Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 19

Gerbong Birahi​

Matanya terbuka ditengah gelapnya ruangan yang ia tempati, dirinya menatap bingung memikirkan bagaimana bisa dirinya berada di ruangan ini, ia mencoba bangkit dan berdiri meraba – raba dinding ruangan untuk mencari tombol lampu berada, ia dikejutkan dengan suara logam yang menyeret,

“ahhhh iya”

Perlahan ia mulai menyadari situasi yang ia alami, rantai yang masih membelenggu lehernya membuatnya teringat dengan semua hal buruk yang terjadi padanya kemarin malam, ia terjatuh berlutut merasakan semua perih yang terasa di sekujur tubuhnya, hawa dingin yang menusuk tulangnya membuatnya semakin kesulitan untuk melangkah, ia merasa tak sanggup lagi tuk menahan semua cobaan yang ia dapati dikehidupan yang berat ini,

“itu dia”

Matanya menatap fokus pada saklar lampu yang berada di hadapannya, saat lampu menyala matanya berkedap – kedip menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya yang berada di ruangan ia berada, akhirnya semuanya terlihat jelas didepan matanya,

Ruangan gudang yang biasa digunakan untuk mengumpulkan alat kebersihan terlihat olehnya, beberapa sapu ijuk, sapu lidi, tempat sampah, sikat toilet terkumpul semua dihadapannya, ia terduduk lemas mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam, bukan hanya semalam tapi tempat ini seolah telah memberikan kesan buruk pada wanita nan malang tersebut,

Matanya menatap binar pada kunci yang ia temukan dihadapannya, mungkinkah ? segera ia berlari menuju kunci tersebut, alangkah senangnya ketika rantai yang membelenggu lehernya terbuka, ia cukup senang setidaknya pak Ujang dan Agus masih memiliki hati untuk melepaskan rantai yang ada di lehernya dengan meninggalkan kunci di ruangan tersebut,

Tubuhnya sangat kotor, rambutnya tampak berantakan, satu persatu ia mengumpulkan pakaian yang ia kenakan kemarin dan memakainya kembali untuk menemaninya pulang ke rumah, ia menghela nafasnya, memikirkan bagaimana khawatirnya orangtuanya dalam menunggu dirinya pulang,

Ia mulai berfikir, haruskah ia pulang ke rumah dan membiarkan orangtuanya memarahinya karena pulang telat ? atau haruskah ia menuju ke tempat lain ? tapi kemana ? Ia menatap ke arah dinding mencari jam untuk mengetahui waktu saat ini, ah sudah pukul setengah satu malam, pantas saja suasananya begitu sunyi,

Satu persatu kancing yang berada di kemejanya dimasukan, anehnya ada beberapa kancing yang hilang, mungkin copot akibat ulah pak Ujang yang sangat bernafsu untuk melepas pakaiannya kemarin, setelah semua pakaian telah ia kenakan, ia mulai mencari telepon genggamnya dan benar saja, ayah dan ibunya begitu mengkhawatirkannya, ada puluhan pesan masuk dari mereka, aku tersenyum kecil, setidaknya ada beberapa orang yang masih peduli padaku,

Namun aku bingung untuk membalasnya, apa yang harus kujawab dari rasa kekhawatiran mereka, mana mungkin aku jujur dengan kondisiku saat ini, bisa jadi hati mereka akan hancur melihat putri kesayangannya berulang kali diperkosa oleh makhluk rendahan seperti mereka,

“aku gpp kok, mah, pah, aku berada di rumah temen, maaf telah mengkhawatirkan kalian”

Tubuhku ku senderkan pada dinding ruangan, aku mengadah wajahku menatap langit – langit, hancur sudah kehidupan bahagia yang selama ini aku idam – idamkan, keperawananku telah direnggut, kealimanku telah hilang, diriku begitu murah sehingga siapapun dapat menikmatiku,

Air mata turun membasahi wajahku, lega sekali rasanya ketika berada pada ketentraman seperti ini, aku merasa damai ketika tidak ada seseorang yang mengangguku, aku memaksakan diri untuk tersenyum karena ku yakin pasti akan ada seseorang yang benar – benar peduli pada diriku,

Kehidupan tidak selamanya buruk kok, aku yakin akan ada di suatu masa dimana hanya kebahagiaan saja yang kurasakan sehingga dapat melupakan waktu – waktu dimana kegelapan telah berhasil menyelimutiku,

Aku menatap layar hpku, aku tersenyum ketika mengetahui fakta bahwa Andi masih ON, tanpa perlu pertimbangan lagi aku mengirimnya sebuah pesan dan berharap ia segera membalas pesan dariku,

“iya mayy ada apa?”

“kamu sendiri di rumah?”

