Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 13

Sidestory 1 : Lamaran​

Hidup memang berjalan layaknya sebuah roda, kadang kita bisa menikmati indahnya hidup ketika kita berada di atas , tetapi kesedihan akan menjadi teman abadi yang akan selalu menemani ketika kita berada di bawah,

POV mang Dedi

Aku tak tahu lagi harus bagaimana, suasana hatiku sedang sangat kacau, aku tak bernafsu lagi untuk menjual sayur daganganku, rasanya dunia telah kiamat, Satu tahun sudah waktu yang telah kita jalani bersama, dek liya maafkan aku,

Aku mengingat lagi momen dimana liya mendatangiku di pos ronda, entah apa yang telah terjadi padanya, liya terlihat sangat bernafsu dan ingin mencumbuiku kala itu, aku terkejut dengan perbedaan sikap yang terjadi padanya, terlebih ketika neng firda datang dan memergoki kami, aku tak menduga kalau dek liya akan melakukan hal tersebut pada neng firda, apa yang sebenarnya terjadi pada liya yang selama ini kukenal ?

Puncaknya ketika pak benny datang dan memergoki kami berdua, barulah aku menyadari kalau nafsu liya benar – benar tinggi, ia seperti berada di bawah pengaruh obat – obatan tertentu , namun naas nasi sudah menjadi bubur, aku cukup bodoh karena alih – alih melindunginya aku justru membiarkan pak benny menikmati tubuh ayunya,

FlashBack

( “wahhhh dedi, neng liya,” ucap pak benny setelah memergoki kami ketika sedang telanjang bersama,

“kamu ngapain ded, kok bisa – bisanya main bareng neng liya disini” tanya pak benny penasaran,

“hehehe dek liyanya sendiri pak yang nafsu ke saya” ucapku tanpa berfikir lagi,

“lohh beneran, saya juga mau dong kalau gitu” ucap pak benny penuh nafsu,

“hehe coba tanya liyanya” ucapku

Rupanya dek liya begitu marah dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutku, ia merasa bahwa aku tak bertanggung jawab untuk menjaganya, aku memang bodoh, aku tak memerhatikan perbedaan sikapnya dari awal hingga akhir, aku hanya berfikir pendek mungkin nafsu liya sedang menggelora dan ingin menikmati beberapa orang yang ditemui olehnya,

Setelah kejadian itu aku hanya kebagian jatah untuk menjaga mereka dari luar pos ronda, tiap detik waktu yang kulalui hanya digunakan untuk menyaksikan liya sedang dinikmati oleh pak benny di dalam pos ronda, barulah kurasakan betapa sakitnya hati ini ketika melihat wanita yang kucinta sedang dinikmati oleh orang lain walau sebenernya liya bukan wanitaku seutuhnya,

Namun sisi baiknya pak benny membawa mobilnya kala itu, aku tak tahu kejadian apa yang terjadi setelah ia dibawa masuk ke dalamnya, tapi aku bersyukur setidaknya liya bisa aman dalam perjalan ke rumahnya tanpa harus was – was lagi dengan tiadanya pakaian yang harus dikenakan, )

Back To Story

Berulang kali aku mengirimnya pesan untuk meminta maaf kepadanya, namun ia tak membalasnya sama sekali, ia hanya membaca pesanku tanpa menjawab satu katapun, pernah ku coba untuk meneleponnya namun ia selalu menutup nya sebelum aku mengucapkan kata ‘halo’,

Tiba – tiba aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang berasal dari luar, aku langsung bangkit dari ranjang tidurku dan mendekati asal muasal suara tersebut untuk mencari tahu siapa yang telah mengganggu waktu menganggurku di pagi hari,

“iyya bentarrrr” ucapku sambil mengenakan kausku,

Saat pintu terbuka, aku kaget bukan main, aku tak menyangka kalau mereka akan mengunjungiku lagi pagi ini,

“mamaaa, tante, kakk bela kapan sampe?” tanyaku,

“ya barusan lah ded, gak liat apa kita baru nyampe” ucap kak bela,

“ya iya maksudnya kak, nyampe di jakartanya kapan?” ucapku kesal, namun kakak ku hanya tertawa setelah mendengar jawabanku,

