Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Sisi Liar Dalam Diriku Part 12 – Cerita Sex Tukar Pasangan – Cerita Dewasa – Cerita Istri Selingkuh – Cerita Cinta Penuh Dosa

Pagi produktif​

Hari baru semangat baru, begitulah motivasi yang saat ini dimiliki olehnya, demi menyambut langkah baru yang telah ia ambil, ia berusaha untuk tampil sebaik mungkin untuk bertemu dengan majikan barunya, memang tidak ada yang lebih menyulitkan daripada hari pertama saat bekerja, namun tidak bagi dirinya.

Membayangkan bisa bekerja dengan majikan secantik dan seindah dek firda saja sudah membuatnya senang, tak ada rasa gugup sama sekali, yang ada hanyalah semangat yang telah membara demi bertemu dengan majikannya yang alim,

“berita apa itu ?” ujarnya sambil melihat ke arah TV,

“halah gak jelas emang negeri ini, untung udah keterima untuk bekerja di rumahnya, persetan dengan omni – omni apalah, dari namanya aja udah cilaka ya pasti bikin celaka” kritiknya,

Sesampainya di rumah majikan, lelaki berkulit gelap nan kekar itu mulai mengerjakan tugasnya, ia mulai merapihkan rumput liar yang berada di halaman rumah, ia menyapu teras rumah dan memanaskan mobil untuk menyambut keberangkatan majikannya ke kantor,

POV Firda

“lihat deh mi, bagus juga ide umi, pak manto keliatan semangat banget buat bekerja” ucap Hendra memujinya,

“hihihi, iya dong namanya juga hari pertama bekerja” ucapku,

“hahaha iya juga yah, tapi gpp deh bisa meringankan tugas kita juga kan di rumah” ucap suamiku,

“iya dong, pastinya” ucapku sambil bersandar pada bahunya,

‘Andai kau tahu mas alasanku yang sebenarnya ? maaf mas bukan bermaksud menghianati, aku tetep cinta dan sayang mas kok, tapi untuk masalah ini, seperti tugasnya untuk membantu meringankan tugas kita di rumah, pak manto juga membantu mas kok buat menuntaskan hasrat birahiku yang belum mampu mas atasi, tenang mas, aku tetep mencintai mu kok’ batinku sambil menatap wajahnya,

“ada apa nih liat – liat sambil tersenyum ?” tanyanya,

“hihi gpp, emang gak boleh yah ?” jawabku,

“gpp kok, yang sering – sering aja yah” ucap suamiku yang membuatku tertawa,

Aku pun kembali ke dapur untuk melanjutkan tugasku sebagai seorang istri, sementara kulihat dari kejauhan suamiku memanggil pak manto, sepertinya ada tugas baru yang diperintahkan untuknya,

Ketika aku sedang mencuci piring kotor, tiba – tiba aku dikejutkan dengan hadirnya seseorang dibelakangku,

“cantiknya majikan baruku, masih pagi udah rajin nyuci piring aja” gombalnya,

“gak sopan pembantu gombalin majikannya” ucapku dengan nada bercanda,

“ahh masa , yang bener ?” ucapnya sambil merangkul pinggangku,

“ehhh masss, jangan !!!, ada suami aku loh” ucapku panik,

“tenang aja, suamimu udah masuk ke kamar mandi kok, tinggal kita berdua aja di ruangan ini” gumamnya,

“tapi mas, tapi ……” belum sempat aku menyelesaikannya, pak manto sudah meremasi payudaraku, reflek diriku mendesah menikmati rangsangannya, walau begitu aku tidak bisa mendapatkan ketenangan karena khawatir suamiku segera keluar dari dalam kamar mandi,

Namun apa daya, remasannya yang begitu keras membuat darahku berdesir, tubuhku merinding merasakan remasannya di titik sensitifku, rasanya seperti dipijat, nikmat sekali,

“Ahhhhhhhhhh” desahku,

Daster yang ku kenakan pun diangkat olehnya, tangan kekarnya yang dipenuhi bulu – bulu halus mulai mencari vaginaku untuk dirangsang olehnya, aku membuka mulutku menikmati tiap sentuhan yang ia berikan di tubuh indahku, mataku terpejam merasakan sensasi nikmat ini,

