Cerita Sex Pacar Binal Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Terbaru – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Pacar Binal Part 13

VOICE RECORD 001

“Yakin lo bisa puasin gw? Jangan2 baru sekali sodok lo udah pingsan lagi”

“Ya elah, Sher, ngeremehin gw banget sih lo”

“Oke, eh tapi cerita lagi dong, lo barusan ngomong apa ke gw?”

“Iye, jadi ini emang udah direncanain ama si Rama, dia pengen bisa ngentotin si Marsha, terus Denny ama gw dijanjiin bisa ngentot ama lo, tapi kita nggak boleh ngentotin si Marsha, soalnya itu katanya jatah Rama”

“Gila lo ya, lo pikir kita apaan?”

“Cewek mah ada buat muasin cowok, kan? Hahahaha. Lagian juga ini karena si Rama penasaran aja soalnya Ringgo cerita kalau dia udah sering ngentotin si Marsha, dia pengen nyobain doang. Kalau udah juga paling dibuang ama si Rama”

“Ooo, jadi ini gara2 cerita si Ringgo?”

“Iya.. Eh, lama deh, buruan yuk ngentot, gw udah kagak tahan”

“Boleh aja, tapi kalo lo kalah duluan, jangan harap bisa ngomong ama gw lagi, paham?”

“Kecil itu mah, gak bakal gw kalah duluan. Ada juga lo yang minta nagih”

Rekaman suara selesai. Aku mendengus saja. Nama itu pun muncul kembali. Ini makin mempertebal dendamku saja kepadanya, dan kini pacar si berengsek itu berada tepat di dekatku, siap sebagai tempat untuk pelampiasan dendamku.

Namun aku masih ragu. Putri tak nampak seperti cewek yang menjadi tipe Ringgo, bahkan dia sepertinya tak pantas kalau bersama si Ringgo yang berengsek itu. Oh iya, ngomong2 soal ini aku jadi lupa sama Putri.

Aku pun berniat mengirimi pesan untuk meminta maaf soal kejadian tadi. Tapi saat baru menulis, pesan Putri sudah masuk terlebih dahulu.

P: “Maafin Putri ya, A’, Putri khilaf tadi” *emotikon sedih*

A: “Ada juga Aa’ yang minta maaf karena khilaf, Put”

A: “Maafin Aa ya Put”

P: “Iya, A, gpp. Putri cuman gak enak aja ama Teh Marsha, karena udah godain Aa. Ntar Aa malah ngiranya Putri cewek gimana gt”

A: “Enggak koq, Put, kamu itu di mata Aa selalu baik. Tadi malah Aa yang salah karena udah berani gt ke Putri”

A: “Maaf Aa ngelakuin sesuatu yang pasti Putri nggak suka”

P: “Putri suka koq A”

A: “Ah, masa?”

P: “Iya, pas Aa cium Putri tadi entah kenapa Putri ngerasa kayak bener2 disayangin gt, makanya Putri ngizinin Aa nyentuh dada Putri juga”

P: “Tapi Putri nggak mau terus bikin Aa ntar jadi ngerasa bersalah ama Teh Marsha”

P: “Jadi, kalau bisa jangan lagi ya, A, ntar Putri takutnya kalau ama Aa malah Putri yang nggak bisa tahan, malah jadinya kebablasan”

P: “Putri soalnya juga udah janji mau ngasihin keperawanan Putri ntar ama suami Putri nanti pas nikah, pada cowok yang bakal Putri cintai selamanya, dan mencintai Putri dengan setulus hati”

A: “Iya Put, Aa paham. Aa minta maaf ya”

P: “Ih, Aa nggak salah koq minta maaf. Xixixi”

A: “Kalau nggak salah berarti boleh dong minta cium lagi?” *emotikon monyet nutup mata*

P: “Cium di mana dulu” *emotikon melet*

A: “Di bibir lah” *emotikon ketawa*

P: “Ih, maunya”

Lalu lama tidak ada pesan lagi. Aduh, jangan2 aku nyinggung Putri nih. Tapi baru ketika aku akan minta maaf, Putri mengirim pesan lagi. Kali ini close up bibirnya yang dibentuk seolah ingin mencium.

P: “Ini khusus buat Aa Billy-nya Putri yang paling kasep”

P: “Met bobo ya, Aa'” *emotikon melet*

Astaga, apa yang harus kulakukan???

Sebuah Tawaran

Di sebuah hotel daerah dago atas.

“Ahhh…Billy, terus sayang…. genjot yang kencang…” Suara desahan gadis itu memenuhi ruangan hotel yang kedap suara. Tubuh telanjangnya terbaring diatas kasur, dengan payudara yang bergerak bebas saat aku genjot dengan posisi missionari. Posisi paling enak kalau mau nge-crot.

“Terusss….aku mau sampai lagi..ahhh..hh……cee..pat arghhh…ah”

Tubuh indah gadis cantik itu meliuk-liuk ketika aku sodok dengan batang penisku dengan tempo tinggi. Frekuensi genjotanku yang teratur dengan kencang membuat mahasiswi cantik ini sepertinya akan segera orgasme pertamanya.

“Enak sayang? Ayo teriak kencang” Ujarku mencoba memancing dia supaya lebih bernafsu.

“Ahhh….enak sayang. Aarghhh………aku mau sampai lagi sayang….argh…ahh..sssss…ah……..”

Mulut gadis itu berteriak kencang sambil menjawab sambil merintih-rintih kenikmatan. Kedua tangannyanya memeluk leherku seolah tidak mau terlepas. Dia bahkan membantu menggerakkan pantatnya menerima hujamanku.

Gadis yang berteriak-teriak keenakan itu adalah tidak lain tidak bukan sahabat pacarku : Sherry. Kami bercinta dengan diam-diam untuk menuntaskan hasrat birahi yang lama tak tersalurkan. Sekaligus membayar kekalahan taruhan.

