Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 18

Malam Kelabu​

Kantor x, pukul 17.00 wib

Langkahnya goyah namun ia terus berusaha untuk berjalan menuju ke tempat yang ingin ia tuju, sambil bertumpu pada dinding kantornya ia terus maju tak memperdulikan rasa perih yang ia rasakan di bokongnya,

Beberapa lampu telah dinyalakan dan keadaan di luar sana mulai gelap, sambil memegangi sisi belakangnya ia mengingat kejadian yang membuatnya merasa ngilu seharian ini,

10 Jam sebelumnya,

POV Maya

“Ada apa tuan memanggilku di pagi hari? Apalagi yang tuan inginkan dariku? ”

“haha jangan suudzon gitu dong sayang, kita cuma kangen aja, iya kan gus?”

“hahaha bener banget, apalagi kita sudah cukup lama bekerja sama ”

‘kerja sama apanya? yang ada kalian hanya menyiksaku dari segi lahir dan batin’ batinku

“kita cuma mau memberi hadiah doang kok, lihat ini…. ”

Ujang mengambil sesuatu dari kantung yang berada di celananya, Aku memandangnya heran, benda apa itu? baru pertama kali ini melihatnya? dari bentuknya itu seperti dot bayi tapi sepertinya terbuat dari logam,

Sementara aku yang sedang bertanya – tanya di dalam hatiku, Agus bangkit dari tempat duduknya dan mendatangiku, aku tau apa yang hendak ia lakukan padaku, pasti tak akan jauh – jauh dari hal itu,

Benar saja, Agus datang dan memajukan bibirnya padaku, mau tak mau terpaksa aku harus melakukannya, mataku memejam dan membiarkan cecunguk ini memainkan lidahnya di mulutku, kurasakan berulang kali Agus mengirimkan ludahnya ke mulutku, jijik? tidak juga , kebiasaan buruk yang telah mereka lakukan telah membuatku terbiasa,

“uuhhhmnnnn”

Payudaraku diremas olehnya, dengan kasar ia melakukannya dari luar kemejaku, nafasku jadi memburu, aku benci ketika berada di situasi seperti ini, aku begitu menikmati rangsangan nya tapi aku tak mau mengakuinya, aku tak ingin membiarkan mereka puas setelah melecehkan ku seperti ini, tapi kenikmatan ini, aku tak mampu menahannya, mulutku sepenuhnya terbuka ketika dua payudaraku diremas secara bersamaan,

“ahhhhhhhhh”

Darahku berdesir dan mengalir ke seluruh tubuhku, aku merinding, ia begitu jago dalam menaklukanku seperti ini, ia membuka kancing kemejaku satu persatu, terutama bagian atas belahan dadaku yang terbalut oleh bra berwarna biru terlihat, terpaksa aku menggigit bibir bawah ku untuk menahan kenikmatan ini, Agus dengan lihainya menjilati dan mencumbui dadaku,

Ujang yang sedari tadi menonton mulai mendekatiku, ia tersenyum puas setelah melihatku pasrah seperti ini, akupun menatapnya sayu, menanti langkah apa yang akan ia lakukan di tubuhku ini,.

“ehhmmmm tuaannn cukup hentikannn”

Kesadaranku mulai kembali, aku tak ingin menikmatinya, aku tak ingin dipermainkan oleh kedua begundal ini, aku mencoba bangkit, aku mencoba menghapus rasa nikmat ini,

tapi.,

“ahhhhhhhhh”

Ujang membuka kancing ku lagi dan mengeluarkan kedua payudaraku yang sudah tak tertutupi apapun, cup braku telah turun menampakan puting berwarna merah mudaku, mereka mulai menyusu dan menggigit putingku ini, masing – masing dapat satu,

“ehhmmmnn, ehmmmmm ahhhhhhh”

Aku tak tahan lagi untuk mendesah, kesabaranku habis, aku tak sanggup lagi untuk menahan kenikmatan ini, lidahnya menjilati putingku, gigitannya terasa hingga bulu kuduk ku merinding, tak terasa cairan cintaku telah mengisi ruang di dalam vaginaku,

Celanaku mulai diturunkan olehnya, begitu juga dengan celana dalamku, jemari ujang mulai hadir menemani vaginaku, aku mendesah ketika jemarinya menyentuh vaginaku yang sudah sangat basah, tangannya naik turun, turun naik, naik turun, mataku terpejam merasakannya,

