Cerita Sex Pacar Binal Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Terbaru – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Pacar Binal Part 12

Game UNO

Ah iya, aku teringat dengan hapeku sendiri. Aku buru2 melepas hape dari kabelnya dan kulihat ada beberapa pesan dari Marsha dan Sherry.

M: “Belum selesai nih, Sayang, bentar lagi kayaknya” (sent 08.42pm)

M: “Sudah selesai, aku langsung pulang ya, bareng ama Sherry. Kamu udah makan?” (sent 9.24pm)

M: “Jangan lupa makan pokoknya. Sedikit gpp, yg penting perutnya diisi. Inget, kamu harus sehat biar kuat penelitian dan bisa cepet lulus” (sent 9.25pm)

M: “Halo? Yang, udah bobo ya?” (sent 10.02pm)

M: “Aku udah sampai rumah ya, gpp kalo udah bobo, pasti capek banget ya penelitiannya” (sent 10.07pm)

M: “Semangat ya penelitiannya, semoga bisa lulus cepet” (sent 10.07pm)

M: “Luv u 3000, Baby” *emotikon cium* (sent 10.08pm)

Basi banget… Capek aku tahu dia bohong begitu, dan males juga buat ngebales. Sudahlah, besok pagi aja dibales abis bangun tidur… Kalau inget.

Pesan berikutnya adalah dari Sherry.

S: “Sorry2, udah selesai nih gw. Pasti nungguin ya, jangan2 malah horny nih” *emotikon melet* (sent 9.03pm)

S: “Bete nih, cepet banget keluarnya tu orang, nggak sebanding ama omongannya, mana cepet lemes pula padahal gw belum puas. Besok pokoknya lo kudu puasin gw ya, xixixixixi” (sent 9.04pm)

S: “Oi, koq abu2 doang? Lagi sibuk ya? Apa udah modol? Yawdah, gw cerita aja deh ya” (sent 9.10pm)

S: “Jadi gini, awalnya sih emang kita beneran mau ngerjain tugas, di tempatnya si Rama, soalnya kan dia punya kontrakan, jadi enak, gak ada gangguan” (sent 09.11pm)

S: “Kayak tadi gw bilang, mulainya jam 3, terus jam 5 sebenernya udah selesai, ya tinggal urusannya si Martin buat ngerapiin doang sih. Terus si Rama ngeluarin Chivas, katanya biar otak kembali adem abis ngerjain tugas. Ya pada minum, si Marsha juga, kalau gw sih emang kuat minum gituan” (sent 09.13pm)

S: “Pas ngobrol ngalor-ngidul gitu si Rama ngeluarin kartu UNO, ngajakin kita2 semua main. Awalnya sih biasa, kita main UNO biasa, nah gw ama Marsha menang terus nih. Pas itu si Denny bilang gini” (sent 09.14pm)

S: “Gak seru nih kalau nggak ada taruhan” (sent 09.14pm)

S: “Gw ama Marsha gak mau lah, orang kita lagi nggak ada duit, terus si Martin juga katanya baru ngebengkelin mobilnya, jadi dia nggak mau kalau pake duit. Si Rama ngusul, yang kalah kudu buka baju terus ngelakuin apa aja yang disuruh ama yang menang. Ya udah, kita kan menang terus ya, setuju lah” (sent 09.16pm)

S: (Video 001 sent)

S: (Video 002 sent)

S: (Video 003 sent)

S: (Video 004 sent)

S: (Video 005 sent)

S: (Video 006 sent)

S: (Voice Record 001 sent)

S: “Dah, pokoknya lo entar nonton aja itu video ya, lengkapnya ntar kalau kita ketemu aja yak. Jangan lupa, lo masih utang ke gw, pokoknya gw mau nguras pejuh lo ampe tinggal angin doang hahahaha” (sent 09.22pm)

S: “Gw balik dulu ya, si Marsha udah ngajakin balik nih. Bye” (sent 09.25pm)

S: “NB. Beliin gw kuota napa? Gede nih kepake buat ngirim ke lo” *emotikon melet* (sent 09.26pm)

Jantungku berdetak lebih kencang. Masing2 video itu cukup besar ukurannya. Tapi dengan membulatkan tekad, aku pun membukanya:

VIDEO 001:

“Ya, si Marsha kalah! Buka, buka, buka!”

