Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 7

HUJAN

‚ÄčArci memakai seragam sekolahnya yang basah terkena hujan. Saat itulah dia melihat seorang cewek gemuk berkacamata duduk di halte. Hujan-hujan ternyata menjadi salah satu kebiasaan dari Arci akhir-akhir ini. Arci tentu kenal dengan cewek itu.

“Kamu kan???” Arci berhenti di depannya sambil menunjuk cewek gemuk berkaca mata.

“Hah? Aku??” tanyanya.

“Iya, kamu. Kamu Iskha bukan?” tanya Arci.

“Lho?? Koq tahu namaku?”

“Ya ampun, lupa ama aku?”

Cewek gemuk itu menggeleng.

“Ini aku Arci. Kita pernah ketemu di hotel waktu itu, sama mamamu!”

“Hotel?? Sama mama? Emangnya tahu siapa mamaku?”

“Mamamu Bu Susiati kan?”

“Iya. Emangnya aku dan mamamu kenapa?”

“Duh, masa’ nggak ingat sih. Ya udahlah. Mau aku anter?”

“Hujan begini?”

“Dianter calon suami nggak mau?”

“Heh? Sejak kapan kamu jadi calon suamiku?”

“Sejak di hotel itu.”

“Sembarangan.”

“Aku sudah janji sama kalian dan aku tak akan mengingkari janjiku. Ayo aku anter, daripada membusuk di sini!?”

Iskha ragu-ragu. Akhirnya dia berdiri juga. Hujan masih belum reda, tapi mau tak mau akhirnya mereka berdua pun berboncengan. Sedikit beban buat sepeda motor Arci tipe Honda Supra-X ini menahan beban beratnya. Tapi itu tak jadi masalah. Arci tak ada niat buruk sama sekali. Mereka pun melaju di atas aspal yang basah.

***

“Iskha, Iskha! Kamu harus kuat! Kamu harus kuat!” teriak Andini sambil mendampingi Iskha yang didorong di atas ranjang dorong. Tapi ketika masuk ke ruang ER Andini pun ditahan oleh para perawat. Ia tak menyangka bisa melihat tubuh Iskha bersimbah darah seperti itu. Ada luka robek di kepala, tangannya pun patah.

Tak berapa lama kemudian dari arah lain muncul juga pasien lain yang didorong oleh tiga orang perawat. Saat itulah ia terkejut melihat wajahnya. Dia kenal orang itu.

“Arci?? Dia yang bersama adik saya?” Andini bertanya kepada salah seorang perawat.

“Iya, mereka boncengan. Menurut saksi mata karena jalan licin akhirnya sepeda motornya selip. Mungkin karena mereka ngebut. Setelah itu yang cowok menghantam pembatas jalan. Yang cewek terseret beberapa meter hingga hampir ditabrak mobil box,” ujar sang perawat.

Andini terperangah. Bagaimana bisa Iskha ketemu dengan Arci? Bagaimana mereka berdua bisa bertemu? Ya, sejatinya walaupun bukan saudara kembar, tapi wajah Andini dan Iskha mirip. Iskha adalah adik satu-satunya. Dan sekarang ia pun bingung bagaimana bisa dua orang yang ada arti dalam hidupnya ada di rumah sakit yang sama?

Andini menunggu dan menunggu. Sementara para dokter dan asisten dokter sudah masuk ke ruang operasi dari tadi. Andini berharap cemas, menunggu dalam kegamangan, cemas. Hingga kemudian lampu kamar operasi telah mati. Andini berdebar-debar, sampai sang dokter dengan pakaian dokternya serta sarung tangan bersimbah darah keluar. Sang dokter menggeleng sambil menundukkan wajahnya.

“Tidak, tidak, tidak mungkin! Adek! Adek! Adekku! Iskhaaa!” jerit Andini. Terlebih ketika ia masuk ke ruang operasi untuk melihat adiknya untuk yang terakhir kali.

