Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 15

Mengukir sebuah Kenangan​

POV Firda

Tak terasa sudah berjam – jam waktu yang kuhabiskan di tempat ini, satu persatu orang – orang mulai kembali ke rumah masing-masing, tidak heran sinar matahari pun sampai redup karena begitu kelelahan menyinari bumi.

Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menghabiskan waktuku bersama sahabatku Maya. Bersamanya aku berada di mall untuk mengubur rasa lelahku, tak kusangka aku bisa mencuci mataku disini dengan banyaknya produk pakaian terbaru yang dipamerkan. Ingin rasanya untuk membeli semuanya, semoga saja rezeki mas Hendra lancar sehingga bulan depan aku bisa kembali kesini untuk membeli produk yang lebih baru lagi,

Karena lapar, kami pun pergi menuju salah satu café yang berada di sudut mall untuk mengisi perut sekaligus memperbincangkan sesuatu, dalam perjalanan kami, aku cukup bahagia karena mampu melihat Maya tersenyum lagi, ia lebih ceria daripada sebelumnya, aku tak tahu kenapa yang jelas sebagai seorang sahabat aku bersyukur karenanya,

“cieee kayaknya udah baikan nih may” ucapku menggodanya,

“Ehhh udah baikan gimana fir maksudnya?” ucap maya kebingungan,

“engga, soalnya kemaren aku perhatiin, kamu kok sering cemberut deh kaya lagi ditimpa masalah” ucapku,

“Ehh masa, hihi engga deh perasaan, biasa aja” jawab maya mengelak,

Sesampainya di café kami memesan dua kopi Americano dengan satu porsi French fries , kemudian kami mencari tempat kosong untuk mengistirahatkan kaki kami yang kelelahan setelah mengitari seisi mall,

“ohh iya fir, udah tau kabar terbaru belum?” tanya maya padaku,

“kabar terbaru apaan may?” tanyaku sambil memakan satu keping kentang goreng yang kulumuri dengan saus tomat kesukaanku,

“sebentar lagi kelas kita akan ngadain reunian loh” ucap maya antusias,

“kelas kita? Maksudnya kelas sewaktu kuliah ?” tanyaku masih belum connect,

“ya iyalah fir, nanti rencanya kita akan pergi ke pantai gitu buat ngeliat sunrise” ucap maya,

“lohh masa? Kok aku gak dapet kabar sih?” ucapku bingung,

“hihihi emang baru dipersiapin sama andi sih, nanti kalau semua udah fix baru deh disebarin infonya ke temen – temen,

Akupun tersenyum setelah mendengar kata – kata darinya, hal ini membuat maya kebingungan,

“kenapa fir senyum – senyum gitu, aneh deh” ucap maya,

“akhirnya faham, aku tau kok kenapa kamu udah bisa tersenyum lagi” ucapku menggodanya,

“ihhh apaan coba?” ucap maya malu – malu,

“sering kontakan ama andi kan ?, cieeeee” godaku yang membuat wajah maya memerah,

“ihhh apaan sih, aku cuma dikabarin andi kok, lagipula dia udah nikah, gak ada chattan macem – macem” ucap maya malu – malu,

“hihiih iya tau kok tau, padahal waktu dulu andi nembak , banyak temen yang ngedukung kamu loh may” ucapku sambil mengingat – ngingat,

“ehh ngedukung gimana firrr?” tanyanya penasaran,

“ya ngedukung kalau kalian tuh cocok, andi itu ganteng, kamu tuh cantik, kurang apa coba? Sama – sama jawara kampus lagi, best couple pastinya” ucapku dengan penuh antusias,

Mendengar jawaban dariku membuat maya agak menyesal, memang benar apa yang baru saja didengarnya dariku, maya baru menyesali semuanya sekarang, andai ia menerimanya mungkin hidupnya tidak akan menderita seperti ini, gumamnya tanpa sepengetahuanku,

“permisi nona – nona, selamat sore boleh saya bergabung sebentar ?” ucap seseorang menyapa kami,

“ada apa yah pak?” tanyaku curiga,

“ini kami lagi membutuhkan seorang model untuk mempromosikan produk gamis terbaru, saya rasa kalian cocok untuk menjadi model di produk terbaru kami, apakah kalian merasa tertarik ?” tanyanya sambil memberikan contoh produknya dalam bentuk selebaran,

Kami pun melihat produk gamis yang tercetak di selebaran tersebut, namun ketika aku memperhatikan pria tersebut, aku keheranan kenapa sedari tadi ia selalu menatap maya yang begitu fokus melihat selebaran ? tatapannya pun mencurigakan seolah ia menginginkan sesuatu dari sahabatku ini,

“maaf , sayang sekali pak, kami tidak tertarik dengan tawaran anda, ayo mayy kita pulang udah mau malem” ucapku mengajaknya,

“ehh tunggu dulu, tunggu dulu, ini kartu nama saya barang kali kalian berubah fikiran” ujarnya sambil memberikanku kartu namanya,