“iya aku masih sendiri”

“istri kamu pergi lagi?”

“iya, dia bersama ayahku, ada apa yah?”

“boleh aku nginap di rumah mu ?”

***​

POV Firda

“sayyangg, ayo bangun keretanya udah sampai”

“slurrppp

Buru – buru ku elap area sekitar mulutku sebelum yang lain melihatnya, beruntung semua orang fokus pada lokomotif kereta yang baru saja melintas di depanku,

“duhh kena hijab lagi”

Segera kusembunyikan bukti memalukan ini, tangannya menggenggamku erat, diseretnya diriku untuk masuk ke dalam gerbong kereta,

“kita gerbong berapa bi?”

“di gerbong tujuh mi”

Kalau tak salah kami menaiki kereta melalui gerbong lima, berarti ada satu gerbong lagi yang harus kami lewati sebelum sampai di gerbong tujuh, jalanan penuh sesak dengan berhimpitnya orang – orang yang hendak menaiki kereta,

Malam itu selama perjalanan, gamis lebar berwarna merah muda menjadi outfit yang kukenakan, balutan hijab berwarna merah maroon menutupi rambut indah yang kumiliki, sebisa mungkin pandanganku ku tundukkan sebagai bukti seriusnya diriku dalam menjaga martabatku,

Mas Hendra dan Pak Manto membawa koper – koper yang berisi pakaian untuk bekal kami selama beberapa hari kedepan, fakta bahwa diriku harus jauh dari rumah selama beberapa hari membuatku agak khawatir, terlebih dengan adanya pak manto yang saat ini sedang berjalan dibelakangku, aku tak tahu pasti apa yang sedang ia lakukan, namun aku merasa bahwa dirinya sedang menatapi bokongku yang tercetak jelas ketika berjalan seperti ini,

‘ah, sial kenapa aku harus pakai gamis yang agak sempit di area pinggul sih’ batinku,

Keadaan di gerbong tujuh tak seramai di gerbong lainnya, entah apa penyebabnya mungkin karena gerbong tujuh merupakan gerbong terakhir dari rangkaian kereta yang membawa kami menuju stasiun jogja, terhitung hanya ada sebelas dari maksimal 50 penumpang termasuk diri kami yang berada di gerbong ini,

Beruntung kondisi kursi di kelas eksekutif berjenis one seat, membuat penumpang yang menaikinya harus duduk secara berpasang – pasangan per baris, jadilah aku duduk disamping mas Hendra meninggalkan pak Manto yang hanya duduk sendiri dibelakang kursi kami, walau sudah beristirahat sejenak sebelum berangkat, aku masih merasakan kantuk, mataku sangat berat untuk terbuka, sehingga diriku membiarkan mataku terlelap dengan bersandar pada nyamannya kursi penumpang yang berada di gerbong ini,

Ya, rasanya nikmat sekali bisa bersandar pada kursi empuk yang bebas diatur semauku, keadaan malam yang sunyi ditambah sedikit guncangan dari rel kereta yang bergerak membuatku semakin terlelap dalam kehidupan malam di kereta,

Tidak dipungkiri lagi, rasanya sama seperti dulu ketika tidur di ranjang bayi, teringat bagaimana ibu menggoyangkan ranjangku agar diriku bisa tertidur dengan lelap, sekarang pun sama,

Apalagi dengan adanya sedikit remasan di payudaraku yang membuat nafasku terasa berat merasakan pijatan yang yang terasa di daerah intimku ini, tunggu dulu ?

Mataku terbuka ketika merasakan ada yang tidak beres dalam tidur malamku, tangan siapa ini ? kok berani banget meremas payudaraku ditempat umum seperti ini ?,

Wajahku menengok ke arah belakang, aku tak lagi terkejut, siapa lagi yang berani melakukan hal semacam ini kalau bukan pak Manto seorang ? setelah diriku terbangun ia jadi semakin berani dan terang – terangan dalam merangsang buah dadaku,

“eehhhmmmmmm”

Aku mendesah sekecil mungkin, ku lihat kearah samping suamiku sudah tertidur, jam berapa sekarang ? jemarinya secara bergantian memilin putingku dari luar gamis lebar yang kukenakan, genggamannya mengatup mencengkram payudaraku dengan sangat kuat membuatku tak tahan ingin mengeluarkan suaraku sekeras – kerasnya, wajahnya mendekat kearah telingaku, ia membisikan sesuatu yang membuatku merinding,

“mau dilepas semua atau dipakai sebagian ?”

