Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat

Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Skandal Di Sekolah S2 Part 15

Final Execution!

Ika

Hari ini adalah hari sabtu dimana sama sekali tidak ada aktifitas perkuliahan, sehingga aku, nia dan aliyah hanya beraktifitas di rumah. Aku dan nia memasak untuk makan siang pada hari ini. “Ika, nih obat yang kamu maksud” ucap nia memberikan satu sachet obat perangsang dosis tinggi kepadaku.

Obat perangsang tersebut kami rencanakan untuk menjadi pemicu awal mula proses penjebakan aliyah yang akan kami eksekusi pada hari ini. Akhirnya masakan kami telah siap untuk disantap, “Aliyah..aliyah..makanan sudah siap, mari makan!” teriak nia memanggil aliyah.

“Iyaa sebentar mbak!” sahut aliyah dari dalam kamarnya.

Saat aku sedang membagikan porsi makanan, tepat di piring yang akan aliyah gunakan aku taburkan obat perangsang dosis tinggi yang nia berikan padaku tadi, lalu aku aduk dengan makanan tersebut agar tak menimbulkan rasa curiga pada diri aliyah. Kami menghabiskan makan siang seraya membicarakan banyak hal, setelah aliyah menyelesaikan makanannya ia terlihat tergesa-gesa mencuci piringnya dan bergegas ke kamarnya “Makasih makan siangnya mbak” ucapnya singkat.

Aliyah

Hari ini akhirnya kami bertiga dapat berkumpul bersama dan makan siang bersama, sudah lama kami tak berbicara banyak hal dan berbagi pendapat di meja makan ini. Makanan yang dibuat oleh mbak ika dan mbak nia memang tiada duanya, mereka sungguh ahli dalam soal masak memasak.

Namun ada sedikit perbedaan pada makanan yang kali ini mereka buat, setelah aku menyelesaikan makananku, aku merasakan gejolak hasrat menggebu dalam diriku ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh dan terasa gatal disekitar vaginaku, aku tak tau bagaimana hal ini bisa terjadi, yang jelas hal ini harus lekas aku salurkan agar tidak menimbulkan migraine pada kepalaku. Aku lekas pamit untuk kembali ke kamarku kepada mbak ika dan nia untuk segera menuntaskan hasrat yang menggebu ini.

Kuambil posisi yang sama seperti biasa, dimana kuturunkan cd putihku dan kunaikkan gamis bawahan berwarna merah marunku sebatas paha lalu kuselempangkan jilbab biru tuaku ke bahu, aku lekas berbaring terlentang dengan kedua kaki mengangkang lebar, aku benar-benar sudah tidak tahan, sehingga jari-jariku sedikit kasar menggesek bibir vaginaku, aku tak peduli jika aku akan tertangkap basah oleh mbak ika yang penting sekarang adalah aku harus menyemburkan cairan vaginaku dengan segera, tangan kiriku asyik memainkan bibir vaginaku dan tangan kananku asyik meremas kedua payudaraku bergantian,

“Akhh sshh akkhh” desahku tanpa malu.

Sesaat ketika aku hampir meraih puncak kenikmatan, “Kreaak” suara pintu kamarku terbuka, ternyata mbak ika memergoki perbuatan zinaku ini, betapa malunya aku, ia yang menyadari aku yang sangat ketakutan lekas menutup pintu kamarku dan mendekatiku, aku lekas bangkit dan merapikan pakaianku,

“Mbak aliyah lagi ngapain?” Tanya mbak ika yang masih terlihat kaget.

“Enngg iii ini mbak…” aku benar-benar tak sanggup untuk menjawab pertanyaannya.

“Ssstt…sudah jangan gugup, saya paham kok apa yang mbak aliyah perbuat, ini ndak salah kok, ini alamiah” ucapnya yang mencoba untuk menenangkanku. Mbak ika menggenggam tanganku seraya berkata

“Sudah berapa sering mbak aliyah begini?” tanyanya.

“Eeenngg beberapa kali mbak..hiks” ucapku yang tak mampu menahan tangis

“Ssstt sudah sudah, jangan nangis, jangan sesali, jika itu dapat memenuhi kebutuhan mbak ndak apa-apa asalkan kehormatan dijaga, saya sering juga kok” jelasnya, mendengar kata-kata mbak ika yang

“saya sering juga kok” seketika rasa malu dan takutku memudar.

“Sering mbak?” aku memberanikan diri bertanya.

