Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 20

Malam yang panjang​

Pov Firda

Aku masih tak percaya dengan apa yang baru kulakukan di tempat umum seperti ini, pakaianku telah terlepas dan tubuhku telah terekspos, sebuah penis besar masih menancap di dalam vaginaku, aku sungguh malu, karena disampingku terdapat mas Hendra yang tengah terlelap, suasana diluar sana kian gelap, sedangkan didalam sini sunyi senyap, mataku terpejam merasakan semprotan sperma yang begitu kejam, semprotannya begitu deras bagai pompa air yang baru terbuka, rahimku pun tersiram,

Pak Manto mengajakku berdiri dan mencium bibirku lagi, kurasakan lelehan sperma keluar dari dalam kenikmatan liang duniawi, rasanya begitu hangat, baunya pun menyengat, kulihat warnanya putih pekat, menandakan spermanya sehat, aku jadi khawatir semoga saja aku tidak hamil karena berkali – kali pak Manto telah menyirami rahimku dengan aksinya yang nekat,

“ayo ikut aku dek”

“ehh mas tunggu, gamisku masih disana”

Pak Manto menyeret lenganku menuju suatu tempat, satu persatu kursi penumpang kosong telah terlewat, termasuk mereka berempat yang berada di sudut tempat, hawanya begitu dingin namun tetap saja pak Manto mengajaku berlari, mau dibawa kemana diri ini ? semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi,

“ceklek”

Terdengar suara pintu tertutup, di dalam kamar mandi yang tak begitu luas pak Manto menatapku dan tersenyum mesum padaku, perutku mual karena harus menatap wajahnya dengan sebal, berkali – kali diriku mencoba untuk menjauhi orang ini namun ia bagai bayangan yang terus berlari, tak ada lelahnya baginya untuk terus mengejarku dan menerkamku, aku jadi ketakutan namun terkadang merasakan kenikmatan, apa yang harus kulakukan ? agar kelak diriku bisa bertahan pada jalan kebenaran,

“aku terpesona dengan tubuh indahmu dek, aku gak tahan untuk terus mencumbumu dan menikmati keindahanmu”

“sudah mas cukup, mau sampai kapan kita seperti ini, aku sudah lelah dengan semua aksi nekat yang sudah mas lakukan”

“sampai kapan ? sampai aku merasa bosan walau aku tak yakin entah itu kapan”

Kembali wajahnya datang dan menempelkannya di bibirku, nafasnya yang bau membuatku terganggu, berulang kali aku mendorongnya agar menjauh namun ia tetap saja disitu, bagai paku, ia menetap berdiri dihadapanku,

Tangannya bergerak untuk memeluk tubuh polosku, struktur tangannya yang kasar telah meremas payudaraku yang besar, kuharap remasannya tidak menyasar apalagi sampai berbuat kasar,

“oohhhhhhh”

Mulutku terbuka tak tahan untuk merasakan kenikmatan yang kembali diberikan, nafasku kembali naik karena rangsangannya yang menarik, aku bertanya – tanya ? apakah pak Manto sebenarnya baik ? karena berulang kali telah memberiku kenikmatan dan juga kepuasan walau sebenarnya aku tak begitu menginginkan,

“uhhhh massssss”

Tak kuasa diriku untuk menahan remasan yang membuatku begitu terkesan, payudaraku menjadi korbannya, remasannya membuat tubuhku ingin mengejang kemana – mana, putingku di cubit, rasanya begitu sakit, membuatku menjerit, akupun bertanya – tanya, dia mencubitku menggunakan jari atau menggunakan sabit ?

Kini giliran lidahnya yang beraksi, leherku dadaku semuanya bagai terolesi, ludahnya telah melumuri tubuhku yang seksi, satu tangannya bertumpu pada payudaraku untuk meremasi dan satunya lagi ia jilati dan menghisapi putingku untuk mencari ASI,

“massss sudahi, aku gak mau kalau kita seperti ini, nanti ketahuan”

“slluurpp ehhmm, tenang dek, ehhmmm, semua aman”

Ia begitu rakus ketika menjilati putingku dengan serius, hidungnya mendengus seolah mencari sesuatu untuk dielus,

Firda Husna Awwaliya, siapa dirimu sebenarnya ? dirimu milik suamimu ? atau justru milik pembantumu?

