Cerita Sex Pacar Binal Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Terbaru – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Pacar Binal Part 14

Kejadian Marsha dengan dosen pembimbingku membuatku makin terpuruk dan sudah diambang batas untuk menyudahi saja hubungan ini. Aku lagi mempertimbangkan bagaimana caranya mengakhiri hubunganku dengan Marscha. Karena jujur aku masih sayang sekali dengan pacarku. Dan anehnya, aku malah “menikmati” semua kejadian perselingkuhannya. Mungkin memang aku tergolong lelaki yang memiliki keanehan.

Kini aku sudah di surabaya lagi, menyesaikan penelitianku, walau aku tahu ini sekarang tidak penting lagi, karena sudah ada “garansi” dari Pak Zakar (melalui pacarku) kalau aku pasti sidang skripsi dan segera lulus. Tapi selama aku belum sidang, aku ga tahu apakah dosen pembimbingku ini masih memanfaatkan pacarku. Karena walaupun janjinya hanya sekali, mana ada yang tahan kalau sudah sempat sekali merasakan indahnya tubuh pcaraku. Bisa jadi, sampai aku sidang dia akan tetap mengekploitasi pacarku. Aku pusing jadinya.

Dalam kekalutanku mengenai Marsha, tak disangka aku menemukan penghiburan dalam diri Putri, pacar Ringgo yang telah beberapa kali main belakang dengan pacarku Marsha.

Menganggap diriku sebagai “kakak yang baik”, Putri pun dengan cepat dekat padaku, dan kami hampir selalu melakukan apa saja bersama2. Saat membeli makanan pun Putri seolah tak mau kalau kutinggal. Alasannya sederhana, karena dia belum pernah bepergian jauh dari Bandung sendirian, sehingga menemukan orang seperti aku membuatnya merasa “aman”.

Yah, memang, untuk saat ini. Salah satu sisi dalam hatiku masih ingin membalas dendam kepada Ringgo melalui Putri, namun kepolosannya selalu menenangkan amarahku yang membara, sehingga membuatku ragu untuk bergerak lebih lanjut. Jadi saat ini yang kulakukan adalah membuat Putri untuk semakin dekat denganku, lalu apa yang terjadi kemudian, biarlah semesta yang menentukan.

Beberapa Hari kemudian

Tepat besok sabtu adalah hari jadianku dengan Marscha. Aku mau ajak dia merayakan aniversary ditempat yang special. Sekalian aku mau mengumpulkan keberanian untuk membahas semua yang telah terjadi, khususnya kelakuan-kelakuan dia selama ini. Sudah waktunya pacarku aku ajak ngobrol, walau aku ga tahu setelah ngobrol mau seperti apa. Apakah meneruskan hubungan ini atau putus saja.

Aku sudah bulatkan tekad balik ke bandung sejak 3 hari lalu dari Surabaya dan berencana memberikan surprise makan malam romantis di hari anniversary. Sayangnya, selama 3 hari ini pun, pacarku ga bisa aku temui karena sering sibuk dan agak susah dihubungi sehingga aku kesulitan untuk membuat janji makan malam. Kecurigaan setiap saat menghantuiku.

Memang katanya dia sekarang lagi ambil 3 mata kuliah yang 4 sks dimana banyak tugas dan diskusi kelompok. Terus ada mata kuliah dia semacam praktikum dimana dikasih ruangan dikampus untuk kerja menuntaskan sebuah tugas praktek kuliah. Tugas-tugas kuliah memang sebgian besar bersama Sherry dia kerjakan, jadi aku bisa tenang karena setidaknya ada mata-mata. Walau kadang aku meragukan kejujuran Sherry, karena bagimanapun mereka sahatan. Sahabat saling menjaga satu sama lain.

Untuk merayakan hari jadian kami, dengan inisiatif aku booking saja restoran bagus di utara kota bandung jam 20.00. Aku mau kasih surprise saja ke pacarku. Tadi siang kami wa-an katanya dia ga ada kerja kelompok hari ini dan sore sudah dirumah karena mau temanin ibunya masak buat cara keluarga.

Sebagai surprise, sore itu sekitar jam 18.00 aku pergi ke rumah pacarku untuk menjemputnya. Toh ada ibunya disana lagi acara masak, maka aku bisa seklian ngobrol karena sudah lama tidak ketemu nyokapnya. Namun sayang, menurut ibunya baru 30 menit yang lalu pacarku telah dijemput oleh teman kuliahnya. Amsysong deh.

Aku telpon pacarku. Tapi sayang ga diangkat. Akhirnya aku whatsapp pacarku dan menanyakan dimana posisinya. Tapi sama.. tak terbalas….

Aku lalu pamit ke nyokapnya.

“Hubungan kalian baik-baik saja kan Billy?” Tanya nyokapnya sebelum aku balik. aku hanya mengangguk dan segera keluar dari gerbang.

