Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Sisi Liar Dalam Diriku Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 17

Malam penuh Berkah

Gemericik air turun membasahi tubuh ayunya, rasa dingin yang ditimbulkan dari air tersebut tak dipedulikan, matanya terpejam dan fikirannya kosong. Dalam benaknya ia mengingat segala dosa yang sudah ia perbuat dibelakang suaminya, ia bermuhasabah diri,

“Huffttttttt”

Kenapa segala hal yang sudah direncanakan olehnya selalu berakhir dengan kegagalan, lima hari sudah berlalu semenjak ambisinya dibangun untuk meninggalkan segala kesalahan yang pernah dibuatnya, hasilnya ? dari lima hari tersebut hanya dua hari yang berhasil ia jaga, itupun terbantu karena adanya jadwal reuni yang mengharuskan dirinya tidak berada di rumah,

Ia mengusap rambutnya kebelakang dalam basuhan shower yang menyala, tampak kedua buah dadanya yang menggantung, sebuah aset yang membanggakan tentunya karena memiliki sepasang buah dada yang besar, namun apakah ini aset yang menguntungkan ? atau justru merugikan ?

Tangannya mengambil sebuah botol berisikan sabun cair yang baru diisi sore tadi, dengan perlahan ia mengusapnya meliputi seluruh tubuhnya, tak terkecuali dengan buah dada yang berulang kali ‘tersenggol’ itu,

“hheemmmpphh”

Desahan tak dapat dihindarkan olehnya, bagaimana bisa mendesah hanya karena menyabuni diri sendiri ? tentu tidak, ada sebuah rencana yang sedang difikirkan olehnya yang membuat dirinya mendesah seperti itu,

Sebuah rencana untuk membuka lembaran baru, lembaran yang nantinya akan diisi oleh coretan indah hanya bersama suaminya saja,

Ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya yang molek, sambil bersenandung ia bercermin untuk menjalankan aksinya, ia tersenyum dan wajahnya tampak percaya diri, ia mengikat sebagian rambutnya yang tak begitu panjang itu dengan ikat rambut scrunchie yang telah ia siapkan,

Ia membuka pintu kamar mandi dan matanya fokus menatap suaminya yang sedang bersantai di ruang tamu,

Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, agak dingin rasanya tapi apapun akan dilakukannya untuk memuluskan rencananya termasuk berjalan telanjang laksana sebuah model yang melangkah di jalur catwalk nya,

Ia tersenyum melihat suaminya yang sedang penat di depan layar laptopnya, dengan perlahan ia merangkul sang suami dan menatapnya dengan penuh perhatian,

POV Firda

“sayanggg” ucapku sambil tersenyum manis,

Bak disambar petir di malam bolong, sang suami terkejut bukan main, siapa yang mengira bahwa istrinya akan melakukan hal ini, dihadapannya tersaji sebuah senyuman yang begitu manis dengan dua buah gunung kembar yang bebas ia apakan sesukanya,

“umiiii, apa yanggg …..” fikirannya kosong, ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun, ia terkejut sekaligus senang,

“abiii capekk kan, jangan dipaksakan gitu, istirahat sebentar yahhh” ucapku memberikannya perhatian,

“Tapiii yanggg, tapii miiii, tta-taa-taapppp” ucapannya begitu tergagap setelah melihat kulit mulus yang berada di hadapannya,

“jangan gugup gitu dong biii, kita udah lama nikah lohh” ucapku sambil menuntun tangannya kearah buah dadaku,

“hhahhhh, hhhaaaahhh” nafasnya mulai memburu, jantungnya mulai berdebar kencang tatkala berhasil menyentuh buah dadaku ini,

“kenapa bii?” tanyaku memancingnya,

“enggaakkk inii, iniiii, kamu cantik banget mi malam ini :rose: “ ungkapnya yang membuatku tersenyum,

“makasih biii, ini natural loh baru selesai mandi” ucapku,

“benneerrannn, wahhhhh” jawabnya terkejut bukan main, ia masih tak menyangka setelah melihat keadaanku di ruang tamu ini,

“hihihi abiii nihhh, aku milikmu selamanya, abi bebas loh ngelakukan apapun ke umi, oh yah, enaknya ngapain yahhh, mulai panas nih disini” ucapku memberikan kode,

Mas Hendra mulai bereaksi, tangannya mulai meremasi kedua buah dadaku, sambil menatap mataku kedua tangannya tanpa henti merangsang dan memainkan payudaraku yang telah matang dan siap untuk dipetik kapan saja,