Agus bangkit setelah puas menyusu pada payudaraku, ia mendekati mulutku dan mencumbui ku dengan penuh nafsu, tangannya pun tak pernah lepas dari payudaraku, remasannya begitu nikmat, payudaraku yang besar ini dirangsang secara terus menerus,

Matanya memejam ketika lidahnya masuk menerobos mulutku, bibirku dipagutnya, ia sangat menikmati tiap detik yang ia lakukan ketika mencumbui bibirku, aku ikut terpejam membiarkannya melakukan hal yang ia mau pada bibirku,

Ujang juga beralih dari payudaraku, ia mulai berjongkok dan menjilati vaginaku, seperti orang yang kehausan ia menyeruput cairan cintaku dengan penuh nikmat, selayaknya jemarinya kini lidahnya yang bergerak naik turun, turun naik, atas bawah, bawah atas terkadang ia juga melakukan gerakan memutar agar seluruh dinding vaginaku terkena jilatannya,.

“ehhmmmm tuaannnnn”

Nafsuku sudah memuncak, kesadaranku mulai menghilang, ingin rasanya untuk menendang mereka berdua tapi otakku berkata jangan, nikmati saja dulu, lagipula enak juga kan?

Konflik batin hadir dalam benakku, ingin menolak tapi rasanya enak, semua ini telah membuatku bingung, aku telah terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam, akan sulit rasanya untuk bisa kembali ke posisi semula dimana sex merupakan sesuatu yang tabu untuk kulakukan,

“ahhhhhhhh”

Aku terkejut ketika ujang mengincar sisi belakangku, apa yang ada dibenaknya? apakah ia tak merasa jijik sama sekali? Ujang memintaku untuk menungging sehingga ia lebih mudah menjilati anusku,

“ahhhhhh, tuannn apa yang tuan lakukan, ahhhhh”

Jilatan nya semakin terasa menembus anusku, sementara Agus mulai mengeluarkan penisnya dan memasukannya ke dalam mulutku,

“ehhmmmmmmmm”

Aku terdiam mendesah dengan ukuran penisnya yang menyumpal mulutku, ingin berteriak tapi suaraku tak sampai, kurasakan jarinya mulai masuk ke dalam anusku, nafasku naik, aku merasakan sakit disana, jari tengahnya mulai mendorong masuk menggesek dinding anusku,

Ingin mendesah tapi mulutku tersumpal, sama seperti Ujang, Agus tak memperdulikanku, ia hanya menikmati penisnya yang sedang berada di dalam mulutku, payudaraku menggantung bebas keluar dari dalam kemejaku,

“hahhhh ahhhhh ahhhhhh” desah Agus,

Agus menikmati oralku, desahannya begitu keras memenuhi ruangan, ia mulai membuka satu persatu kancing seragam satpamnya, sepertinya nafsu sudah menguasainya, ia tak kuasa tuk menahan situasi panas yang sedang ia rasakan di ruangan ini,

“uuhhhmmmmmmm”

Perihhh, perih sekali rasanya, entah apa yang terjadi di belakang sana, sepertinya dua jari telah masuk ke dalam anusku, aku mulai meringis kesakitan, ingin rasanya untuk menangis, dua jari itu terus saja menggesek anusku seolah ia ingin melebarkannya,

Dan benar saja, kuintip pak Ujang sudah mulai berdiri sambil memegangi penisnya, akankah ia memasukannya kesana?

Aku berusaha berontak agar pak Ujang tak memasukannya, tapi Agus menahanku sehingga kurasakan penisnya semakin dalam menusuk tenggorokanku,

“ehhmmmmmmmm”

Ujang mulai menempelkan penisnya di bibir anusku, ia begitu menikmatinya walau belum memasukannya, berulang kali penisnya ia dorong untuk menerobos sekaligus membuka pintu gerbang terlarang,

“ehhmmmm”

Namun semua usahanya sia – sia, lubang anusku masihlah sangat sempit, ia tak bisa memasukannya walau hanya satu senti, aku beruntung karenanya, atau mungkin tidak? Ujang tak patah semangat, ia terus menekan penisnya agar masuk ke dalam anusku,

