Cerita Sex Pacar Binal Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Terbaru – Cerita Sex Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Pacar Binal Part 11

Sebuah Permainan

Malam itu hujan deras membanjiri Surabaya. Sudah tiga hari hujan sejak pagi sampai malam. Tapi anehnya, Surabaya tidak dilanda banjir. Itu berkat selokan yang rajin dikeruk dan pompa-pompa yang disiagakan jauh-jauh hari. Surabaya memang TOP dalam urusana menata kotanya.

Suara air hujan dan petir yang menyambar membuat suasana kostku hening mencekam. Hanya suara kodok sesekali terdengar diluar. Tapi didalam kamarku justru kebalikannya, suara ribut desahan terdengar memenuhi ruangan kamar. Udara dingin diluar, justru terbalik didalam kamar, karena aku keringatan.

Aku berada diatas kasurku dengan peluh di dahi. Tubuhku telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Dibawahku, telentang tubuh seorang gadis yang sama telanjangnya. Tubuh indah itu sedang mengeliat-liat saat aku sodok-sodok vaginanya. Tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat juga penuh keringat.

Terlihat bercak darah dikasurku, menandakan kalau gadis ini baru saja melepaskan keperawananya. Sungguh beruntung aku jadi orang pertama yang merasakan. Jepitan vaginanya sangat menggigit batangku. Aku harus mati-matian bertahan jangan sampai keluar duluan.

Dada indah itu berayun dengan indahnya seiring genjotanku di vaginanya. Toketnya memang tidak besar, tapi sangat indah proporsinal. Pas digengaman tangan. Sangat mencung sekali dadanya yang belum banyak diekspose tangan-tangan nakal. Pentilnya pun terlihat kecil dengan warna merah mudanya. Sangat sexy.

Aku sodok-sodok terus dengan semangat vagina perawan ini. Perawan kedua yang pernah aku rasakan, setelah pacarku Marscha. Selalu ada kebanggaan tersendiri menjadi yang pertama.

“Ouhhh…ohhh… AA Billy….enak….” kata gadis itu dengan menggigit sprei disebelahnya. Dia sepertinya akan orgasme.

Gila ga nyangka aku akhirnya bisa menikmatin tubuh indah Putri.

Iya, Putri, pacar Ringgo.

Rasakan kau ringgo, aku embat juga pacarmu. Darah perawan ini jadi saksi. Aku makin bernafsu mengerjain gadis polos ini. Semakin cepat aku pacu batangku yang sudah tegang maksimal.

Aku lalu ganti gaya. Aku rebahan diatas tempat tidur, dan biarkan dia mencari kenikmatannya dengan posisi WOT. Walau masih amatir, dia langsung bisa menaik turunkan tubuhnya mengendarai batangku. Goyangannya yang berirama membuat kedua toketnya bergerak dengan indah.

Melihat toketnya yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan pinggulnya, membuatku semakin bernafsu. Langsung aku naikkan badangku sedikit, lalu kukulum puting toket kanannya. Gadis itu pun terus mendesah. Tangannya mulai menjambak rambutku dengan kasarnya. Goyangan pinggulnya semakin dipercepat. Tubuhnya bergetar hebat Hingga akhirnya dia sampai pada orgasmenya.

“Aahhhh…. AA…aah….enakkk…” Desahnya sambil menaik turunkan tubuhnya mengendarai batangku.

3 menit kemudian : “Ouchhhhhh aku sampe A….” Teriaknya merasakan orgasme yang menjalar dari tubuhnya .

Aku juga Sudah mau keluar.

“Sama…Aku juga…… goyang terus…jangan berhenti sayang…”

Dan tiba-tiba. “Byurrrrrrr…..byurrrr……byurrr….”

Terpaan air yang cukup banyak mengenai wajahku, membuat fantasy yang sedang aku alamin di alam mimpi menjadi sirna. Begitu pun tubuh telanjang putri yang tadi mengedarai batangku hilang tiba-tiba.

Aku langsung terkaget hingga terbangun sampai melompat dari kasur. Wajahku sudah basah akibat disiram air. Dengan terpaksa aku buka mataku. Sial ternyata benaran cuma mimpi.

