Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 8

Hasrat Binal Sang Akhwat

Pasca kemarin ika melihat adegan panas yang dilakukan oleh sahabat akhwatnya, nia. Ia terus kepikiran pada kontol yang memuaskan hasrat sahabatnya itu. Dalam satu malam ia mengalami multiple orgasm yang berulang-ulang sehingga membuatnya hari ini terlihat lemas untuk berkuliah. Setibanya ia di kontrakan, ia dengan segera melepaskan semua atribut perkuliahan dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.

Ika

“Tok…tok…tok” terdengar suara ketukan pintu depan kontrakanku.

Mendengar hal itu aku bergegas mengenakan celana hitam panjang longgar dan kaus hitam longgar dipadukan dengan jilbab merahku lalu aku menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu ternyata pak karyo berseragam lengkap membawa sebuah kiriman,

“eh neng ika, neng nianya ada gak ya?” Tanya pak karyo.

“Nianya belum pulang kuliah pak, kenapa ya pak?” tanyaku.

“Ini saya mau kasih paket yang dikirimkan oleh orang tuanya ini ke dia, saya titip ke neng ika aja ya kalau gitu” ucapnya.

“Oh iya nanti saya sampaikan pak, gak singgah dulu?” ucapku ramah.

“Ah gak apa-apa neng, bapak lanjut aja” ucapnya.

“Sekedar minum teh aja dulu pak, sila” ucapku memaksa.

“Oke deh kalau neng maksa, hehe” ucapnya sembari melepaskan sepatu boots dinasnya dan masuk ke ruang tamu.

Aku bergegas ke belakang untuk mengambil teh namun tak ada stok teh di dapur kami. Aku lekas kembali ke ruang tamu,

“Wah tehnya habis pak, bentar ika beli ke warung dulu ya, bentar aja pak” ucapku seraya berlari kecil keluar meninggalkan beliau di ruang tamu kontrakanku.

Tak berapa menit setelah aku membeli teh, setibanya aku di kontrakan, aku tak dapat menemukan pak karyo, aku berpikir apa jangan-jangan ia menungguku terlalu lama, namun alangkah teledornya aku, aku meninggalkan rumah kontrakan tanpa satupun pintu yang kukunci, sehingga aku mengendap-endap berkeliling rumah kontrakan untuk memeriksa apakah ada maling yang masuk atau tidak, dan syukurnya ternyata tidak ada barang yang hilang,

sesaat aku hendak masuk ke kamarku, aku dikejutkan dengan suara berat dari dalam kamarku, aku mengintip dari pintu kamarku yang sedikit terbuka, betapa kagetnya aku melihat pak karyo tidak memakai celana sedang berada diatas ranjangku, dan rok panjang motif bunga yang kukenakan tadi sedang ia kocok di kontolnya yang sedang tegang mengeras,

“Akhh neng ika…terima nih kontol pak karyo…nikmatin neng” desah pak karyo.

Aku yang melihat perbuatan beliau, masih sedikit kaget namun kurasakan libidoku perlahan menggebu, dan ya sama kejadiannya dengan tragedi kelamku dulu, aku lagi-lagi ketahuan dalam persembunyianku, aku tak sengaja mendorong pintu kamarku sehingga terbuka lebar,

pak karyo yang tadinya sedang asik mengocok kontolnya terdiam melihatku, terlihat raut wajah ketakutan yang muncul pada wajahnya namun tersungging senyum licik. Ia dengan cepat bergerak kearahku dan memepetkan tubuhku ke pintu yang telah terbuka,

“Akhh!” teriakku.

“Too..tolong…” teriakku.

“Ehhmm hhhmm” mulutku dibekap oleh pak karyo sehingga aku tak dapat berteriak. Mendapatinya membekap mulutku, aku hanya bisa meronta menolak perbuatannya.

Kupukul keras tubuhnya dengan harapan ia dapat melepaskanku, namun melihatku yang meronta, beliau dengan kasarnya menurunkan celana hitam longgarku sehingga dengan mudahnya ia meraba bibir memekku dari luar cd ku,

“Dah becek neng? Hehe” ucapnya mengetahui memekku sudah sedikit lembab.

Ia lalu menarik tubuhku dan melemparkan tubuhku ke ranjang,

“Pak pak..ini tidak benar pak..jangan lukai saya pak” ucapku panik seraya memundurkan tubuhku untuk menghindari sergapannya.