“lohh dedi gak kerja? kok gerobak sayurnya masih penuh” ucap mama setelah melihat gerobak sayur ku,

“iyyah ma, lagi males aja” ucapku,

“males kenapa? Habis diputusin pacar nya yah?” ucap tante julie yang disambut tawa oleh kakakku,

“hhihihihi pelet nya abis yah ded?” ucap kak bela mengejeku, aku langsung memasang muka ketus padanya,

“ada apa ded, mau cerita ke mama?” ucap mama dengan penuh perhatian,

Memang ibulah wanita yang paling mengerti mengenai urusan anak – anaknya, tak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan, seorang ibu akan selalu tahu bagaimana kondisi anaknya saat ini,

Akupun jujur kepada mama bahwa hatiku merasa sakit setelah membiarkan dek liya dinikmati oleh lelaki lain, mamaku dengan penuh kesabaran mendengarkan tiap celotehanku, setelah selesai ia memulai membuka mulutnya untuk manasehatiku yang merupakan satu satunya anak yang masih jomblo dalam keluarga kami,

“yaudah ded , yang sabar, mama juga awalnya ragu kalau hubungan kalian akan baik – baik aja, walaupun pacarmu itu berhijab tapi mama tau kalau dia udah menikah, iya kan? mama gak mau kalau kamu menikahi pacarmu itu , terus dia bakal selingkuh dengan orang lain dibelakang kamu” ucap mama,.

“enggak ma, liya bukan wanita seperti itu” ucapku kesal, aku gak terima kalau liya disamakan dengan wanita doyan selingkuh lainnya,

“lohh kok suara kamu tinggi gitu? kamu nantangin mama?” ucap mamaku emosi,

“maaf ma bukan bermaksud gitu, tapi penilaian mama salah terhadap liya” ucapku dengan suara lirih,

“yaudah terserah kamu aja lah ded, sebenarnya kedatangan mama kesini cuma mau meminta kamu untuk pulang ke rumah sambil membawa menantu buat mama, terserah mau itu pacar kamu yang sekarang atau wanita lain, mama gak peduli, yang penting minimal tahun depan mama mau kamu sudah menikah dan pulang ke rumah buat nemenin mama” ucap mamaku yang membuatku semakin pusing,

Setelah itu mamaku, tanteku dan kak bela langsung pergi meninggalkanku, mungkin mereka ingin berlibur untuk menikmati suasana kota Jakarta,

Setelah mereka pergi aku kembali berbaring diatas ranjangku, aku pusing sekali hingga menggaruk – garuk kepalaku,

“Bagaimana caranya yah supaya aku bisa membujuk liya agar mau menikah denganku? ” ucapku bertanya – tanya,

Entah kenapa hari – hari yang kujalani bersamanya terasa semakin berat, Walau aku mengajaknya untuk menikah , pasti akan ada masalah dalam ‘keyakinan’ yang selama ini kami anut, apakah liya mau mengganti ‘keyakinannya’ demi menikah denganku ? , atau haruskah aku yang berpindah ‘keyakinan’? tapi kalau itu kulakukan pasti keluargaku akan sulit untuk menerimaku, bisa jadi aku akan dicoret dari kartu keluarga,

Belum juga ditambah dengan masalah yang baru – baru ini menimpa kami, haruskah ku coba tuk menghubunginya kembali?

“titttttt, ttttiittttttt, tiiiittttttt” detik demi detik berlalu, jantungku berdebar debar menanti jawaban dari sang pujaan hati

“hallooooo” jawab liya dari kejauhan,

“iya dekk haloooo” jawabku dengan penuh kebahagiaan, akhirnya dek liya mau mengangkat teleponku,

“ada apa lagi mas?” tanyanya cukup dingin,

“maaf dek soal kemarin” ucapku dengan nada memelas,

“udah lupakan, aku udah maafin mas kok” jawabnya,

“boleh minta waktunya sebentar gak? aku ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu dek” ucapku memberanikan diri,

