Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 19

Perpisahan Yang Memilukan

Boby

Sudah beberapa minggu ini aku tidak berkunjung ke rumah kontrakan ika dan nia, aku rindu kehadiran sang akhwat yang kegadisannya telah kurenggut, ya dialah aliyah.

“Assalamualaikum…” aku mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam, eh boby..masuk bob.” Ucap ika seraya membukakan pintu untukku.

“Nia dan aliyah mana ka?” tanyaku saat sudah duduk di ruang tamunya. Ika hanya diam.

“Oi ka..kok diem?” tanyaku sekali lagi.

“Aliyah udah gak disini bob, nia lagi kuliah” ucap ika.

“Hah? Maksudnya gak lagi disini gimana ka?” tanyaku kaget.

Lalu ika menceritakan perihal aliyah, tepat 1 minggu setelah eksekusi terhadap keperawanan aliyah yang kami lakukan, aliyah bener-bener depresi menghadapi tekanan hidup dan fakta bahwa dia telah tidak perawan lagi, dia sama sekali gak mau kuliah dan mulai mengurus administrasi pemindahan kampus ke sebuah universitas yang dekat dengan desanya, ika dan nia sebenarnya sudah berusaha untuk mengurungkan niat aliyah pindah universitas namun ditolak mentah-mentah dengan aliyah,

“Jangan paksa aku tinggal lagi dengan kalian akhwat jalang!” ika memperagakan ungkapan aliyah.

Baru sekitar 2 hari lalu aliyah meninggalkan kontrakan ini, tanpa hangatnya pamitan, aliyah mengangkat semua barangnya untuk naik ke minibus antar kota,

“Antum beneran ingin tinggalin kami?” ika mereka ulang pertanyaan yang ia berikan ke aliyah,

“Iya, karena kalian sudah merusak hidupku” ucap aliyah ketus saat itu.

Semenjak kepergian aliyah, ika dan nia sesekali coba menghubungi nomor kontak aliyah yang mereka punya, namun tidak ada jawaban dan terakhir berbunyi

“Maaf nomor yang anda masukkan salah”,

ika sangat menyesali perbuatannya, namun tidak bagi nia, nia justru sangat senang dengan kepergian aliyah karena itu berarti semua skandalnya dengan para satpam akan tetap bisa berlanjut.

Kehangatan rumah kontrakan yang selama ini selalu dipenuhi oleh canda dan senyum ramah aliyah telah memudar, rumah kontrakan ini benar-benar telah berubah menjadi rumah yang suram, yang ika dengar setiap 3 hari sekali di rumah ini hanya lenguhan dan desahan nia yang disetubuhi oleh pak karyo dkk. Nia menjadi akhwat jalang yang sesungguhnya, saat di kampus ia adalah akhwat yang aktif berdakwah namun saat di rumah dia adalah akhwat paling jalang yang pernah dikenal ika.

Mengetahui fakta bahwa aliyah telah meninggalkan kontrakan ini, aku bukannya merasa berduka, namun terbersit rasa bahagia, aku berpikir bahwa aku sudah tidak terikat janji apapun dengan aliyah, aku tidak berkewajiban menikahinya kelak, namun rasa bahagia tersebut tidak kuungkapkan ke ika, karena takut itu akan menyinggungnya.

“Baiklah ika, kamu yang sabar ya, maafin ya karena aku juga menyanggupi permintaanmu jadinya persahabatan kalian terpecah belah seperti ini” ucapku dengan ekspresi berduka.

“Iya sudah gak apa-apa bob, aku justru lebih rela aliyah diperawanin sama kamu daripada diperawanin sama satpam bejat langganannya nia itu, namun takdir berkata lain ya, aliyah justru ninggalin kita semua” ucap ika turut bersedih.

“Ya ka, semoga kondisi kembali normal ya, aku pamit dulu” ucapku seraya pamit meninggalkan rumah kontrakan tersebut.

-Flashback 2 Hari Lalu-

Aliyah

Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku dan melanjutkan studiku di sebuah universitas yang dekat dengan desaku. Aku sudah benar-benar tidak sanggup untuk tinggal bersama mbak nia dan ika yang sudah menjerumuskan kehidupanku yang cemerlang ke lembah kenikmatan dunia yang fana ini.

