Cerita Sex Pacar Binal Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Tamat

Cerita Sex Pacar Binal Part 10

Foto di IGO

Sudah 2 minggu aku di kota S. Selama 2 minggu ini aku sangat sibuk dengan skrpsiku karena ingin cepet lulus, dapat kerjaan dan akhirnya melamar pacarku. Skripsiku yang ga kelar-kelar karena dosen pembimbing brengsek, sehingga akhirnya aku ganti judul dan ikut proyek dia. Kesempatan. Aku yang kerjaan proyek konsultan dia, tapi dengan imbalan laporan proyek bisa aku masukkan ke skripsi. Bar cepat beres ya sudah aku terima saja. Tapi dampaknya adalah mengharuskan aku harus sering bolak-balik keluar kota untuk penelitian karena proyeknya di luar kota.

Kesibukan skripsi yg sangat padat membuatku sedikit terobati dari ras akangen ke pacarku. Aku bahkan baru sadar bahwa sudah 2 minggu aku belum NGENTOTIN pacarku. Suaru rekor yang sangat panjang sekali. Mengingat aktivitas rutin kami menimati enaknya ML.

Apalagi sejak liburan di hotel pas ulangtahun tempo lalu, hampir tiap hari kami ML karena nafsu yang menggebu-gebu, dan perilaku Pacarku yang gampang hornian sejak mulai menjurus eksib karena suka berpakaian sexy. Bisa kebayang sakit kepala ini.

Pas di luar kota, aku hanya bisa video sex call dengan pacarku sambil aku coli. Benar-benar amsyong. Punya pacar cantik yang entot-able tapi bisanya masturbarsi. Apalagi Pacarku juga merasakan hal yang sama. Aksi-aksi eksibnya dan tatapan-tapan liar para cowo membuatnya sering horny katanya. Aku suka kasihan juga ke dia bagaimana dia melampiaskannya. Paling masturbasi saja. Atau….????

Selama diluar kota sekarang jadi lumayan sering mampir disitus semprot.com. Aku suka baca cerita-cerita sex disana sebagai bahan coli. Dan favoritku adalah kisah tentang perselingkuan dan juga….cuckload. Sangat sesuai.

Tak jarang aku kasih link cerita bokep cuckload ke pacarku. “Kamu mau aku dientot cowo lain dihadapan kamu?” Begitu tanggapannya tiap selesai baca.

Sesekali aku mampir ke forum foto-foto sexy cewe Indonesia. Cewe-cewe bening lokal lumayan sering muncul disana, belum lagi “kejahatan” para lekaki terhadap pacar dan mantannya. Banyak sekali porn reveange di forum IGO, walau sebagian besar masih tahu etika dengan memblur wajah cewenya. Ada satu fotografer yang aku follow, karena dia ada upload foto yang rasanya aku kenal foto itu, tapi aku lupa dimana.

Pacarku juga sekarang juga mulai sibuk. Katanya untuk mengobati kesepiannya. Dia sering hangout dan susah dihubungi. Info-info dari Sherry terkait aktivitas pacarku juga ga banyak aku dapat. Itu juga yang membuatku sedikit tenang

Atau apakah aku harus khawatir karena pacarku pintar menyembunyikan sesuatu? Bahkan dari sahabatnya sendiri.

Forum IGO

Sampai suatu ketika aku mengunjungi forum dewasa favoritku. Belum ada cerita baru yang menarik. Semuanya cerita standard yang alurnya ketebak. Iseng-iseng aku bukan forum gambar IGO.

Aku melihat sebuah thread yang dimiliki seorang fotografer yang follower banyak dan postingannya selalu diatas karena banyak yang komen. Foto-foto yang dishare di forum itu adalah foto-foto sexy wanita yang dia sebut modelnya.

Foto-fotonya bagus-bagus dan sexy, ntah bagaimana dia memperdaya para wanita itu untuk mau foto hanya pakai bra dan CD dikamar hotel, pakai lingerie, kemeja putih dengan tanpa dalaman, dan bahkan beberapa sampai telanjang.

Ntah konspirasi dunia apa sehingga aku bisa melihat sebuah foto yg ditampilkan TS tersebut, yang baru saja diupload. Aku dikejutkan oleh foto yang aku percaya 99,9% itu adalah Marscha pacarku. Walau wajahnya di blur tapi aku tahu dari kalung berbentuk hati yang dipakainya, karena itu adalah hadiah ulangtahunnya yang aku kasih. Nafasku berhenti sejenak. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam dan menyiapkan mental untuk menelusuri TS itu.

Saat itu pacarku berpose diatas tempat tidur (yang aku yakin itu sebuah hotel atau apartemen jam-jaman) dengan memakai lingerie hitam. Yang pasti itu bukan lingerie dia, karena semua lingerienya aku yang beli. Lingerie itu sangat sexy, bentuknya yang memeluk tubuh sehingga memperlihatkan lekukan-lekukan di dada dan pinggul. Siapapun lelaki pasti tergoda melihat pacarku memakai lingerie itu.