Nama : Aldo Rumere
Asal : Manokwari
Perusahaan : E-Corps​

Setelah itu pak aldo langsung pergi meninggalkan kami tanpa sepatah katapun, aku yang curiga langsung bertanya pada maya,

“mayy kamu kenal dia?” tanyaku,

“engga deh, aku gak kenal, kenapa emangnya ?” jawabnya kebingungan,

“Aku curiga soalnya dari tadi dia tuh ngeliatin kamu loh mayy” tanyaku keheranan,

“ehh massa? tapi aku gak kenal dia loh, beneran! ” jawabnya mulai ketakutan,

“yaudah gapapa, kita pulang aja yuk” ajakku,

Dalam perjalanan pulang, aku kepikiran soal nama perusahaan yang tertera di kartu namanya, aku berusaha untuk mengingat – ngingat nama tersebut,

‘kayaknya aku pernah denger nama E-Corps deh, tapi dimana yah?’ batinku berfikir,

***​

POV Maya

Seminggu kemudian,

Aku tersenyum, suasana hatiku sedang baik, bersama sahabatku kami menyanyikan sebuah lagu selama perjalanan menuju tempat reuni, dua mobil beserta supirnya telah disewa untuk mengantarkan kami menuju tempat tujuan yang telah ditetapkan, Aku bersama teman putriku berada di mobil B, sedangkan mobil A diisi oleh teman putraku,

Satu persatu aku menatap mata mereka terutama kawan satu gengku, aku bersyukur bisa mengenal mereka semua selama ini, senyum mereka, tawa mereka adalah mood tersendiri bagiku, aku tak bisa membayangkan apabila kehilangan salah satu dari mereka, mungkin aku akan bersedih karena kami ibarat satu tubuh , apabila ada bagian tubuh yang terluka pasti kami akan merasakannya bersama – sama,

‘Atau mungkin tidak’ batinku,

Tak apa, cukup diri ini yang harus menanggung beban kesedihanku, sebisa mungkin aku tak ingin melibatkan mereka dalam setiap masalah yang sedang merundungku,

“mayyy ayo nyanyi bareng” ucap Aulia teman satu gengku,

Dulu kita sahabat, teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu – kupu

Kini kita berjalan berjauh – jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu – kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na​

Kami tertawa bersama setelah menyelesaikan sepenggal lirik dari lagu tersebut, seketika sebuah mobil pun lewat membalap kami dari arah belakang,

“cieee mayyy, liat tuh pangerannya dateng” ucap Firda memanasiku,

“cieee yg katanya akhir – akhir ini sering kontakan lagi” ucap Lina teman satu gengku,

Masing – masing dari mereka mulai menggodaku, akupun tak tahan untuk menunjukan senyum manisku, dari balik jendela aku melihat andi yang sedang mengendarai mobil pribadinya datang menyalip kami, sebagai panitia Andi diizinkan untuk membawa mobil pribadinya sebagai sebuah sarana apabila ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi,

“ihhh apasih, kalian berisik deh” ucapku malu – malu,

“hihihi maafkan kami tuan putri” ucap Dea teman satu gengku,

“ehh mayy mayy liat deh keluar jendela” ucap Firda memintaku untuk melakukannya segera,

“cieeeeee seorang pangeran sama tuan putri saling ngeliatin nih, so swiiittt” ucap Tria ketika melihat kami saling menatap,

Diluar dugaan andi yang sedang mengendarai mobilnya melihat ke arah kami, akupun tersenyum karena menatapnya malu, hal ini membuat suasana di mobil makin gaduh,

“apa sih kalian ini” ucapku sambil memegangi pipiku sendiri yang memerah,

Kulihat mobil andi sudah bergerak melaju kedepan, aku hanya bisa berdoa semoga kami semua bisa selamat sampai tujuan,

Beruntung kami tiba di tepi pantai ketika matahari masih bersinar, kulihat beberapa panitia telah sukses menyiapkan panggung kecil – kecilan, beberapa telah menyiapkan meja sekaligus bangku bagi penonton,

Andi selaku ketua panitia mengumpulkan kami didepan panggung untuk menunggu kedatangan kami semua, setelahnya ia pun memberikan kata sambutan sebagai pembukaan reuni kami,

Setelahnya Andi memberi kami waktu 15 menit untuk menaruh barang bawaan sekaligus berganti pakaian untuk mengikuti fun games yang akan menjadi acara pembuka reuni ini,

Selama perjalanan menuju tempat penginapan, kami membicarakan mengenai susunan pemain yang akan bertanding nanti, maklum andi menjadikan fun games ini pertandingan syarat gengsi karena alumni putra akan bertanding menghadapi alumni putri, kami sebagai perwakilan tim putri antusias untuk menumbangkan dominasi tim putra,

Setelah mengganti pakaianku, aku melihat ke arah sekitar, kulihat hamparan pasir putih yang terbentang mengitari bibir pantai, butiran pasir yang berterbangan serta deburan ombak yang menerjang serta sejuknya angin yang bertiup sepoi – sepoi menambah suasana di sepanjang pantai ini menjadi indah,