Pertanyaan macam apa itu ? tentu tidak keduanya, aku tak mau melakukan hal semacam ini lagi, berulang kali sudah kukatakan padanya namun ia tak memperdulikanku, ahhh tidak remasannya begitu terasa hingga membuatku merinding,

Tangannya bergerak naik dari arah pinggangku, detik demi detik diriku memejam merasakan rabaannya begitu terasa, terlebih ketika tangannya hampir sampai ke dekat buah dadaku, sebisa mungkin aku menutup mulutku membiarkannya bebas melakukan hal ini, mau gimana lagi ? teriak salah diam salah, aku hanya pasrah membiarkannya melecehkanku seperti ini,

‘nikmat sekalii’ batinku,

Hijab lebar berwarna merah yang menutupi dadaku disingkap olehnya, kancing yang berada di gamis berwarna merah mudaku dilepasnya satu persatu, aku pasrah, aku bingung untuk menolaknya, aku khawatir justru suami yang berada di sampingku akan bangun, tapi kalau dibiarkan bisa – bisa aku ditelanjangi olehnya di gerbong ini, apa yang akan terjadi ketika ada orang lain yang melihatnya ?

“massss hentikannnn” ucapku lirih,

Sudah kuduga ia tak mau mendengarkanku, ada sekitar 5 kancing atasku yang dilepas olehnya sehingga bra berwarna merahku terlihat oleh siapapun yang berada di depanku,

“massss tollloonnggg” ucapku lirih,

Gamisku sudah turun hingga ke sikuku, tubuh bagian atasku sudah terlihat sebagian, bahuku yang berwarna putih bisa saja terekspos kalau saja tidak ada hijab lebar yang kukenakan sekarang ini,

Cup bra ku telah diturunkan, putingku telah nampak dan masih bersembunyi di balik hijab syar’i yang ku kenakan, tangannya dengan sembrono memainkan kedua payudaraku, tangannya dengan gemas meremasi milikku dan mencubitnya, aku tak mampu berbuat banyak, aku hanya mampu memejam dan membiarkannya bergerak bebas di daerah intimku,

Ah, rasanya ketika tangan kasarnya menyentuh kulit payudaraku secara langsung begitu nikmat, sensasi jemarinya ketika memencet – mencet putingku membuatku tak tahan untuk mendesah, sekuat mungkin mulutku kukunci agar tak menghasilkan suara, tapi pencetannya semakin dalam menekan putingku, terlebih pilinannya dalam menggesek putingku membuatku blingsatan,

Berulang kali tubuhku berontak bergerak ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk jawabanku atas nikmatnya rangsangan yang pak Manto lakukan, aku menatap ke arah belakang, kulihat wajahnya begitu mupeng membayangkan indahnya payudaraku saat diremas, aku membencinya, kenapa aku memilih diam padahal banyak hal yang bisa kulakukan, menamparnya misalnya, tapi ini ?

“Ahhhhhhhhh” desahku perlahan,

Aku sangat menikmatinya dan semuanya terlihat jelas dari wajahku yang begitu bernafsu, tapi aku harus menahannya, mau sampai kapan diriku seperti ini kalau tidak melawannya ?

“Ahhhhhhhh maasshhh” tangannya semakin ganas dalam merangsangku,

Dengan berani ia berpindah posisi ke arah tempat dudukku melewati sela – sela yang memisahkan antara kursiku dengan kursi suamiku, aku menatapnya heran, aku pun memberikannya kode untuk tidak macem – macem tapi balasannya sungguh membuatku kesal, ia hanya tersenyum mesum yang membuatku jadi jijik dengannya,

“cupppppp”

Ia menciumku tepat disamping suamiku yang sedang tertidur, sebisa mungkin aku mendorongnya agar menjauh tapi tubuhnya terlalu kuat, membuatku pasrah ketika dirinya melecehiku seperti ini,

Tangannya mengangkat hijab syar’i yang menghalangi payudaraku, dengan berani ia menempelkan bibirnya pada puting ku yang mengeras karena hawa dingin dari AC yang tersetel di gerbong eksekutif ini,

“ehhmmmmmmm”

Sebisa mungkin aku menahan diri untuk tak bersuara di dekat suamiku, tanganku kugunakan untuk menutup mulutku , namun rangsangannya sangat kuat di kedua payudaraku, kurasakan jemarinya memainkan putingku dengan mencubitnya dan menariknya sedangkan bibirnya masih mencumbui dan menggigit payudaraku yang satunya,

“Ahhhhhhh”

Aku tak tahan lagi untuk bersuara, beruntung suamiku masih terlelap disamping diriku, seketika kurasakan sesuatu yang besar dan hitam terpampang di hadapanku, seberani inikah ?

