Cerita Sex Pacar Binal Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 11

Forum IGO

“Mantap…hu…”

“Mau nyipin dong…”

“Beruntung banget…”

“Dianal ga?”

Aku baca lagi komen-komen di forum itu. Makin aku baca makin aku stress. Makin aku baca makin aku horny juga. Setelah aku refresh, ternyata ada komen2 baru yang masuk. Dan yang membuat mataku terbelalak dan jantungku berhenti adalah saat aku baca komen dari fotografer itu:

“Gue mau milih salahsatu dari kalian untuk partner. Soalnya gue sudah speak dia untuk mau difoto orang lain sementara gw yang ngentotin dia. Syaratnya punya basic skill fotografi”

“Yang minat PM ya dengan contoh foto yang pernah diambil…”

ANJISSSSS…..

Yang aku takutkan akhirnya muncul juga. Di 30 page selanjutnya (sudah berbeda hari), Fotografer sialan ini beneran ajak salah satu anggota forum ikutan. Ini terbukti dari hasil foto-foto yang dari jarak jauh (sebelumnya foto-foto jarak dekat). BANGSAT!!!!!

Aku emosi sekali. Sudah dikentotin pacarku sebelumnya, malah sekarang ajak orang lain juga. Kurasakan atap kost ku seperti rubuh. Tapi aku penasaran untuk membuka page selanjutnya. Dengan menahan nafas aku akhirnya buka page yang ada foto2 pacarku.

Foto 1: Fotografer yang wajahnya diblur (dikasih emotion smile) duduk diatas sebuah ranjang dengan celana sudah terbuka. Pacarku berlutut diatas lantai, sambil mengoral batangnya yang sudah tegang. Aku tak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup rambut (sepertinya pacarku masih malu-malu menghadap kamera). Caption fotonya: sepongannya mantap hu.

Hatiku hancur berkeping-keping menyaksikannya. Tapi otongku mulai bangun.

Banyak sekali yang komen. Aku buka-buka lagi page selanjutnya.

Foto 2 : Gadis itu telentang diatas tempat tidur. Masih pakai bra tapi CD nya sudah lepas. Pahanya mengankang lebar. Dan fotografer itu sedang mengoral memek pacarku. Tak terlihat ekpresinya karena wajahnya diblur. Tapi pasti sangat menikmati dioral begitu. Caption foto : Gurih.

Aku bisa bayangkan nikmatinya vagina pacarku yang fresh itu. Dan aku bisa tahu kalau pacarku saat itu pasti mendesah-desah kencang sambil menggerakkan kepala kekiri dan kekanan.

Aku kemudian buka page selanjutnya. Komen2 tak aku baca, fokus ke pencarian foto. Hingga akhirnya:

Foto 3: Fotografer itu duduk diatas kursi disudut kamar hotel (sudah telanjang bulat). Pacarku naik keatas penisnya yang sudah tegang maksimal. Sudut foto diambil dari belakang-bawah pacarku, sehingga kelihatan jelas bulatan pantat sampai lubang anus pacarku, dan batang fotografer itu masuk sepenuhnya kedalam vagina pacarku. Caption foto : Posisi Favorit Model saat dikontolin.

Posisi favoritnya doggy style ******. Makiku dalam hati.

Batangku makin keras. Aku sampai buka celana membiarkannya bebas.

Lagi asyik-asyiknya memantau TS fotografer itu, pintu kamarku diketok dari luar: “A……AA Billy…..” Anjis, itu ternyata si Putri. Ngapain dia cari aku. Aku diamkan saja ketokan pintunya. Ga mungkin aku buka dengan kondisi kontol tegang begini.

“A’ Putri bisa minta air minum ga. Belum beli aqua galon ini…”

Akankah aku buka? Mumpung aku horny, aku bisa perkosa saja gadis ini. Hitung-hitung balas dendam.

“A’ lagi tidur ya?”

Aku urungkan niatku memperkosanya. Aku akan cari cara bisa ngentotin pacar si ringgo kampret ini. Maka aku diam saja pura-pura tidur. Hingga akhirnya Putri pergi.

Aku kemundian melanjutkan browsingku. Sampai akhirnya terdapat beberapa foto yang buatku emosi se-semosi-emosinya.

Foto 4 : Fotografer itu menggenjot pacarku di jendela kaca. Pacarku setengah berdiri membelakangi. Toketnya yang ranum menempel di kaca.

Foto 5 : Adegan dikamar mandi. Fotografer itu menggenjot pacarku di atas bathup yang banyak busanya.

Ini adegen sesi foto pasti membuat berontak kontol fotografer yang sekarang ambil foto. Disugukan pemandagan live begini. Aku saja yang hanya lihat foto sudah tegang maksimal. Sampai akhirnya aku lihat Foto terakhir, yaitu sebuat kolase foto dengan caption : Bonus buat fotografer pendukung.

Pacarku yang lagi menungging diatas tempat tidur sambil mengoral temannya fotografer yang duduk bersandar didepannya. Kemudian foto kontol dengan sperma belepotan diwajah pacarku.

Shit! Fotografer ini beneran kasih bonus. Ini pacarku bitchy amat sih. Mau-mau saja oral penis cowo yang baru dikenal. Pakai ditumpahin di wajah segala.

Ternyata itu bukan foto terkhir. Foto penutup adalah foto dari belakang pacarku saat pacarku menungging mengoral penis teman fotografer itu. Sangat sexy karena pacarku merenggangkan lebar pahanya, sehingga vaginanya terekpose jelas dari sudut kamera. Bahkan anusnya yang perawan itu terekspose dengan sempurna karena kualitas gambar yang hirise. Caption: ingin gw kontolin lagi, sekalian threesome. Tapi masih ada waktu.