Betapa tidak, pemandangan air laut yang kebiruan dan jernih membuat siapa pun betah untuk selalu duduk berlama-lama di tepi pantai ini,

“gimana pantai yang udah aku pilih, indah bukan?” tanyanya,

“Andi???” ucapku terkejut,

“kamu tampak cantik may sore ini :rose: ” ucapnya menggodaku,

“apasih ndi ah” ucapku tersenyum malu – malu,

“coba deh liat disana mayyy” ucapnya sambil menunjuk ke arah laut lepas,

“Iyyaa” ucapku menuruti perkataannya,

“Pernah kepikiran gak mayy kenapa dari butiran air laut yang begitu banyak, cuma mereka lah yang bisa mampir ke tepi pantai ini , pernah kebayang gak keadaan butiran laut lain yang gak bisa mampir kesini, kira – kira mereka mengeluh gak?” tanyanya padaku,

“ehmmm kalau bisa ngomong pasti ngeluh deh” jawabku tersenyum,

“ohh engga dong mayy” jawabnya singkat,

“kok gitu?” tanyaku penasaran,

“Karena Air laut dan tepi pantai tak pernah saling bertanya mengapa mereka dipertemukan,, begitu juga dengan diriku padamu, aku memang tak tahu kenapa kita bisa dipertemukan, yang ada aku hanya bersyukur dengan kehadiranmu disisiku saat ini” ucapnya menggombal,

Aku tak mampu menahan diriku untuk tidak tersenyum padanya, karena gemas aku memberikannya pukulan sayang yang membuat andi berlarian dariku,

Saatku berbalik rupanya ada beberapa temanku khususnya satu gengku yang terdiam melihat drama yang baru saja kulakukan dengan andi,

“gakk kuaattt, awwww” ucap Yuli,

“baper dehhh, gak nguatin” ucap Firda,

“gak nyangka bisa liat drama seromantis ini, gak nguatin pokoknya” ucap Tria menggodaku,

“ihhh apasih kalian, rasakan ini yahhhh, niihhhhhh” ucapku yang begitu malu karena godaan mereka,

Kebetulan ada cangkang kerang besar yang berada di dekat kakiku, aku mengambilnya dan mengisinya dengan air laut, aku menyiramnya ke mereka sebagai pelajaran karena telah menggodaku,

Saat kami sedang berlarian di tepi pantai, ombak pun datang menggulung kami hingga berjatuhan di atas butiran pasir yang telah basah, kami saling tertawa setelah merasakan kesegaran darinya,

Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama mereka, semoga kenangan ini tak cepat hilang dan tersimpan abadi dalam sanubari kami,

“Terima kasih bagi teman – teman yang sudah berkumpul disini tepat waktu, untuk perlombaan pertama adalah ‘Semangka di Wajahku’ harap masing – masing dari tim menyiapkan pesertanya” ucap andi sebagai MC acara,

“ehh semangka di wajahku? gimana tuh Au aturannya?” tanyaku pada Aulia, salah satu teman satu gengku,

“jadi gini mayyy, tiap peserta bakal makan potongan semangka yg udah dipotong ama panitia, terus peserta yang sudah menghabiskan buahnya bakal menembakan biji ke atas untuk meletakannya di wajah mereka, peserta yang memiliki banyak biji di wajahnya lah yang menang, oh iya semua itu harus dilakukannya dalam waktu 1 menit yahh” ucap Aulia menjelaskannya secara detail padaku,

“ohh begitu, untung tim kita diwakili oleh Firda, secara dia kan BIG daripada kita, hihhihi” ucapku tertawa,

“hihihi iya juga, tapi jangan salah, Firda salah satu yang tercantik loh di geng kita, tapi ya tetep gak akan ngalahin kecantikanmu lah mayy, apalagi yg baru reunian ama pangerannya” ucapnya menggodaku,

“ihhh Aauuuuu nyebelin, dah deh fokus ke pertandingan” ucapku yg berpura – pura sebal,

Aku tersenyum secara diam – diam ketika banyak temanku yang mendukung kedekatanku dengan Andi, alih – alih fokus pada Firda, mataku justru menatap wajah tampannya, kaus polo ketat yang ia kenakan membuat otot tangannya terlihat, aku tersenyum puas sambil menatapnya dari sini,

Tanpa sepengetahuanku, mereka para teman satu gengku saling mengajak satu sama lain untuk menatap ke arahku yang sedang terpesona pada ketampanan andi,

“ayo Firda, ayoo, habiskan semangkanya” terdengar sorakan yang begitu ramai dari tim putri,

Secepat mungkin Firda menghabiskan semangka yang ia makan, setelah selesai ia segera menembakkannya ke atas,

“ihhhhhh hahahahah” kami saling berteriak dan tertawa setelah melihat semburan yang Firda lemparkan di wajahnya, rupanya masih ada beberapa buah yang belum tertelan ikut tersembur mengenai wajahnya,

“okeyyy, pertandingan berakhir, harap panitia menghitung biji semangka yang berada di wajahnya” ucap andi,