Melihat sahabat pacarku itu sebentar lagi akan orgasme, aku pun tidak tinggal diam. Sambil menggenjot aku remas toketnya yang ranum dengan tangan kiriku. Tangan kananku kupakai untuk memegang paha kirinya akan semakin terbuka lebar saat kugenjot. Tak lupa kuciumi puting, leher dan telinganya, sehingga membuatnya makin gila.

“Aduhhh..puas banget memang ngentot sama lu….dikit lagiiii…AHHH…” Desah Sherry.

“Gw juga sudah mau keluar, kita keluar sama-sama ya..ahh..ah…” Jawabku. Rasa geli dan nikmat meneyergap disekujur batang kontolku. Sherry hanya mengangguk sambil memandang mataku sayu.

“Ahh….arghhhhh….ssss….aHhhhhhhhh….Ahhhhss..ahh..” badan Sherry bergetar hebat pelukannya semakin kencang. Rupanya dia mendapatkan lagi orgasmenya.

Aku pun sudah mau ejakuasi, kupercepat genjotanku ke memeknya.

” Argh..!! Sher enak banget memek lu…..Arghhh” Teraikku kencang.

Crot…crooot… Aku pun sampai, maniku kusemburkan dalam rahim Sherry. Aku rasakan didalam sana batang penisku terasa hangat.

Kupeluk Sherry erat, begitupun dia. Aku usap keringat di keningnya dan kucium lembut. Sherry tersenyum, namun pelukan masih belum kami lepaskan.

“Puas banget ngentotin memek lu”

“Sama…gue juga puas banget. Lu jago banget sih….” Katanya.

Kamipun beringsut dan berguling, tanpa melepaskan pelukan. Posisi Sherry saat ini diatas tubuhku, kontolku yg setengah tegang masih didalam memeknya.

Hari ini hari kamis. Aku lagi balik ke bandung untuk urusan pendaftaran sidang skripsi. Penelitianku memang belum selesai 100%, tapi dosenku menginjinkanku untuk daftar sidang. Kebetulan jadwal sidang ada 3-4 minggu kedepan, dengan asumsi sebelum sidang, skripsiku sudah selesai dan di-approve. Ga sia-sia aku capek-capek keluar kota ngerjain proyeknya, bisa juga aku mendekati wisuda. Walau harus berpisah sementara dengan pacarku.

Oh iya, pacarku yang lebih dulu mengabari kalau aku sudah bisa sidang setelah dia mengantar laporan penelitian (yang jadi skripsi) ke dosen pembimbing minggu lalu. Pacarku bilang dia hanya sebentar ketemu dosenku diruanganya sore itu, sambil ngobrol sambil membolak-balikkan skripsiku. Dan katanya langsung di approve. Syukurlah.

Sengaja aku tidak kasih tahu Marscha aku pulang hari kamis kebandung, melainkan jumat. Karena aku memang ada janji “bayar hutang” kalah taruhan dengan Sherry. Jadi aku percepat pulang sehari, dari yang aku kasih tahu ke Marscha.

Tadi di stasiun aku dijemput Sherry. Dia sudah booking hotel di dago atas. Sengaja tidak di kostnya atau bahkan di kostku agar lebih bebas. Terutama bebas teriak-teriak. Dijalan tadi aku yang setir bawa mobilnya.

Selama dijalan batangku dikerjai Sherry. Bahkan dilampu merah sebelum sampai hotel dia sengaja mengoral batangku, padahal ada pengamen jalanan yang mendekat meminta duit. Memang bitchy ini cewe

HP ku tiba-tiba berbunyi. Dengan malas kuangkat, aku lihat no pemanggil, telpon dari Marscha rupanya. Aku suruh Sherry untuk diam. Posisnya masih diatasku.

“Halo sayangnya aku, lagi ngapain?” Suara manja Marscha diseberang sana.

“Lagi dijalan ini. Baru habis ngumpulin data” Jawabku berbohong.

“Kangen kamu ini…..”

“Sama sayang. Tunggu besok ya”

“Besok kita ngapain?”

“Kamu maunya apa?” Pancingku.

“Aku mau kasih hadiah buat kamu besok….hihihi..”

Lagi asyik-asiknya telpon, tak kusadari kalau Sherry sudah turun kebawah. Sekarang kepalanya tepat berada didepan kontolku. Dan tiba-tiba…HAP!…dia masukkan batangku ke bibirnya.

“AUUUUU……” Aku yang lagi kangen-kangenan sama pacarku sampai kaget.

“Kamu kenapa sayang?” Tanya pacarku.

“Gpp sayang”.

Cukup lama pacarku telpon, dan selama itu juga Sherry mengoralku. Sungguh nikmat sensasinya. Batangku yang baru crot bisa langsung bangkit lagi

“Kamu sakit ya sayang? Suara kamu serak. Minum obatya…”

Ini bukan sakit, ini karena aku tersedak saat dragon ball ku dijilati sahabatmu, sambil ujung palkon dimainkan dengan jarinya.

“Sudah dulu ya sayang” kataku.

Aku sudahi telponku langsung menerkam Sherry yang tertawa cengengesan.

Tak sampai 1 menit, aku kembali bercinta dengan liar dengan Sherry. Aku dorong tubuhnya menungging diatas kasur, aku genjot dengan kencang sambil menampar-nampar pantatnya. Seharian ini memang kami hanya dikamar saja untuk menikmati kerinduan, dan menyalurkan fantasi.

Apalagi Sherry tahu sekali memancingku biar tetap TURN ON, yaitu dengan cerita kebinalan-kebinala Marscha.