“eehhhmmmm abiiii” desahku,

“sayannggg, kamu kok menggoda bangett sihhhh” ucapnya yang masih tak percaya,

“istri terbaik kan yang berani menggoda suaminya dulu” jawabku sambil tersenyum,

“umiii benar, umi adalah istri abi yang paling cantikk dan menggoda” jawabnya sambil mencumbuiku,

“eehhmm, uhhmmmmm” desahku,

Aku tersenyum dalam hati merasakan sentuhan bibir yang ia berikan padaku, aku senang, aku bangga karena godaanku berhasil membuatnya bernafsu padaku, bibirnya menyentuh bibirku, ia bahkan menggigit pelan yang membuat nafsuku perlahan semakin bangkit,

Hawa dingin yang kurasakan di ruang tamu ini serta keadaanku yang tengah telanjang semakin merangsang tubuhku, aku memejamkan mata menikmati semua sentuhan yang ia berikan untukku, lidahnya mulai menerobos masuk laksana tombak yang telah menerjang, kurasakan lidahnya menari – nari di dalam mulutku untuk menemukan pasangannya, ia pun menemukannya, lidah kami saling berdansa ditengah hembusan birahi yang tak dapat dibendung lagi,

Tangannya memegangi wajahku, ia benar – benar ingin memilikiku seutuhnya, kurasakan cinta disetiap cumbuannya di bibirku, aku pasrah, aku membiarkannya memainkan tubuhku, aku laksana boneka yang bebas ia lakukan apapun, sebuah boneka montok telanjang yang sangat menggodanya,

Ditengah hembusan nafasnya, ia membuka satu persatu kemeja yang ia kenakan, ia membukanya dengan sangat kasar tak peduli apabila ada sobekan disana, ia sudah sangat bernafsu untuk menabung pahala di malam yang penuh berkah ini, ia mendorong tubuhku hingga terbaring diatas sofa yang kami gunakan untuk bercumbu tadi,

Mata kami saling bertemu dan kamipun tersenyum, kami saling menikmati pemandangan indah ketika tubuh telanjang kami saling terlihat, walau tubuhnya tak sekekar pak manto, tapi hatinya lah yang selalu memberikanku kebahagiaan tak peduli dengan keadaanku yang tengah bersedih atau bahagia.

‘celaka !!!’ batinku,

Mas Hendra membuka pahaku selebar – lebarnya, lidahnya mulai masuk kesana untuk mencari pintu gua yang sebentar lagi akan memberikannya kenikmatan, bukankah ini hal baik ? lantas kenapa aku mengutuk diriku sendiri ?

Entah kenapa bayangan pak Manto kembali hadir di dalam fikiranku ketika mas Hendra membuka pakaiannya, padahal suamiku memiliki wajah tampan dengan kulit putih yang membuat siapapun tertarik, tapi kekekaran pak manto lah yang telah membekas dihatiku selama ini, terlebih dengan ukuran pusakanya yang masih belum bisa aku lupakan hingga saat ini,

“ahhhhhhhhhhh”

Aku merasakan kenikmatan yang tak dapat aku jelaskan ketika mas Hendra menjilati vaginaku, namun fikiranku tak dapat aku kontrol, aku justru membayangkan pak Manto yang berada diantara selangkanganku, aku membayangkan jilatannya yang dipenuhi oleh nafsu yang menggelora,

Semakin membayangkannya membuat nafsuku semakin tinggi, ada apa ini ? tidak, aku harus menolaknya, jangan sampai fikiran ini meracuniku lagi,

“eehhmmmmmmmm”

Aku memejamkan mataku, nikmat sekali rasanya, aku sampai berusaha untuk menjauhkan wajahnya dari vaginaku walaupun aku menikmatinya, tubuhku merinding sepertinya permainan suamiku semakin meningkat tempo hari, atau jangan – jangan yang sedang menjilatiku ini adalah pak Manto ?