Wah beruntung sekali TS ini bisa menyaksikan tubuh indah pacarku. Aku scroll setiap page dan aku lihat ada sekitar 10 foto-foto pacarku disana dengan berbagai pose. Ada pose pacarku menungging dengan membelakangi kamera sehingga memamerkan pantatnya yang sexy menerawang dibalik lingerie itu. Ada juga foto saat pacarku menurunkan penutup dada atas, tapi tanganya memegang payudaranya. Sungguh amat sangat sexy. Kontolku tegang melihat foto itu. Pasti kontol fotografer itu juga tegang saat foto session.

Setiap TS post 1 foto yang like sangat banyak, dan beragam komen. Ntah kenapa itu membuatku bangga memiliki pacar secantik dan sexy Marscha. Aku tidak merasa marah sama sekali. Justru penisku tegang membayangkan sesi foto dikamar itu hanya mereka berdua. Pasti fotografer cabul ini tegang melulu.

Aku membaca tiap komentar member forum tersebut sambil membayangkan tubuh polos pacarku, dan penisku sudah sangat keras karenanya.

“Mantap hu, cantik banget”

“Beruntung banget hu”

“Ingin belajar jadi fotografer”

“Toketnya mengundang untuk dipejuhin!”

“Mulus…..enak dijilat”

“Foto pintilnya dong hu”

“Ditunggu foto polosnya”

“Memeknya botak atau ada jembut?”

“Sudah diapain saja hu?

Komentar-komentar itu membuat imajinasiku melayang hingga aku onani sendiri membayangkan pacarku digenjot sama fotografer itu.

Yang buat aku makin horni saat di page akhir TS itu membalas komen yang bilang: “Sudah diapain saja hu?”

TS: “Besok dishare pic nya hu. Kalau banyak yang request. Kan katanya No pic hoax”

Hmmmm….aku deg-dengan kira-kira pic apa yang dikasih fotografer cabul itu. Aku tak sabar menunggu sampai besok.

Keesokan Harinya.

Aku kebangun rada siang. Tadi malam sampai jam 12 aku pelototin forum IGO itu. Dan kecapean sehabis coli. Nasib memang. Punya pacar cantik yang bisa diapaian saja, tapi bisanya coli karena LDR. Aku buru-buru ke kamar mandi. Mandi dengan kilat, ganti pakaian dan keluar kamar untuk lanjut penelitian.

Ditengah-tengah kesibukan dengan penelitianku, pas lagi di jalan mau makan siang, akhirnya aku ingat (lebih tepatnya menduga) kalau fotografer yang upload foto kemarin adalah fotorafer yang dulu pernah foto pacarku di diskotik saat dugem merayakan ulangtahunnya. Pacarku memang kasih No. telpnya agar bisa dishsre foto-foto.

Dan aku ingat juga kalau nama fotografer itu Delvin. Pernah dulu pacarku bilang Delvin ajakin dia sesi foto karena lagi butuh model. Saat itu memang aku ijinkan, daripada aku larang dan akhirnya pacarku main belakang, mending ijinin saja. Asal dia jaga diri dan dengan syarat dia kasih tahu kemana saja nanti sama fotografer itu.

Pacarku sempat bilang bakalan difoto di apartemen, dengan konsep sexy yang dia minta ijin tapi aku ga jawab karena ketiduran. Apakah mereka jadi foto sexy? Dan hasilnya diam-diam diupload di fotografer cabul ini. Anjisss…beruntung banget dia bisa melihat tubuh pacarku dengan pakaian sexy dari jarak dekat. Baru membayangkan, seperti biasa, juniorku bangkit.

Aku sudah tidak konsentrasi penelitianku. Ingin cepat-cepat balik ke kost memantau forum itu denan bebas dari laptop.

Memantau Forum

Tepat jam 5 aku balik. Sesampai di kost, aku buka laptop dan kembali memantau forum tempat sang fotografer. Tak butuh waktu lama, aku sudah bisa baca kembali forumnya.

TS mereply komennya sendiri “Besok dishare pic nya hu. Kalau banyak yang request. Kan katanya No pic hoax” dengan tulisan :

“Berhubung banyak yang request. Jadi ane share buat suhu semua foto-foto terbaik”.

Dan yang membuat aku shock adalah saat ada satu foto yang sangat sexy. Foto tubuh telanjang cewe dengan memeknya mengangkang yang berusaha ditutupi tangannya. Buah dadanya terekpose dengan indahnya tanpa penghalang. Walau wajahnya di blur, tapi aku yakin banget itu pacarku. Aku kenal sekali dengan toket indah itu.