Matanya menatap ke arah belakang gerbong, beruntung semua penumpang sudah tertidur sehingga membuatnya semakin tersenyum, ia menyingkap hijabku dan menempelkan penis hitam nan besarnya di sela – sela payudaraku yang menggantung,

“ahhhhhhhh”

Rasanya hangat, keras, dan menggoda pandangan, ia menggeseknya dengan kuat hingga menyentuh daguku, aduhhh melihatnya dari sini membuatku ingin membuka mulutku dan membiarkannya masuk, tapi aku bukan wanita semurah itu, aku tak mau, aku tak mau lagi seperti ini, tidak, jangan lagi fikiran kotorku menuntunku ke arah yang aneh – aneh,

“turunkan wajahmu dek dan buka mulutmu yang manis itu”

Ibarat robot aku justru mematuhinya, penis besarnya yang begitu hitam menggesek – gesek celah diantara payudaraku hingga kepalanya masuk ke dalam mulutku. Hangat, bulunya lebat, strukturnya berurat dan terasa nikmat itu lah yang kulihat dari sudut pandangku,

Alih – alih menolak aku justru membiarkannya melakukan seperti ini, lama – lama aku jadi takluk dengan pelecehan yang ia lakukan, bahkan aku sampai lupa kalau suamiku tengah tertidur disampingku,

Asin, basah, mungkinkah ? kurasakan cairan precumnya mulai keluar, ia buru – buru melepasnya dari dari halusnya kulit tubuhku sebelum ia benar – benar menuntaskannya,

“aku gak tahan lagi melihat kondisimu seperti ini dek” bisiknya di telingaku,

Kondisiku ? gamis lebarku yang telah terbuka dengan payudara tumpah keluar, wajah polosku yang diam – diam malu tapi mau, mulutku yang berliur bekas penisnya yang baru ku kulum, siapa yang tidak bernafsu ?

Mulutnya kembali mendekat dan melumat bibirku, entah kenapa kali ini diriku benar – benar takluk, hampir diriku membalas cumbuannya tapi aku masih ingat dengan kondisi dan keadaanku, aku adalah istri mas Hendra yang sedang dilecehkan oleh pembantuku, mana mungkin aku membiarkannya puas dengan balasan yang kulakukan atas rangsangannya,

“ehhmmmmmm”

Payudaraku kembali diremasnya, cubitannya pada putingku ketika ia menariknya membuatku tak tahan lagi,

“massss ahhhhhhh”

“ada apa dekkk?”

“maasssss cukupp hentikannn”

“apa kamu yakin dekk?”

“ehhmmm iyyahhhhh”

“padahal begini enak lohhh” ucapnya sambil meremas keras payudarku,

“ahhhhhh, iyyahhh enakk banggeettttt” celaka aku keceplosan,

“terusss, gimana dong?”

“Ahhhhh masss”

Terus saja birahiku dipermainkan olehnya, rasa malu terpampang pada wajah polosku, aku marah, aku kesal karena saat ini diriku benar – benar takluk oleh permainannya,

“akuu mauuu ituuuu”

“mau apa dekkk?”

“ituuuuuu ehhmmmm”

“apa ? yang jelas donggggg”

“mainkan punyakkuu?”

“punyamu ? apa? memekmu?

“iyya masss, ahhhhhhh”

Tangannya begitu bersemangat untuk meluncur membuka celana dalam yang masih tersembunyi dibalik gamisku, aku malu sekali sampai harus memohon seperti ini, tapi mau gimana lagi, sentuhan kasarnya dalam membelah vaginaku, aksi nakalnya dalam mencubit klitorisku, ahhhhh, tak sadar pandanganku mengarah pada penisnya yang sudah mengacung tegak, lagi – lagi aku merindukan benda itu, benda yang sudah berkali – kali masuk ke dalam vaginaku, bagiamana yah rasanya kalau dimasuki di tempat umum seperti ini ?

“ahhhhhhhhhh”

Kepalanya masuk ke dalam gamisku dan kurasakan jilatannya semakin kuat, aku sebisa mungkin diam untuk menahan suaraku keluar, aku khawatir suamiku . . . .

“celaka”

Kulihat suamiku sedang bergerak, ia nyaris membuka matanya, buru – buru ku tutup kancing gamisku yang terbuka dengan hijab lebar yang kukenakan,

“jam berapa mi, udah sampai mana?”

“maassshmmmmm, massss-ssih malemmm bii”

Suamiku bangun, apa yang harus kulakukan, bagian tubuhku yang terbuka sudah kututupi tapi pak Manto ? ia memang sedang bersembunyi tapi masa iya bersembunyi di dalam gamisku, celaka kalau suamiku tahu ada benjolan besar yang terlihat di bawah gamisku,

“ehmm tiduurr lagi aja masshh, masss ahhhh, masiih lama”

Aku menggenggam tangannya erat agar nyaman, namun jilatannya masih saja ia lakukan pada buah apemku, astaga! apa apaan aku ini ? tapi rasa ini benar benar . . . . .