“maaf mas aku sekarang sibuk” ucapnya dari kejauhan,

“sebentar aja dekkk, aku mohon” ucapku,

“yasudah sebentar aja yah” ucapnya yang membuatku kegirangan,

“iyya dek gpp kok, mau dimana?” ucapku deg degan,

“dirumah mas aja, mumpung dalam perjalanan juga, udah deket di sekitar perumnya mas kok” ucapnya,

“baikk dekkk, aku tunggu” jawabku yang langsung dimatikan sambungannya olehnya,

Detik demi detik telah berlalu, jantungku semakin berdebar – debar dibuatnya, akankah dek liya datang hari ini? Setiap satu menit diriku selalu melongok keluar jendela untuk mencari tahu, apakah dek liya yang ku nanti sudah datang?

Tiba – tiba suara ketukan pintu kembali terdengar, aku langsung bangkit untuk membukakan pintu untuknya, apakah ia wanita yang selama ini aku tunggu?

“dek liyyaaaa” ucapku sambil memeluknya,

Namun sikap liya begitu dingin padaku, aku memang memeluknya tapi wajahnya berpaling tak menatapku, tangannya pun diam saja tak bergerak untuk membalas pelukanku,

“maaf dek” ucapku merasa tak enak,

Aku mempersilahkannya masuk, dan menyuruh nya untuk duduk di tepi ranjangku, berat rasanya bagiku untuk membuka mulutku, haruskah ku to the point saja? tapi tidak mungkin apabila sikapnya seperti ini,

Tiba – tiba aku mendengar suara rintihan seorang wanita, aku menatap liya dan benar saja, wajahnya sedang menunduk dan air mata turun membasahi celananya,

“dek liyyaaaa” ucapku sambil memegangi tangannya,

Diluar dugaan liya meresponnya sambil memelukku erat, ia menangis sambil memeluk tubuh kekarku, aku pun bingung harus bersikap seperti apa, tangisannya semakin deras hingga membasahi pakaianku, aku mencoba untuk mendekapnya dalam pelukanku, aku mencoba untuk memberikan kenyamanan untuknya,

“kenapa mas tega?” ucapnya padaku,

“dekkk…. ” jawabku prihatin,.

“kenapa mas tega melakukan itu padaku” ucapnya merujuk pada kejadian pak benny,

“dekkk maafkan akuuu” ucapku memohon,

“tau gak sih berapa kali pak benny melakukan itu padaku?” ucapnya ditengah tangisannya yang semakin menjadi,

“maaf dekkk, kukira dek liya melakukan itu secara sukarela mirip ketika dek liya melakukannya kepada …… ” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dek liya sudah menampar ku dengan keras,

“aku bukan wanita seperti itu mas, jujur aku sendiri tak sadar ketika melakukannya pada Firda, tapi untuk mas, aku selalu sukarela melakukannya karena aku cinta” ucapnya yang membuat mataku terbuka,

Walau pipiku baru saja ditampar olehnya, hatiku merasa senang, aku merasa bahwa kesempatan ku untuk menikahinya kembali terbuka setelah mendengar ucapannya,

Aku mengusap punggungnya, aku baru sadar bahwa wanita memang tak pandang bulu untuk mencinta, entah kenapa aku semakin yakin bahwa liya adalah jodohku selama ini,

Setelah tangisannya mulai reda, aku mulai berbicara padanya,

“maaf dek, kalau apa yang kulakukan waktu itu sudah membuat dek liya bersedih” ucapku,

Dek liya tak menjawabnya, ia masih nyaman berada dalam pelukanku, dalam sesenggukannaya ia terus bersandar pada dada bidangku,

“sudah dong dek, jangan menangis lagi, maafkan aku yah” ucapku sambil menyeka air matanya,

“iya mas makasih” ucapnya sambil tersenyum,

Aku lega karena bisa melihatnya tersenyum lagi tapi kenapa ia berterima kasih padaku?

