menjilati penis itu dahulu dengan lidahku, mataku terpejam mencoba menikmati benda yang telah berkali – kali menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku ini.

Perlahan kepala penisnya sudah berhasil masuk di dalam mulutku, wajahku bergerak maju mundur menikmati penis yang sangat besar ini di mulutku, lidahku bergerak melilitnya di dalam mulutku, nafsuku yang semakin membesar membuatku semakin lapar untuk melahap penis raksasa yang saat ini sedang kunikmati.

“Ahhhhh, makin jago aja kamu dek” pujinya.

Aku tak memperdulikannya, aku mencoba memaksa mulutku untuk kembali menelannya, entah kenapa semakin dalam mulutku menelannya aku semakin tertantang untuk lebih dan lebih melahap seluruhnya di dalam mulutku, aku kembali mendorong mulutku hingga penisnya sudah berada di dalam mulutku tiga per empatnya.

Aku memuntahkannya segera ketika kerongkonganku tersodok oleh penisnya membuatku terbatuk – batuk dibuatnya. Tanpa sepengetahuanku Rudi terkejut bahwa diriku sangat lihai dalam mengulum penis pria berkulit gelap dan bertubuh kekar yang berukuran besar dan berwarna hitam.

Diam – diam penis Rudi semakin mengeras setelah melihat wanita berhijab sepertiku ini berusaha menelan keseluruhan penis hitam yang ada di depanku.

“Tahan sebentar yah dek”

Pak Manto memegangi kepalaku sebelum penisnya perlahan semakin mendekati mulutku, aku tak tahu rencana apa yang sedang dilakukan olehnya, tiba – tiba penis itu kembali memaksa masuk ke dalam mulutku dan pinggulnya bergerak maju mundur membuat kerongkonganku berulang kali tersedak oleh hujaman penisnya di mulutku.

“Uhhkkkkk ukhhhhhh uhhkkkk” mataku terpejam dan liur mulai mengalir keluar membasahi lantai.

Perlahan penisnya semakin bergerak cepat maju mundur memperkosa mulutku, ukurannya pun semakin besar membuat mulutku terasa penuh tak tersisa sedikitpun rongga yang berada di dalam, lidahku menggesek sisi bagian bawah penisnya dan aku berulang kali merasa mual karena harus menahan hujaman serta aromanya yang tidak sedap.

“Ahhhhhhhhh” desah pak Manto ketika pinggulnya ia majukan hingga penisnya itu masuk sedalam – dalamnya menyodok kerongkonganku sebelum ia melepasnya, terlihat penis itu berkilauan oleh lendir liurku yang begitu banyak menyelimutinya.

“Uhhukk uhuukk uhhukkk” Aku jadi terbatuk – batuk dibuatnya, penisnya begitu dalam menusuk mulut menembus kerongkonganku.

Belum sempat beristirahat penis itu kembali masuk menghujami mulutku maju mundur hingga terpaksa mataku memejam menahan semua hawa nafsu yang ia lampiaskan padaku.

“Uhhukkk uhhukkk uhukk” Aku kembali terbatuk – batuk dan mengeluarkan liur yang banyak membasahi lantai.

Rudi kagum melihat pemandangan indah yang terjadi dihadapannya, diam – diam penisnya mengeras merasa iri ingin merasakan apa yang dirasakan oleh penis pak Manto di mulutku.

“Enak kan dek Firda” ucapnya mengajakku berdiri sambil kembali mencumbui mulutku ini.

Aku benar – benar dikuasai oleh hawa nafsuku, ingin sebenarnya menolak semua ini tapi perasaan nikmat ini benar – benar membuatku keheranan. Aku pasrah menyerahkan seluruhnya pada pak Manto yang benar – benar mendominasi tubuhku.

“Aahhhhhh” aku terkejut ketika tangannya mulai mengangkat naik gamis bagian bawahku dan tangannya bergerak meraba pahaku naik hingga menekan pusat celana dalamku hingga diriku mendesah begitu nikmat.

Jarinya terus menekan – nekan vaginaku yang masih terhalangi celana dalamku hingga basah.

“Udah basah aja nih dek” ejeknya kembali mencumbuiku.

Aku semakin pasrah ketika tangannya mulai masuk ke dalam celana dalamku dan membelah vaginaku dengan jemarinya yang kasar, jari tengahnya masuk menggesek dinding vaginaku yang sudah sangat basah oleh lendir yang begitu banyak akibat rangsangan yang ku terima sedari tadi.

Mulutku tak dapat kututup tiap kali jemarinya keluar masuk menggesek dinding vaginaku, nafasku semakin berat tak sanggup menahan kenikmatan ini.