“Ahhhhhhh”

Beruntung suamiku sudah kembali tertidur, barulah saat itu pak Manto keluar sambil mengusap bibirnya yang belepotan cairan cintaku,

“hemmmm, nikmatnya” ucapnya tanpa merasa dosa sama sekali,

“ayo dekkk, aku udah gak tahan”

Ia mengangkat gamisku dan menurunkan tubuhku sebagian dari kursi penumpang, ia mulai membuka kaki ku lebar – lebar, penisnya yang juga luas alias panjang x lebar itu mulai melesat masuk ke dalam vaginaku tanpa permisi, hentakannya begitu kuat hingga tubuhku terguncang karena rasa nikmatnya,

“ahhhhhhhhh”

Aku sudah tak peduli lagi, beruntung suamiku masih tertidur, apa – apaan ini, kenapa aku semurah ini, kenapa aku membiarkannya menikmati tubuhku lagi ? tapi sentuhan ini, gesekan yang kurasakan pada dinding vaginaku,

“Ahhhhhhhhh”

Nikmatnya, Pak Manto menatapku dengan tatapan nafsu sambil terus menyodokku, payudaraku terguncang, berulang kali miliknya keluar masuk di dalam vaginaku, aku mendesah, aku merasakan kehangatan yang kurasakan didalamnya,

‘duh, gimana ini ? mau sampai kapan diriku harus seperti ini ? tapi godaan ini mana bisa kutahan ?, suamiku, maafkan aku’ batinku menatap mas Hendra,

“ahhhhhh massss, iyahhhh terussss”

Kacau, diriku sudah benar – benar takluk, Pak Manto tersenyum puas melihat desahanku yang menurutnya ibarat lantunan melodi yang indah, desahanku membuat nafsunya naik, dipegangnya pinggangku sebagai tumpuan, pinggulnya semakin bergerak cepat, tempo guncangannya semakin kencang,

“ahhh iyyahh masss ,ennnakkkk ahhhh”

Sekeras mungkin ia menghentakannya dalam – dalam yang membuatku mendesah dengan keras, aku sudah dibutakan oleh hawa nafsu, aku melihat ke arah sekitar, aku lega karena tidak ada yang bangun karena desahan kerasku ini, aku menatapnya sayu, tatapanku seperti tatapan memohon agar semua ini jangan dulu berakhir,

“cupppppp”

Bibir kami kembali bersatu, kurasakan nafasnya telah berat, aku faham bahwa ia mungkin tak akan menahan lebih lama lagi, ia mendekatkan mulutnya pada telingaku untuk membisikan sesuatu,

“coba berdiri sebentar dek”

Aku patuh, diriku berdiri dan pak manto melangkah maju untuk duduk di kursi yang tadi ku tempati,

“ayo kemari”

Ia mengundangku untuk duduk dipangkuannya, sementara penisnya sudah mengacung tegak, aku menatapnya fokus, diriku seolah terhipnotis, penisnya telah mengundangku untuk segera duduk agar vaginaku kembali dapat dinikmati olehnya,

“uuuuhhhhhhhhhhhh”

Detik demi detik kurasakan penisnya kembali memasuki vaginaku, tangannya kembali menyimpangkan hijabku, aku dipangku membelakanginya, perasaan ini, ah dalam sekali ruang yang berhasil ia masuki melalui penisnya, belum saja ia menggerakannya tapi aku mampu merasakan kenikmatan ini,

“ahhhhhhhh” desahku kala pak manto mulai bergerak,

Ia menghentakan tubuhku , sehingga akupun bergoncang naik turun, payudaraku yang sudah terungkap bergerak indah dengan bebas, tanganku bergerak menutup mulutku, ahhh susah rasanya untuk berteriak bebas di kondisi seperti ini, namun sensasinya ?

Ah, ini sangat memuaskan, rasanya nikmat sekali, melakukannya di tempat umum disamping suamiku yang sedang tertidur ? apakah aku sudah gila ? tentu tidak, tapi kenapa aku menikmatinya ?

‘ayo sadar firda, sadar, kamu itu cantik , jangan biarkan nafsumu menguasaimu lagi’ batin suara hatiku,

Benar, aku tak boleh kalah, aku tak boleh membiarkannya bergerak bebas mengobrak ngabrik vaginaku, aku harus melawannya, aku tak boleh takluk,

“Ahhhhhh, ahhhhhh, ahhhhhh”

Pak Manto semakin mempercepat gerakannya, aku menjadi semakin terguncang, payudaraku semakin naik turun, aku tak bisa melawannya lagi, aku menyerah, aku menyerah pada hawa nafsuku yang terlalu kuat. Maaf suamiku, maaf suara hatiku, maaf tubuhku, sekali saja biarkan aku menikmati semuanya,