“uhhhhhhhhmmmmmm”

Aku nyaris berteriak karena rasa perihnya, baru kali ini kurasakan siksaan ini dalam setiap pergumulan ku, mataku sudah berkaca – kaca menahan rasa sakit ini, perlahan penisnya mulai memasuki anusku, sedikit demi sedikit,

“toollooonggg tuannn, hentikannn, sakkkiitttt”

Berulang kali aku memohon untuk memintanya berhenti menyakiti lubang kotoranku, tapi rintihanku sama sekali tak didengar olehnya, tidak ada istirahat dan tidak ada rasa belas kasih sama sekali, aku pun menangis karena tak tahan lagi, rasa perih ini sangatlah menyakitiku,

Ujang hanya tersenyum puas ketika penisnya berhasil di cekik oleh anusku, tak peduli dengan rintihanku yang semakin keras ia terus saja berupaya untuk mendorongnya hingga akhirnya ia berhasil memasuki anusku,

Wajahku sembap, air mata telah membasahi pipiku, aku tak sanggup lagi menahan rasa sakit ini, Agus pun mengalah, ia melepas penis dari mulutku dan membiarkan Ujang menegakkanku agar tangannya bisa memainkan payudaraku,

Dalam posisi berdiri membelakanginya, payudaraku dimainkan olehnya, rintihan tangis masih terdengar dari mulutku, Ujang memintaku untuk mencumbuinya, aku menangis sambil dicumbui olehnya,

Rasa perih di anusku yang masih tersumpal olehnya perlahan terlupakan karena cumbuan yang ia berikan di mulutku, remasannya yang kali ini begitu pelan membuatku merinding merasakan kenikmatannya, jemari lainnya bergerak kearah vaginaku, aku merasakan geli ketika jemarinya mulai membelah bibir vaginaku,

Perlahan birahiku kembali naik ketika dirangsang olehnya, jemarinya mengaduk – ngasuk isi yang berada di dalam vaginaku, tak kusangka aku akan merasakan kenikmatan yang tak terkira ini, lubang belakangku yang masih tersumpal serta lubang depanku yang terus dirangsang oleh jemarinya membuatku tak tahan lagi,

“aaahhhhhhhh”

Sesuatu begitu deras mengucur dari dalam vaginaku, tubuhku berulang kali mengejang merasakan nikmatnya orgasme di pagi hari, tubuhku lemas, aku sungguh malu ketika mendapatkan orgasme dalam situasi seperti ini,

Apalagi ketika kusadari bahwa Agus telah merekam ku sedari tadi, kurang ajar memang, tapi diriku begitu lemas sehingga tak mampu untuk membalas perbuatan mereka,

“ahhhhhhhh”

Ujang telah memulai pergerakannya, pinggulnya ia gerakan sehingga penisnya yang berada di dalam anusku mulai bergerak,

Aku yang masih berada dalam pelukannya kembali merasakan perih, namun jemarinya yang memilin putingku membuatku merasakan dua sensasi yang berbeda, sensasi perih di anusku dan sensasi nikmat di dadaku,

“ahhh ahhhhhh”

Ia menaikan temponya, payudaraku pun terguncang, mataku kupejamkan menahan rasa sakit yang semakin kurasakan ini, aku meringis kesakitan menahan agar tak bersuara setelah kudengar beberapa orang telah tiba di kantor pagi ini,

‘jam berapa ini?’ batinku bertanya – tanya,

Kudengar beberapa langkah orang telah lewat diluar ruangan ini, akan sangat gawat apabila diriku mengeluarkan suara yang mencurigakan, tapi aku tak bisa menahannya, entah kenapa rasa sakit yang tadi kurasakan mulai berubah, cairan yang mengisi anusku membuatku merasakan nikmatnya gaya terlarang,

Desahan perih yang tadi kurasakan berubah menjadi desahan nikmat, tubuhku sudah tak dipeluk lagi olehnya membuatku harus bertumpu pada dinding ruangan yang berada di lantai satu ini,

“ahhhhhhh ahhhhhhhh”

Payudaraku semakin berguncang, rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, Agus yang sedari tadi merekam ku juga tak tahan, tangannya terus memijit penisnya sambil merekamku dengan HP barunya,