BANGSAT!!!!

Dengan bersamaan muncrat spermaku diatas tempat tidur, tanpa bisa aku halangi saking konaknya.

Tiba-tiba, setelah melihat forum IGO itu dan sudah nge-crot, aku akhirnya memutuskan balik ke bandung juga saat ini. Sekalian aku ingin memeriksa CCTV dikamarku. Sudah se-liar apa pacarku selama aku tinggal. Sekalian juga mau mengganti baterai serta memori pada CCTV-ku. Sengaja aku tak bilang pada Marsha, karena aku tak ingin mengganggu rencana wisatanya.

Aku sudah berada di atas kereta saat Marsha memberi tahu bahwa dia sudah sampai. Aku hanya membalas seperlunya, karena dia bilang akan segera ke hotel lalu jalan2. Lepas dari Marsha, giliran Sherry yang menghubungi via WA

S: “Eh, lo lagi tepar ya?”

A: “Boro2, gw lagi balik ke Bandung nih”

S: “Lah? Lo balik ke Bandung?? Tau gt gw gk ngikut”

A: “Emangnya napa?”

S: “Biar bisa ngesex seharian ama lo, kedut2 nih pantat gw, minta disodok”

A: “Ciee, doyan ya sekarang?”

S: “Gara2 lo tuh, apa lagi si Thomas kan gak doyan maen belakang. Pokoknya balik ntar lo kudu tanggung jawab! Bakal gw kurasin tuh sperma ampe gak ada lagi yang bisa lo kasih ke Marsha”

A: “Ah, sial lo, trs Marsha dapet apaan?”

S: “Dapet dari yang lain lah, emang sumber sperma lo doang?”

A: “Sial lo”

S: “Hehehe, becanda, peace”

A: “Becanda lo gak lucu, tau gak”

S: “Iye, iye, jangan marah gt napa?”

A: “Udah lah, trs gimana, di sono bener gk ada cwo-nya sama sekali?”

S: “Ya iyalah gak ada cwo, cuman kita berlima kali, cwe semua, suer deh. Tapi…”

A: “Tapi apaan?”

S: “Tapi gk tau ya kl ketemu cwo di sana. Hahahahaha!”

A: “Basiiiii!”

S: “Cieee… Marah ya? Jangan dong, ntar kalo lo marah yang mau nyumpel pantat gw siapa coba?”

A: “Bodo amat, ntar gw genjot ampe pantat lo lower, dan ntar lo kentutnya bukan pret, tapi poh”

S: “Aww… Mau dong digenjot ampe lower” *emotikon melet n kedip*

Karena aku naik kereta tengah malam. Paginya aku sudah sampai di bandung. Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di kosan naik ojol. Walaupun badan rasanya remuk luar biasa, aku tidak berencana untuk menginap. Dengan Marsha sering ke sini dan dia dekat dengan Johan, bahaya bila Johan melaporkan bahwa aku pulang tanpa memberi tahu.

Kebetulan sekali, rumah kosku sedang amat sepi. Aku tahu bahwa saat2 segini rumah kos memang bakalan sepi karena banyak yang mudik. Tadinya aku agak waswas karena Johan memang sering berada di kosan tiba2, tapi kekhawatiranku tak terbukti, karena kamar Johan tampak kosong dan terkunci rapat.

Tempat sepatu yang biasanya penuh dengan sepatunya, kini kosong. Hanya dua pasang sepatu dan sepasang sandal milik Johan yang ada di sana. Apa Johan akhirnya pulang kampung ya? Atau ikut menyusul Marscha ke Lombok?

Kubuka kamarku, dan bau yang sudah sangat familiar itu menyeruak kembali. Marsha memang beberapa kali bilang pinjam kamar ini, tapi kulihat semuanya sudah rapi seolah rutin dirapikan. Bahkan debu2 pun sudah dibersihkan, dan ini yang bikin aku agak deg2an.

Jangan2 pas Marsha membersihkan kamar, dia menemukan CCTV-ku?? Aku memeriksa tempat diletakkannya CCTV dan bernapas lega, karena kameranya masih ada di sana. Bahkan tumpukan debu yang menutupi penyamarannya pun masih ada, mungkin Marsha tak terpikir untuk membersihkan bagian ini, karena agak tersembunyi.

Dengan cepat, aku pun mengakses kamera, memindahkan semua isinya ke dalam laptopku, mengganti baterai, sekaligus memasangnya kembali. Proses paling lama, tentu saja, adalah menunggu loading saat semua data sedang dipindahkan. Berhubung resolusinya lumayan, maka jumlah datanya pun cukup besar, sehingga terpaksa aku mengorbankan game Assassin’s Creed-ku (*sedih*)

Karena kulihat keadaan masih sepi, sambil jemu menunggu, aku pun pergi ke warung yang ada di depan untuk membeli cemilan dan rokok.

“Mang, ada rokok?”

“Weh, ada Den Billy, lama nih gak kelihatan”

“Iya nih Mang, soalnya saya lagi ada penelitian di luar kota”

Mang Kosim memberiku rokok, kemudian kubuka satu dan kunyalakan sambil kuhisap pelan2. Kuperhatikan Mang Kosim menjadi agak ramah, mungkin karena akhir2 ini warungnya memang sepi.

“Mamang kira udah pada pindah, Den Billy”

“Emangnya sepi ya Mang?”

“Iya, sepi, apalagi semingguan ini”

“Mungkin lagi pada mudik Mang, kan biasanya hari2 gini emang jadwalnya anak2 mudik”

“Eh, Den Billy, Mamang mau nanya. Emangnya di tempat Dan Billy ada cewek yang ngekos ya?”