Dan aku-pun akhirnya kembali ke kost. Karena kesal & capek sampai kost Aku malah tertidur. Hingga akhirnya bunyi telpon dari Pacarku membangunkanku.

Pacarku mengabariku kalau dia bersama Sherry, Gilang, Natasha, dan teman temannya mau mengerjakan tugas kuliah dadakan karena besok ada study lapangan ke luar kota. Walau kesal aku mencoba meredam amarahku. Aku bilang ya sudah lanjutan tugas kelompoknya. Namun yg aneh diakhir pembicaraan, tepat sebelum mematikan telponnya terdengar pacarku seperti melenguh… “Ahhhh…”.

Meskipun kecewa dan sedikit merasa aneh, namun aku mencoba sabar & mengerti posisi pacarku. Aku sedih, sepertinya dia lupa anniversary kami. Segera aku batalkan reservasi dinner. Karena lapar dan perut terus berbunyi aku memutuskan keluar mencari makan di Rumah Makan Siap Saji terdekat menggunakan sepeda motor.

Setelah makan dan kenyang, ternyata waktu telah menunjukan pukul 22.00. Karena merasa suntuk, aku memutuskan sedikit jalan jalan mencari udara segar.

Hingga akhirnya sampailah disebuah lampu merah. Kendaraanku tepat berada di belakang sebuah mobil jenis SUV yang aku kenal milik salah satu mahasiswa abadi dan anak seorang preman ketua ormas Ibu Kota yg cukup disegani. Dia adalah Gilang teman kampus pacarku yang tadi diceritakan.

Awalnya Aku tidak merasa curiga sampai akhirnya secara tak sengaja dia melihat dari spion depan mobil tersebut sesosok wajah yg mirip pacarku dengan dandanan yg cukup seksi, terlihat sedang tertawa mesra dengan si pengemudi.

Lampu merah-pun berubah menjadi hijau. Karena penasaran, aku mengikuti kendaraan tersebut sambil menjaga jarak supaya tetap tak terdeteksi oleh mereka.

Dan ternyata kendaraan tersebut masuk kesebuah Diskotik Eksklusif dikota kembang.

Singkat cerita, karena tak memiliki akses khusus, aku tidak diijinkan masuk oleh penjaga keamanan diskotik. Setelah hampir putus asa, tak sengaja aku bertemu kawan lama bernama Pandu yang ternyata bekerja sebagai bartender di Diskotik tersebut dan berkat Pandu-lah aku akhirnya bisa masuk ke dalam.

Tanpa menunggu lebih lama, ditengah hingar bingar suara diskotik mataku bergerilya mencari keberadaan pacarku dan ternyata tidaklah sulit. Pacarku terlihat sangat mencolok dengan tubuh & pakaian yang seksi sedang bergoyang dan menikmati musik yg disajikan sang DJ.

Terlihat Gilang dan teman temannya nampak iseng memeluk dan curi-curi meraba bagian-bagian tubuh pacarku. Bukannya menepis tangan-tangan jahil itu, malah pacarku hanya tertawa tawa sambil membiarkan ulah usil mereka.

Sambil berjoget, cowo-cowo itu secara gantian memberikan minuman ke mulut pacarku. Pacarku nampak sudah sedikit mabuk, dia hanya tertawa sambil terus bergoyang mengikuti alunan musik. Selama hampir setengah jam aku dibuat panas dingin dengan berbagai adegan eksibisionisme pacarku.

Tiba tiba aku melihat Gilang menggandeng pacarku menuju private room dilantai atas. Dengan hati panas dingin, pelan pelan aku mengikuti Gilang. Nampak pacarku yang sudah seikit sempoyongan dirangkul Gilang. Supaya tak dicurigai, aku mengambil jeda beberapa menit sebelum menyusul mereka.

Dilantai atas, aku kehilangan jejak mereka. Dengan pelan-pelan aku menajamkan pendengaran. Beberapa ruangan terlihat sepi, diruangan yg lain terdengar suara tertawa orang & diruangan lainnya terdengar sedikit suara desahan.

Tibalah aku diruangan paling pojok dan aku mendengar suara desahan dan suara manja yg sangat aku kenal.

“Ahhhh…. mas Gilang pelan pelan mas….” suara pacarku.

Entah aku yang mujur atau memang cowo itu yang terburu nafsu, pintu ruang VIP yang ditempati Gilang & pacarku ternyata lupa belum dikunci dari dalam sehingga memudahkanku untuk melihat apa yg sebenarnya terjadi didalam.

Suara yang didalam memang suara pacarku yang aku hapal jelas. Dengan jantung berdebar aku membuka sedikit pintu ruang VIP tersebut dan sangat terkejut luar biasa. Dunia seakan runtuh. Kepalaku seperti kejatuhan benda berat. Nafasku berhenti sesaat.

Dengan mata kepala sendiri aku melihat pacarku berdiri tanpa BH ditengah ruang VIP itu, dan hanya menggunakan celana dalam saja. Celana dalam minim yang belum pernah aku lihat. Tubuh indah pacarku sedang diraba dan dikenyot toket putih mulusnya oleh Gilang dengan gerakan yang sedikit kasar.

