Cerita Sex New Chapter Part 60

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Tamat

Cerita Sex Dewasa New Chapter Part 60 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex New Chapter Part 59

HOME PART 2

“S A C R I F I C E”

Astaga Dee..? Aku syok melihat Dias,,, kulihat Dias berhenti meronta,, dia hanya diam dengan wajah yang pucat dengan air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya,, tubuhnya terlihat kaku dengan tatapan yang kosong.. dia terlihat pasrah karena usahanya menghentikan orang itu sia sia…

Seorang pria brengsek sudah siap menyatukan diri dengannya, akan menodai kesuciannya, sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya kalau kesuciannya akan direnggut oleh orang asing dengan cara kotor dan hina seperti itu,, aku bisa merasakan betapa hancurnya jiwa Dias sekarang ini,,

Aku tidak sanggup melihatnya,, kupejamkan mataku namun tidak bisa menahan air mata yang mengalir membasahi pipiku..

maafkan aku Dee,,

maafkan aku,,,,,

***

BBBBBBBRRRRRAAAAAAAAAKKKKKKKK….

Terdengar suara benturan yang sangat keras dari arah… entah dari mana asal suara itu, tapi terdengar begitu keras.. Orang yang akan memperkosa Dias juga terlihat kebingungan setelah mendengar suara itu, beberapa detik kemudian terdengar seperti suara kaca besar yang pecah berkeping keping diiringi suara deru mesin mobil.

Orang yang masih mencengkram Dias terlihat panik mendengar semua keributan itu, dia membatalkan apa yang akan dia lakukan kepada Dias kemudian dia bergegas berdiri memakai celanannya lalu keluar dari ruangan dengan tergesa gesa….

Aku : “Kamu gpp Dee,,,?” tanyaku pada Dias

Dias menangis menggelengkan kepalanya kearahku,,,,,Untuk sementara ini, Dias selamat dari pemerkosaan,,, beberapa detik kemudian terdengar suara gaduh dari luar ruangan, seperti teriakan beberapa orang.

Apa yang terjadi diluar sana ?

***

2 JAM SEBELUMNYA

(18:00 / 22 Jam Setelah Meta dan Dias Diculik)

——POV REGA——

Angel : “Rega,,kamu harus tau,, tempat itu berbahaya, kamu tidak akan kesana kan,,?”

Aku : “Apa maksudmu,,? Aku harus menyelamatkan mereka,,” ucapku pada Angel melalui sambungan telepon,, dia memberikan kabar kalau sudah mengetahui dimana lokasi Meta dan Dias disekap.

Angel : “kumohon Rega,,, Berjanjilah kepadaku kalau kamu tidak akan kesana,,,plisss..” dia masih terasa berat memberitahuku lokasinya karena tadi dia bilang tempat itu terlalu berbahaya untukku..

Aku : “Ohh Shit…. Angel cepat beritahu lokasinya,, sudah tidak ada waktu lagi,,,” bentakku kepadanya, lalu sambungan telepon terputus…

Semua yang berada didalam kamar hotel mendengar percakapanku dengan Angel. Rein, Resty dan Ressa menatapku…

Rein : “bagaimana…?” tanya Rein.. Tak beberapa lama ada pesan masuk dari Angel, dia mengirimkan lokasinya.

Aku : “aku mendapatkan lokasinya…” ucapku.. semua orang tampak sedkit lega.

Tak berselang lama tiba tiba gagang pintu kamar Hotel bergerak dengan kuat, seperti ada yang ingin membuka kamar dari luar secara paksa, kami semua sampai kaget dibuatnya. Untungnya pintu kamar terkunci, sehingga siapapun tidak bisa langsung masuk kedalam kamar,.. tapi siapa orang itu..?

Suasana menjadi tegang didalam kamar Hotel, Resty dengan cepat menarik adiknya menjauhi pintu kemudian mendekatiku yang sedang berdiri dekat tempat tidur,,, Rein memberi isyarat untuk tidak bersuara… kemudian dia berjalan perlahan mendekati pintu,,dia melihat siapa yang sangat ingin masuk kedalam kamar ini melalui lobang intip pintu yang biasa ada disetiap pintu kamar hotel atau apartemen..

Rein : “ohhh Shittt…” Rein mengumpat lalu dengan santai dia membuka pintu,, dan orang yang tadi ingin memaksa masuk ternyata adalah Adit.

Ressa : “Adiiitt…?”

Adit : “hmm? Kenapa kalian terlihat begitu tegang…?” ucap Adit serasa tanpa dosa,,,

Rein : “Kamu tidak lihat ada tombol bel didepan pintu,, hahh?,…” Rein langsung ngomel2 memarahi Adit…

Adit : “Sorrry,,sorry,,, sudah terbiasa kesini langsung masuk…lagipula, tumben banget dikunci,, , apa yang terjadi? maaf aku terlambat ,, tadi pagi Rega bilang keadaannya darurat dan menyuruhku segera kesini, , tapi aku tidak bisa datang pagi tadi karena masih di Singapore,,,, ”

Aku : “Enggak Dit,, kamu tepat waktu,,,, btw,ngapain kamu sering kesini,,?” tanyaku heran,,

Adit : “aaa,,anu….itu,,ehmm..” dia gelagapan menjawab pertanyaanku,,

Ressa : “ngapain lagi kalo gak ngapelin seseorang,, Kalau Adit kesini, pasti aku disuruh keluar, ke restoran lah, kolam renang lah,,, balik2 pintu kamar terkunci dari dalam,,, dan aku sering dengar,,,… emphhh,,emphhhh,,” Resty membungkam mulut Adiknya dengan tangannya,,,,

Heahhh..?

Resty : “jangan didengerin,,!! kita harus menyelematkan Meta kan Ga,,,?” ucap Resty,, mukanya memerah,,, begitu juga dengan Adit… aku berjalanmendekati Adit…

Aku : “Dit,,tidak ada waktu untuk menjelaskannya,,, tolong sekarang juga kamu bawa Ressa dan kakaknya pergi dari sini sejauh mungkin yang kamu bisa,,, dan tolong kamu jaga mereka sekuat tenaga… kamu bisa melakukannya..?” ucapku pada Aditt.. dia tampak kebingungan,,,

Adit : “ii,,ii,,yaa bisaa…”

Resty : “Loh,,loh,, tunggu dulu,, apa ini maksudnya,,,? Aku ingin membantu, aku tidak akan lari,,” ucap Resty setelah mendengar perintahku kepada Adit,, Dia mendekatiku,,

Rein : “Ress,,,,, benar yang dikatakan Rega,,, “ ucap Rein menyetujui maksudku,,

Rein : “Terlalu beresiko,,, Takutnya kamu dan Ressa juga diincar sama mereka,, atau malah mereka sudah berada didekat sini sedang menunggu kita lengah untuk bisa menangkapmu,,, dan jika kamu ikut tertangkap,, semua yang kita lakukan selama ini untuk menjauhkanmu dari orang itu akan sia sia…” lanjutnya meyakinkan Resty..

Resty : “Tapi Rein,,,,” Resty masih terlihat tidak setuju dengan rencanaku,, dia masih ingin membantu, karena dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Meta.

Ressa : “sudahlah kak,, tidak ada yang akan bisa kita lakukan,, jika kita ikut mereka, kita hanya akan merepotkan Rega dan kak Manda,, aku yakin kak Manda akan menghajar orang-orang itu.. ” ucap Ressa ikut meyakinkan kakaknya, disambut senyum oleh Rein…

Aku : “Aku tidak ingin membahayakan orang lain lagi Ress,,,” ucapku pada Resty,, dia langsung memelukku sambil terisak,,,

Resty : “berjanjilah kamu akan menyelamatkan Meta…” ucapnya dipelukanku…

Aku : “jangan khawatir, aku akan menyelamatkan dan membawa Meta kembali bersama kita…” ucapku kepadanya sambil mengusap punggungnya.

****

Semua sudah siap, Resty dan Ressa dikawal Adit akan pergi dari sini,, entah kemana Adit akan membawa mereka. Dia berjanji akan selalu memberikan kabar kepadaku,,, Resty dan Ressa memakai topi dan kacamata sebagai penyamaran untuk meninggalkan hotel ini, seperti tadi yang dibilang Rein… siapa tau ada orang orang jahat disekitar Hotel yang sedang mengincar Resty dan Ressa.

Ressa : “kalau cuman disuruh kabur,, gausah pake dikawal Adit juga kami bisa sendiri… malah kesenengan tuh dia deket Resty teruss..” celoteh Ressa sebelum meninggalkan kamar hotel.

Adit : “ahh,,, berisik lu,,,, ayo berangkat,,,,”

Resty melihatku sebelum keluar dari Hotel, aku tersenyum dan mengangguk kepadanya, kemudian mereka pergi….

Rein : “tinggal kita berdua,,, “ Ucap Rein mendekatiku…

Aku : “ya… berdua melawan segerombolan orang jahat..”

Rein : “kamu takut…?” tanya dia sambil kedua tangannya memegang pundakku…

Aku mengagguk,,

Aku : ”bagaimana tidak takut,,kita akan mendatangi sarang orang2 jahat, apalagi tadi Angel bilang kalau tempat itu berbahaya untuk kita.. meskipun sudah mendapatkan lokasinya, bagiku semuanya masih terasa gelap, aku tidak tau apa yang akan menanti kita disana, apa yang akan terjadi,, apakah Meta dan Dias masih baik baik saja..? pikiran pikiran jelek terus terusan berputar putar dikepalaku. Membuatku semakin gelisah..”

Rein : “wajar kalau kamu merasa seperti itu,,,tapi jangan khawatir, selama yang kita hadapi itu bukan setan,, aku akan menjagamu dan menghajar mereka semua…” ucapnya penuh semangat,,,

Rein, mendekatkan wajahnya kewajahku,, lalu dia mencium bibirku,, aku tidak mengira kalau dia akan menciumku,,, kusambut dan kubalas ciuman bibirnya yang basah.. kami berpagutan bibir beberapa detik,, tak lama, ciuman kami terlepas,,,kemudian dia tersenyum menatapku,,,

Rein : “siapa tau itu tadi ciuman terakhir kita…” ucapnya sambil membelai wajahku …

Astaga,,,

Aku : “Jangan bicara seperti itu,,,” ucapku kesal,

Rein : “kita juga harus memikirkan skenario terburuk kan Dek? Dan kita harus siap dengan segala resiko yang akan terjadi…” ucapnya,,, kali ini kulihat mata Rein sangat sayu,,,, entah kenapa aku merasa sore ini dia terlihat begitu cantik.

