Cerita Sex Pacar Binal Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Tukar Pasangan?

Pacar Binal Part 9

Aku selalu bersyukur dengan hidup yang aku miliki sekarang. Secara keuangan tidak ada masalah, walau bukan tajir-tajir amat. Secara akademis tergolong diatas rata-rata makanya bisa jadi asisten dosen 1 mata kuliah. Kehidupan sosial sangat baik.

Ga ada musuh, dan gaul dengan teman-teman. Dan yang paling aku syukuri adalah kehadiran sosok Marsha Pacarku. Pelengkap semua kesempurnaan. Sumber motivasi dan juga pelampiasan libido anak muda. Beruntung sekali bisa memiliki Marscha bunga kampus. Pasti banyak mahasiswa yang iri.

Kalaupun ada yang aku tidak syukuri adalah hanya masalah kripsi. Menyesal aku memilih Pak Zakar jadi dosen pembimbing. Dia tahu kondisiku yang ga berprogres, maka dia tawarkan ganti judul skripsi saja. Skripsiku yang ga kelar-kelar karena dosen pembimbing brengsek, sehingga akhirnya aku ganti judul dan ikut proyek dia.

Iya, ikut ngerjain proyek dia. Kesempatan. Aku yang kerjaan proyek konsultan dia, tapi dengan imbalan laporan proyek bisa aku masukkan ke skripsi. Dijamin akan cepat. Biar cepat beres ya sudah aku terima saja. Tapi dampaknya adalah mengharuskan aku harus sering bolak-balik keluar kota untuk penelitian dan presentasi ke pemberi kerja karena proyeknya di luar kota.

Itu yang membuat aku berat. Berpisah dari pacar secantik Marscha bukan hal gampang. Apalagi dengan berbagai pertanyaan seputar perubahan pacarku yang sexy ini.

Aku belum cerita ke pacarku kalau minggu depan akan berangkat keluar kota. Aku ga mau buat dia sedih karena LDR sementara. Yang ada aku malah berniat akan ML dengannya setiap hari selama seminggu ini. Memuaskan semua hasrat. Berhubung aku akan berpisah lama dengan tubuh indah itu.

“Yank, kamu dimana?

“Dikampus”

“Sore ke kokost ya. Ada yang mau aku bahas”

“Bahas apa bahas… :p”

“Ah kayak ga ngerti saja kamu”

“Hihihi….”

Kemudian dia kirim foto selfinya yang sangat cantik. “sampai ketemu nanti sore sayang..”

 

Kamar mandi Kost

Kondisi kamarku sore ini berantakan sekali. Baju dan celana berserakan dilantai. Begitupun celana dalam dan bra yang warnanya seragam. Seolah-oleh jadi saksi bagaimana terburu-burunya aktfitas dikamar tadi sebelumnya.

Saat ini aku dan pacarku yang cantik sedang berdua dikamar mandiku dengan kondisi seperti adam dan hawa pertama kali datang ke bumi. Aku berdiri dibawah shower, pacarku sedang berlutut dilantai tepat dihadapanku. Dengan liar dia memainkan batangku yang sudah tegang maksimal. Mulutnya yang tipis melahap habis batangku, tangannya bahkan memainkan dragon ball dan meremas pantatku.

Aku hanya menatap kebawah bagaimana dia dengan lihai memainkan juniorku. Sedotanya begitu mantap. Harus aku akui pacarku makin hari makin mahir oral sex.

“ohhh sayanggg…. sedotan kamu enak banget…auhhhh….” Desahku.

Pacarku makin semangat memaju mundurkan mulutnya. Sesekali matanya menatap nakal ke arahku. Aku turunkan tanganku kebawah, lalu meremas payudara indah itu. Aku mainkan pintilnya yang sudah tegang maksimal. Pacarku makin semangat mengoral batangku. Membuatku harus kuat-kuat menahan, sebelum ngecrot duluan.

Kami pun melakukan foreplay sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi dikamar mandi itu berlangsung seru. Aku posisikan pacarku berdiri membelakangiku. Kedua tanganya memegang dinding kamar mandi, aku tarik pantatnya agar mundur sedikit menungging.

“Ouhhhh……ouhhhh…..” Dia hanya mendesah saat batangku dengan lancar meneroboh vaginanya yang sudah banjir.

Dengan tempo sedang, Aku menyetubuhinya dalam posisi berdiri, semi doggy style. Ah……..tak pernah bosan batangku merasakan jepitan vagina ini. Nikmat sekali rasanya. Kusodok-sodok dengan kasar, sampai di terdesak ke pintu kamar mandi.

Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. Hal itu membuatnya makin mendesah kencang. Untung shower masih aku hidupkan, untuk menyamarkan suara desahan yang keluar dari dalam kamar mandir kost ini.

15 menit berlalu, pacarku sudah sampai pada puncaknya. Dia berteriak rada kencang : “Ahhhhhhh….aku keluarrr…yank….ahhhhhhh…….” Tubuhnya menegang. Kurasakan banyak keluar cairan dari vaginanya. 1-0.

Aku yang belum puas, kemudian memaksa ganti posisi. Aku buat dia berbaring dilantai kamar mandi. Dia yang masih lemas hanya pasrah saat punggungnya yang mulus aku letakkan di atas lantai yang berair. Aku renggangkan pahanya, Lalu aku sodok dengan gaya missionari. Dia kembali medesah-desah dengan mata terpejam. Tubuhnya makin sexy karena dadanya yang ranum bergoyang dengan indahnya.

Kubayangkan yang lagi menggenjot pacarku ini adalah Ringgo. Wah, aku makin panas sekali, bagaimana seorang cowo lain menikmati jepitan pacarku. Sodokanku makin kencang.

“Sayank…pelan-pelan dong….kamu nafsu banget….” Katanya melotot kearahku. Bodo amat, aku tetap menggenjotnya dengan brutal. Anjtrit, ini memek pasti sudah dikentot si Ringgo bangsat itu, batinku. Atau jangan-jangan si Johan tetangga Kostku juga sudah pernah masukin batangnya keliang surgawi pacarku ini. Aku makin gila membayangkan itu. Sambil terus aku sodok-sodok memeknya yang makin banyak megeluarkan cairan.

Bosan dengan gaya misionari, kemudian aku bangkit berdiri sambil menggendong pacarku. Aku duduk diatas kloset. Dia sekarang diatas berhadapan denganku. Posisi woman on top (WOT) ini adalah posisi favoritnya.

Perlahan batangku yang sudah tegang maksimal, ditelan oleh vaginanya. Walau sudah lemas, aku paksa pacarku untuk goyangkan pantatnya diatas batangku. “Ayo yank…kita keluar bareng…”

Lalu pacarku menegakkan tubuhnya dan mulai menggenjot dengan menaik turunkan pantatnya. Tanganku tak tinggal diam dia terus meremas bongkahan pantat pacarku yang indah itu.