“Terima kasih mas karena sudah membuatku lega, aku juga seneng kalau mas sadar diri dan meminta maaf duluan, itu udah cukup untuk mengobati rasa sakitku” ucap liya padaku,

“dek liyaaaa” ucapku terharu,

Wajah kami perlahan semakin mendekat, kulihat mata liya telah memejam seolah sudah siap untuk kucumbu, kami pun saling berciuman diatas ranjagku ini,

Bibir kami saling bersentuhan dan lidah kami saling beradu, tanganku menyentuh payudaranya diluar kemeja yang ia kenakan, sungguh kenyal, aku menyukai bentuknya, kulihat liya memejamkan matanya menikmati percumbuan kami, aku sangat lega, aku pun membuka mulutku selebarnya dan mencaplok bibirnya yang manis itu,

“ehhmmmm, ehhmmmmm” desah nya,

Aku semakin bernafsu dan meremas kedua payudaranya, sungguh indah, nikmat sekali rasanya bisa menikmati binor secantik liya,

kami terus bercumbu hingga liur kami menetes membasahi spreiku,

“kamu cantik banget dek, bikin gak nahan” ucapku yang membuatnya tersenyum,

Satu persatu aku mulai membuka kancing kemejanya, Bra berwarna biru yang ia kenakan terlihat olehku, aku mulai memainkannya sehingga kurasakan nafasnya semakin memburu,

“Dekkk liyyyaaa” ucapku,

“ehhhmm, iyyahhhh masss” desahnya dalam menjawabku,

“Aku mencintaimu dek” ucapku penuh kejujuran,

Belum sempat liya menjawabnya, aku membaringkannya diatas ranjangku, aku membuka kemejanya yang sudah tak terkancing dan melemparkannya ke samping, sungguh indah tubuh langsing yang liya miliki saat ini, aku mencumbunya, aku menjilati tubuhnya, aromanya begitu harum, nafsuku semakin memuncak setelah mampu menikmati tubuhnya lagi,

“Ahhhh masss, ehhmmmm” desahnya disela – sela cumbuanku,

Aku tak mampu berhenti untuk mencumbu tubuhnya, sangat disayangkan apabila bibirku tak menyentuh sesenti saja dari tubuhnya, aku ingin menjilati seluruh tubuhnya, terlebih dengan puting berwarna pink yang tersembunyi di balik branya,

“ahhhhhh” desah liya ketika putingnya kucumbu,

Aku menggigitnya secara perlahan dan menghisapnya kuat – kuat yang membuat liya blingsatan tak karuan, tak lupa aku mulai menurunkan celananya disela – sela proses menyusuku, sangat nikmat, sangat indah untuk kulewatkan,

Akhirnya setelah sekian lama aku mampu melihat tubuh polosnya lagi, aku terkejut karena liya mengenakan G-string alih – alih celana dalam biasa, aku menatap wajahnya dan ia hanya tersenyum seolah ia telah menyiapkannya untukku, aku kembali mencumbu perut ratanya, sungguh nikmat, perutnya begitu rata dan bening, nafsuku semakin bangkit untuk segera menggenjotnya,

Aku mulai berdiri diatas ranjangku dan menanggalkan pakaianku satu persatu, dari sini aku bisa melihat dek liya begitu kagum setelah melihat kekarnya tubuh yang kumiliki terlebih dengan besarnya penisku yang mampu membuatnya terpesona,

Tanganku bertumpu pada ujung ranjangku, aku memejamkan mata tatkala penisku masuk menembus mulutnya, liya begitu kelabakan ketika aku memaksakan penisku masuk untuk menyentuh tenggorokannya, aku begitu menikmatinya, rasanya begitu hangat dipenisku,

Dilain sisi liya begitu kerepotan dan memukul pahaku karena tak kuasa menahan besarnya penis yang ku masuki ke mulutnya,

“massskk uuhhhuukkkk, gallklk myuuwwat” ucap liya dari bawah,

“sabar dekkk, nanti juga muat kok” ucapku,

Aku lupa bahwa yang kujejali oleh penisku ini adalah mulutnya, namun kenikmatan ini membuatku tak sadar untuk terus memasukan penisku ke mulutnya, aku baru tersadar ketika liya terbatuk – batuk karena besarnya penisku ini,