Mataku terbuka dan hendak mengintipnya untuk mengecek, benarkah ini suamiku ? atau pembantuku ? syukurlah rupanya memang suamiku akupun tersenyum karenanya,

“pindah ke kamar yuk, disini sempit”

“ayukkkkk”

Tanganku ditarik olehnya menuju ke kamar pribadiku, kamar yang seharusnya hanya mampu dimasuki oleh kami berdua, raut wajahku berubah ketika fikiranku teringat akan kejadian itu, tepatnya ketika vaginaku pertama kali disiram olehnya,

Aku menyentuh perutku, bagaimana kalau suatu saat nanti justru pak Manto lah yang berhasil menghamiliku ? tidak ! aku tidak mau, aku hanya ingin memiliki anak dari suamiku seorang, kami berdua berjalan dengan telanjang tanpa khawatir apabila ada seseorang yang melihatnya,

Walau terkadang pak Manto berada disini untuk bekerja tapi kehadirannya hanya ada di pagi hari hingga senja tiba, setelahnya ia diizinkan pulang ke rumah sehingga membuatku tak khawatir lagi walau harus telanjang kemanapun ku suka di rumah ini,

Tubuhku di dorong hingga terlentang diatas ranjang tidurku, mas Hendra pun datang dan menindihiku, kami saling menukar senyum, sungguh indah senyuman yang ia berikan padaku, bagaimana dengan penilaiannya kepada senyumku yah ? tak perlu dikhawatirkan pasti ia menyukainya, aku sangat yakin itu,

“uuhhmmmm, ehhmmmmmm”

Cumbuan kembali dilakukan, kami tak dapat mengelaknya, putingku yang telah mengeras tersentuh oleh putingnya, vaginaku yang telah basah karena jilatannya tergesek oleh penisnya yang mengeras, tubuhku telah dikuasai olehnya, aku menyukainya dan semoga akan terus seperti ini,

Laksana anaconda yang telah menargetkan mangsanya, lidahnya kembali menerjang lurus menembus mulutku, nafas kami semakin memburu dan keringat mulai datang membasahi kami,

“mulai sekarang yah”

Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala setelah mendengar jawabannya, ia membuka pahaku, kulihat penisnya telah ia pegang dan hendak mengarahkannya untuk menembus sisi dalam vaginaku,

“uhhhhhhhhhhhh”

Aku mencengkram kuat sprei ranjangku, mataku terpejam dan kepalaku mengadah ke atas,

Penisnya yang hanya milikku seorang telah berhasil memasuki vaginaku, tempat yang semestinya menjadi tempat silaturahminya dua kelamin kami,

“Ahhhh, ahhhhhh, ahhhhhh”

Mas Hendra mulai menggerakan pinggulnya membuat payudaraku pun ikut tergerak, aku tersenyum menikmati semua ini, bibir bawahku kugigit, aku menatapnya dengan tatapan sayu, ia semakin cepat dalam menggoyang tubuhku,

‘iya, ini yang kubutuhkan darinya, sebuah sentuhan intim yang membuatku akan selalu rindu padanya, sebuah gerakan yang didasari oleh kelembutan yang dipenuhi oleh rasa kasih sayang, bukan gerakan berlandaskan nafsu yang membuatku pasrah, sebuah gerakan yang selalu diberikan oleh pak Manto untukku, pak manto?’

Kenapa bayang – bayang pak Manto kembali mendatangiku, semakin memikirkannya membuat kualitas goyangannya menurun, aku jadi tak menikmati ini lagi, aku justru merindukan penis besarnya yang selalu membuatku lelah hingga tergeletak lemas karena kepuasannya,

‘astagaaa kenapa ini’

Aku semakin terbayang olehnya, aku sama sekali tak bisa menikmati cinta yang Mas Hendra berikan untukku, padahal dibawah sana ia sedang tersenyum sambil menikmatiku, tapi senyumanku yang kubalas untuknya ini hanyalah paksaan, hatiku ini, hatiku ini sudah berada dalam dekapan pak Manto,

“ahhhhhh ahhhhh miiiii siapp – siapp yahh”

‘apa?’

Ia ingin segera mengakhirinya ? padahal aku menggodanya agar diriku juga mendapatkan kenikmatan darinya, tapi kenapa tiba – tiba ingin mengakhirinya, bukankah itu tak adil ? ternyata aku salah, permainannya sama sekali tak berkembang, mungkin karena rasa lelah yang ia dapatkan karena kerja lemburnya tapi tetap sama saja, siapa yang mampu menuntaskan birahiku kalau suamiku saja tak bisa ?

‘Pak Manto, ya dialah satu – satunya yang selalu bisa memuaskanku kapanpun, kekarannya serta caranya dia dalam menghentakan tubuhnya membuatku selalu rindu akan belaiannya, kenapa aku begitu bodoh untuk menjauhkan diri dari kenikmatan yang sudah berkali – kali ia berikan, ahhh tidak aku justru yang bodoh karena berniat kembali ke dalam lembah dosa itu, sebisa mungkin aku harus bertahan – bertahan bersama suamiku saja,

“aahhhhhhhhhhhhh”

Mataku terbelalak, aku terkejut dibuatnya, sudah usai ? aku terbengong tak percaya, padahal fikiranku sedang pergi sejenak untuk bergelut melawan hawa nafsuku, tapi sekarang semuanya sudah selesai ?