“Cewek ngekos? Nggak ada tuh, mang. Kan ini kosan cowok, Mang” aku mengira dia pasti membicarakan soal Marsha yang beberapa hari ini sering ke tempatku saat aku tidak ada. “Orangnya kayak gimana ya?”

“Itu, tinggi, putih, bodinya bagus. Dulu kalau nggak salah pernah ke sini beli minuman. Apa pacarnya Johan ya, soalnya Mamang pernah lihat dia jalan dianter ama Johan”

“Oh, nggak tahu saya” aku berbohong, karena jelas aku tahu itu Marsha.

“Gila, siapa ya itu cewek. Udah cantik, seksi lagi, bodinya bagus, apalagi susunya. Beuh”

Mang Kosim mengacungkan jempolnya, seolah berbangga. Memang biasanya Marsha kalau datang denganku selalu naik saat mobil masih di dalam tempat kos, jadi Mang Kosim tak bisa melihat bahwa dia ada di sana. Satu2nya saat Marsha naik mobil di luar adalah saat dia diantar oleh Johan waktu aku sedang bimbingan skripsi.

“Seksi emang ya, Mang?”

“Oh, seksi. Dan, jangan bilang2 ama Johan ya, tapi ceweknya dia binal banget”

“Koq bisa, Mang?”

“Jadi gini, tapi jangan bilang2 ya, kapan itu dia pernah beli minuman di sini. Dia pakai pakaian longgar, dan beuh, mamang ampe liat susunya. Putih banget, cakep”

“Oh terus?” aku berupaya tetap tenang

“Ya apalagi dia ramah, dan mau aja diajakin canda jorok ama si Asep tukang ojek itu. Serius, kalau bukan pacarnya Johan mungkin sudah Mamang lamar jadi istri ketiga, dan pasti mamang bakal entot seharian penuh hak-hak-hak! Orang duduk di dekatnya aja mamang gak kuat, ampe pengen coli”

Dadaku semakin panas mendengarnya.

“Memang becandain Jorok bagaimana mang?”

“Ya biasalah. Si Asep ga sekolah mulutnya. Awalnya muji-muji, terus bilang senang dong pacarnya punya pacar secantik dia. Asep mau jadi pacar kedua. Cewe itu bukannya marah malah tanya kalau jadi pacar kedua asep memang mau apa. Eh Si Asep bilang mau pelukan tiap hari. Terus bakalan remas-remas dan jilat susu besar cewe itu. Dan jilatin memeknya sampai banjir”.

“Wah masa tukang ojek berani ngomong begitu? Cewenya ga marah?” Tanyaku

“Iya den. Cewenya malah cekikikan sambil bilang : Wah enak dong mang. Begitu. Malah Si Asep bilang dia bisa muaskan cewe itu. Melebihi pacarnya Si Johan.“

“Terus..”

“Yang buat mamang makin heran saat si Asep bilang: sesekali rasakan kontol orang kampung dong neng. Pasti puas. Begitu.

“Terus…”

“Eh, malah si Asep kampret itu ngajakin dia pergi”

“Emang diajakin ngapain?”

“Jangan bilang2 Johan ya, tapi”

“Iyaa, Billy gak bakal bilang, Mang”

“Mamang nggak tahu sih ngapain, si Asep juga pas Mamang tanyain gak cerita jelas, tapi dia bilangnya, sedotannya mantap, ama susunya kenyel pas dikenyot. Kesel Mamang, si Asep-nya gak bagi2 mau enak2 gitu”

Aku hanya manggut2 saja.

“Tapi ada hiburannya juga sih, Den Billy mau liat gak?”

“Liat apaan, Mang?”

Mang Kosim lalu membuka hapenya dan memperlihatkan beberapa foto kepadaku. Fotonya sekilas tidak terlalu jelas, karena wajah cewenya di blur begitu. Tapi setelah aku zoom, aku kaget sekali karena ternyata itu foto pacarku Marsha dalam berbagai pose. Aku yakin sekali. Walau wajahnya di blur, tapi bodynya jelas aku tahu banget.

“Ini dari si Asep?”

“Iya, Den, mamang paksa sih berkali2, sambil ngancem bakalan ceritain ke pacarnya, baru deh dibagiin. Katanya sih cewe ini mau saja difoto sexy asal nanti diblur wajahnya. Takut kesebar kali ya.

“Iyalah…hari gini mang”. Kataku mencoba biasa, tapi hati terluka.

“Tapi walau diblur, mamang tahu mah ini pacarnya Johan. Kan pernah lihat susunya. Seksi ya den?”

Foto2 itu jelas bukan foto biasa, dan lokasi foto itu sepertinya ada di sebuah bedeng yang tak terpakai dan sepi, sepertinya di pojok taman, yang sering dipakai anak muda kalau mojok waktu senja. Foto2 awal adalah foto cewe yang berpose sensual, masih memakai pakaian lengkap.

Foto selanjutnya, cewe itu pelan2 mengangkat pakaiannya, awalnya memperlihatkan perutnya yang rata, lalu dadanya pun akhirnya terlihat. Kemudian di foto berikutnya pakaian itu sudah tidak ada di badannya, tapi teronggok di balai di bedeng itu, sehingga tinggallah cewe itu memakai celana pendek dan celana dalam saja. Itu pun celana pendeknya kemudian dipelorotkan, dan terlihat kaki indah yang terbuka kemudian tangannya merekahkan vaginanya, dan difoto dari bawah.