“ehh maaf dek maaf” ucapku,

“uhhukkk, uhuukk, gpp mas, ini nikmat kok” ucapnya yang membuat nafsuku bangkit,

Karena tak tahan, aku langsung mengambil posisi dan melebarkan kakinya, aku melonggarkan lubang G-string nya dan menatap vaginanya yang belum terlalu basah, sungguh indah, sungguh menggoda, akupun membasahi bibirku dengan lidahku, setelahnya aku pun merangsangnya dengan menggesekan penis besarku di bibir vaginanya,

“ouhhhhhhhh masss, ehhhmmm” desah liya,

Begitupula denganku, aku merasakan kenikmatan yang tiada tara akibat gesekan vaginanya ini, sungguh nikmat, andai ku tak sabar pasti sudah ku terjang lubang kenikmatannya ini, makin lama gesekan yang kulakukan di vaginanya membuatku semakin tak tahan lagi, akupun meminta liya untuk menungging,

Sungguh indah, bongkahan pantatnya yang tak tertutupi G-string nya membuatku tak tahan untuk meremasi dan menamparnya,

“plakkkk, plakkkk” aku menamparnya dengan penuh nafsu,

“Ahhhhhh masssss, ahhhhhhh” desah liya menikmati,

Karena tak tahan lagi aku langsung memasukan penisku ke dalam vaginanya, sungguh nikmat, sungguh sempit tak ada ruang lagi didalamnya, dinding vaginanya begitu rapat menggesek penis besarku,

“ouuhhhhhhh” desahku sambil meremas bokongnya,

“ehhhmmmm maasssss gakk muattt” desah liya sambil mencengkram sprei ranjangku

Aku mulai menggerakan penisku secara perlahan, sungguh nikmat sekali, vaginanya begitu seret menggesek penisku, tanganku tak henti – hentinya untuk meremasi bongkahan pantatnya, akupun gemas ingin menamparnya selalu,

“Ahhhhh massss. Semppiittttt ahhhhhh” desah liya memejamkan matanya,

Sungguh pergumulan yang sangat indah telah terjadi diatas ranjangku, aku menikmati tiap desahan yang liya keluarkan dari mulut manisnya, kulitnya yang mulus telah memanjakan tanganku untuk selalu merabanya, juga dengan vaginanya yang masih saja mencekik penisku walau sudah setahun lebih ku jejali dengan penis besarku,

“Dekkkkkkk” ucapku seolah memberikan kode,

“jangan mass, jangan duluu, jangan sekaranggg” ucap liya menolak,

Tapi nafsuku sudah tak terkendali lagi, aku mengeluarkan penisku dari vaginanya dan terlihat begitu mengkilat karena cairan cintanya, kemudian aku mulai memasukan jari tengahku ke dalam anusnya,

“uuhhmmmmmm” desah liya,

Aku tak sabar menanti untuk merasakan kehangatan anusnya lagi, tak terbayang dalam hidupku bahwa aku bisa menikmati anus milik wanita alim seperti liya ini, aku mengaduk – ngaduk anusnya dengan jari tengahku untuk melebarkannya, liya memejamkan matanya, ia mulai menikmati jariku yang begitu dalam menembus anusnya,

“ahhh massss, ehhmmmmmm” desahnya,

“gimana dek, persiapannya udah siap nih tinggal nunggu izin dari dek liya aja” ucapku,

“ehmmm, iyahh mass, terserah mas aja” ucapnya sambil menungging,

Aku sangat bersemangat setelah mendapatkan izin darinya, aku langsung memegangi penisku dan berusaha mengarahkannya ke dalam anus yang yang masih terlihat sempit,

“uuhhmmmmmmmm” desah liya sambil mencengkram spreiku dengan kuat,

Aku berusaha untuk terus mendorongnya, namun sangat sulit bagiku untuk memasukannya, anusnya sungguh sangat sempit, , aku tak kuasa untuk memasukan penisku yang besar ini, namun aku tak mau menyerah, aku mendorongnya dengan sangat kuat hingga kepala penisku masuk, lalu aku menariknya lagi hingga ujung penisku sajalah yang menyentuh anusnya, lalu kumasukan kembali sedalam – dalamnya hingga liya mendesah hebat,

“Ahhhhhhhhh masss” desah liya,

Strategi tarik ulur yang kugunakan untuk menembus anusnya pun sukses, aku berhasil memasukan setengah penisku ke dalam anusnya yang luar biasa sempit, penisku terlihat pucat, ini nikmat sekali, baru kugerakan sedikit aja , aku bisa merasakan sensasi yang luar biasa,