Karena sangat bernafsu membuat mereka tidak menyadari bahwa aktifitas mereka bisa dilihat orang lain. Cowo itu dengan rakus melahap kedua belah dada pacarku yang ranum kiri dan kanan secara bergantian. Dia pasti sangat menikmati kekenyalan kedua benda favoritku itu. Pacarku hanya mendesah sambil memegang kepala cowo itu.

“Pelan-pelan sayang….”

Aku merasakan cemburu saat pacarku memanggil sayang ke cowo lain. Sungguh sakit hati, sekaligus horni melihat pacarnya yang cantik putih mulus sedang digumuli pria yang secara fisik tidak tampan namun terlihat kekar dan keras.

Toked ranum pacarku tampak sudah mengacung keras, menandakan gairah yang dialami si empunya semakin tinggi dan bertambah tinggi.

“Ouhhh…enak sekali sayang…kamu pintar sekali memainkan toketku…auhhh..” Desah manja pacarku sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher belakang si cowok, dan menekan kepala belakangnya biar cowo itu terbenam dan menempel erat pada kedua susunya.

“Gi.. gigit… putingnya…sayang….akhhh!! Uughh! yaak ben.nerr gituu..uughhh!! Sshhh yesshh!!”. Ucap Marscha memberikan instruksi.

Batangku ikut ngaceng menyaksikan kebinalan pacarku. Apalagi saat tubuh pacarku didorong keatas sofa, lalu celana dalamnya yang mini itu ditarik dengan cepat memamerkan liang pacarku yang pasti sangat dinikmati keindahannya oleh lelaki itu.

“Ga bosan-bosannya gue lihat memek lu ini. Memek super”

“Sengaja aku cukur buat kamu….” kata pacarku menggoda, sambil melebarkan kedua belah kakinya. Sangat sexy.

“Bagus…gue suka cewe penurut kayak lu….” Kata gilang lalu semakin membuka paha pacarku semakin lebar. “Bentar lagi gw kontolin sampai puas lu…” lalu membenamkan wajahnya di liang surgawi pacarku.

Pacarku sampai mendesah-desah dengan kencang mendapat serangan mendadak itu, sambil tangannya meremas rambut cowo itu. Puas sekali cowo itu menjilati vagina gundul pacarku.

“AHHHHHH….Auuwwww…….” Pacarku medesah dengan kencang sambil meremas kedua payudaranya yang makin menjulang tinggi. Hingga 2 menit kemudian kudengar jeritan panjang pacarku menandakan dia orgasme. Badannya menegang sebentar, sambil tangannya menjambak rambut cowo itu.

“Baru dijilat bentar saja sudah muncrat lu….” Kata cowo itu melepaskan vagina pacarku. Harus kuakui memang cowo itu luar biasa bisa buat orgasme pacarku hanya dengan oral sex yang singkat.

“Gila memang oral sex mas gilang….buat aku basah kuyup……sukaaa..”

“Ini masih pembukaan sayang. Nanti yang lebih nikmat kamu rasakan”

“Mauuuuuu…….” Kata pacarku dengan binal. Benar-benar bitchy sekali dia.

Batangku makin tegang menyaksikan itu semua.

Aku bukannya mendobrak masuk kedalam dan menghajar cowo itu, malah berdiri mematang didepan pintu sambil mengingtip. Sesekali aku arahan pandanganku ke lorong jalan manatahu ada yang datang.

Cowo itu lalu membuka celananya dan menurunkan CD nya. Batangnya yang sudah berdiri keras diarahkan ke wajah pacarku. Ditampar-tamparkannya batang itu ke muka mulus pacarku.

Walau pacarku masih kelelahan karena barusan orgasme tapi dia menurut saja dan membuka lebar mulutnya. Pelan-pelan batang yang berbulu lebat itu masuk ke bibir mulutnya. Penisnya Gilang sambil dikocok dengan cepat dan kepalanya langsung dijilati, diisap-isap dan diemut-emut oleh Marscha.

Sambil kontolnya dioral, cowo itu memainkan kembali memek pacarku dengan tangannya. Itu membuat Marscha makin liar menservice batang berbulu itu. Kadang penisnya dimasukkan mulutnya sampai hampir separoh dan kemudian dikenyut-kenyut dengan mulut dan lidahnya. Kadang juga sampai deep throat.

“Gila, sedotan lu memang mantap benar. Beda sama cewe-cewe kampus lainnya”

Aku tak menyangka pacarku sangat binal sekali memankan batang cowo lain yang bukan milik pacarnya.aku perlahan mengelus batangku, membayangkan sekarang kontolkulah yang mengobok-obok bibir tipis Marscha.

“STOP..Udahan dulu. gue ga mau cepat keluar…” Kata cowo itu.