Terlihat Marsha hanya tinggal menggunakan kausnya saja. Dia tampak agak ragu2 untuk membuka kausnya. Kamera beralih sebentar menunjukkan Sherry yang sudah benar2 bugil. Sementara ketiga cowok itu paling banter hanya telanjang dada saja. Gelas2 minuman tampak sudah berjejer di situ, menunjukkan mereka sudah agak tipsy.

“Buka nih?” tanya Marsha menggoda.

Marsha kemudian berdiri dan terkejutlah aku karena dia sudah bottomless, dan jembut serta gundukan vaginanya terpampang di hadapan para cowok ini.

Saat Marsha akan membuka kausnya, Rama menghentikannya, dan langsung memutar musik nge-beat.

“Pakai musik lah, sambil nari, biar sexy”

Marsha hanya menjulurkan lidahnya, lalu dia mulai menari dengan amat hot diiringi lagu itu. Dia memainkan ujung bawah kausnya, sambil sesekali mengusap vaginanya sambil mendesah-desah. Semua cowok pun bertepuk tangan melihatnya. Lalu pelan2 baju itu ditarik ke atas hingga nangkring di atas toket, tapi Marsha berhenti sambil bergoyang dan menutup putingnya dengan tangan.

Karena Marsha bergoyang dengan kaki terbuka, sukseslah vaginanya menjadi santapan jelas bagi para cowok itu. Sherry bahkan dengan sengaja iseng mendekatkan kamera itu ke vagina Marsha, yang menanggapinya dengan humping, seolah ingin menyetubuhi kamera itu. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas bentuk jarak dekat dari vagina pacarku itu.

Sherry kemudian mundur, dan masih dengan bergoyang erotis, Marsha pun mengangkat kausnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya terlepas. Begitu kaus itu terlepas, lengkaplah sudah Marsha kini telanjang di para cowok2 ini yang langsung berteriak keras dan bertepuk tangan seolah ini sebuah pertunjukan, sementara Marsha sendiri malah tersenyum menggoda.

VIDEO 002:

“Yaaa, kalah lagi! Ayo, sekarang Marsha kudu ngelakuin apa yang gw suruh” kata si Rama

“Ih, mau disuruh apa, udah bugil gini”

Rama tersenyum, lalu dia berdiri dan membuka celananya sehingga penisnya langsung mengacung tegak.

“Lo kudu nyepongin kontie gw”

“Hah? Serius lo?”

“Iya dong. Yang kalah kan harus nurut”

Dan cowo-cowo lain terdengar bersuara sambil mendesak Marscha melakukannya karena ini sudah bagian dari perjanjian di permainan UNO ini.

Akhirnya kulihat pacarku menurut saja.

“Oke, tapi nyepong aja ya”

“Iye, tapi lo ke sininya sambil ngerangkak, jadi kayak anjing gitu” Kata Rama.

“Ih, ada2 aja deh”

“Eh, emang anjing ada yang bisa ngomong?”

“Guk!”

“Nah, gitu dong, baru bener”

Kulihat Marsha pun merangkak ke arah Rama yang berdiri dengan penis tegak teracung itu. Aku ingin sekali percaya kalau dia melakukan ini secara terpaksa, tapi senyum dan tatapan matanya yang menggoda mengisyaratkan sebaliknya.

“Guk! Guk!” begitu Marsha menggonggong manja saat berada di dekat penis Rama.

“Good girl, now sit, sit”

Marsha langsung duduk seperti seekor anjing dengan menjulurkan lidahnya. Astaga, sampai separah itukah pacarku sekarang??

“Good girl, now do you want this? Do you want this?”

Rama menampar2kan penisnya ke wajah Marsha, dan gilanya Marsha malah tampak senang diperlakukan seperti itu. Aku sendiri padahal geram melihatnya. Apa yang terjadi pada pacarku sebenarnya.

“Okay, you can have it”

Bukannya memasukkan dengan halus, Rama malah seolah menjejalkan penisnya ke mulut Marsha. Aku melihatnya seperti Marsha sedang diglonggong oleh penis Rama, sehingga terlihat pacarku agak kesulitan mengatur napas. Begitu sudah masuk semua, Rama pun menggerakkan kepala Marsha maju mundur pelan2.

“Cieee, yang udah nyepong nih yeee…” kata Sherry.