“Ada 10 biji di tim putri” ucap salah satu panitia,

“Ada 9 biji di tim putra” ucap salah seorang yang lain dari panitia, tim putri lah pemenangnya

“yeeayyy kita menanggg” ucap Firda penuh gembira, Firda berlarian kesini dan disambut oleh kami dengan begitu hangat,

Pertandingan berlangsung sangat ketat hingga masing – masing tim mendapatkan dua poin dari lima pertandingan yang akan dimainkan, Partai penentuan pun segera dilaksanakan dan aku adalah salah satu dari ketiga peserta yang akan bermain di pertandingan terakhir ini, tidak seperti partai sebelumnya yang membutuhkan skill untuk kemenangan, pertandingan ini hanya membutuhkan keberuntungan saja,

Pertandingan terakhir adalah ‘Kertas, Batu & Gunting berkelompok”, tiap tiga peserta yang akan bertanding akan beradu satu sama lain dan siapa yang memenangkan pertandingan dua kali lebih dulu dialah pemenangnya, Beban berada di pundaku, aku diletakan sebagai pemain terakhir dan benar saja skor sekarang adalah 1 – 1,

Mataku fokus, aku merenggangkan lenganku, akhirnya giliranku telah tiba, aku berjabat tangan dengan Eka sebagai simbol persahabatan, Eka adalah perwakilan terakhir sekaligus harapan dari tim putra, ia merupakan mantan pacar Aulia ketika masih kuliah dulu, ia juga seorang vokalis band yang sering manggung ketika ada acara kampus dulu, seketika juri mulai membunyikan aba – aba,

“Siap , kalian semua ? , setelah hitung mundur berakhir, kalian diharuskan untuk mengeluarkan tangan kalian, tiga – dua- satu- yakkk” ucap sang juri,

Setelah juri menyelesaikan kalimatnya, aku langsung melontarkan tanganku untuk mengeluarkan batu dengan harapan eka akan mengeluarkan gunting, namun kejutan terjadi, nafasku nyaris terhenti karena begitu tegang, tak kusangka pertandingan yang sederhana ini bisa memacu adrenalin,

“yahhhhhhhh, hufffttt” jantungku berdebar kencang, hal ini tak mungkin terjadi, kami sama – sama mengeluarkan batu sehingga pertandingan lanjutan pun terjadi,

Setiap penonton dari masing – masing tim ikut merasakan ketegangan dari serunya pertandingan terakhir ini, aku kembali fokus, mataku menatap ke arah tanganku, sebisa mungkin aku harus yakin dengan diriku sendiri,

“tiga – dua – satu yakkkkkk” teriak sang juri,

Seyakin mungkin aku mengeluarkan gunting sebagai senjata terakhirku, setelahnya aku menatap apa yang dikeluarkan oleh Eka, mataku berbinar, ini tak mungkin ? , spontan aku melompat kegirangan ketika melihat eka mengeluarkan kertas,

“yeeayyyyyyy” aku senang sekali dibuatnya, seluruh tim putri berhamburan mendatangiku, aku senang sekali, aku lah sang penentu kemenangan tim ini, kami saling berpelukan dan meloncat – loncat layaknya anak kecil yang diberi hadiah, mata kami berkaca – kaca, kami puas dengan hasil akhir yang menegangkan ini, kami pun memenangkan pertandingan dengan skor akhir 3 -2.

“selamat bagi tim putri, untuk pembagian hadiah akan dilaksanakan malam nanti sebelum penutupan acara resmi, untuk sekarang kalian dibebaskan untuk melakukan apapun yang kalian inginkan, selamat bersenang – senang” ucap andi selaku MC,

Tak terasa matahari sudah hampir terbenam seluruhnya, bersama – sama kami melihat sunset di tepi pantai ini, indah sekali rasanya, aku bersama seluruh gengku saling tersenyum menikmati keadaan sore hari di tepi pantai, namun yang paling membuatku bahagia adalah ketika tanganku berhasil menggenggam tangan andi yang sedang berdiri disampingku tanpa sepengetahuan orang lain, akupun meletakan kepalaku dipundaknya dan gelap pun mulai datang menemani heningnya sepi disini,

Satu persatu dari kami mulai kembali ke penginapan masing – masing, alumni putra kembali ke penginapannya begitu juga dengan alumni putri, penginapan kami terpisah untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi,

Kamar mandi yang hanya berjumlah tiga telah penuh, kami saling mengantri untuk bisa membersihkan diri setelah bersenang – senang di sore hari, dalam penantianku aku mengecek isi HP-ku, rupanya ada banyak pesan yang belum aku baca,

“mas Aziz” ucapku ketika melihat namanya, rupanya dari pagi aku belum menjawab pesannya sama sekali, akupun bingung hendak menjawabnya atau tidak, toh mas Aziz sudah tau kalau aku sedang mengadakan reunian di pantai,

“ting tong”

Seketika ada pesan lain yang baru masuk ke dalam handphone ku

“selamat malam maya :rose: gimana kabarnya ? pasti bahagia, iya kan ?” balas andi padaku,

“malam ndii, iya bahagia dong , makasih yah” balasku,

Tak terasa kami saling mengirim pesan hingga menjelang waktu Isya’ tiba, jadilah aku yang mandi terakhir di penginapan ini, aku begitu senang dengan hubunganku yang makin dekat dengan andi, namun dibalik itu, aku lupa untuk menjawab pesan yang mas aziz kirimkan kepadaku,

“Bagaimana kabar maya yah? hingga malam tiba aku masih belum mengetahui keadaannya, mungkin ia sedang bersenang – senang , sebaiknya aku tak mengganggunya dulu” ujar Aziz setelah melihat tanda dua centang berwarna biru di pesan yang ia kirimkan kepadaku.