Aku sungguh tidak melihat sosok pacarku yang calm seperti biasanya. Dengan lihai dia mengendarai batangku, bahkan sesekali memutar mutar pantatnya menikmati penisku. Benar-benar bitchy dan profesional sekali.

Sembari pacarku menggoyangkan tubuhnya diatasku dengan ganasnya, kedua payudaranya yang bergoyang goyang itu langsung saja aku genggam dengan kedua tanganku dan kumainkan putingnya yang berwarna cokelat muda.

“Aahhhh yankkk aaahhh terusin….. aku enak banget ini ahhhh” Desah pacarku.

Maka tanganku berganti dengan mulut, yang kini melahap payudara kirinya. Aku sedot dengan kuat, sambil memainkan oayudara yang satu lagi dengan tanganku. Itu membuatnya makin gila. Hingga akhirnya pacarku mempercepat goyangan pinggulnya dan menekan nekan kontolku. Hingga akhirnya…

”Yankk…mau keluar…lagi” desanya manja.

Kupercepat gerakan tanganku pada putingnya, dan sedotanku makin liat menggigit-gigit putingnya.

“Aaaahhh!! sayankkkkk enak bangeeettt!!! Ouuuugghhhhhh!!!” Dia orgasme kembali.

Batangku pun langsung terasa terjepit dan dialiri oleh cairan cintanya yang sangat banyak itu. Kurasakan badannya bergetar seperti kena aliran listrik saat orgasme.

Berhubung aku belum keluar, maka dengan sendirinya pacarku melepaskan batangku, lalu duduk bersimpuh dilantai dihadapan batangku yang baru selesai mengobarak-abrik pertahanannya. Benar-benar cewe bitchy yang pengertian.

Dengan lihai dia lalu mengoral batangku yang masih tanggung karena belum keluar. Dia sedot dengan kencang, sambil memainkan kepala pelerku. Tak sampai 2 menit, seponganya yang mahir itu sukses membobol pertahanku.

“Ouhhhhhh…….yankk….mau keluar…” Desahku. Dia lalu mengeluarkan batangku, lalu mengarahkan ujungnya ke wajahnya.

Aku akhirnya ngecrot banyak sekali di wajahnya. Tembakan pertama dan kedua sukses mendarat dimata dan pipinya. Tembakan selanjutnya segera dia arahkan ke bibirnya yang tipis itu. Pacarku memang mau aku semprot wajahnnya hanya kalau ML di kamar mandi saja. Mungkin krn dengan gampang dibersihkan.

 

Janjian dengan Sherry

Aku terbangun pagi-pagi sekali, sehabis tadi malam bercinta dengan pacarku ,karena kebelet pipis, dan seperti biasa, pacarku Marsha masih tidur dalam keadaan telanjang dan selimut yang acak2an. Terakhir kuingat, waktu tertidur semalam sehabis bercinta ronde kedua diatas tempat tidur, Marsha masih belum tidur dan malah bermain HP, jadi sepertinya harus kuinspeksi hp-nya pagi ini, mumpung dia masih belum bangun.

Paling atas ada WA dari si Bangsat Ringgo yang buatku (seperti biasa) panas dingin.

Jam 17.00

M: Lu jangan telp atau wa gw ya. Gw malam ini mau nginap di kost cowoku.

R : Mau ngentot ya? Asiknya… gw iri…

M : Dasar mesum otak lu.

R : Jadi apa lagi pacaran sampai nginap kalau ga NGENTOT

M : xixixi

R : Pasti cowo lu senang banget ya bisa NGENTOTIN lu sampai puas.

M : Mulai deh bahas gituan.

R : Bisa mainin tetek lu yang kenyal itu

M : …….

R : Bisa jilatin memek lu yang jembutnya lebat, tapi wangi.

M : ……

R : Bisa doggy-in lu sampai ngecrot.

M: STOP. Sudah..udah… ga usah dilanjutin. Jadi horny. Pengen cepat-cepat ke kost cowo gw. Wek

R : Ingin ikuttt… Theresome

M: Sana gih coli kamar mandi. Wek

R : Nanti kirimin foto lu habis ML ya.

M: Ga mau!

R: ya sudah gw telp lu pas lagi enek2an ngentot. wkwk

M: Ih jahat…

 

Jam 19.12

Marsha kirim pic dia lagi di kamar mandi kostku. Badannya basah sehabis mandi. Dia kirim pic lagi meremas toketnya.

“Ini buat bahan coli lu. Jangan ganggu gw ya. Bye”.

Balasan Ringgo : Ingin gw tumpahin mani gw di toket lu.

Jam 22.23

M: Baru selesai ML ini. Kepala tenang rasanya. Hihihi.

R: Anjiss… langsung konak gw bayangin lu. Mana pic nya? Gw ga tenang nungguin lu dr tadi. Tega lu ya

M: Hihihi….sabar ya…

M : *send pic

Marsha kirim 4 foto. Foto pertama selfie dengan belahan dada terlihat, masih dibawah selimut. Sama-samar sekilas terlihat aku disebelahnya yang sudah tidur.

Foto kedua. Dia buka selimut dan pamerkan toketnya yang indah indah, sambil dia remas. Mukanya dibuat sebinal mungkin.

Foto ketiga foto Marscha telanjang bulat dengan memamerkan memeknya yang merekah dengan indah. Ada caption : baru selesai dipake ini.

Dan foto yang terakhir yang buatku makin kaget karena ternyata itu video 40 detik dikamar mandiku saat Marscha mengobel-obel memeknya. Dengan pakai headsead dia ngomong : “Tadi enak banget dimasukin kesini, Ringgo. Buat melayang kelangit ke tujuh. Kamu penasaran kan rasanya sayang…Ouhhhh… enak banget…..”

Muka pacarku sangat horny disitu. Kemudian dilanjutkan: “Sudah ah, sana lu coli. Gw horny lagi, Mau godain cowo gw ronde kedua… eh bukan deng, ronde kelima. Bye”.

Benar-benar binal pacarku ini. Aku horny berat membayangkannya. Walau kesal. Horny dan Cemburu

 

WA Sherry

Habis itu aku langsung baca WA sherry, karena memang ini yang dari tadi ingin aku lihat.

M: “Lu kenapa tadi telp sampai 3x?”

S: “Lu tidur ya. Sudah kayak kebo.

M: “Ga. Gw lagi dikost cowo gw. Ini baru selesai main ama Billy nih, masih bugil. hihi”

S: “Gak percaya, kasih pap dong”

M: “Idih, masa kasih pap ke cwe??”

*Picture sent*

Yap, itu adalah foto Marsha yang topless memperlihatkan payudaranya yang sekal, dengan bagian bawahnya tertutup selimut. Marsha menutup sebelah mata sambil melet dan tangan satunya membentuk tanda peace, seperti selfie2 kekinian.