Kini kondisiku hanyalah mengenakan baju kaos longgar dan jilbab, kaki dan pahaku sudah terpampang di depan mata pak karyo. Telihat tatapan buas dari mata beliau, pak karyo yang sadar bahwa tidak ada siapa-siapa lagi di rumah ini, segera mendekatiku seraya melepaskan semua pakaiannya, sehingga kini ia bertelanjang bulat, ia lalu mnyergap tubuhku yang masih meronta menolak perlakuannya.

“Udah neng nikmatin aja, kalau dah becek berarti minta dientot tu hehe” ucapnya cabul.

Tangan kasarnya meremas toketku kanan dan kiri secara bergantian dari balik kaos longgarku, merasa risih dengan keberadaan kaosku, ia naikkan kaosku dan kini kedua toketku menjadi santapan hangat bibir cabulnya.

Aku yang menikmati ‘serangan buas’ nya pada kedua toketku hanya bisa mendesah kecil “Ukhh”, aku semakin larut dalam permainan mulutnya pada toketku, dan tanpa kusadari ia mulai mengangkangkan pahaku selebar-lebarnya dan memposisikan palkonnya di bibir memekku.

Aku merasakan ia menggesek palkonnya di bibir memekku berkali-kali sehingga menyadarkanku dari kenikmatan duniawi ini, lantas aku segera menampar wajahnya “Plak”. Kulihat matanya tajam melihatku, lalu ia arahkan kontolnya untuk segera membelah memekku yang sebenarnya sudah sejak tadi menantikan sodokan ‘milik’ beliau. Aku mendorong-dorong tubuhnya agar ia tak melanjutkan aktifitasnya

“Pak hentikan pak, jangan zinahi saya pak!”.

“Slep” kira-kira seperti itu ilustrasi proses masuknya kontol pak karyo ke dalam memekku,

“Akkhh pakk” desahku merasakan kontol besarnya membelah liang kenikmatanku yang sudah sejak lama tidak dimasuki oleh benda nan keras ini.

Ia terus berusaha menyodokkan kontolnya hingga mentok ke pintu rahimku.

“Ugghh ughh” desahnya sambil memaksakan kontolnya untuk masuk lebih dalam.

“Akkhh pak stop pak..sakit pakk ampun…” desahku berusaha menahan perbuatannya.

“Ohh ohh udah mentok neng” ucapnya singkat seraya ia mulai menyodokkan kontolnya ke memekku dengan kasar.

“Akkhh pakk…ini harus segera dihentikan pak..sshh” desahku.

“Agak seret tapi agak longgar ya, sering dipakai ya? Hhhmm” desah pak karyo.

Aku yang masih tidak menerima perbuatannya, menggeleng-gelengkan kepalaku dan menggeliat.

“goyang terus neng..goyang, bapak suka haha” ucapnya seraya mempercepat genjotan kontolnya di dalam memekku.

“Ahh hentikan pak..jangan perkosa ika” desahku.

“Perkosa? Memekmu aja udah agak longgar, dasar akhwat bispak!” ucapnya.

“Pak karyo!!!” terdengar teriakan wanita dari pintu kamarku, saat aku menoleh ternyata nia berdiri memegang sebilah pisau dapur, pak karyo yang menyadari hal itu lekas beranjak dari tubuhku, aku yang belum mendapatkan orgasme sebenarnya kecewa namun bersyukur nia datang tepat waktu.

Pak karyo berdiri dan terbirit-birit mengambil pakaiannya dan kabur entah kemana. Aku yang masih shock hanya terbaring mengangkang dengan baju kaos dan jilbab yang sudah semrawutan. “Hiks hiks hiks” aku menangis haru menerima pertolongan nia yang tiba tepat waktu.

“Sssh sudah jangan nangis ika, aku disini sekarang” ucap nia menenangkanku.

“Lain kali kalau bapak itu datang jangan dibuka lagi ya pintunya ka” ucap nia.

Aku berharap bahwa nia tidak datang agar aku dapat menikmati gesekan demi gesekan kontol pak karyo di dalam memekku, mengingat hal yang yang barusan saja terjadi membuatku ingin bermasturbasi untuk melampiaskan orgasmeku yang tertunda.