Tiba2 gambar Marsha yang sedang menyepong Rama tertutup oleh sebuah penis. Aku pun kaget melihatnya.

“Ngapain lo, Den?”

“Sher, pengen dong”

“Yeee, lo menangin lah baru bisa minta”

“Aduh, gak tahan gw, sepongin keq”

“Gak, yang menang kan Rama, yang kalah Marsha, ogah banget gw nyepongin”

“Ya udah, tit-fuck deh, please, ya”

“Aaaah, gangguin aja lo, Den, ya udah sini”

“Asyeeek, makasih, Sherry”

“Pegang deh kameranya, lo shot gw dari atas ye”

Kamera pun berpindah tangan, dan kini aku melihat Sherry dengan muka setengah ogah2an mulai menjepitkan penis Denny di antara kedua toketnya, lalu pelan2 dipijatkannya toket itu pada penis.

“Aduh, enak, Sher, toket lo mantep banget”

“Tauk ah, gak modal lo emang, dasar”

“Sher, gw juga dong, kocokin aja” kata Martin.

“Ah, tai ya lo berdua!”

Lalu video pun berakhir.

VIDEO 003:

“Oke gays, sekarang… (aah)… Jadi Marsha kalah lagi… (aah)… Sekarang Denny yang menang… (hfft)… jadi hukumannya sekarang Marsha kudu nge-titfuck kontolnya Denny… (aaah)… Ini kalian kenapa Marsha yang kalah tapi gw juga yang dikerjain deh???”

Kamera menyorot ke bawah, memperlihatkan Rama sedang menjilati vagina Sherry.

“Pemanasan, Sher, lagian daripada juga lo cenggur” kata Rama.

Kemudian sorotan dialihkan ke Marsha yang tengah berlutut dan menjepit penis Denny dengan toketnya. Karena Denny berpostur agak tinggi, maka pacarku agak dengan susah payah berusaha menyamakan tinggi penis Dennya pada toketnya. Dari situ kulihat ada yang aneh, karena ada sesuatu di selangkangan Marsha… Sebuah kemoceng!

“Den, lepas aja ya, nggak enak nih rasanya nyodok2 gitu…”

“Eh, masa anjing ngomong sih? Lagian itu kan ekor lo, mana bisa dilepas?”

Marsha terlihat agak cemberut manja, tapi tidak komplain lebih jauh.

“Ah, toket lo emang mantep banget, Sha, masih kenceng banget, gak kayak punya Sherry tadi”

“Eh, gini2 juga lo doyan kan??” protes Sherry.

“Kalau gak ada yang lain ya gw doyan, tapi kalau ada Marsha ya gw milih Marsha lah, hahahaha! Sha, sekarang gantian lo sepongin gw”

“Ih, kan hukumannya cuman titfuck”

“Eh, anjing gak ngomong”

“Grr… Guk!”

Walau terlihat tidak senang, tapi karena dilakukan dengan raut muka menggoda, sehingga membuat Marsha terlihat menggairahkan. Denny pun duduk di kursi sehingga Marsha kembali harus merangkak ke arahnya. Saat itulah kemoceng yang tertancap di selangkangannya naik ke atas, membuatnya mirip seperti ekor.

Sherry melepaskan diri dari jilatan Rama, kemudian dia menuju ke bagian belakang Marsha yang sedang mengoral penis Denny. Terlihat bahwa batang kemoceng itu, yang telah dilapisi oleh kondom, tertancap pada lubang anusnya, disorot dengan cukup dekat oleh kamera Sherry, bahkan Sherry pun memainkan kemoceng itu dengan digerakkan ke kiri dan ke kanan, berputar, hingga maju mundur.

“Guk! Guk! Guk!” Marsha melepas penis Denny menggonggong pada Sherry.

“Suka ya, Njing? Ampe ekornya goyang2 gitu” ejek Denny. Kebetulan memang Sherry menggoyang2kan kemoceng itu.

“Guuk! Humpft!”

Marsha terdiam karena Denny kembali menyodokkan penisnya ke mulut Marsha dengan kasar. Sherry pun berhenti memainkan kemoceng lalu ganti menusuk2an jarinya ke vagina Marsha. Tiap kali Sherry menusukkan jarinya, terdengar Marsha melenguh tertahan.