S: “Nanggung amat, bawah sekalian lah”

M: “Aah, dikasih hati minta ampela lo”

*Picture sent* (tertanda 5 menit kemudian)

Kali ini Marsha mengambil fotonya dari cermin di kamar mandiku. Di situ terlihat dengan jelas tubuh Marsha yang sedang telanjang dari atas sampai ke bawah.

S: “Gila, seksi banget ya lo. Jadi pengen deh ML ama lo”

M: “Ih, apaan sih? Lo udah jadi lesbong ya sekarang?? Tau gitu gak gw kirimin”

Lalu agak lama diam ga ada balasan Sherry. Sampai akhirnya.

S: “Yaah, Sha, sorry banget, itu tadi yang ngirim bukan gw, tapi cwo gw”

M: “WHAT??? Ya ampun!? *emotikon nangis*”

M: “Jadi dia lihat dong…”

S: “Lihat lah, lo maen asal pap gitu”

M: “Ah elaaah”

S: “Udah lah, berasa kayak belum pernah ngirim foto gituan aja ke cwo lain”

S: “Btw, kebetulan kan cwo gw udah balik nih, dan bakal di sini beberapa hari. Kayaknya mending kita laksanain rencana kita besok deh”

M: “Rencana apaan?”

S: “Ih, kan gw udah bilang, Sha, dia pengen nyemprotin peju ke muka lo”

M: “Anjrrit lo serius ternyata?”

S: “Eh ni anak, dipikirnya gw bercanda? Serius lah!”

M: “Ogah ah, malu”

S: “Maigat, kayak lo belum pernah dipejuin cwo2 aja. Tambah satu gak masalah kan?”

M: “Itu kan barteran, Sher”

S: “Jadi yang di kosan cwo lo itu barteran juga? Atau yang lo bilang dulu ama tukang ojol barteran”

M: “Ya udah2, tapi lo gpp nih?”

S: “Gw ama cwo gw mah cincay. Kita berdua bebas dan tau sama tau. Cwo lo gimana?”

M: “Santai kalau ama Billy mah, cincay juga”

S: “Widih, keren lo bisa buat dia pikiran terbuka atas kenikmatan sex. haha. Ya udah, besok lo ke sini deh, ntar cwo gw nungguin di sini. Cwo lo gak ke mana2 kan besok?”

M: “Katanya sih gak ke mana2, emang ngapain?”

S: “Dih, masih ditanya mau ngapain? Ya barter lah, lo dipejuhin cwo gw, dan gw dipejuhin cwo lo, biar adil”

M: “Geloooo lo!”

S: “Ini jadi ga sih?”

Disini aku lihat cukup lama Marsha balas pertanyaan Sherry.

M: Ok ok. Tapi lu harus rayu Billy ya. Jangan cerita skenario kita”

S: “OK deal. So, jam 10an ya, besok”

M: “Terserah. Capek nih mau tidur dl”

S: “Cwo gw minta pap lagi noh”

M: “Ogah, besok aja lihat langsung *emotikon melet*”

Tanganku bergetar. Jadi akhirnya Sherry beneran ngelaksanain rencananya. Memang sih, aku bakal diservis juga ama Sherry, tapi apa aku bakal rela kalau Marsha. Bodo amatlah. Yang penting aku bisa ngentotin Sherry yang dari dulu diam-diam fantasiku kalau lagi coli. Si binal anak gaul kampus itu bakalan gw siksa sampai puas. Gw mau rencanakan banyak hal nih.

Hmm, tapi Marsha sepertinya ngasih kesan ke Sherry bahwa semua kelakuannya dia adalah atas sepengetahuanku, padahal kenyataannya enggak gitu, beda dengan Sherry ama cowoknya yang memang sudah saling sepakat dan buka-bukaan satu sama lain. Tapi buat ini, aku harus mastiin lagi besok, eh, maksudnya siang nanti. Pokoknya aku ga mau rugi, aku mau explore tubuh sherry semaksimal mungkin, bila perlu aku siksa si bitchy itu.

Aku bangun lagi saat jam menunjukkan jam setengah 9 siang. Kulihat Marsha sudah siap2 dan berdandan. Dalam hati aku berpikir bahwa dia pasti ingin bersiap buat ketemu ama (cwo-nya si Sherry) itu.

“Sayang, rapi amat, mau ke mana? Bukannya kamu gak ada kuliah hari ini?”

“Ini nih, Yank, tadi kaprodinya ngasih tahu kalau kuis Pak Marbun besok batal, soalnya Pak Marbun-nya ditugasin ke Medan, kudu berangkat malam ini. Jadinya kuisnya dimajuin deh hari ini”

Pintar juga, dia menggunakan dosennya yang pernah beberapa kali menggeser jadwal kuliah sebagai alasan.

“Terus kok dandanannya cantik banget gitu? Ntar dikira mau kencan lho”

“Enggak lah sayang, mana mungkin aku kencan ama selain kamu.” Dalam hatiku aku berkata gombal

“Si joni bangun lagi nih kayaknya, boleh dong sekali main”

“Ya ampun, aku kan udah make up-an, yang. Ntar kalau main lagi kudu ngulang make up lagi, lama, bisa-bisa telat kuisnya. Kamu kan tahu kalau mata kuliah ini sulit banget”

“Ya sudah, mau dianterin ke kampus gak?”

“Gak usah, Sayang, aku udah pesen ojol koq, bentar lagi datang. Oh ya, aku udah beliin nasi uduk buat kamu sarapan, ntar jangan lupa dimakan ya”

Dia pun lalu menciumku. Aku hanya tersenyum tapi tak memberitahunya bahwa aku tahu yang sebenarnya. Aku mengantarnya ke depan, dan untungnya kali ini si Johan lagi pulang kampung, jadi setidaknya Marsha aman dari dia. Hmm, kayaknya aku kudu mempertimbangkan beli spycam buat kutaruh di kamarnya Johan deh.

Soalnya belakangan ini kan Marsha sering ke kosan pas waktu aku masih belum pulang kuliah dan nungguin di sana, dan aku juga tahu bahwa kuliahnya Johan punya beberapa kali jam kosong yang sama dengan Marsha, jadi siapa tahu..

Aku pun masuk kamar, dan langsung mandi supaya bersih dan wangi. Sherry sudah memastikan bahwa dia akan datang, jadi aku nggak mau dia pas datang posisiku masih bau dan lecek. Harus punya kelas lah hahaha.

Tapi yah, sekali lagi situasinya adalah Marsha tidak memberitahuku soal tawaran Sherry, atau Sherry mau datang, apa lagi dia mau nemuin pacarnya Sherry. Gimana pun aku merasa tetap harus memberi kesan yang baik ama Sherry. Jangan sampai dia menyesal udah datang ke sini, eeeh, siapa tahu dia ketagihan, ya nggak? *senyum iblis*

Setelah memakai baju yang santai tapi rapi, aku pun “menunggu” Sherry dengan mengulas kembali revisian skripsi. Apa pun yang terjadi, pokoknya skripsi ini nggak boleh terbengkalai. Berkaitan dengan masa depanku soalnya. Lalu soal Marsha, well, kita lihat nanti saja lah…

TOK TOK TOK

Ini dia… Aku pun berjalan membuka pintu, dan Sherry berdiri di sana. Aku takjub karena Sherry saat itu memakai pakaian yang benar-benar seksi, bentuknya mirip kimono sepanjang pinggul, tapi dengan belahan yang rendah sehingga terlihat bahwa dia tidak memakai beha.