Aku benar-benar harus meninggalkan mereka walaupun sebenarnya aku masih menyayangi mbak ika khususnya dan jatuh hati pada mas boby yang telah merenggut keperawananku kemarin. Aku bisa saja bertahan namun itu akan sangat menyakiti diriku, dan aku yakin bahwa kehidupanku kedepannya akan semakin buruk jika aku bertahan menetap bersama mereka.

Hari ini aku pulang kampung menaiki sebuah minibus yang berkendara cukup kencang, walaupun sudah kencang namun masih membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 jam untuk tiba di desa kampung halamanku. Saat aku tengah terlelap, aku terbangun karena menyadari minibus yang kutumpangi berhenti, aku ‘kumpulkan nyawa’, sebelum akhirnya berusaha beranjak ingin melihat apa yang terjadi di luar, karena di mobil ini hanya tersisa aku yang masih berada di dalam.

“Kenapa pak mobilnya?” tanyaku pada pak supir.

“Oh ini mobilnya mogok neng, jadi kemungkinan penumpang akan dialihkan ke bus lainnya” jelas pak supir.

“Oh gitu, ngomong-ngomong penumpang yang lain kemana ya pak?” tanyaku seraya celingukan mencari penumpang yang lain.

“Mereka sudah naik bus lain beberapa menit yang lalu, mbaknya masih tertidur, jadinya saya enggan membangunkan” jelas beliau.

“Yaahh harusnya bapak bangunin aja tadi, jadi ini saya tinggal sendiri dong pak?” tanyaku kebingungan.

“Gak kok, itu ada dua pemuda yang punya satu tujuan dengan neng, mereka lagi bantu menghidupkan minibus saya ini” jelas pak supir

Aku merasa kurang nyaman karena kini hanya tersisa aku wanita sendiri dengan 3 pria yang tak kukenali. Aku memutuskan untuk kembali duduk di dalam, namun karena fikiran dan fisikku yang keletihan, aku malah kembali tertidur. Kurang lebih 2 jam aku tertidur, aku merasakan bahwa minibus ini dalam keadaan melaju, kuintip ke jendela, benar saja bahwa minibus ini tengah melaju seperti sedia kala, aku yang sama sekali tak menaruh curiga, hanya bertanya

“Sudah baik ya mobilnya pak?”,

“Iyaa udah neng, makasih sama dua masnya yang lagi tertidur di belakang itu” ucap pak supir. Kutoleh ke belakang, terlihat dua pemuda tadi tengah tertidur pulas kelelahan.

“Baik lah pak, kira-kira berapa jam lagi tiba di desa saya?” tanyaku.

“2 jam lagi neng, kalau mau lanjut istirahat silahkan” ucap pak supir.

Saat aku hendak kembali tertidur, aku heran kenapa rasanya wajahku kok lembab, keringat atau apa ya? Begitu juga dengan jilbab panjangku terasa sedikit lembab.

“Ah mungkin karena keringatku kali” ucapku dalam hati dan kembali memejamkan mata.

Hal yang tidak diketahui aliyah adalah saat ia tertidur tadi, setelah minibusnya berhasil nyala, kedua pemuda dan pak supir tidaklah langsung berberes untuk berangkat, melainkan mereka merencanakan untuk sedikit bersenang-senang dengan tubuh aliyah yang tengah tertidur pulas.

“Wah lumayan nih dapat penumpang akhwat, saya tau masnya letih tapi apa ya iya mau melewatkan kesempatan ini?” Tanya pak supir.

Kedua pemuda itu saling berpandangan hingga akhirnya mereka mengangguk, mereka bertiga mulai melepaskan semua celana dan cd mereka dan mulai merangkak naik ke minibus, mereka sangat hati-hati, takut sang akhwat terbangun dari tidurnya.