“Ahhhhh ahhhh ahhhhhhhh massss eennnyyaaakkkk”

Tangannya meremasiku dengan penuh nikmat, guncangannya sangat kuat seperti gempa berskala 9 SR, mataku terpejam, kain gamis yang kukenakan telah melorot hingga pinggulku, aku sudah takluk, aku sudah kalah, perasaan ini, iya sebentar lagi, sesuatu yang selalu ku cari – cari ketika bersamanya,

Aku merasakan orgasme akan segera datang, aku menatap wajahnya dengan sayu, wajahnya mendekatiku, kami kembali bercumbu dengan penuh nikmat, ya nafasku semakin berat, kurasakan sesak didadaku, perasaan ini, iyyah,

“ahhhhhhhhhhhhhhhhhh” desahku begitu keras, aku tak kuasa untuk menahannya , suaraku, tubuhku bahkan diriku sendiri,

Namun pak Manto masih cukup kuat, ia terus saja menghujamiku sehingga orgasme berulang kali melanda diriku, tak berselang lama dengan hentakannya yang cukup kencang, ia menyemprotkan spermanya lagi di dalam vaginaku,

“ahhhhhhh”

Aku merinding merasakan semprotannya begitu hangat mengisi ruang dalam vaginaku, aku beanr – benar kelelahan, aku bersandar pada pelukan pembantuku, selayaknya diriku ia juga puas karena telah melecehkanku di tempat umum seperti ini,

“ehhmmm sayanggg kenapaaa?”

Gawwat !!!

“gapapa kok bi, tidur lagi aja”

Suamiku menggeliat, jangan sampai ia membuka matanya dan melihatku dalam keadaan telanjang berada dalam pangkuan pak Manto, jantungku berdegup kencang, apa jawaban yang harus kuberikan andai itu terjadi ?

“beneran gapapa? Yaudahh, tidur yah jangan berisik lagi”

‘jangan berisik lagi? Jadi sedari tadi mas Hendra mendengarnya?’ batinku bertanya – tanya,

Kami pun berdiri bersama dan pak manto kembali mencumbuiku dalam keadaan berdiri, ia tersenyum puas sambil memandang tubuh indahku yang polos, kain gamisku telah melorot hingga kakiku, lelehan spermanya mengalir keluar dari dalam vaginaku,

“sudah cukup mas, jangan lakukan lagi” ucapku pada pak Manto,

“cukup darimana dek? Tubuh seindah dirimu mana puas kalau cuma dipakai sehari sekali”

‘apa ? apa maksudnya ?’

“tunggu mas , mau kemana?”

Ia menarik lenganku dan mengajakku berlari sambil telanjang di gerbong kereta ini,

“mass tunggu, gamisku ketinggalan”

Ia tetap tak mendengarkanku, dilewatinya beberapa penumpang lain yang masih tertidur, setibanya di kamar mandi ia mengajakku masuk dan menguncinya dari dalam.

“saatnya ronde kedua dek” ucapnya sambil tersenyum mesum,

‘apa ? tidak mungkin’ batinku menyesal karena takluk dalam permainan birahinya,

Sambil bertumpu pada tepi kamar mandi, aku menungging menatap cermin yang ada di hadapanku, ku lihat diriku kembali dihempasnya dengan sangat kuat, payudaraku bergerak indah dalam posisi menggantung,

“ahhhh ahhhh masss mantooooo”

Sementara itu di gerbong tujuh,

Seorang lelaki tengah menggeliat dengan penuh nikmatnya, tanganya ia angkat untuk melemaskan otot otot sarafnya, tak sengaja saat bergerak tangannya merasakan sesuatu yang lembut,

“kain apa ini?” ucap mas Hendra

***​

POV Maya

Sambil mengendarai motor matic bewarna putih biru, aku menangis ditengah kesunyian malam, beruntung helm yang kukenakan mampu menutupi wajah kesedihanku, rasanya sangat dingin ketika bepergian tanpa mengenakan dalaman apapun, entah siapa yang mengambilnya aku terpaksa pulang dengan mengenakan pakaian seadanya, beruntung mereka tidak mengambil semuanya sehingga tubuhku masih terbalut beberapa kain untuk menutupi tubuh kotorku,

Tibalah diriku di rumah Andi, rumahnya cukup besar, layak untuk ditinggali oleh seorang pangeran, langkahku kian gontai, berjalan saja sampai tertatih, sebisa mungkin aku menuju pintu rumahnya untuk membunyikan bel,

Pintupun terbuka dan wajah yang selalu memberikanku kebahagiaan pun terlihat,

“andiii” sapaku sambil memaksakan tersenyum

“mayaaa apa yang sebenarnya terjadi ?”

