Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 6

HIATUS

Dua tahun lalu….

“Ooohhh…ahh…ahh…ahh…,” jerit seorang perempuan yang sedang meliuk-liukkan pinggulnya di atas seorang lelaki.

“Ahhh…ahh…ahhh….ohh…fuck….enak banget,” kata lelaki di bawahnya

“Jes, enak banget jes…! Manukmu nyucuk jeru!”

“Ahhh….goyanganmu jiaaaannn uuweeenaaaaakk!”

“Uuggghhh…aduh Jes, pentilku ojok dijiwit! Aduuuuuhh….aahhh….aduhh…gatelll itilku gatel Jess! Aaarrgghhh…manukmu gedhi, manukmu gedhii….!”

“Aku seneng karo susumu, duh…koq empuk banget!”

“Uwissss Jess…aku ora kuat maneh… Aku metu…ngentoooottttttt! Ngenttooooottt! Aku dikenthu Jesie! Jessieeeeee ngentoooooottt!”

“Ayo Naa…aku metu Naaaaaaa….ohhh…Pejuhku metu….ErnAAAAAA!”

BRAAKK!

Pintu kamar kos terbuka. Saat itu wajah Rahma memerah, ia masih terbalut baju Toga. Ia baru saja diwisuda, sengaja ia langsung pergi ke tempat kos pacarnya Jesie. Jesie yang saat itu berada di puncak orgasme benar-benar menembakkan pejuhnya ke liang senggama Erna, seorang wanita SPG yang baru saja ia kenal di Matos.

Secara fisik Erna memang menarik, menggoda, rambutnya sedikit berombak, berwarna hitam dan merah ujungnya. Kedua wajah mereka melongo ketika di pintu tampak Rahma dan….seorang lelaki berkumis tebal dengan beberapa orang penghuni kos melihat mereka.

OK, ini saat yang sangat buruk bagi Jesie dan Erna. Ngentot di siang bolong, lupa ngunci pintu, digerebek oleh Pak RT. Dan itu sangat buruk karena mereka berdua sama-sama orgasme. Terlebih Jesie yang mendapati Rahma, pacarnya selama ini memergoki dia sedang indehoy. Setelah itu, nggak perlu diceritakan lagi. Jesie dan Erna langsung disidang.

“Woooooo…dasar mesum!” seru seseorang saat Jesie dan Erna berada di Balai RW.

Kedua tersangka kini tentu saja sudah pakai baju. Dan seseorang dari penggerebek, sengaja mengabadikan persenggamaan tadi. Ternyata mereka sudah mengintip dari sejak pertama kali Jesie mengajak Erna ke kamarnya. Dan akhirnya diabadikanlah persenggamaan mereka di sebuah lubang kamar kos, mungkin karena sudah terlalu nafsu Jesie dan Erna tidak waspada. Padahal di depan pintu kos sudah banyak orang yang siap menggerebek di saat mereka sedang berada di puncak. Dan penggerebekan berhasil.

“Jadi enaknya gimana? Telpon orang tua kalian untuk ke sini. Hari ini kita bakal menikahkan kalian!” kata Pak RT.

“Wah, pak jangan pak! Ampuun, saya bisa bayar deh asal jangan dibawa kedua orang tua kami,” kata Jesie.

“Kenapa? Kalian kan udah enak tadi indehoy di kamar,” kata Rahma.

“Rahma, maafkan aku Ma, maaaf,” kata Jesie.

“Maaf? Dasar hidung belang, brengsek!” umpat Rahma.

“Tapi aku begini juga karena kamu, Ma.”

“Koq karena aku?”

“Soalnya kamu nggak pernah mau aku ajak begituan!”

Seketika itu semua orang yang ada di balai RW tertawa semua.

“Woo dasar wong edan, emangnya memekku gratis buatmu ketika kamu jadi pacarku, sontoloyo!” ujar Rahma ketus.

“Udah deh, pak RT. Sidang aja, nikahin saja dia di sini, kalau nggak mau kirim aja ke kantor polisi.”

“Waduh, Rahma koq kamu tegaa?”

“Iya, kita emang berniat begitu.” Pak RT makin berang dengan kelakuan Jesie.

Sementara itu Erna dari tadi menangis karena malu. Ia sebenarnya perempuan baik-baik. Entah bagaimana ia bisa dirayu oleh Jesie hingga akhirnya bisa menghabiskan waktu untuk melakukan icikiwir di kamar kosnya. Memang untuk ukuran cowok Jesie cowok yang cukup tampan, terlebih dengan Toyota Altis miliknya bisa membuat cewek bakal langsung naik saja tanpa pikir panjang.