Batangku langsung naik menyaksikan tubuh setengah telanjang pacarku. Bagian paling vitalnya hanya ditutupi tangan. Banyak sekali yang komen foto itu. Semua memuji dada indah pacarku.

“Toketnya mulus hu…gmn rasanya?” Salahsatu yang komen.

Aku scroll ke page selanjutnya. Dan makin terbelalak meneyaksikan Foto kedua dimana itu adalah tubuh telanjang cewe terbaring pasrah diatas tempat tidur dengan buah dadanya sebelah kiri sedang diremas oleh tangan fotografer, sedangkan batang kemaluan lelaki itu tepat berada diatas vaginanya yang sudah dikangkangkan. Kelihatan jelas sekali vagina sempit yang berwarna merah itu. Sangat-sangat mengundang setiap kontol untuk masuk.

Batangku langsung berdiri tegang.

Foto ketiga yang membuatku marah, sekaligus horny, karena terihat batang cowo itu sudah menembus vaginanya. Kontol itu tertelan ¾ didalam vaginanya. Terlihat wajah cewe itu terdongak keatas (dan di blur). Aku sampai membuka celanaku karena batangku sudah maksimal. Aku bisa bayangkan rasa nikmat saat batang itu menembus vagina sempit pacarku.

Komentar-komnetar makin brutal, sambil memuji sang fotografer.

Aku lalu buka page selanjutnya untuk cari foto keempat.

Foto keempat posisi doggy style, memamerkan pantat mulus dengan kontol masuk setengah. Aku yakin itu pacarku dari tahi lalat kecil dipantat kiri. Aku bisa bayangkan nikmatinya mendoggy pacarku itu. Suaranya yang mendesah sexy pasti membuat fotografer itu makin bernafsu menyodok-nyodoknya.

Foto kelima sperma yang berceceran diatas pantat cewe yang sedang menungging. Si fotografer klimaks. Pasti puas sekali. BANGSAT.

Yang aku bayangkan selama ini akhirnya terjadi. Pacarku dikentot orang.

“Mantap…hu…”

“Mau nyipin dong…”

“Beruntung banget…”

“Dianal ga?”

Dan banyak lagi komen-komen yang buatku makin stress.

“Gue mau milih salahsatu dari kalian untuk partner. Soalnya gue sudah speak dia untuk mau difoto orang lain sementara gw yang ngentotin dia”

“Yang minat PM ya…”

DHEGGG.

Di Tempat Karoke

Setelah melihat foto-foto di forum itu, aku segera telp pacarku. Bermaksud untuk video call sex menuntaskan yang belum tuntas. Sampai 3x aku telp, dia ga ngangkat. Bete

Aku lalu telp Si Bitchy Shery.

“Halo….Billy Sayang….” Katanya menggoda.

“Lu bareng Marscha ga? Gw telp dari tadi ga diangkat”

“Hmmmm…gw mau jujur atau gmn ini?”

“Ya jujurlah…”

“Lagi jalan sama chem-chemannya tadi..”

“Ringgo?”

“Iyalah….”

Hatiku emosi. Aku langsug tutup telpon, dan tak aku hiraukan Sherry yang telpon balik berkali-kali. Untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatifku, aku lalu main game, dengan HP aku silent. Entah berapa lama aku bermain, mungkin sekitar 2 jam, dan aku lalu cek HP dan dikejutkan oleh sebuah pesan yang masuk. Kubaca itu dari Dido, salah satu sahabatku dari SMA yang bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga. Seharusnya di jam ini dia sedang bekerja, kenapa tiba2 mengirimiku pesan?

A: “Kenapa, Bro?”

D: “Bro, gw kirim foto bentar yak, ini pacar lo bukan?”

Aku tertegun. Saat itulah sebuah file foto masuk, dan ternyata memperlihatkan foto candid seorang wanita yang sedang berada di ruang tunggu bersama seorang pria. Hatiku mendidih, karena wanita itu benar adalah Marsha, sementara salah satu pria itu kukenali sebagai Ringgo.

Oh ya, karena Dido ini teman SMA-ku dan beda kampus, maka Marsha sama sekali belum pernah bertemu dengannya (hanya pernah dengar namanya saja), tapi Dido ini pernah beberapa kali kuperlihatkan foto Marsha, sehingga dia tahu betul siapa itu Marsha.

A: “Gila, di mana itu, Bro!”

D: “Di tempat kerja gw, baru aja masuk ruangan mereka. Tapi bener itu si Marsha cwe lo?”

A: “Bener, Bro. Itu si Marsha”

D: “Wah, nggak bener nih. Mau gw tindak aja sekarang apa gimana?”

A: “Tunggu, jangan dulu. Jangan diapa2in, biarin aja mereka”

D: “Serius lo, Bro?”