“oohhhhhh massss”

Tangannya mulai bergerak untuk mencari kemaluanku yang dikelilingi oleh rambut lebat, aku membiarkannya pasrah karena rangsangannya begitu hebat, apa lagi yang bisa kuperbuat ? selain membiarkannya memberiku nikmat,

Tangannya bergerak membelah liang vaginaku, bagaikan rindu hal inilah yang sudah kutunggu – tunggu, darahku berdesir membuat tangannya selalu melipir, inikah kenikmatan yang sudah ku cari – cari itu ? rasanya ingin ku bawa pembantuku untuk masuk ke dalam duniaku, ingin ku habiskan malam bersamanya selalu, agar diriku bisa berkali – kali merasakan kenikmatan yang sulit ku raih bersama suamiku,

“deekkk, aku mencintaimu”

Ucapannya seolah menyadarkanku, apa yang sedang ia katakan ? berulang kali aksi nekatnya nyaris membuat hidupku berantakan dan sekarang ia menyatakan bahwa ia mencintai seorang wanita alim yang telah ia ubah menjadi pemuas nafsunya dadakan ?

Aku tak bisa menjawabnya, bukan karena aku tak memiliki jawaban namun diriku bingung haruskah ku tunduk pada kenikmatan atau justru pada kebenaran ?

Ku akui kenikmatan ini, rangsangan ini dan aksi nekatnya ini telah berulang kali memuaskanku, sesuatu yang tidak bisa kudapatkan bersama suamiku, tapi haruskah aku tunduk sepenuhnya dan membiarkan lelaki sepertinya menikmatiku kapanpun dia mau ? tapi bukankah sekarang sudah seperti itu ? tidak, hatiku tidak seperti itu, aku hanya korban dari aksi nekat nya yang begitu nikmat,

“ahhhhhhhhh”

Wajahku mengadah keatas ketika diriku sudah mencapai batas, orgasme kembali ia hadiahkan kepadaku, nafasku terengah – engah dan tubuhku begitu lemah, sambil berhadapan kami kembali berciuman, bibirku dan bibirnya, lidahku dan lidahnya semua saling bertemu untuk melepas rindu, tapi bukankah sudah berulang kali bertemu? entahlah yang jelas aku merasakan itu, rasa rindu untuk selalu dipuasinya selalu,

pak Manto, ayo lagi, datanglah padaku

Entah apa yang berada dalam fikiranku saat ini, gairah seksual yang begitu tinggi membuatku ingin dicumbui, mulutnya bergerak merangsang leherku, sedangkan tangannya bergerak untuk meremas payudaraku,

ada apa dengan diriku ? aku begitu menikmati pemberiannya selalu, tak ada perlawanan apalagi pemberontakan, jilatannya yang telah membasahi kulit lembutku semakin membuatku bernafsu, nafas kami saling beradu, kami menghelanya dan juga menghembuskannya, tangannya bermain – main pada kedua payudaraku ? ini bola ? atau semangka ? yang jelas itu buah dada atau payudara,

“ouuhhh masss cukkuupppp ehhmmmm”

Tubuhku menggeliat bagai seekor ulat, payudaraku begitu licin membuat Manto semakin bernafsu untuk memilin, rangsangannya , remasannya dan sentuhannya telah membuatku semakin bernafsu bagaikan candu, entah ini merupakan rangsangan yang keberapa semenjak aksiku di rumahnya, aku sudah begitu candu oleh aksi pembantuku yang sudah tak berbaju,

Kami sama – sama telanjang membuat penis Manto semakin mengejang, tubuhku disuruh menungging menghadap ke arah cermin, aku mampu menatap semuanya termasuk apa yang sedang pak Manto lakukan dibelakangku, kulihat tubuh kekarnya yang berwarna gelap tengah bersiap – siap untuk memasukan penisnya yang telah mengkilap, tubuhnya tegap dan tangannya mencengkram bokongku dengan sigap,

“uhhhhhhhhhh”