***

Akhirnya acara terakhir pun dimulai, Andi meminta kami untuk mengenakan pakaian resmi, aku pun mengenakan pakaian serba gelap diacara terakhir ini, aku mengenakan kemeja hitam yang kupadukan dengan hijab cerah sekaligus topi bundar untuk menampilkan kesan modis yang sudah melekat pada diriku,

Aku bersama teman satu gengku tampil menonjol dengan kecantikan yang kami miliki, bersama – sama kami melangkah menuju tempat kosong yang berada di dekat panggung, satu persatu alumni putra yang melihat kami pun terpana,

Lampu yang berkelap – kelip mulai bersinar menyinari seisi pantai, sebuah konser musik yang selalu menjadi hal yang paling dinanti oleh kaum remaja akan segera dimulai. Bersama, kami hanyut dalam sebuah alunan melodi yang memanjakan telinga kami, kami saling tersenyum untuk mengenang kebersamaan yang sudah lama kami jalin, sebuah lagu bertema sahabat berkali – kali dinyanyikan sehingga kami semua terharu untuk mengenang persahabatan yang sudah lama kami bina, tibalah lagu terakhir untuk dinyanyikan sebelum acara ini benar – benar ditutup,

Eka sang vokalis sekaligus orang yang kuhadapi dipertandingan terakhir tadi pun berbicara,

“sebagai penampilan terakhir di acara konser malam ini, kita akan kedatangan tamu spesial yang tentunya sudah kalian nanti – nanti penampilannya”

Penonton pun heboh mengira – ngira siapakah yang dimaksud oleh Eka, sebagian yang berharap penuh mengatakan mungkin akan kedatangan band terkenal yang sudah sering manggung sana – sini, sebagian yang sering halu berkata mungkin ada boyband korea yang datang kemari, sebagian yang realistis mengatakan mungkin ada penampilan spesial dari sebagian kami,

“Andi & Maya, sebagai mahasiswa tertampan & mahasiswi tercantik akan mengadakan penampilan khusus sebagai penutup acara malam ini, tentu bukan hanya telinga kita saja yang akan dimanjakan tetapi mata kita juga akan disegarkan dengan penampilan mereka yang mempesona, langsung saja ini dia !!!”

Aku terkejut dengan disebutnya namaku untuk tampil di acara spesial ini, teman – temanku pun mendukung kehadiranku untuk menyejukan mata sekaligus telinga mereka, jantungku berdebar begitu kencang karena kali ini aku akan bernyanyi bersama Andi seorang lelaki yang telah mencuri perhatianku,

Akupun bertemu dengan andi diatas panggung, aku terpesona, andi begitu tampan dengan kemeja yang ia kenakan, aku pun berbisik malu kepadanya,

“ehh ndi, kamu yah yang menyiapkan acara kejutan ini” tanyaku,

“ehh bukan lohh may, serius” jawabnya,

“lohhh masa, kok Eka sampai meminta kita buat tampil sih” ujarku,

“mungkin ini takdir yang harus kita lalui may, untuk mengukir sebuah kenangan indah di malam yang gemerlap ini” jawab andi yang melelehkan hatiku,

Setelah berdiskusi kami pun sepakat untuk menyanyikan sebuah lagu, alunan musik mulai didendangkan dan aku tersenyum sambil menatap andi,

Dering telefonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saatku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati​

Hatiku berdebar begitu kencang setelah menyanyikan sepenggal lagu tersebut, aku tak henti – hentinya tersenyum ketika menyapa penonton yang begitu antusias melihat penampilan kami, tiba – tiba aku dikejutkan dengan mendaratnya sebuah kecupan di pipiku oleh seseorang yang kucinta,

penonton mendadak heboh dengan kejutan yang andi berikan ini, aku yang malu – malu memukul pundaknya yang membuat penonton semakin heboh di bawah sana, aku bahagia sekali dibuatnya, aku bersyukur bisa mengukir kenangan yang sangat indah di bawah bintang yang bertebaran di langit sana,

Alunan melodi pun berganti, sebuah lagu kenangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak sekolah manapun diperdengarkan, andi mulai berdansa mengikuti alunan beat yang semakin memuncak, aku ikut menari dengan malu – malu, hal ini membuat para penonton khususnya para lelaki gemas ketika melihat penampilanku,

Andi menyanyikan bagian rap dengan begitu keren, aku sendiri yang berada dipanggung terpukau karena aksinya,