“Ahhhhh massss, stoppp jangan sekarang ihhhh” ucapku memohon,

“gpp dekkk, nikmatin aja, semua aman kok, lagipula mana bisa berhenti kalau udah nanggung seperti ini” ucapnya yang membuatku semakin khawatir,

Masalahnya kamar mandi di rumahku hanya berjarak 3 – 4 langkah saja dari posisi aku berdiri, pintu kamar mandi pun terlihat dari sini, andai pintu kamar mandi terbuka otomatis suamiku bisa melihat langsung apa yang sedang terjadi di dapur,

“Ahhhhh maassss , tolonggg, jangan sekarang” desahku sambil memejamkan mata,

Tangannya mulai meloloskan celana dalam yang saat ini kukenakan, mataku terpejam penuh nikmat ketika jemarinya mulai menyentuh bibir vaginaku, aku mendesah, nafasku semakin berat, baru melalui tangannya saja aku sudah menggeliat seenak ini, apalagi kalau menggunakan pusakanya !

“umiiii, sayanggggggg” ucapnya memanggil,

Sontak baik itu aku ataupun pak manto terkejut mendengar suaranya, akupun berusaha menjawab panggilannya dengan setenang mungkin untuk menghindari kecurigaan yang berlebih,

“iya bii ada apa ehhnmm ?” tanyaku,

Masalahnya pak manto tidak berhenti untuk merangsang vaginaku, justru mulutnya telah bertengger untuk menjilati dan merangsang lubang kenikmatanku ini,

“ummii gpp?” tanya suami dari dalam kamar mandi,

“gpp kok, eehhmmm” ucapku sambil mendorong kepala pak manto agar menjauh dari selangkanganku,

“ohh gitu, bisa tolong ambilkan handuk yang ada dijemuran gak? Ketinggalan nih handuknya” pinta suamiku,

“iya biii sebentar” ucapku,

Dengan segera aku langsung pergi ke tempat jemuran untuk mengambil handuk milik suamiku, akan tetapi pak manto selalu membuntutiku kemanapun aku pergi, lama – lama jadi sebal juga, apa gak tau waktu sih pak manto ini ?

Setelah aku mengambilnya, handuk itu langsung ku berikan kepada suamiku, tapi setelahnya ketika aku berbalik pak manto sudah berada di depanku untuk mencegatku pergi,

“ayo dek, sebentar aja, kita quickie yah biar bisa lebih bersemangat kerjanya” ucap pak manto memohon,

“masss tolonggg ada suami aku disini , jangan macem – macem deh” ucapku lirih,

Suara cipratan air kembali terdengar dari dalam kamar mandi, suamiku kembali melanjutkan mandinya,

“tuh dengerin” ucapku menunjuk pada suamiku yang ada di dalam kamar mandi,

Namun kalau nafsu udah di ubun – ubun ya mau gimana lagi, ketika aku kembali berjalan menuju dapur, tangan pak manto sudah mencengkramku, tangannya dengan liar memainkan payudara besarku,

tidak hanya itu, tiba – tiba pak manto mengangkat dasterku dan meloloskannya melalui kepalaku, aku terkejut bukan main, tubuhku kini hanya tertutupi oleh bra dan hijabku saja, apa pak manto ini gak tau sikon yah ?

“massss” ucapku kesal,

Namun pak manto tak mengindahkanku, ia menarik tubuhku dan memintaku bertumpu pada dinding yang menyatu pada pintu kamar mandi, seketika kurasakan penisnya mulai menggesek – gesek bibir vaginaku, aku pun mendesah nikmat merasakan gesekannya, tatkala penis itu berhasil membelah vaginaku,

inginku rasanya mendesah sekeras mungkin namun sayang suamiku berada disampingku, hanya dinding yang memisahkan kami berdua, aku dijejali sarapan sosis bakar oleh pembantuku ini di hari pertama ia bekerja,

“ahhh, ehmm, ehmm ehmmmm” desahku ku tahan dengan mulutku,

“ummiiiii, ummii kenapa ?” ucap suamiku dari dalam,

“uuhhmmmm, gpp bi, lagi nyoba masakan umi, rasanya pedes banget, ehhmmmmm” ucapku disela – sela sodokan pak manto,