Kemudian pacarku dibuat menunging diatas sofa. Dari tempatku mengintip aku bisa melihat posisi pacarku sangat menggairahkan. Apalagi saat pahanya dilebarkan, sehingga vaginanya yang sudah basah berikut lubang analnya jelas terlihat.

Siapapun yang melihat posisi pacarku itu pasi tidak akan tahan lama-lama. Begitupun dengan Gilang. Dari belakang cowo itu mulai memain-mainkan batangany diliang luar vagina pacarku.

“Do it baby…i am your dog…” Kata pacarku. Sangat-sangat binal sekali.

“OK. Jadi malam ini lu jadi anjing gw ya…..”

“terserah kamu sayang…”

“Bilang guk…gukk…dong..”

“Guk..gukk..gukk…” Pacarku menurut saja. Benar-benar binal, bahkan mau disamakan dengan anjing.

Persih seperti anjing mau kawin, Gilang langsung menyodokkan penisnya dengan cepat dan sedalam-dalamnya. Pacarku menjerit keras dengan serangan cepat itu. Gilang menyodok-nyodok dengan cepat sehingga yang keluar hanyalah desahan nikmat bercampur rasa sakit dari mulut pacarku.

“Akhhh…Mas gilang..pelan-pelan…..Auhhhhhh…kontolmu kasar banget sih. Memekuku bisa rusak ntar…auhhh…”

Dengan masih memompa liang senggama pacarku tersebut, aku bisa dengar Gilang bilang : “Santai aja Marsha. Memek lu ini elastis kok. Walau dipakai banyak kontol ga bakalan rusak. hahaha”

Saat melihat pemandangan mesum didepanku itu aku menjadi marah namun aku menemukan sensasi tersendiri saat melihat vagina pacarku digarap habis-habisan. Aku mengelus-eluh penisku yang sudah tegak berdiri melihat pertunjukan persenggamaan antara pacarku dengan seniornya mahasiswa abadi itu. Apalagi cowo itu selalu memaksa pacarku untuk menggongong seperti anjing.

“Gimamana enak?”

“Gukkk….gukk…”

“Bagus”

Dari belakang Gilang mensodok dengan kecepatan tinggi. Payudara pacarku yang bergantung indah taku luput dia remas-remas.

“Sempit banget memek lu…Jarang dipakai cowo lu ya…”

“Iya…dia mah sibuk diluar kota….memek gue suka gatel…”

“Beruntung banget gw bisa rasakan memek lu gratisan begini”.

“Gukkk…gukkk….”

“Kalau lu lonte, gw harus bayar mahal ini…”

“Gukk…gukk..gukkk..”

Gilang seolah kesetanan saat menghajar pacarku dari belakang, dia juga meremas payudara Pacarku yang menggantung seksi.

Aku bisa dengar lolongan panjang Marscha saat mendapatkan orgasme pertamanya saat di di-doggy diatas sofa.

“AHHHHHHHHHHHH………AHHHHHHH…….AHHHHHH……” Panjangan sekali teriakannya. Sambil tangannya menyambut remasan tangan Gilang di buah dadanya yang montok itu, bahkan seolah meminta Gilang untuk meremas lebih kencang lagi.

Cowo itu bukanya berhenti malah semakin kencang menyodok pacarku.

Bahkan sekarang diangkatnya pacarku, lalu didorongnya keatas sebuah meja seperti meja rias, yang didepannya ada kaca. Posisi mereka masih doggy style, dengan berdiri.

“Gue ingin ngentot lu, sambil lu lihat wajah lu yang horny habis” Kata gilang.

“Gukkk….guk…..gukkkkk….” racau Pacarku dengan menirukan suara anjing. Tak berapa lama, kembali cowo itu menggejot pacarku didepan kaca itu, tanpa memperdulikan pacarku yang masih lemah karena orgasme barusan.

Payudara indah pacarku mengayun dengan sexynya dipantulan kaca. Wajahnya sudah merah sekali dan dipaksa Gilang untuk melihat ke kaca.

Aku melototkan mataku ke adegen Live Show itu. Rasa cemburu yang makin mendalam melanda hatiku ketika aku melihat tubuh bugil sexy Pacarku di kerjai oleh lelaki jelek itu. Tetapi jujur saja aku makin terangsang dengan kejadian ini dan berharap bisa lebih hot lagi dari yang sekarang. Aku sudah menurunkan celanaku dan memainkan kontolku sendiri.

Sungguh sexy sekali pacarku dipantulan kaca itu, dan dia sepertinya makin ON saat menatap tubuhnya yang telanjang digenjot dari belakang. Wajahnya sudah merah sangat horny seperti kepiting rebus, bulir-bulir keringat membasahi jeningnya, rambtnya sudah basah.

Aku harus coba sesekali ML dengan gaya sepeti ini, karena kulihat pacarku sangat menikmati. Dia malah meremas-remas dadanya yang bergoyang indah itu, dan juga ikutan menggerakkan pantatnya menyambut sodokan Gilang.