“ahhhh ahhhh ahhhhhhhhh siap yahh”

Ujang berbisik bisik di telingaku, ia sepertinya sudah tak sanggup menahan sempitnya lubang kotoranku, tangannya menggenggam erat pinggang ramping ku, temponya semakin naik, tubuhku semakin terguncang, payudaraku bergerak cepat suaraku tak sanggup aku tahan lagi,

“ahhhh ahhhhh ahhhhh tuannnnn”

Aku sudah tak peduli apabila ada seseorang yang mendengar di luar sana, aku hanya tak mampu menahannya, sensasi ini, rasa nikmat ini,

“ahhhhhhh mampuussss luuu”

Tubuhku tersentak ketika Ujang membenamkan penisnya hingga payudaraku menempel di dinding ruangan, aku meringis memejam merasakan anusku disirami olehnya,

Kemejaku telah lecek dan hijabku berantakan hingga sebagian rambutku terlihat,

“hahahahha, kesampean juga ngerasain boolnya”

Ujang tertawa dengan sangat bangga, ia mencabut penisnya yang telah diselimuti cairan spermanya dan berulang kali menggeseknya di bongkahan pantatku,

“eehhnmmnmnn”

Aku merintih nikmat ketika spermanya mengalir dari lubang anusku, kesadaranku kembali, tawa mereka terdengar cukup keras setelah berhasil melecehkan wanita seperti diriku,

Tak lama lagi aku akan melangsungkan akad bersama pria yang telah memilihku, tapi apakah aku layak untuk dipilih olehnya ? diriku sudah sangat kotor, semua lubangku pernah diisi oleh beberapa penis orang lain, terkadang aku merasa sedih membayangkan apabila calon suamiku tahu, aku merenungi nasibku ini, untuk saat ini saja aku tak mampu membayangkan wajah mas Aziz yang tersenyum, aku merasa bersalah, sangat bersalah.

Diriku menyesal karena tak mampu menjaga tubuhku, aku memang tak memiliki kuasa ketika harus dipaksa seperti ini tapi bagaimana dengan kasus Andi? justru aku yang telah menyerahkan diriku sendiri, aku sungguh hina, aku sungguh kotor,

Ujang yang kelelahan berganti posisi dengan Agus, satu persatu pakaianku dilucuti olehnya, aku menatap beberapa tumpukan pakaianku yang berserakan di lantai, memalukan apabila harus bertelanjang bulat didepan dua lelaki yang sering ‘memakai’ ku seperti ini,

Aku semakin sedih karena pakaian tertutup ku saja tak mampu untuk melindungiku dari nafsu para lelaki, Agus meremasi payudaraku dari belakang, darahku kembali berdesir, kenikmatan kembali datang mengikuti diriku, Apalah diriku saat ini? Aku pun bingung, Siapa sebenarnya diriku yang sekarang? Aku begitu mudah untuk dinikmati oleh berbagai lelaki, Masih layakkah diriku mengatakan bahwa aku adalah wanita alim yang pernah memenangkan kontes kecantikan saat di kampus dulu?

Mungkin tidak, andai mereka tahu bahwa aku seperti ini, mungkin mereka akan menyebutku sebagai pelacur berhijab.

“ahhhhhh ahhhhh ahhhhhh” desahku ketika agus menggerakan pinggulnya,

***​

Matanya kagum melihat indahnya bintang yang bertebaran di angkasa, berulang kali wanita manis ini menengok ke kanan dan ke kiri melihat penuhnya orang – orang yang memadati stasiun, suasana ibu kota yang kembali dirundung PSBB membuat mereka berfikir akan lebih indah apabila berlibur ke desa daripada harus menetap di rumah selama berhari – hari,

Ia berjalan dengan langkah anggun sambil mendekap mesra tangan suaminya, berulang kali wajahnya menukar senyum dengan lelaki yang sangat ia cintai ini, wajahnya memancarkan kebahagiaan ketika bisa berjalan bersama dibawah cerahnya cahaya lampu,

Ia terkejut ketika ada suara kereta yang begitu keras lewat disampingnya, suaminya tertawa setelah melihat aksi lucu dari wanita tersebut, dengan gerakan perlahan sang suami mencubit istrinya sambil berkata :

“kamu menggemaskan banget mi”