Bahkan sebelum tidur, pas lagi mandi bareng, di kamar mandi akhirnya aku anal sipecun ini. Dia sampai menjerit-jerit aku hantam pantatnya yang masih sempit itu. Tak kuberi ampun. Aku beruntung hanya aku cowo yang bisa anal sama dia.

Bareng Marscha kekampus.

Besoknya, aku akhirnya kerumah Marscha. Aku jemput dia dirumahnya. Tadinya mau mampir melepas rindu, tapi katanya dirumah lagi ada orang. Lagian juga dia juga buru-buru kekampus.

Kami berciuman dengan ganas di mobil. Akhirnya aku rasakan lagi bibir indah pacarku ini. Bahkan aku grepe-grepe toketnya, dan raba-raba pahanya sebentar sebelum dia hentikan.

“Nanti saja lanjut di kost yank” Katanya melepaskan tubuhnya.

Aku ga menolak, kemudian aku stater mobil untuk jalan menuju kampus. Sebelum sampai kampus, pacarku minta berhenti sejenak di minimarket karena ada yang mau dibeli. Dia keluar sendiri sedangkan aku tinggal di mobil.

Sambil menunggu pacarku, aku iseng-iseng mau buka HP nya. Karena bisanya banyak bukti-bukti “perubahan”nya disana. Aku lalu bongkar tas Marscha. Aku lihat diidalam tas ada HP, power bank dan 2 dompet.

Sebelum buka HP nya, aku mau lihat dulu isi dompet pacarku. Dompet pertama isinya uang dan segala macam kartu. Biasa saja, tak ada yang mencurigakan. Tapi aku sangat kaget pas buka dompet kedua, yang aku kira isinya hanya alat make up, ternyata ada barang lain yang buat aku terbelalak. Didalam tas make up itu ada kondom, celana dalam yang masih baru dan juga……. vibrator kecil seukuran jempol dengan remote.

Ngpain ini pacarku bawa kondom segala? Damn! Pasti ini buat ML sama cowo2 deh. Anjislah. Antara kesal atau bersyukur, karena pacarku bawa kondom sebagai pengaman.

Terus ini vibrator wireles kecil dengan remot dari siapa pula? Ga mungkin pacarku beli-beli beginian. Pasti ada yang kasih. Mana bawa celana dalam ganti lagi.

Kemudian muncul ide dariku. Aku mau kerjai pacarku ini. Tunggu saja.

Pacarku kaget pas masuk mobil tasnya sudah kebuka dengan Vibrator ada dibagian atas. Belum sempat aku tanya, dia sudah melakukan pengakuan.

“Ini punya Sherry yank. Aku pinjam. Soalnya kalau aku lagi horny dan ga ada kamu, jadi pakai vibrator”

Itu alasan pacarku. Tapi nantinya akan aku pastikan ke Sherry, kalau itu ternyata bohong. Sherry bilang dia ga punya vibrator model begitu.

“Oh begitu. Nakal kamu ya” Jawabku.

“hihihi…”

“Berhubung kamu cewe nakal, aku mau hukum kamu”.

“Hah? Hukuman apa?” Kata pacarku exited.

“Aku mau kamu pakai ini sekarang” kataku menyodorkan vibrator mini itu.

“Hah? Sekang?”

“Iya sekarang”

“Tapi kan kita mau kekampus”

“Gapapa, rasakan sensasinya”.

Akhirny dengan sedikit memaksa, aku suruh pacarku buka celana dalamnya. Vaginanya yang bulunya lebat terpampang nyata diatas jok mobil. Kami masih diparkiran minimarket. Dan kaca mobilku hanya 60% saja.

“Aku masukin ya” kataku sambil menggesekan vibrator ke vaginanya. Dia tidak menjawab, hanya mendesah desah sambil mencengkeram dan mendorong tangan ku agar vibrator yang mulai basah itu masuk ke dalam vaginanya. Aku terus menggodanya dengan hanya menggesekkan vibrator itu ke klitorisnya.

“Sayangggg… Stoooppphhh…. Geeeeelliiii….. aaahhhhhhh…” Desahnya. Sangat sexy ditelingaku.

Tapi aku tidak menghiraukan permintaannya. Setelah masuk, aku lalu menyalakan remote vibratorku. Getaran pertama membuat pacarku menggelinjang hebat, tapi ajaibnya vibrator kecil itu masih menempel didalam vaginanya, tidak terjatuh keluar.

“Auhhhh…pelan-pelan….sayang….ouhhhhhh……..”

Aku percepat RPM vibrator itu. Pacarku tersentak-sentak hebat. Aku senang, sekaligus horny melihat ekspresi dia.

Pacarku malah meremas-remas dadanya dari luar baju yang dia pakai. Sudah horny banget dia. Sambil mempermainkan pacarku, aku perhatikan sekitar. Banyak yang lalu lalang keluar masuk dari mini market itu. Bahkan di kiri dan kanan mobiku, ada mobil yang parkir juga. Ntah mereka ini bisa melihat expresi pacarku yang makin horni bersandar dijok mobil.

Akhirnya aku naikkan ke getaran yang HIGH, paling kencang. Tubuhnya makin tersentak-sentak hebat. Pacarku sampai menutup mulutnya agar tidak teriak. Beberapa detik kemudian, vaginanya menyemprotkan cairan bening yang sangat banyak, membasahi jok mobil. Mulutnya meneriakan erangan yang sangat keras.

Ketika sedang asyik bermain dengan vagina pacarku, tiba2 mataku tidak sengaja melihat jam yang ada di mobil, dan aku langsung terkejut begitu menyadari bahwa waktu tidak mendukung untuk melanjutkan aktivitas ini.

“Kamu nakal banget sih..” Katanya dengan menutup mata, bersandar lemas.