Gesekannya semakin terasa tatkala penis besarnya semakin masuk menggesek dinding vaginaku yang sudah sangat basah akibat bekas siraman spermanya, aku mengernyitkan dahi merasakan sensasi yang sudah sering kualami,

sebuah penetrasi yang akan membelah liang kenikmatan duniawi, kurasakan penisnya yang besar dengan urat yang mengitarinya masuk semakin dalam dan dalam ke arah vaginaku, aku menggigit bibir bawahku menahan semuanya, inilah aksi yang paling ku suka, sebuah aksi yang membuatku terpesona kepadanya, sebuah kenikmatan yang hakiki yang membuatku selalu menanti kapan rasa ini bisa kembali ku alami,

“aahhhhhh masssss”

Tusukannya semakin tembus ke dalam hingga menyentuh rahimku, ukurannya begitu sesak mengisi ruang yang ada, bagai tergoda hampir saja pinggulku bergerak sendiri karena tak sabar untuk merasakannya,

“ahhhhh dekkk, wajahmu, tubuh indahmu, semua akan menjadi miliku malam ini” ucapnya sambil menatapku dari cermin,

Pinggulnya bergerak membuat diriku otomatis berteriak, vaginaku yang sesak dihentak oleh penisnya secara serentak, aku yang belum siap terus dihentaknya hingga hari semakin gelap, wajahku menatap cermin, apakah ini sebuah ironi ? seorang wanita berkulit putih dengan hijab dikepalanya sedang disetubuhi oleh lelaki berkulit hitam dengan hentakannya yang begitu kejam,

Tanpa ampun Manto terus menusuk vaginaku begitu dalam, seolah menikmati ia melakukannya tanpa henti membuatku lelah ingin hari segera berganti agar diriku bisa beristirahat menikmati indahnya hidup dalam mimpi,

“ahhhh ahhhh ahhhh pak Mantoooo”

Payudaraku bergoyang begitu cepat seiring hentakannya yang semakin hebat, aku tak bisa membuka mataku lagi, rasa ini begitu nikmat, membuatku tak ingin cepat – cepat,

ayo tolonglah tubuhku bertahan agar kenikmatan ini bisa kunikmati terus selamanya,

“aahhhhhhh , ahhhhhhhh”

Tubuhku diberdirikan dan wajahku mengadah ke atas, kubiarkan pak Manto mencumbu leherku dan memainkan kedua payudaraku, hentakannya yang masih berlanjut membuatku semakin terkejut, kenapa pak Manto bisa sekuat ini ? Sodokannya begitu tahan lama, membuatku hanyut bagai sebuah irama,

Tubuhku merinding merasakan jilatannya di kuping, tubuhku bergeming merasakan kenikmatan yang amazing, terlihat dalam cermin payudaraku tak bisa diam karena menikmati setiap hentakan yang pak Manto lakukan,

Kalau diriku bagai bidadari, lantas pak Manto bagai apa ? bagaimana bisa bidadari sepertiku jatuh dalam pelukannya ? apa pesonanya yang membuatku tak bisa menjauhi dirinya ? penisnya, ya itu dia penisnya, ukurannya besar dan bentuknya kekar. Wanita mana yang tidak takluk ketika vaginanya ditusuk oleh benda seperti itu ? walau wajahnya bagai tomat busuk tapi penisnya membuatku seolah terkutuk,

Kutukan penis pak Manto ? berapa lama aku harus mengalaminya ? aku tak peduli apabila harus selamanya, kenikmatan ini semakin tak terbendung, tubuhku terhuyung – huyung menerima hentakannya, tubuhku didorong hingga putingku menempel pada cermin, ia semakin mendekatkan pinggulnya, sodokannya semakin dalam kurasakan,

“ahhhhh ahhhh ahhhhhhhhhh”

Kami mendesah secara bersamaan, nafas kami satu dan tubuh kami telah bersatu, kami sama – sama tak sanggup lagi, dua ronde yang telah kami lewati membuat diriku tak sanggup berdiri, beruntung pak Manto memegangiku dan menahanku dengan cengkramannya di pinggangku, malam itu di salah satu kamar mandi di gerbong kereta, tubuhku digempurnya tanpa ampun, peluh telah membasahi tubuhku dan sebentar lagi giliran pejuh yang akan kembali menyuburkan rahimku,