Hujan deras ternyata membuat atap kostku bocor. Atap jebol seluas 30 Cm, dan air membanjiri kamarku. Sial. Padahal sudah mahal-mahal bayarnya. Dan lebih sial lagi aku ga jadi ngentot dengan Putri.

Aku lap wajahku dengan kaos yang sudah basah, lalu beberes seadanya, sambil mencari penjaga kost yang ternyata sudah tidur. Terpaksa besok ini diperbaiki. Bagaimana aku tidur malam ini?

Tanpa pikir panjang, aku lalu ketok kamar sebelah. TOK…TOK…TOK.

“Put..Putri…masih bangun? Kamarku bocor ini”.

Tak berapa lama sesosok gadis cantk nan polos membukakan pintu. Dia mempersilahkan aku masuk saat aku jelaskan kondisi kamarku.

“Duduk A’….” katanya. Aku lalu duduk dikarpet tebal yang ada didekat tempat tidurnya. Aku perhatikan Putri sudah pakai pakain tidur dari bahan sutera. Sekilas terlihat gundukan dadanya menonjol, dan putingnya yang samar-samar terihat. Apakah dia tidak pakai BRA?

Akhirnya setelah ngobrol kurang lebih 15 menit, aku dipersilahkan Putri tidur di dalam kamarnya. Dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka sedikit, untuk menghindari fitnah. Dia kasih aku sebuah bantal, dan aku tidur dikarpet tebal dibawah, sedangkan dia tidur diatas tempat tidur.

***

WA dari Shery

Putri langsung tertidur lelap, sedangkan aku susah memejamkan mata. Sesekali aku lirik tubuh gadis yang sekarang memunggungiku. Pakain tidur sutera itu membentuk tubuhnya dari belakang, sehingga pantatnya cukup menonjol terlihat. Putri memang perempuan sexy, dan cukup berkelas. Anak orang kaya.

Untuk menjemput kantuk, aku lalu buka HP yang ternyata sudah ada beberapa pesan sejak 3 jam lalu. Pertama dari pacarku, tapi hanya basa basi tanya kabar dsb. Pacarku bilang besok mereka sudah balik ke bandung dari liburan di Lombok.

Kemudian aku buka wa dari Sherry. Aku pun teringat kalau aku bertaruh dengan Sherry.

“Bayar lo” Sherry tiba2 mengirim pesan.

“Mana buktinya”

Langsung saja Sherry membombardirku dengan beberapa foto, diambil langsung dari hape Sherry. Aku tertegun, karena ada adegan di mana mereka berada di sebuah pantai yang amat sepi, dan awalnya Marsha masih memakai bikini yang pertama dia perlihatkan kepadaku. Namun pada beberapa foto2, bikininya kemudian berganti dengan slingshot monokini mirip punya Sherry, hanya saja warnanya berbeda.

Yang paling membuatku terkejut adalah ada foto kelima cewe ini, semua berpose namun dalam keadaan telanjang di dalam air yang berwarna hijau zamrud. Semua menutupi dada mereka dengan tangan sementara bagian bawah tubuh mereka membayang di balik air.

Dalam beberapa foto juga diperlihatkan masing2 anggota geng ini berlarian, juga telanjang, entah bermain di air, pasir, atau saat berada di pantai. Ini adalah pertama kalinya aku melihat kelima sekawan ini tanpa sehelai benang pun.

“Heh, jangan coli lo, baru pertama kan lo liat body telanjang kita2? Mahal lho ini foto, gw jualin ke sugar daddy bisa dapet Ferrari gw”

“Faaakkk! Kampret lo, Sher”

“Inget ya kesepakatan kita. Dan lo jangan coba2 coli, gw mau meres sperma lo sampai tetes terakhir”

“Oke, deal is a deal. Btw, ini koq ada foto kalian berlima, trs yang ambil foto siapa?”

“Ntar gw ceritain kalau ketemu”

“Ish, kenapa gak sekarang aja?”

“Capek gw, you think? Lagian kan gw menang taruhan, udah lah, besok aja pas ketemu biar puas. Be a good boy, ok?”