“Iya mbak, saya sering kok, asalkan terjaga itunya” jelas mbak ika.

Mbak ika lalu mengelus tanganku lalu bahuku dengan maksud untuk menenangkanku. Namun elusan tangan mbak ika mulai berubah menjadi pijatan lembut, dari bahu dan mulai turun ke payudaraku.

“Punya mbak aliyah besar juga ya..” ucap mbak ika singkat.

“Enngg mbak ika ngapain mbak..sshh” tanyaku seraya menikmati pijatan lembut mbak ika pada payudaraku.

“Saya lagi ngajarin ilmu baru padamu mbak” ucap mbak ika seraya melanjutkan pijatannya pada payudaraku sementara tangan satunya mulai menyingkapkan gamis bawahanku,

“Aihh..mbak ngapain disitu” pekikku terkejut merasakan tangan mbak ika mengelus bibir vaginaku.

“Nikmatin aja mbak, ndak masalah kok, kan kita sama-sama perempuan” ucap mbak ika.

Terasa jari-jari mbak ika mulai bermain di bibir vaginaku, namun permainan jarinya berbeda denganku yang hanya sebatas bermain di sekitar bibir bagian atas, jari-jari mbak ika bermain hampir disetiap sisi bibir vaginaku yang memberikan sensasi tersendiri pada tubuhku.

“Kalau mbak aliyah pengen pegang punya saya, pegang aja” ucap mbak ika.

Aku yang sedikit ragu akhirnya memberanikan diri memegang payudara mbak ika betapa terkejutnya menyadari bahwa mbak ika tidak mengenakan bra,

“Mbak! Mbak ndak pakai bra ya?” tanyaku kaget.

“Hehe iya mbak, lagipun kan kita di rumah” jelasnya seraya masih asik memberikan rangsangan pada tubuhku.

Aku mulai mencoba meremas payudara mbak ika dari balik gamis hitam dan jilbab abu-abu nya, terasa pentil payudaranya mulai mengeras.

“Akkhh …” desah mbak ika menikmati remasan yang kulakukan pada payudaranya.

“Akkhh sshh mbak…” desahku diikuti semburan cairan vaginaku yang langsung membasahi tangan dan lengan gamis mbak ika.

“ugghh ugghhh…maaf mbak muncrat-muncrat” ucapku tersendat-sendat menikmati desiran syahwat yang begitu besar.

“Nikmat ya mbak?” Tanya mbak ika singkat. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Mbak, akan lebih nikmat apabila menikmati rangsangan dengan mata tertutup loh” ucap mbak ika yang membingungkanku.

Terlihat mbak ika mengambil sebuah penutup mata untuk tidur, lalu ia berikan kepadaku.

“Pakai ini mbak, dan serahkan pada saya urusan memuaskan mbak” ucap mbak ika.

Akupun bagai kerbau yang dicucuk hidungnya menuruti saja anjuran mbak ika untuk menggunakan penutup mata itu. Aku menunggu sedikit lama hingga kembali kurasakan sentuhan demi sentuhan tangan mbak ika pada tubuhku, tiba-tiba terasa kedua tanganku di bentangkan dengan keras ke kanan dan ke kiri oleh dua orang,

“Ehh! Apa-apaan ini! Lepaskan saya!” ucapku panik.

Kedua tanganku ditarik ke besi ranjangku yang tepat diatas kepalaku.

“Apa-apaan ini, siapa kalian!” teriakku panik. Mereka dengan sigap mengikat pergelangan tanganku dengan beberapa utas tali ke besi ranjangku ini, hingga kini hanya kakiku saja yang dapat bergerak bebas.

“Akhirnyaaa” terdengar suara perempuan yang tak asing bagiku.

“Sekarang nikmatin ya!” ucapnya lagi yang tak lain adalah suara mbak nia.

“Mbak nia! Apa-apaan ini! Lepaskan saya!” Teriakku dengan mata masih tertutup.

Terasa ada benda bergetar digesek-gesekkan di bibir vaginaku, getaran benda itu memicu rasa gatal luar biasa pada vaginaku.

“Akkhh akkhh apahh ituhh!” desahku.

“Ini namanya vibrator untuk mainin memek!” ucap mbak nia.

Aku sungguh tak menyangka mbak nia dengan mudahnya mengucapkan kata kotor itu.

“Mbak singkirkan benda itu mbak sshh!” desahku menolak pelecehan yang mbak nia lakukan padaku.