Andi :

eiyo… it’s not the end, it’s just beginning
ok… detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario… eyo… baru mulai diusung
lembaran kertas barupun terbuka
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
memori cerita cinta aku, dia dan kamu
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
cinta masa sekolah yang pernah terjadi
that was the moment a part of sweet memory
kita membumi, melangkah berdua
kita ciptakan hangat sebuah cerita
mulai dewasa, cemburu dan bungah
finally now, its our time to make a history​

Tibalah bagianku untuk menyanyikan reffnya, seluruh mata berfokus pada penampilanku, seluruh telinga begitu dimanjakan oleh suara indahku, seluruh penonton mulai mengenang masa saat bersama di kampus dulu, sebuah memori yang akan sulit untuk dikenang kembali,

Maya :
bergegaslah, kawan… tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan !
kenanglah sahabat… kita untuk slamanya !​

Akhirnya penampilan pun usai, kami bersama berangkulan tangan untuk mengenang malam ini, aku yang berada di tepi barisan bersama para musisi dirangkul oleh andi yang berada disampingku, indah sekali rasanya, aku bahagia, tak henti – hentinya aku tersenyum, sejenak aku melupakan semua penderitaan yang selama ini mengguncang jiwaku,

Andi mulai berorasi dengan mengenang semua memori yang pernah terekam dalam ingatan kami, satu persatu dari kami mulai menangis bahagia, kenangan indah yang kami ukir malam ini, kami harap, kami akan mengenangnya selamanya,

Kami bertepuk tangan dengan begitu keras sebagai penanda bahwa acara resmi ditutup,

Mataku berkaca – kaca, aku begitu bahagia dengan kenangan yang dihadirkan di malam ini, andipun datang dan memberiku sebuah pelukan hangat, ia mengusap punggungku, tak peduli lagi siapa yang melihat kami, aku begitu nyaman dalam pelukannya, kebahagiaan ini telah menghapus semua kesedihan yang telah lama mengisi relung hatiku,

“apa kamu bahagia mayy? Tanyanya,

“iyyya akuu bahagiaaa” jawabku dalam pelukannya,

“syukurlah, aku turut senang” ujarnya padaku,

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam, satu persatu dari kami mulai kembali ke penginapan masing – masing, masih ada satu acara lagi di hari esok sebelum kami meninggalkan pantai yang penuh kenangan ini,

“mayyy, udah lelah belum?” tanya andi padaku,

“belum ndi, kenapa?” jawabku tersenyum,

“mau nemenin aku jalan – jalan gak?” tanyanya,

“ayukk” jawabku tersenyum,

Tanpa sepengetahuan orang lain yang sudah balik ke penginapan, aku berjalan bersamanya dibibir pantai sambil menggandeng tangannya, aku tersenyum sambil mengobrolkan sesuatu dengannya, kaki kami saling tersiram ombak dan hawa dingin mulai menerjang menusuk kulit,

“mayyy” ucap andi padaku,

“iyya ndi?” jawabku,

“aku bahagia bisa berduaan dengan mu malam ini, tau gak apa yang bisa membuatku seperti ini?” ucapnya sambil menatap mataku,

“apa yah, gak tau ndi” jawabku malu – malu sambil menatapnnya,

“entah kenapa aku selalu terpesona dengan kecantikan yang melekat pada dirimu, aku suka dengan cara berpakaianmu, topi ini …..” ucapnya sambil memegang topiku,

“Tampak cocok dengan wajah ayumu yang manis, aku suka dengan caramu tersenyum padaku” ucapnya sambil memegangi pipiku,

Aku tersenyum tanpa mampu membalas kata – kata darinya, senyumku seolah sebagai jawaban atas pernyataannya itu, aku bahagia, bahagia sekali dengan cara dia memperlakukanku, selayaknya seorang pangeran, ia memperlakukanku selayaknya tuan putri,

Kami saling bercumbu malam itu dibawah pancaran sinar rembulan, mata kami saling memejam dan bibir kami saling bertemu dengan penuh kemesraan, deburan ombak menghamtam kaki kami, hawa dingin yang berhembus memaksa kami untuk saling berbagi kehangatan, tangan andi memegangi pipi ku ketika bercumbu, tanganku bertumpu pada pundaknya, aku begitu menikmati kemesraan yang sudah andi berikan padaku,

“kamu sangat cantik may malam ini, aku tak tahan untuk membelaimu, maukah kau jadi milikku seutuhnya?” tanya andi padaku,

“aku milikmu ndi, kapanpun dan dimanapun akan seperti itu” jawabku tersenyum,

Kami kembali bercumbu dan bersembunyi di balik batu besar yang berada di dekat bibir pantai, nafas kami saling memburu, birahi kami saling bergejolak, aku mendesah penuh nikmat dikala andi meremas payudaraku diluar kemeja yang kukenakan,