Lalu pada beberapa foto kemudian, dia sudah mengenakan kembali celananya, tapi berposisi sedang berlutut, diambil dari atas, sementara penis si Asep yang hitam dekil berada pada muka cewe itu. Kemudian ada adegan memegang penis Asep, dan puncaknya adalah ketika penis itu memasuki mulut cewe yang mungil itu.

Foto2 terakhir adalah dengan wajah dan dada yang belepotan sperma, lalu ada juga foto sperma2 itu dilap dengan… celana dalamnya sendiri!

Aku mulai pusing, walau tetap berusaha untuk tenang.

“Masih ada lagi lho den”

“Hah? Masih ada lagi, Mang?”

Mang Kosim tersenyum lalu membuka folder video, dan di situ hanya ada satu video saja dengan gambar Marsha di dalamnya (dengan wajah ke blur kayak film-film kriminal diwawancara). Saat video diputar, Marsha yang awalnya topless sedang memakai kausnya kembali, saat si Asep mendekat, dan dari depan megang kausnya.

“Ih, Mang Asep, mau apaan lagi?”

Tanpa menjawab, Asep pun langsung mengenyot dada pacarku dari balik pakaiannya.

“Apaan sih, Mang, kan tadi udah?”

“Ya mana puas cuman segitu aja tadi, Neng?”

“Emang dari luar kaus gitu puas, Mang?”

Asep nyengir saja, lalu menganggap itu sebagai lampu hijau, dia mengeluarkan susu Marsha dari lubang leher kausnya dan dikenyot sekali lagi. Tiba2 ada suara orang lewat, dan sontak Asep menghentikan kenyotannya, dan Marsha memasukkan kembali susunya ke dalam kaus.

“Udahan ya Mang, udah kelamaan nih, Marsha pasti dicariin”

Asep yang terlihat agak kecewa pun dengan enggan menurut, lalu saat pacarku berdiri, Asep menepuk pantatnya hingga pacarku menjerit.

“Lain kali Mamang minta yang ini ya”

“Enak aja, mahal kalau yang ini” Marsha pun melet ke Asep, dengan bajunya yang sudah basah dibagian dada.

Video kemudian berhenti. Perasaanku? Entah bagaimana menggambarkannya, campur aduk menjadi satu.

“Liat aja, ntar juga Mamang bakal ngerasain ini awewe” kata Mang Kosim, “apalagi udah gak ada lagi tuh si Asep kampret”

“Emangnya Asep ke mana?”

“Tauk tuh ke mana, tempo hari ketahuan ngewein pembantu rumah deket sini, akhirnya dikejar ama warga, kabur deh dia”

“Eh, Mang, Billy boleh minta gambar ama videonya?”

“Oh, boleh, Den. Tapi Mamang agak gaptek nih, gak tahu caranya”

“Biar Billy aja deh”

Dengan cepat kuambil semua foto dan video yang ada Marsha dari hape Mang Kosim, kusalin ke dalam hapeku sendiri. Mungkin aku akan memerlukannya nanti.

“Udah, Mang, berapa?”

“100 ribu, Den”

“Eh busyet! Rokok doang 100 rebu??”

“Rokok sih standar, Den, tapi biaya nonton ama ngopi itu mahal”

Dengan menggerutu, aku merogoh selembar uang warna merah dan kuberikan kepadanya, yang mengambil dengan senyum menyebalkan itu. Aku kemudian masuk kembali ke dalam kosan untuk mengambil semua rekaman dari CCTV itu untuk kulihat nanti di Surabaya.

Setelah menyelesaikan semua dan memanggil ojek online untuk membawaku kembali ke stasiun, aku melihat Mang Kosim tampaknya tengah kebingungan dengan sesuatu, mondar-mandir sambil menggaruk2 kepalanya. Aku hanya tertawa saja dalam hati sambil meninggalkan tempat itu. Rasain Mang! Hapemu sudah aku kasih virus! Makanya jadi orang jangan suka belagu. Hihihi.

Dan aku sekarang menuju surabaya dengan rekaman CCTV. Baru kali ini aku deg-dega luar biasa akan isinya. Antara ga mau terjadi apa2 dengan marscha , tapi berharap terjadi apa-apa.

Rekaman CCTV

Aku menghempaskan badan ke kasur di kosanku di kota Surabaya setelah marathon balik ke Bandung hanya demi mengambil data dalam CCTV yang ada kosanku. Saking teparnya, sampai aku benar2 langsung tertidur begitu menyentuh bantal dan kasur.

Beberapa kali hp-ku berbunyi, kadang telepon, tapi seringnya pesan, dan aku tidak mampu mengangkatnya walau tahu, semacam lucid dream gitu deh. Baru pagi harinya aku pun terbangun dengan badan sakit semua.

Aku langsung membuka hape, dan terlihat banyak sekali pesan yang masuk, terutama dari Marsha, rata2 mengabari dan juga menanyakan kabarku. Bahkan Marsha sampai 3 kali meneleponku malam itu, tapi aku nggak bisa ngangkat. Langsung saja aku meneleponnya.

“Sayang? Kamu nggak papa kan?” tanya Marsha tak lama setelah kutelepon

“Iya, Sayang, maaf semalem gak bisa angkat telepon. Soalnya aku kurang enak badan, jadi minum obat, malah tepar”

“Tuh kan, sudah kuduga, kamu perlu istirahat tuh, kecapekan penelitian”

“Iya nih, badan sampai mau remuk”

“Tapi udah nggak papa, kan?”

“Udah lumayan enakan sih”

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja ya, istirahat beneran tapi ya, ntar sore aja aku telepon lagi”

“Mau ada acara lagi hari ini, Yang?”