“ahhh ahhhh dekk Firdaaa, ahhhh ahhhhhh”

“Ahhhhh iyyahhh masssss, ahhhhhh”

Pak Manto menghentakan penisnya hingga mentok yang membuat tubuhku terdorong hingga menabrak cermin di dinding, semburannya begitu kencang mengisi ruang yang ada di dalam, dua – tiga kali siraman kurasakan yang membuatku pasrah akan masa depan yang akan datang, tubuhku mengejang berkali – kali ketika secara bersamaan orgasme kembali mendatangi,

Ah nikmatnya malam ini semoga lain kali diriku bisa kembali mengalami, maaf mas kalau diri ini masih labil, maafkan aku wahai suami, aku belum bisa menjadi seorang istri yang kau harapi, tapi aku berjanji untuk selalu memperbaiki diri agar suatu saat nanti kau bisa bangga karena diri ini berdiri di sisi yang sama dengan segala hal yang kau miliki

Pak Manto mencabut penisnya dan membiarkanku menungging pasrah dengan otot kaki yang melemah, pak Manto tersenyum melihat spermanya kembali keluar dari dalam liang kenikmatanku, entah apakah program bercocok tanamnya akan berhasil tapi bukan mustahil bahwa suatu saat nanti akan lahir seseorang yang telah ia nanti dari dalam liang kenikmatan ini,

“tunggu sebentar disini dek, biar ku ambil gamis merahmu” bisiknya sambil mengecup pipiku,

Pintupun terbuka dan diriku telah lelah dengan semua ulah yang sudah ia buat padaku, memang aku menikmati tapi sekali lagi sampai kapan diri ini harus mengalami, rasa sesal akan selalu ada apalagi rasa sebal karena tak mampu menahan semua kenikmatan yang telah kurasakan,

Aku berdiri menatap cermin, berkali – kali diriku merinding membiarkan sperma pak Manto mengalir keluar bagai air kencing, apa yang harus kulakukan untuk saat ini hingga kedepan nanti ? rencana apa yang kuperbuat agar kehadirannya tak mengganggu diriku lagi ? apakah kebenaran memang sesulit ini untuk dihadapi ? atau mungkin diri ini saja yang tak memiliki usaha untuk mendapati ?

Tubuhku tersentak ketika gagang pintu bergerak ? siapa yang membuka ? padahal baru saja pak Manto keluar ? apakah ia secepat itu atau mungkin itu orang lain ?

Sementara pak Manto yang baru saja keluar berjalan dengan bangga karena baru saja menuntaskan hajatnya pada sang majikan yang berharga, sesaat ia melihat ke belakang dan terlihat seorang kakek seolah terburu – buru ingin menggunakan kamar mandi ? Manto tertawa ketika melihat sang kakek bergerak ke arah kamar mandi dimana diriku berada,

Pak Manto berjalan santai dan seolah tidak peduli, ia ingin menikmati hari – hari yang telah ia jalani, malam telah terlewati dan jam menunjukan pukul tiga pagi, lelahnya tubuh ini, ingin rasanya untuk mengistirahatkan diri,

***​

Sementara itu di salah satu tempat di ibu kota,

Seorang gadis cantik telah terlelap dalam balutan selimut yang hangat, wajahnya tampak lelah namun mampu membangkitkan gairah, aura kecantikan begitu terpancar darinya, disebelahnya ada sebuah jam yang telah menunjukan pukul sepuluh pagi, gadis itu menggeliat menampakan payudaranya yang terlihat, selimutnya pun tersingkap seiring gerakannya yang mengulat, tubuhnya sangat indah bagai sebuah karya seni,

siapapun yang melihatnya pasti ingin segera memiliki sekaligus ingin bisa mencicipi tapi tidak bagi Andi, seorang lelaki yang tengah duduk di tepi ranjang menatapnya dengan senang, keindahan yang terpancar dari lekuk tubuhnya yang aduhai membuat Andi tak tahan ingin memegang, namun nafsunya terhalang oleh rasa sayang, ia mengambil selimut dan kembali menutupi tubuh sang gadis berwajah imut, ia faham bahwa gadis bernama Maya itu sangat kelelahan, kebahagiaan untuknya merupakan prioritas dari sekedar nafsunya yang tak terbatas,