Kami lalu jalan ke kampus. Kebetulan sekali kelas yang akan dituju oleh Marsha adalah kelas yang diampu oleh Pak Zakar, dosen pembimbingku. Aku beberapa hari ini memang agak malas dengan Pak Zakar, karena beberapa kali aku harus melakukan revisi lagi. Entahlah, sepertinya dia memang sengaja melama-lamakan persetujuan skripsiku.

Sesampainya dikampus, aku suruh pacarku keluar duluan. Sedangkan aku cari tempat parkir. Pacarku keluar dari pintu dengan vibrator masih nempel didalam liangnya (itu setelah aku paksa).

“Yang, beneran nih aku kudu make ini selama kuliah?”

“Iya, Sayang”

“Jangan sekarang deh, lain kali aja gimana?”

“Memangnya kenapa?”

“Kan tahu sendiri kalau Pak Zakar itu dosennya killer. Skripsi kamu aja lama banget gak di-acc ama dia, kan?”

“Justru kalau ada dosen killer, di situlah tantangannya. Pokoknya selama kuliah, ini nggak boleh kamu lepas, apa pun yang terjadi”

Marsha hanya memberi raut muka cemberut.

Aku punya rencana yang memang melibatkan Marsha, dengan vibrator yang sengaja kutanam di dalam vaginanya. Sebelum Marsha kembali tadi, aku sudah menghubungi Sherry, kusuruh dia untuk izin ke toilet saat kuliah berlangsung untuk menemuiku.

“Ya sudah deh….Tapi kamu jangan nakal berlebihan” Kata pacarku sambil membuka pintu mobil.

Pas Marscha baru beberapa langah keluar mobil, dengan iseng coba kutekan tombol on. Aku tersenyum licik pacarku yang cantik ini sedang berdiri dengan berpegangan pada kap mobil sambil gemetar. “Ahh sayank nakal…” desah pacarku sambil memasang muka cemberut, tapi tetap berjalan ke ruang kuliahnya begitu vibratornya kumatikan.

Setelah memastikan bahwa kuliah sudah dimulai, aku pun berjalan menuju ke dekat toilet yang berada tak jauh dari ruang kuliah Marsha. Sherry sudah menungguku di sana.

“Apaan sih lo, ngegangguin amat. Gak sabar ya mau quickie ama gw? Padahal kemarin sudah seharian di dago atas “ Katanya

“Cuman mau ngasih tau sesuatu doang, tapi quickie boleh juga nih”

“Ah, dasar cowok. Ya udah, masuk ke toilet cowok deh, mumpung sepi”

Sherry dan aku segera masuk ke dalam toilet cowok di salah satu bilik yang memang sepi. Tanpa membuka pakaiannya, Sherry hanya menggeser tali g-stringnya, lalu mengangkat rok mininya, dan mengarahkan vaginanya ke penisku yang sudah kukeluarkan dari lubang retsleting celana. Dalam sekejap, blesss, penis itu pun menghilang ditelan oleh lubang vagina Sherry yang sudah basah. Dasar bitchy, memek basah terus.

“Jangan lama2 yak, kalau mau lama besok2 aja”

“Siap, Bos!”

Dengan segera kugenjot vaginanya dengan keras. Penuh deg-degan juga ML di toilet kampus ini. Tak perlu beberapa lama sebelum kami berdua akhirnya mencapai klimaks. Kusemprotkan spermaku ke vaginanya. Sherry buru2 memakai CD-nya lalu keluar dari toilet itu.

“Parah lo, padahal ada Marsha di ruangan”

“Tapi lo suka, kan?”

Sherry hanya nyengir saja. Aku lalu memberikan remote vibratorku padanya.

“Apaan nih?”

“Remote vibrator-nya Marsha. Pinjam dari lu bukan? Pasti bukan kan”

Sherry meihat-lihat remote kecil itu.

“Bukan punya gw ini. Ga ada model begini. Ada yang ngasih ke Marscha kali”

“Iya, cuman nggak tahu nih siapa yang ngasih. Nggak mungkin kalau si Marsha sendiri yang beli”

“Jelas, gw juga gak percaya kalau itu. Terus lo mau ini gw apain?”

“Pegang aja dulu bentar, Marsha di deket lo kan, duduknya?”

“Iya, terus”

“Mainin deh pas kuliah”

“Gila lo, ini kan jadwalnya si Mr. Nutballs itu!”

“Biarin aja gpp, tapi ntar rekamin ya reaksinya si Marsha gimana”

“Dasar lo, nggak beres nih otaknya”

Tapi diambil juga itu remote ama dia. Aku kemudian menuju ke mobilku untuk menunggu. Sambil menunggu, aku chatting sama Putri yang masih di Surabaya. Katanya Putri seminggu lagi baru bisa pulang, dan kangen banget sama aku. Kubalas saja sambil menyuruhnya supaya sabar.

“Pengen iseng gitu balik ke Bandung buat nemuin Aa Kasep doang, tapi Putri takut ke sananya”

“Lho, takut kenapa?”

“Takut ketahuan ama Aa Ringgo”

“Kan pacar sendiri, koq takut ketahuan?”

“Ya kan Putri maunya ketemu ama Aa Billy, bukan ama Aa Ringgo”

“Emang Aa Ringgo kenapa?”

Putri lalu bercerita panjang lebar mengenai bahwa Ringgo menjadi agak susah dihubungi, mulai jarang chatting atau bertelepon, bisa pun waktunya singkat, dan biasanya jawabannya mulai seadanya.

Hmm, kalau dipikir sih aku memang juga jarang melihat Ringgo selain ketika ada kuliah, atau saat tidak ngecengin si Marsha. Padahal seharusnya kalau dilihat tingkatannya, sudah saatnya Ringgo mengambil tugas akhir, jadi seharusnya dia lebih sering terlihat di perpustakaan atau ruang dosbing kan? Tapi aku tak katakan semua ini kepada Putri.