Aku : “Tidak ada yang akan terjadi, kita semua akan kembali dengan selamat,,,”

aku gak mau terjadi apa apa pada Rein,, meskipun aku tidak yakin dengan diriku sendiri, aku akan berusaha menjaga kakakku ini,,, aku gak mau kehilangan dia, atau Dias, atau Meta…. Pokoknya setelah malam ini,, semuanya akan kembali normal,, ya,,, harus,,,

Kudekap tubuh Rein, kali ini sangat erat… lalu kukecup keningnya..

Aku : “untuk keberuntungan,,,” ucapku… dia tersenyum mendengar ucapanku,,,

Rein : “yap, semoga ciumanmu membawa keberuntungan untuk kita.. atau kamu mau memberiku keberuntungan yang lain..? ” ucapnya nakal sambil melihat ranjang,,, gilak, sempet sempetnya…

Aku : “Reinnnn…..”

Rein : “haha bercanda,,, ayo berangkat,,bersama sama kita pasti akan membawa Meta dan Dias pulang…”

Aku mengangguk,,

Sebentar lagi,, bertahanlah Bee,,, Dee…. sebentar lagi kami akan datang,,

Beberapa saat kemudian kami pun berangkat menuju lokasi yang telah ditunjukkan Angel. Dan karena mobilku dirusak mereka,, kami berangkat kesana naik motorku yang semalam dibawa Rein kesini..

Rein : “Dek,, aku berharap inii tidak terjadi, TAPI, jika nanti disana terjadi suatu keadaan yang mengharuskan kamu memlih antara Dias atau Meta… aku harap kamu bisa jujur dengan hatimu,,,jangan sampai menyesal,,” ucap Rein dari belakang, Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Rein barusan, apa maksudnya?

Siapa yang harus kupilih? ,,, kenapa Rein malah membebaniku dengan pikiran seperti itu.,, sial,, jika memang terjadi, aku memilih keduanya untuk bisa selamat,,, Sudah cukup aku melihat orang orang yang kusayangi dibawa pergi, kali ini aku tidak akan diam saja,, , atau kalau memang diperlukan, aku yang akan mengorbankan diriku sendiri demi mereka berdua, atau demi Rein.

Dengan kecepatan tinggi motorku melaju dijalanan kota, meliuk liuk ditengah kemacetan dan overtaking beberapa pembalap lain, ehhm maksudku pengendara lain. Hehe.. Rein memeluk tubuhku sangat erat dari belakang. Kalau di film-film sih seharusnya inilah saatnya terdengar musik up beat di background sebagai pemanis adegan agar penonton bisa merasakan atmosfer-nya,, hiihihi.

***

Baru beberapa menit berjalan, disebuah jalanan yang sepi motor kami dihadang sebuah mobil sedan ditengah jalan dengan lampunya yang begitu menyilaukan mata, menyorot kearah kami., kuhentikann motorku,,, lalu ada seseorang yang keluar dari mobil itu.

Mengetahui siapa yang keluar dari dalam mobil, Rein bergegas turun dari motor dan menghampiri orang itu. Rein menarik baju orang itu dan membantingnya ke kap mobil…

Rein : “masih berani kamu menunjukkan wajahmu didepan kami,,? Hahh?”

Shittt,, aku tau Rein akan bereaksi seperti itu saat bertemu dengan Galih,, aku langsung menghampirinya dan menarik tubuhnya, sebelum dia bertindak lebih jauh.

Aku : “Aku yang menyuruhnya membantu kita Rein,,, kita tidak akan bisa menghadapi mereka sendirian,,,” ucapku menenangkan kakakku. Rein terlihat heran dengan pernyataanku.

Aku : “Tadi siang saat menunggu kabar dari Angel, tanpa sepengetahuanmu dan yang lain diam diam aku menghubunginya,, sebenarnya cukup berat bagiku meminta bantuan padanya, bagaimanapun juga dia yang telah membuat Alexa pergi,, tapi untuk menyelamatkan Meta dan Dias, kutinggalkan semua dendamku, egoku,, apalalagi sejak tau kalau polisi tidak akan membantu, kurasa kita perlu mencari bantuan lain….” Jelasku pada Rein

Dan Galih pasti bisa dan mau membantu kami, terlepas dia memang beneran berubah atau tidak,, aku tau dia peduli dengan Dias.

Galih : “Aku tidak melakukan ini karena kalian… Tanpa kalian minta,, aku tetap akan pergi menolong Dias….” ucapnya, masih dibawah cengkraman Rein.. kemudian Rein melepaskannya,,

Dengar Kan,,? Dia mempedulikan Dias… Meskipun Dias sudah bercerita kalau Galih tidak memaksa menikah dengannya, tapi aku yakin Siapapun orangnya, pasti akan baper jika terlalu lama dekat dengan Dias, termasuk Galih.

Selain wajahnya yang cantik, Dias selalu murah senyum dan ceria, ramah kepada siapapun dan penuh perhatian. Terbukti malam itu di café saat aku berkelahi dengan Galih,, terlihat sekali perhatian Dias kepada Galih saat tangannya terluka. Dias adalah tipe wanita yang mudah untuk disukai, tidak menutup kemungkinan Galih suka sama Dias.

Tapi Rein masih kelihatan tidak terima dengan keputusanku mengajak Galih,, dia menatap Galih dengan serius..

Aku : “Bisa kita berangkat sekarang..? ada dua wanita yang harus segera kita selamatkan,,,,”

Rein : “kamu harusnya memberitahuku,,,” ucap Rein dengan wajah yang jutek banget saat dia berjalan melewatiku menuju motor. Siall,, dia masih marah…

Galih : “tunggu,, ada yang ingin kukatakan kepada kalian,,, “ cegah Galih… aku dan Rein reflek membalikkan badan lagi menghadap Galih.

Galih : “jika memang ini semua perbuatan Danu Wicaksono pengusaha itu,, aku ingin kalian tau kalau dulu aku menawarkan Ressa kepada orang itu,,”

Hahh?… Aku syok mendengar pengakuan Galih, jadi Dulu yang akan membeli perawannya Ressa itu Danu? Dan Galih sudah mengenal orang itu sejak dulu…? Pengakuan Galih seketika membuka kembali luka lama dalam diriku dan Rein,,

Galih : “ketika Ressa tidak jadi datang, Danu marah, merasa kupermainkan karena dia sudah mengeluarkan uang, itu sebabnya saat itu sepulang sekolah aku memaksa membawa Ressa ke orang itu, karena dia mengancam hidupku jika aku tidak membawa Ressa kepadanya…. hingga akhirnya terjadi perkelahian denganmu Amanda,, dan setelah itu…. ”

Setelah itu dia dendam kepada Rein karena kalah berkelahi dan gagal membawa Ressa,, sampai akhirnya Alexa……

Galih : “Sorry…..”

Rein : “kamu pikir cukup hanya dengan meminta maaf..??” emosi Rein kembali terpancing mendengar pengakuan Galih.. dia berusaha mendekati Galih lagi,, tapi kupegang lengannya..

Aku : “udah Rein,, udah,, bukan saatnya menyesali masa lalu kan? lampiaskan emosimu ditempat lain,,,,”

Rein : “FFFUUUCKKKKKK….” Teriaknya,,,lalu berjalan menuju motor…

Setelah sedikit ketegangan yang terjadi antara Rein dan Galih yang menyebabkan perjalanan kami delay beberapa saat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali, mobilnya Galih mengikuti motorku dari belakang menuju tempat itu,, menurut alamat yang diberikan oleh Angel, lokasinya berada cukup dekat dengan pelabuhan.

***

Dan kami sudah disini..

Rein : “Disini..?”

Aku : “sesuai lokasi yang ditunjukkan Angel, memang disini tempatnya,,,” jawabku… tapi, Galih kok belum sampai? Nyasar atau aku tadi terlalu cepat memacu motorku.. segera kukirimkan kepadanya lokasi ini melalui pesan.

Aku : “tempat apa ini..? sepi banget…” ucapku sambil melihat sekeliling,,,

Tepat dibelakang gedung tua ini sudah terbentang lautan yang sangat luas, seharusnya lokasi gedung ini masih dalam kawasan pelabuhan kota. Pagar seng berkarat tingginya sekitar 3 meter mengelilingi tempat ini, ciri khas gedung gedung yang yang sudah tidak terpakai. Terdapat papan besar bertuliskan ‘Ðilarang Masuk’.

Bau amis khas air laut sangat terasa menusuk hidungku. Bangunan panjang yang bagian tengahnya agak tinggi, jendela dantemboknya sudah banyak rusak dan dipalang kayu di beberapa bagian. Kenapa bangunan seperti ini tidak dirbohkan saja ya?

Rein : “Sepertinya tempat ini dulunya semacam terminal kapal kapal besar,,”

Aku : “Hmmm,,? Terminal? Bukannya terminal itu untuk bus ya,,?”

Rein : “Deekk,, Please…”

Aku : “hmm? Apa? Apa? Aku kan gak pernah naik kapal Rein…”

Rein : “bodo amat…”

Hadeeeh, serius aku gak tau.. terminal kapal? Eh,,di bandara juga ada terminal sih,, hihi,, ahh kenapa jadi mikirin terminal sih…

Beberapa saat kemudian angin laut sangat kencang menabrak tubuh kami berdua. Seketika perasaanku menjadi tidak menentu, rasanya angin tadi membawa firasat kalau sesuatu yang buruk akan terjadi atau sudah terjadi.

Membuatku semakin cemas dan reflek melihat ke gedung tua itu, apa yang telah terjadi didalam sana? Atau apa yang akan terjadi,,? aku harus segera masuk ke gedung itu.. gedung yang diselimuti oleh kegelapan karena minim penerangan.

Aku berjalan menuju pagar seng itu bermaksud untuk langsung masuk kedalam, tapi dengan cepat Rein menarik jaketku…

Rein : “mau kemana..?”