Wajahnya memerah setelah dipuji oleh kekasih halalnya, sambil duduk menunggu kepalanya ia sandarkan pada pundak sang suami, nyaman sekali rasanya, ia memejamkan matanya dan mengenang masa – masa indah yang telah dilalui bersama, setelahnya, ia merasakan tangan sang suami yang sedang menggenggam erat,

“sssttt mi, jangan tidur, keretanya mau datang sebentar lagi”

“ihhh siapa yang tidur,”

“Itu merem hayooo”

“gakk yah, dasar nyebelin”

Mereka saling tertawa setelah saling menggoda dengan satu sama lain, kecupan pun mendarat pada dahi sang istri, wanita tersebut tersenyum, dirasakannya cinta yang amat dalam pada kecupan yang telah ia terima,

“aku mencintaimu sayang”

“aku juga mencintaimu”

Suasana romantis tersaji di sebuah stasiun memperlihatkan adegan sepasang suami – istri yang tengah menunggu kedatangan kereta yang telah ia pesan, terkadang kalau sudah halal segalanya akan terasa indah tak peduli dimanapun kita berada dan tak peduli bagaimana pun kondisinya,

sepasang cinta yang telah tertanam oleh bibit yang sudah lama dijaga akan menghasilkan buah keromantisan yang sangat manis, itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh mereka berdua, atau mungkin hanya salah satu dari keduanya, karena sang istri masih menyimpan kegelisahan akibat keteledorannya dalam menjaga bibit cinta yang didapat dari suaminya,

Fikirannya masih terganggu oleh dosa yang telah ia lakukan dibelakang suaminya, kekhawatiran terus melanda hatinya membayangkannya akan menaiki kereta bersama seseorang yang telah mengajaknya jatuh bersama di lembah kenikmatan yang fana,

“biii, keretanya tiba jam berapa ?”

“jam Sembilan mi, ada satu jam lagi”

“kalau gitu umi tidur sebentar yah”

“yaudah, nanti abi jagain kok”

Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa ia akan bergadang malam ini, ia pun memilih tidur untuk mengistirahatkan fikirannya yang kelelahan akibat gejolak batin yang terus menderanya,

“nikmati aja dulu mesra – mesranya dek, karena sebentar lagi, kita akan menghabiskan malam bersama”

Lelaki berkulit hitam ini berkata dalam diam sambil menatap ayu wajah wanita cantik tersebut, ia tersenyum puas karena sebentar lagi fantasi yang telah lama ia pendam akan segera terlaksana,

akibat terlalu banyak menonton film porno membuat lelaki bertubuh kekar ini membayangkan sesuatu yang menurutnya sulit terjadi, tapi siapa sangka bahwa rezeki datang kearahnya, bermula dengan tak kesengajaan dirinya yang memergok tetangganya berjalan tanpa busana di jalanan membuatnya mampu untuk menidurinya kapanpun dan dimanapun ia mau,

“semua hanya karena ini” ujarnya sambil mengelus torpedonya,

Ia berjalan menuju ke arah sepasang suami istri tersebut, di tangannya memegang tiga botol kopi instan yang dibelinya di kantin, sambil tersenyum ia berkata pada sang suami yang telah mengratiskannya tiket untuk pergi menuju kampung halamannya,

“ehh pak manto darimana aja”

“hahaha ini pak Hendra ada kopi biar kalian bisa terjaga sambil nunggu kereta”

“wahh gak usah loh pak, jadi gak enak sayanya”

“justru saya pak Hendra yang gak enak karena udah digratisin hehe”

“haha gak masalah, lagipula tujuan kita sama kok”

“haha terima kasih banyak pak”

‘terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk menyicip istrinya di kereta ini’ batinnya sambil memandang mesum wanita yang tengah tertidur dengan pulas,

***​

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, suasana kantor sudah sangat gelap, lampu – lampu sudah dimatikan, tak ada sedikitpun suara yang terdengar diseluruh penjuru ruangan, tempat parkir sudah sepi ditinggalkan kendaraan yang pagi tadi memenuhinya, akan tetapi masih tersisa satu motor yang berada di sudut tempat,