“ahhhhh ndiiiii” desahku tersenyum,

“maaf mayyy, sakit yah” ucapnya menyadari bahwa remasannya begitu keras,

“engga kok, aku suka” ucapnya yang membuat kami kembali tersenyum,

Tubuhku disandarkan ke tepi batu besar, kedua tangannya dengan penuh nafsu meremas payudaraku, aku pasrah menerima tiap cumbuan yang juga ia berikan di bibirku, nikmat sekali, tubuhku merinding dibuatnya, berulang kali aku hanya bisa menghembuskan nafas tanpa mampu berbuat apapun, aku begitu pasrah, aku sudah sangat takluk oleh sikapnya padaku,

Mataku terbuka ketika kurasakan satu demi satu kancingku terlepas dari tempatnya, aku menatap wajahnya, ia tersenyum padaku sambil berusaha menelanjangiku, sesaat munculah bra berukuran 34C yang saat itu kukenakan, tangannya kembali meremasi payudaraku dan mulutnya mendekat untuk mencumbui dadaku,

Aku menggigit bibir bawahku dengan penuh kenikmatan, aku merangkul kepalanya, aku menahannya agar tidak terlepas dari dadaku, aku begitu puas oleh sikapnya yang terus merangsangku,

Dilepas aja yah mayy, ujarnya meminta izin padaku untuk melepas kemejaku, aku pun menurutinya, satu persatu pakaian yang kukenakan terlepas dari tubuhku, sesaat aku sudah telanjang ditempat terbuka seperti ini, hawa dingin begitu kuat menerjang tubuhku, namun penisnya yang telah mengacung dihadapanku membuatku melupakan semua itu, aku berlutut diatas pasir putih dan menggenggam penis kekarnya, aku mengulumnya sambil menutup mataku,

“Ahhhhhh, ahhhhhh mayyyyyy” desahnya,

Aku begitu menikmati aksi liarku ditempat umum seperti ini, sesaat aku hanya mengenakan hijabku saja tanpa ada pakaian lain yang melekat di tubuhku, topiku saja terjatuh bersama pakaian lain yang berserakan diatas pasir pantai,

Aku memajukan kepalaku maju mundur, lidahku bergerak membasahi penisnya, ketika kepala penisnya berada di bibirku, aku menghisapnya dan menjilati lubang kencingnya, entah kapan aku mempelajari semua ini, tiba – tiba aku sudah sangat mahir dalam melakukannya, mungkin ada sebuah hikmah dari cobaan berat yang kuterima dari pertemuanku dengan pak Ujang dan pak Agus.

“ehhmmmm, ehhmmm, ehhmmm auuhhmmm” desahku merangsang penisnya,

“ohhhm mayyy, nikmat sekalii, ahhhh, ahhhh” desah andi tak karuan,

Aku tersenyum ketika mendengar desahan andi yang begitu menikmati, tanganku bertumpu pada pahanya, mulutku pun bergerak dengan sendirinya untuk memasukan penisnya ke dalam mulutku, aku mengangkat penisnya dan menjilati bagian bawahnya, sesaat kulihat penisnya sudah sangat berkilau karena air liurku sendiri,

“kamu sangat hebat mayy, mulutmu ini, sungguh menggoda” ucapnya setelah mengajakku berdiri,

Kami kembali bercumbu dengan tanganku yang merangsang penisnya, dalam cumbuanku tanganku begitu gatal untuk mengocoknya dengan penuh kelembutan, andi pun menyuruhku untuk menungging, tanganku bertumpu pada tepi batu dan kurasakan sesuatu yang besar akan membelah vaginaku,

“ini may pakai dulu biar makin cantik” ujarnya sambil meletakan topi dikepalaku,

“ahhhhhh ndiiiii” desahku ketika penisnya mulai memasuki vaginaku,

Walau baru dimasuki oleh kepala penisnya, namun aku tak mampu untuk menahan kenikmatan yang kudapatkan, aku menggigit bibirku, aku memejamkan mataku menikmati semua ini, andi yang sedang memegangi bongkahan pantatku terus berusaha membobol vaginaku yang begitu sempit,

“ouuhhh, ndiiii nikmat sekaliiii” desahku ketika andi menarik penisnya keluar,

Ia kembali mendorong pinggulnya yang membuatku kelabakan dibuatnya, sesaat ia kembali menarik penisnya dan kembali menghentakan pinggulnya hingga membuatku mendesah begitu nikmat,

“Aawwwwww” desahku tak kuasa kutahan,

Kurasakan penisnya sudah memenuhi ruang divaginaku, penuh sekali, sedikit bergerak saja aku dapat merasakan gesekan penisnya yang mengenai dinding vaginaku, andi mulai menggoyangkan pinggulnya secara perlahan, aku kembali mendesah merasakan sensasi ini, payudaraku yang sudah tak tertutupi apapun ikut berdansa seiring sodokan yang andi berikan padaku,

“Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh” desahku begitu nikmat,

Dalam sodokannya , tangan andi mulai bergerak meraba – raba punggungku, nikmat sekali, terlebih ketika rabaannya mulai mendekati payudaraku, aku semakin merinding ketika tangan lembutnya merangsang payudara besarku,