Aku : “Masuk,, Kita harus cepat cepat menyelamatkan Meta dan Dias kan Rein..? mereka berdua tidak akan bertahan terlalu lama lagi..” aneh kenapa dia malah menahanku…

Rein : “Rega,, Aku tau kamu ingin buru buru menyelamatkan Meta dan Dias,, tapi, kita harus memikirkan apa yang akan kita lakukan terlebih dahulu,, ingatlah, didalam gedung itu kita akan menghadapi orang orang yang menculik Meta dan Dias,,”

Kulihat sekali lagi gedung tua itu,, bertahanlah kalian berdua,,, bertahanlah,,, angin kencang kembali menabrak tubuh kami berdua.

Rein : “Deeek,,? Kamu kok jadi pucat gini,,? Kamu kenapa..?” Ucapnya sambil memegang wajahku,,

Aku : “Aku gpp,, apa yang harus kita lakukan..?” tanyaku padanya.. cukup lama Rein menjawab pertanyaanku,, dia tidak berhenti menatap wajahku yang katanya berubah pucat. Akhirnya dia bersuara..

Rein : “kita masuk diam diam melewati celah pagar seng itu,,,, lihat!! Tidak ada seorangpun diluar gedung yang menjaga,, menurutku mereka tidak menyangka kalau kita akan datang secepat ini atau memang mereka kekurangan orang sehingga tidak ada yang menjaga,,, setelah masuk halaman, kita lihat seperti apa situasinya didalam gedung,,

kalau beruntung, kita bisa langsung menemukan lokasi dimana Meta dan Dias berada,, apabila memungkinkan, kita tunggu sampai larut malam saat semua orang orang itu tertidur dan saat mereka lengah ,,kita lepaskan Meta dan Dias secara diam2… karena menurutku lebih baik jika kita tidak ada kontak fisik dengan mereka,,,, gimana menurutmu..?”

Aku : “ehmm,, Aku ngikut kamu aja,,..”

Rein : “yauda ayo masuk sekarang,, beneran kamu gpp..?” tanya dia serius,,

Aku : “Gpp Rein,, eh tapi gak mau nungguin Galih dulu,,,?”

Rein : “Kelamaan,, katanya kamu mau cepat cepat menolong Meta dan Dias? kita lihat sekeliling gedung aja dulu,,, nanti biar dia menyusul…”

Aku dan Rein berjalan perlahan menuju salah satu celah pagar seng yang terbuka, karena celah pagar seng yang sempit, kami harus sedikit memaksa membuka selembar pagar seng itu agar bisa dilewati.

Kami membukanya dengan sangat perlahan dan hati2 karena suara yang ditimbulkan pagar seng itu waktu dibuka sangatlah berisik, takutnya orang orang yang ada didalam gedung tau kedatangan kami, jadi kami membukanya dengan halus, meminimalkan suara yang timbul.

Saat pagar seng itu sudah terbuka cukup lebar, akhirnya kami bisa masuk kedalam halaman gedung.. tidak ada apa apa dihalaman, tak kalah sunyi dengan suasana diluar halaman hanya terdengar suara air laut yang menabrak daratan,,aku semakin merinding karena hembusan angin laut dan minimnya penerangan.

Dihalaman gedung Aku tidak melihat mobil van yang membawa Meta dan Dias semalam, apa benar disini tempatnya..? aneh, padahal gedung ini sudah tidak terpakai, tapi sepertinya ada orang di dalam karena aku melihat beberapa cahaya lampu yang menyala di dalam gedung,,

Sesuai rencana yang sudah dijelaskan Rein, setelah berhasil masuk kedalam halaman gedung, kini saatnya kami untuk menyebrangi halaman gedung agar bisa melihat situasi didalam gedung. Rein memberi isyarat untuk terus berjalan diatas halaman gedung yang beraspal mendekati gedung,, aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang .

Rein : “jika ingin berhasil menyelinap kedalam, kita harus Pelan-pelan dan jangan berisik, jangan sampai ketahuan mereka,,,” bisiknya,,,

Masih berjalan beberapa langkah, aku mendengar suara mobil yang berjalan kencang dari luar halaman gedung,,,, dan tiba tiba

BBBBBBBRRRRRAAAAAAAAAKKKKKKKK….

Rein : “Oohhh sshiittt…”

Rencana menyelinap kedalam gedung dengan diam diam pupus setelah Galih menabrakkan mobilnya ke pagar seng itu, seketika pagar seng itu berjatuhan dan menimbulkan suara keributan yang keras saat terjatuh ke tanah.

Setelah menabrak pagar pagar seng itu, mobilnya Galih masih tidak berhenti,, mobil itu masih melaju lurus mendekati gedung dengan kecepatan yang masih sangat tinggi, dan baru saja mobil itu menerobos masuk ke dalam gedung setelah menabrak dinding kaca yang mengelilingi bagian depan Gedung. Dari tempatklu berdiri aku bisa melihat akhirnya mobilnya Galih berhenti setelah menabrak bagian bawah sebuah eskalator.

Rein : “ahh sialan ,, bodohnya dia masuk dengan cara seperti itu,,,,,” Rein terlihat kesal dengan perbuatan Galih..

Aku : “Apa dia gpp..?” tanyaku,, belum ada tanda tanda Galih keluar dari dalam mobilnya yang bagian depannya sudah hancur dan mengeluarkan asap setelah beberapa kali menabrak.

Saat aku dan Rein masih syok dengan aksi Galih, kami berdua mendengar teriakan beberapa orang dari dalam gedung.. gawat,, pikirku,, Kulihat Galih sudah keluar dari mobilnya, dia masih selamat setelah tabrakan terakhir yang begitu keras.. lalu tiba tiba terdengar suara letusan senjata api dari dalam gedung, yang kemudian diikuti suara letusan yang lain,,,

aku dan Rein langsung panik dan dia reflek menarik tanganku untuk bersembunyi dibalik sebuah pos kecil yang mungkin dulunya digunakan sebagai pos security tempat ini. suara tembakan masih terdengar beberapa kali,, kemudian berhenti,,,,

Aku dan Rein mengintip apa yang terjadi didalam gedung,, aku bisa melihat Galih melindungi dirinya sendiri dibelakang mobilnya dari tembakan yang mengarah kepada dirinya. Kemudian aku melihat beberapa orang menghampiri mobilnya Galih, 1,2,3,4,5,6,7,, dengan jelas aku bisa melihat 7 orang lain disana sedang menghampiri Galih.. dua diantaranya membawa senjata api dan yang lainnya membawa tongkat baseball dan kayu ditangan mereka.

Aku dan Rein masih bersembunyi di kegelapan, masih tetap menunggu sambil melihat situasi didalam gedung,,, orang orang itu semakin dekat dengan Galih. Kemudian aku berdiri bermaksud membantu Galih,, tapi lagi lagi Rein menahanku,,

Aku : “Kenapa lagi sih Rein,,,?”

Rein : “Kamu cari Meta dan Dias lewat belakang gedung,, biar aku yang membantu Galih,,, kalau kamu sudah menemukan mereka,segera bawa mereka berdua pergi dari sini,,,” ucapnya,,,

Aku : “Tapi Rein bagaimana denganmu,,?” aku setengah tidak setuju dengan apa yang dia katakan, bagaimana aku bisa meninggalkan dia..?

Rein : “Deek,, percaya aku, oke..?”

Aku menggelengkan kepalaku,,, aku tidak akan meninggalkannya..

Rein : “Dek,, ini satu satunya kesempatan kita untuk bisa mengeluarkan Meta dan Dias tanpa ketahuan mereka…”ucapnya memaksa,,

Aku : “Fucckkkk….. Berhati hatilah,,,”

Rein : “Iya kamu juga,,, kalau kamu ketemu salah satu dari orang orang itu,, jangan melawan,,, tunggu situasinya aman,,, mengerti..?”

Aku mengangguk,,

Rein : “Baguss,, “ ucapnya, lalu dia berdiri dan berjalan menghampiri Galih yang sedang dikepung orang orang itu…

Aku jadi khawatir dengan Rein,, tidak, aku harus percaya dengannya,, aku akan melakukan yang diperintah Rein,, aku akan mencari Meta dan Dias,, secepat mungkin… agar bisa membawa mereka pergi dari sini, kemudian membantu Rein dan Galih.

Sambil tetap berhati hati, aku berlari menuju samping gedung,, mencari pintu masuk lain agar bisa masuk kedalam gedung tanpa sepengetahuan orang orang itu. Dalam pencarianku, Aku bertemu dengan tiga pintu disamping gedung, namun pintu pintu itu tidak ada yang bisa dibuka alias terkunci.

Kemudian aku kembali berjalan cepat dengan tergesa gesa mencoba mencari pintu yang lain,, dari kejauhan aku melihat sebuah pintu lain tepat diujung samping gedung yang belakangnya adalah lautan luas. Segera aku berlari menuju pintu tersebut, namun lagi lagi pintunya tidak bisa dibuka,, Sial..,

Apa harus kudobrak saja pintu ini? Tapi bagaiamana jika orang orang itu tau? Fuckkkk…..

Dalam kebingunganku, aku melihat sebuah pintu lain.. lebih tepatnya aku melihat pintu lain diatas kepalaku. Setelah kulihat lebih keatas lagi, aku melihat ada 3 pintu lain diatas pintu yang tadi kulihat.. pintu pintu itu saling terhubung oleh tangga besi yang melingkar setinggi gedung ini.

Memang setiap gedung bertingkat harus memiliki tangga darurat untuk jaga jaga apabila terjadi kebakaran atau sebagianya, apalagi gedung ini dulunya adalah salah satu fasilitas publik, tangga darurat seperti ini wajib terpasang. Aku langsung berlari menaiki setiap anak tangga sambil berharap beberapa pintu itu ada yang bisa dibuka dan aku bisa segera masuk kedalam untuk mencari Meta dan Dias.

Saat sudah sampai ditingkat pertama, langsung kucoba membuka pintu dihadapanku dan ternyata bisa langsung dibuka. Yesss… didalam gedung suasananya begitu gelap, aku hanya bisa meraba raba dinding untuk melangkah.

Bagaiamana aku bisa mencari Meta dan Dias dikegelapan seperti ini? Untuk jalan aja susah..