Pak supir memposisikan tubuhnya duduk di kursi supir yang dilipat tepat di depan sang akhwat sementara pemuda 1 berada disamping akhwat dan pemuda 2 berada di belakang kursi akhwat, pemuda 1 lalu mengatur posisi senderan kursi sang akhwat untuk miring ke belakang sehingga pemuda 2 dapat memperhatikan wajah sang akhwat juga. Satu persatu mereka mulai mengocok penisnya masing-masing, penis pemuda 2 termasuk yang terpanjang dibandingkan milik pak supir dan pemuda 1, bukan hanya mengocok penisnya masing-masing, mereka juga mulai meraba lembut tubuh sang akhwat.

Pak supir meraba seraya menaikkan rok panjang hitam sang akhwat hingga ke pinggang, mereka bertiga melotot melihat kemolekan paha mulus sang akhwat, pak supir lalu mencoba menurunkan cd sang akhwat namun pergerakan tangan pak surpir terhenti sejenak karena sang akhwat melenguh “Ihh” ketika pak supir menyentuh bibir vaginanya, kini celana dalam sang akhwat sudah berada diujung kakinya.

Ketiga pria bejat tersebut terdiam terpaku memperhatikan vagina sang akhwat yang diselimuti bulu-bulu halus, jelas terlihat belahan bibir vaginanya sangat rapat, pak supir memberanikan dirinya untuk sedikit membuka belahan vagina sang akhwat, seketika pak supir langsung tersenyum kepada kedua pemuda.

“Sudah jebol si neng ini” ucapnya singkat seraya menyeka liur di sudut bibirnya

Kedua pemuda tadi bergegas merubah posisi mereka untuk melihat langsung vagina sang akhwat dari dekat, kini mereka bertiga tersenyum licik, tanpa menunggu waktu lama, pak supir mulai memposisikan tubuhnya di atas sang akhwat yang masih tertidur pulas,

ia arahkan penisnya untuk masuk kedalam belahan vagina sang akhwat, saat sudah masuk setengah, ia tak mampu menahan gejolak birahi dalam dirinya sehingga ia melakukan genjotan cepat namun tak terlalu dalam, khawatir sang akhwat akan terbangun, belum sampai 3 menit pak supir sudah menarik penisnya keluar dari liang vagina sang akhwat dan mengarahkan penisnya yang tengah berkedut-kedut ke wajah sang akhwat,

lalu menyemburlah sperma hangat ke wajah sang akhwat yang masih terus tertidur pulas, pak supir lalu terduduk lemas di bangku belakang sang akhwat.

Berikutnya pemuda 1 mulai memposisikan penisnya untuk menghujam vagina sang akhwat, dari mereka bertiga, penis pemuda 1 lah yang paling pendek dan kecil, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk memasukkan semua penis kecilnya ke dalam vagina sang akhwat, pemuda 1 mulai menggenjot vagina sang akhwat

“Uhh” terdengar sang akhwat mengeluarkan desahan singkatnya.

Mendengar itu, pemuda 2 yang sedari tadi mengocok penisnya benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk menahan sperma yang telah terkumpul di kepala penisnya dan “Ughh” desah pemuda 2 diikuti semburan deras spermanya melompat dan mendarat indah di wajah sang akhwat beberapa tetes membasahi jilbab panjang sang akhwat.

Melihat pemuda 2 telah orgasme, pemuda 1 benar-benar tidak tahan merasakan sempitnya liang vagina sang akhwat sehingga ia lekas mencabut penisnya dari vagina sang akhwat dan mengocok cepat penisnya di depan wajah sang akhwat, semburan deras sperma pemuda 1 membasahi wajah sang akhwat bersatu padu dengan sperma pak supir dan pemuda 2 yang sudah mulai mengering.

Kedua pemuda lekas memakai celananya dan terduduk lemas di bangku paling belakang, sementara pak supir yang telah mengisi tenaganya, mulai bangkit dan memakai celananya kembali, ia mencari tisu untuk membersihkan wajah sang akhwat yang dilumuri sperma mereka bertiga, tak dapat sepenuhnya bersih tapi setidaknya tidak terlalu basah.

pak supir lalu kembali menaikkan cd sang akhwat dan merapikan rok panjang hitam sang akhwat seperti sediakala dengan harapan sang akhwat tidak curiga dengan apa yang mereka telah lakukan.

Setelah semuanya beres, pak supir kembali ke kursi pengemudinya dan kembali mengemudikan minibusnya sampai ke tujuan

Bersambung