Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 22

Akhir Yang Bahagia

Boby

“Auuhhh uhhh sshh terusss” desah wanita yang tak lain adalah bu ecy.

“Lebih dalem bob..ahhh sshh” desahnya memenuhi ruang kamarnya ini.

“Citt..ciit…ciitt” suara deritan ranjang milik beliau juga menemani permainan panas kami.

Kontolku yang sudah sekitar 10 menitan menggempur memek bu ecy, terasa sedikit lagi akan menyemburkan bibit unggulnya.

“Aahh buu saya mau sampaihh” desahku menikmati himpitan dinding memek bu ecy yang terasa semakin menyempit dan hal itu menandakan bahwa beliau juga segera menggapai puncak kenikmatannya.

“Aahh bareng-bareng bob..sshh” desahnya seraya meremasi bahuku,

“Crot…crot..croot” ada sekitar 3 semburan hangat pejuku memenuhi liang memek bu ecy,

“Aggghh iyaahh..uhh sayaahh” desah bu ecy menerima semburan pejuku yang lalu diikuti dengan semburan cairan cintanya yang begitu deras dari titik terdalam memeknya, setelah tadi ia sudah orgasme sekali namun semburan kedua ini cukup banyak hingga keluar dari liang memeknya yang masih disumbat oleh kontolku.

Aku yang keletihan lekas merubuhkan tubuhku keatas tubuh bu ecy, kami sama-sama mengatur nafas kami dan sesekali bercumbu, saat kurasakan bahwa kontolku sudah melemas, kugeser tubuhku untuk terlentang disampingnya. “Ahh nikmat banget bu..uh” ucapku seraya mengatur nafas.

“Iyyaahh bob..ibu puas banget sama permainan kamu” ucap bu ecy memuji permainanku pada malam ini.

“Bu, kalau sekiranya nanti saya sudah menikah, apakah ibu masih mau dipuaskan sama saya?” tanyaku mencairkan suasana.

“Ya pasti ibu nyari kamu dong, ibu butuh kamu, pak kepsek gak bisa diharapkan, ibu gak peduli apapun status kamu sayang..” ucap bu ecy seraya mengurut kontolku yang masih lembab karena cairan cinta kami. Permainan kami malam itu membuat aku dan bu ecy benar-benar keletihan sampai akhirnya aku harus menginap di rumah beliau.

Keesokan paginya…

Aku terbangun diatas ranjang bu ecy, kulihat beliau masih meringkuk di dalam selimutnya, yang pastinya masih dalam keadaan bugil sama dengan diriku, aku berusaha membangunkannya namun tak ada respon apa-apa, “Mungkin beliau kelelahan” pikirku.

Akupun lekas memakai kembali pakaianku, saat aku hendak keluar dari kamar beliau, terlihat beliau sedikit mengangkat kepalanya dan berkata “Makasih ya, hati-hati di jalan sayang”. “Ya bu” jawabku seraya meninggalkannya.

Dalam perjalanan menuju ke kampus, aku kembali teringat pergumulanku dengan bu rida dua hari lalu, dimana pada akhir permainan aku melakukan suatu hal yang cukup fatal, yaitu membuang benihku di dalam rahim bu rida, ia sempat panik saat itu, namun aku dapat menenangkannya dengan janji akan bertanggung jawab. Ya aku memang akan bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat, saat aku masih dalam perjalanan, kunyalakan handphoneku dan menghubungi nomor telepon ayahku yang berada di desa.

“Assalamaualikum ayah apa kabar?” ucapku.

“Wa’alaikumsalam nak, kabar baik, gimana kuliahmu?” tanya ayahku.

“Lancar kok yah, yah boby mau memohon sesuatu” ucapku.

“Memohon apa nak?” tanya ayahku bingung.

“Memohon restu menikahi seorang gadis yah, boby sangat mencintainya” ucapku lantang.

“Wah… Siapa nak? Wiwi?” tanya ayahku kaget, teman perempuanku yang ia kenal hanyalah wiwi maka wiwi lah yang ia sebut.

“Bukan yah, tapi temen di kampus, rida namanya” ucapku.

“Rida? Namanya bagus nak. Nanti coba ayah tanyakan ke ibu dulu” ucap ayahku seraya memutuskan panggilan. Aku semakin yakin untuk mengabarkan kabar gembira ini ke bu rida sesegera mungkin.