Pada saat itu kulihat Sherry mengirimkan beberapa pesan video, namun belum sempat kulihat karena masih fokus dengan Putri. Aku harus menunjukkan fast response supaya Putri tak merasa ditinggalkan. Hehehe. Baru setelah akhirnya Putri undur diri karena ingin istirahat, aku membuka pesan video dari Sherry.

Video pertama menunjukkan Marsha yang tersentak gara2 Sherry menekan tombol pada remote vibrator. Sepertinya Sherry langsung menyerang dengan tingkat getaran tertinggi. Sambil menahan rasa geli pada vaginanya, Marsha tampak berusaha mengeluarkan handphone-nya, mungkin untuk menghubungiku dan meminta berhenti, namun saat melihat kiri-kanan, dia memutuskan untuk tidak menghubungiku, hanya berusaha menahan sambil memberi ekspresi seperti orang tengah menahan buang air besar, hanya saja lebih sensual.

“Lo kenapa, Sha?” tanya Sherry.

“Gak papa, Sher”

“Beneran?”

Sambil mengatakan itu, kulihat Sherry kembali menekan tombol pada remote yang telah dia sembunyikan di balik buku. Marsha tampak tersentak sambil mengeluarkan pekikan kecil.

“Siapa itu yang ribut!?” Pak Zakar menghardik.

Semua terdiam, bahkan Sherry pun mematikan remote vibratornya. Lewat penempatan kamera yang cerdik, Sherry bisa merekam Pak Zakar yang celingak-celinguk sejenak sebelum akhirnya meneruskan.

Video kedua menunjukkan Pak Zakar yang kali ini menghadap ke para mahasiswa dan menanyakan pertanyaan mengenai yang baru saja dia jelaskan tadi.

“Nah, sekarang jawab pertanyaan saya, Sebutkan 3 aspek dalam The Principles of Management, siapa bisa menjawab?”

Sherry kembali menekan tombol remote lagi, kali ini langsung pada sengatan tertinggi, dan Marsha kembali memekik. Dalam kondisi semua orang terdiam karena takut ditunjuk, pekikan itu jelas terdengar amat kencang.

“Yak, Marsha, apa jawabannya?”

Marsha terlihat amat panik, berusaha mencari-cari tahu. Sepertinya bahkan Marsha pun tak paham apa yang ditanyakan oleh Pak Zakar. Sherry lalu menghidupkan remote vibratornya pada getaran lembut.

“Ayo, apa jawabannya?”

“J-J-Jawabannya, Pak?”

“Iya, lho tadi kamu memperhatikan apa enggak? Belum ada 10 menit lho, Bapak menjelaskan”

Pak Zakar bergerak ke arah Marsha. Semakin mendekat, Sherry semakin menaikkan tingkat getarannya. Kulihat Marsha tampak tak bisa duduk dengan nyaman, kakinya menegang dan tangannya mencengkeram erat meja pada kursinya. Tampak dia berusaha untuk menjaga supaya Pak Zakar tidak tahu bahwa dia sedang terangsang.

“Jawabannya?”

“I-Iya, P-Pak… J-Ja-Jadi… (aah)…”

“Iya, apa jawabannya?”

“S-Saya… (ssh)… S-Sesuai yang su-sudah Bapak kasih tahu tadi… (ssh)…”

Pak Zakar menatap mata Marsha dalam-dalam, dan itu membuat muka Marsha menjadi semakin merah.

“Kamu pasti nggak memperhatikan ya? Pasti dari tadi kamu juga kan yang ribut sendiri?”

Marsha tidak bisa menjawab, dia mengatupkan mulutnya kencang-kencang, karena Sherry semakin menaikkan getaran vibratornya. Kalau dia membuka mulut, bisa2 malah suara desahan yang keluar.

“Sudah, nanti selesai kuliah ini, kamu temui saya di ruangan saya”

Marsha tidak menjawab, matanya hanya merem melek, tapi dari kuatnya cengkeraman yang ada pada meja, aku bisa menebak apa yang sedang terjadi sekarang, apalagi kakinya terlihat agak bergerak2 sendiri tak terkendali. Marsha pun mengangguk2 sekenanya, berusaha terlihat normal, walau gagal total.

“Jawab!”

“I-YAAAA PAAAAAAAAAKKKKK!!!!!!”

Semua orang tertawa karena jawaban Marsha itu terdengar dipanjangkan dan agak mendesah, seperti orang yang baru saja mengalami sebuah kelegaan yang luar biasa. Sherry hanya tertawa kecil, dia sudah mematikan vibratornya dan menyembunyikan remote itu. Dia lalu merekam Marsha yang tampak lemas, dan sepertinya juga kesal.

Kulihat waktu pengiriman videonya, dan ternyata itu baru terjadi 5 menit lalu. Harus kuakui bahwa Sherry benar-benar cerdik, karena bisa menyembunyikan handphone-nya di saat kuliah Pak Zakar, yang bahkan tak ada mahasiswa lain berani mengeluarkan handphone mereka.

Kulihat jam dan, seharusnya mata kuliah itu sudah selesai. Sebuah pesan pun masuk dari Marsha:

M: “Sayang, aku dipanggil Mr. Nutballs nih ke ruangannya. Gara2 kamu sih, mainin vibratornya seenaknya”

A: “Tapi kamu gak papa, kan? Ketahuan”

M: “Kayaknya sih enggak, Yang. Cuman nggak tahu nih bakal selesainya berapa lama” *emotikon cemberut*

A: “Ya udah, aku nunggu di kafe deket kampus aja ya, ntar kita shopping deh biar kamu mood-nya balik lagi”

M: “Kamu yang bayar tapi ya”

A: “Siap, Sayang! Love youu!”