“Ahhhhhhhh mass” desahku ketika pak Manto semakin bernafsu dalam menggesek vaginaku.

Gamisku diangkat setinggi – tingginya hingga vaginaku terlihat oleh Rudi yang tengah terbaring lemas, walau lehernya telah dipasangkan penyangga namun matanya yang penasaran ikut melirik melihat apa yang sebenarnya terjadi padaku, celana dalamku telah turun hingga menyangkut di lutut.

“Ahhhh pakk tolonggg” Aku menggigit jariku menahan kenikmatan yang semakin menjalar disekujur tubuhku. Tak berselang lama sekitar dua menit kemudian gelombang orgasme keluar membuat diriku lemas tak berdaya.

“Ahhhhhhhhhhhh” Aku mendesah sekuat tenaga menikmati gelombang orgasme yang begitu dahsyat membasahi lantai.

Aku nyaris terjatuh sebelum diriku disangga oleh pak Manto, bibirku kembali dicumbuinya dan diriku dibawa ke dekat Rudi, pak Manto menjauh sejenak untuk menutup pintu, aku yang tengah menungging bertumpu pada tepi ranjang pasien ngos – ngosan tak percaya dengan apa yang terjadi padaku di tempat ini.

Kulihat Rudi menatap mupeng ke arahku, mataku tebuka lebar melihat ada benjolan besar yang tersembunyi di balik celana yang ia kenakan.

Belum lepas kesadaranku tiba – tiba gamisku telah terangkat sepinggang dan sesuatu yang keras kurasakan menyentuh bibir vaginaku. Aku segera paham bahwa pak Manto akan kembali menghujamiku dengan penisnya.

“Stopp pakk, stop tunggu dulu, uhhhhhhh” aku mendesah ketika kepala penisnya mulai bergerak membelah bibir vaginaku.

Aku mengejang hebat merasakan detik demi detik penetrasi yang dilakukan olehnya di dalam vaginaku hingga tubuhku terangkat menikmati semuanya. Aku menggigit bibir bawahku ketika menahan penis itu semakin dalam menusuk vaginaku.

“Massssss ahhhhhhhh”

Semakin dalam penis itu menusuk vaginaku membuatku semakin nikmat menahan sensasinya ketika dinding vaginaku menjepit erat penisnya yang amat besar.

Aku ambruk nyaris menindihi tubuh Rudi yang penuh luka sebelum tanganku menahannya, tak berselang lama tubuhku terhentak maju mundur secara perlahan ketika pak Manto menggerakan giginya di angka satu.

Tusukannya yang dilakukan secara perlahan membuatku menikmatinya dengan santai, ukurannya yang jumbo begitu kuat menggesek dinding vaginaku, remasan yang dilakukan oleh pak Manto dibongkahan pantatku semakin menaikan hawa nafsuku kembali.

Perlahan pak Manto semakin kuat dalam menggenjotku, temponya dinaikan membuat tubuhku semakin maju mundur dibuatnya, mataku memejam keenakan menikmati hujaman dari pria berkulit hitam yang begitu bernafsu menikmati tubuhku setiap saat.

“Massss ahhhhhh, tolllongg ehhmm” sebisa mungkin diriku menahan agar tidak bersuara ditengah hujamannya ditempat umum seperti ini.

“Dek daripada diem gimana kalau buka celananya orang itu, kasian deh”

“Orang itu ?” kataku.

Kulihat Rudi semakin lama semakin mupeng melihat tubuhku bergerak maju mundur walau masih berpakaian lengkap hanya gamisku saja yang terangkat memperlihatkan penisnya yang keluar masuk menggenjot vaginaku.

Entah kenapa aku menuruti perkataan pak Manto, ku pelorotkan sedikit celana kolor panjang yang dikenakannya dan penisnya yang cukup besar dan berbulu lebat itu mencuat keluar membuatku terkejut.

“Hehehe kocokin dek” perintah pak Manto.

Tanganku dengan gemulai menggenggam penis itu dan mengocoknya naik turun seiring hujaman penis pak Manto dibelakangku. Kulihat raut wajah Rudi berubah keenakan setiap kali tangan halusku mengocoknya secara perlahan.

Diriku yang sudah bernafsu berimprovisasi dengan memberikan jilatan ringan dikepala penisnya yang membuat Rudi bergidik nikmat, entah apa yang terjadi pada diriku aku melakukan semuanya secara tak sadar terlebih dengan hujaman pak Manto yang semakin keras merangsang vaginaku.

“Ehhhmmmm uuhhmmmmmm” pak Manto semakin cepat dalam menghujami penisku.