A: “Iya, soal tindak menindak biar itu urusan gw. Saat ini gw lagi di luar kota nih”

D: “Udah panas gw, Bro. Gak rela gw lo dipermainin macem gini”

A: “Sabar, Bro. Ada saatnya ntar. Soal Marsha biar gw yg ngurus”

D: “Oke, trs gw kudu ngapain nih sekarang?”

A: “Lo bisa mantau mereka? Ama dokumentasi gt?”

D: “Bisa aja sih, ntar gw minta tekel ruangan mereka”

A: “Tengkyu, Bro. Tolong ya, gw perlu bukti buat ntar langsung ngadepin si Marsha”

D: “Siip, tenang aja, Bro. Ntar gw ceritain n dokumentasiin”

A: “Tengkyu ya Bro, ntar gw bales deh”

D: “Santai aja lagi, Bro. Gw udah banyak lo bantu, jadi saatnya gw ngebantu lo juga”

Aku diam, dan tiba2 aku sudah tidak mengantuk lagi. Pikiranku langsung melayang ke yang dilakukan oleh Marsha dan juga Ringgo.

Oh ya, sekadar info, saat itu Marsha mengenakan baby doll warna pink dengan tali pundak yang kecil, dan entah apakah memakai bawahan lagi atau tidak. Pastinya saat duduk itu pahanya benar2 tersingkap sempurna. Kemudian beberapa kali hapeku berbunyi.

D: “Mereka pesen alkohol Bro”

D: “Oke, itu ruangan gw yang handel, mereka kayaknya cuman berdua doang, tapi gw gak bisa masuk gt aja. Ntar deh coba gw colongin”

D: “Gw kirimin foto nih, tapi lo sabar ya Bro”

Beberapa saat kemudian Dido mengirim beberapa file foto. Dia sepertinya memotret dari luar dengan zoom saat pintunya tidak tertutup sempurna. Pada sebuah foto, aku bisa melihat Ringgo duduk mepet sambil merangkul Marsha. Mereka tampak seperti sedang bernyanyi bersama. Ruangan itu sendiri gelap dengan hanya cahaya dari TV yang menyinari.

Kemudian foto berikutnya membuat darahku semakin mendidih. Betapa tidak, posisinya hampir sama, tapi kali ini tali pundak baby doll Marsha di bagian kiri sudah lepas ke lengan, dan sedikit banyak memperlihatkan sebagian besar boobs-nya yang jelas tidak memakai beha sama sekali. Puncaknya adalah foto terakhir, karena di situ terlihat tangan kiri Ringgo yang sedang merangkul Marsha juga meremas dada sebelah kirinya.

D: “Sebentar, Bro. Pintunya ditutup, kayaknya udah pada nyadar kalau kebuka”

Agak lama, Dido kembali mengirim kabar.

D: “Gw tadi masuk ke ruangan, soalnya mereka pesen snack ama minuman tambahan gt. Gila, tu cwo celananya udah nggak diretsletingin, dan baju cwe lo udah melorot, dia megangin di dadanya pas gw masuk, tapi udah pasti gk pake beha tu.”

D: “Sorry ya Bro, tapi gw horny jg liat cwe lo gitu”

A: “Gpp, Bro. Normal tandanya. Artinya lu ga homo. Mereka terus ngapain?”

D: “Ya kayak agak mabok gt, Bro. Tahu deh abis ngapain. Tapi ya gw masuk mungkin pada berhenti dulu.”

A: “Oke, kabarin terus ya Bro”

D: “Siap, Bro! Oh ya, minta izin boleh?”

A: “Izin apaan?”

D: “Gw boleh coli bayangin cwe lo gak? Hehehe”

A: “Dasar mesum lo! Tugas dulu tunaikan, Bro!”

D: “Ahsiyaaaap!”

Pikiranku semakin melayang ke mana-mana, entah apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Tapi sekaligus aku merasa horny membayangkan pria itu mengerjai pacarku yang cantik jelita itu. Arrgh, pusing jadinya.

Waktu berjalan amat lama, dan Dido kemudian memberi update kembali.

D: “Bro, mereka udah selesai akhirnya. Kayaknya sih pada pengen balik. Tadi pas bayar gw denger cwe lo minta dianterin balik.”

A: “Trs dari tadi ngapain aja?”

D: “Bro. Gw cerita tapi lo jangan marah ya? Gw sorry banget nih”

A: “Emang kenapa Bro?”

D: “Janji dulu jangan marah, gw sorry banget, sorry-sorry-sorry banget”

A: “Udah, cerita aja, gak bakal marah gw”

D: “Jadi gini, gw kan iseng masangin bluetooth ke pen-cam, maksudnya biar kalau pas dipanggil masuk lagi bisa ada dokumentasi gt. Kan susah kalau motret pakai hp.”

A: “Trus?”

D: “Lo lihat aja deh”

Agak lama, dan akhirnya muncullah sebuah file video yang ukurannya agak gede. Sepertinya Dido kembali dipanggil ke dalam ruang karaoke itu oleh Rendy.