Dan benar saja ia turuti permintaanku, namun aku merasakan benda basah menggelitik bibir vaginaku lagi, “Apa itu mbak, kok basah!” teriakku panik.

“Sudah lah nikmatin aja, ini lidah” ucap mbak nia enteng.

“Ihh jijik mbak! Jangan dijilat dong vaginaku!” tolakku dengan menggoyang-goyangkan pinggulku.

“Plak!” sebuah tamparan keras mendarat di bibir vaginaku.

“Vagina vagina! Ini memek namanya!” ucap mbak nia lantang.

Aku benar-benar takut terhadap perbuatan mbak nia sehingga mulai terasa air mataku membasahi penutup mata ini.

“Akhhh huuuu..sshh” desahku diselingi tangisan. Entah lidah siapa itu yang kini sedang ‘menyapu-nyapu’ di bibir vaginaku.

Boby

Siang ini aku mendapatkan pesan singkat dari ika yang memintaku untuk datang ke kontrakannya segera. Aku yang kebetulan sedang tidak ada kegiatan lekas mengendarai sepeda motorku menuju kontrakan ika. Setibanya aku disana, terlihat ika tengah menunggu kedatanganku di ruang tamu. Aku lekas masuk dan menanyakan maksud ajakannya.

“Ada apa sih ka? Pengen dientot lagi ya?” tanyaku sekaligus meledeknya.

“Ngentot aja pikirannya! Ini aku ada tawaran hangat loh” Ucap ika yang dilanjutkan ia membisikkan sebuah ide yang cukup mengagetkanku, yaitu ia ‘menawarkan’ aliyah untuk aku eksekusi. Sesungguhnya aku memang jatuh hati pada aliyah, namun di sisi lain ada hasrat tersendiri untuk mengeksekusi akhwat yang bener-bener ‘murni’ alias perawan.

Aku benar-benar gundah menghadapi pilihan ini, namun akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran ika tersebut dan berencana akan menikahi aliyah setelah eksekusi hari ini.

“Baik lah ka, aku terima, sekarang dimana dia?” tanyaku.

“Ada tuh di kamarnya, lagi dikerjain sama nia” ucap ika.

Setibanya di kamar aliyah, kumelihat pemandangan surga dunia yang sesungguhnya, yaitu terlihat aliyah yang terlentang dengan kedua tangan terikat ke besi ranjang sementara kedua kakinya mengangkang indah memperlihatkan bibir memek yang diselimuti bulu-bulu halus.

Aku segera membuka semua pakaianku, kontol panjangku masih lemas menggantung, aku lekas mengambil posisi untuk melakukan ‘jilmek’ pada memek aliyah. Tercium aroma perawan yang sesungguhnya, aku mulai menjilatinya.

“Aih…itu lidah siapa! Mbak ika ya!” ucap aliyah kaget.

Aku masih diam dan terus menjilatinya, terlihat liang memeknya mulai berkedut-kedut pertanda ia akan mengalami fenomena orgasmenya dan benar saja

“Akkhh mbakk..sshh” desahnya diikuti semburan demi semburan cairan cintanya membasahi bibir dan wajahku.

Aku lalu berdiri dan hendak memposisikan kontol lemasku untuk masuk ke memek perawan aliyah.

“Ihh ihh apa itu!” ucap aliyah panik. Ika dengan sigap mengocok kontolku agar segera ‘siap tempur’. Sementara ika sibuk mempersiapkan ‘alat tempur’ ku, aku sibuk mencari toket aliyah yang dapat kuremas,

“Akkhh pelan-pelan dong mbak..” desah aliyah menerima remasanku pada toketnya.

Saat kupastikan bahwa kontolku sudah keras mengacung, aku kembali berusaha untuk memasukkan ke dalam memek aliyah yang masih sempit ini.

“Ampun mbak ampun! Apa itu mbak! Jangan perawanin aliyah..maafin aliyah” aliyah memohon.

Ika yang menyadari bahwa aliyah akan berteriak saat aku menghentakkan kontolku, lekas membekap mulut aliyah. Dengan sedikit kasar aku mendorong kontolku, terasa aku merobek sesuatu di dalam sana, kini ¾ kontolku sudah masuk di dalam memek perawan aliyah, pijatan liang memeknya luar biasa hebat dibandingkan dengan memek yang sudah biasa aku ‘pakai’.