Tiba tiba terdengar suara tembakan dari arah loby gedung mengagetkan langkahku. Kemudian diikuti suara tembakan yang lainnya,,, Suara tembakan terdengar makin banyak dan aku bisa mendengar orang orang berteriak, benar benar seperti sedang terjadi perang. Kemudian aku menyadari sesuatu,,

Aku : “astaga,, Rein,,?”

Teringat akan kakakku yang berada di tempat yang sama dengan asal suara tembakan itu aku langsung berlari menuju asal suara itu, tak peduli dengan gelapnya suasana didalam gedung aku terus berlari sampai bertemu dengan sebuah pintu yang dibaliknya adalah ruang utama yang begitu luas di lantai ini., ternyata di dalam gedung ini bangunannya seperti sebuah Mall.

aku juga melihat beberapa tangga eskalator mati menuju ke lantai atas ataupun menuju lantai bawah. Kulihat sekeliling tidak ada orang, takut terjadi apa apa pada Rein aku bergegas mendekati tangga eskalator itu untuk melihat keadaan di lantai bawah, seharusnya tepat dibawah tangga eskalator itu adalah tempat tadi Galih menabrakkan mobilnya.

Aku mengintip dibawah pegangan serambi atau balkon sebelah eskalator untuk melihat keadaan di lantai bawah. Ternyata yang kutakutkan benar benar salah, aku tidak tau apa yang terjadi dengan suara tembakan tadi tapi kini aku melihat dua orang dari gerombolan penculik itu terkapar dilantai, yang satu tampak kesakitan memegangi perutnya, yang satu berteriak kesakitan memegangi kakinya. Sekarang tinggal tersisa 5 orang yang berdiri dihadapan Rein dan Galih.. Aku juga melihat dua pucuk senjata api tergeletak di lantai,, hmm? Mungkin peluru mereka sudah habis?

Sudah pasti berikutnya yang terjadi adalah kelima orang itu menyerang Rein dan Galih secara bersamaan, mereka berkelahi dengan sengit. Rein dan Galih diserang orang orang itu menggunakan tongkat baseball dan kayu tapi mereka berdua bisa menghindarinya malahan orang orang itu terpental karena terkena bogem mentah tangannya Galih dan tendangan mautnya Rein..

Gilaaaakk,, kenapa kemarin waktu Galih kuhajar habis habisan sampai wajahnya babak belur, dia sama sekali tidak menghindar atau membalasku yah? Padahal saat itu seharusnya aku yang babak belur ,,,, Entahlah, yang terpenting saat ini sepertinya orang orang itu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Rein dan Galih, dengan begini aku yakin kami bisa membawa pulang Dias dan Meta..

Oh Shitt, oiya aku harus mencari Dias dan Meta. Ehmm,, ntar aja deh. Nanti kami bisa mencarinya bersama sama setelah Rein dan Galih mengalahkan orang orang itu.. hehehe. Aku masih menikmati tontonan seru perkelahian dibawah,, meskipun Rein dan Galih sudah beberapa kali menghajar orang orang itu, sepertinya orang orang itu tidak mau menyerah begitu saja,, mereka masih bangkit lagi,, dan ,

oh tidakkk,,,,

Dua orang yang terkapar pertama kali tadi bangun dan memegang Galih yang sedang lengah,, kemudian mereka membanting tubuh Galih ke lantai, dua orang lain mendatangi Galih,,, tak ayal tubuhnya Galih yang terjatuh langsung menjadi sasaran orang orang itu,, Galih dipukul wajahnya dan ditendang tubuhnya oleh orang orang itu secara brutal,,

BAGH!! BUGH!! BAGH!! BUGH!!

Rein tidak sempat menolong Galih karena dia sedang sibuk berkelahi dengan tiga orang lain.. Galih Terlihat kesakitan dan lemas tak berdaya setelah mendapat pukulan bertubi tubi.. Kemudian dengan tubuh yang masih terkulai, Galih dipaksa untuk berdiri,, seseorang memegang tubuhnya dari belakang,, kemudian satu orang lain bersiap melancarkan pukulannya.

Rein yang sudah berhasil melumpuhkan lawan lawannya, langsung berlari menyerang orang yang akan memukul Galih,, tubuh orang itu langsung terdorong kelantai kemudian Rein tak kalah brutal memukul wajah orang itu beberapa kali.

Melihat temannya sedang dihajar Rein, satu orang yang lain mendekap tubuh Rein dari belakang dan memaksanya berdiri, walaupun masih berontak tapi Rein tidak bisa berkutik karena kedua tangannya terkunci.. Satu orang lain dari depan sudah bersiap dengan tinjunya,, namun sebelum orang itu mendaratkan pukulannya, Rein bisa menyerang orang itu dengan kakinya yang masih terbebas, orang itu langsung merasa kesakitan di selangkangannya..

…… : “ANNJJEENGGGGG…”Umpatnya,,,

Kemudian Rein juga berhasil meloloskan diri dari orang yang mendekapnya lalu dia mencengkram baju orang itu kemudian menabrakkan tubuh orang itu ke eskalator sampai orang itu tidak sadarkan diri. Saat satu orang berlari mendekati Rein, dengan cepat Rein menendang perut orang itu sampai terpental jauh.

Semua orang terkapar tak berdaya termasuk Galih, Hanya Rein yang masih berdiri tegak diantara pria pria itu. Gilaak, ilmu bela diri Rein atau pencak silat atau apapun itu namanya semakin hebat. Tapi kulihat dia sudah sangat kelelahan… Rein berjalalan lemas mendekati Galih yang masih kesakitan,, Pikirku, sepertinya sudah aman bagiku untuk turun..

Ketika aku berdiri dan akan menuruni eskalator tiba tiba datang 3 orang lain dari depan gedung, dua orang berkepala botak dan seorang yang lain adalah pria dengan tato ular dilengannya,, aku mengingat orang itu semalam ada di taman dan memukulku.

Kuurangkan niatku untuk turun dan kembali menyembunyikan diri,,, Mereka bertiga tampak terheran heran melihat teman temannya terkapar kesakitan di lantai, mungkin yang ada dipikiran mereka bagaiamana mungkin teman temannya bisa dikalahkan oleh seorang wanita sexy nan cantik.,

Dua orang berkepala botak dengan sigap bersiap menyerang Rein tapi dicegah oleh orang dengan tato ular itu,

KillBill : “tunggu,, biar aku yang menghadapinnya…” ucapnya sambil berjalan santai ke arah Rein.

Rein sudah siap dengan kuda kudanya,

KillBill : “Heii cantik,, lumayan juga kamu ya, bisa mengalahkan orang orangku,, bagaimana kalau kamu menjadi istriku.? Aku paling suka dan bergairah dengan wanita tangguh sepertimu,,,”

Rein : “Maaf mengecewakanmu, tapi seseorang sudah melamarku,….”

Eh..? siapa..?

KillBill : “Ohhh baiklah tidak masalah, mengeluarkan darah dari tubuh indahmu lebih bisa membuatku orgasme.. hahha,,” ucapnya sambil mengeluarkan pisau dari belakang tubuhnya. Pisau? Jika dikatakan pisau tapi kok panjang,, tapi jika dikatakan pedang tapi pendek,, panjangnya sekitar 30 sampai 40 cm..

KillBill : “Sayang sekali kamu tidak sempat mengucapkan salam perpisahan pada pria itu… karena malam ini kamu akan mati ditanganku..” ucapnya dengan penuh percaya diri.

Lalu dengan sekejap dia berlari dan sudah tepat dihadapan Rein yang kemudian mengayunkan pisau itu ketubuh Rein, namun Rein berhasil menghindarinya. Aksi pertarungan tingkat tinggi diperagakan keduanya, Pergerakan orang itu sangatlah cepat dan lincah dalam menggunakan pisaunya, beberapa kali Rein hampir terkena sabetan pisau itu.

Melihat hal itu membuatku sangat tegang, tatkala tajamnya pisau itu hampir mengenai tubuhnya Rein, dia hampir kewalahan menghadapi orang itu, apalagi dia sudah kelihatan sangat lelah,..

Saat ini Rein sedang terdesak, dia terus terusan dipaksa menghindari sabetan pisau itu tanpa ada kesempatan untuk menyerang balik. Tapi tak lama Rein mendapatkan kesempatan itu, ketika orang itu meyabetkan pisaunya,, tangan kiri Rein berhasil memegang pergelangan tangan orang itu yang sedang mengayunkan pisau.

Rein tak menyia nyiakan kesempatan itu dengan meluncurkan bogemnya ke arah wajah orang itu, namun gagal karena gantian tangan kiri orang itu mencengkram tangannya Rein.

KillBIll : “Hahahaa,,menyerahlah sayang… aku sudah mempelajari semua gerakanmu..”

Rein : “Oh Yah,,? Apa kamu sudah mempelajari ini,,?,” ucap Rein sambil menendang perut orang itu dengan kakinya..

Orang itu sedikit tersentak kebelakang, lalu Rein dengan cepat melakukan pukulan uppercut dengan sangat keras ke arah rahang orang itu sampai dia tersenpental dan pisaunya terlepas dari tangannya.

Yeahhh,,, itu baru kakakku,,,,

Orang itu masih bisa bangkit walaupun kelihatan goyah, tubuhnya seperti tidak seimbang setelah mendapatkan pukulan yang sangat keras dari Rein tadi. Rein mendekati orang itu,, Orang itu mencoba mendaratkan tinjunya tapi Rein berhasil menunduk, kemudian dengan gerakan yang lincah Rein meninju bagian perut orang itu sampai orang itu terpental lagi, orang itu semakin terlihat tak berdaya.

Rein mendekati orang itu lagi bermaksud mengakhiri pertarungan dengan tendangannya, tapi Rein tidak menyadari jika orang itu masih bisa melawan,, Orang itu menahan tendangan kaki Rein dengan kedua tangannya,, Rein menjadi tidak seimbang lalu orang itu mendorong tubuh Rein sampai dia terjatuh kebelakang. Dengan cepat orang itu berdiri lalu menendang perut Rein yang sedang mencoba berdiri..

BUUGHHHH!!

Rein : “Aaaakhhhh…” Rein langsung teriak kesakitan setelah mendapatkan tendangan yang begitu kuat di perutnya..