“Ya udah, iya”

“Dan jangan coba2 coli, ok? I would know”

Tarik ulur Sherry membuatku kesal juga. Kalau aku di sana saat itu juga pasti udah kugenjot dia di depan teman2nya, bodo amat Marsha liatin. Aku kesal, tapi juga horny, gimana tuh? Dan hanya berjarak 2-3 meter disana, ada sesosok gadis manis yang sedang tertidur dengan sexynya. Pelan2 si junior ini mulai tegak membuat tenda di celana. Untuk menghalau ke-horny-an, aku pun memejamkan mata, berusaha untuk tertidur.

***

Pagi Harinya.

Paginya aku kebangun saat Putri mengajak sarapan. Dia masak mie instan untuk kami makan. Sambil makan kami cerita-cerita sebentar.

“Put, aku mau tanya ini. Kalau pacar kamu selingkuh bagaimana?”

“Aa’ kok tanya begitu?”

“Ya tanya saja. “

“Kalau pacar Putri selingkuh, Ya pasti aku putusinlah”.

“Ga nyesal?”

“Nggak. Lagian aku juga belum diapa-apain sama dia?”

“Maksudnya? Kamu masih perawan?”

Putri hanya tersenyum dengan lebar.

Tunggu waktunya Put, kau akan rasakan nikmat dunia.

***

Ketemu Pembimbing

Sehabis sarapan, aku pindah kekamarku, sedangkan Putri mandi dan bersiap pergi. Aku memutuskan masuk siang saja untuk penelitianku hari ini, sambil menunggu atap kamar diperbaiki. Tapi memang apes nasibku, aku ga tahu kalau dosen pembimbingku ternyata datang pagi ini ke Surabaya. Dan dia marah karena tahu aku masuk siang.

“Dari mana saja kau?” Katanya membentakku saat aku sampai.

Aku diam saja, karena ga ada gunanya menjawab. Dia pasti ga percaya. Aku hanya memberikan dokumen laporan penelitan yang sudah aku print sebelumnya (yang mana laporan penelitian ini adalah proyek konsultan dia).

Dia membuka-buka halamannya.

“Mau sampai kapan ini selesai kau buat?”

“Segera pak”

“Kau ga serius mau wisuda”

“Serius pak”

“Kalau serius, kenapa baru sampai ini progresnya?”

Dalam hari aku mpet banget sama ini orang. Padahal pekerjaan ini butuh minimal 3 orang tenaga ahli. Ini aku yang kerjakan sendiri. Dia dapat duit dari proyek, dan aku dimanfaatkan untuk mengerjakan dengan free alias tanpa dibayar.

“Btw, pacar kau si Marsha gpp kelamaan kau tinggal?” Tiba-tiba dia membuyarkan lamunanku. Apa pula ini orang tanya-tanya pacarku.

“Memang kenapa pak?”

“Kulihat dia sering kali jalan sama cowo lain. Beda-beda terus. Bukan hanya teman sekelasnya”

DHEG!

Ternyata dosenku ini memerhatikan pacarku juga. Ya wajar sih. Pacarku cantik dan bepenampilan sexy, pasti perhatian buat para lelaki, termasuk si tua bangka dosenku ini. Kalau ga perhatian, pasti fix gay.

“Kau jaga baik-baik pacar kau itu”

“Iya pak….”

“Dia pasti rindu samamu….makanya dia mungkin jalan sama cowo lain untuk pelampiasan. Hahahahah….”

BABI!

Sok akrab ini orang. Garing pula. Tadi saja sok marah.

“Gini saja. Aku mau pulang ke bandung malam ini juga setelah presentasi nanti terkait pekerjaan ini. Kau malam ini lembur bereskan laporan peneltian. Kau email ke pacarmu, suruh dia print dan antar keruangaku besok sore. Paham kau?”

“Kenapa ga saya email saja dulu pak? Biar bapak bisa baca-baca mana tahu ada koreksi”

“Aku ga sempat baca email. Dan ga suka baca di komputer. Aku sukanya baca hardcopy. Jadi kau suruh diantar pacarku itu. Paham?”

Aku gerem sama ini orang.

“Biar langsung bisa kau daftar sidang. Bulan ini ada pendaftaran buat sidang untuk wisuda selanjutnya”

“Baiklah pak”

Mendengar kata sidang, aku menurut saja sama dia ini. Walau rada khawatir juga kenapa harus pacarku yang antar. Keruanganya pula.

“Bagus” Katanya tersenyum senang.