“Andiiii”

“hay selamat pagi, kamu tampak cantik mayy pagi ini”

“apa yang . . . . ? oh iya hehe maaf”

“tak apa, wajar bagimu untuk terkejut, istirahat lagi kalau masih belum cukup”

“sudah kok ndi, makasih yah sudah mengizinkan aku nginap di rumahmu”

“enggak, justru aku yang berterima kasih karena bisa tidur satu selimut denganmu”

Wajah Maya memerah karena malu, berarti semalaman dirinya dipeluk dengan keadaan telanjang oleh lelaki yang telah membuatnya senang, pantas tidurnya begitu nyaman, Maya melepas selimutnya dan membiarkan Andi untuk melihat tubuhnya yang tengah telanjang,

Andi menengguk ludah, ia tertegun melihat Maya yang kini bangkit dan duduk di tepi ranjang bersamanya, tubuhnya telanjang tanpa ada kain apapun yang menghadang, mata Maya menatap Andi dengan penuh arti, wajah mereka perlahan mendekati dan ciuman pun tak dapat mereka hindari,

“cuuuppppppp”

Bibir bertemu bibir, sebuah pagutan ringan diberikannya pada bibir Andi, mata saling memejam menikmati kuluman pada lidah yang menerjang,

Berbeda dengan kecupan nafsu yang pernah mereka lakukan di pantai kala itu, pagi ini Maya mengecupnya dengan penuh cinta seolah ia sedang mengirimkan semua cintanya pada sang lelaki yang telah memberikannya rasa bahagia,

Andi faham, bahwa Maya tak ingin bercinta, ia hanya ingin membagi kebahagiaan padanya, tangannya datang dan menumpu punggungnya, sementara tangan satunya bergerak ke arah belakang kepalanya, mata mereka menatap begitu dekat, senyum mereka terkirim dan tawa pun menghiasi indahnya pagi,

“selamat pagi juga ndi” jawab Maya sambil memeluk tubuh Andi,

“ah, kamu ini Mayyy, cupppp”

Kecupan kembali diberikan oleh Andi pada dahi sang pujaan hati, mereka saling mengobrol menuntaskan rasa rindu yang sudah tak terkontrol, tawa dan senyum kebahagiaan terpancar di wajah mereka, namun seketika Maya mengingat sesuatu yang penting membuatnya panik dan pusing tujuh keliling,

“oh yah ndi, sekarang jam berapa ? aku harus bekerja ?”

“tenang mayy, sudah jam sepuluh, aku sudah ngizinin kamu kok lewat salah satu kenalan aku di kantormu, tenang aja, kamu istirahat dulu, gak usah buru – buru untuk kembali ke sarang itu”

Maya tersenyum, semua perkataan yang Andi ucapakan terasa masuk akal, apabila dirinya kembali sudah pasti pak Ujang dan Agus bakal mencari, lebih baik disini bersama Andi sekaligus untuk membentuk suasana hati agar dapat merasakan kebahagiaan kembali,

“mau kencan ?” tanya Andi,

“ehhhh ???”

“mumpung kita sama – sama libur, kenapa gak kita jalan – jalan aja dulu, sekaligus menabung rindu ?”

“ehh iya, terus pekerjaan kamu gimana ?”

“gampang, bisa diatur, untuk saat ini dirimu adalah prioritas bagiku mayy”

Maya tersenyum, hatinya begitu senang mendengarkan perkataannya yang membuatnya tenang, Maya merangkul lengan Andi, Maya mengecup pipi Andi dan membisikan sesuatu padanya,

“yaudah deh, ayukkkk”

“tapi mandi dulu sana, bau iler wleekkk”

“ihhh, jadi aku mandi sendiri nih?”