Tak berapa lama kemudian dari arah lain muncul ayah dan ibunya. Mereka pun shock. Anaknya Iskha telah tiada karena sebuah kecelakaan maut. Andini menangis sejadi-jadinya Bu Susiati berusaha menenangkan anaknya itu.

“Mama, ini salah kita ma. Salah kita,” kata Andini.

“Salah kita? Kenapa?” tanya Bu Susiati.

“Arci ada di sini. Dia tadi membonceng Adek,” kata Andini.

“Anak itu?? Bagaimana dia bisa bertemu dengan Iskha?”

“Siapa Arci?” tanya papa Andini.

“Ceritanya panjang pa, nanti akan mama jelaskan,” jawab Bu Susiati.

“Arci, bagaimana dengan dia?” Andini tiba-tiba segera beranjak meninggalkan Iskha. Dia langsung menuju ke ruang operasi sebelah yang ternyata sudah selesai. Ia langsung bertanya kepada perawat.

“Di mana orangnya sus?” tanya Andini.

“Oh, pasiennya ada di ruang observasi. Kami belum bisa menghubungi keluarganya,” katanya.

“Pindah dia ke VIP! Cepetan! Kami akan tanggung semua biayanya!” kata Andini tegas.

Setelah mengurusi segala administrasinya kemudian Arci yang sudah melakukan operasi itu dipindahkan ke kamar VIP. Ia mendapatkan cedera yang cukup parah ternyata. Kepalanya dibalut perban melingkar. Menurut dokter ia mendapatkan gegar otak ringan. Sebagian ingatannya mungkin akan kacau. Andini pun menemaninya setelah ia menguburkan Iskha. Di samping Arci ia terus berbisik.

“Kenapa kamu sampai bertemu dengan adikku? Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Andini.

“Apa yang kalian lakukan?”

Setelah seminggu kemudian Arci pun terbangun. Melihat dia diinfus dan seorang wanita ada di dekatnya Arci merasa ada yang aneh. Ia tak ingat apapun. Bahkan bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit ia pun bingung.

“Lho, aku di mana?” tanya Arci.

“Kamu sudah bangun? Kamu tahu siapa namamu?” tanya Andini.

“Ya….sepertinya begitu. Kenapa aku bisa ada di sini? Dan kamu….?? Iskha?”

Andini terkejut karena Arci mengenali dirinya sebagai Iskha.

“Oh, maaf. Aku ingat sekarang, aku mengantarkanmu pulang trus kita jatuh…..dan…ah iya, itulah mengapa aku ada di rumah sakit ini,” ujar Arci.

“Syukurlah kamu tak apa-apa.”

Andini memang mirip Iskha. Akan tetapi hal itu membuat Andini sakit.

“Kenapa kamu ada waktu itu?” tanya Andini.

“Entahlah, udah jodoh mungkin. Hehehehe. Sorry yah, kamu yang biayain semua ini?” tanya Arci.

Andini mengangguk.

“Kamu dan ibumu memang baik. Aku makin berhutang kepada kalian,” kata Arci.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Kamu istirahat yang cukup saja,” kata Andini sambil mengusap wajah Arci.

Andini sekuat mungkin menyembunyikan kematian adiknya kepada Arci dan membiarkan lelaki ini menganggap dirinya sebagai Iskha. Ini semua juga salah dia. Di hotel dulu dia mengaku sebagai Iskha, bukan sebagai Andini.

“Iskha, aku akan tetap memegang janjiku. Kamu tak perlu khawatir. Aku akan kembalikan uang kalian. Aku akan kembalikan,” ujar Arci.

“Sudahlah tak usah dipikirkan. Kamu tak kembalikan juga tak apa-apa koq.”

“Tapi aku sudah janji. Aku tak mau berpantang dari janjiku.”

“Apa kamu mau menikah dengan wanita seperti aku ini? Aku jelek. Aku gendut.”