Dia hanya teriak gukk…gukk…gukkk…saat Gilang meremas rambutnya.

Ingin aku masuk kedalam, tapi bukan untuk menyudahi permainan mereka, tapi untuk menyaksikan lebih dekat bagaimana pacarku dikentot dengan liar. Apakah aku ini benar-benar punya kelainan ataukah aku ini benar-benar cowo lemah tak berdaya pacarnya dikentot seperti ini? Pikiranku terhenti sejenak karena aku dengan suara Marscha keras sekali melolong seperti anjing dipotong lehernya.

“AUHHHHHH……..AHHHHHHHH….AHHHHHHHH………”

Ternyata dia orgasme dengan hebat dan lebih cepat dari yang pertama tadi. Terlihat dari pantatnya yang bergerak seperti kesetruman. Gilang menarik batangnya. Pacarku lalu diangkat badannya dari meja rias itu dan didorong lalu ambruk diatas sofa di ruang VIP itu.

“Gue belum puas ini. Siap-siap ronde kedua” Katanya ke Marscha, tapi pacarku hanya dia memejamkan mata, dengan nafas tersenggal-senggal.

Kulihat Gilang berjalan menuju telpon didekat meja. Aku tak begitu jelas apa yang dia omongkan, tapi sepertinya order makanan atau minuman.

Kemudian cowo itu mendekat ke Marsha, dia balikan tubuh pacarku yang sudah banjir keringat. Pacarku sekarang telentang telanjang dan masih ngos-ngosan dengan dadanya naik turun, sambil memejamkan matanya. Diambilnya tisu, lalu dilapnya vagina pacarku yang belepotan cairan cinta Marscha.

Tak berapa lama, aku dikejutkan oleh seseorang yang datang mendekati kamar VIP itu. Untung didekatku ada horden penutup kaca, aku langsung sembunyi disana. Ternyata yang datang itu adalah pelayan yang membawakan minuman. WHAT???

Bahaya ini kalau sampai dia masuk dan melihat tubuh telanjang didalam. Pelayan itu mengetok pintu, kudengar “MASUK” dari dalam.

Dari posisiku mengintip kelihatan pelayan itu mendekat dan berhenti sejenak menatap sesosok tubuh indah sedang telanjang penuh keringat diatas sofa. Kulihat gilang memberi kode, agar masuk dan meletakkan minuman diatas meja.

Pacarku masih telentang dengan mata tertutup karena kecapean digempur barusan. Dia sepertinya tidak sadar kalau sekarang ada pelayan yang bisa menikmati pemandangan tubuh telanjangnya. Justru aku yang panik.

Aku lihat gilang medekat ke pelayan itu yang bisikan sesuatu. Awalnya pelayan itu ragu. Tapi Gilang mendorongnya kearah pacarku. Tak berapa lama Pelayan itu langsung mendekati tubuh MArscha dan…….. HAPP….. Dia melahap payudara pacarku.

Anjing. Aku kaget luar biasa. Jahat sekali Si Gilang ini. Untuk tips, dia kasih toket pacarku, yang aku yakin belum pernah dirasakan pelayan itu.

Pacarku mulai mendesah, tapi masih memejamkan matanya. Kedua dada indah yang menjulang tinggi itu diremas dan dijilat dengan rakus sama pelayan itu. Bahkan tangannya sudah kebawah kearah vagina pacarku (walau aku tak bisa melihat jelas karena kehalang badannya).

Dan kulihat gilang sudah mulai mengocok batangnya yang sudah kembali tegang. Dia sangat menikmati bagaimana pelayan (maaf) dari kelas rendahaan itu mengexploitasi pacarku. Ternyata dia sengaja setting adegan ini. Untuk memancing birahinya. Licik juga.

“Sudah cukup….kau keluar sana…” Kata Gilang menarik kepala pelayan itu, sambil mendorongnya.

Pelayan itu kelihatan kesal karena tanggung, tapi tak berani saat melihat muka galak gilang. Pelayan itu keluar, dan aku menahan nafasku takut dia melihatku sembunyi dibalik horden. Karena walau dibelakang horden, kakiku masih kelihatan krn gordennya tidak sampai lantai. Dan aku bertuntung dia tidak melihatku, dan lebih beruntung lagi dia tidak menutup sempurna pintu ruang VIP itu, sehingga aku masih bisa melihat siaran langsung di dalam.

Aku lihat Gilang yang kontolnya sudah kembali tegang lalu menarik tubuh pacarku ke arah sandaran sofa. Sekarang posisi badan pacarku ada di dudukan sofa, sedangkan pantatnya di sandaran sofa, sehingga posisi vagina pacarku lebih tinggi, menghadap cowo itu. Gilang posisi berdiri, dilebarkannya paha pacarku, lalu dimasukan kembali batangnya. Dengan lancar batang itu masuk ke memek sempit pacarku yang sudah basah.

“Ahhhh…” Pacarku hanya menjerit kecil, yang kemudian kembali diam.