“gpp ndi, udah biasa kok, boleh aku masuk ?”

Andi pun mempersilahkanku masuk, terlihat jelas diwajahnya yang sangat mengkhawatirkanku, karena kesulitan aku sampai dirangkul olehnya untuk berjalan menuju ruangannya, pakaianku sangat kotor terlihat debu dimana – mana, aku terkesan andi mau menerima tamu sepertiku di malam seperti ini,

“mau minum apa? Biar kubuatkan”

“seadanya aja ndi, yang hangat kalau bisa”

“oh yah mau kusiapkan air panas ? tubuhmu sangat kotor”

“boleh ndi, kalau gak ngerepotin hehe”

Andi tersenyum setelah mendengar jawaban dariku, ia mendudukanku di sofa miliknya, ia pun memberikanku selimut untuk menghangatkan tubuhku sejenak, ku lihat dirinya tampak bingung dengan berbolak – balik mencari sesuatu,

“ini mayy, teh hangatnya” ucapnya dengan penuh sopan santun,

“untuk sementara air panasnya lagi disiapkan, silahkan diminum dulu”

Aku pun meminum teh darinya, sungguh menyegarkan rasanya , kehangatan telah mengisi tubuhku, sesaat kebahagiaan sudah muncul ketika aku berada di dekatnya,

“kenapa lagi kamu mayy? Orang itu lagi?”

“iya ndi, gak usah khawatir kok, aku udah terbiasa”

“mayy, aku gak tega melihat kamu kaya gini lagi, aku bantu yah biar terlepas dari mereka?”

“gak usah ndi, toh ini salah aku juga gak segera melaksanakan misi darinya”

“misi apa sih mayy yang membuatmu kesulitan untuk melakukannya?”

Aku hanya tersenyum mendengar kekhawatian darinya, aku pun memberikan kecupan di pipi andi yang saat ini duduk disebelahku, dengan manja aku menaruh kepalaku pada pundaknya, aku merangkul lengannya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya,

“gak usah khawatir ndi, aku baik – baik aja kok, makasih yah”

Jawaban dariku membuat andi iba, terlihat matanya berkaca – kaca namun ia tetap tegar , sebisa mungkin ia membuatku nyaman dengan pelukan yang ia berikan untuku,

“ndi tubuhku kotor, nanti kamu ikut kotor juga loh”

“gak masalah kalau itu bersamamu mayy, aku akan ikut kemanapun kamu pergi”

Aku tersenyum mendengar jawaban darinya, kebetulan saat itu air panas telah siap, karena kami sama – sama kotor, kami memutuskan untuk membersihkan diri secara bersama – sama,

Kami memasuki kamar mandi secara berbarengan, satu persatu pakaian kami dilucuti, aku bahagia sekali bisa melihat tubuh kekarnya lagi, dengan penuh perhatian Andi membilasku dengan air hangat untuk membersihkan kotoran yang ada pada tubuhku, dengan pasrah aku membiarkannya menyentuh tubuhku dengan bebas, entah ia melakukannya dengan sengaja atau tidak, ia begitu sering membersihkan daerah payudaraku, aku hanya bisa tersenyum merasakan sentuhannya,

Setelah semua bersih Andi masuk ke dalam bathub nya baru disusul olehku, rasanya sangat nyaman ketika berendam air hangat seperti ini terlebih dengan adanya pelukan andi dari belakangku,

Ya, di dalam bathubnya andi sedang memeluki dari belakang merasakan kehangatan air yang menggenangi diri kami, atau mungkin kami sedang merasakan kehangatan bersama yang semakin lama semakin dekat,

Aku tersenyum malu – malu merasakan dekapan tangannya yang cukup hangat dari genangan air ini, aku memberanikan diri untuk menatapnya, kami saling menukar senyum dan ia memberikan kecupan di tengkuk leherku,

Aku memejamkan mata menikmati waktuku yang kuhabiskan bersamanya, kami berbincang mengenai masa indah saat di pantai kala itu, aku suka dengan caranya memilih topik untuk dibicarakan di kondisiku seperti ini, walau ku tahu ia sangat membenci apa yang sudah mereka lakukan padaku, tapi ia sanggup menahannya karena tak ingin diriku mengingatnya lagi, kebahagiaan kembali melandaku, tak ada sedetikpun waktu terlewat kecuali senyuman yang terus kuberikan untuknya,

Setelah dirasa cukup, kami saling mengeringkan diri dengan handuk yang telah disiapkan olehnya, selayaknya anak kecil, andi mengandukiku dengan penuh perhatian, tidak ada celah yang tidak ia sentuh dengan handuk miliknya,

“mayy aku ke kamar sebentar yah mau ngambil pakaian istriku”

“gak usah ndi, cukup gini aja, gapapa kan?”