Apa pak manto ini sudah gila yah, bagaimana kalau tiba – tiba suamiku selesai mandi ? bagaimana kalau ia membuka pintu dan melihatku seperti ini ? tapi entah kenapa membayangkannya saja membuatku semakin terangsang, aku semakin hanyut dalam aksi nakalku ini, aku jadi teringat dengan obsesi lama ku, apakah pak manto berusaha mewujudkannya,

“ohh begitu, enak dong mi jadi gak sabar” ucap suamiku sambil melanjutkan mandinya,

“iyya biii, enakk bangettt, hemmmmm” desahku,

Makin lama sodokannya makin terasa cepat, aku baru ingat kalau kami sedang quickie , akupun merasakan penisnya begitu dalam ketika menggesek dinding vaginaku, payudaraku yang masih tertutup oleh bra telah terbuka setelah pak manto melepas kait branya untukku,

Aku menggigit bibir bawahku, aku menikmati tiap sodokan yang pak manto arahkan kepadaku, ketika kami sedang asyik – asyiknya tiba – tiba kami mendengar suara gagang pintu terbuka, kami pun reflek diam dan pak manto juga mulai menghentikan sodokannya di dalam vaginaku,

kami berdua melihat dengan jelas bahwa tangan suamiku sudah terlihat ingin keluar dari dalam kamar mandi, rasanya jantung ku seperti berhenti berdetak, kami sama – sama mematung tak tau lagi bagaimana langkah yang akan kami lakukan setelah ini,

“ohh iya kan belum keramas” ucap suamiku , ia kembali menutup pintu dan terdengar suara gemericik air yang keluar dari dalam shower,

“astaga” ucapku panik, aku mengelap keringat yang berada di keningku, nyaris saja semuanya berakhir, untung keberuntungan masih ada di sisiku,

“Ehhmmmmm” desahku ketika pak manto kembali menggenjot vaginaku,

“ahhh ahhh ahhhh, gimana dek ? seru kan ?” tanyanya dengan santai,

‘seru – seru darimana coba ?’ batinku kesal mendengarnya,

Tapi ku akui, perasaan ini, perasaan yang begitu bahagia karena bisa kembali merasakan obsesi lamaku, tubuhku kini berdiri tanpa bertumpu pada apapun, pak manto masih terus menggenjotku dari belakang, payudaraku bergerak dengan begitu liarnya seiring naiknya tempo yang saat ini pak manto lakukan untukku,

“Ehhmmmm, ehhmmmmm ehmmmmm” desahku menahannya dengan tanganku,

Tanganku bertumpu pada tangannya yang memegangi pinggulku, kuakui aku semakin hanyut dalam permainan quickie ini, yang membuatku heran kenapa quickie nya bisa selama ini ?? Pak manto memang luar biasa, dirinya begitu tahan lama dalam setiap pergumulan yang kami lakukan sejauh ini,

“uuhhmmmmmmm” desahku merasakan cengkramannya semakin kuat ke arah payudaraku, akupun merasakan kedutan yang berada di dalam vaginaku, mungkinkan sekarang waktunya ? yaps benar saja temponya semakin naik dengan pesat, payudaraku semakin terhentak dengan kencang, ingin rasanya diriku mendesah dengan begitu bebas namun sayang ada suamiku disini, ehhh bagaimana dengan keadaan suamiku sekarang ?

Kudengar ada suara senandung yang berasal dari dalam kamar mandiku, aku tau kalau ia sedang bersenandung tandanya ia sedang mengeringkan diri menggunakan handuknya, tapi kenapa pak manto gak keluar – keluar sih !!!

“Ahhhh, ahhh , ahhhhh ahhhhhhhhh, sebentar lagi dekkk, ahh” desah pak manto dengan kuat,

Mataku terpejam, aku beruasaha menutup mulutku dengan sangat kuat, tapi apa daya penis besarnya begitu kuat menusukku dari dalam, aku tak sanggup menahannya lagi, aku tak tahan untuk tak membuka mulutku aku ……….