“Iya, kita mau jelajah nih, katanya ada pantai yang masih murni gitu, jadi kita mau eksplore ke sana”

“Oh gitu, ati2 aja ya sayang, kamu juga jangan capek2”

“Iya, Yang, luv u”

Aku meletakkan telepon di dekat bantal sambil kembali berbaring. Entah selang beberapa lama, ada pesan masuk. Ini dari Marsha. Saat kubuka, aku pun terkejut. Kini Marsha sedang berselfie dari cermin memakai bikini berwarna merah yang amat seksi, walau tak separah micro bikini, tetap saja masih lebih banyak tali daripada kainnya. Di situ terdapat juga caption: “Sayang, aku pakai ini cantik gak?”

Langsung kubalas saja: “Iya, cantik”

“Tengkyu, luv u!” *emotikon cium*

Hmm, mau ngapain ya dia pakai bikini seseksi itu? Tapi kan dia berangkatnya bareng ama cewe2, mungkin bukan buat apa2. Tak beberapa lama kemudian, ada sebuah pesan lagi masuk ke hapeku. Kulihat ternyata bukan oleh Marsha melainkan Sherry. Aku tambah terkejut karena di situ dia memakai string monokini, atau disebut juga sebagai slingshot monokini.

S: “Seksi gak?”

A: “Iya, seksi”

S: “Kayaknya kalau Marsha pake ini seksi juga ya?”

A: “Idih, mau lo suruh pake kayak gituan?”

S: “Who knows? Probably. I still have a pair”

A: “Hmm, jadi penasaran”

S: “Dasar cowok ya, otaknya di selangkangan mulu”

A: “Namanya juga cowok, hehehe”

S: “Ya udah, taruh nih otak lo di sini”

Agak lama, sebuah gambar masuk, dan aku terkejut karena kali ini Sherry mengambil gambar dirinya yang sedang menungging dengan tali renangnya digeser sehingga memperlihatkan vagina dan analnya yang merekah.

S: “Pokoknya besok ketemu lo kudu muasin gw”

A: “Oke, tapi ada syaratnya”

S: “Syarat apaan lagi? Ngawasin cewek lo msh kurang?”

A: “Ya ngawasin tetep, tapi gw pengen lo bujuk dia buat pakai itu baju renang”

S: “Ya ampun, kirain apaan, gitu doang?”

A: “Sementara itu aja”

S: “Gitu doang mah kecil. Gw bikin telanjang seharian juga bisa”

A: “Sombong lo. Emang bisa?”

S: “Serius ini. Ah iya, lo gw message semalem gk bisa2 sih, padahal mau cerita soal kemaren”

A: “Eh? Kemaren, ada apaan?”

S: “Dah, panjang lah pokoknya. Ntar aja gw ceritain, atau besok deh kalau kita ketemuan. Pastinya lo bakal horny berat kalau denger”

Hmm, pasti ada hubungannya sama Marsha. Jantungku mendadak berdebar tidak karuan. Ingin rasanya saat itu langsung mengorek keterangan dari Sherry, tapi sebaiknya kutunggu saja. Petualangan Marscha ini memang selalu buat cenat-cenut.

A: “Oke lah, ntar kalau kita ketemu”

S: “So, jadi nggak nih taruhan?”

A: “Soal monokini dan Marscha sampai telanjang? Oke, boleh, siapa takut. Kalau lo kalah, lu harus mau theresome sama Mang Kosim penjaga warung depan kost gw.

S: “Hah si tua bangka jelek itu?”

A: “Iya. Lu takut kalah?”

S: “Oke, tapi kalo lo kalah, lo kudu balik ke bandung sehari lebih cepet, trs kita kencan seharian penuh, nggak diganggu ama Marsha, hotel ama makan lo yg bayar”

A: “Wuih, kencan.. Emang Thomas ke mana?”

S: “Lagi gak pulang dia ntar, sibuk ngentotin manajer barunya yang tobrut n cakep gila. Ini aja barusan dia kirim foto kontinya lagi disedot ama si manajer itu. Kesel deh”

A: “Ciee.. Ada yang cemburu nih”

S: “Ih sebel”

A: *emotikon melet*

S: “Udah ah, mau berangkat nih, tunggu kabar baik dari gw dan siapin itu duit. Gw pengen lo servis gw abis2an nanti. Bye”

Memang Sherry ini sudah kecanduan sex. Padahal orangnya cantik dan sexy. Sangat gampang dapatkan partner sex. Tapi ya ga semua orang beruntung seperti aku.

Aku kembali merebahkan diri. Kemudian aku melihat ke arah harddisk yang memuat rekaman CCTV di kamar kostku. Ada perasaan ragu untuk melihat isinya. Aku takut jika didalam ternyata ada affair pacarku. Tapi kalau ga dilihat, jadi buat penasaran. Lieur.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku ambil juga hard disk itu. Lalu aku menyambungkan laptopku ke headset, kemudian mulai memutar rekaman CCTV yang kuambil dengan susah payah. Aku tark nafas dalam-dalam. Jantungku berbegup kencang. Akhirnya aku bisa menyaksikan hasil rekaman CCTV itu. Dari display, aku tahu bahwa rekaman ini terjadi dua hari kemarin.

Rekaman dimulai dengan Marsha yang lewat, setelah masuk dari pintu. Karena ini menggunakan sensor gerak, maka baru kalau ada yang lewat dari pintu saja kameranya akan mulai merekam, dan juga setelah tidak ada gerakan sama sekali, kamera masih akan tetap merekam selama 10 menit sebelum stop.