Apalagi sejak di dalam mobil Jesie memberikan jurus rayuan mautnya. Bagi cewek seperti Erna, dia tak perlu pikir panjang. Toh dengan pemuda tajir seperti Jesie, dia bisa punya harta yang bisa memuaskan Erna, tak hanya sekedar seks.

Itulah pengalaman buruk yang tak terlupakan bagi Rahma. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi dirinya, sekarang malah menjadi hari terburuk yang tak akan pernah dia lupakan.

Sejak saat itu Rahma menjaga jarak dengan siapapun. Ia hampir pasti tidak pernah lagi berniat pacaran atau dekat dengan cowok. Baginya dikhianati dengan cara seperti itu sungguh sakit. Kabarnya Jesie sudah dinikahkan “paksa”. Kabar terakhir mereka bahkan sudah punya anak. Rahma hanya tertutup, bukan berarti ia tak mau membuka hatinya untuk lelaki lain.

Rahma sedang sendiri di kamarnya sambil membaca-baca novel karangan Danielle Steel. Beberapa hari ini dia sudah memasukkan lowongan ke berbagai perusahaan. Entah mana yang bakalan nyantol. Total dia sudah membuat sepuluh aplikasi dan semuanya sudah dia kirim. Di kamarnya tiap malam dia habiskan untuk membaca novel-novel tebal itu hingga mengantuk. Namun hari itu ada yang berbeda, kalau saja ia tak mengangkat dering telepon itu mungkin hidupnya tak akan berubah.

Rahma segera mengangkat ponsel dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo? Siapa ya?” tanya Rahma.

“Rahma ya?” tanya suara itu.

“Siapa ya?”

“Ini aku Singgih. Masih ingat?”

Ingatan Rahma mulai sedikit demi sedikit tertata. Ingatannya kembali kepada saat masa-masa kuliah. Singgih adalah seniornya di kampus dulu. Dan tentu saja Singgih sudah berkali-kali mendekatinya, hanya saja karena saat itu Rahma sudah punya pacar, maka ia pun menjauh dengan sikap jantan.

“Oh, kamu.”

“Yah? Ekspresinya mana? Masa’ hanya bisa bilang gitu? Histeris kek, menjerit kek, kaget kek.”

Rahma tersenyum, “Dasar, kamu nggak berubah ya.”

“Begitulah, sudah dari sononya.”

“Hahahaha. Ada apa?”

“Nggak apa-apa, cuma say hai aja. Wah, nomorku kamu hapus ya? Koq sampai tanya segala?”

“Bukan begitu, ponselku hilang. Jadi nomor-nomor kontak terhapus.”

“Oh, begitu.”

“Tumben nyapa, biasanya juga diem.”

“Hahaha, bukan begitu Ma. Terus terang aku selama ini mencoba menghindar.”

“Menghindar? Kenapa menghindar?”

“Kamu tahu sendiri kenapa?”

Rahma dadanya serasa sesak ketika mengingat kembali bagaimana dulu perjuangan Singgih mendekatinya, tapi apa daya dia sudah punya Jesie waktu itu. “Hmm…”

“Aku sudah dengar semuanya tentang Jesie. Aku turut sedih.”

“Nggak usah kamu kasihani aku, emang seharusnya aku nggak bersama ama dia. Jangan sebut-sebut lagi nama si brengsek itu.”

“OK, OK. Btw, besok kosong nggak?”

“Ada apa?”

“Yah, kalau kosong kita jalan yuk?!”

“Hmm? Ini rencananya menggunakan kesempatan dalam kesempitan?”

“Hahaha, yahh…kamu tahu sendirilah. Aku juga namanya usaha. Apa tak boleh aku usaha?”

Rahma tersenyum. “Emang kamu nggak punya pacar?”

“Nggak, pacarku nanti cuma satu wanita. Cuma kamu aja. Dan kalau toh nggak bisa bersama dengan kamu aku akan membujang.”

“Huuu…gombal.”

“Namanya juga usaha. Jadi gimana?”

“Kamu mau ajak aku ke mana?”

“Ke Alun-alun Batu yuk!? Trus habis itu ke Museum Angkut”

“Ngapain ke sana? Itu tempat kencan yang nggak cocok. Rame banget.”

“Oh, enaknya tempat kencan itu seperti apa?”

“Terserah deh.”

“Lha?? Dasar cewek. Katanya ke sana nggak mau, trus bilangnya terserah.”

“Hehehehe, terserah tapi jangan ke sana.”