***

Jalan Bareng Putri

Semenjak Putri masuk ke dalam kosanku di Surabaya, kami pun saling mengenal, dan untuk sejenak aku bisa melupakan kelakuan Marsha jauh di sana, walau tetap saja aku monitor. Kebetulan sekali, Putri tempat penelitiannya tak jauh dari tempatku, sehingga kami berangkat dan pulang bersama supaya lebih hemat.

Karena aku cowo, maka aku mengalah jalan ke tempat dia untuk menjemput, kebetulan aku selalu pulang terlebih dahulu daripada Putri. Contohnya seperti saat ini, aku sudah terlebih dahulu menunggu Putri keluar dari lokasinya.

“Halo, Aa Kasep, lama nungguin Putri yah?” Putri tiba2 saja mengagetkanku.

Dengan baju kemeja warna putih dan rok hitam selutut disertai stoking sewarna kulit, entah kenapa Putri terlihat jauh lebih manis, apalagi bila dikombinasikan dengan rambutnya yang diikat dengan pita hitam.

“Baru aja Aa dateng, Put, ini baru mau ngasih tahu”

“Ya udah, tapi Putri agak bete nih tadi di lokasi, bosen banget gitu”

“Mau jalan, Put? Nonton gitu, mumpung belum terlalu malem”

“Umm… Nonton, A’?”

“Iya, ada film Frozen 2 kan baru main, kalau pas hari kerja gini pasti gak terlalu rame, Put, apalagi malem”

“Gimana ya…”

Putri terlihat agak ragu.

“Udahlah, kita nonton aja, sama Aa juga, lagian Aa juga bosen banget tadi di kerjaan. Yuk, ya?”

“Hmm,… iya deh, yuk, itung2 represing”

“Nah, gitu dong, ntar Aa bayarin tiketnya, kamu tenang aja”

“Ih, Aa Kasep baik banget deh ama Putri, jadi makin suka”

“Kalau suka cium dong” aku menunjuk pipiku.

“Ih, Aa Kasep ganjen”

Putri mencubit lenganku keras sehingga terasa amat sakit, tapi pada saat aku tengah kesakitan itu, tiba2 dia mengecup ringan pipiku. Aku tercengang sejenak, tak tahu harus berbuat apa…

“Tuh udah ya, jangan minta macem2 lagi. Yuk ah, buruan”

Seketika itu rasa sakit di lenganku tak lagi terasa. Aku pun mengikuti Putri, dan kami pergi ke bioskop sebuah mall besar di Surabaya. Kami memang sengaja mengambil yang jam terdekat karena tidak ingin pulang kemalaman. Filmnya sendiri sih biasa, Frozen gitu lho, buat segala umur.

Cuman karena hari kerja, jadi bioskopnya tidak terlalu rame, dan selamatlah aku dari anak2 kecil yang sering berteriak2 atau ribut sendiri di dalam bioskop hehehe.

Nah, waktu ada bagian yang sedihnya, kulihat Putri agak serius sampai nangis. Hmm, ini anak beneran perasa, ampe film kartun gini aja nangis. Entah bagaimana tiba2 aku memberanikan diri mengulurkan tangan dan merangkul Putri. Dia tak menolak, malahan menyandarkan kepalanya pada pundakku. Jadilah hingga film berakhir, kami cuddling sendiri di bioskop.

Bukan bermaksud mengecewakan penonton, tapi memang selain cuddling di bioskop, tidak ada hal lain lagi yang istimewa terjadi. Selama nonton itu pure aku cuman ngerangkul Putri, dan paling tangannya Putri memegang tanganku, itu saja.

Aku belum mau mengambil kesempatan lebih jauh. Karena Putri nggak mau pulangnya kemaleman (besok kami masih harus masuk, coy, bisa teler kalau main2 dulu), maka kami memutuskan langsung pulang ke kosan, dan soal makan malam biar kami pesan delivery fast food 24 jam saja.

“A’ biar Putri aja yang pesen ya”

“Oke, nanti kasih tahu aja Aa kudu bayar berapa”

“Eh, nggak usah, biar Putri aja yang bayarin makanan, kan tadi Aa udah beliin tiket bioskop”

“Beneran nih? Jadi nggak enak lho, Aa”

“Iya, bener, Aa-nya Putri yang kasep, udah ntar Aa tinggal nunggu aja datang makanannya. Tapi Putri mesennya abis mandi ya, gak papa, kan?”