Awalnya biasa saja, Marsha masuk, meletakkan barangnya, dan kalau ditinjau dari suaranya, sepertinya kosan dalam keadaan sepi. Tiba2 saat itu Marsha membuka baju, kemudian celananya, hingga Marsha hanya memakai beha dan CD saja. Masalahnya, walau aku tak bisa melihat pintunya, dari berkas cahaya, aku tahu bahwa pintunya masih terbuka lebar. Marsha tampak celingak-celinguk, seolah memeriksa apakah ada orang.

Di luar dugaanku, bukannya langsung memakai baju ganti, dia malah mengambil laptop, lalu duduk di ranjang yang menghadap ke pintu yang terbuka sambil memainkan laptopnya. Gila! Itu misal ada orang lewat udah jelas bakal kelihatan lah, dan dari jaraknya, hampir mustahil dia bakal sempat menutup pintu seandainya benar ada yang lewat.

Setelah beberapa menit “mengerjakan tugas”, Marsha kembali celingukan, kemudian melepas behanya! Jadi kini pacarku ada di kamar kosan sendirian, hampir bugil! Kulihat jam pada display menunjukkan hampir pukul 4 sore. Biasanya sebentar lagi kosanku akan mulai ramai saat para penghuninya pulang kuliah. Dan Marsha dengan santainya memakai lotion ke seluruh badannya, tapi tampaknya terlalu banyak, sehingga dari CCTV pun terlihat mengkilap.

Benar saja, tak beberapa lama kemudian ada suara seseorang yang telah kembali. Dari reaksinya, Marsha tahu bahwa ada orang, tapi bukannya cepat2 menutup pintu atau memakai baju, dia malah memakai headset bluetooth. Astaga! Ada apa dengannya?

Dari suaranya, aku yakin bahwa itu adalah Johan yang pulang pertama kali. Aku pun juga yakin bahwa Marsha tahu itu suara Johan. Mungkin karena itukah dia tidak buru2 menutup ketelanjangannya? Suara langkah pun semakin mendekat, dan..

“AAAAHH!!”

“Ya Tuhan!! Astaga!!”

Marsha berteriak, sepertinya karena dia melihat Johan dari pintunya. Bukannya melompat atau mengambil selimut yang ada di dekatnya, dia malah merunduk, menutupi tubuh telanjangnya dengan layar laptop. Astaga, mana bisa layar itu melindungi tubuhnya??? Apalagi Johan juga agak tinggi, sehingga dia setidaknya bisa melihat punggung Marsha yang telanjang.

“Ya ampun, Marsha??!”

“Iya, Jo, tolong tutupin pintunya dong”

“Kamu ngapain di situ?”

“Aku lagi pinjem kamarnya Billy buat ngerjain tugas, tolong tutupin dong”

“Ya, ya, bentar”

Dari berkas cahaya, aku tahu bahwa pintu pun ditutup. Pacarku kemudian berdiri, seolah mengintip2, lalu tampak cekikikan. Apa dia sengaja?? Dari suaranya, Johan pun tampak membuka pintu kosannya, kemudian ada bunyi barang yang dijatuhkan.

Selang waktu itu dimanfaatkan oleh pacarku untuk mengambil baju, tapi bukannya memakai bajunya kembali, dia malah mengambil sweater hoodie-ku, yang bagian lehernya berbentuk V hingga ke bawah, dan meskipun ada kancing, namun pacarku memilih membiarkannya terbuka, sehingga bagian tengah dadanya terlihat. Tanpa mengenakan beha kembali, jelas dadanya akan terlihat, dan bila sedang dilonggarkan, maka kedua payudaranya pun akan menyembul keluar.

Dia tampak berpikir sejenak, kemudian di luar perkiraanku, dia pun melepas celana dalamnya, sehingga kini pacarku sudah bugil, hanya ditutup oleh hoodie-ku yang memang memanjang sampai ke pahanya, namun saat duduk, selangkangan pacarku pasti akan terlihat jelas. Apalagi saat ini dia kembali duduk di balik laptopnya dengan kaki bersila, yang jelas akan memperlihatkan vaginanya ke mana-mana. Layar laptop yang ada di depannya pun seolah menjadi penutup formalitas saja.

Terdengar kembali suara pintu terbuka, sepertinya di kosan Johan kembali, dan pacarku dengan gesit segera bergerak ke pintu, dia membukanya sedikit, dan dari kakinya yang dijulurkan masuk kamera, sepertinya dia hanya mengeluarkan kepala dan sebagian tubuh bagian atasnya dari pintu. Setidaknya dia masih memakai hoodie.

“Jo, mau jalan?”

“Iya, mau beli makanan ama camilan. Mau nitip, lo?”

“Iya, beliin juga dong. Suntuk nih, ama minuman juga gpp”

“Oke, tunggu ya”

Pacarku lalu kembali masuk dan menutup pintunya. Di dalam dia kemudian melepas hoodie-nya, kemudian bercermin pada cerminku, seolah ingin memeriksa apakah sudah oke. Dia bahkan meremas2 dadanya, dan juga menggesek2 kemaluannya, mendesah lirih sambil berkata sesuatu. Karena penasaran, kubesarkan volumenya, dan yang kudengar walau agak gak jelas adalah:

“Ayo Johan, iyah… Remas terus, Sayang. Mainin memek dong, yang keras… Uuh.. Aahh…”

Mendengar itu, aku pun semakin geregetan. Apalagi ini tidak ada aku di sana, bagaimana kalau terjadi yang tidak2?

Pacarku mengobel-ngobel vaginanya dengan cepat, vagina yang sudah cukup lama tidak aku nikmati, tapi mungkin sudah dimasukin batang lain. Hiks…

Setelah mencapai orgasme-nya, pacarku pun ambruk sebentar di kasur. Rekaman pun lapse sejenak, karena tidak ada gerakan sama sekali. Rekaman tampak dimulai kembali setelah pacarku menggeliat bangun, karena ada ketukan di pintu.