Terbesit ide untuk meredam suaraku agar tidak mengeras kumasukan penis Rudi ke dalam mulutku, pak Manto meremas bokongku dan meraba kulit mulusku, nafasnya kian memburu seiring cepatnya genjotan yang diarahkannya padaku.

Begitu juga dengan mulutku dalam menahan penis Rudi, ukurannya terasa semakin membesar, mulutku reflek menghisapnya diiringi jilatan yang melilit penisnya.

“Ahhhhhhhhhh” desahku membuat siapapun yang mendengarnya merinding nikmat.

Tanganku menggenggam penis Rudi dan kembali mengocoknya naik turun, kurasakan penis itu semakin hangat dalam genggamanku, rasanya pun semakin berkedut – kedut.

“Loh kok dilepas, isep lagi dong dek” perintah pak Manto.

Mulutku kembali mengarah ke penisnya, wajahku naik turun menikmati penisnya yang begitu besar, aku mengulumnya terasa bibirku menjepit permukaan penisnya yang semakin berkedut. Hujaman penis Manto tak pernah berhenti justru semakin menjadi, aku kelojotan menahan semua ini,

Kurasakan penis dimulutku semakin hangat, jemariku memijit kantung zakarnya dan memilin biji salaknya membuat Rudi blingsatan tak karuan. Tak berselang lama penis Rudi pun menyemburkan spermanya yang membasahi mulutku begitu banyak. Aku terkejut menerima semprotannya yang memenuhi mulutku ini, saking banyaknya lelehan sperma itu ada yang jatuh kembali membasahi penisnya.

Wajah Rudi keenakan diiringi erangan yang tertahan oleh rasa sakit yang membuatnya tak bisa bergerak bebas, namun terlihat diwajahnya bahwa ia sangat puas setelah menikmati kuluman mulutku.

Mulutku telah penuh sedangkan pak Manto masih saja menggenjotku sangat kuat, membuat lelehan sperma di mulutku keluar sedikit demi sedikit mengenai sprei dan lantai di sekitar area ranjang pasien.

“Telen dek semuanya, jangan ditahan . .” perintah pak Manto.

Tubuhku bergidik ketika harus menelan benda kental dan beraroma menyengat itu, lima menit berlalu dan pak Manto masih terus menggenjotku hingga tubuhku lemas tak berdaya dan lututku hampir jatuh, birahiku pun perlahan naik lagi menahan besarnya ukuran penis yang keluar masuk di dalam vaginaku.

Pak Manto juga demikian rasa nikmat yang didapatkannya berkali – kali dari jepitan vaginaku yang sangat seret dan sempit membuatnya merinding tiap kali penisnya menggenjot kuat hingga menyundul rahimku.

“Ahhhhh dekk, mas mau keluaarrr, ahhhhhhh” Pak Manto meremas – remas bokongku semakin kuat dan sesekali menamparku hingga aku melenguh menahan rasa perih yang dipadukan dengan rasa nikmat.

Begitu pula denganku, perasaan ini tak mampu ku tahan lagi, tanganku meremas sprei yang berada di ranjang pasien dengan kuat, mataku memejam dan mulutku mengatup menahan agar tidak ada erangan yang keluar hingga terdengar oleh orang lain.

“Massss uhhmmm, massss, ahhhhhhhh”

“Dekkk mass keluuaarrrrrr”

Pak Manto menghujamkan penisnya sekuat – kuatnya di dalam vaginaku membuatku mampu merasakan spermanya memenuhi ruang di dalam rahimku, begitupula dengan cairan cinta yang kusemburkan hingga beberapa ada yang keluar dari sela – sela ruang yang tidak tersumpal oleh penisnya.

Rasanya nikmat sekali, untuk kesekian kalinya rahimku kembali disiram oleh sperma hangat pembantuku, nafasku terengah – engah seperti habis berolahraga hingga keringat membasahi tubuhku.

“Dek Firda memang hebat selalu bikin mas puas setiap saat” pujinya.

Aku tak mendengarkannya, tubuhku sangat lelah dan rasanya diriku ingin memejamkan mata untuk istirahat sesaat dari rasa penat yang melanda diriku selama ini.

***​

Setelah hampir satu jam mereka keluar untuk mencari makanan, mas Hendra dan Syakila pun datang membawakan nasi pecel dengan toping ikan lele yang sangat nikmat, pintu ruangan yang tadi ditutup oleh pak Manto terbuka menampakan wajah mereka berdua yang tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan ini beberapa menit yang lalu.

Pak Manto tengah berdiri disampingku dan wajahku ku buat tersenyum tak peduli dengan rasa lelah yang sebenarnya ku alami.