Dengan perpaduan cepat dan lambat, Gilang menggenjot pacarku.

Sekitar 5 menit kemudian, Kudengar pacarku kembali mendesah-desah. Sepertinya birahinya kembali naik.

Gilang memaju-mundurkan pantatnya dengan penuh semangat. Menghajar memek pacarku dari posisi atas, membuat Gilang dengan bebas melihat bagaimana toket besar Pacarku bergerak-gerak liar karena goncangan. Kedua tangan Gilang mencengkram kuat-kuat kedua bongkah daging tersebut dan semakin mempercepat kocokannya.

“Enakan mana sama kontol pacar kamu?”

“……”

“Ayo jawab…”

“…….”

“Ya sudah deh. Udahan ya…” Kata Gilang mencabut batangnya.

“Ehhh…ehhh…tanggung..jangan dong…” Kata pacarku membuka matanya. Malah sekarang justru pacarku yang memaju mundurkan liangnya ke kontol Gilang. Benar-benar bitcy sekali.

“Kontol kamu yang terbaik sayang…auhhh…” Katanya.

Kemudian Gilang memeompa dengan semangat kembali dengan RPM tinggi sampai pacarku kembali orgasme. Diremashnya kencang sofa itu, sambil teriak ENAKKKKKK……..

Gilang pun tersenyum “Baguss, Kita terusin ya. Gw belum keluar nih! Mau kan?” tanya Gilang pada pacarku yang kemudian dibalas dengan hanya mengangguk lemas.

Gilang pun kemudian melepaskan paha pacarku, lalu berjalan dan merebahkan dirinya diatas lantai “Kamu diatas Sha!!” perintahnya pada pacarku. Dia manti ganty gaya woman on top.

Pacarku pun mengangguk dan mengerti permintaan dari Gilang, ia kemudian beringsut mendekati cowo itu.

“Eh bentar dulu. Rekam dong. Buat bahan coli gw”

“Jangan kesebar ya” Kata pacarku, lalu mengambil HP gilang. Diletakkanya diatas sofa tempat tadi mereka bercinta.

“Lu hadap sana saja. Pasti keren banget ditonton nanti toket lu gerak-gerak pas digenjot” Perintah Gilang

Pacarku seperti kerbau dcucuk hidungnya. Dia menurut saja.

Setelah kamera video nyala mode record dan mengkat gambar full mereka berdua, Marscha yang sudah terlihat lemas lalu naik ketas tubuh telentang Gilang sembari berjongkok dengan membelakangi cowo itu.

Lalu sembari memegang batang kontol Gilang dengan tangan kanannya, Marscha mengarahkan dan menuntun senjata pamungkas laki-laki itu ke gerbang pintu kemaluannya sendiri. Perlahan dia menempelkan kepala kontolnya sedikit, lalu pacarku mulai menurunkan pinggulnya memasukkan kontol Gilang keliang senggamanya yang begitu sempit.

“OUhhhh……memek Marscha penuh sama kontolnya gilang…” Desah pacarku kearah kamera. Bitch.

Perlahan-lahan, akhirnya kontol tersebut pun ludes seperti sedang dimakan oleh memek pacarku, semuanya tenggelam sempurna dan tidak keliatan lagi, “Auhhhhhhhhhhhh” rintih pacarku.

“PLAAAKKKK” tampar Gilang di pantat pacarku tidak begitu kuat “PANTAT!!” katanya gemas pada pantat mulus pacarku.

“Aduhhh…jangan tampar-tampar dong” Teriak pacarku.

“Ayo goyang. Jangan banyak protes”

Lalu pacarku pun mulai menunggangi kontol milik Gilang dengan pelan, menaik turunkan pantatnya dengan semangat serta tak lupa untuk memutar pinggulnya dengan liar. Aku sangat terangsang melihat kebinalan pacarku itu. Kontolku kembali aku kocok-kocok dengan cepat.

Desahan-desahan kembali memenuhi ruangan VIP itu. Sembari begoyang, tangan pacarku berpegangan pada lutut Gilang. Pacarku sungguh lincah bercinta dengan posisi sex WOT tersebut. Sering bercinta denganku (bahkan mungkin dengan beberapa cowo lain) pacarku sudah paham dan tahu betul apa yang harus dia lakukan untuk bisa mendapatkan kepuasan.

“Ouhhhh… Ssssshhhh… Euhhhhh…… Ahhhh.., ” desahnya penuh gairah sembari menggoyang penis Gilang didalam memeknya. Sesekali dia arahkan wajahnya ke kamera HP.

Gilang pun sepertinya juga merasakan dampak kenikmatan dari goyangan pacarku itu “Enak banget goyangan lu. Dasar pecun memang lu ya.. Ouhhh. Sssssshhhh..” desahannya ikut keluar.

“Iya aku memang pecun….” Kata Marscha menggoda.