“terima kasih sayanggg, abi bangga memilikimu”

Ia memberikan kecupan selamat malam padaku, karena kelelahan ia langsung tertidur tanpa meminta maaf karena telah meninggalkanku sendiri dalam sepi, aku tahu ini tak sepenuhnya salahnya, tapi tetap saja birahiku masih tak tertolong, apa yang harus kulakukan sekarang ? aku tak bisa tidur, birahiku selalu berteriak ingin dituntaskan,

Diam – diam aku melepaskan diri dari pelukannya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk mengambil dildo mainanku, dalam perjalanan menuju kamar mandi, fikiranku selalu berontak, kadang aku menyesal ketika kembali ke jalan kebenaran karena suamiku tak mampu memuaskanku,

kadang aku menyesal ketika harus menyebrang ke jalan kesalahan ketika harus mengorbankan kepercayaan suamiku yang sudah diberikan padaku, entahlah kadang disaat inilah aku menginginkan pak Manto berada di sisiku,

Sementara itu tanpa sepengetahuan kami, ada sepasang mata yang sudah mengintip sedari tadi, sepasang mata yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang meledak – ledak, sambil tersenyum jahat ia melangkah menuju pintu belakang rumahku, ia mengambil kunci yang sudah ia duplikat sebelumnya dan masuk menuju kamar mandi ruanganku,

“tunggu sebentar dek, sekarang waktunya giliranku”

***​

Sementara itu keesokan harinya di sebuah ruangan kantor,

“hhaahhhhh”

Seorang wanita cantik dengan hijab yang melekat dikepalanya berulang kali menghela nafasnya, ia seperti bingung, hatinya telah bergejolak, ia masih belum mampu untuk memilih kearah mana langkah yang harus ia tuju, berulang kali tangannya memainkan bolpoin yang ia pegang dengan memutarkannya, tatapannya menuju kearah lembaran kertas yang berada diatas mejanya tapi fikirannya tidak,

Ia menatap kearah jam dinding yang telah menunjukan pukul sembilan pagi, ada waktu lima belas menit sebelum kedatangan seorang pelamar baru yang ingin bekerja disini, seharusnya ia memanfaatkan waktu tersebut untuk mempersiapkan pertanyaan untuk menguji kesiapan mental dan skillnya,

Namun fikirannya sedang terganggu, ada tiga hal utama yang membuat fikirannya terpecah belah seperti ini, pertama ada sekitar dua minggu lebih sedikit waktu yang tersisa untuk menuju pernikahannya dengan seorang lelaki yang sangat baik kepadanya, kedua orang tua mereka telah setuju hanya butuh kesabaran untuk menanti akad yang akan dialaminya sebentar lagi, kabar baik bukan ?

masalahnya hatinya sudah tak berada disana lagi, setiap kebaikan yang mas Aziz berikan hanya membuatnya tersakiti, ia selalu merasa tak enak karena sudah bermain serong dibelakang, semua bermula karena pertemuannya dengan teman lama yang pernah menembaknya dulu, Andi namanya dan inilah masalah keduanya, hatinya sudah jatuh pada Andi cukup dalam, padahal ia tahu bahwa Andi telah menikah, hatinya berulang kali terbakar oleh api cemburu ketika tahu Andi selalu bermesraan dengan istrinya baik itu secara langsung atau tidak langsung,

masalahnya ia tak mampu untuk menggerakan hatinya untuk pergi meninggalkan pria beristri tersebut, hatinya akan selalu menjadi milik Andi, kapanpun itu, ketiga sebuah masalah kompleks yang telah membuat jiwanya terguncang, fakta bahwa apa yang harus ia jaga selama ini harus terenggut olehnya membuat emosinya memuncak, ia sangat membencinya dan ingin segera menghapus semua memori ini, ada satu cara sebenarnya untuk lepas dari bayang – bayang mereka berdua, akan tapi sangat berat baginya untuk menuruti apa yang mereka sebut sebagai ‘sesuatu yang sudah direncakan’.