“yaudah ayuk bareng”

Mereka berjalan menuju kamar mandi yang sudah pernah mereka gunakan dua kali, sesaat dering telpon berbunyi namun orang – orang sudah pergi menuju kamar mandi, di layar tersebut tertulis sebuah kontak yang menggunakan emoticon lope pada namanya,

Panggilan tak terjawab dari “Mas Aziz”

***​

Tujuh jam sebelumnya di sebuah kereta yang melaju ke arah Jogjakarta

POV Firda

Aku terkejut ketika mendengar suara pintu diketuk, siapa gerangan orang yang ingin masuk ? beruntung pintu telah ku kunci rapat, sehingga aku tak perlu terkejut ketika ada seseorang yang masuk dan mendekat, siapa gerangan ? ini pak manto bukan ? kalau iya kenapa begitu cepat, atau jangan – jangan ia mengurungkan niatnya untuk mengambil gamisku dan ingin melakukannya lagi denganku dengan tempo cepat ?

Tokk tokkk tokkk

Berulang kali pintu diketuk membuatku bingung sekaligus ragu, haruskah diriku membukanya ? atau membiarkannya ? rasa penasaran yang berlebihan menuntun hati untuk ingin mengetahui siapakah gerangan yang sedang berdiri di balik pintu ini,

Kunci terbuka dan perlahan diriku mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit, seseorang terlihat berdiri dengan pakaian yang cukup rapih, ini aneh rasanya pakaian yang ia kenakan berbeda dengan yang pak Manto kenakan, tapi rasa penasaran terus menuntunku agar mampu menatap wajahnya yang terhalang pintu,

Sedikit demi sedikit diriku mampu melihat posturnya yang tambun, sebaliknya orang yang berdiri di pintu mampu untuk melihat kulit putihku yang tak terhalang apapun, tatapanku naik dari kakinya menuju kepalanya,

Saat diriku melihat wajahnya segera ku tutup pintu dan kembali menguncinya, mata kami saling menatap dan terlihat wajahnya yang terkejut karena melihat diriku yang tak bercangcut,

Ketukannya semakin keras tak peduli dengan keadaan orang lain yang tengah tertidur pulas, sesosok kakek bertubuh tambun terus berusaha membuka pintu dengan nafsu yang berada di ubun – ubun,

Sebuah jackpot berada di depan matanya, sebuah hadiah besar tengah menanti di balik pintu kamar mandi ini,

“mbakkk buka pintuunyaa,”

Terdengar suaranya yang begitu keras memintaku untuk membukakan pintu, aku ketakutan, aku tak ingin ada orang lain lagi yang dapat menikmati tubuhku, sesosok kakek tambun itu semakin keras mengetuk pintu, sebisa mungkin aku menutup tubuhku dengan tangan sebisaku,

pak Manto mana ini ? kenapa lama sekali ?

“hehh ada apa ribut – ribut” terdengar suara orang yang menegur perbuatan si kakek,

“saya ingin buang air kecil pak dan juga didalam ada . . . . . ”

“ada apa kek ? barang kakek tertinggal ?”

“iya Pak, barang saya”

cekleekkk

Kulihat gagang pintu bergerak, mungkinkah orang yang bersama kakek sedang membukanya ?

“ini terkunci kek atau mungkin rusak nanti saya panggilkan ahlinya untuk membenarinya”

“tapi pak kondektur”

“sudah, mari saya antar ke tempat lain yang bisa kakek gunakan”

“pakk tapi didalam ada. . . ”

Terdengar suara sang kakek perlahan semakin pelan petanda sang kakek sudah menjauh dari balik kamar mandi, aku menghembuskan nafasku lega karena kejadian buruk tak lagi menimpaku, tapi apa yang harus ku perbuat sekarang ?

Setelah ku bersihkan noda di liang vaginaku, aku membuka pintu dan melongokan wajahku ke arah kanan dan kiri untuk melihat keadaan, ketika dirasa aman segera kulangkahkan kaki secara perlahan, perasaan yang menegangkan kembali ku rasakan ditengah pekatnya suasana malam,

Beruntung keadaan penumpang di gerbong tujuh cukup sepi sehingga membuatku berani untuk melangkahkan kaki untuk menuju kursi untuk mengambil kembali gamis yang telah terlepasi,

Walau sepi tapi tetap saja diriku tak berani untuk mengambil langkah kaki, rasa khawatir begitu menguasai, takut apabila ada seseorang yang memergoki

Nafasku berhembus mempersiapkan diri untuk berjalan menuju kursi, padahal jarak antara diriku dengan kursi penumpangku tak begitu jauh, namun tetap saja, satu detik terasa satu jam, kenapa semuanya terasa begitu lama ?