“ehhmmmmmmm” desah liya kesakitan,

Aku mencoba untuk menggerakan pinggulku secara perlahan, aku memejamkan mataku menikmatinya, aku tak mampu menjelaskan betapa nikmatnya himpitan anus yang mencekik penisku ini, sungguh nikmat, seret sekali anusnya,

Sementara dek liya terus bertahan menahan rasa sakit yang ia derita di anusnya, ia terus mencengkram spreiku bahkan menggigit bantalku untuk menahan rasa sakitnya, perlahan aku mulai mempercepat goyanganku di anusnya yang sempit sambil mencengkram bokongnya yang montok, aku jadi sering menahan nafas untuk mengatur tempo nafasku, sekali saja aku kelewatan bisa saja orgasme tiba – tiba melandaku, semua karena sempitnya anus yang dimiliki oleh binor berhijab ini,

“awwwww masssssss” desah liya begitu menderita,

Aku melihat wajahnya yang begitu memohon untuk menyudahi rasa sakit ini, agak iba memang untuk melihatnya , tapi perasaan nikmat yang kurasakan ini membuatku merasa nanggung untuk menyudahinya,

Walau akhirnya aku pun melepaskan penisku dari anusnya, kulihat anusnya sudah melebar cukup besar, luar biasa sekali, akupun meminta liya untuk duduk menyender pada ranjang tidurku, liya yang sudah lemas pasrah ketika aku memasukan penisnya ke dalam mulutnya,

“ahhhhh, ahhhhhhhh” desahku merasakan sensasi lidahnya di penisku,

Liya tampak kelelahan setelah anusnya disodomi olehku, ia pun pasrah membiarkan mulutnya untuk membersihkan penisku yang baru saja memasuki anusnya,

Liya mulai menyadari apa yang terjadi, ia pun berusaha untuk memuntahkan penis yang berada di mulutnya ini, ia mendorongku sekuat tenaga namun apa daya, tenaganya belum cukup untuk menjauhkanku darinya,

“ehhmmm, epaasssannn, ehmm eppaskkaannnn” desah liya tertahan,

“Ahhhhhhh” aku begitu menikmat service mulutnya,

Setelahnya aku meminta liya untuk berbaring diatas ranjangku, penisku yang sudah sangat siap untuk mengakhirinya memasuki vaginanya dan memborbardir apa yang berada di dalamnya,

“Ahhhh, ahhhhh , ahhhh” desah liya,

Payudaranya bergoyang dengan nikmat seiring genjotan yang kulakukan di vaginanya, aku menikmati semua pergumulan ini, aku menatap matanya dikala genjotanku akan menuju klimaks, aku menggenggam kedua tangannya, aku tersenyum sambil menikmati seluruh tubuhnya ini,

“ahhhh, ahhhh, ahhh massss” desah liya yang hampir mencapai klimaksnya,

Akupun mencoba menyusulnya dengan mempercepat sodokanku, nafasku semakin memburu, kutatap payudaranya semakin bergoyang dengan kencang, aku merasakan bahwa liya akan mendapatkan klimaksnya,

Aku menurunkan tubuhku, akupun mencumbunya ditengah – tengah pergumulan kami,

“ehhmmm, ehhmmm, ehhmm, ahhhhh masssss” desah liya,

“aarrrrgghhhhhhhhhhhhhh” desahku sambil menusukan penisku sedalam – dalamnya,

Aku puas sekali dibuatnya, aku begitu senang ketika berhasil menyemprotkan spermaku ke dalam vaginanya, liya pun tersenyum setelah berhasil mendapatkan orgasmenya, mata kami saling menatap , kami kembali bercumbu diatas ranjangku ini,

“dekkk mas mau ngomong sesuatu” ucapku,

“ada apa mas?” jawab dek liya,

“sebenarnya…. “ ucapku ragu,

“iyyaaaa??” ucap dek liya dengan sabar,

“Dek, Mau kah kau menikah denganku ?” ucapku,

~To be Continue~