Ohh Tidakkk…Reinnn?

Rein masih merintih kesakitan memegangi perutnya, dengan sisa sisa kekuatannya dia mencoba berdiri,, karena dia tau jika dia terus terusan barada dibawah dia akan mudah untuk diserang. Tapi tetap saja tidak artinya,,, Ketika Rein berdiri, orang itu memukul wajah Rein beberapa kali, Rein semakin tidak berdaya,dia terjatuh lagi… kulihat darah di sudut bibirnya,,,

Tapi dia masih tidak mau menyerah,, lagi lagi Rein mencoba berdiri,

KillBill : “Masih kuat berdiri kamu yahh,,,”

Dengan sedikit berlari Rein menyerang orang itu dan bersiap memukul wajah orang itu tapi orang itu dengan cepat berhasil menghindar kebelakang tubuh Rein, lalu kemudian,, astaga…. Dengan cepat Orang itu mengambil pisaunya yang tadi terjatuh kemudian pisau itu digunakannya untuk menyayat betis kaki Rein. Tak ayal Rein langsung terjatuh….

Rein : “Akhhhhhhhhh,,” Rein kesakitan memegangi kakinya yang berdarah….

Oh Tidak.. Reinn,, aku harus melakukan sesuatu

KillBIll : “kamu tidak akan bisa berdiri lagi,, “ ucapnya sambil mendekati Rein…

KillBill : “kuakui kamu lawan yang sangat kuat,,, tapi sayang kamu harus mati ditanganku,,,,” ucapnya bersiap mengayunkan pisaunya ke arah tubuh Rein…

***

PPRAAAAAKKKK!!!!

Setelah berlari dan melompat lompat di tangga eskalator itu, aku berhasil memukul orang itu dengan kayu yang tadi kutemukan diatas,,, orang itu merasakan sakit dipunggungnya… tapi dia masih bisa berdiri.. sial,, lemah banget pukulanku…

KillBIlll : “ANJEENGGG,,,” umpatnya sambil melihat kebelakang ke arahku,,,

Dengan penuh amarah orang itu beberapa kali mengayunkan pisaunya ke arahku tapi untungnya aku selalu bisa menghindarinya namun pada saat aku menghindarinya lagi, tubuhku tidak seimbang dan terjatuh,, Orang itu kemudian menendangku beberpa kali di bagian perutku,,,

BUGH!! BUGH!! BUGH!! BUGH!!

Rein : “Regaaaa…….”

Sakit sekali rasanya,, tidak cukup sampai disitu,, lagi lagi orang itu menendang perutku lagi,,, sampai aku lemah tak berdaya…

BUGH!! BUGH!!

Dua orang kepala Botak tadi mengangkat tubuhku yang lemas, memaksaku berdiri lagi,, dan kemudian tubuhku dijadikan ‘samsak hidup’ oleh orang bertato ular itu,,, seluruh bagian depan tubuhku tak luput dari bogem mentah tangan orang itu..

BAGH! BUGH! BAGH! BUGH! BAGH! BUGH!

Rein : “Hentikaaan,,,” Teriak Rein,, dia sekuat tenaga mencoba berdiri tetapi tidak bisa karena kakinya yang terluka,,,,

Dan satu pukulan terakhir diwajahku membuatku jatuh kebelakang dekat dengan Rein. Tubuhku sangat lemas dengan rasa sakit dibeberapa bagian tubuhku,,, pandangan mataku sampai memudar, kepalaku pusing banget.

KillBill : “Ternyata kamu, bocah yang membuat Danu ketakutan ternyata sangat lemah… harusnya kamu malu dengan wanita disebelahmu,,”

KillBill : “Sialan,,, karena kedatangan kalian kesini rencanaku jadi berantakan semua,,, ANJENGG,, tidak ada pilihan lain selain menghabisi kalian bertiga dan kedua wanita diatas sesuai perintah Danu meskipun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan,,,”

Kedua wanita? Maksudnya Meta dan Dias,,? Jadi mereka masih baik baik saja? Dan apa maksud dari perkataannya tentang keinginan Danu,,? Apakah Danu masih menginkan Resty dan Ressa? Atau dia menginginkan hal lain..?

Orang bertato ular itu mendatangiku, pisau ditangannya diarahkan kearahku,,,

Rein : “Dek,, cepat pergi dari sini..” ucap Rein disebelahku yang masih kesakitan memegangi kakinya yang berdarah,,,

Hah?

Setengah sadar, Aku melihat semua Orang orang yang tadi berkelahi dengan Rein dan Galih sudah mulai berdiri lagi,, keadaanku sangat payah, tapi meskipun babak belur seperti ini semestinya aku masih bisa berusaha lari,,

Deg Deg

Tapi Haruskah aku pergi? Lari dari masalahku lagi…? Meninggalkan Rein, Meta, Dias bahkan Galih.. dan membiarkan mereka semua menanggung akibatnya?

Deg Deg

KillBill : “Sesuai permintaan Danu, harusnya kamu ada di urutan terkahir orang yang harus kuhabisi,, tapi karena kamu sudah menggagalkan rencanaku,, kamu akan jadi yang pertama…” Ucap orang itu saat sudah berdiri dihadapan tubuhku yang masih terkulai dilantai.. Dan dia sudah siap mengayunkan pisau itu ketubuhku,,

Rein : “REGAAAA LLAAARRIIII…”

Tidak Rein, aku tidak akan lari lagi… sudah terlalu sering aku lari dari masalahku,, inilah saatnya bagiku untuk menghadapinya. Kupejamkan mataku,,,

Rein : “REEGAAAA….”

Kemudian Segalanya terdengar begitu sunyi, aku hanya bisa mendengar degup suara jantungku..

Deg Deg

Deg Deg

Deg..

Deg..

Tiba tiba kurasakan seseorang memelukku dari depan, kubuka kembali kedua mataku,,, yang kulihat adalah wajahnya Rein yang sayu,,,

No No,, No,,, Rein?

Dia memelukku tepat sebelum orang dengan tato ular itu menghunuskan pisau panjangnya ke tubuhku,, Rein menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungiku,,,

Please Rein jangan lakukan ini kepadaku,,,

Kenapa Rein? Kenapa kamu selalu berkorban untukku?

Ternyata aku masih lemah, kenapa aku terlahir menjadi orang yang sangat lemah? Lelaki lemah yang tidak bisa melindungi orang orang disekitarnya, Bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dan harus orang lain yang selalu berkorban untuk melindungiku.,,,

Rein menatap wajahku, kemudian tersenyum.

Tetes demi tetes Darah segar jatuh berceceran di lantai setelah sebuah pisau panjang menancap kokoh di tubuh manusia.

“GGGAAAAALIIIHHHHHHHH…….”

Aku mendengar suara teriakan wanita yang kukenal dari atas, dan itu suaranya Dias,,, reflek aku menoleh keatas,, aku bisa melihat di lantai tiga, Dias dan Meta sedang didekap masing masing oleh seseorang dibelakang tubuhnya sedang menghadap ke lantai bawah,,

astaga,, Apa yang sudah mereka lakukan pada Dias? Aku jelas bisa melihat pakaian Dias terbuka bagian depannya,,, Dias masih menangis dan menjerit sedih melihat Galih tertusuk pisau orang bertato itu.

Ya,, Galih mengorbankan dirinya untukku dan Rein,, tiga perempat pisau orang itu menancap di dada Galih,, lalu pisau itu ditarik lagi oleh empunya, tak lama tubuh Galih langsung terkulai di lantai.

KillBill : “AAHHHH,, SIALAANNN,,, HABISI MEREKAAAA..” perintah Danu kepada kedua orang berkepala botak yang tadi datang bersamanya,,,

Kedua orang botak itu mengangguk dan mengeluarkan senjata api dari balik baju mereka, dan salah satu dari mereka sebut saja ‘botak 1’ berjalan cepat mendekatiku dan Rein yang masih memelukku. Kepanikan kembali terjadi lagi saat Meta dan Dias berteriak teriak melihat ‘botak 1’ mengacungkan senjata api kearahku dan Rein.

Dan saat ‘botak 1’ sudah bersiap menembakkan senjatanya,, entah datang dari mana tiba tiba seseorang berpakaian serba hitam dan memakai topi dan masker yang juga hitam menutupi sebagaian wajahnya berlari cepat ke arah ‘botak 1’ dan menendang tangannya sehingga senjata api itu meletus ke arah yang berbeda.

Lalu dengan cepat dia menendang pergelangan kaki ‘botak 1’ hingga terjatuh. Lalu Orang berpakaian hitam itu merebut senjata ‘botak 1’ dan mengunci tubuh ‘botak 1’ dengan lututnya kemudian mengarahkan senjata yang tadi dia rebut ke kepala ‘botak 1’.

Melihat temannya sedang kesulitam, ‘botak 2’ mengarahkan senjatanya namun dengan cepat orang berpakaian hitam itu menembakkan senjatanya tepat di tangan ‘botak 2’ hingga senjatanya jatuh dan orang berpakaian hitam itu mengarahkan senjata yang masih dia pegang ke kepala ‘botak 1’ lagi.

…… : “Informasi itu benar, bawa beberapa anggota kesini,, dan,,, ambulan,,,” ucapnya setelah melihat tubuh Galih yang bersimbah darah,,, dia ngomong sendiri,,, entah ngomong dengan siapa dia,., terdengar dari suaranya dan rambutnya yang panjang serta tubuhnya yang langsing. Orang berpakaian hitam itu adalah seorang wanita…

Siapa wanita itu? kenapa dia tiba tiba ada disini?

Lalu wanita itu memukul ‘botak 1’ dengan gagang senjata api hingga tak sadarkan diri,,, Dia menatap orang bertato ular dengan serius,,, orang bertato ular itu tampak ketakutan melihat kelincahan dan kecepatan serta ketrampilan wanita itu dalam menggunakan senjata api… lalu wanita misterius itu berkelahi dengan pria bertato ular itu..

Aku dan Rein mendekati tubuh Galih yang terluka,,untuk memeriksa keadaanya.

Aku : “Galih, Bertahanlah,,,,” ucapku sambil memegang tangannya,,,

Kondisi Galih begitu memprihatinkan dengan luka memar disekujur tubuhnya, dan luka tusuk yang menganga di dadanya yang tidak berhenti mengeluarkan darah segar..