Setibanya di kampus…

Aku bergegas menuju ruang dosen, setibanya disana kudapati bu rida sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di meja.

“Assalamualaikum…” ucapku menyapanya.

“Wa’alaikumsalam.” Jawabnya cuek.

“Ya Allah bu, judes amat..saya mau memberitahu sesuatu” ucapku.

“Memberitahu apa? Cepet, saya banyak kerjaan” ucapnya judes.

“Saya mau melamar ibu dalam waktu dekat” ucapku tegas. Seketika bu rida menghentikan aktifitas kerjanya dan menatapku dalam,

“Kamu serius?” tanyanya.

“Saya serius bu, saya sudah hubungi orang tua saya di desa” ucapku.

“Baik, jika kamu serius, sila bawa orang tuamu ke rumah saya besok, ini saya berikan alamatnya” ucap bu rida seraya memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah orang tua beliau.

Saat aku berjalan keluar ruang dosen, handphoneku berdering, saat kuangkat ternyata ayahku

“Ya yah?” tanyaku.

“Ayah dan ibu setuju atas itikat baikmu ingin menikahi gadis yang kamu cintai, kapan bisa ayah dan ibu lamar?” tanya ayahku.

“Tadi saya sudah nanya ke calonnya, katanya besok ia dan orangtuanya tunggu kita di rumahnya” jelasku.

“Baik nak, besok jemput bapak dan ibu di terminal ya” ucap ayahku dan berakhirlah panggilan tersebut.

Keesokan harinya…

Tepat jam 10 pagi aku menunggu kedatangan bus yang membawa ayah dan ibuku ke terminal kota ini, saat bus yang kumaksud tiba, dengan mudah aku dapat menemukan dimana posisi ayah dan ibuku karena postur tubuhku yang tinggi.

“Ayaahh ibuuuu” teriakku dan mereka langsung menghampiriku.

“Wah anak ayah dan ibu sudah makin gagah ya, mari kita ke rumah calonmu sekarang” ucap ayahku.

“Ya ayah” jawabku seraya menuntun beliau berdua untuk naik sebuah bus kota yang memiliki tujuan ke rumah bu rida.

Setibanya di rumah bu rida, kami disambut dengan hangat oleh orang tua bu rida. Sekitar 1 jam lebih orang tua kami berbincang hingga akhirnya ayah bu rida bertanya

“Kapan akan kita laksanakan akad nikah?”,

“Bagaimana dengan besok malam pasca magrib?” tanyaku.

Orangtua kami kebingungan begitu juga dengan bu rida.

“Karena saya disini masihlah belum memiliki uang yang cukup untuk resepsi, maka izinkan lah kami menikah tanpa resepsi, kan pernikahan yang sesungguhnya berada pada proses akad” jelasku lantang.

Kedua orang tua kami setuju dengan ide yang kumaksud. Keesokan harinya aku dan bu rida bersama-sama mengurus administrasi pernikahan di beberapa lembaga terkait, dan aku juga mengundang orang-orang terdekatku untuk hadir di acara akad nikahku nanti, diantaranya ika, nia, wiwi, bu ecy dan tentunya mas ari.

Pasca magrib…

Akad nikah kami berlangsung dengan lancar dan sangat sederhana, terpancar rasa bahagia dan haru dari wajah-wajah orang terdekat kami. Akad nikah telah usai, ternyata keluarga bu rida membuat acara makan-makan sederhana. Saat aku hendak mengambil makanan, tepat disebelahku berdiri bu ecy,

“Sila dimakan bu, jangan ingat diet hehe” ledekku pada bu ecy.

“Beneran yaa..awas kalau kamu gak nafsu lagi dengan saya nanti” bisik bu ecy.

Akupun iseng meremasi pantat bu ecy yang terbalut celana panjang hitam yang ia kenakan,

“Hush pegang-pegang, nanti kalau istri kamu liat berabe, malam ini nikmati aja dulu malam indah kalian, ibu gak ganggu” ucap bu ecy seraya menepis tanganku. Aku menghampiri mas ari yang duduk di teras rumah bu rida.

Sementara tangan bu rida, mulai berusaha membuka celana kain hitam yang kugunakan, dan ketika ia telah mendapatkan kontol lemasku, langsung ia remas dan kocok, agar kontolku terbangun dari tidur panjangnya.