Pacarku pun dengan RPM tinggi memacu kejantanan Gilang dengan goyangannya, Kadang pacarku naik turun dengan cepat, dan kadang ia melambat memainkan tempo, pacarku meliuk-liuk diatas batangnya Gilang yang besar itu.

“aaachhhh…. gilaaa… iniiihh… ennaaakkk” Desahan-desahan nikmat pacarku menandai keluar masuknya batang Gilang di memeknya.

Kontol itu terlihat menyodok semakin dalam bahkan sepertinya sudah sampai menyentuh dasar rahim pacarku yang membuatnya menggelinjang ketika kontol tersebut masuk secara menyeluruh.

Pacarku sepertinya tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, Payudaranya yang sudah menegang maksimun terayun-ayun dengan indah dibadannya mulai ia remas-remas sendiri untuk menambah rangsangan dan sensasi nikmat, sambil diarahkan ke kamera yang masih ON.

Gilang pun juga mulai membantu menyodok-nyodok kemaluannya sendiri, sehingga pacarku berteriak makin kencang, sudah seperti video bokep jepang. Sambil menyodok memek pacarku, Gilang tak tinggal diam dan meremas-remas pantat Marscha. Malah terkadang dia membantu mengangkat pantatnya lalu menurunkannya lagi dengan cepat.

“Ahh…. ahhh… terussss… puaaskaaannhh.. akuhhh.. ahhh…gilaaaa…” jerit pacarku meminta seiring dengan naik-turun tubuhnya. Wajahnya sangat binal menghadap kamera yang sedang merekam.

Aku sudah ngecrot sekali menyaksikan semuanya itu. Tapi mataku tak bisa lepas dari persetubuhan panas ini. Bahkan mereka belum juga selesai, masih lanjut ronde selanjutnya.

Dari menghadap kebelakang, pacarku pun kemudian memutar tubuhnya tanpa melepaskan Kontol Gilang yang tertancap di memeknya, kini posisi mereka saling berhadapan dan mereka tersenyum bersama.

“Enak ya sayang??” Tanya Gilang melihat pacarku yang tersengal-sengal sambil mengelus-elus wajah pacarku yang mulai berpeluh keringat.

Pacarku pun mengangguk “Banget babe…” jawabnya sambil tersenyum.

“Kamu mau gak aku entotin kayak gini tiap hari?” tanya Gilang yang lagi-lagi memancing pacarku.

“Mau.. maauu….kamu mainnya tahan lama…” jawab pacarku mengangguk penuh semangat.

Mendengar jawaban tersebut, hatiku langsung luluh lantah mendapati kalau sekarang pikiran pacarku sudah bukan lagi pikiran yang dulu. Sontak saja kontolku yang sudah lemas karena berejakulasi tadi, mulai mendenyut kembali, rasanya hatiku cemburu dan marah, tapi tubuhku malah semakin horny dan terangsang merasa dilecehkan seperti ini.

“Goyang lagi dong kalau gitu” perintah Gilang dengan manja pada pacarku.

Pacarku pun kemudian kembali mulai bergoyang-goyang dan naik turun seperti seorang cowgirl yang sedang menaiki seekor kuda, gerakannya sangat sensual dan penuh semangat dibarengi dengan senyum kenikmatan yang tergambar jelas di wajahnya. Dadanya mengayun indah tepat didepan wajah Gilang. Pemandangan yang sangat indah bagi setiap lelaki yang melihatnya.

“Ahhhh.. eeemmhhh…. ahh.. sshhh..” desah pacarku menggairahkan di tengah suara beradunya tubuh mereka berdua, saat mulut Gilang melumat dan mengunyah-ngunyah sepasang payudara di dada pacarku itu secara bergantian. Sekejap kemudian payudara pacarku yang putih mulus itu dipenuhi bilur-bilur kemerahan bekas gigitan Gilang.

“Jangan dicupang…nanti pacarku lihat…..” Kata Marscha. Masih sempat-sempatnya dia memikirkanku.

“Nanti bilang saja digigit nyamuk…..” Kata Gilang kembali melumat bongkahan indah itu.

“Iyaaaaa…. Geeeeelllliiihhh….ouhhh……….. eeengghhh…” ungkapnya penuh desisan saat kedua puting susunya dihisap dengan kuatnya dan penuh nafsu.

Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan untukku, pacarku naik turun menikmati cepatnya batang Kontol Gilang masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir memek pacarku melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk mempercepat kocokan kontolku melihat pacarku disetubuhi oleh laki-laki

Sementara aku melihat wajah Gilang tersenyum dengan matanya merem melek, menikmati liang memek pacarku yang kecil dan imut-imut itu.

Rupanya pacarku sudah ingin mencapai orgasme sekali lagi hanya berselang waktu yang tak lama. Pacarku semakin cepat menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat pinggulnya naik turun dengan semangat dan cepat. Gilang pun juga semakin mempercepat permainannya, mungkin dia juga sudah merasakan gelombang orgasmenya yang mulai membayang akibat goyangan hebat pacarku.