Selangkah demi selangkah berhasil ku lalui, ku lihat dari kejauhan mas Hendra masih tertidur bersandar di kursi, dibelakangnya ada pak Manto yang ternyata sudah tertidur,

Menyebalkan katanya mau ngambil gamisku ternyata malah tidur

Sesampainya di kursi penumpang, kudapati tangan mas Hendra berada di kursiku sambil memegangi gamisku dengan erat, apa yang harus ku perbuat ? diri ini khawatir apabila dirinya terbangun dan terkejut melihat penampilanku sedang telanjang bulat,

Didepan suamiku, aku membungkuk untuk meraih gamisku yang berserakan di kursiku, semoga saja ia tak bangun karena dihadapannya terpampang dua buah melon yang siap untuk kelon,

“engghhhhh, ummiiiiiii”

Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, apakah ia terbangun dari tidur ? atau cuma ngelindur ? mataku menatap ke arah suamiku, terlihat tangannya menggaruk – garuk, tubuhnya menggeliat dan tangannya terangkat ke atas untuk mengulat tapi syukurlah matanya masih terpejam,

“ehhmmmmmm” giliran diriku yang bersuara,

Hembusan nafasnya begitu hangat mengenai payudaraku yang tergantung dekat, entah kenapa rasanya begitu nikmat atau mungkin karena keadaanku yang sedang bertelanjang bulat, kakiku merapat merasakan rasa nikmat ketika harus bertelanjang bulat di tengah tatapan orang yang mungkin melihat, sebisa mungkin diriku fokus agar tak membangunkan orang – orang secara menerus,

Tanganku kembali berusaha meraih gamisku, sedikit demi sedikit kugerakan gamisku dari genggamannya, sesaat aku merasa bahwa usahaku akan berhasil sebelum ujian kedua datang menghampiri,

“Ahhhhhhhh”

Tak sadar mulutku mendesah ketika payudaraku yang tergantung tersentuh hidungnya yang mancung, tubuhku merasa geli membuatku ingin menggaruki, namun bahaya selanjutnya kembali datang menghampiri, kulihat hidung suamiku bergerak – gerak, apakah karena gatal ketika tersenggol payudaraku ? apakah ia hendak bersin ? lantas kemana diri ini pergi bersembunyi ?

Mataku bergerak kearah sekitar mencari tempat untuk bersembunyi, gawat aku melupakan penumpang lain yang berada di kursi belakang, beruntung mereka semua masih tertidur membuat semangatku tak meredup mundur,

Kulihat suamiku kembali tenang, inilah saatnya bagiku untuk menang, perlahan gamisku mulai terlepas dari genggamannya, iya sebentar lagi waktunya bagiku untuk berpakaian kembali,

Yeaayyyyyyy

Akhirnya gamisku berhasil ku genggam, tubuhku merasa kedinginan karena terkena angin malam, sesaat ketika ingin mengambil pakaian dalamku yang berada di atas lantai, seorang kakek yang tadi memergokiku telanjang di dalam kamar mandi kembali menemukanku,

mata kami kembali saling tatap dan kali ini ia benar – benar telah melihat isi seluruh tubuhku lengkap, jarak kami tak begitu jauh namun juga tak cukup dekat, segera diri ini berlari sejauh mungkin darinya, celakanya sang kakek juga berlari mengejarku, aku begitu takut apabila ia mendekapku dan melakukan hal yang tidak – tidak padaku, segera diriku berlari menuju kamar mandi yang tadi kutempati,

Pintu kembali ku kunci dan kekhawatiran terus menghampiri, terdengar suara langkah kaki yang perlahan semakin mendekati,

Duhhh gimana ini ?

Wajahku putih pucat bagai tersiram cat, terdengar suaranya begitu percaya diri seolah diriku sudah terjebak dan tak bisa lari,

“mbakk canntikk, mbak dimana yah? nanti kedinginan loh” ucapnya menggoda sambil berjalan santai,

Tokkk tokkk tokkkk

Suara ketukan pintu kembali terdengar membuatku mundur ketakutan ke sisi dalam kamar mandi, seolah pasrah diriku telah bersiap – siap apabila diriku harus terpaksa melayani nafsu bejat sang kakek,

Tolonggg semoga ia tak kemari

“ada apa yah kek mengetuk – ngetuk pintu terus?” terdengar suara wanita yang cukup manis dari luar, siapa lagi sekarang ?