R: “Masuk, Mas, sini”

D: “Ada apa ya, Mas? Mau pesan snack atau minuman lagi?”

R: “Nggak, Mas, cuman mau minta tolong aja”

D: “Minta tolong apa ya?”

R: “Masuk dulu lah Mas, santai aja. tutupin pintunya”

R: “Sebelumnya kenalin dulu nih, Mas. Mas namanya siapa?”

D: “Dido, Mas”

R: “Oke, Mas Dido, saya Ringgo, dan ini pacar saya, Marsha”

Kampret! Berani2nya dia mengaku sebagai pacarnya Marsha! Kulihat Marsha sudah agak tipsy, dan bajunya sudah kusut berantakan, begitu pula rambutnya. Terlihat bahwa Marsha memakai celana senam leotard untuk menutupi bawahnya, namun dari kerutan2nya yang tidak rapi sepertinya celana itu baru dibenahi dengan terburu2.

R: “Jadi gini nih, kita mau minta tolong ama masnya. Kami tadi kan taruhan nih, siapa yang nilainya paling rendah pas karaoke bakal dapat hukuman. Dan ternyata, pacar saya ini kalah, Mas. Hukumannya apa, Beb?”

M: “Saya harus oralin Mas Dido ampe keluar”

Aku benar2 terkejut, begitu pula dengan Dido.

D: “Waduh, Mas, saya nggak berani saya”

R: Tenang saja. Lagian dari sejak masuk saya lihat mas sudah lirik-lirik pacar saya. Bahkan saya tahu mas curi-curi foto tadi.

D: “Maa…maaf mas…maaf…”

R: “Udah, nggak apa2 Mas, tenang saja.”

D: “Waduh, yang lain aja deh Mas, minta tolongnya?”

R: “Kenapa, Mas? Pacar saya kurang cantik ya, apa kurang seksi?”

D: “Bukan gitu, Mas, gimana ya…”

R: “Coba, Beb, kamu berdiri di depan masnya”

Marsha dengan menurut berdiri di depan Dido. Lalu dengan kurang ajarnya, Ringgo menarik baby doll Marsha hingga melorot ke perut, sehingga terlihatlah kedua dada Marsha. Marsha berusaha menutupinya, namun Ringgo segera menahan tangan Marsha.

R: “Beby, coba dong, Mas-nya digoda. Mungkin kalau kamu yang minta masnya mau”

M: “I-Iya… Marsha seksi kan Mas?”

D: “I-Iya, Mbak, seksi.. Eh…”

R: “Coba masnya disuruh pegang susumu, Beb. Biar ngerasain gimana susumu”

Dengan enggan, Marsha pun mengambil tangan Dido dan mengarahkan ke dadanya. Walau aku tersentak cemburu, aku merasa agak geli juga waktu melihat Dido salah tingkah dan tangannya gemetaran.

M: “Ih Mas, jangan gemetaran gitu dong. Pegang deh…”

Dido pun mulai pelan-pelan meremas dada Marsha. Tadinya takut2, lalu lama2 remasannya mulai bergantian dari kanan ke kiri hingga Marsha sedikit mendesah dan menggigit bibir bawahnya.

R: “Alus ya Mas? Sekel, kan?”

D: “I-Iya, Mas, mantap”

R: “Mau nyoba ngemut gk, Mas?”

D: “Heh? A-Apa?”

R: “Ayo, Beb, dirayu tuh”

M: “Iya, Mas, Marsha diemut dong, pelan2”

Bagai kerbau dicucuk, Dido pun mengikutinya. Awalnya takut2, tapi lama2 emutannya semakin ganas. Dasar Dido, runtuh juga kan lo kalau kena Marsha? Hahahaha

R: “Udah Mas, jangan dihabisin”

Dido sepertinya agak kecewa ketika Ringgo melepas emutannya dari dada Marsha, tapi matanya segera membelalak ketika Ringgo menyuruh tangan Marsha mengangkat baju baby doll-nya, kemudian dengan sekali tarik, celana sekaligus g-string Marsha ditarik turun hingga ke dengkul, memperlihatkan vagina Marsha.

R: “Bagus, gak?”

D: “I-Iya, bagus”

R: “Tapi yang ini nggak boleh dipegang, ya.”

D: “Yaah…”

Aku tertawa geli melihat Dido tampak kecewa, apalagi kemudian Ringgo menaikkan kembali celana Marsha setelah sebelumnya mengelus vaginanya.

R: “Gimana sekarang, Mas? Mau kan sekarang dioral ama pacar saya?”

D: “Eh, gimana ya?”

R: “Kalau nggak mau, saya panggil yang lain nih”

D: “Eh jangan, Mas. Ya udah deh, saya mau”

Ah, Do, tai lo! Tapi sikap Dido yang mau tidak mau itu membuatku geli.