“Buka aja jilbabku sayang kalau repot” ucapnya manja yang melihatku kesulitan membuka kancing gamisnya.

“Jangan sayang, aku suka kalau ngentot akhwat berjilbab kayak kamu” ucapku seraya mulai membuka bra yang ia kenakan.

Di dalam kamar yang remang-remang ini terlihat sepasang gunung kembar yang memiliki puting merah muda membusung indah dihadapanku, walaupun aku sering mencupang dan meremasnya, namun entah kenapa pada malam ini, sepasang gunung kembar itu tampak mempesona.

Akupun langsung mengecup dan menyedot puting kanan bu rida,

“Ahhh” desah bu rida menerima serangan pertamaku.

Tangan kiriku mulai meremasi toket kiri bu rida yang menganggur, permainanku pada malam ini kuusahakan untuk selembut mungkin, karena toh pasti ia juga akan memenuhi keinginan suami sahnya ini. Perlahan kontolku mulai mengeras karena kocokan intens yang tangan bu rida berikan.

Kulepaskan semua rangsanganku pada toket bu rida, kini aku berusaha untuk melepaskan rok panjang coklat muda yang ia kenakan berikut cd biru yang terlihat sudah sedikit lembab. Kini terpampang lipatan memek yang sama sekali tidak ditumbuhi oleh bulu kemaluan, “Dicukur ya sayang” tanyaku seraya meraba bibir memeknya.

“Uhh iyaahh sayang biar bersih” desah bu rida saat merasakan jemariku bermain di bibir memeknya.

Kukeluar masukkan jemariku di memek bu rida sehingga mulai kurasakan cairan pelumas bu rida membasahi jemariku. Kujilat cairan pelumas itu,

“Ih kok dijilat sih” ucap bu rida.

“Gak apa-apa sayang, nanti kamu mesti cicip punya mas, masa’ inimu terus yang telan cairan mas” ucapku seraya mencolek bibir memek bu rida

“Ehh iyaah deh mas…cepetan atuh mas” ucap bu rida yang sudah birahi tinggi

“Cepet apanya sayang?” tanyaku seraya menggesek-gesekkan palkonku di bibir memeknya.

“Cepet entotin aku sayang” ucapnya tanpa ragu.

“Buat apa entotin kamuh?” tanyaku sembari memukul-mukul bibir memeknya dengan palkonku yang mulai basah dengan cairan pelumasku.

“Iiihh mas usil, cepetan mas, aku udah gak tahan” ucap bu rida menggerak-gerakkan pinggulnya mendekati kontolku.

“Hehe iyaa iyaa sayang” ucapku seraya mulai memasukkan kontolku ke dalam memek bu rida.

Terasa lebih sempit dari sebelumnya, “Sayang sempit banget memek kamu, kok bisa?” tanyaku seraya masih mendorong masuk kontolku.

“Adaaa dehh…puasin aku sayanggg” ucap bu rida merahasiakan triknya menyempitkan memek.

Yaa aku tak peduli juga sih gimana caranya, yang penting kini kami harus sama-sama menggapai puncak kenikmatan kami. Aku mulai memaju mundurkan kontolku di dalam memeknya yang benar-benar terasa rapat,

“Akkhh mas cepet aahh” desah bu rida seraya menggoyangkan pinggulnya.

Melihatnya yang begitu liar malam ini, seolah membangkitkan birahi terpendam di diriku, aku membungkukkan tubuhku dan mulai meremas dan melumat toket bu rida kanan dan kiri bergantian

“Ugghh sayang..” desahnya seraya menjambak-jambak rambutku.

Dibawah sana, gempuran kontolku pada memeknya sama cepatnya ketika aku menggempur memek bu ecy beberapa hari lalu,

“Ahhh aku kalahh sayangg” desah bu rida diikuti semburan cairan cinta pertamanya pada malam hari ini

Saat orgasme pertamanya tadi berlangsung, himpitan dinding memek bu rida luar biasa rapat, serapat dinding memek aliyah ketika beberapa bulan lalu aku mencicipinya, merasakan himpitan yang begitu keras, membuatku sedikit beringas memompa memek bu rida,

“Akkhh sayang semangat bener…mentook aahh aahh mentok sayang” desah bu rida ketika palkonku mengetuk-ngetuk pintu rahimnya.