“Gak apa2, Aa juga mau mandi dulu”

“Okay, A’, ayo kita mandi”

“Bareng gitu, maksudnya?”

“Iih, Aa sih maunya gitu…”

“Jangan ge-er dulu, Put. Maksudnya, Aa mandi di kamar mandi Aa, kamu di kamar mandimu, kan bareng jadinya, cuman beda tempat hehehe”

“Iiiih, Aa nih, sukanya godain Putri mulu”

“Habisnya kamu manis sih, jadi pengennya ngegodain mulu”

“Gombal ah, Aa”

Pipi Putri pun memerah.

“Tapi emang mau Put kalau Aa ajakin mandi bareng?” godaku.

“Tau ah!”

Putri langsung masuk ke kamarnya, tapi sebelum menutup pintu, dia memeletkan lidahnya padaku. Hmm, kayaknya ini anak lama2 mulai mendekat nih. Tapi lumayan sih, ada dia aku jadi nggak gitu kepikiran ama Marsha di sana.

Oh iya, Marsha, jadi kelupaan. Tadi siang sih Marsha bilang mau kerja kelompok lagi, kali ini ama Sherry. Hal ini udah dikonfirmasi juga sama Sherry, cuman Sherry juga bilang kalau kerja kelompok kali ini berlima, ada 2 cewek dan 3 cowok. Pas aku tanyain lagi, nggak ada si Rendy atau si Ringgo di sana, karena mereka ngikut ke kelompok lain. Hmm, tumben sekali.

Setelah cepat2 mandi, aku segera membuka hapeku untuk melihat pesan. Selain dari Marsha memberitahukan bahwa akan berangkat mengerjakan tugas, belum ada pesan lagi darinya yang muncul, selain:

M: “Ayank, tugasnya masih banyak nih, aku balik agak maleman kayaknya” (sent 6:08pm)

Pesan paling banyak justru muncul dari Sherry.

S: “Oi, udah mau mulai ngerjain tugas nih kita” (sent 3:12pm)

S: “Ceweknya gw ama Marsha, cowoknya Rama, Denny, ama Martin” (sent 3:12pm)

S: “Halo? Lo di sono?” (sent 4:29pm)

S: “P” (sent 4:29pm)

S: “P” (sent 4:30pm)

S: “P” (sent 4:31pm)

S: “Lagi apaan sih lo, gak online gak jawab?” (sent 5:07pm)

S: “Yawda, gw kabarin aja yak, ntar lo liat sendiri” (sent 5:43pm)

S: “Ngerjain tugasnya sih dari jam 3 ampe jam 5 doang udah kelar, cuman lagi pada maen ini” (sent 5:52pm)

S: “Maen kartu, UNO, biasa, cuman ini kayaknya mulai agak hot deh xixixixi” (sent 5:54pm)

Penekanan pada kata “hot” itu membuatku curiga tiba2. Apa lagi setelah itu tidak ada lagi pesan baik dari Sherry atau Marsha. Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam. Kukirim pesan pada Sherry, tapi hanya centang dua kelabu saja.

Agak mengambil risiko, aku pun meneleponnya. Sekali, dua kali, tidak diangkat. Yang ketiga diangkat tapi langsung ditutup. Eh, malah Sherry yang ganti menelepon, kali ini memakai video call. Langsung saja kuangkat, dan…

“Eh, masih idup lo… ah, ah,… dari tadi gw WA gak dijawab2??”

Masalahnya adalah si Sherry kali ini telepon dalam posisi topless, dan dari tubuhnya yang bergoyang2, sepertinya dia sedang digenjot oleh orang lain.

“Kampret lo!! Lo lagi ngentot ya???”

“Napa? Pengen lo… ke sini aja”

“Tai lo! Nelpon gw pas ngentot”

“Lo lama dari tadi gw Wa… Memek gw keburu gatel duluan…(duh, pelan2 dulu, Say, aku lagi ngomong nih) (Siapa sih, Say, nggangguin banget?) (Temennya pacar aku, suka ngentotin aku juga dianya) (Wah, kamu emang lonte ya, temen pacar sendiri dientotin) (Basi ah, bentar deh, ya, pelan2 dulu)… So, lo ngapain telpon gw, Bil?”