R: “Oke, Beb, bukain celana masnya. Kasihan dia udah ngelayanin kita”

Marsha hanya mengangguk saja. Kulihat wajahnya tampak amat enggan luar biasa, tapi entah kenapa dia mau ikut saja. Dia lalu berlutut di depan Dido, dan pelan2 membuka retsletingnya. Wajahnya amat seksi saat terlihat terpaksa begitu, apalagi Dido sengaja agak membungkuk sehingga pencam-nya yang ada di saku bisa merekam wajah Marsha. Dalam sekejap, celana Dido pun sudah melorot oleh pacarku.

D: “Mas, saya boleh sambil duduk di sofa aja gak?”

R: “Oh, silakan, Mas, senyamannya aja”

Dido segera duduk di sofa dengan posisi agak senderan, sehingga bisa merekam dengan jelas apa yang ada di depannya. Penisnya yang berwarna agak kehitaman tampak mengacung. Memang tidak sebesar punyaku, tapi lumayan lah, tidak jauh berbeda ukurannya. Sepertinya Dido memang sengaja memilih posisi ini supaya dia bisa merekam saat Marsha mengoral dirinya.

Marsha kemudian berlutut di depan Dido, dan memegang penisnya, memainkannya pelan2 sehingga tegang sempurna sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam mulutnya. Dido tampak mulai mengerang saat Marsha mulai menaik-turunkan penisnya keluar masuk mulut.

R: “Enak, Mas?”

D: “I-Iya, Mas, ish…”

Menyaksikannya entah kenapa penisku malah ikutan berdiri, sehingga aku langsung melepas celanaku dan mengocok penisku sendiri yang sudah tegang.

Ringgo sangat menikmati pemadangan live dihadapannya. Puas dia bisa memanfatakan pacarku. Kulihat dia meremas-remas batangnya dari luar celananya.

B: “Bro, jangan lama2 lah, kita 15 menit lagi habis bookingnya”

R: “Ya udah, dicepetin aja deh”

Ringgo kemudian bergerak kebelakang Marscha, dari belakang menarik celana ketat Marsha hingga lepas. Sekarang pacar yang aku cintai itu sudha telanjang bulat. Benar-benar sexy.

Ringgo tatap vagina pacarku itu, menghirup sejenak lalu dengan sekali gerakan, Marsha diputar ke posisi 69 dengan Dido. Dido sekarang dihadapannya tersaji vagina indah pacarku. Tak butuh lama, lidah dido bekerja.

Posisi mereka hanya membuatku bisa melihat perut Marsha dalam posisi close up sambil sesekali ujung dadanya yang berayun2. Suara sedotan Dido bercampur dengan erangan Marsha yang tertahan penis pada mulutnya, ditambah suara Ringgo yang seolah menyemangati. Gila. Suangguh Gila.

Hingga beberapa menit kemudian,

“AAAAHHH….”

Marsha keluar terlebih dahulu, karena kulihat tubuhnya kejang2, dan tak beberapa lama disusul erangan Dido. Layar menjadi gelap karena tubuh Marsha jatuh menimpa kameranya, lalu kemudian kembali terang, saat Marsha turun dari tubuh Dido.

Dido pun berdiri dan terlihatlah kini muka Marsha yang belepotan sperma Dido. Kali ini wajah Marsha tampak merah padam menahan emosi, seolah ingin marah tapi tidak bisa. Dia langsung menuju ke toilet yang memang ada di dalam ruangan itu, membanting pintunya dengan kencang.

“POKOKNYA GW GAK MAU KAYAK GINI LAGI!!!”

Ringgo hanya tercengang, sementara Dido dengan cepat memakai celananya. Tampaknya Ringgo tak menyangka bahwa Marsha bakal marah seperti itu.

D: “Mas, saya keluar dulu ya”

R: “Oh iya, Mas, makasih, ya”

Ringgo menyalami Dido, lalu menyelipkan beberapa lembar uang warna biru ke saku Dido, menutupi pencam-nya.

Pencam pun kembali terbuka, dan kali ini terlihatlah wajah Dido yang penuh rasa bersalah, meminta maaf tanpa suara, bahkan sampai membungkuk.

D: “Jadi gitu, Bro, maaf ya, gw udah crot di muka cwe lo” *emotikon nangis*

A: “WKWKWKWK!! Kampret lo!! Tai!! Kena memek langsung lemah gitu lo ya!! Setan lo, Bangsat!!!

D: “Maafin gw, Bro!” *emotikon nangis beberapa kali*

A: “Tapi enak gak?”

D: “Enak sih…”

A: “TAAAIII LOOO!!!” *emotikon tertawa terbahak2*

Pulang Ke Kost

Dering hape membangunkanku dari tidur. Setelah seharian penelitian kemarin, aku merasa amat lelah sehingga tertidur.