“Terima kasih pak telah menjaga istri saya, ini nasi pecelnya” ucap suamiku.

“Wah terima kasih pak jadi gak enak saya dikasih enak terus” jawabnya yang membuat dahiku mengernyit.

“Tapi kok lama amat yah, saya jadi kelaparan nih pak hahaha” lanjut pak Manto bercanda.

“Hhaha biasa pak Manto, susah nyari yang berkualitas” jawab suamiku, Syakila tersenyum memandang pak Hendra.

“Ehmmmm ehmmm ehhnmmmm” Rudi yang sedari tadi diam berusaha mengeluarkan suaranya sambil matanya melirik kearahku dan pak Manto.

Jantungku berdebar kencang, jangan sampai Rudi melaporkan apa yang sudah kami perbuat di ruangan ini.

“Apa apa mas, ada sesuatu ?” tanya Syakila meliat tingkah laku suaminya yang aneh.

“Ehhmmmm, ehhmmmm” matanya terus memandangi diriku dan pak Manto hingga semua orang pun menatap kami berdua yang membuatku semakin khawatir.

“Ohh mungkin ia ingin berterima kasih ke kami berdua karena telah menjaganya selama kalian pergi” jawab pak Manto.

“Oh begitu, terima kasih yah pak Manto & mbak Firda” ucap Syakila tersenyum.

“Yasudah saya mau pamit yah mau ke kamar orang tua saya lagi, permisi” lanjut pak Manto.

Wajahku kesal meratapi kepergiannya, kenapa lagi – lagi orang ini datang dan menikmati tubuhku setelah itupun ia pergi begitu saja ? tanpa sepengetahuan orang lain aku menahan rasa tak nyaman yang ada diselangkanganku, tubuhku bergidik ketika lelehan sperma terakhir keluar dari dalam vaginaku dan membasahi celana dalam yang selama ini menahan semua sperma yang tadi memenuhi rahimku.

Dering telpon berbunyi membuat Syakila sang pemilik hape mengangkatnya.

“Halo ada apa mbok ?”

“Oh iya iyya, yaudah gapapa mbok”

“Iya terima kasih yah, gapapa yang penting rumah ada yang jagain”

“Iya walaikumsalam” tutup Syakila.

“Ada apa Syakila ?” tanya suamiku.

“Itu, mbok Darmi izin pulang setelah pak Budi tukang kebun kami datang, jadi kaya pergantian shift gitu mas”

“Oh begitu” jawab suamiku mengangguk – ngangguk.

Detik demi detik telah berlalu, menit demi menit juga telah terlewati tak terasa senja telah datang dengan dinyalakannya lampu – lampu yang menerangi seluruh ruangan rumah sakit. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul delapan malam.

“Malam ini biar saya saja yang menjaga adik saya yah, kalian bisa beristirahat di rumah” ucap suamiku.

“Tapi mas, biar aku aja, aku kan istrinnya” jawab Syakila.

“Umi maunya bareng Abi aja” jawabku merengek.

“Udah biar Abi aja, kalian istirahat saja dirumah, apalagi besok siang kita balik kan ke Jakarta” ucap suamiku mengkhawatirkan kondisiku.

“Tenang, biar saya saja yang memenuhi kebutuhannya selama malam hari” lanjut suamiku meyakinkan Syakila.

Akhirnya kamipun menuruti perkataan suamiku, dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Syakila, kami berdua pulang menuju rumah untuk beristirahat sekaligus bersiap untuk menjalani hari esok.

“Oh yah Syakila, si siapa tadi namanya pak Busi ? ehh pak Budi yah ? orangnya baik kan ?” tanyaku.

“Hihihi baik kok mbak, kenapa nanya gitu ? emangnya pembantu mbak yang namanya pak Manto orangnya gak baik yah” ucapnya bercanda.

“Eh bukan gitu tapi hehehe . . . . .” aku bingung menjawab pertanyaan darinya.

“Hhihihi tenang dia orangnya gak macem – macem kok” Syakila tersenyum manis perlahan wajahnya berubah ke mode serius. Tanpa sepengetahuanku ia menatapku dalam diam.

“Hemmmm” hanya hembusan nafas sajalah yang keluar dari mulutnya. Ia berpaling dariku dengan raut wajah sedih, matanya berkaca – kaca tanpa menjelaskan perasaan yang berada di dalam hatinya.

Kamu beruntung mbak.

Mobilpun melaju kencang mengiringi hawa dingin ditengah hembusan angin malam di kota Yogyakarta yang penuh dengan kenangan.

Kenangan apanya, kenangan di rumah sakit ? batinku jengkel.

~To be Continued~