Aku diam sejenak di mobil. Kalau melihat dari video yang dikirimkan Sherry, seharusnya sih Pak Zakar tahu, atau setidaknya sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Marsha. Apa yang kemudian akan dilakukannya di ruang dosen, itu aku tidak tahu. Karena Pak Zakar adalah pembantu dekan, maka dia memiliki ruangan sendiri yang terpisah dari ruangan umum para dosen lain.

Sebuah pesan masuk dari Sherry.

S: “Eh, lo tahu nomor kedua gw kan?”

A: “Iye, tahu”

S: “Telepon ke sana ya”

A: “Miskol maksud lo?”

S: “Enggak, lo telepon nomer itu, terserah mau pakai aplikasi apa telepon biasa. Ntar gw angkat, tapi jangan lo matiin sama sekali”

A: “Jangan dimatiin, nih?”

S: “Iye, jangan dimatiin, udah biarin aja panggilannya nyala”

A: “Kampret lo, padahal baru jg gw isi pulsa”

S: “Udah deh, telepon ya. Eh, btw, lo di mana sekarang?”

A: “Gw di parkiran nih, mau nongkrong dulu di Kafe Coopee”

S: “Oke, gw ke sana. Telepon ya, sekarang, cepet”

A: “Iye, bawel”

Aku lalu menelepon nomor kedua Sherry. Ini adalah nomor yang biasa Sherry pakai untuk menghubungi Thomas, dan kini ditambah juga aku. Sherry mengangkat, tapi tak ada omongan apa2.

Aku malah merasakan ada suara seperti sedang membentur beberapa barang. Aku masih heran, tapi tidak berani menutupnya, sambil bertanya2 apa yang sebenarnya diinginkan oleh Sherry dengan menyuruhku begini.

Tanpa mematikan telepon, aku menggerakkan mobilku ke Kafe Coopee yang memang berada di depan kampus. Kafe itu cukup ramah bagi mahasiswa, tempat yang cozy, dan ada tempat duduk yang nyaman serta tertutup yang dilengkapi dengan colokan untuk charger.

Banyak mahasiswa yang ke sini selain untuk makan atau nongkrong, juga mengerjakan tugas, karena suasananya yang nyaman.

Setelah memesan, aku pun iseng mendengarkan teleponku lagi, dan terkejutlah karena kudengar suara Marsha dan Sherry sedang berbicara.

M: “Ya udah ya, gw mau ke ruangan Mr. Nutballs dulu. Moga2 aja itu bandot tua nggak ngapa2in gw lagi”

S: “Lagi, emangnya lo pernah diapain ama dia?”

M: “Ya gitu lah. Gara2nya dia minta revisi ama Billy pas Billy masih di surabaya, terus nyuruh Billy buat ngirimin hardcopy hasil revisinya ke dia via gw, dan dia gak mau kalau ngirimnya pakai email, gila nggak tuh?? I mean, hari gene gak pake email, hellow??”

S: “Trus lo anterin hardcopy ke dia?”

M: “Iya, tapi dia minta gw liatin toket gw ke dia”

S: “Ih gila, pelecehan tuh namanya. Trus lo kasih?”

M: “Gimana mau nolak, dia ngancem gak bakal acc skripsinya si Billy, dan ngacem juga mau ngasih gw nilai E, Psycho emang tu orang”

S: “Oh, yang kemaren itu kan ya?”

M: “Iya”

S: “Ya udahlah. Lagian tambah satu yang lihat toket lu ga masalahlah. Hahhaa..
M: “Anjis lu…hahaha…”

S:”Tapi perasaan lo di ruangannya dia lama deh, ada setengah jam gt. Emang cuman lo liatin toket doang?”

M: “Ya gitu deh, awal mau lihat doang, terus minta pegang bentar eh tahunya lama, malah sampai diplintir-plintir segala lagi puting gw. Bikin merinding. Sudah begitu dia minta cium toket gw, ya udahlah pikir gw, sudah diremas-temas gini, kasih saja sekalian, biar puas..ya begitu deh”.

S: “Terus..truss… 25 menit kemudian ngapain?”
M: “ntar gw ceritain deh. Dah, gw ke ruangan dia dulu, ntar keburu marah lagi orangnya”

S: “Iye”

M: “Eh bentar, nitip ini dong”

S: “Apaan nih? Vibrator”

M: “Iye, si Billy iseng tadi masukin ke meki gw, terus dimainin pula, jadinya gw dipanggil deh”

S: “Hah? Jadi ini dari meki lo?? Jorok!”

M: “Udah gw cuci keleus! Eh, tapi kalau misal Billy nanya soal vibrator ini bilang aja ini punya lo ya, kebawa ama gw”

S: “Lha, gw dijadiin bemper. Napa gak lo bilang aja kalau lo beli ini vibrator, gak bakal ketahuan kan kalau sebenernya ini dibeliin ama…

M: “Pssst! Udah deh, rumit ceritanya. Gw ke ruangan Mr. Nutballs dulu”

S: “Iye”

Selanjutnya suara yang terdengar adalah suara langkah beserta bunyi kerisik barang2. Aku akhirnya paham apa maksudnya. Sherry memberikan semacam penyadap supaya aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam ruangan Pak Zakar. Oh iya, aku pun langsung siap2 beralih ke mode perekam suara, siapa tahu aku perlu merekam apa saja yang terjadi di dalam.

Setelah menyiapkan, aku pun kembali mendengarkan. Kupakai earphone supaya lebih nyaman.

“Permisi, Pak”

“Ya, silakan masuk”

Oke, dia sudah masuk ke dalam, saatnya menyalakan perekam suara.

“Duduk”

“Baik, Pak”

Terdengar suara tas diletakkan. Memang ada dua kursi di depan meja Pak Zakar, jadi pasti dia meletakkannya di kursi satunya.

“Kamu tahu kesalahan kamu?”