Rein : “,, kami akan mengobati lukamu,,,” ucap Rein

Galih menggelengkan kepalanya,,,,

Galih : “Sse,,lamatkan Dias,,,,” ucapnya terbata,,,

Galih : “Ma…af….” Ucapnya dengan susah sambil menatapku,,,,

Aku : “Aku memaafkanmu,, bertahanlah… bertahanlah..!!”

Kulihat dia tersenyum dan meneteskan air mata,,, dan kata maaf darinya tadi adalah kata terakhir yang keluar dari mulut Galih kepada kami berdua, karena setelah itu,, dia sudah pergi jauh. Hari ini, malam ini Galih sudah tidak lagi bersama kami,,, dia mengorbankan nyawanya sendiri untuk aku dan Rein… Rein tidak bisa membendung air matanya….

Aku memaafkanmu Galih,,

Aku berjanji akan menyelamatkan Dias,,,

Teman,,,,

***

Orang bertato itu kewalahan menghadapi wanita misterius itu, dia samapi terjatuh beberapa kali..

KillBill : “HABISSSSII MEREKAAA SEMUAAA…” Perintah orang bertato itu kepada orang orangnya yang tadi dihajar habis habisan oleh Rein dan Galih,, sedangkan dia malah berlari menaiki tangga eskalator menuju lantai atas ke arah Dias dan Meta.

Wanita berpakaian hitam itu mendekatiku dan Rein,,,

…… : “Galih…?” ucapnya saat melihat tubuh Galih,,,

Hahhh? dia mengenal Galih juga,,? Siapa wanita ini,,,?

Rein : “Deek,, kejar Meta dan Dias.. jangan biarkan mereka dibawa pergi lagi,,,” ucap Rein. Dengan keadaan kakinya yang terluka, Rein tidak mungkin lagi untuk berdiri,,

Aku : “aku tidak akan meninggalkanmu disini Rein..” ucapku padanya,, apalagi orang orang jahat itu sudah pada berdiri bersiap menyerang kami..

Tiba tiba Rein menarik wajahku dan mengarahkan ke wajahnya,, dia mencium bibirku,,

Rein : “jangan mengkhawatirkanku,, aku akan baik baik saja,, cepat kejar mereka,,,” ucapnya setelah melepaskan ciumannya..

Wanita berpakaian hitam itu mengajakku berdiri membelakangi Rein..

…… : “Kejar kedua temanmu,, aku akan melindungi kakakmu,,,” ucapnya sambil memberikan aku senjata api yang daritadi dia pegang…

……. : “Teman temanku akan segera datang dan setelah selesai disini aku akan menyusulmu,,,” ucapnya lalu dia menurunkan masker hitamnya,,,,

Hahhhhhh??

Betapa terkejutnya aku saat dia menurunkan masker yang menutupi sebagaian wajahnya,,, dan ternyata dia adalah,,,,,,,,,,,

BEBERAPA JAM LALU

——POV ANGEL——

Aku : “aku takut terjadi apa apa kepadanya,,,” ucapku sambil menangis dipelukan Kirana…

Rega tetaplah Rega,, dia tidak akan hanya diam saja ketika orang orang disekitarnya kesusahan atau sedang kesulitan. Sekali lagi, setiap pilihan selalu ada “1” atau “0”, ya atau tidak, untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu,,, dan Rega memilih nomor “1” yang artinya Rega harus pergi ke tempat berbahaya itu,,

Dan aku juga harus melakukan hal yang sama, aku tidak akan diam saja mengetahui Rega datang ke tempat berbahaya seperti itu. kuambil lagi handphoneku yang tadi kulempar.. lalu aku menghubungi seseorang..

Aku : “Amel,,? Ini aku,,,,”

Kirana menatapku tajam saat tau aku menghubungi Amel,

Amel : “Ohhh Fuckkk,,,,” dia terdengar syok mendapat telepon dariku,

Aku : “Rega sedang menuju tempat berbahaya, kamu harus membantunya….”

Amel : “Rega? Apa maksudmu? Untuk apa dia pergi ke tempat berbahaya?”

Aku : “Tidak ada waktu untuk menjelaskannya,, aku akan mengirimkan lokasinya kepadamu,,, kamu harus kesana sekarang juga,, kalau perlu bawa pasukan sebanyak banyaknya…”

Amel : “Tunggu, tunggu,,, kamu pasti sedang bermain main denganku lagi kan,,,,?”

Aku : “FUUCCK AMELLL, REGA SEDANG DALAM BAHAYA,, KALAU KAMU TIDAK MEMBANTU DIA, KAMU TIDAK AKAN BERTEMU LAGI DENGAN REGA SELAMANYA,,,,,”

Amel diam selama beberapa saat setelah aku berteriak teriak kepadanya,,,

Amel : “jika memang yang kamu katakan itu benar,, datang kesana bukanlah bagian dari pekerjaan kami,,, sudah ada lembaga lain yang menangani kasus seperti itu,,,”

Aku : “Maksudmu kepolisian? Mereka tidak akan membantu… fuck,, aku tidak tau lagi harus bicara seperti apa lagi supaya kamu bisa ke tempat itu,,, Amel,,, Nyawa Rega dipertaruhkan disana,, Pliss bantu dia,,, aku akan melakukan apa saja agar kalian datang ke tempat itu,,, kalau perlu aku akan menyerahkan diri kepada kalian..”

Kirana : “ANGGEEELL,,, APA YANG KAMU LAKUKANNN..?” Bentak Kirana kepadaku,,, dia sangat kaget dan marah mendengar ucapanku kepada Amel.,, Jasmine juga tidak kalah cemas mendengar keputusanku,,

Amel : “Fuckkk….baiklah,, aku akan mencoba memikirkan sesuatu…”

BACK TO THE PRESENT

——POV REGA——

Dengan membawa senjata yang tadi diberikan Amel aku langsung berlari menaiki tangga eskalator mengejar orang orang yang membawa Meta dan Dias. Kuabaikan segala rasa sakit yang kurasakan ditubuhku agar aku bisa menyusul Meta dan Dias, jangan sampai mereka berdua dibawa pergi lagi.

Pikiranku masih kacau setelah bertemu Amel di tempat ini,, bagaiamana dia bisa tiba-tiba mucnul disini dan beraksi seperti itu. Memang waktu bertemu dengannya di kota sebelah dan saat dia mengunjungi Ressa, Amel terlihat berbeda dibandingkan dulu waktu sekolah,,,

tapi setelah kulihat aksinya tadi, Amel bukan lagi Amel yang dulu., dan perubahannya sangat mengejutkan sampai bisa berkelahi dan terampil menggunakan senjata api seperti tadi,,, satu hal yang pasti,,, Amel bukanlah seorang Agen perjalanan wisata,,,, Yeah, definitely!

Sambil berjalan menaiki eskalator aku melihat lagi ke bawah, Amel sedang menghajar orang orang itu dengan ilmu bela diri yang tidak kalah hebat dengan Rein,.. Fuck Penulis,,, Apa di cerita ini hanya aku seorang yang tidak dibekali ilmu bela diri,,?

Saat sudah mencapai anak tangga teratas di eskalator lantai empat yang merupakan tingkat tertinggi gedung ini,,, aku bisa melihat Dias dan Meta,,, Dias sedang dipegangi oleh orang bertato itu, sedangkan dibelakangnya,, Meta sedang dibawa seseorang yang bertubuh kekar dengan wajah yang sangar seperti orang orang yang sedang berkelahi dibawah,,, Kemudian aku mendengar Meta berteriak…

Meta : “BEEEE AWASSS…..”

Eh..? apa? Apa..?

Karena fokus dengan Meta dan Dias aku tidak menyadari dari sampingku seseorang sedang mengayunkan kayu balok panjang ke wajahku, untungnya Meta memperingatkanku,, dengan gerakan seperti sedang bermain Limbo tubuhku menunduk kebelakang menghindari ayunan balok itu.

Karena gagal mengenaiku tubuhnya jadi tidak seimbang dan sepertinya dia akan jatuh ke tangga eskalator,, kutahan tubuh orang itu agar tidak terjatuh, lalu dengan cepat kupukul wajahnya menggunakan gagang senjata api ini sampai dia kesakitan tergeletak di lantai,,

Kemudian aku berlari ke arah Meta dan Dias,, orang orang itu membawa Mereka berdua memasuki sebuah pintu,, dan setelah aku sampai disana, ternyata dibalik pintu ini ada sebuah anak tangga lain menuju ke atap gedung..

aku bisa mendengar teriakan Meta yang sedang berontak untuk dilepaskan,, aku bergegas menaiki anak tangga itu dan sesampainya di atap yang luas dan tidak ada apa apanya ini,, aku melihat Meta masih berusaha berontak melepaskan diri dari orang yang mendekapnya sehingga jalan orang itu sedikit terhambat karena perlawanan Meta, walaupun perlawanannya sia sia karena badan orang itu sangat besar..

Tak jauh dibelakang sana, Dias sedang dipegangi Orang bertato itu,, mereka berdiri dekat tepi belakang gedung….

Diatas sini angin berhembus sangat kencang, suara deburan air laut yang menabarak daratan terdengar sangat jelas.

KillBIll : “berjalan satu langkah lagi,, aku habisi wanita ini,,,” Ancam orang itu,, sambil mendekap tubuh Dias dari belakang dan pisau yang ditempatkan di lehernya Dias..

Aku langsung merinding melihat situasi itu,, Aku teringat dengan mimpi yang kuanggap sebagai firasat buruk beberapa bulan lalu.. Dias didekap seseorang dengan pisau berdarah di lehernya, persis banget di mimpi waktu itu,,

Sedangkan Meta yang berada tidak jauh didekatku diancam dengan sebuah senjata api di kepalanya oleh orang berbadan besar itu… Dengan membawa Meta dan Dias ke atap gedung ini, kurasa orang orang jahat itu merasa sudah terdesak. Dan lebih baik aku tidak bertindak bodoh dengan orang yang sedang terdesak karena hanya akan membahayakan keselamatan Meta dan Dias.