Dari ratusan ruangan yang berada di kantor sebesar ini, ada satu ruangan dengan lampu yang masih menyala, ruangan yang berada di lantai satu dekat tempat parkir tersebut masih dipenuhi orang – orang yang sedang melakukan sesuatu,

Seorang wanita yang sudah tak mengenakan pakaian apapun lagi tengah menungging dengan penis besar yang tengah menusuk vaginanya, kulitnya sudah tak semulus pagi tadi, debu dan kotoran telah mengotori tubuhnya, wajahnya tampak memelas dengan ikatan rantai yang membelenggu lehernya,

Warna hijabnya sudah berubah menjadi kecoklatan, ia memejamkan matanya memohon agar ia dibebaskan dari derita yang ia alami selama dua jam kebelakang ini, vaginanya telah penuh oleh sodokan orang yang berkali – kali mengoreknya, entah berapa kali siraman sperma yang ia rasakan didalamnya, sambil memegangi belenggunya ia terus memohon agar berhenti melecehi dirinya,

POV Maya

“aaaahhhhhh hentiikkaannn, hentikkannnnn ahhhhh”

“ahhhh ahhh diem dasar lonte”

Tamparan keras telah mengenai kulit bokongku, terlihat warnanya sudah berganti dari putih ke merah, lelaki bertubuh kurus itu tanpa ampun menghujami vaginaku dengan segenap nafsunya, payudaraku yang sudah menegang keras diremasnya tanpa ampun, tiap detik waktu yang kulalui hanya mampu kugunakan untuk menahan dan menahan rasa sakit serta perih yang kurasakan diseluruh tubuhku,

Ujang berkali – kali menghela nafasnya, rasa nikmat yang telah menjepit penisnya membuatnya tak pernah merasa bosan untuk terus menerus menerjang vagina sempit milikku, ia memegangi bongkahan pantatku yang masih menungging, ia mencengkramnya sambil menghentakannya keras berkali – kali,

“ahhhhhh ahhhhh tuannnnnn, ahhhhhhhhh”

Aku semakin keras untuk mendesah, hentakannya semakin keras menusuk rahimku, aku pasrah membiarkannya melecehkanku selama seharian ini, untuk kesekian kalinya gelombang orgasme kembali hadir dan akan meledak sebentar lagi,

Begitu pula dengan lelaki kerempeng ini, tangannya mengusap – ngusap bongkahan pantatku, berjam – jam sudah dirinya menikmati tubuhku secara bergantian dengan Agus, sudah waktunya baginya untuk menuntaskan hasrat yang telah lama terpendam,

Ia menarik rantai yang membelengguku membuat tubuhku tertarik ke belakang, aku memegangi rantainya karena leherku merasa tercekik, hujamannya semakin keras mengisi ruang di vaginaku,

Aku tak sanggup lagi, aku sangat kelelahan, aku ingin beristirahat untuk merilekskan tubuhku,

“ahhhh ahhhh ahhhhhh”

Desahan kami saling beradu, kami sudah diambang batas, rasa lelah ini membuatku nyaris pingsan, tiba – tiba kurasakan orgasme mulai mengucur dari dalam vaginaku,

Cairan cintaku membuat penis Ujang begitu lancar menerjangnya, ia semakin menaikan temponya, payudaraku semakin terguncang, desahan ku terus terdengar meski suaraku sudah hampir habis,

“ahhhhh ahhhh ahhhhhh” desah kami secara bersamaan,

Rantai yang membelenggu leherku di lepas olehnya, tubuhku ambruk, tenagaku benar benar habis, tubuhku tak bisa kugerakan lagi, aku sangat kelelahan karena harus memuaskan nafsu hewaninya, vaginaku kembali dipenuhi oleh campuran cairan kami, aku sudah tak memikirkannya lagi, tapi semoga saja tidak, aku tak ingin dihamili oleh lelaki tak beradab sepertinya, akan jadi apa kalau anakku berasal dari tetes spermanya,

“ahhhhhhhhh”

Ujang melepaskan benda yang selama ini menyumpal anusku, aku tak tau apa fungsinya tapi kurasakan anusku semakin lebar karenanya, itukah fungsinya?

“Gimana rasanya seharian ?”