Di bawahnya, dia hanya memakai semacam hot pants tapi yang longgar, sehingga bila dia duduk dan melebarkan kaki, selangkangannya akan sedikit mengintip.

“Halo, Billy, udah nunggu lama ya?” kata Sherry dengan nada menggoda

“Umm, Marsha-nya lagi pergi tuh, Sher”

“Iya, gw tahu koq”

“Lho? Lalu?”

“Kan gw emg ke sini buat nemuin lo”

“Gw gak ngerti, maksudnya?”

“Idih, pura2 kamu,” katanya sambil mencolek hidungku, “atau sengaja mau roleplay ya, biar tambah hot? Oke deh, bilang dong dari tadi, bentar yak”

Sherry tiba-tiba saja langsung menutup pintunya. Hmm, jadi dia mengira aku sedang memainkan roleplay (padahal beneran nggak tahu, atau lebih tepatnya tahu tapi pura2 nggak tahu, eh, jadinya roleplay juga ya? Hihihi). Dia mengetuk pintunya, dan kubuka, kali ini nadanya lebih normal (tapi tetap aja bitchy)

“Bil, Marsha ada?”

“Lagi pergi tuh, Sher, ada kuis dadakan katanya”

“Oh, padahal udah janjian. Boleh nunggu di sini ya gw?”

“B-Boleh, silakan aja”

Sherry pun masuk sambil aku melongok keluar. Untung suasananya sedang sepi beneran. Sherry langsung duduk di kasurku dengan kaki agak dikangkangkan. Terlihat sedikit gundukan selangkangan, sepertinya dia antara nggak pakai CD atau pakai CD tapi semacam g-string gitu.

“Lo mau minum apa, Sher?”

“Apa ya? Susu boleh deh”

“Gak ada susu di sini”

“Kan ada sekarang, Bil”

“Mana?”

“Nih, susu dua” kata Sherry sambil membuka kimononya sehingga dua payudaranya seperti melompat keluar (Ah elah, katanya mau ngikutin skenario, kalah ama sifat bitchy ternyata)

“Sher?”

“Ah, nggak kuat gw, Bil, pengen ngesex ama elo”

Sherry langsung berdiri dan menubrukku sambil bibirnya menyedot bibirku dengan ganasnya. FK Sherry memang jauh kalau dibandingkan dengan Marsha, jelas, karena Sherry lebih berpengalaman. Aku pun membalas ciumannya sambil mengelus2 punggungnya.

Dia lalu berusaha melepas bajuku, begitu pula aku melepas bajunya, sehingga dalam sekejap aku dan dia sudah topless. Aku langsung saja menyerbu dua gundukan di dadanya yang mancung itu, dengan puting mancung yang pink agak kecoklatan. Kusedot-sedot, kulum, dan jilat sejadi2nya hingga Sherry melenguh keenakan.

Kemudian dia pun bersimpuh di hadapanku, dan mulai membuka celanaku. Begitu retsleting celanaku dibuka dan diturunkan sedikit, penisku langsung melompat keluar, hingga mengenai mukanya yang memang berada amat dekat.

“Ih, gede banget ini kontol. Pantes Marsha puas” kata Sherry seolah kagum

Dari nada bicaranya, terlihat bahwa ini salah satu penis terbesar yang pernah dia lihat Aku bangga, atau GR. Bagaikan terhipnotis, awalnya dia tertegun, sebelum kemudian mulai mengelus2 penisku hingga menegang semakin keras.

Kemudian perlahan-lahan, dia menciuminya, dari ujung hingga ke kantung zakarku, menjilatinya, sebelum memasukkannya ke mulutnya. Aku merasakan sensasi rasa geli yang hangat saat penisku dimasukkan ke mulutnya yang mungil, dengan pangkalnya digenggam dengan mantap oleh tangannya.

Akhinya yang pernah aku impikan terkabuljuga. Batangku masuk ke bibir tipis si binal ini.

Aku melihat ke bawah dan wajah Sherry tampak bitchy sekali dengan penis tersumpal di wajahnya, dan dia mulai menggerakkan kepalanya. Keahlian blowjob Sherry membuat penisku serasa mau meledak, benar-benar ahli oral dia, tapi aku berjuang menahannya. Tidak boleh, tidak boleh keluar saat di sini. Mau ditaruh di mana mukaku? Hahaha.

“Gila sher, sepogan lu mantap benar…pengalaman banget lu ya….” Katanya sambil meremas rambutnya.

Setelah agak lama mengoral, Sherry pun tampaknya mulai lelah. Dia melepaskan penisku kemudian berdiri.

“Gila, kuat juga ya lo. Cowo gw aja kalau gw oral sering keluar duluan”

“Beda kualitas lah”

“Ih, sombong banget lo. Buktiin lah”

Dia kemudian melepas celananya beserta sebuah G-string mungil, begitu pula aku melepaskan celana dan CD-ku sehingga kami sama-sama telanjang.

“Sexy mana body gw dibanding cewe lu?”

Berhubung sudah gw tahu pertanyaan model begini dan bagaimana mambuat wanita senang, gw jawab saja: “Gila body lu lebih bagus dari Marscha. Toket lu kencang benar ini” Sherry senyum dengan senangnya. Lalu merapat ke tubuhku.

Kali ini giliranku mengolah tubuh Sherry yang aduhai ini. Kami berciuman kembali, lalu aku mendorongnya hingga dia terhempas ke ranjang, kemudian aku mulai menciumi kecil-kecil badannya, sambil kuhisap dan kujilat, seolah tak ingin melepaskan satu incipun badannya lepas dari hisapanku, namun terutama kufokuskan pada dada dan leher, sehingga dalam sebentar saja, kedua bagian itu sudah mulai memerah. Badan Sherry pun mengkilap karena keringat yang keluar.

“Jilat memek gw Bil..” Pinta Sherry tanpa malu-malu.

Kuarahkan pandanganku ke vaginanya. Segera kujilat vaginanya yang tembem itu. Ternyata sudah basah oleh cairan cintanya.

Batangku akhirnya masuk juga. Walau tidak sesempit punya Marscha pacarku, tapi memek Sherry masih lumayan kencan menjepit kontolku. Kumasukkan dengang kasar sampai mentok kedalam liangnya. Sherry yang awalnya menjerit kencang karena kesakitan, kemudian mendesah saat aku dengan cepat memompa vaginanya keluar masuk.