Tapi kenapa mereka malah keatas gedung? Tidak mungkin kan mereka berencana kabur dengan melompat ke lautan..? laut di belakang gedung ini pastinya sangat dalam apalagi ini malam hari, sangat beresiko bagi mereka jika mamaksa meloncat.

KillBill : “Tembak saja kalau dia berani mendekatimu,,,” Perintah orang itu kepada temannya,, lalu senjata api yang dipegang orang itu diarahkan kearahku, tangannya gemetar, tak kalah gemetar dengan tanganku yang juga sedang membawa senjata api.…..

KillBIll : “Taruh senjatamu !!,, atau dia mati…..” ancamnya dari kejauhan,..,,

Kuturuti perintahnya, kutaruh senjataku dibawah,, lagipula tidak ada gunanya juga aku membawa senjata ini, karena aku tidak bisa menggunakannya..

Tak lama, terdengar seperti suara beberapa mobil yang tiba di gedung ini, beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan dari bawah.. aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku jelas melihat kedua wajah orang itu sangat ketakutan setelah mendengar keributan dibawah…

Orang yang mendekap Meta semakin gemetaran membawa senjatanya.

Aku : “Melihat reaksi kalian, sepertinya yang datang itu bukanlah teman kalian,,,sudahlah,, lebih baik kalian menyerah… lepaskan kedua wanita itu…” ucapku kepada mereka..

KillBill : “jangan pernah mengancam orang yang sedang mengarahkan senjata ke kepalamu bocah,,,,” gertak dia,,,

Orang bertato ular itu terlihat panik setelah mendengar suara tembakan yang baru saja terjadi, dia melihat ke arah samping dari tadi… ke arah,,,

Hmm? ohh Aku tau,, jadi seperti itu rencana mereka untuk kabur,, ternyata mereka berencana menuruni gedung melalui tangga besi melingkar yang tadi kunaiki. Satu satunya alasan mereka belum menuruni anak tangga itu adalah karena keberadaanku diatas sini yang menghambat mereka.

James : “bagaimana ini bang,,?” tanya orang besar itu ke pria bertato,

KillBill : “Cepat kita pergi dari sini, kita bawa kedua wanita ini sebagai jaminan,,, Habisi bocah itu,,,,,” perintahnya…

Hahhh? Oh Noo,,,,

Orang berbadan besar yang mendekap Meta langsung meletuskan senjata api ditangannya ke arahku,, dan aku tidak sempat untuk berlindung ataupun menghindar…

BANG! BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!

Dias : “EGAAAAAAAAAAA……..”

Meta : “BBBBBEEEEEEEEEEE……”

Hmmm..?

Gelap ? Dimana aku?

Oh Sial, mataku terpejam pantesan gelap,,hehe,,, kubuka kembali mataku,, aku masih berdiri diatas atap gedung tua bersama para penjahat yang baru saja menembakkan senjatanya kearahku,, tapi kulihat tubuhku tidak ada yang lobang atau tekena peluru senjata itu.

Aku selamat? Padahal jelas tadi orang itu menembakkan senjatanya tepat ke arahku, namun sepertinya tidak ada satupun peluru yang mengenaiku.. aneh, harusnya aku sudah mati,,sepertinya aku masih beruntung,, tidak ini bukan keberuntungan,, ini suatu keajaiban,,,

KillBill : “Bangsaaaaat,, bego banget sih lu,,kemarin katamu bisa menggunakan pistol,,?” Orang bertato itu marah melihat anak buahnya gagal melumpuhkanku..

James : “Ampun bang,, beda banget yang asli sama di hape…”

Hehhh?

KillBIll : “Nyesel gue ajak elu tong,,,,”

Kemudian dari arah belakang tepatnya dari arah pintu anak tangga yang tadi kulewati untuk menuju keatap terdengar suara beberapa orang berteriak teriak, mungkin mereka adalah Amel dan teman temannya yang barusan datang. Kedua orang jahat itu semakin panik dan ketakutan,, mereka semakin mendekat ke tepi gedung,,, mereka sudah semakin tersudut.

Aku : “kalian tidak akan bisa lari lagi,,,” ucapku percaya diri,,,

James : “Bang,,,?”

KillBill : “Cepat pergi dari sini,, “

Aku : “kalian tidak akan pergi jauh jika membawa kedua wanita itu,,,,”

KillBill : “Hahahaha,, hahahahaha”

Kenapa Dia malah tertawa ?

KillBill : “Pintar sekali kau Bocah, benar sekali yang kau katakan,, akan kubuat kamu dan mereka sibuk biar tidak bisa mengejar kami….” Ucapnya sambil menarik tubuh Dias mendekati tepi gedung yang mengarah ke lautan…

Hahhh? Apa maksudnya,,?

KillBill : “Kau telah membuatku tidak bisa memiliki apa yang aku inginkan darimu,, begitupun juga denganmu,,, kau tidak akan bisa memiliki apa yang kau inginkan dariku,,, TENTUKAN PILIHANMU !!!”

Tentukan pilihan ?

KillBill : “JAMAL !! LEMPARKAN WANITA ITU KE LAUT,,,,,,”

Ohh Tidak,,,

Deg Deg

Aku : “JJAAAANGAAAAANNN,,,”

Deg Deg

Aku langsung reflek berlari ke arah mereka setelah mendengar ucapannya,,,, kedua orang jahat itu membawa tubuh Meta dan Dias semakin mendekati tepi belakang gedung.

Deg Deg

Semua terjadi begitu cepat, tapi bagiku semua bergerak sangat lambat seperti adegan slow motion… Aku melihat Meta yang posisinya tak jauh dari tempatku berlari, kelihatan sangat panik dan ketakutan setelah ditarik paksa mendekati tepi gedung dan akan dilempar ke laut, begitupun juga dengan Dias yang posisinya lebih jauh dari posisiku berlari.

Logikanya kalau memang dulu tempat ini digunakan sebagai bersandarnya kapal kapal gede itu, harusnya lautan dibelakang gedung ini tidaklah dangkal. Pasti laut di area pelabuhan ini memiliki kedalaman minimal 20 meter agar kapal kapal raksasa bisa parkir dengan nyaman.

Dan bayangkan betapa berbahayanya jika Meta dan Dias dilempar dari ketinggian gedung ini, tubuh mereka pasti akan langsung terjun ke dasar lautan.

Aku harus mencegahnya… tapi aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya sekaligus secara bersamaan..

Rein : “Dek,, aku berharap inii tidak terjadi, TAPI, jika nanti disana terjadi suatu keadaan yang mengharuskan kamu memlih antara Dias atau Meta… aku harap kamu bisa jujur dengan hatimu,,,jangan sampai menyesal,,”

Siaaaaaall… diwaktu yang sangat mepet ini aku tidak bisa berpikir dengan baik,, tapi bagaiamanapun caranya aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya sekaligus,, aku harus memilih salah satu diantara Meta atau Dias. Aku tidak boleh ragu, Atau malah aku tidak akan bisa menyelamatkan keduanya..

Tapi siapa yang harus kuselamatkan?

Meta.?

Dias.?

Deg Deg

Deg Deg

***

Rein : “pada akhirnya akan selalu ada keputusan sulit yang harus dihadapi. dan kali ini, aku harap kamu bisa jujur dengan dirimu sendiri, dengan hatimu,, siapa yang benar benar ingin kamu selamatkan dari penderitaan, dan siapa yang benar benar layak untuk diperjuangkan,,”

Rein : “karena jika tidak, kamu akan menyesal seumur hidup karena kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu,, sekali lagi.. seperti kamu kehilangan Alexa dan juga Winry”

***

Deg Deg

Aku harus segera menentukan pilihan.

Aku sudah hampir mendekati Meta, tapi aku masih terus berlari kedepan menuju Dias,,, saat sudah melewati Meta yang tubuhnya sudah terdorong menjauhi Gedung aku menoleh kearahnya,, Meta juga melihatku yang masih terus berlari, tidak menolongnya dan hanya melewatinya.

Sampai akhirnya tubuhnya hilang dari pandanganku, karena Meta sudah dilemparkan ke lautan, ,,,

Maaf,, maafkan aku Bee,,,, ..

Aku terus berlari dan sudah hampir mendekati Dias yang sudah siap dilemparkan ke Laut oleh orang bertato ular itu,, aku harus bisa mencegahnya… takkan kubiarkan Dias dilemparkan ke laut juga.

Tapi selalu saja harapan tidak sejalan dengan ekspektasi.

Deg Deg

Aku : “DDDDDDDDDDDDEEEEEEEEEEEEEEEE…”

KillBill : “Kau terlambat Bocah…” ucapnya saat dia sudah melempar Dias ke lautan…..

Deg Deg

Kulihat tubuhnya Dias melayang di udara setelah dilemparkan orang itu, kedua tangannya mengayuh di udara,,, lalu dengan cepat tubuh Dias terjun bebas meluncur kebawah karena hukum gravitasi bumi..

Sial..

Tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari atas gedung, kemudian terjun tepat kearah jatuhnya Dias yang baru saja tenggelam di lautan yang gelap menimbulkan buih buih gelembung air. Dan aku terjun tepat kearah buih itu,, kuambil nafas dalam dalam,, sebelum tubuhku menyentuh air, sempat terdengar suara tembakan dari atap gedung,, yang kemudian suara tembakan itu tidak kudengar lagi ketika tubuhku sudah tenggelam di lautan yang gelap dan dingin.

Didalam lautan yang gelap ini tubuhku meluncur lurus kebawah mencoba mencari Dias,

***

aku harus segera menemukannya secepat mungkin sebelum terlambat. Sebelum Dias kehabisan nafas.. Karena air laut bisa menjadi sangat mematikan bagi orang yang tidak siap,, Air laut akan dengan cepat masuk kedalam setiap lobang yang terbuka pada tubuh kita, mata, hidung, mulut hingga telinga lalu meluncur masuk ke dalam paru paru dan jantung yang bisa berakibat sangat fatal.

Ketemu…

Meskipun aku sama sekali tidak bisa melihat di dalam air karena gelap, tapi aku merasakan telah menyentuh Dias,,, aku bisa merasakan Dias sedang panik dan bergerak gerak tidak menentu didalam air, hal itulah yang menyebabkan Dias akan semakin tenggelam dan membuatnya tidak bisa mengapung ke permukaan.