“Sha, ini Johan, makanan lo nih”

“Iyaa, bentar”

Pacarku kemudian segera mengambil hoodie dan memakainya tanpa dalaman seperti tadi, lalu tanpa merapikan rambut, dia sudah duduk pada posisi seperti tadi, bersila, di depan laptop.

“Masuk, Jo, gk dikunci”

Johan pun langsung membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Dia agak terkejut melihat pacarku cuman memakai baju yang minim, tapi kemudian bertingkah biasa.

“Nih, makanan lo”

“Tengkyu, Johan yang baik”

Johan berdiri di dekat pacarku saat meletakkan kantung berisi makanan. Dari posisi ini aku yakin dia bisa melihat dada dan vagina pacarku dengan jelas. Aku mengharapkan setelah ini Johan akan langsung keluar, tapi ternyata itu tidak terwujud. Dia malah duduk di kursi menghadap agak miring ke arah pacarku, sehingga ada sudut pandangnya ke arah vagina pacarku yang tak tertutupi layar laptopnya.

“Lagi pada sepi ya?” tanya Marsha.

“Iya, dari kemaren udah pada balik kampung”

“Wah, berdua doang dong kita di sini?”

“Gak juga sih, ntar paling agak maleman ada yang datang lagi, kan si Junus kerja malem tuh”

Pacarku hanya mengangguk2 saja dengan mata terfokus pada layar laptop.

“Bikin tugas apaan sih, Sha?”

“Tugas kalkulus 2, susah banget ini, kudu dikumpul besok pula. Makanya gw pinjem kamarnya si Billy, soalnya di rumah gw lagi rame banyak tamu, gak bisa konsen”

“Masih banyak?”

“Udah tinggal seperempat lagi sih”

“Bentar lagi lah ya”

Marsha hanya mengangguk. Kemudian mereka ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas, sementara Marsha terus mengetik di laptopnya. Kulihat Johan mulai gelisah karena terus menggaruk celana pada bagian kemaluannya.

“Gatel ya? Peler digaruk mulu” Kata Marscha.

“Iya, gatel lihat lo”

“Masa sih, gatel kenapa?”

“Lo gak pake CD ya??”

Marsha hanya nyengir saja.

“Gerah, Bos”

“Kalau gerah ya telanjang aja sekalian” Tantang Johan.

“Bener?”

“Iya, bener”

Aku terkejut karena setelah berkata begitu, Marsha langsung melepas hoodie-ku, sehingga kini dia benar2 telanjang di hadapan Johan. Lebih mengejutkan lagi karena pintunya masih terbuka.

“Duh, makin sekel aja tuh body”

“Iya dong, kan dirawat. Udah itu kalau gatel buka aja, kayak gw belum pernah liat aja”

Wait?? Marsha nantangin Johan untuk membuka celana?? Sepertinya ini juga bukan pertama kalinya mereka saling bugil.

Langsung saja si Johan menutup pintu, kemudian membuka celananya, lengkap dengan celana dalam, dan mencuatlah kemaluannya yang memang sudah tegak itu.

“Ih, udah tegang nih”

“Iyalah, lo bugil dr tadi, jelas aja tegang”

Marsha hanya cekikikan saja.

“Gak kangen?”

“Kangen apaan?”

“Ama si Junior” Johan berdiri sambil menggoyangkan penisnya.

“B aja tuh”

“Cih, B lo bilang?”

Pacarku hanya melet saja. Johan pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan duduk di kasur di samping Marsha sambil melihat layar laptop. Bajunya bergesekan dengan kulit telanjang Marsha.

“Ada yang perlu dibantu?”

“Iya, dibantu, tapi lepas lah itu baju, kasar nih kena kulit”

“Siap, Non”

Johan langsung melepas pakaiannya dan kini mereka berdua sudah telanjang di atas kasur. Johan kini berposisi di depan laptop, sementara Marsha mengubah posisinya dengan tidur tengkurap dengan kepalanya bersandar pada paha Johan.

“Yah, kecil ini mah, gampil banget”

“Sombong banget lo”

“Gini juga 5 menit kelar lah kalau ama gw”

“Ih, gitu ya… Awas lo”

“Ig ga percaya…. kalau bisa 5 menit gw kerjakan kasih hadiah ya”

“Gampang,,,,gw kasih hadiah spesial buat kang mas Johan” Kata pacarku.

“OK….Semangat jadinya..” Kata Johan mulai mengarahkan jarinya ke keyboard laptop.

Saat Johan mulai mengetik, tiba-tiba kulihat Marsha berbaring miring meringkuk ke arah Johan, lalu tangannya bergerak2 sepertinya dia sedang mengocok penis Johan.

“Duh.. Curang lo, Sha!”

“Biarin, suruh siapa sombong? Lihat aja, beneran bisa nggak selesai 5 menit?”

Johan pun mulai bekerja dengan Marsha mengocok penisnya, bahkan bukan hanya dengan tangan, kepala Marsha pun terlihat maju dan bergerak2. Aku tahu bahwa pacarku ini sangat jago saat oral.

“Aduuuh… Curang lo…”

Gerakan mengetik Johan pun menjadi kasar dan sembarangan saat Marsha semakin menelateni oralnya. Hingga akhirnya…

“Dah! Kelar!”

Setelah menekan tombol save dengan kasar, Johan langsung bermanuver dan menyerang selangkangan Marsha dalam posisi 69. Karena kameraku hanya menyorot setengah tempat tidur, maka yang terlihat hanyalah pinggul si Johan di atas dengan penis menggantung yang tengah dioral oleh Marsha di bawah. Berkali2 Marsha hanya bisa mengeluarkan lenguhan teredam, dan lama2 badan pacarku ini menegang sebelum akhirnya seperti orang kejang2 dan ambruk.