“hahhhhh, hahhh, perrriiyh tuann”

“itu belum seberapa”

Aku tak tahu apa maksudnya, yang jelas aku ingin segera pulang, aku ingin mandi membersihkan tubuh kotorku ini, aku ingin tidur nyenyak walau seharian aku harus menerima sikap buruk dari mereka,

“masukkk”

“hehehe, apa sudah waktunya bagi saya untuk beraksi? ”

Aku terkejut ketika ada orang lain yang masuk ke ruangan ini, dengan susah payah aku menggerakan wajahku untuk menengok siapa gerangan yang diizinkan pak Ujang untuk kemari,

“apa?, bukankah orang itu?”

Teringat dengan pelamar yang marah – marah karena lamarannya kutolak, ia sudah datang dengan tubuh polosnya, tubuhnya sangat buruk, tidak kekar tidak indah, hanya tulang saja yang dibalut dengan kulit keriputnya, bisa dibilang ia mirip dengan ujang yang sudah lama menyuburkan vaginaku dengan spermanya,

“hehe emang kira mbak bisa seenaknya nolak lamaran saya untuk kerja disini?”

Lelaki tersebut tampak bernafsu sambil berjalan ke arahku, aku sangat ketakutan, aku tak mau lagi harus melayani mereka, aku merangkak mundur sebisa mungkin untuk menjauhinya,

Namun lelaki bernama Kasto memegangi rantai yang membelengguku, aku tak bisa kabur, aku sangat takut dibuatnya,

“maaf pakkk, tolongg lepaskan akuuuu”

“enak aja setelah apa yang mbak perbuat pada saya? mustahil!!!!”

Kasto memintaku menungging, penisnya ia kocokan sambil menatap lubang mana yang ingin ia masuki dulu, terlihat lubang vaginaku yang sudah sangat basah begitu menggodanya atau lubang anusku yang berkedut – kedut seolah memanggilnya untuk dimasuki olehnya,

“hahahahah” tawa Kasto

“ahhhhhhhhhhhhh”

Tanpa ampun Kasto membenamkan penisnya ke dalam anusku, aku menahan nafasku merasakan sakit yang ku rasakan di dalamnya, tanpa adanya cairan yang menstimulasi penetrasinya membuatku hanya merasakan rasa sakit,

Ia menggerakan pinggulnya maju mundur menghujami anusku, ia sangat puas karena bisa membalaskan dendamnya, tak apa karena harus tertolak bekerja disini setidaknya ia cukup puas karena berhasil menikmati tubuh indahku,

“ahhh tolloonggg, hentikkaannn”

Tanpa ampun Kasto terus menghujaminya, aku merasakan hal aneh, pandanganku tampak kabur, aku tak mampu melihat dengan jelas lagi, berulang kali mataku berkedip namun masih saja, aku tak mampu memaksimalkan pandanganku ini,

Sambil terus dihujami oleh Kasto, aku menatap pak Ujang dan pak Agus yang tampak berdiskusi, telepon terpasang di telinga pak Ujang, apakah ia sedang ditelepon seseorang? sebisa mungkin aku mencoba mendengarkan apa yang sedang ia bicarakan,

“halo, gimana do?”

Diriku mencoba fokus mendengarkan pembicaraan mereka, namun rasa sakit yang Kasto berikan di anusku membuatku kesakitan,

“apa bos bilang gitu? oke nanti gue coba percepat lagi”

Wajah pak Ujang terlihat serius setelah mendapatkan kabar dari temannya,

‘bos?’ batinku bertanya,

“ahhhhh ahhhhhh pakkk hentikkannn”

Sakit sekali rasanya, mereka sungguh kejam tak memberikanku waktu jeda sama sekali,

“ohh yah aldo, sampaikan ke bos, sebentar lagi miss M akan segera bergabung”

Aku sudah tak sanggup menahannya lagi, rasa perih ini, rasa lelah ini, lapar dan haus, pandanganku semakin kabur, anehnya tak berselang lama aku tak mampu mendengar pembicaraan mereka lagi, kurasakan Kasto telah menuntaskan hasratnya, anusku terisi oleh cairan spermanya, aku tergeletak di lantai yang kotor ini dengan berbaring ke samping, kini semua sangat gelap, sebelum semua benar benar gelap ada satu nama yang teringat dari pembicaraan mereka,

‘aldo? sepertinya aku pernah mendengar namanya’ batinku,

~to be continued