Langsung kupeluk tubuhnya dari depan,,, agar dia tidak panik,,, tapi dia malah menjambak Rambutku, dan mencakar tanganku,,,buset,, mungking sangking paniknya, tapi itu wajar karena naluri setiap manusia untuk bertahan hidup. Aku harus segera membuat Dias tenang agar tubuh kami tidak semakin tenggelam,,, kupeluk erat tubuhnya dari depan… kedua kakiku juga melingkar di kakinya Dias..

sedetik kemudian saat dia sudah mulai tenang, perlahan tubuh kami dengan sendirinya mengapung ke atas, sesuai dengan ilmu fisika, karena berat jenis tubuh kita lebih kecil ketimbang berat jenis air laut yang membuat tubuh kita otomatis mengapung. aku mempercepat laju kami ke permukaan dengan gerakan tanganku yang teratur,,

Saat sampai di permukaan aku dan Dias sudah pasti langsung mengambil nafas sebanyak banyaknya,,

Dias : “Ega,,,”

Aku : “Kamu gpp Dee…?” tanyaku padanya,, dia hanya mengangguk..

Dias : “Aku tau kamu pasti datang,,,” ucapnya lalu dia memelukku,,,

Sepertinya dia memang baik baik saja, beruntung waktu dia terjun bebas tadi dia tidak mengalami cedera,, kulihat di atap gedung beberapa orang sedang melihat ke arah kami. Mungkin mereka teman temannya Amel.

Kemudian kubimbing tubuhnya Dias berenang ke daratan dibelakang gedung, disana ada jalan setapak yang lebarnya tidak lebih dari 2 meter.. kuangkat tubuhnya untuk duduk di tepi daratan itu. Saat itu aku tidak sengaja melihat sesuatu dibalik kemeja Dias yang terbuka… sialnya, Dias memergoki pandangan mataku, kemudian,,,,,

PLAAAAAKKKK,,

Dias menamparku karena melihatku sedang menatap payudaranya meskipun tamparannya tidak begitu keras, , Dia langsung menutupi bagian depan tubuhnya yang terbuka,, mukanya memerah…

Sial,, kena gampar Deh,, Oke Dias, selamat kamu telah bergabung ke dalam club wanita wanita yang telah menamparku.,,,

Dias : “Egaa !!! Meta,,,,?”

Astaga, aku sampai lupa dengan Meta,, aku melihat sekeliling,, tidak ada tanda tanda keberadaan Meta dipermukaan. Aku harus segera mencarinya,,,

Namun tak lama berselang, di kejauhan aku melihat gerakan di air kemudian diikuti buih buih gelembung air,, dari buih buih itu muncul seseorang ke permukaan, dan itu Meta…

Syukurlah Meta juga selamat….

Meta melihat ke arahku dan Dias… kemudian dia berenang ke tepi daratan,, aku bergegas naik ke jalan setapak itu,, dan berlari ke arah laju berenangnya Meta.. saat dia sudah hampir sampai daratan kujulurkan tanganku untuk membantunya,,, dia menatapku..

Tapi dia tidak menyambut tanganku, dia naik sendiri ke daratan tanpa bantuanku… kemudian dia duduk di tepi daratan, nafasnya sangat berat, dia merangkul dirinya sendiri, tubuhnya menggigil, sepertinya dia kedinginan…

Aku : “Kamu gpp..?” tanyaku padanya,, kupegang lengannya,,, namun dia menepis tanganku…

Meta : “Aku Gpp…” ucapnya singkat,,,

Sikapnya tidak kalah dingin dengan dinginnya air laut itu,,, Meta pasti kecewa denganku karena aku lebih memilih menyelamatkan Dias.

***

Beberapa menit kemudian semua sudah berkumpul di depan gedung, bersiap meninggalkan tempat terkutuk ini… Orang orang jahat tadi dikumpulkan menjadi satu dipojokan dan dijaga oleh beberapa orang berbadan tegap yang memegang senjata api laras panjang.

Disana juga terlihat orang bertato ular itu sedang kesakitan memegang kakinya, sepertinya dia terkena tembakan. Lalu orang yang tadi gagal menembakku terlihat paling berisik karena dari tadi dia menangis memanggil manggil emaknya.

Terlihat juga Amel yang masih memakai maskernya sedang sibuk menelepon seseorang,,sepertinya Rein belum tau kalau wanita itu adalah Amel,, sebelum mendapat penjelasan dari Amel, sebaiknya aku tidak memberitahu Rein terlebih dahulu.

Aku juga belum tau pasti siapa sebenarnya orang orang ini, mereka semua kompak memakai pakaian serba hitam. Bahkan dua mobil suv yang terparkir didepan juga dicat berwarna hitam doff.

Aku berdiri memapah Rein yang kakinya terluka, merangkul tubuhnya dari belakang, sementara ini lukanya hanya ditutup oleh selembar kain dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit Tapi masih menunggu Ambulan datang, karena mobil ambulan yang datang masih satu,, dan mobil ambulan itu akan digunakan untuk membawa tubuh Galih,, Dias tak henti hentinya menangis disebelah tubuhnya Galih yang sudah kaku.

Aku merasa bersalah dengan apa yang menimpa Galih,, dia datang kesini atas permintaanku dan dia juga mengorbankan nyawanya untuk melindungiku dan Rein.. Galih memang sudah berubah 360 derajat, benar yang dikatakan Dias kalau Galih sedang dalam upaya menebus segala kesalahannya di mala lalu terutama apa yang telah dilakukan kepada Alexa.

Bahkan kudengar dia mendirikan beberapa rumah asuh untuk anak anak yatim piatu, yang katanya untuk mewujudkan impian Alexa. Aku yang pernah dekat dengan Alexa tidak pernah tau kalau Alexa punya impian semulia itu.

Rein : “Meta kenapa Dekk..?”Tanya Rein lirih,, sambil melihat Meta di kejauhan yang sedang duduk terdiam di suatu tembok rendah di halaman gedung ini,, seseorang telah memberinya jaket agar tubuhnya tidak kedinginan.

Aku : “Nanti aku akan bicara dengannya,.. sekarang yang penting membawamu ke rumah sakit dulu..”

Tak berselang lama samar samar kami mendengar suara sirine yang suaranya semakain terdengar jelas mendekatai tempat ini, mungkin itu sirine ambulan yang kami tunggu. Ternyata bukan, suara sirine itu adalah dari sebuah mobil polisi yang baru saja masuk kedalam halaman gedung. Terlihat empat orang polisi keluar dari dalam mobil dengan masing masing membawa senjata api laras pendek ditangannya dan berjalan mendekati kami,,

Namun tiba tiba Amel berteriak,,,

Amel : “BERRLINDUNGGG,,,,,,” Teriaknya,,,

Hahhh? Sedetik kemudian terdengar letusan senjata api dari arah polisi yang baru datang itu, lalu diikuti letusan senjata api yang lain.. polisi polisi itu menembak ke segala arah dan kemudian salah satu polisi itu mendekatiku dan Rein mengarahkan pistolnya ke arah kami dan dengan cepat meletuskan senjatanya…

BANGGG!!

Sesaat sebelum polisi tadi meledakkan senjatanya reflek dengan cepat kupeluk tubuh Rein untuk melindunginya dari letusan senjata api polisi itu. Kemudian suasana berubah menjadi mencekam saat Orang orang yang datang bersama Amel membalas serangan polisi itu,, adu tembakan jarak dekat menimbulkan suara yang sangat bising, kami benar benar seperti berada di tengah tengah medan perang. Tak berselang lama suara tembakan berhenti,, polisi polisi tadi berhasil dilumpuhkan.. aroma asap dan mesiu begitu kental terasa dihidungku.

Aku masih memeluk tubuh kakakku, tiba tiba aku merasakan sakit luar biasa di punggungku, lalu kemudian kurasakan panas yang menyebar diseluruh tubuhku. Aku langsung tersadar kalau sebuah proyektil telah menembus kulit punggungku, merobek daging dan memecah pembuluh darahku kemudian proyektil itu berhenti dan bersarang di rusukku.

Seketika jantungku berdenyut kencang,, sakit karena pendaharan di dalam tubuhku semakin kurasakan,, dan aku tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya,,

Kutatap wajah kakakku, yang masih kupeluk..

Aku : “Re…yynnn…”

Aku sempat melihat kepanikan diwajah Rein, Kemudian…….

——POV META——

Suara rentetan tembakan yang begitu membisingkan telinga sudah tidak terdengar lagi, aku berlindung dibalik tembok rendah yang tadi kududuki. Shitt,,, kenapa polisi polisi yang baru datang itu malah menembaki kami sih?.. kupikir semua sudah berakhir,,, sampai kapan suasana seperti ini akan terjadi..? untung tadi aku berada cukup jauh dari tempat polisi polisi itu menembak membabi buta.

Rein : “DEEKKK,,, DEEEKK..?…. REGAAA..? TOLONGG…. TOLONGG…”

Dari tempatku berlindung, Aku mendengar teriakan panik Rein meminta tolong… saat aku melihat Rein,, disana dia sedang mengusap usap wajah Rega yang tergeletak di pangkuannya sambil meminta pertolongan..

Astaga..? apa yang terjadi kepada Rega,,? Mendengar teriakan Rein aku bergegas mendekati Rein dan Rega,,

…… : “Seseorang tertembak,,,,,” teriak salah seorang yang sudah mendekati Rein dan Rega,,,

Hahh? Rega tertembak ? tiba tiba tulangku terasa lunak dan tak bisa berjalan lagi, tubuhku lemas mengetahui Rega terkena tembakan polisi itu,,, aku sampai tidak bisa melanjutkan jalanku dan hanya bisa duduk lemas di tanah… aku syok terdiam menutupi mulutku dan tidak sanggup berkata apa apa sambil memandangi Rega yang terpejam di pangkuan Rein..

Rein : “REGGAAA,,,? BANGUN DEEEKK,, BANGUN,,, JANGAN TINGGALKAN AKU,,, REGAA BANGUNN,,,,, ” Jerit tangisan Rein memecahkan suasana…

Beberapa orang langsung berkerumun didekat Rein dan Rega termasuk Dias yang juga panik melihat keadaan Rega,,,

Bee.. Kumohon jangan pergi,,,,,

Jangan pergi,,,

BERSAMBUNG