“Maksud lo hot apaan?”

“Oh, itu… aah,… Ntar aja deh ya, gw kirimin ke lo, nanggung nih, apa kalau nggak ntar aja deh… kalau gw udah balik…”

“Heh, jadi lo belum balik rumah??”

“Beluuuuuuummmmm…. Bawel ah, gw mau nerusin ngentot dulu, bye!”

“Sher?? Halo???”

Sherry menutup teleponnya, membuatku semakin penasaran dan frustrasi. Apa yang terjadi pada Marsha kalau Sherry saja belum pulang?? Bukankah Marsha selalu nebeng dengan Sherry?? Apa jangan2…

Aku pun sejenak tergoda untuk menelepon pacarku juga, namun sebelum sempat kulakukan, Putri sudah memanggilku, mengatakan bahwa makanannya sudah datang. Ya sudahlah, aku akhirnya hanya mengirim WA kepada Marsha, menanyakan tugasnya sudah selesai atau belum, dan sudah balik atau belum, namun hanya centang dua kelabu. Daripada galau, aku pun meninggalkan hape di kamar, sekalian di-charge, lalu menghampiri Putri.

“Nih, buat Aa-nya Putri yang paling kasep”

“Makasih nih, Put”

“A’, makannya bareng aja ya, di kamar Putri, temenin”

“Bener nih, boleh?”

“Boleh lah, apa sih yang nggak boleh buat Aa Kasep, tapi pintunya dibuka ya, gak enak ama tetangga”

Mana ada tetangga, orang satu lantai ini yang ngekos cuman kita berdua doang, tapi yah, setidaknya ada Putri yang bisa melipur kegalauanku.

Ternyata Putri membelikanku paket makanan yang sudah lengkap dengan minum, ditambah beberapa hidangan sampingan untuk dimakan berdua. Kalau dihitung2, ini jelas rupiahnya lebih besar daripada traktiranku menonton bioskop.

Emang sih, Putri anak orang kaya, tapi tetap saja aku merasa tidak enak, karena memang aku dari dulu selalu diajarin untuk mengayomi wanita dan tidak mengambil keuntungan dari mereka.

“Eh, dimakan atuh, A’, malah bengong” kata Putri dengan nada imutnya.

Malam ini dia memakai piyama pink bergambar Hello Kitty, dan, kalau mataku tidak salah lihat, sepertinya Putri tidak memakai beha. Namun karena dadanya kecil sehingga tidak begitu kentara.

“Ini beneran nih, buat Aa’? Koq kayaknya mahal banget, Put, lebih gedean ini daripada tiket bioskop”

“Ih, Aa’ jangan perhitungan gitu deh, kan Aa’ selama ini udah baik ama Putri, jadi anggep aja ini Putri lagi ngebales kebaikannya Aa'”

“Iya, makasih, Put, cuman kan…”

“A’, kalau kata Papa, duit ilang itu bisa dicari, tapi temen yang baik, apalagi yang kasep kayak Aa, susah buat didapetin. Pokoknya kalau ada yang baik ama Putri, ya Putri baikin lebih-lebih lagi ama dia. Jadi Aa tenang aja ya, Aa’ jangan itung2an duit lagi kalau ama Putri, soalnya Aa udah Putri anggep jadi kayak kakak Putri sendiri”

Aku mengangguk2.

“Dianggap jadi kakak aja nih?”

“Iya, emangnya maunya dianggep apa?”

“Ya, kali apa gitu…”

Putri hanya tertawa, tampaknya dia paham maksudku.

“Ih, Aa nih becanda mulu. Kan Aa udah ada Teh Marsha, kalau Putri juga udah ada A’ Ringgo, kecuali kalau kita sama2 single, ya Putri juga mau kali ama Aa”

“Oo, makanya tadi Putri cium pipi Aa ya?”

“Aaaa… Jangan dibahas ah, A, Putri malu tau”

Aku hanya tertawa melihat pipinya merona merah. Kami kemudian meneruskan makan, sembari aku sesekali memperhatikannya. Dia tampaknya senyum2 sendiri.

“Eh, A’, Putri mau nanya deh”

“Nanya apa, Put?”

“Tadi Aa bilang ke pacar Aa gak kalau kita nonton?”