“Aaaahhhh . . . aaahhh . . . ouuuu . . . aaahhh..pelan..pelan..bil”

Tanpa mempedulikannya, aku terus melancarkan serangan. Sherry semakin lama semakin kencang mendesah, bahaya juga kalau sampai kedengaran keluar.

Setelah 15 menit berlalu, aku menciba gaya baru dengan Sherry. Berhubung Sherry badannya kecil dan kurus, jadi aku mau genjot dia sambil berdiri berdiri. Dengan kontol yang masih tertancap, aku tarik dia bediri. Kedua kaki Sherry berada di atas kedua lenganku, kedua tangan Sherry merangkul kepalaku.

“Ehhhh…mau apa sih???? Awas jatuh lho….” Ujarnya. Batangku yang sudha tertanam di vaginanya langsung aku kleuar masukkan. Pinggulku kembali bergerak menusuk lebih dalam, hingga dengan sekali sentakan keras masuk semua sampai mentok, membuat Sherry berteriak kencang. “Ahhhhhhhhhhhhhh………”

Mau tak mau aku langsung melumat bibirnya, kami pun berciuman, agar dia tidak berisik. Sambil aku sodok sampai dalam, Sherry memainkan lidahnya di mulutku. Sementara jari-jariku dengan leluasa meremas pantatnya. Bahkan aku mulai memasukkan jariku ke liang anusnya yang sedikit merekah karena posisi berdiri ini.

Posisi ini cukup menguras tenagaku. Sherry sudah melolong sekali tadi karena orgasme, sedang aku masih mencoba bertahan. Aku dorong tubuhnya ke pintu kamar kostku, sedikit berkurang bebanku, maka dengan full speed aku sodok dia sampai terdesak di pintu kamr kost.

Dan tanpa bisa aku tahan lagi akhirnya…… Crottt…crottt…crottt

Keluarlah semua sperma memenuhi memek Sherry. Beberapa saat kemudian, kontoku pun perlahan menyusut. Aku cabut batangku kemudian berguling ke sebelah kiri, tiduran terlentang, sementara Sherry masih tengkurap.

Sherry pun menghempaskan tubuhnya di kasur. Terlihat agak sedikit bete, mungkin karena aku tahu dia ingin aku melepaskan peju di mukanya, tapi malah kulepaskan di dalam rahimnya. Bukan salahku juga, kakinya yang melilit pinggangku membuat aku tidak bisa menarik penisku saat akan keluar. Dengan masih sama-sama telanjang, aku pun berbaring di sebelahnya.

“Maaf ya, keluarnya di dalem tadi”

“Ya, gpp, gw juga sih yang salah”

Sherry mengambil hp-nya dan melihat pesan yang ada. Dia tampak semakin bete saat melihat apa pesannya.

“Yah, kalah taruhan deh”

“Taruhan apaan?” tanyaku

“Gw taruhan ama cwo gw, kalau gw bakal lebih cepet bikin lo keluar dan mejuhin muka gw. Nih, kalah deh gw, dia ngirim bukti fotonya setengah jam tadi”

Sherry pun menunjukkan foto yang dikirimkan oleh cowoknya kepadaku, dan aku terkejut saat melihat bahwa itu gambar wajah Marsha yang sedang tersenyum dan belepotan sperma, lengkap dengan penis cwo Sherry. Foto dikirim setengah jam tadi, jadi waktu aku sedang menggenjot Sherry. Ini membuatku panas, dan…

“ANJRIT! Itu Marsha!!??”

“Iyalah itu Marsha, emangnya cwo gw maen ama cwe lain apa?”

“JADI MAKSUD LOE CWO LO SAAT INI LAGI MAEN AMA MARSHA, CWE GUE??” sengaja aku seperti meluapkan kekesalan yang selama ini kupendam, walau aku sebenarnya mengetahui soal ini.

“Ih ih, koq loe gitu sih, bukannya lo juga tahu??” Sherry tampak terkejut sungguhan.

“TAU?? APA MAKSUD LOE?? Jelasin sekarang juga, atau gw ke tempat lo sekarang dan gw bunuh cwo lo!”

Dengan segera aku pun meraih leher Sherry yang ketakutan dan memukul tembok dengan keras sampai pelurnya rontok. Sherry semakin ketakutan.

“Bil, bentar, Bil, tenang…”

“Lo nyuruh gw tenang, Sher?? Lo nyuruh gw tenang liat cwe gw dientot ama cwo lu??”

“Jadi lo beneran gak tahu, Bil?”

“LO PIKIR??!!

Sherry tampaknya semakin panik saat melihatku mengamuk, lalu entah apa yang terjadi, dia tiba-tiba langsung memelukku dengan kencang. Aku yang tadinya emosi langsung merasakan amarahku menurun saat tubuh telanjang kami saling bersatu kembali. Aku pun luluh, kemudian jatuh bersimpuh, masih dalam pelukannya.

“Tenang ya Bil, tenang, gw nggak tahu kalau lo gak tahu soal ini, soalnya Marsha bilangnya lo juga tahu”

“Lo mau bukti apa lagi sih, Sher? Masih perlu gw ngamuk lagi??”

“Oke, oke, tenang ya, tenang, gw nggak mau lo ngamuk trs akhirnya ngelakuin sesuatu yang lo sesalin”

“Oke, fine! Gw tenang, tapi lo sekarang kudu cerita apa yang udah Marsha lakuin, dan nggak boleh ada yang lo tutup2in, ngerti??”

“Oke, Bil, bakal gw ceritain”

Sherry pun dengan takut2 akhirnya mulai bercerita, apa saja yang sudah dilakuin Marsha, tentu saja yang sepanjang pengetahuannya (walau beberapa sudah ada yang kuketahui karena mengikuti pembicaraan WA mereka seperti cerita si Bangsat Rendy). Tapi cerita terkait Ringgo yang membuatku panas dingin.

“Marscha itu punya cem-ceman namanya Ringgo. Pernah kita karoke bareng gitu. Mereka berdua saja nempel peluk-pelukan smabil minum. Habis itu ke toilet yang ada di room karoke. Lama amat mereka di toilet. Ga mungkin cuman kencing doang.”

“Mereka ngentot?” Tanyaku

“Nah pastinya gw ga tahu. Marsha sih urusan lain jujur ke gw, tapi urusan ML dengan cowo lain suka ga jujur. Walau selama karoke gw bisa lihat kalau Ringgo sering banget remas-remas toket Marsha. Walau gw rada mabuk, tetap bisa terlihat sih. Bahkan Marscha remas-remas kontolnya si ringgo”

Saat mendengar ceritanya, aku berpura2 untuk tetap seperti orang yang sedang marah, tapi ternyata, penisku sendiri mengkhianatiku, karena pelan-pelan mulai tegang kembali, dan lama2 Sherry pun sadar soal ini.

“Bil, lo ngaceng lagi ya?”

“Iya! Buruan lanjutin ceritanya deh!”

“Lo horny ya denger ceritanya Marsha?”