Andi tersenyum, selayaknya pengantin baru, kami berjalan bersama tanpa mengenakan sehelai kainpun menuju kamarnya, tak terasa jam sudah menunjukan pukul dua kurang 10 menit, tak kusangka kamarnya begitu rapih daripada sebelumnya, atau mungkin ia sengaja menyiapkannya ketika tau diriku ingin menginap disini,

Andi dengan telaten merapihkan ranjang yang akan kami gunakan untuk tidur bersama, aku melihat ruangan ini sejenak dan aku menemukan sisir yang berada di dekat cermin pribadinya, mungkin istrinya sering menggunakan cermin ini untuk berdandan, aku segera menyisir rambutku dan membuatnya terlihat secantik mungkin,

“ndiiiii” sapaku

“iyya mayy” jawabnya kagum setelah melihat kecantikanku,

“ada yang mau aku omongin”

“apa itu may ?”

Aku segera merangkul lehernya dan memberikan kecupan yang sangat membekas di bibirnya, aku tak tahu kenapa aku bisa seberani ini, rasanya aku tak tahan untuk mencumbuinya dengan bibir tipisku, kupejamkan mataku dan kurasakan bibir atasku memagut bibir bawahnya, dengan penuh nafsu aku melumat bibirnya dan menghisapnya dengan kuat, aku membuka mataku dan menatap matanya dengan penuh cinta,

“terima kasih ndi untuk semuanya”

Andi hanya tersenyum, ia membalas tatapanku dengan penuh arti, ia membelai rambut panjangku dan menyisirkan rambutku ke belakang telingaku, tangannya mulai bergerak untuk meremas payudaraku,

“aaaduuhhhh”

“maaf mayyy, sakittt”

“hehe, aku masih lelah ndi maaf”

“gapapa mayy, aku yang salah”

“engga, aku faham kok, aku kasih oral aja yah”

Aku berjongkok menatap penisnya yang sungguh indah dihadapan mataku, sungguh besar, kekar dan tegak menggoda, andi menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang, tanganku bergerak dan mengurut penisnya, mulutku terbuka dan memasukan penisnya yang besar ke dalamnya, aku menghisapnya dan menariknya ke atas,

“ahhhhhhhhhh, mayyyy”

Bibirku menyentuh kepala penisnya, aku tersenyum sambil menatapnya, lidahnya ku keluarkan dan menjilati lubang kencingnya, barulah kembali kumasukan ke dalam mulutku dan menariknya ke atas dengan bibirku, jemariku bergerak untuk memainkan biji salaknya, aku tersenyum puas ketika mendengar suara desahannya,

Kepalaku bergerak naik turun dengan sangat cepat, liurku telah membasahi penisnya, nafsuku bangkit, aku semakin bersemangat dalam mengulum penis besarnya,

“Ahhhhhh mayyyaaaaa”

Aku menggenggam penisnya, lidahku keluar menjilati sisi bawahnya, sapuan lidahku telah membuatnya menggila, kurasakan penisnya semakin berkedut hanya dengan jilatanku saja, aku kembali memasukannya ke dalam mulutku, nikmat sekali , entah kenapa perasaan hambar yang berada di mulutku telah membangkitkan nafsuku, aku semakin cepat menaik turunkan mulutku membuat Andi semakin blingsatan dibuatnya,

“Ahhhhh mayyaaa, ahhhhh , ahhhhhhhhhhhh”

Andi menahan kepalaku ketika penisnya menyemprotkan sperma yang cukup banyak di mulutku, aku memejamkan mata membiarkan spermanya mengisi ruang di mulutku, rasanya sangat beragam terkadang ada rasa asin terkadang ada rasa pahitnya,

Andi meminta maaf kepadaku karena telah menahan kepalaku, aku tersenyum dan mengatakan ‘tak apa’, itu wajar juga bagiku, andi memberikanku tisu untuk memuntahkan sperma yang telah ia berikan di mulutku, namun aku lebih memilih menelannya yang membuat Andi tak menyangka dengan perbuatan yang baru kulakukan,

Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi, aku segera terpejam di dalam pelukannya, rasanya sangat nyaman sekali ketika harus tidur diatas ranjang yang sama didalam selimut yang sama dengan pria yang telah merenggut hatiku, aku tersenyum dan berharap kejadian ini bisa kurasakan bersamanya untuk selamanya,

Setelah yakin diriku sudah terlelap dalam pelukannya, Andi menatapku dengan penuh perhatian, ia memberikanku kecupan dan mengasihani diriku yang sudah menerima hal – hal buruk dari mereka,

“sungguh malang dirimu mayy, bersabarlah sebentar lagi kesedihanmu akan menghilang, aku yakin itu”

~to be continued~