“Ke Selecta?”

“Ngapain ke sana?”

“Yah? Katanya kencan?”

“Emang siapa yang bilang kencan?”

“Kamu.”

“Iyo a? Moso’ seh?”

“Yo opo seh rek?”

“Hehehehe, ya udah ke alun-alun Batu ajah. Jemput yah?”

“Beneran?”

“Iya, beneran.”

“Siippp!”

***

Rahma dijemput oleh Singgih jam tujuh malam. Ini bukan malam minggu. Hari Sabtu saja masih tiga hari lagi. Singgih bukan dari keluarga kaya. Dia orang biasa hanya saja nasibnya mujur, itu saja. Setelah lulus, dia diterima bekerja di sebuah perusahaan air mineral yang ada di kota Pandaan. Tapi di sana masih bekerja sebagai karyawan kontrak, belum tetap.

Sebenarnya hari demi hari ia terus bertanya-tanya tentang kabar Rahma. Di dalam hidupnya hanya ada Rahma dan Rahma. Dia sudah cinta mati dengan Rahma semenjak kuliah. Tak sedikit usahanya untuk sekedar ngajak dia jalan, tapi sayang waktu itu Jesie sudah mengencani cewek itu duluan. Dia kalah cepat.

Rahma tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya Rahma cukup baik selama ini, selalu mendukung putrinya. Sebagai putri pertama maka Rahma punya beban. Ya, tentu saja. Dia harus bekerja untuk bisa membantu orang tuanya dalam merawat adik-adiknya.

Dalam urusan asmara kedua orang tuanya selalu mewanti-wanti Rahma untuk memilih lelaki yang baik, serta ketika berpacaran tidak kelewat batas. Mungkin atas nasehat kedua orang tuanya inilah Rahma benar-benar tidak pernah menerima ajakan Jesie untuk bercinta. Boleh dibilang pengalaman Rahma dalam bercinta masih nol. Meskipun ia pernah berciuman, tapi itu hanya sekedar tempel bibir, belum sampai ke french kiss.

Singgih pun datang dengan motor kesayangannya. Jangan dikira itu motor berkelas. Cuma motor bebek bermerk Honda Astrea tahun 98. Lama memang, tapi boleh dibilang cukup tangguh menemani Singgih selama ini. Rahma bukan cewek matre, dia juga sudah kenal Singgih lama.

“Oh, masih ada aja ini motor,” kata Rahma yang sudah menunggunya di teras.

Singgih turun dari motor dan menghampirinya. “Iya dong, sekalipun tuwir, tapi motor ini sangat berjasa. Tanpa dia aku bisa keteteran kuliah ama kerja.”

“Ya ya ya, terserah deh,” kata Rahma.

“Jadi jalan nggak?” tanya Singgih.

“Terserah.”

“Yuk?!”

“Buukk…paaaakk!? Rahma pergi!”

“Ojok bengi-bengi!” sahut ibunya Rahma dari dalam rumah.

“Mboten buk!” sahut Rahma. “Yuk!?”

Singgih tak mau berlama-lama, segera ia membonceng Rahma setelah menyerahkan helm kepada cewek yang baru saja patah hati ini. Menggeber motor di atas aspal menuju Alun-alun Batu merupakan perjalanan yang cukup jauh, mengingat rumah Rahma ada di daerah Purwantoro. Yang mana masih ada di kota Malang.

Untuk menuju Batu, maka mereka harus melewati jalan protokol, kampus-kampus seperti Kampus STMIK ASIA, STIMATA, Unbraw, Poltek UB, UNMUH dan lain-lain. Malang merupakan salah satu kota dengan perguruan tinggi terbanyak, maka dari itulah terkadang kota ini juga disebut sebagai kota pelajar.

Dahulu Batu masih merupakan satu kawasan dengan Malang, namun semenjak adanya otonomi Daerah, maka Malang dan Batu berpisah. Batu akhirnya mengurus sendiri rumah tangganya. Bahkan yang katanya buah Apel Malang pun sebagian orang sudah menjulukinya Apel Batu. Namun sekalipun sudah berpisah, Batu tak bisa lepas dari Malang dalam masalah kultur. Mereka masih satu daerah yang mana punya kebiasaan yang sama, bahasa yang sama dan perilaku yang sama.

Setelah mereka melewati jalanan yang cukup panjang mendaki dan melelahkan di antara mobil-mobil roda empat akhirnya Honda Astrea itu sampai juga di alun-alun Batu. Tempat ini cukup menarik sekarang, setelah adanya renovasi di sana-sini oleh pemerintah kota Batu saat itu. Ada taman bermain, patung-patung dari lampion dan tak lupa sebuah bianglala ada di tengah alun-alun ini.