Entahlah, ia hanya mampu termenung memikirkan itu semua, ia hanya bisa berharap semoga masalah ini cepat usai dan dirinya bisa beristirahat menikmat sisa hidup yang bisa ia jalani,

POV Maya

“tokk tokk tokk, permisi”

“silahkan masuk”

Kulihat ada seorang lelaki berkulit keriput dengan rambut yang sudah membotak hadir dihadapanku, aku bertanya – tanya ? inikah seseorang yang ingin di interview pagi ini ?

“permisi mbak saya Kasto, saya sudah mengirim berkas untuk melamar kerja dibagian cleaning service”

Kulihat lelaki ini sedang diburu waktu, dari wajahnya ia bukan dari golongan atas, mungkin ia membutuhkan uang segera sehingga ia begitu gugup dan tergesa – gesa agar bisa diterima di perusahaan ini,

“silahkan duduk pak, boleh mengenalkan diri lagi ?”

Aku memperhatikan tiap detail gerakan yang ia lakukan, sudah kuduga bahwa ia sedang membutuhkan uang dengan segera, bagaimana bisa ia meminta untuk digaji dahulu bahkan sebelum ia memulai bekerja, bagaimana setelah digaji ia justru menghilang tanpa jejak, kasian sebenarnya namun aku tak menyukai sikapnya, bagaimana bisa ia memegangi tanganku untuk memohon hal tersebut ? bagiku itu kurang sopan, aku pun menatapnya dengan tegas,

“maaf pak, kami tidak bisa untuk memberikan gaji dahulu sebelum anda mulai bekerja, saya juga melihat sepertinya anda kurang memiliki kesopanan untuk bekerja di perusahaan kami, dengan berat hati anda kami tolak, silahkan anda bisa keluar dari ruangan ini”

Sebisa mungkin aku mengucapkannya secara sopan karena aku tahu, pasti berat bagi siapapun untuk menerimanya, namun jawaban darinya justru mengejutkanku, alih – alih pergi dengan baik – baik ia justru memukul meja dengan tangannya, kata – katanya pun kasar dan ia hendak memegangi kerah kemejaku, beruntung ada pak Rendy yang melindungiku dari amukannya, aku pun selamat dan mengucapkan terima kasih padanya,

“kamu gapapa may?”

“gapapa kok pak, makasih yah”

“gak usah difikirin soal tadi, keputusanmu tepat, gak layak seseorang sepertinya berada disini”

Aku hanya tersenyum setelah mendengar ucapannya, andai kau tahu pak masih ada dua orang yang tak memiliki akhlak sama sekali yang bersembunyi disini, inginku mengungkapkannya tapi aku tak memiliki bukti nyata, lagipula aku tak ingin aibku ini terbongkar oleh siapapun, semoga setelah semua rencana mereka sukses terjalani, mereka segera menepati janjinya untuk melepaskanku,

“Sore ini gue tunggu di ruangan biasa”

Aku dikejutkan ketika ada pesan masuk ke dalam handphone ku ini, aku tahu bahwa siklus ini akan terus kujalani kalau aku tak segera menyelesaikan rencana tersebut,

“baik tuan” balasku singkat,

“benda itu masih terpasang kan?” balasnya,

“masih tuan” balasku,

“baguslah, gak sabar untuk membukanya” balasnya,

Raut wajahku berubah setelah mendengar balasan darinya, aku memegangi bokongku dan menahan rasa sakit yang dihasilkan dari sana sepanjang hari ini,

***​

Sore hari telah tiba, langitpun berubah menjadi warna oranye, jalanan mulai ramai dipenuhi oleh kendaraan, pintu rumah mereka mulai terbuka dan didalamnya telah menuggu seseorang yang selalu rindu akan kehadiran mereka disisinya,

Namun ada satu rumah dimana pintunya masih terkunci rapat, tak ada seseorang yang berdiri menanti kepulangan suaminya, sebaliknya diruangan yang berada di bagian belakang rumahnya, ada seorang wanita yang tengah menahan tiap genjotan birahi dari seseorang yang tengah memompanya dari belakang, agak aneh untuk melihatnya memang,

bagaimana bisa ada seorang wanita cantik berhijab sedang disetubuhi oleh lelaki hitam bertubuh kekar dengan wajah yang jauh dari kata tampan, anehnya wanita tersebut seperti setengah – setengah dalam menikmatinya,

Ada apa gerangan ?

“ahhhhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhh”

“hahhhh hahhhh vaginamu dekkk, hahhhh gak ada tandingannya”

“Stoppp masss hentikan , suamiku mau pulang , tolong jangan lakukan ini lagi”

“biarin aja kalau tau, aku gak peduli”

“massss tolonngggggg, stoppp”

Wanita tersebut tampak menolak tiap sodokan yang pembantunya berikan padanya, tapi ketahuilah didalam hatinya yang paling dalam, ia begitu menikmati semua ini dan berharap ia bisa lebih lama lagi untuk terus dinikmati oleh penis hitamnya,

Terlebih dengan kejadian di malam sebelumnya ketika lelaki yang bernama manto memasukan penis kekarnya begitu dalam di kamar mandi rumahnya, wanita itu mendesah tak karuan merasakan hentakan yang begitu keras hingga payudaranya bergoyang cepat, kulit mulusnya basah tersirami guyuran air shower, sangat indah sangat nikmat begitulah yang ia rasakan sore ini,

Tubuhnya menungging memegangi meja makan, roknya sudah terangkat menampilkan bongkahan pantatnya yang putih, sangat kontras dengan penis hitam yang sedang mengaduk ngaduk vaginanya,

“ahhhhhhh ahhhhhh ahhhhhhhh”

Pembantu yang beruntung itu segera melepaskan penisnya dari dalam vaginanya dan mengarahkannya ke arah wajah ayu sang majikan, semprotan yang begitu dahsyat membasahi wajahnya, bahkan ia dapat merasakan aroma kelelakian yang terkandung di dalam sperma tersebut,

Wanita itu pasrah mengulum penisnya untuk membersihkan sisa sperma yang berada di sekitar penis tersebut, lelaki tersebut tampak bangga karena telah berhasil menaklukan wanita nan cantik tersebut,

POV Firda

“tinggg tongggg”

‘celaka suamiku pulang’

Aku hendak melepaskan penisnya dari mulutku dan pergi menuju wastafel untuk membersihkan noda sperma diwajahku ini, namun pak Manto menahannya, ia justru memegangi kepalaku dan mendorong penisnya hingga mentok ke dalam tenggorokanku,

Perutku mual, aku nyaris muntah karenanya, setelah lepas akupun terbatuk – batuk dibuatnya, kurang ajar memang tapi entah kenapa aku menyukai hal tersebut,

“selamat sore sayangggg”

Segera aku mendatanginya setelah membasuh semua noda di wajahku, akupun memberikan pelukan terbaik kepadanya, aku merasakan cinta dari dekapannya ini, aku pun menatap matanya sambil tersenyum,

“umiii , ini apa diwajahmu”

Ia menyentuh wajahku dan menemukan benda yang lengket disana, aku panik, otakku segera berfikir untuk mencari alasan yang tepat untuknya,

“ohh itu hehe, itu tuhh, ehmmm, ya , itu lidah buaya bi hehe abis perawatan”

“ohh hahaha, kirain”

Kirain ? apa maksudnya dari kata kirain, entahlah untungnya aku berhasil mengecoh fikiran suamiku, agak berat memang rasannya untuk selalu berbohong atas setiap perbuatan yang kulakukan dibelakangnya, tapi mau gimana lagi, aku tak mampu untuk menolaknya,

“pak hendrraa, saya ingin meminta izin”

Pak Manto dengan sopan mendatangi suamiku untuk meminta izin darinya,

“Ada apa pak?”

“Mungkin untuk satu sampai lima hari kedepan saya izin untuk tidak bekerja disini karena harus pulang kampung ke klaten untuk merawat orang tua saya yang tiba – tiba sakit”

Dalam hati aku kegirangan karena berarti aku tak harus bertemu dengan orang tersebut, berarti aku bisa menjalani hari – hari hanya dengan suamiku saja,

“lohh beneran , kebetulan saya juga akan pergi jogja”

Aku langsung lemas mendengarnya, suamiku akan pergi lagi ? jadi aku harus sendirian dong dirumah,

“rencananya saya ingin membawa istriku juga untuk menemani saya pulang ke rumah adik saya yang tengah dirawat di rumah sakit”

“lohh beneran, gimana kalau kita pesan kereta bareng aja?”

“ide bagus kalau gitu pak manto, nanti saya saja yang memesankan, sekalian saya bayarin tenang aja”

Pak Manto tersenyum puas setelah mendengar kata dari suamiku, tidak hanya digratiskan tapi ia juga bisa satu gerbong bersama diriku, aku hanya berharap semoga ia tak melakukan aksi aneh – aneh lagi di kereta nanti

~To be Continued~