“uhhmmm uhmmm, apa yang . . . . ? desah wanita tersebut,

Aku semakin penasaran dan membuatku ingin melihat kejadian apa yang sedang terjadi di luar, rupanya seorang pramugari kereta baru saja keluar dari kamar mandi lain yang berada di depan kamar mandi yang ku tempati, ia berseragam biru dan bibirnya tengah dicumbu oleh sang kakek dengan nafasnya yang memburu, kulitnya yang putih bening sedang dijilati oleh kakek berbaju kuning,

“akhirnya kutemukan juga dirimu mbak”

“enngkhhh lepaskann, lepaskann atau kulaporkan”

Sang kakek yang telah bernafsu mencumbui bibir sang pramugari tanpa henti, lidahnya keluar bergerak liar mencoba menerobos masuk ditengah mulutnya yang mengatup, beruntung sang kakek cerdas, ia mencubit hidung sang wanita hingga membuatnya kesulitan bernafas, mulutnya pun terbuka dan lidahnya berhasil masuk dan menjilati seisi mulutnya,

“nakal kamu yah mbak, telanjang di gerbong kereta, mari sekarang kita berpesta dan membuat dirimu meronta – ronta” ucapnya sebelum memasuki kamar mandi didepanku dan menutup pintunya rapat, setelah kejadian itu segera kukenakan kembali gamisku tanpa mengenakan dalaman apapun lagi dan sesegera mungkin berlari kembali ke kursi penumpangku,

Terdengar di dalam sana suara sang pramugari yang tengah dicumbui, desahannya begitu keras dengan permohonannya yang memelas,

plokk plokk plokk plokk

Suara benturan yang terdengar semakin keras, aku pun tak mau tau dan memilih pergi menjauh dari tempat kejadian tersebut,

Maafkan aku mbak pramugari, bukan bermaksud, tapi terima kasih telah membiarkanku bebas dari kejaran sang kakek,

Dalam perjalanan ke kursi penumpang, diriku bertanya – tanya, padahal tadi mata kami dua kali saling menatap, mengapa sang kakek mengira kalau sang pramugari adalah aku ? apakah wajah kami sama ? atau mungkin karena warna kulit kami yang sama ? entahlah yang jelas aku menyesal karena telah mengorbankan mbak pramugari demi keselamatan diri sendiri,

“ehhhh umii dari mana ?” tanya suamiku terbangun,

“hehe abis dari kamar mandi bi , abis pipis”

“ohhh begitu” ucapnya singkat kembali tertidur,

“huffttt selesai juga” ucapku lirih,

Segera kumasukan bra dan celana dalamku ke dalam tas kecilku, setelahnya ku ambil topi untuk menutupi wajahku untuk berjaga – jaga apabila sang kakek kembali lagi, mataku tertutup erat dan akhirnya diri ini bisa beristirahat, terbukti feelingku benar bahwa diriku akan bergadang karena harus memuasi nafsu para pemilik batang,

Keadaan semakin sunyi dan kedamaian kembali kurasakan di hati, rasa lelah yang kurasakan diseluruh tubuhku telah terbalaskan dengan rasa nyaman dikala waktu tidurku, harapanku tuk esok hari semoga pak Manto segera pergi dan menjauh dari diri terutama ketika sudah mencapai kota Jogja sebentar lagi,

Ketika semua orang sudah tertidur, Hendra membuka matanya dan mengadahkan kepalanya ke atas, ia tampak berfikir mengenai sesuatu yang sepertinya mustahil, mungkin kah ?

Apa yang baru hadir dalam mimpiku tadi ? bagaimana bisa aku melihat Firda istriku tengah bertelanjang di kereta ini ? semuanya nampak nyata, tapi mungkin kah ? semoga ini hanya sebuah mimpi aneh yang tak akan terjadi. batin Hendra sambil menatapku yang telah tertidur pulas.

~To be Continued~