Sebenarnya kalau diperhatikan, Sherry pun kembali basah saat bercerita, sehingga dengan tetap memasang muka tegang, aku pun berdiri

“Lo juga basah tuh”

“Hehehe, iya”

“Horny juga ya?”

Sherry hanya mengangguk aja.

“Oke, gw garukin, tapi lo sambil cerita, oke?”

“Oke, Bos”

Aku pun menuju ke belakang Sherry, dan Sherry kudorong hingga membungkuk dan tangannya bertumpu pada kasur. Pelan2 kusentuh2kan ujung penisku ke vaginanya yang sudah becek itu.

“Lanjutin! Dia pernah cerita apa aja?!”

“Iya, jadi pas itu…Hmph…”

Sherry mendesah saat ujung penisku kugerakkan di permukaan vaginanya naik turun, merangsang klitorisnya untuk semakin basah.

Sherry cerita kalau Rendy sering memanfaatkan kemalasan pacarku dalam mengerjakan tugas kuliah. Rendy dan Marscha punya kesepakatan kalau semua tugas-tugas kuliah Marscha akan dikerjakan Rendy. Makanya mereka sekalu 1 kelompok kalau ada tugas. Sebagai imbalan, Marscha harus mau puasin batangnya Rendy.

Rendy awalnya minta dikocokin doang sampai keluar. Makin kesini, Rendy melunjak minta dioral dan keluarin spermanya di mulut Marscha setiap ada tugas yang terkumpul.

Rendy sudah pernah merasakan oral sex dari Marscha di parkiran di dalam mobil, di laboratorium pas sepi, di gudang belakang kampus, di jalan tol sambil antar pulang Marscha dan juga ruang kuliah saat dosen mengajar, mereka asyik berdua disudut truangan kelas tanpa ketahuan.

Bahkan pernah minggu lalu, saat tugas kelompok mereka bedua (masing-masing kelompk 2 orang). Rendy dan Marscha mengerjakan tugas di rumah Marscha. Dan kata Rendy ke sherry, mereka berdua ngerjain tugas sambil telanjang bulat. Rendy sampai ga konsentrasi karena disebelahnya Marscha telanjang bulat memamerkan toket dan vaginanya.

“Mereka sampai ML?” Tanyaku tajam.

“Kayaknya deh…..”

“Kok kayaknya?

“Habis gw ga lihat dengan mata kepala sendiri. Dan Marscha ga jujur juga”

Sambil mnejawab begitu. Sherry memohon kepadaku: “Ah, ah, udah Bil, masukin aja, plis, udah gak konsen gw” Katanya, karena dari tadi batangku hanya merangsang klitorisnya saja.

“Beneran pengen dimasukin?”

“Iyah, masukin aja”

Aku menarik penisku yang sudah basah dan licin oleh cairan vaginanya yang keluar. Kuarahkan ujungnya ke vagina Sherry yang merekah, dengan kedua tanganku melebarkan bongkahan pantatnya. Vaginanya memang menggoda, tapi entah kenapa aku tertarik pada lubang analnya yang kini ikut terbuka ketika pantatnya kulebarkan.

“Harus ku anal ini cewe”. Kataku dalam hati. Maka aku ludahin lobang anusnya itu, lalu kuratakan dengan jariku kedalamnya. Kemudian dengan perlahan kontolnya mengarah ke lubang dubur yang sudah terbuka sedikit itu. Dengan sekali sentakan, masuk setengah batangku.

“AAH!! ADUUH!! Jangan di situ!! Aduuuuuh…. Bill…. Gw blm pernah!!??” Sherry mencoba berontak.

Terlambat, penisku kini sudah menancap di lubang anusnya, dan pelan-pelan kugenjot dia sampai masuk semua batangku. Rasanya lebih mencengkeram daripada lubang vaginanya, membuat penisku seakan ingin meledak.

“Pantat kamu sempit banget sih Sher…Kontol gw kayak kejepit!! ” racauku mendongakkan kepala merasakan nikmatnya sensasi anal seks ini.

“Ya iyalah…masih perawan tahu….” Katanya sambil meremas kencang kasur.

Detik berikutnya pun berganti menjadi desis nikmat Sherry begitu kepala kontolku menyeruak masuk kedalam duburnya, sambil klitorisnya kurangsang menggunakan tangan. Nikmat sekali anal sex ini.

“Gimana, masih sakit?”

“Sakiiiit… Tapi gak papa, Bil, terus aja…”

Aku remas payudanya sambil tetap kugenjot anusnya dari belakang, sesekali kucabut dan masukkan kembali kontolku ke lubang anusnya, kupindahkan ke memeknya lalu kucabut dan kembali kumasukkan ke anusnya bergantian, begitulah berulang-ulang.

“Ohhhh…Bil…..enak banget…rela deh pantat gw lu perawanin…” desahnya

selama 10 menit anal sex itu berlangsung. Aku terus menggenjot anusnya sambil kujambak rambutnya hingga kepalanya mendongak naik. Dari kecepatan pelan, lalu semakin cepat, dan kurasakan dia sekali orgasme saat kugenjot anusnya ini.

Lama-lama, aku pun tidak bisa menahan penisku yang kembali ingin meledak. Segera kucopot penisku dari anusnya hingga berbunyi plop, kemudian kubalikkan dia dalam posisi bersimpuh dan kukocok penisku di wajah Sherry. Seeeerrrrr….. Banyak sekali sperma tumpah memenuhi wajah Sherry, hingga dia gelagepan karena ada sperma yang terhirup ke hidung.

“Dah, selfie sono, terus kirimin ke cwo lo”

Sherry langsung ambruk. Dia menguatkan diri untuk selfie sejenak sebelum akhirnya ambruk sambil memegangi pantatnya.

“Gila lo, Bil, sakit tau pantat gw”

“Tapi lo suka kan?”

Sherry tidak menjawab, hanya mengangguk kecil. Aku pun melengos dan duduk di kursi.

“Bil, gw tahu gw emang bitchy, tapi gw setia ama cwo gw. Kalaupun kita sama2 ngesex sama orang lain, itu kita udah sama-sama tahu. Gw kirain Marsha juga kayak gitu, maafin gw ya Bil, gw gak tahu kalau ternyata Marsha mainnya di belakang lo”

“Oke, gw maafin, tapi dengan dua syarat”

“Apa?”

“Pertama, berhubung gw belum ada rencana ngelabrak Marsha, lo kudu tutup mulut juga soal ini ke dia. Tapi gw pengen kalau ada apa2 lo langsung lapor ke gw. Tenang, gw gak bakal nyakitin Marsha, tapi gw jg pengen ngasih hukuman ke dia suatu saat nanti”

“Oke, lalu yang kedua?”

“Lo bener gak pernah anal?”