“Sayang, baru bangun?!” suara lembut Marsha terdengar dari seberang hp.

“Iya nih, capek banget. kamu mau berangkat ya? Pagi2 begini?”

“Iya, Yang, kan pesawatnya berangkat pagi, ini udah mau boarding”

“Ati2 ya, Sayang, kasih tahu kalau udah sampai”

“Iya, Sayang. Kamu kalau capek istirahat aja ya, jangan ke mana-mana. Besok minggu depan baru pulang, kan?”

“Iya, Yang”

“Jangan lupa makan, dadah Sayang, i love you”

“Iya, I love you too”

Dia memberikan ciuman jauh, kemudian panggilan ditutup. Marsha memang ada rencana untuk jalan2 ke pantai weekend ini, tak tanggung2, dia mau ke Gili di Lombok. Untuk ini aku sebenarnya agak tenang, karena dia akan pergi bersama teman2 cewek (yang sudah kukonfirmasikan juga dengan Sherry).

Perutku laper sekali. Maka aku pesan makanan online karena malas keluar. Sambil menunggu, untuk menghilangkan kantuk, aku pun browsing instagram dan melihat bahwa pacarku update story menjelang masuk pesawat. Kulihat mereka pergi berlima, cewek semua.

Selain pacarku, ada juga Sherry (jelas), dan tiga sisanya adalah teman2 sekelas mereka, yaitu Vanessa, Chintya, dan Wulan. Aku memang pernah bertemu dengan mereka beberapa kali, dan boleh dibilang ketiga cwe ini adalah sahabat terdekat Marsha setelah Sherry.

Tiba2 sebuah pesan muncul dari Marsha. Aku membukanya dan terkejut karena itu gambar dia dalam posisi topless berada di depan cermin kamar mandi sambil satu tangan membentuk tanda peace.

“Jangan kangen ini ya, Yang” *emotikon melet*

Damn! Sejak kapan dia jadi bitchy seperti ini?

Aku hanya tersenyum saja melihat benda kenyal favoritku itu (yang ntah sudah berapa cowo yang pernah menydotnya. Hiks…).

Aku lalu browsing ke forum IGO tempat pacarku pernah dishare fotonya. Penasaran sama foto-foto fotogafer itu. Sudah lama aku ga memantaunya. Sempat aku trauma untuk buka, tapi rasa penasaran mengalahkanku. Persetanlah apa yang terjadi.

Baru saja log in, tiba-tiba aku dengar suara motor penanda pesanan onlineku sudah sampai. Aku pun segera saja menuju ke pintu keluar untuk menyambut datangnya si pengisi perut.

“Pesanan buat Billy, ya Pak?” Tanyaku

“Wah, bukan tuh, pesanan buat Putri, alamatnya bener di sini ya mas?”

Hah? Putri? Siapa itu Putri? Tapi kalau dilihat alamatnya sih bener.

“Kayaknya nggak ada yang namanya Putri deh, Mas…”

“Apa salah ya?”

Tiba2 saja, dari dalam kosan, keluarlah dengan tergesa-gesa seorang cewek yang bening sempurna. Tubuhnya nggak setinggi Marsha, juga boobs-nya pun nggak segede Marsha, tapi kulitnya putih, mulus, dengan rambut bob-nya yang membuatnya tambah imut. Dia memakai hotpants dan kaus yang ketat, namun karena dadanya yang kecil, sehingga tidak terlalu nyeplak. Ini bentuk body yang belum pernah dijamah sepertinya.

“Atas nama Putri, ya Pak?”

“Iya, Neng. Neng-nya bener Putri?”

“Iya, Pak”

“Wah, koq masnya ini bilangnya nggak ada yang namanya Putri tadi”

Cewek yang bernama Putri ini kemudian menatapku, mengangguk sebentar dan tersenyum dengan manis sekali. Pada saat itulah ojol yang membawa pesanan makananku juga datang. Kami pun sama2 membayar dan menerima pesanan kami.

“Namanya Putri? Baru ya?”

“Eh, iya, A’, saya baru di sini, baru kemaren masuk”

“Oh pantesan”

“Aa’nya orang Bandung juga? Namanya siapa?” Dia menebak dari logat sundaku.

“Saya Billy, iya, orang Bandung, kamu kuliah apa kerja, Putri?”

“Kuliah, A’. Ini saya lagi penelitian di sini”

“Oh? Kampus apa?”

“Universitas Dago Atas, fakultas ilmu komunikasi”

“Lha, sama dong kita?”

“Oh, Aa’ lagi penelitian juga?”

“Iya, sama, tapi saya koq gak pernah liat kamu ya? Kamu diajar sama asdos siapa?”