“Err… nggak bisa ngejawab pertanyaan, Pak?”

“Iya, itu satu”

“E-Emangnya ada lagi, Pak?”

“Ada lah, kamu ngapain ngedesah2 sendiri di kelas? Kamu mau ngegodain saya apa gimana? Kalau memang mau jadi perek, ada tempatnya, jangan di kelas saya”

“I-Iya, Pak”

“Iya apa? Mau jadi perek emang?”

“Eh, enggak, Pak”

“Kamu itu, inget ya apa yang saya pernah omongin ke kamu dulu. Mau dapet E kamu beraninya bersikap gitu di kelas saya?”

“E-Enggak, Pak. Maaf, Pak”

“Maaf maaf, emang gampang minta maaf gitu aja? Itu saya yakin banyak temen2 sekelas kamu yang gak konsen ngikutin kuliah saya gara2 kamu ribut. Padahal materinya penting, dan bakal saya masukkan ke UAS. Kamu mau tanggung jawab kalau semua temen kamu banyak yang gak lulus?”

“M-Maaf, Pak”

“Sekarang, karena kamu udah bersikap kayak perek di kelas, saya hukum kamu supaya jadi perek di ruangan saya”

“M-Maksudnya, Pak”

“Udah, tutup dulu pintunya”

Aku melepas earphone-ku sejenak karena Sherry menghampiriku, dan langsung duduk di sebelahku.

“Gimana?” bisik Sherry.

“Lagi mau hot nih”

“Sini, gw mau denger juga”

Aku memberikan earphone sebelah kananku kepada Sherry, dan kami berdua pun mendengarkan dari sana. Sherry menempel amat dekat padaku hingga aku bisa merasakan toketnya menyentuh pundakku. Duh, tiba2 saja aku merasakan joniku mulai bergerak2

“Ayo, sekarang kamu bersikap kayak perek” kata Pak Zakar

“Gimana, Pak?”

“Ya gimana kek, godain kek, striptis kek, bebas aja, gak bakal ada yang masuk ruangan ini, tenang aja”

“Kayak kemarin aja gimana, Pak?”

“Ya, gitu juga boleh. Tapi lebih seksi lagi, jangan kayak kemaren, kamu kaku banget. Saya mainin musik ya, kamu bukanya ngikutin musik”

“I-Iya, Pak”

Sesaat kemudian terdengar suara lagu dangdut koplo. Tak disangka ternyata dosen yang terkenal paling killer itu kegemarannya adalah dangdut koplo.

“Ya, pelan2 bukanya, sambil goyang, yang seksi gitu”

Dengan suara musik yang keras, kami tak bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu. Aku hanya bisa membayangkan Marsha tengah melucuti pakaiannya sendiri di tengah tatapan buas Pak Zakar. Membayangkan itu saja membuat penisku semakin menggembung, apalagi ditambah Sherry yang sepertinya sengaja menekan2kan toketnya di pundakku.

“Ih, horny ya” kata Sherry sambil melihat ke celanaku.

Tanpa menunggu jawabanku, Sherry langsung saja meremas penisku dari balik celana. Meja tempat kami duduk memang agak besar sehingga cukup menghalangi pandangan orang.

“Buka bawahnya juga” kata Pak Zakar.

“Bawah juga, Pak?”

“Ya kemaren gimana, ayo”

Kembali alunan lagu dangdut koplo merebak, dan Sherry mulai berani dengan membuka retsletingku dan mengeluarkan penisku yang masih terbungkus CD. Oh, f*ck, dikocoking Sherry sambil membayangkan pacarku sedang show di depan Pak Zakar membuatku semakin horny.

“Lho, koq buka celana juga, Pak??”

“Udah, kamu diam saja. Ke sini kamu”

“Pegang”

“…….”

“Gimana, gede gak?”

“I-Iya, Pak, gede”

“Sama punya pacar kamu gedean mana? Yang jujur jawabnya”

“G-Gedean punya pacar saya, Pak”

“Enak aja, mau dapet E, kamu??”

“Eh, m-maaf Pak, setelah dielus2, kayaknya gedean punya Bapak”

“Ya udah, lakuin kayak yang biasa kamu lakuin ama pacar kamu”

“D-Diemut, Pak?”

“Ya kamu kalau ama pacar kamu gimana? Cepet lah, saya nggak punya banyak waktu. Kalau lama-lama kamu tak kasih E, dan pacarmu nggak saya lulusin”

“I-Iya, Pak”

F*ck! Aku jadi membayangkan Marsha memberikan BJ kepada Pak Zakar yang sudah tua itu. Tapi pada saat bersamaan, Sherry pun mengocok penisku dengan amat ahli hingga ujungnya basah. Tak ada suara apa2, dan musik dangdut koplo itu sudah berhenti, gantinya adalah suara semacam ini…

“Slurp… Emmmh… Hmmph… Clap… Clap… Slurp… Ennggh…”

Berengsek kau, Marsha, bahkan penis Pak Zakar si bandot tua itu aja kamu BJ sampai menjiwai begitu. Kurasakan penisku semakin mengeras di dalam genggaman tangan Sherry.

“Udah sekarang kamu naik dan nungging sambil pegangan meja”

“Bapak mau apa?”

“Kamu mau saya entotin, udah lama saya nggak ngentot ama mahasiswi muda bahenol kayak kamu”

“Eh jangan pak….oral saja ya..sampai keluar…”

“Pakai tawar-tawar segala lagi. Ayo nungging. Kayak kamu sering lakukan sama pacar kamu”

“Pak……”

“Lagian pacar kamu kan diluar kota, pasti sudah lama ga diapakai itu memek. NUNGGING CEPAT”

Ada hening sejenak, sebelum akhirnya suara Marscha:

“OK pak, tapi kalau Bapak mau ngentotin Marsha, boleh minta sesuatu gak?”