Keesokan harinya …

Hari ini lagi-lagi aku merasa sangat malas berkuliah akibat kemarin semalaman suntuk aku bermasturbasi mengingat-ingat perilaku bejat pak karyo terhadapku. Siang ini, aku turun dari angkot yang berhenti tepat di depan gerbang komplek rumah kontrakanku, aku bergegas menuju rumah kontrakkan, karena aku merasa malu jika sekiranya aku bertemu dengan pak karyo siang ini.

Setibanya di rumah, aku panik karena kunci rumah kontrakanku tidak ada di tasku, seingatku yang memegang serap kunci ini hanya aliyah dan nia, namun mereka berdua belum pulang kuliah. Sehingga aku memutuskan untuk menelepon nia,

“Ukh, masih kuliah ya?” tanyaku.

“Iya nih ukh, antum kenapa?” Tanya nia.

“Kunci kontrakan yang kupegang kayaknya tertinggal di dalem deh, kamu ada simpan serapnya lagi gak?” tanyaku.

“Oalah ukh, ada samaku sih, tapi jauh kalau antum ke kampus lagi, coba antum cek ke pos satpam kita, kayaknya mereka ada kunci serapnya”.

“baiklah ukh” jawabku singkat.

Aku pun dengan berat hati melangkahkan kakiku menuju pos satpam yang dimaksud, hatiku berdebar jika sekiranya nanti yang berdinas adalah pak karyo, bagaimanakah aku harus bersikap di depannya. Setibanya di pos tersebut,

“Permisi pak” sapaku di depan pos tersebut, namun tidak kulihat siapapun disana.

Aku berkeliling namun juga tidak kutemukan siapapun, aku jadi bingung, lalu kulihat terdapat sebuah gubug kecil tepat dibelakang pos satpam ini, saat aku hendak mendekati pintu gubug itu, sepasang tangan mencengkeram tubuhku, saatku menoleh ternyata pak karyo,

“Kamu bermain di tempat yang salah neng” ucapnya seraya menarikku memasuki gubug tersebut dan menutup pintunya, ia dorong tubuhku agar terduduk di kasur yang ada di gubug tersebut.

“Sekarang gak bakal ada lagi yang bisa mengganggu kita bercinta sayang” ucapnya sembari membuka seragam satpamnya satu persatu.

“Bapak mau apain saya hah?!” tanyaku membentak.

“Mau ngapain? Mau entot ukhti ika dong, hehe” ucapnya mendekatiku. Kulihat ia mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya.

Dan lagi-lagi aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari kontolnya pak karyo yang sudah tegak mengacung. Pak karyo menarik salah satu tanganku untuk menggenggam kontolnya, aku yang bagaikan sapi dicucuk hidungnya hanya menurut saja apa maunya, padahal aku sadar bahwa ini perbuatan yang salah.

“Kocokin kontol bapak ya neng” ucapnya dengan senyum genit.

“Gak mau saya pak!” tolakku seraya melepaskan tanganku dari kontolnya.

Ia lalu mendorong tubuhku agar berbaring di kasur tersebut, lalu ia menaiki tubuhku yang telah terbaring,

“Gak mau katamu! Bapak genjot langsung saja kalau begitu!!” ucapnya seraya berusaha membuka gamis warna krem yang kugunakan.

“Pakk hentikan pak! Ika tidak mau!!” teriakku berharap ada pertolongan. “Plak” sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.

“Kamu baring dan nikmatin saja apa mau saya!! Atau kamu mau kalau kamu diarak oleh warga sini atas tuduhan kamu ingin mencabuli saya?!!” ucap pak karyo mengancamku. Aku terdiam membisu berbaring di kasur itu seraya melotot menatap beliau.

Pak karyo lalu merebahkan tubuhnya mendekati pangkal pahaku lalu ia sampirkan cd hitamku, terasa lidahnya menjilat bibir memekku.

“Pak hentikan, ini tidak benar pak” ucapku, aku menyadari bahwa tubuhku sangat menginginkan dipuaskan olehnya namun kesadaranku masih pulih.

Aku berusaha mendorong tubuhnya untuk menjauh, namun itu sia-sia saja. Ia berusaha untuk mengecup bibirku, sementara aku berusaha untuk menghindari ciumannya dengan cara menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Ah belagak kali kau!” ucapnya seraya mengarahkan kontolnya untuk segera membelah liang kenikmatanku sekali lagi.