“Asdos saya Teh Isma”

“Oh, beda kelas berarti, pantes”

“Masuk yuk, A’, panas di sini”

“Oh iya, duluan, Putri”

Putri berjalan di depanku saat masuk, dan ternyata dari belakang, walau tocil, bodinya cukup bahenol juga, apalagi pantatnya yang kencang. Nggak kalah ini kalau sama Marsha. Pantat yang bakalan kendor pada waktuny, kalau terlalu sering ditunggangi.

Dia ternyata masuk ke dalam pintu kamar di sebelahku. Wah, kebetulan sekali.

“Masih belum dibongkar2in barang2nya, Put?”

“Iya nih A’, belum, kemarin Putri baru datangnya sore, capek banget”

“Aku bantuin mau gak?”

“Ah, jangan A’, takut ngerepotin”

“Udah, nggak papa, namanya juga tetangga”

“Ya udah deh, kalau gitu Aa’ sekalian aja makan di sini, ntar Putri sediain air”

Hehehe, lumayan nih. Kami pun makan di dalam kamar Putri, walau Putri tidak mengizinkan pintunya ditutup. Selama makan itu kami berbicara panjang lebar hingga akhirnya aku tahu bahwa Putri itu sebenarnya 2 tingkat di bawahku, tapi berhubung dia bisa ambil SKS ekstra, maka dia bisa langsung ambil penelitian. Dia juga katanya sudah memiliki pacar yang ada di Bandung, tapi aku tidak menanyai siapa pacarnya.

Setelah makan, aku pun segera membantu merapikan barang2nya. Awalnya aku hanya membongkar barang2 selain pakaian, tapi saat Putri permisi ke kamar mandi, aku pun iseng memeriksa pakaiannya. Dari situ kuketahui bahwa ukuran behanya adalah 32A, sementara ukuran CD-nya hampir sama dengan Marsha, karena pinggulnya memang agak besar.

Dan waah, di balik pakaian itu ada beberapa celana dalam, tapi modelnya rata2 biasa, tidak ada yang terlalu seksi. Tidak kujelajahi lebih jauh karena takut Putri keluar dari kamar mandi dan memergokiku.

Saat membongkar barang lain itulah, aku menemukan sebuah bingkai foto. Di situ terlihat Putri yang sedang berpose mesra dengan pacarnya, bahkan si pacarnya itu tampak mencium pipi Putri. Tapi… Hei, bukankah ini si Ringgo??

“Put, ini pacar kamu?”

“Oh iya, A’, ini pacar Putri, namanya Aa’ Ringgo. Jangan dilihat2 A’, Putri malu”

“Cakep juga ya, pacar kamu”

“Iya lah A’, pasti”

Dalam hati aku ingin sekali berkata padanya bahwa pacarnya ini pernah menyusu pada pacarku. Tapi nanti saja, aku ingin tahu dulu mengenai si Putri ini.

“Aa’ udah punya pacar juga?”

“Udah, Put, namanya Marsha”

Aku pun memperlihatkan fotonya ke Putri.

“Oh ini ya, pernah Putri liat beberapa kali di kelasnya A’ Ringgo, temen sekelasnya kan yah?”

“Iya, bisa kebetulan gitu ya?”

“Iya, ini mah orangnya cantik pisan, Putri kadang takut kalau A’ Ringgo kesengsem ama dia. Tenang sekarang begitu tahu kalau ini pacarnya A’ Billy”

“Tenang? Koq bisa?”

“Ya tenang atuh, A’, kan udah pacaran, artinya udah gak bakal macem2 lagi, iya kan?”

Wah, ini bocah lugu amat ya? Yakin nih pacarnya si Ringgo beneran?? Bisa2nya dia dapet cewek selugu ini.

“Tapi cocok atuh kalau A’ Billy ama Kak Marsha, yang satu geulis pisan, satunya kasep pisan, jodoh ini mah”

“Beneran nih, A’ Billy cakep?”

“Cakep pakai banget banget. Misal Putri belum punya pacar sih mau kalau ama A’ Billy”

“Bener lho, mau ya?”

“Ih, A’ Billy ini apaan sih? Kan udah sama2 punya pacar juga”

“Ya, kali aja, Put”

Putri tidak menjawab, hanya seperti merajuk manja.

Hmm, hidup memang penuh misteri, begitu kata orang, tapi dalam hal ini sepertinya semesta memang sedang membantuku. Kalau memang takdirnya harus seperti itu, maka biarlah…

Setelah selesai makan dan membantu Putri merapikan kamarnya, aku pun meminta kontaknya, yang dia berikan dengan senang hati. Bahkan dia memintaku untuk mengantarnya mencari warung makan siang dan sore nanti.

Cukup sekian dulu obrolan terkait Putri. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku. Apakah aku mau menceritakan kalau ringgo selingkuh dengan pacarku? Ah nanti sajalah. Aku tiba-tiba keingat pacarku.

Aku segera kembali ke kamarku, dan setelah mengunci pintu, aku lalu browsing ke forum IGO yang tertunda tadi.

Bersambung