“Tapi hatimu baik. Aku tak keberatan.”

“Kamu anaknya ganteng, pasti akan banyak yang suka ama kamu di luar sana nanti. Aku jelek, nggak pantas ama kamu.”

“Jangan berkata seperti itu. Siapa wanita yang mau menolong seorang anak yang sedang membutuhkan bantuan? Engkau. Dan aku tidak akan berpaling dari janjiku. Tunggulah aku sampai usia 25 tahun.”

“Itu tak perlu.”

“Bagiku itu perlu.”

“Kamu memangnya mau dengan aku yang seperti ini?”

“Iya, aku tak keberatan.”

“Apa kata orang kalau kamu nanti beristri wanita seperti aku?”

“Aku tak peduli kata orang. Asal kamu mau bersabar dengan keadaanku, aku tak keberatan.”

Andini tak mampu lagi membendung tangisnya. Ia ingin mengatakan bahwa dia bukan Iskha. Tapi ia tak sanggup.

“Arci!?” tampak ibu dan kakaknya Arci datang. Andini menoleh ke arah mereka. Tentu saja Lian dan Safira terkejut. Tapi Andini memberi isyarat dengan mengangguk.

“Aku tinggal dulu. Kamu istirahat saja,” kata Andini.

Seribu pertanyaan terlintas di benak Lian dan Safira. Mereka tahu bahwa wanita yang berada di satu ruangan dengan Arci ini adalah yang menyewa jasa gigolo Arci beberapa waktu yang lalu. Andini tangisnya makin menjadi.

“Maafkan aku Iskha, dia menganggap diriku sebagai dirimu. Aku tak menyangka ada seorang laki-laki seperti ini. Apakah aku pantas untuknya? Apakah aku pantas untuk orang sebaik dia? Dia dari keluarga orang-orang yang baik. Tapi…kenapa adek ikut dia, tidak. Dia tidak tahu kalau adek udah pergi. Dia tak boleh tahu. Belum saatnya, aku akan datang kepadanya suatu saat kelak. Aku akan datang, tapi dengan wajah berbeda. Aku ingin dia benar-benar menyukaiku. Bukan karena terpaksa, aku ingin dia benar-benar menyukaiku…..Apakah permintaanku terlalu muluk Yaa Tuhan??”

Andini menangis lagi. Ia sudah berada di luar rumah sakit. Hujan pun turun lagi membasahi bumi. Menyapu segala kesedihan kepada orang-orang yang sedang berduka. Andini melihat langit yang mendung. Wajahnya tersiram air hujan. Dia bertekad harus jadi orang yang berbeda. Orang yang berbeda. Ia tak mau Arci melihat dirinya sebagai Iskha. Dia adalah Andini. Andini Maharani.

“Dini?!” panggil seseorang sambil membawa payung.

“Papa?”

“Ngapain kamu hujan-hujanan?”

Andini langsung memeluk papanya. “Kenapa anak orang yang menyelamatkan hidup papa, sangat baik? Dan kenapa aku justru jahat kepadanya?”

“Sudahlah?! Kita harus melaksanakan wasiat Om Zenedin. Sampai dia nanti siap untuk menjadi pemimpin perusahaan,” kata papanya Andini.

“Ada satu lagi pa. Andini mulai suka ama dia,” kata Andini.

“Hmm?? Serius?”

“Nggak tau.”

“Ya sudah, ayo kita pulang. Mamamu sudah menunggu di mobil.”

Andini pun akhirnya berjalan meninggalkan Rumah Sakit bersama papanya. Mereka menuju ke sebuah mobil SUV warna putih. Di dalamnya ada Bu Susiati yang sudah menunggu mereka. Papanya Andini sebelum masuk ke mobil menoleh dulu ke rumah sakit.

“Semoga kita bisa bertemu lagi, Arci,” gumamnya.

bersambung