Selama perjalanan Rahma dan Singgih berbicara tentang banyak hal. Bahkan boleh dibilang malam ini adalah malam pelipur lara bagi Rahma. Setelah Jesie pergi, Singgih datang menawarkan cinta untuknya. Dan sepertinya Rahma pun berusaha untuk bisa menerima cinta Singgih. Mereka pun naik bianglala malam itu setelah jalan-jalan dan makan di sebuah warung bakso yang terkenal karena pentol raksasanya di dekat alun-alun ini.

“Jadi, bagaimana jalan-jalannya?” tanya Singgih.

“Yah, boleh juga. Makasih,” jawab Rahma.

“Ma, kitakan sekarang ada di atas. Kalau misalnya aku nembak kamu di atas sini, kira-kira kamu terima nggak?”

Rahma sudah tahu sebenarnya Singgih akan nembak dia ketika naik bianglala. Rahma hanya tersenyum.

“Ayolah, jangan tersenyum aja. Bilang iya kek atau OK gitu,” kata Singgih.

“Hahahaha, kamu ini. Nggak pernah menyerah ternyata.”

“Yo opo seh, ono arek kodew ayu koq dianggurne?” Singgih nyengir.

Rahma menjulurkan lidahnya.

“Trus?” tanya Singgih lagi.

“Opone?”

“Laaahh?? Piye? Gelem ora dadi pacarku?”

“Mbuhkah”

“Lho?? Koq mbuh??”

Rahma tersenyum.

“Sorry kalau misalnya aku terlalu cepat, aku tahu kamu mungkin perasaannya campur aduk. Aku bukan bermaksud mengambil kesempatan, tapi kalau aku tidak mengambilnya sekarang kapan lagi?”

Rahma tertawa kecil, “Baiklah”

Betapa bahagianya Singgih waktu itu. Berciuman di atas bianglala, melihat seluruh kota Batu dari atas. Well, tak ada yang lebih romantis dari itu semua.

Hari-hari berikutnya Rahma benar-benar menemukan tambatan hati baru. Hubungannya dengan Singgih makin dekat dan kian mesra. Rahma mengerti bahwa Singgih sangat mencintainya. Singgih bukan seorang playboy. Mungkin memang ketulusan cinta Singgih yang membuat Rahma pun membalas cintanya dengan nilai yang sama.

Singgih bukan orang yang menuntut, tapi dia lebih banyak menuntun. Rahma lebih melihat sosok Singgih sebagai lelaki dambaan, lelaki yang tidak ingin menang sendiri. Bahkan tak seperti Jesie, Singgih benar-benar tak menyentuhnya kecuali diijinkan oleh Rahma.

Ada kalanya perjumpaan, ada kalanya perpisahan. Sebagaimana kehidupan ini, tak ada yang abadi. Bukan, Rahma tidak berarti sudah tidak mencintai Singgih lagi. Juga Singgih, bukan berarti sudah tidak mencintai Rahma lagi. Hanya saja waktu yang memutuskan.

“Aku ingin bilang sesuatu kepadamu,” kata Singgih ketika mereka sedang berada di teras rumah Rahma.

“Apaan?”

“Aku akan keluar negeri. Aku dapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di sana.”

“Oh…trus?”

“Aku galau.”

“Galau kenapa?”

“Itu artinya aku akan jauh darimu. Aku juga tak mungkin melepaskan kesempatan ini. Lagipula ini satu-satunya kesempatan karena aku dapat beasiswa. Ini juga adalah impian orang tuaku. Aku ingin bisa membahagiakan mereka.”

Tatapan Rahma kosong. Berpisah dari Singgih? Itu hal yang mustahil.

“Kalau misalnya engkau tak mengijinkanku pergi tak apa. Aku mengerti. Seorang wanita yang jauh dari lelaki yang dicintainya pasti akan sangat sedih. Tapi kita bisa telponan, kita masih bisa chattingan. Aku akan kirim email kepadamu, aku akan selalu menelponmu.”

Rahma mengangguk tanpa ekspresi.

“Ketika besok kalau aku sudah kembali aku tak ingin jauh lagi darimu. Kamu bisa menungguku?”

Rahma memejamkan mata. “Aku tak tahu.”

“Rahma..?”

“Kamu mau pergi ke mana?”

“Ke Inggris”

“Jauhnya.”

“Ya, jauh.”