Teriakan aliyah tertahan oleh bekapan tangan ika. Terasa tubuh aliyah bergetar menahan rasa sakit, aku perlahan memasukkan kontolku hingga akhirnya keseluruhan batang kontolku berada di dalam memek aliyah.

“Hiks..hikss…sakit mbak..itu apa mbak…besar banget…hiks” aliyah menangis.

Aku singkirkan semua rasa kasihanku dan kembali menjadi gigolo sediakala, aku mulai menggenjot pelan memek aliyah,

“Akkhh sakit..hentikan…” mohonnya.

Aku tak memperdulikan hal itu, aku terus saja menggenjot memek aliyah yang luar biasa rapat ini. Seiring berjalannya waktu, aliyah mulai terbiasa dengan gesekan kontolku di dalam memeknya sehingga mulai terdengar samar-samar desahan dari bibir mungilnya

“Akhh sshh”.

Kuberikan remasan lembut pada kedua toketnya, terasa dinding memeknya kembali berkedut pertanda ia akan kembali orgasme, akupun yang paham akan hal ini lekas mempercepat genjotan kontolku,

“Akkhh ssshhh akkkhh” desahnya diiringi semburan deras cairan cintanya menghangatkan kontolku yang masih bersarang di dalam memeknya.

Kucabut keluar kontolku, kubersihkan darah perawan yang lengket di batang kontolku dan juga di bibir memek aliyah, kulihat ika merekam aktifitas eksekusiku ini, sementara nia sibuk bermasturbasi dengan mengeluar masukkan vibrator ke dalam memeknya.

“Ah dasar akhwat lonte” pikirku melihat aktifitas masturbasi yang nia lakukan. Setelah nafas aliyah kembali normal, ika lalu mencekokkan 2 butir obat ke aliyah.

“satu perangsang dan satu lagi obat anti hamil” bisik ika padaku.

Mengetahui hal itu, aku kembali memposisikan kontolku untuk kembali menggempur memek aliyah,

“Akhh sudah dong..jangan lagi,…” ucap aliyah merasakan kontolku masuk ke dalam memeknya.

Aku menggenjotnya selama kurang lebih 7 menit hingga akhirnya ika membuka penutup mata yang sedari tadi aliyah kenakan.

Betapa kagetnya aliyah melihatku yang sedang menggenjot memeknya,

“Mas boby! Kenapa mas tega pada saya! Lepasin saya mas!” teriaknya yang seakan tak percaya pada apa yang ia lihat.

Aku membungkukkan tubuhku dan mencoba mencumbu bibirnya namun yang kudapat adalah ia meludahiku tanda benci, ludahnya yang menempel pada wajahku kumasukkan ke mulutku dan kupaksakan ia untuk bercumbu denganku.

“Ehhmm hhmmm” hanya itu yang dapat terdengar dari bibirnya yang sedang kucumbu.

Kupercepat genjotanku karena aku sudah tak mampu lagi menahan luapan syahwat ini, kupegang erat pinggulnya, “Akhh mass mass..aakhhh saya pipis lagihhh” desahnya diikuti semburan cairan cintanya yang memicu kontolku untuk menyemburkan peju, kuhentakkan dan kudiamkan sedalam mungkin dan “crott…crott..croott” kontolku menyemburkan 4 semburan peju di dalam memeknya.

“Akkhh nikmat..” teriakku.

Setelah semburan terakhir usai, aku keluarkan kontolku dari memeknya aliyah, terlihat peju kentalku mengalir deras keluar diikuti sisa darah perawan aliyah.

Ika

Saat aliyah mulai bisa mengatur nafasnya, ia menangis sejadi-jadinya

“Kalian kenapa setega ini padaku! Kenapa jahat padaku!” teriak aliyah.

“Karena kau dah membongkar rahasiaku wahai lonte!” bentak nia yang tidak tahan mendengar tangisan aliyah.

“Plak!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi nia, boby menampar keras nia seraya berkata

“Aku cinta aliyah! Aku nikahi ia besok, aku melakukan ini bukan untuk urusan balas dendammu! Ingat itu!”, nia yang tak terima ditampar boby lekas berlari keluar.

Akupun berinisiatif untuk melepas ikatan pada tangan aliyah.

“Aliyah, mas boby janji bakal nikahin kamu” ucap boby pada aliyah.

“Kalian semua pergi dari kamarku! Aku mau sendiri!” bentak aliyah padaku dan boby, kamipun keluar dan menutup pintu kamar aliyah dan kudengar aliyah menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya

Bersambung