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”

“cekrekkkk” pintu pun terbuka membuatku terkejut dengan nasib apa yang akan menimpa kami berdua nantinya,

“ehhh pak manto sudah ada disini, istriku mana ? kok tadi saya mendengar suara teriakannya yah?” ucapnya polos,

Pak manto yang sudah berpakaian lengkap pun gugup untuk menjawabnya, beruntung ia memiliki ide untuk menjawab pertanyaan dadakan itu,

“tadi ada coro pak, bu firda lari ke teras rumah, tapi semua aman kok hehe” jawabnya dengan singkat,

“ohh begitu baguslah, istriku memang takut sekali dengan coro hahaha” tawanya tanpa curiga apapun,

Narasi : “Lantas apa yang sebenarnya terjadi ? kenapa Hendra tak mencurigai apapun ? bukankah mereka berdua sedang berada di dekat kamar mandi ?”​

Sementara diriku, yang sudah bertelanjang bulat bersandar pada dinding rumahku, wajahku dipenuhi oleh lelehan sperma dan vaginaku sudah sangat basah akibat persetubuhan tadi, beruntung posisi kami saat sedang bersenggama berada tak jauh dari belokan yang berada di pojok ruangan ini,

diriku tengah bersandar pada dinding yang sedang menghadap ke arah barat berbeda dengan dinding yang sejajar dengan kamar mandi , dinding tersebut menghadap ke arah utara. Teringat beberapa detik yang lalu ketika pak manto hendak menuntaskah syahwatnya,

FlashBack

(“ahhhhh ahhh dekkk, ayo berlutut cepat” perintah pak manto,

Aku segera berlutut dan mendapatkan semprotan sperma yang begitu banyak diwajahku, aku terkejut bukan main, tiba – tiba aku mendengar suara gagang pintu kamar mandi yang akan terbuka, sesegera mungkin aku pergi untuk bersembunyi di balik dinding yang menghadap ke arah barat ini, beruntung kami tepat waktu sehingga tak ada masalah yang harus kami terima dari aksi kami pagi ini,)


Belum sempat beristirahat setelah menerima semprotan sperma diwajahku, tiba – tiba aku mendengar suara langkah kaki mereka yang semakin keras, pembicaraan mereka pun semakin lama semakin terdengar, mataku pun terbelalak, apakah mereka sedang berjalan ke arah sini ? celaka kalau benar, karena tidak ada jalan lain bagi mereka untuk berbelok ke arahku, haruskah aku menjauh dari sini ? tapi satu – satunya jalan adalah keluar menuju teras halaman rumah ? haruskah aku melakukannya ?

Dan juga mana daster yang ku kenakan tadi ? kulihat daster tersebut terlempar di dekat dapur, bisa gawat kalau suamiku melihatnya, makin lama suara obrolan mereka semakin keras, kurasakan jantungku berdebar semakin kencang dan benar saja aku melihat mereka berdua lewat disampingku, aku tak tau lagi harus bagaimana ? sekali saja suamiku berbalik arah, ia bisa melihat diriku yang sudah telanjang bulat dengan sperma yang memenuhi wajahku,

Untungnya pak manto berhasil memfokuskan suamiku sehingga ia tak mengetahui bahwa diriku sedang berada disini, seketika pak manto memberikanku kode untuk segera pergi dari sini, aku segera pergi ke belakang mereka untuk mengambil dasterku dan masuk ke dalam kamar mandi,

“Cekrekkkk” terdengar suara pintu kamar mandi tertutup,

“lohh siapa itu?” tanya Hendra,

“mungkin bu firda kali yah?” jawab pak manto,

“lohh katanya tadi istriku sedang berada di teras rumah, bukannya seharusnya istriku berada tepat didepan kita sekarang ini” tanyanya curiga,

“ehhh, mungkin tadi pak, karena takut atau jijik mungkin ingin segera mandi kali hehe” ucap pak manto,

“hmmm benar juga sih, yasudah yah tolong antarkan saya ke kantor setelah ini” pinta Hendra tanpa curiga,

“baik pak” jawab manto dengan tegas,

‘bodoh sekali majikanku ini, bagaimana bisa ia tak mencurigai sikap kami sedikitpun ? sungguh polos, tapi bagus sih membuatku memiliki banyak kesempatan untuk menikmati tubuh istrinya sepuasnya’ batin manto dengan tawa jahatnya,

Beberapa jam setelah kejadian tersebut,

Aku tak menyangka dengan aksi nekat yang dilakukan oleh pak manto pagi tadi, beruntung aksi yang kami lakukan tidak diketahui oleh suamiku, namun aku mengakui bahwa tadi pagi merupakan pengalaman yang luar biasa, tapi masalahnya aku seperti semakin jauh dari hati nuraniku, bagaimana bisa saat ini aku tak menyesali perbuatanku saat itu, padahal jelas – jelas aku melakukannya saat berada di dekat suamiku ? entahlah , lagipula aku tetep mencintai suamiku kok,