Pemandangan yang sangat luar biasa mengguncang birahi, dimana pacarku yang sedang menungging indah mengoral batang lelaki, sedangkan vaginanya dikerjai oleh sahabatnya. Marscha makin semangat mengoral batang Denny, saat Sherry makin intens memainkan liangnya.

“Eh! Mau ngapain lo, Bangsat!”

Sherry berteriak panik dan hapenya terjatuh. Dari situ terlihat pemandangan vagina Sherry dengan, entah penis siapa tengah menyodok2nya, berusaha untuk masuk.

“Udah ah, ginian aja masih rekam2”

Video berakhir karena dimatikan, entah oleh Sherry, atau oleh orang lain.

VIDEO 004:

Terlihat Denny sudah ambruk di lantai, entah kelelahan atau mabuk. Marsha berdiri dengan masih telanjang, dan tangannya memegangi kedua pantatnya. Kemoceng itu sudah tergeletak di sampingnya, tapi tak terlihat ada kondom yang tadi melapisi batang kemoceng itu.

“Mau ke mana lo?” tanya Sherry.

“Ke kamar mandi dulu, lagian kalian rese sih, narik kemoceng aja bisa kondomnya ketinggalan”

“Udah biarin aja, ntar ke dokter buat diambil”

“Terus diketawain ama dokternya, ogah! Mending gw ambil sendiri”

Marsha masuk ke kamar mandi, dan Rama segera mengikutinya, dengan tanpa celana sehingga penisnya terlihat bergantung setengah tegak.

“Gw bantuin ya, Sha, ngeluarinnya” kata Rama

“Gw aja deh yang bantuin… Eh, Martin, lepasin gw!” kata Sherry

“Biar Rama aja yang bantuin, kita ena2 aja lah, lagian gw udah ngincer lo dari dulu, pengen ngentot ama lo”

“Gila lo ya, dasar!”

“Eh, kan gw menang, lo kalah, hukumannya ya lo ngentot ama gw, adil kan?”

Sherry terdiam, dia mengarahkan kameranya ke arah pintu kamar mandi. Marsha ada di ambang pintu, bersama dengan Rama. Mereka tampak berbisik2 tentang sesuatu, entah apa, tapi kemudian Marsha mengizinkan Rama masuk, dan Rama pun melepas bajunya saat masuk, sehingga kini mereka berdua telanjang bulat di dalam kamar mandi itu.

Kamera agak bergerak ke atas dan tampaklah jam menunjukkan pukul 9 kurang, sekitar 10 menit sebelum aku menelepon Sherry.

Kamera kemudian seolah terbanting, mungkin Martin sudah ngebet mau ngentot dengan Sherry.

“Gw bakal puasin lo habis2an”

“Halah, omong doang, buktiin lah!”

“Awas lo ya”

Video berakhir.

VIDEO 005

Kali ini muncul wajah Sherry, mengambil gambar seperti selfie dari jarak dekat. Wajah Sherry tampak menunjukkan raut muka bete. Dia kemudian berbicara, tapi agak lirih.

“Bete gw, Bil”

Sherry mengalihkan kamera ke arah Martin yang sudah tertidur pulas dengan penis tergeletak dan ada bekas2 sperma yang menetes. Lalu dia menyorot jam yang menunjukkan pukul 9 lebih 5 menit (satu menit setelah pesannya ke aku).

“Ngomongnya doang gede, pengen muasin gw abis2an, baru berapa kali goyang udah memble, keluar, terus langsung molor”

Dia menunjukkan penis Martin yang sudah lemas dan dipegangnya untuk menunjukkan ukurannya.

“Nih, kontinya aja cuman segini, jauh lah ama punya Thomas, apalagi punya elo, Bil. Jadi gw nggak mau tahu ya, pokoknya besok lo kudu puasin gw pas pulang. Oke?”

Kamera lalu mengarah ke kamar mandi yang pintunya masih tertutup.

“Belum pada keluar tuh berdua dari tadi”

Sayup2 aku bisa mendengar suara dari balik pintu itu, lenguhan, teriakan, dan desahan Marsha. Tak terlalu kencang tapi jelas, membuat pikiranku melayang ke mana2.