Aku kelabakan ketika tangannya begitu bernafsu meremas bokongku, sungguh nikmat sekali, aku tak mampu menjelaskannya, perlahan sodokannya semakin lama semakin kencang, tubuhku pun terguncang hingga nyaris terjatuh kalau andi tak memeganginya,

Andi memintaku untuk berdiri, kurasakan tangannya mulai tiba di payudaraku untuk meremasnya dari belakang, penisnya pun semakin kencang menggesek vaginaku juga dengan cumbuannya yang menempel di bibirku,

“ehhmmmm, ehhhmmmm uhhmmm” desahku memejam,

Andi mempercepat temponya, tubuhku terguncang hingga cumbuan kami saling terlepas, aku mendesah penuh nikmat tatkala penisnya memborbardir isi vaginaku,

“aahhhhhh, ahhhhh ndiiiii, pelllaaaa ahhhhhhh” desahku,

Andi juga demikian, ia semakin tak tahan untuk menggempur vaginaku, nafasnya sudah tak mampu ia atur lagi, penisnya ia rasakan sendiri telah berkedut berulang kali, ia memegangi pinggulku, hentakannya semakin kuat, payudaraku semakin terhempas dengan begitu nikmat,

“Ahhhhhh, ahhhh andiiiiii, ahhhhhhh” desahku tak mampu menahannya lagi,

“Ahhhhh mayyyy , ahhhhh aku gak kuat lagiii, kamuuu, ahhh, indahhh sekaliiii, ehhmmmm” desahnya,

Andi menghentakan penisnya ke dalam vaginaku, andi memejamkan matanya, berulang kali tubuhnya mengejang hebat merasakan sensasi yang ia rasakan malam ini, begitu juga denganku, kurasakan vaginaku penuh oleh cairan yang mengisi rahimku, aku puas sekali, aku tersenyum lelah menikmati semua ini,

Andi melepaskan penisnya dari dalam vaginaku, terlihat cairan spermanya mulai keluar membasahi sisi dalam pahaku, aku kelelahan, lututku lemas dan aku terjatuh diatas tumpukan pasir ini, andi tersenyum mendatangiku, ia memposisikanku untuk duduk menyender pada batu besar yang menghalangi kami, Ia pun juga duduk berada di sampingku,

“kamu curang ihhhh” ucapku pada andi,

“curang kenapa mayyy” ucap andi kebingungan,

“kamu masih full pake kemeja gini sedangkan aku ……”ucapku sambil melihat tubuhku yang sudah telanjang bulat ini,

“hahaha, maaf kamu rindu ingin melihat tubuhku yah” ucapnya membuatku malu,

“ihhh engga kok, sotoy deh” ucapku berpura – pura mengelak,

“hahha kalau gitu, aku kasih waktu satu menit , kamu harus udah berpakaian lengkap, kalau satu menit lewat masih ada sisi yang terbuka , aku gak mau tau yah, aku paksa kamu berlari menuju ruanganku” ucap andi mengejutkanku,

“Ehhh ndii cepet amat, tunggu , tunggu dulu” ucapku, aku terburu – buru mengenakan pakaianku hingga sengaja meninggalkan dalaman yang kukenakan,

Celana sudah melekat di kakiku namun kemeja yang ada tubuhku ini belum ku kancingkan seluruhnnya, tiba – tiba andi sudah menarikku dan berlari dibawah bintang – bintang yang telah menyaksikan kemesraan kami berdua,

“tunggu ndii, aku masih belum mengancingkan kemejaku” ucapku protes,

“gak usah dikancingkan aja mayy, kamu lebih cantik seperti itu” ucapnya menggodaku,

“ihhhh andiiiii” ucapku kesal,

Aku berlari dengan kemeja yang berterbangan menampilkan sisi bagian depanku, andai ada yang melihatku mungkin mereka akan terpana melihat payudara besarku yang selama ini bersembunyi dibalik bayang – bayang pakaian lebarku,

Akan tetapi dalam pelarianku ini, aku melihat ada sesuatu yang aneh di sudut pantai, tepatnya didekat bilik yang berdiri diatas pasir putih, aku melihat Aulia salah satu gengku sedang bersama Eka sang vokalis, aku maklumi karena eka memang mantannya ketika masih kuliah dulu, tapi ada apa dengan dua lelaki lain yang berada di kedua sisinya ?

Apakah ia sedang dipaksa ? entahlah, aku tak begitu jelas dalam melihatnya dengan jarak sejauh ini, semoga saja aku salah orang, aku kasihan kepada suami dan anaknya yang masih kecil apabila wanita tersebut benar Aulia,

Sesampainya didalam kamarnya yang berada di dalam penginapan pria, aku kembali ditelanjangi olehnya, andi yang sedang berbaring diatas ranjangnya begitu menikmati goyangan tubuhku yang begitu bernafsu untuk kembali bercinta dengannya, malam pun berlalu begitu panjang dan aku bahagia dengan kenangan indah yang baru saja ku ukir disini. Seperti kata pepatah karena sebutir garam akan terurai dan pasirpun akan mengikis tapi ketahuilah bahwa kenangan akan bertahan selamanya

~To be Continued~