“sayuurrrr, sayuuurrrr” ujarnya memanggil,

“nah itu dia orang lain yang pernah menikmatiku,” ucapku,

Agak males sebenarnya untuk membeli sayur darinya, tapi mau gimana lagi cuma dia tukang sayur di kompleks ini, akupun terpaksa menemuinya untuk membeli beberapa ikat sayuran untuk ku masak,

Saat aku sampai di gerobak sayurnya, aku langsung memilih sayur tanpa memperdulikannya, aku mencari sayur terong untuk ku masak menjadi balado terong kesukaan suamiku, ku dengar terongnya mang dedi merupakan terong terbaik di kompleks ini, benarkah ?

Tiba – tiba ada sesosok pria gendut berperut buncit yang datang menemui mang dedi, ada apa gerangan ? kenapa pria tersebut datang menemuinya ?

‘loh kok ada pak benny sih? Mana bu susi ? untuk apa ketua RT sini yang membeli langsung, apa bu susi sedang sakit ?’

Tiba – tiba mereka berdua menatapku secara bersamaan, spontan aku memalingkan pandanganku, aku menyibukan diri untuk memilih sayuran yang ingin ku beli,

‘ngapain sih mereka lirak – lirik, bikin gak nyaman aja’ batinku kesal,

***​

Terkadang kita selalu salah dalam menafsirkan apa arti dari kata perpisahan, banyak orang mengartikan bahwa berpisah berarti tak memiliki peluang untuk bisa saling bertemu kembali, padahal kata perpisahan diciptakan untuk menguatkan rasa rindu yang selama ini bersembunyi dibalik bayang – bayang gengsi,

POV Maya

Siapa yang menyangka setelah sekian tahun tak berjumpa, aku kembali dipertemukan dengan pasanganku dulu ketika memenangkan kejuaran mr & miss kampus, ia bernama Andi, ia juga pernah memintaku untuk menjadi pacarnya kala itu, namun aku menolaknya dengan alasan masih ingin sendiri dan kini ia telah menikah dengan istrinya yang sekarang, aku turut berbahagia dengan kabar tersebut, tapi bagaimana dengan kabarku sekarang ?

Beruntung dengan baik hati andi mau mengantarkanku pulang dengan mobilnya, aku tak tau lagi harus bagaimana apabila tak bertemu dengannya, aku sangat lelah hari ini, terutama atas pelecehan yang dilakukan oleh kedua binatang tak bermoral tersebut dibawah jembatan,

“apa yang sebenarnya terjadi padamu may, kok kamu seperti ini ?” tanya andi setelah melihat keadaanku,

“maaf ndi, aku gak mau membicarakannya” ucapku,

“yaudah gpp, maaf kalau begitu” ucapnya merasa gak enak,

“tapi terima kasih yah ndi, udah mau mengantarkanku pulang” jawabku untuk menghibur hatinya,

“tak apa, ndak masalah kok may, senang bisa membantu” ujarnya tersenyum,

Andi kembali berfokus untuk menyetir sementara aku duduk berada di sampingnya, pandanganku ku arahkan keluar jendela, jiwaku masih terguncang dengan nasib tak terduga yang kualami kali ini,

“oh yah may ……..” tanya andi terhenti setelah melihatku,

“kau lelah yah? Yasudah beristirahatlah dulu” ucap andi setelah melihatku tertidur dengan pulas selama perjalanan,

‘apa sebenarnya yang terjadi padamu may ? ceritalah lain kali kepadaku !’ batin andi dengan penuh perhatian,

Tanpa sepengetahuanku yang tertidur, andi berkali – kali mencuri – curi pandang kearahku, ia menatap wajah lelahku dengan penuh perhatian, bahkan ia menggenggam tanganku dikala ku tertidur,

“tak kusangka kau masih sama seperti dulu mayy, kau sangat cantik, andai kau tahu, selalu ada tempat untuk mu direlung hatiku ini” ucapnya lirih sambil menggenggam tanganku dengan erat,

~To be Continued~