Melihatku yang terus menerus menolak perbuatannya, ia hentakkan keras kontolnya sehingga hanya dnegan satu kali hentakkan, seluruh kontolnya dapat masuk memenuhi liang memekku.

“Akhh pak!!” teriakku merasakan kontolnya membelah liang memekku. Ia diam sejenak lalu ia melanjutkan dengan sodokan pelan.

“Akkhh pak…sudahi ya pak…sshhh…” ucapku berusaha menjaga harga diriku.

“Ugghh neng, nikmati aja kontol bapak, kata neng nia, dirimu sudah haus akan kontol” dessahnya.

Betapa kagetnya aku ternyata keberanian pak karyo melecehkanku adalah karena nia memberitahu kebiasaanku bermasturbasi, ada perasaan jengkel di hatiku namun ada perasaan berterima kasih pada nia, sehingga kini aku bisa kembali merasakan keras dan hangatnya kontol seorang pria.

Sodokan demi sodokan membuatku tidak sanggup lagi menahan orgasme pertamaku pada hari ini,

“Pak cepatin pak, ikahhh udaaahhh gak tahaaaann” desahku.

“Iiiihhhyyyyaahh neng, rasakan nihhhh” desah pak karyo diiringi genjotan keras kontol beliau di memekku.

“Akkhh saya sampai pak” desahku disertai semburan cairan cintaku menghangatkan kontol beliau.

Beliau mendiamkan kontolnya sebentar seolah beliau paham bahwa aku keletihan menerima gelombang orgasme pertamaku pada hari ini. Setelah aku selesai mengatur nafas, ia mulai kembali menggenjot memekku.

Pak karyo lalu menaikkan gamisku sehingga kini ia dapat menyaksikan toketku berayun mengikuti irama sodokan kontol beliau. Dan hal itu membuat beliau gemas, pak karyo dengan ganasnya melahap habis toketku kanan dan kiri bergantian.

“Aakkh pak…sakit tau digigitin…ssshh pak” desahku menikmati serangan bertubi-tubi dari pak karyo.

Pak karyo mempercepat sodokannya, dan aku merasakan bahwa kontolnya berdenyut di dalam memekku, aku menyadari bahwa ia akan segera ejakulasi,

“Pak jangan di dalem pak ssshh…ika bentar lagi sampai jugaaahh” desahku mencoba menahan perbuatannya menyemburkan peju di rahimku.

Ia yang paham permintaanku, semakin mempercepat genjotannya sehingga aku terangguk-angguk di kasur kecil ini,

“Akkh ikaah sampai pak” desahku menerima gelombang orgasme keduaku.

Pak karyo masih saja menggenjotku dengan mencengkeram keras pinggulku agar tidak terlepas dari sodokan kontolnya, lalu dengan cepat ia keluarkan kontolnya, ia letakkan di belahan dadaku, aku yang paham maksudnya segera mengapit kontol beliau dengan kedua toketku, beliau semakin belingsatan dan akhirnya

“Croott crooot crooot” terasa sekitar 4 semburan deras peju menyembur ke toketku dan leherku, dan pejunya juga membasahi gamis bagian atasku.

Setelah ia puas menumpahkan semua pejunya, ia turun dari kasur dan mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku masih terbaring dengan dada berlumuran peju.

“Neng, beres-beres dan pulang gih? Apa mau bapak entotin lagi? Haha” ucapnya seraya meremas toketku.

Aku yang tersadar akibat ucapannya segera bergegas merapikan pakaianku dan berlari keluar gubug itu. Setibanya di rumah kontrakan, ternyata nia dan aliyah sudah di rumah. “Ukh, darimana?” Tanya nia.

“Eeegg dari jalan-jalan tadi, pos satpamnya sepi, jadi ana putuskan untuk berkeliling saja” ucapku terbata-bata.

“ana ke kamar dulu ya ukh” ucapku seraya bergegas masuk ke kamarku.

Di dalam kamar, aku merenungkan apa yang telah terjadi hari ini, aku merasa bahwa aku telah kembali masuk ke dunia syahwat yang dulu pernah kutinggalkan

Bersambung