“Gak pernah, cwo gw gak pernah mau kalau gw ajakin anal, Bil”

“Ya udah, berarti sekarang lubang anus lo punya gw, dan kalau sewaktu2 gw perlu, lo kudu siap di sini. Bilangin aja ke cwo lo gt, jadi sekarang kita sama2 milikin elo. Ama kapan2 gw juga pengen ngobrol ama cwo lo”

“Ngobrol ngapain?”

“Ya bagi2 elo lah, kan lo udah jadi milik kita, Sher”

Sherry hanya mengangguk kecil. Sebuah pesan pun masuk pada hp-ku. Rupanya Marsha yang memberitahukan bahwa dia sudah selesai “kuis” dan akan segera pulang.

“Ya udah, sekarang mandi sono, Marsha udah mau balik, jangan sampai lo masih ada di sini pas dia balik”

Sherry mengangguk kemudian menggelosot ke kamar mandi. Tapi di depan pintu, dia berhenti dan melihatku.

“Bil”

“Napa lagi?”

“Lo nggak mau mandi bareng?”

Long Distance Relation-shit

“Aah… Ohh… Terus, Sayang, terus!”

Marsha berteriak kencang saat aku menggenjot vaginanya dalam posisi doggy. Dadanya yang bulat kencang mengayun dengan indahnya. Beberapa kali bahkan aku juga menampar pantatnya yang putih montok itu hingga kemerahan.

Saat penisku keluar masuk dari vaginanya, aku pun melihat ke bawah pada lubang analnya yang seolah mengintip, dalam hati ingin aku mencoblosnya sekalian, namun sepertinya belum saatnya.

Aku hanya mengelus-elus lubang anusnya yang masih sangat sempit itu dengan jempol kiriku, mencoba menambah ransangan. Sementara tanganku yang kanan sesekali menampar pantatnya. 5 kali genjotan, sekali tamparan dipantat.

“Ahhhh….ahhhh….terus…..” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Padahal pantatnya lumayan kencang aku tampar, sampai meninggalkan tanda merah yang mungkin bisa hilang 2 hari.

“Aku mau keluar, Sayang…” kata pacarku yang sudah mulai ngos-ngosan.

“Sama, tahan dulu bentar…”

Aku menghujamkan penisku semakin dalam dan terasalah tubuh pacarku ini berkelejotan menerima orgasmenya yang entah untuk keberapa kali. Begitu dia ambruk, aku pun mencabut penisku dan menyemprotkan spermaku ke tubuhnya yang mengilap dengan keringat beberapa kali hingga wajah, dada, dan perut serta pahanya belepotan terkena sperma.

“Gila, banyak banget, Yang, tumben?” kata Marsha.

Aku hanya nyengir saja sambil merebahkan diri di sampingnya.

“Aku puas banget hari ini, Yang. Tapi, btw, kamu semangat banget ya, ampe pantatku ditampar2 begitu

Aku mendengus saja. Semenjak beberapa kali ngesex bersama Sherry, gaya bercintaku kurasakan menjadi lebih buas. Ya, setelah kejadian itu, Sherry sering sembunyi-sembunyi bertemu denganku untuk ngesex.

Tentu saja bukan di kamar kosku, karena kalau Johan memberi tahu Marsha soal ini, bisa celaka aku. Lagian, aku juga takut ini akan dijadikan alasan bagi Johan untuk bertindak lebih jauh pada Marsha.

Bahkan, sebelum ini, aku dan Thomas, cowonya Sherry, pernah bertemu dan membicarakan mengenai tukar pasangan itu. Di luar dugaan, dia rupanya cukup gentle dan meminta maaf terlebih dahulu. Sama seperti Sherry, dia mengira aku dan Marsha menjalani open relationship juga

Aku sendiri mengutarakan bahwa aku sebenarnya tidak masalah dengan Marsha yang kini bersikap bitchy, hanya saja aku tidak suka dia berbohong padaku.

Tapi anehnya Thomas bilang kalau dia belum sampai ML dengan Pacarku. Katanya Marscha memang mengoralnya sampai keluar kala itu, dan minta disemprotkan diwajahnya. Tapi Marscha menolak ML dan buru-buru balik setelah membersihkan wajahnya.

Apakah aku percaya begitu saja? Apalagi dengan sikap “kerelaan” Thomas agar aku eksekusi Sherry pacarnya. Tapi bodo amatlah.

Sekalian dalam pertemuan itu juga aku meminta izin untuk sewaktu2 ngesex dengan Sherry. Dia tak masalah, malahan dia lega, karena Sherry jadi lebih terkontrol dalam hal ngesex.

Selama ini dia khawatir kalau Sherry ngesex dengan sembarang orang, siapa tahu bisa timbul masalah. Dia pun tak keberatan aku meng-anal Sherry, berhubung dia sendiri tidak suka dengan anal sex. Malah dia menawarkan untuk threesome, yang kusetujui, namun belum tahu kapan.

“Ya, kan ntar lama bakal nggak ketemu, Say.”

“Kamu jadi ntar sore berangkat ke Surabaya?”
“Iya, jadi. Besok aku harus mulai penelitian, mungkin baru 1-2 bulan bakal balik ke Jakarta lagi.”

“Yah, ntar aku gimana, dong, Yang?”

“Sabar aja dulu, Say. Ini kan demi masa depan kita. Setelah lulus nanti, aku bisa cari kerja dan kita bisa nikah deh”

“Hihi, beneran ya?”

“Iya, Sayang, apa sih yang enggak?”

“I luv u, Sayangku”

Kami pun berciuman sambil berpelukan mesra. Aku sampai2 lupa bahwa badannya masih berlumuran spermaku (Yuck!)

Akhirnya kami pun mandi dan sekaligus aku bersiap2 untuk menunaikan kewajibanku. Marsha membantuku berkemas-kemas, dan ini menjadi momen kemesraan murni kami bersama. Pada saat2 inilah aku merasa amat bersyukur bisa mencintainya. Hanya saja… Yah, satu masalah itu masih mengganjal.

“Taksinya kapan datang, Yang?” tanya Marsha.

“Udah dipesan nih, Say. Paling 5 menit lagi nyampe”

“Oh ya udah, ati2 kamu di sana. Jangan macem2 ya, ingat, aku nungguin di sini”

“Kamu tuh yang jangan macem2. Tahu sendiri banyak cowo yang pengen deket. Jangan sampai kucing pergi tikus berpesta nih”

Marsha hanya melet saja.

“Oh ya, kan ntar kamu bakal pergi lama nih, kalau misal aku bosen boleh kan ya jalan ama temen2?”

“Boleh aja. Emang mau jalan ke mana?”

“Ya, buat refreshing aja. Ini Sherry weekend nanti juga mau ngajakin ke Pulau Seribu. Boleh kan ya?”

“Iya, tapi inget pesanku tadi”

“Iya, jangan macam2, kan? Ama aku paling kalau ngerjain tugas boleh kan ya pinjem kosan kamu, Yang?”

“Boleh aja, kan kamu juga pegang kuncinya ntar.”