“Apaan?”

“Kalau Marsha bisa puasin Bapak, tolong Bapak lulusin Billy ya”

Aku terhenyak mendengar perkataan Marsha itu. Kekasihku sedang mencoba menawarkan seks sebagai pengganti kelulusanku.

“Boleh aja, tapi kamu harus bener2 muasin saya, kalau enggak perjanjiannya batal”

“Oke, deal ya Pak”

“Deal”

Bahkan kali ini pun Sherry berhenti mengocok penisku, sepertinya dia juga ingin tahu apa yang terjadi. Sesaat kemudian terdengar suara-suara tidak jelas, kemudian terdengar suara kecupan dan kecapan, disertai suara2 lenguhan Marsha. Berengsek, aku tahu benar suara itu, Marsha sedang dicumbui oleh si bandot tua itu, dasar lonte!

Suara berikutnya yang aku juga familiar, adalah sepertinya Marsha menjilat dan mengecupi badan si bandot tua itu.

“Duh, jangan disedot putingnya, geli” kata Pak Zakar.

“Udah, Pak, nikmatin aja. Ini service Marsha khusus buat Bapak”

Di tengah suara kecupan itu ada suara khas sebuah penis yang dikocok. Awalnya pelan, tapi lama2 semakin kencang, kemudian berubah menjadi suara Marsha yang mengoral penis. Semua persetubuhanku dengan Marsha pun langsung terbayang di hadapanku, dan Sherry semakin mengintensifkan kocokannya pada penisku. Bahkan kini penisku sudah dikeluarkan dari sarangnya, hanya tersembunyi oleh meja.

“Marsha masukin ya, Pak…”

“Hmph… Aaaaaaahhhhh….”

“Slurph… Smack! Cup… Slurp…”

“Plok! Plok! Plok!”

Suara pinggul beradu yang khas pun terdengar, dan kali ini berbeda karena Marsha mengeluarkan gerakan khasnya dengan mengulek penis di dalam vaginanya. Suaranya sangat khas karena dia sering melakukan itu padaku, yang membuatku keenakan. Si Bandot Tua itu pasti sekarang serasa sedang berada di langit ketujuh.

Sherry semakin intens, dia lalu turun dan melahap penisku, hanya mengandalkan meja sebagai selubung. Untung kafe ini sedang sepi dan tempat duduk kami ada di pojokan sehingga tak ada yang lewat atau melihat. Entah bagaimana aku bisa bertahan cukup lama sambil mendengarkan suara persetubuhan Marsha dengan Pak Zakar, ditambah olah lidah Sherry pada penisku.

“S-Saya m-mau keluar…”

“Tahan bentar, Pak, Marsha keluarin juga deh… Lho, jangan dipegang pinggulnya, Pak”

“K-Kamu seksi banget, Marshaaaaa…. Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhh….”

“Iyaaaaaaahh Aaaaaaaaaahhhhhhhh!”

Tepat pada lenguhan Marsha dan Pak Zakar itu, aku pun mengeluarkan semburan laharku, yang langsung ditelan oleh Sherry, sehingga tak sampai jatuh ke lantai. Sherry tampak terbatuk2 berusaha menelan semua spermaku sampai akhirnya penisku berhenti berkedut. Dia lalu bangkit dari bawah meja dengan celanaku sudah dibetulkan olehnya. Ada sedikit tetesan sperma di sudut bibirnya, yang dia seka di hadapanku dengan gaya yang amat seksi.

“Duh, Pak, keluar di dalam ya…”

“Iya, nggak kuat saya… Kamu hebat banget, saya puas”

“Iya, Pak, saya juga puas… Jangan lupa dealnya…”

“Tenang, buat ini saya bakal lulusin pacar kamu. Dasar dia, nggak tahu kalau pacarnya ternyata lonte… Ha ha ha…”

Telepon pun dimatikan oleh Sherry. Aku termenung sesaat sambil meresapi rasa orgasme yang tengah mereda. Tidak, Marsha tidak menikmatinya. Dia hanya berpura2 orgasme. Aku tahu betul itu.

“Ntar abis ini gw telpon si Marsha, pura2 aja hape gw ketinggalan di tasnya. Gw cabut dulu gak papa, kan”

“Ho-oh, makasih ya bantuannya”

“Bayarlah, gw mau yang lebih hot”

“Oke, tenang aja”

Pesan pun masuk dari Marsha, dia menyuruhku untuk menjemputnya di pintu depan kampus. Dia tidak lagi ingin menongkrong, malah memintaku untuk membawanya ke hotel saja. Pasti dia ingin menuntaskan nafsunya yang kentang saat disetubuhi Pak Zakar.

“Omong2, lo mau ampe kapan biarin situasinya kayak gini”

“Ada saatnya nanti, Sher, tenang aja. Kayaknya sih gak lama lagi”

“Oke, gw serahin ke lo deh. Btw, mbak kasirnya tadi ngelihatin kita lho”

“Ah, kampret lo, koq nggak bilang”

“Biarin aja, abisnya dia terpana gitu. Ya gw godain aja dia sambil tunjukin konti lo. Oke, cabut dulu, bye”

Tak berapa lama setelah Sherry keluar dari kafe, aku menghabiskan minumanku lalu membayar di kasir. Kasirnya melihatku dengan sedikit serba salah begitu, jadi kuberi saja senyuman cool. Orangnya agak manis sih, mungil, tapi nggak secantik Putri apalagi Marsha atau Sherry.

“Berapa?”

“69.000”

Aku pun membayarnya dengan kartu debitku. Saat kuterima notanya, dia memberi isyarat untuk membalikkannya. Ternyata di situ ada nomor telepon dan namanya. Dia lalu memberi isyarat supaya aku menghubunginya. Hmm, pengalaman baru nih.

Bersambung