“Tauk deh mereka ngapain di dalem gt, ngambil kondom aja lama banget. Ngambilnya nggak pakai jari kali, tapi pake kontol. Hihihihihi”

Tiba2, Sherry meletakkan kameranya disangga oleh sesuatu di meja, entah apa. Kedua cowok yang ada di sana sudah teler berat dan tampaknya tak akan terbangun apa pun yang terjadi. Kini kamera menghadap ke Sherry yang duduk di sofa sambil mengangkangkan kakinya hingga terlihatlah vaginanya yang merekah.

Tanpa bicara apa2, Sherry pun langsung mengocok vaginanya sendiri dengan tangan kiri sementara tangan kanannya meremas2 toketnya yang montok itu. Dia membuat ekspresi mesum dengan menggigit bibir bawah atau memainkan lidahnya, dan semua dilakukan tanpa suara, hanya mengandalkan suara desahan Marsha sebagai background.

F*ck! Mau nggak mau aku pun terangsang juga, dan mulai mengeluarkan penisku. Entah ini karena Sherry atau karena desahan Marsha, atau bayangan bahwa tak jauh dari sana Marsha tengah bercinta dengan lelaki lain, aku tak peduli.

Aku mengocok penisku dengan keras sambil menonton aksi Sherry, dan membayangkan Marsha yang disetubuhi, lalu terbayang juga rasa toket mungil Putri yang tadi kugerayangi, semua bercampur jadi satu.

CROT! CROT! CROT!

Spermaku tumpah di saat bersamaan dengan Sherry melenguh keras saat mendapatkan orgasmenya! Dia lalu menunjukkan lendir yang keluar dari vaginanya, yang seperti tali transparan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Sementara itu vaginanya juga tampak mengeluarkan semacam cairan putih kental. Setelah memberi senyum manis dan ciuman jauh kepadaku (mungkin juga dia mengirim video ini juga pada Thomas), kamera pun dimatikan.

VIDEO 006:

Kamera dibuka dengan pintu kamar mandi yang (akhirnya) dibuka, dan dari sana Marsha keluar, masih dalam keadaan telanjang. Dia memegang pantatnya, sepertinya agak kesakitan. Sherry kembali menyorot jam yang menunjukkan pukul setengah 10 kurang 10 menit.

“Keluar juga lo akhirnya. Gimana, bisa lo tarik keluar lagi?”

“Udah, tapi susah banget, ampe jarinya si Rama ngorek2 ke bool gw. Sakit nih”

“Jarinya si Rama, apa kontolnya si Rama?”

“Ah, apaan sih” Marsha menepuk Sherry.

Marsha kemudian mengambil bajunya di lantai. Saat membungkuk itu, Sherry iseng menyorot agak dekat dan tampaklah sisa2 cairan putih kental pada vaginanya yang agak merekah, sementara anusnya sendiri tak begitu terlihat karena tertutup bongkahan pantatnya yang semok.

“Ada pesan dari Billy gak ya?” tanya Marsha sambil memakai bajunya.

“Mana gw tahu, btw masih inget ama dia lo?”

“Ya iyalah, dia kan pacar gw. Mana dia penelitian sering banget balik malam, kan? Jauh gini mana gw tau dia udah makan apa belum, sehat apa nggak, jadi khawatir kan gw. Kalau deket mah bisa gw samperin liatin keadaannya”

“Ciee… Masih perhatian ya, lo ama dia”

“Iyalah, lo pikir?”

“Kalau perhatian koq ngentot ama cwo lain?”

Marsha hanya tersenyum sambil meletakkan telunjuknya di bibir.

“Eh, Sher, balik yuk”

“Sekarang?”

“Iya lah, sekarang, mau kapan lagi?”

“Gak mau satu ronde lagi?”

“Ogah, capek gw dari tadi ngelayanin mereka, mana gw kalah mulu pula, mending kalau maennya enak kayak Billy apa cowo lo” katanya memeletkan lidah.

“Najis lu. Eh tapi gak pamit ama si Rama?”

“Gak usah, yuk langsung pulang aja”

Video berakhir.

Aku lalu termenung sejenak. Entah harus berpikir apa mengenai si Marsha ini. Pastinya sih di tengah kegilaannya ini, dia masih tetap ingat padaku, walau juga berselingkuh di belakangku, walau hanya sebatas fisik. Entahlah… Aku kemudian baru ingat, masih ada satu rekaman suara. Saat kuputar, ternyata ini percakapan antara Sherry dengan Martin.

Bersambung