“Enggak”

“Koq enggak?”

“Ya enggak aja, emangnya kenapa, Put?”

“Ya Putri ngerasa bingung aja, kudu bilang ke A’ Ringgo gak ya, kalau Putri tadi nonton ama A’ Billy”

“Ya itu terserah kamu, Put”

Putri terdiam sejenak.

“Emang Aa kenapa gak bilang ke Teh Marsha?”

“Ya nggak papa, cuman Aa nggak mau Teh Marsha sedih”

“Koq sedih?”

“Ya, kan kita nggak ngapa2in, Put, kalau misal Aa bilang ke Teh Marsha, pasti dia gak bakal percaya, terus berantem, akhirnya jadi sedih deh, padahal kan sebenernya nggak ada apa2”

“Iya juga ya”

“Tapi ya terserah kamu aja, Put, ini sih cuman pemikiran Aa pribadi”

“Kalau gitu Putri juga nggak bakal bilang ke A’ Ringgo, ah, lagian juga Putri selama ini nggak bilang2 ke A’ Ringgo juga kalau jalan ama Aa”

“Koq gitu?”

“Ya sebagian sama sih kayak alesannya Aa soal Teh Marsha, sebagian lagi kayaknya A’ Ringgo nggak tertarik deh pengen tahu Putri lagi ngapain di sini”

“Emang gimana?”

“Ya paling kalau telpon malem, terus dia paling cuman nanyain kabar aja, tapi nggak pernah nanya Putri lagi ngapain aja. Kayak cuman nunggu Putri cerita aja gitu. Kalau misal Putri nanyain dia habis ngapain aja ya cuman dijawab pendek2, abis itu dia ngomongin soal yang lain”

“Ih, bisa gitu ya. Aa nih ya, kalau punya cewe secantik kamu, pasti Aa bakal selalu ngasih perhatian, nanyain ngapain aja, udah makan apa belum, ama kasih ucapan sayang setiap hari, terus…”

Aku berhenti, karena Putri tiba2 melihatku dengan amat serius.

“Kenapa, Put?”

“Beneran, A’, kalau Putri cantik?”

“Ya, di mata Aa, jujur Putri emang cantik”

“Cantik mana kalau ama Teh Marsha”

“Sama2 cantiknya, kalian itu punya kecantikan masing2, nggak bisa dibanding2in”

Putri mengangguk dalam.

“A’, Putri boleh tanya gak?”

“Mau nanya apa, Put?”

“Sebelumnya, punten nih ya, A’, tapi Aa sama Teh Marsha udah ngapain aja?”

“Maksudnya ngapain aja?”

“Ya, selama pacaran, udah ngapain gitu?”

“Ya biasa lah, nonton, dinner, jalan2”

“Ih, bukan, maksud Putri itu… Aa udah pernah (ML) ama Teh Marsha?” dia mengatakan kata ML dengan amat lirih.

Kali ini ganti aku yang terdiam.

“Jujur nih?”

“Iya, jujur aja gak apa2, apa pun yang terjadi, Putri tetep nganggep Aa Billy itu Aa-nya Putri yang paling kasep”

“Iya, pernah lah, Put”

“Ooo” dia mengangguk2 saja.

“Maaf ya, Put”

“Ih, maaf kenapa? Itu kan privasinya A’ Billy ama Teh Marsha, dan kalian pacaran kan, jadi ya wajar lah ya kalau udah gituan”

Aku dengan cepat menangkap sebuah nada kehampaan pada jawaban Putri.

“Emangnya kalau Putri ama A’ Ringgo belum pernah?”

Putri tidak menjawab, tapi dia hanya menggeleng. Aku pun membalasnya mengangguk saja.

“Banyakan sih A’ Ringgo yang nggak minta, tapi kadang juga pas A’ Ringgo kadang minta Putri-nya yang nggak mau, abisnya sering nggak lihat2 waktu. Giliran pas ada waktu Putri mau mancing2, dia yang kayak ogah2an”

“Ah, masa sih?”

“Normal gak sih, A, kalau Putri boleh tahu?”

“Ya, gimana ya, kalau Aa’ bilang sih ada koq yang emang mau nunggu ampe nikah baru ML gitu, ya kali aja A’ Ringgo gitu”

“Iya kali ya, A’, soalnya Putri takut, A'”

“Takut kenapa?”