Johan kemudian berhenti, dan turun, memberi kesempatan Marsha untuk menarik napas. Tapi itu belum selesai, karena dia langsung memutar tubuh Marsha lalu diseret hingga kakinya menjuntai dari pinggiran tempat tidur. Dia kemudian berlutut, lalu kembali menjilat selangkangan Marsha sehingga dia kembali menjerit keenakan.

“Udah basah banget nih…”

Marsha hanya diam saja sambil mengatur napasnya. Johan kemudian mengangkat tungkai Marsha dari pergelangan kaki, kemudian diangkat hingga lututnya menyentuh ke dada. Aku tidak bisa melihat wajah Marsha, sehingga aku tak tahu apa yang dia rasakan. Johan pun menggesek2an penisnya ke vagina Marsha.

“Ada yang kangen masuk rumahnya nih…” goda Johan.

Marsha hanya tertawa saja. Namun saat Johan bersiap memasukkannya, tiba2 terdengar suara ketukan. Bukan dari pintu kamarku, tapi pintu kamar Johan.

“Jo! Lo di dalem? Kita tinggal nungguin lo nih”

Johan menyumpah serapah. Sepertinya dia ada janji dengan temannya, entah siapa. Dengan nada agak jengkel, dia pun berbisik kepada Marsha. Aku coba membesarkan suaranya, tapi masih tidak jelas terdengar, hanya kata2 seperti “ada perlu”, “nggak bisa”, “penting ini”.

Akhirnya Johan pun langsung memakai kembali baju dan celananya, sementara Marsha duduk di tepi tempat tidur dengan memakai hoodie-ku sebagai penutup. Setelah berpakaian, Johan pun membuka pintu, mengatur celahnya sedemikian rupa supaya yang di luar tidak bisa melihat ke dalam.

“Lah, kirain lo di kamar?”

“Ini nih, si Billy tadi WA, minta gw ngecekin kamarnya, takut ada bocor atau apa gt, kan tadi siang ujan”

“Jadi nggak nih? Kita tinggal nungguin lo soalnya. Bapaknya bilang kudu malem ini, kalau nggak dia baru ada waktu lagi minggu depan”

“Iye, bentar, gw ambil berkasnya dulu”

“Oke, gw tunggu di luar yak, temen2 udah pada di luar noh”

“Sip, Bro”

Marsha kali ini sudah memakai hoodie-ku, masih tanpa dalaman atau CD, tapi kali ini dia mengombinasikannya dengan salah satu celana panjang batik milikku. Kenapa dia tak memakai bajunya sendiri saja ya? Kemudian dia keluar dari kamar, sepertinya orang2 yang mencari Johan tadi sudah keluar.

Marsha seperti tengah berbicara dengan Johan di balik pintu, di luar penangkapan CCTV. Karena lirih, aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi kemudian ada sebuah suara yang cukup khas terdengar. Yah, suara ciuman basah. Hanya sejenak, kemudian Marsha kembali ke dalam.

Dengan telaten, Marsha pun membereskan laptopnya, lalu merapikan kamarku, yang baru saja dia pakai sebagai tempat bergumul dengan Johan, tak lupa dia menyemprotkan penyegar ruangan supaya kamarku tidak berbau apek. Setelah semua selesai, sekitar 20 menit kemudian, dia pun keluar, sepertinya pulang. Setelah pintu ditutup, agak lama kemudian tak ada aktivitas, dan perekaman pun terhenti. Saat ini aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi dengan apa yang ada di videonya.

Aku hanya diam termenung saja, berusaha mencerna apa yang terjadi tadi. Apakah ini bukan pertama kalinya Marsha dan Johan melakukan tindakan seperti tadi? Memang aku ingin sekali hal ini terjadi, tapi saat benar terjadi, masih saja terasa sakit.

Pada saat itulah, tiba2 perekaman kembali menyala. Display pada waktu menunjukkan masih hari yang sama jam 12 malam, alias hampir 6 jam dari terakhir kali Marsha meninggalkan tempat ini.

Yang membuatku tambah terkejut adalah yang masuk adalah Marsha, dalam keadaan bugil! Hoodie dan celana batikku hanya dibawa dengan disampirkan di tangannya. Lho? Bukannya tadi dia pulang??

Kali ini Marsha tampak agak merengut, dan dengan segera mengambil beha, CD, dan bajunya yang tadi dia pakai saat datang. Yah, karena tadi aku sudah tidak konsentrasi, aku baru sadar bahwa Marsha pergi tadi tanpa membawa laptop dan tasnya, seolah tanda bahwa memang Marsha akan kembali. Tapi, dia dari mana?? Dan kenapa dia datang dalam keadaan bugil seperti itu??

“Sha!” kudengar teriakan memanggil, sepertinya dari Johan.

“Gw balik dulu!” kali ini nada Marsha agak ketus.

“Tadi itu…”

“Gw capek, Jo, gw balik dulu ya!”

“Gw anterin deh, Sha”

“Gak usah, gw udah pesen ojek, abangnya udah datang, ya. Bye-bye”

“Sha…”

Lalu sayup2 kudengar suara ojek online yang menanyakan Marsha, disusul oleh suara motor yang bergerak menjauh. Agak lama tak ada suara, kemudian kudengar Johan berteriak sambil memukul tembok.

Setelah itu perekaman benar2 berhenti. Aku hanya menghela napas, dan kini ada lebih banyak pertanyaan yang menggantung di kepalaku.

Bersambung