“Ahh.. aku…keluar…. lagiiihhhh…..” desah pacarku dengan kencang, penuh kenikmatan menggapai orgasmenya sambil kemudian dia ambruk memeluk tubuh Gilang.

Tubuh pacarku yang semula menggelinjang-gelinjang dengan liar perlahan mulai melemah. Keringat mengucur begitu hebat dari setiap pori-pori yang ada dikulitnya, akhirnya tubuh indah pacarku ini terkulai lemas dan matanya terpejam diatas tubuh Gilang.

Dengusan nafas penuh birahi sisa-sisa pergumulan pacarku masih terdengar memenuhi setiap ruang VIP itu.

Tapi Gilang belum selesai, dengan secapat kilat, ia membalikkan posisi yang sebelumnya pacarku diatas, berubah jadi posisi dia yang menindih pacarku, diatas lantai yang dilapisi permadani. Gaya bercinta missionari, cara yang terbaik buatku kalau mau nge crot.

“Aku tuntaskan ya…Sudah ga tahan nahan dari tadi jepitan memek lu…” Kata Gilang. Tanpa menunggu persetujuan pacarku yang masih lemah itu, cowo itu pun langsung saja mulai menggenjot kembali memek pacarku dengan cepat.

Tak jelas apa yang disampaikan pacarku. Tapi sepertinya meminta Gilang untuk sabar. Tapi Gilang tetap menggenjot. Pacarku hanya bisa pasrah, nafasnya masih memburu dengan liar namun dia tidak lagi bisa mengimbangi gerakan Gilang seperti semula, walaupun tubuhnya masih teguncang-guncang oleh genjotan Gilang yang mulai mengaduk- aduk memeknya.

“Gila..gw kecanduan memek lu ini….. Gw mau pacarin lu saja…..biar ngentot ga usah sembunyi-sembunyi……” Kata Gilang, sambil memacu batagnya.

Enak saja pikirku. Aku pacarnya yang sah.

“Putusin pacar lu ya….. biar lu gw buat puas tiap hari…..Gw cari kontrakan nanti buat lu…”

Pacarku diam saja tak bereaksi. Agaknya Marsha telah kehabisan tenaga karena beberapa kali orgasme, dan tak mampu lagi mengimbangi. Marscha hanya bisa membuka pahanya lebar-lebar namun dia hanya terlentang pasrah serta lemas dan tak mampu lagi menggerakan pinggulnya seperti semula.

Sekitar lima menit kemudian, tubuh Gilang pun memacu dengan kecepatan tinggi.

Kontolnya melesak ke dalam memek pacarku dalam-dalam hingga aku sangat yakin kalau kontol itu menyentuh dasar rahim pacarku.

“AAaaaaaaaaaghhhhhhhhhhhh..” geramnya sambil memeluk tubuh pacarku kuat-kuat.

“Sha, aku mau keluar nih. Keluarin didalam yah?” pinta Gilang pada Pacarku.

Pacarku langsung membelalak menatap cowo itu, “Jangan…Jangan…aku lagi subur, ntar hamil.” Marscha mencoba berontak.

Tapi nampaknya sudah telambat karena tepat dengan berakhirnya kata-kata Pacarku, Gilang memegang paha Marsha sangat erat agar dia tidak bisa bergerak.

“Kalau hamil, biar pacar lu yang tangung jawab”.

Lalu nampak pinggulnya bergerak cepat sekali, menyodok dengan kerasnya, sampai disatu titik berhenti dan mengejang. Cowo itu telah mencapai orgasmenya. “Anjingggg…gw keluar…..AHHHHH…”

Pacarku sempat teriak lagi JANGAN, tapi akhirnya diam tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.

Cowo bangsat itu menumpahkan spermanya kedalam memek pacarku, yang kemudian tubuhnya ikut ambruk ke atas tubuh pacarku.

Beberapa saat lamanya Gilang dan Pacarku terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali. Dia seperti menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontolnya ke dalam memek pacarku. Perlahan-lahan baik tubuh Pacarku maupun tubuh Gilang tidak mengejang lagi.

Gilang kemudian menciumi leher milik pacarku dengan lembutnya, lalu keduanya berciuman di bibir.

Gilang perlahan mencabut penisnya dari vagina Pacarku, terlihat cairan putih kental yang sangat banyak mulai mengalir sedikit demi sedikit dari dalam vaginanya mengalir keluar. Gilang berejakulasi didalam rahim Pacarku, spermanya cukup banyak sampai-sampai liang vagina pacarku itu tidak kuasa menampung semuanya.

“Gimana sayang? Puas khan ngentot ma aku?” Gilang tersenyum.

“Puas banget sayang….Tapi kamu nakal keluar didalam”

“Gpp, kalau hamil nanti pacarmu yang tangung jawab”

“Sialan lu…” Mereka berdua terrtawa.

Keduanya lalu rebah bersama dan saling memeluk. Sampai akhirnya kulihat Marscha tertidur kecapean.

Bersambung