Tak butuh waktu lama dari orgasme pertamanya tadi, kembali terasa himpitan keras dinding memek bu rida, ini pertanda ia akan kembali orgasme,

“Akkhh uhh akkhh sampaiii lagiihh” desah bu rida diikuti semburan cairan cintanya yang sangking derasnya, terasa semburan kecil membasahi pinggulku yang masih terus memompa memek bu rida.

“Akhh akkhh sayang gak capek?” tanya bu rida.

Aku hanya menggeleng, melihatku yang sangat bersemangat, bu rida lalu mengalungkan kedua tangannya di pundakku, terlihat wajahnya tersenyum puas dan matanya yang merem melek ketika palkonku menumbuk-numbuk pintu rahimnya membuatku terasa semakin menggila, seolah ada energi tambahan di tubuhku sehingga hingga saat ini belum ada terasa aku akan menyemburkan pejuku.

Seketika bu rida menghentikan sodokanku, “Ganti posisi sayang, biar aku yang puasin mas” ucap bu rida yang bangkit dari posisi terlentangnya, ia memintaku untuk berbaring terlentang, bu rida menggenggam kontolku yang mengkilap dibahasahi cairan cintanya, lalu ia berjongkok diatasku, mengarahkan bibir memeknya tepat di palkonku, saat sudah pas, ia langsung menurunkan pinggulnya “Plop” kontolku kembali masuk sepenuhnya ke dalam memek bu rida.

“Uhh” desahnya.

Pelan tapi pasti ia mulai menaik turunkan pinggulnya diatas tubuhku, kulihat kepalanya mendongak keatas dan toketnya yang berayun seirama dengan pergerakan pinggulnya seolah menghipnotisku, secara tak sadar, kedua tanganku mulai menggapai toket beliau dan meremasnya dengan sedikit kasar.

“Akkh mass remes teruss” desah bu rida seraya membungkukkan tubuhnya ke arahku supaya aku mudah meremasi toketnya.

“Mas mas..masih kuat yaahh…aku udah mauuuhh sampaiiih lagiihh” desah bu rida yang diikuti himpitan dinding memek beliau yang mengencang kembali.

“Akuuh tahan demi puas bersama maaass” desahnya berusaha menahan orgasme ketiganya, aku seolah tersadar dan muncul rasa kasihan pada istri baruku ini, sehingga kupeluk tubuhnya dan kubaringkan kesamping sehingga kini posisi kami kembali seperti semula, bu rida dibawah tindihanku, aku percepat sodokanku, karena sudah ada tanda-tanda aku akan menyemburkan pejuku.

“Akkhh akuuhh masihh kuatt kok maass…” desah bu rida, aku tau dia udah gak kuat, karena himpitan dinding memeknya sudah sangat kencang, sehingga palkonku pun sedikit kesulitan menggapai pintu rahimnya.

“Akkhh masss” desah pendeknya diikuti semburan cairan cintanya yang ketiga dan ini benar-benar deras, bukan hanya deras menghantam palkonku namun juga deras menyembur ke perutku,

“Akkhh sayang…” desahku seraya kuhentakkan kontolku ke posisi yang paling dalam pada memek bu rida,

“Croott croott croot” ada sekitar 4 semburan pejuku yang terlontar di dalam memek bu rida,

“Ahh banyak amat masss” desah bu rida merasakan semburan-semburan pejuku.

Tubuhku masih mengejang hebat, hingga kurasakan bahwa pejuku sudah benar-benar tidak keluar lagi dari palkonku, langsung kutumbangkan tubuhku kesamping bu rida. Aku pejamkan mataku sejenak, dan saat melek, kulihat bu rida menghadapku dan menatapku dengan senyum manisnya.

“Mas perkasa banget, aku sayang mas..” ucap bu rida seraya mencium bibirku, kami kembali berpagutan.

Ya akhirnya aku bisa melanjutkan hidupku dengan baik, bukan melulu menjadi pemuas para wanita, kini aku bisa menjadi seorang suami yang menjaga istrinya dan semoga kelak akan menjaga keturunanku agar tidak mengikuti jejakku. Aku Boby, sang mantan gigolo.

Tamat