“Bodi-nya Putri gak menarik kali ya”

“Ah, kata siapa, bodi kamu bagus koq, Aa aja suka”

“Ah, Aa mah tukang gombal”

“Beneran, Put, sumpah demi apa pun, A’ Billy jujur. Kamu itu bodinya menarik, tambah lagi wajah kamu cantik dan imut, gila kali kalau ada cowok yang nggak tertarik ama kamu. Aa aja suka ngeliat kamu”

Deg! Putri tiba2 menatapku saat aku mengatakan itu. Astaga, apa aku tiba2 mengatakan sesuatu yang tidak berkenan padanya? Tapi Putri tidak berkata apa2, hanya saja tatapan matanya terlihat setengah nanar setengah takut2. Masa bodoh, sekarang atau tidak sama sekali. Aku pun bergerak mendekatinya.

“A, beneran aku cantik?”

“Iya, Putri Sayang, kamu cantik”

“Aa bener suka ngeliat Putri?”

“Iya, bener”

“Suka apanya?”

Aku pun menggerakkan jari telunjukku pada bagian2 wajahnya yang kusebutkan.

“Mata kamu… Hidung… Pipi… Lalu, bibir…”

Aku meletakkan telunjukku di ujung bibir Putri yang merekah merah muda, kemudian menukarnya dengan ibu jariku. Pelan2 ibu jariku mengusap bibir Putri dari kiri kembali ke kanan, dan bibir itu pun sedikit membuka. Kurasakan napas Putri terasa agak berat dan tubuhnya berdenyut, tanda detak jantungnya berpacu.

Semakin lama, wajahku pun semakin mendekat, lalu bibir kami pun akhirnya saling menempel. Kulihat Putri menarik napas panjang dan matanya agak membelalak saat bibir kami menyatu. Karena khawatir Putri marah, aku pun segera melepas ciumanku, tapi tangan Putri dengan cepat menahanku.

Kedua tangan Putri langsung memegang pelipisku, kemudian dia yang justru maju lalu menciumku dengan panas. Kuselipkan lidahnya ke dalam mulutnya, dan tampaknya dia masih agak kaku dalam melakukannya. Sepertinya Ringgo beneran jarang sekali “menyentuh” pacarnya sendiri, tapi malah gerayangan menyentuh pacar orang lain. Mengingat itu, birahiku tiba2 naik, dan aku pun menciumnya dengan penuh gairah.

Kami melepas ciuman sebentar, dan Putri menatap mataku dengan pandangan nanar serta penuh birahi, seolah ini ciuman pertama yang terjadi di dalam hidupnya. Aku lalu menatap ke dada mungilnya yang masih tertutup piyama.

“Put, Aa boleh nggak pegang dadanya”

“Dada Putri kan kecil, A, emang nggak papa?”

“Buat Aa dada kamu indah, Put, boleh ya?”

Putri mengangguk, tapi memberi syarat dia tidak mau pakaiannya dibuka. Aku segera saja meremas dadanya dari balik piyamanya yang tipis, dan bisa kurasakan putingnya mengeras walau dari balik kain ini. Benar, dia tidak memakai pakaian dalam sama sekali. Pasti dadanya bagus.

Dia melenguh saat kumainkan putingnya, lalu dengan ganas kembali menciumku, seolah tak mau melepaskan bibirku, sambil tangannya menahan tanganku supaya tetap memainkan putingnya. Hingga…

Hape Putri pun berbunyi, dan kami sontak langsung mundur, memisahkan diri. Kulihat ada nama Ringgo di sana, sedang berusaha membuat panggilan video. Kami berdua pun mulai merasa agak canggung.

“A’ Ringgo telepon, A…”

“Ya udah, Aa balik ke kamar, ya, kamu angkat gih”

“I-Iya, A”

Aku mengambil makananku lalu kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, aku pun langsung menarik napas. Apa yang terjadi tadi? Sayup2 kudengar Putri sedang mengobrol dengan Ringgo lewat video call, tapi tampaknya Putri benar2 tak menyebutkan soal aku atau soal nonton bersamaku. Entah kenapa aku merasa ada sedikit rasa cemburu saat Putri berbicara dengan Ringgo.

***

Bersambung