“Kamu tak perlu minta ijin aku. Aku akan melepaskanmu kalau kamu memang ingin.”

“Rahma…?”

“Hiatusin saja hubungan kita.”

“Hiatus?”

“Iya, ketika aku jauh darimu aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Engkau juga. Aku tak tahu apa yang terjadi disana. Siapa tahu engkau akan tertarik kepada cewek yang lebih cantik dariku. Kudengar nonik-nonik London cantik-cantik.”

“Rahma, aku tak akan melupakanmu. Aku akan ingat terus.”

“Aku tak bisa melakukan LDR, kamu tahu itu. Aku jauh darimu rasanya sedih. Aku ingin kamu selalu ada disampingku.”

“Aku juga Ma, aku juga.”

“Kita hiatus.”

“Hiatus?”

“Iya, itu satu-satunya jalan. Aku tak tahu nanti ketika engkau jauh dariku bisa jadi ada yang mendekatiku. Kamu juga, aku tak ingin kecewa lagi.”

Singgih tahu. Ia tak akan tahu masa depan nanti seperti apa. Apakah Hiatus adalah salah satu caranya? Mereka juga tak yakin. Dan Rahma tak pernah melakukan LDR. Singgih mengusap pipi Rahma kemudian dia mencium kekasihnya ini. Ciuman untuk mengungkapkan perasaan mereka saat ini.

“Jangan pergi….!” bisik Rahma.

“Kita jalani saja.” Singgih mengusap rambut Rahma.

“Jangan pergi…”

“Aku akan kembali”

“Please…!”

Singgih kemudian berbalik. Meninggalkan Rahma sendirian di teras itu. Rahma memejamkan matanya. Air matanya mengalir. Bukan seperti ini yang ia harapkan. Tapi ia juga tak bisa egois memaksa Singgih untuk tetap tinggal. Jadi… bagaimana ia akan menjaga cintanya sampai Singgih pulang. Bagaimana?

Beberapa bulan kemudian Rahma pun diterima kerja di PT Evolus Produtama menjadi sekretaris Andini. Awalnya hanya dua bulan mereka intens berhubungan lewat telepon, email dan chatting. Namun setelah itu Singgih seperti menghilang.

Tak ada kabar, tak pernah telepon, hampir seluruh kontaknya tak bisa dihubungi. Selama berbulan-bulan Rahma galau tak menentu. Kemana Singgih? Kenapa ia tak pernah menghubunginya? Ada apa sebenarnya? Rahma juga tak mungkin menyusul Singgih ke London.

Rahma tahu Singgih bukan orang yang mudah meninggalkannya. Namun ini sangat aneh. Apakah kekhawatirannya selama ini terbukti bahwa Singgih sudah tergoda dengan nonik-nonik Inggris? Kalau toh benar, maka ia sangat bersedih. Hatinya rindu, galau tak menentu. Akhirnya untuk melupakan kegalauannya ia pun lebih konsen bekerja. Hidup itu sangat singkat, kalau harus memikirkan Singgih selalu maka tak mungkin. Akhirnya Rahma hanya bisa pasrah terhadap mau dibawa kemana hubungan dia dan Singgih.

Tapi sekarang ada seorang lelaki yang mengetuk hatinya. Seorang lelaki yang selalu ia lihat punggungya tiap hari. Seorang lelaki yang membuat ia harus bersusah payah menyelidiki siapa sebenarnya dirinya. Hingga ada getar-getar rasa setelah lama ia tak merasakan getaran rasa itu. Getar-getar yang ia rasakan ketika ia bersama dengan Singgih. Apakah ia goyah? Apakah keyakinannya sekarang goyah?

***

“Aku harus pulang!” kata seorang lelaki.

“Kau yakin dia akan menerimamu dengan kondisi seperti ini?” tanya seorang wanita.

Sang lelaki pun diam. Ia menangis. Tubuhnya gemetar, terlihat tangan yang buntung berusaha menggapai wajahnya. Sang wanita pun kemudian mengusap air mata sang lelaki dengan tissue yang ada di tangannya. Wajah sang wanita juga tampak menunjukkan raut muka sedih. Melihat lelaki di hadapannya tak punya lengan dan kaki semakin membuat hatinya tersayat. Lelaki ini hampir setiap hari bersedih.

Bersedih karena ia tak bisa apa-apa sekarang. Sebuah foto tampak berada di pigura yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Foto itu adalah sebuah foto yang tak asing lagi. Seorang wanita dengan senyumannya yang manis menghiasi pigura itu.

Itu adalah foto Rahma.

Bersambung