“Sip…nnati aku bersihkan deh kamarnya. Biar ga berdebu”

“Oke, pakai aja, Say. Tapi inget…”

“Iya, iya, inget koq. Jangan macam2 kan?”

Aku mengangguk sambil mencium keningnya. Hmm, untung aku sudah memasang sebuah CCTV pada kamar. Kebetulan sekali. Kemarin, atas saran Thomas, aku membeli sebuah kamera CCTV. Berhubung harganya cukup mahal, maka aku cuman membeli satu, tapi resolusinya cukup bagus, dan bisa merekam suara pula, jadi tidak rugi aku membelinya walau hanya sebuah.

Aku sudah menempatkannya di titik strategis sehingga akan bisa melihat sebagian besar tempat tidur dan sekitarnya, walau masih banyak sudut yang masih belum bisa terjangkau. Aku hanya berasumsi bahwa apabila ada sesuatu yang terjadi, maka utamanya akan terjadi di area yang aku sorot.

Kameranya juga sudah kusembunyikan dengan rapi, sehingga Marsha tak akan tahu, dan memang kutaruh dalam sudut yang kutahu tak akan disentuh sama sekali oleh Marsha.

“Eh, Say, kayaknya taksinya udah datang deh, bisa kamu tungguin dulu di luar gak? Aku mau ngecekin barang2 dulu”

“Okay!”

Marsha keluar dari kamar, dan kumanfaatkan kesempatan itu untuk menghidupkan CCTV-ku. Semua sudah kusiapkan, termasuk dengan sensor gerak dan cahaya, sehingga CCTV hanya akan merekam bila ada gerakan di dalam cakupannya. Seharusnya memori awal yang kubeli cukup untuk hingga aku kembali lagi nanti.

“Yang! Taksinya udah datang, tuh!” teriak Marsha.

Buru-buru aku menyembunyikan kameranya, kemudian membawa koper dan ranselku keluar kamar. Saat sedang berjalan ke luar, aku bertemu Johan yang baru keluar dari kamarnya.

“Eh, Bro, jadi berangkat hari ini?” tanya Johan.

“Iya, Bro. Nitip jagain kosan ya”

“Tenang, Bro, beres. Marsha gak dititipin dijagain sekalian?”

“Ngarep lo!”

Johan lalu menyalamiku, mendoakan semoga berhasil, walau aku menebak dia sepertinya senang aku akan ke luar kota. Aku pun menemui Marsha yang menunggu di depan taksi, kemudian kami berdua pun naik ke taksi. Ya, Marsha akan mengantarku ke stasiun sebelum nanti pulang kembali ke rumahnya.

Setelah aku dan Marsha masuk ke taksi (di bangku tengah), barulah aku menyadari bahwa Marsha memakai t-shirt tipis warna hitam, ditimpali kemeja flanel yang tak dikancingkan, dengan rok kain sepaha yang saat Marsha duduk akan terangkat, sehingga memperlihatkan paha Marsha yang mulus.

Karena koper dan ransel kutaruh di ujung tempat duduk dekat pintu, maka Marsha duduk tepat di tengah, dan sepanjang jalan tampak langsung tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku lalu merangkulnya sambil mengelus2 bahunya hingga aku sadar tak menemukan tali pengikat beha. Apa Marsha tidak pakai beha? Atau dia hanya memakai beha yang jenis strapless, sehingga tidak ada tali pada pundak?

Tiba-tiba sopir membanting setir saat ada kendaraan yang menyalip. Aku tentu saja terkejut.

“Waduh, Pak, hati2 dong.”

“Iya, Mas. Maaf, tadi agak meleng”

“Safety diutamakan, Pak. Jangan sampai meleng lagi”

“Iya, Mas, maaf ya”

Untungnya Marsha tidak bangun. Kelelahan mungkin. Aku saat itu melihat bahwa pak sopirnya sering curi2 pandang ke spion tengah. Apa dia melihat tubuh pacarku ini? Apalagi posisi kaki pacarku agak terbuka, jadi CD-nya pasti kelihatan dari spion. Dasar ini sopir edan.

Akhirnya kami pun sampai di stasiun kereta, Marsha membuka pintu yang berada di seberang koper dan ranselku itu. Karena posisinya, maka Marsha pun harus agak menungging ke arahku, hingga pantatnya nyeplak ketat pada roknya. Dan saat itulah kulihat tidak ada jejak CD pada rok Marsha. Jangan2…

Aku sampai di Surabaya sekitar pukul 10 malam. Berhubung aku sudah mengurus semua soal akomodasiku, termasuk kosan sementara untuk kutempati selama penelitianku, maka aku pun langsung saja ke sana.

Kosan yang kutempati lumayan mahal, karena kalau menurut ibu kosnya, yang menempati di sini biasanya adalah mahasiswa yang sedang tugas penelitian saja, sehingga mereka tidak lama2 di sini. Mungkin karena itu ibu kos menerapkan tarif yang agak mahal, apalagi kosannya lumayan nyaman, dengan kamar mandi dalam dan AC, WiFi, serta, yang paling penting, tidak jauh dari tempat penelitianku.

Setelah mengurus segala keperluan untuk masuk, aku pun menggeletakkan barang2ku di dalam kamar dan merebahkan diri ke atas ranjang. Aku membuka HPku dan melihat ada pesan dari Marsha, menanyakan kabarku. Langsung saja aku meneleponnya.

M: “Udah sampai di Surabaya, Yang?”

A: “Iya, nih, sudah di kosan, Say.”

M: “Oh, syukurlah. Enak kosannya, Yang?”

A: “Iya, nyaman koq, Say, jadi bisa istirahat. Btw, kamu lagi apa, Say, di sana?”

M: “Lagi santai tiduran saja di kamar sambil main HP. Btw, kamu hebat banget tadi mainnya, Yang. Aku ampe keluar berkali2.”

A: “Pantes kamu di taksi ampe tidur gt ya, Say?”

M: “Iya nih, capek banget soalnya. Ampe sekarang juga masih agak ngantuk. Btw, kamu nggak capek, Yang, abis perjalanan”

A: “Agak2 tepar juga sih, Say. Hehehe”

M: “Ya udah, Yang, mending kamu istirahat dulu ya. Besok kamu mau langsung penelitian, kan? Jadi biar besok seger, nggak ngantuk”

A: “Iya deh, Sayang. Kamu mau bobo juga?”

M: “Kayaknya iya deh, masih capek nih, gara2 kamu tadi”

A: “Hehehe, tapi suka, kan?”

M: “Tauk ah. Bobo sana”

A: “Siap, Sayangku. Luv u!”

M: “Luv u too, bye2”

Aku mematikan telepon, berusaha untuk tidur. Tapi seperti orang bilang, walau seharian kita merasa ngantuk luar biasa, saat giliran sampai ke kasur, malah nggak bisa tidur. Akhirnya aku pun memilih bermain game online, sambil menunggu kantuk.

Bersambung