Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 5

Busy Like A Bee

Saat jarak memisahkan aku dan kamu
Jika ku hidup dijaman mama papaku dulu
aku khawatir aku khawatir

Berapa banyak kertas tinta amplop kuhabiskan
Berapa lama ku menunggu surat balasan kamu
aku khawatir aku khawatir

Tapi untungya ku hidup dijaman sekarang
tak perlu khawatir lagi kan ada Skype invite tingkahmu
Instagram update foto indahmu
Line lagi dimana kamu
Twitter curhatmu ohh..

Skype invite tingkahmu
Instagram update foto indahmu
Line lagi dimana kamu
Twitter curhatmu saat ini

Suara alarm memutarkan musik di pagi hari. Andini terbangun dan menggeliat di atas kasurnya. Dia memegangi bibirnya, teringat dengan kejadian tadi malam yang membuat jantungnya berdebar hari itu. Entah bagaimana dia nanti akan menghadapi hari berhadapan dengan Arci, terus terang ciuman mereka berdua tadi malam menggetarkan sesuatu di dalam sanubarinya. Ada sesuatu yang salah, tapi sesuatu yang salah itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap benar-benar salah. Karena memang ia telah mengakuinya, ia jatuh cinta.

“Arci, aku tak tahu apakah aku berani berhadapan denganmu hari ini,” gumam Andini.

***

Hari Senin, kabar Arci nonton bareng dengan Andini langsung menyebar. Mulai dari karyawan sekelas OB, sekuriti sampai karyawan sekelas manajer membicarakannya lewat dunia maya. Mereka berbisik-bisik ketika Arci datang seperti biasa ke kantor. Mereka juga membicarakan Andini. Yang tidak suka terhadap isu itu hanyalah Rahma dan dua temannya. Padahal ya mereka bertiga sendiri yang mulai pembicaraan itu.

Kemudian di dengar teman sebelahnya, sebelahnya teman ternyata punya channel di bagian lain, kemudian disebarkan, dari disebarkan kemudian update status di facebook, dari update status di facebook kemudian update status di twitter hingga akhirnya jadi pembicaraan hangat.

Begitu Arci datang dan duduk di kursinya. Yusuf menegurnya, “Ci, kamu kemaren jalan ama Bu Dini?”

“Hah? Koq tahu?” tanya Arci.

“Yaah….sekantor juga tahu kale,” kata Yusuf.

“Sumpaon?”

“Beneran.”

Arci menepok jidatnya, “Wah, kalau seluruh kantor tahu gawat dong. Aku cuma nonton aja ama beliau, nggak ngapa-ngapain.”

“Hehehehe, tahu nggak? Kalau Bu Dini itu nggak pernah jalan ama cowok lain lho. Cuma kamu doang.”

“Halah wis, mbuhkah. Kerjo sing bener”

“Selamat pagi semua!?” Andini menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan.

“Pa..gi…?” sahut Arci.

“Pagi bu,” tampak Rahma berdiri dari tempat duduknya menyambut atasannya.

“Gimana Arci? Sudah selesai request saya minggu kemarin?” tanya Andini ke Arci langsung.

“Saya sedang membuat sebuah portal dan toko online. Semuanya sudah saya coding. Dan bisa kita langsung pasarkan melalui sosial media seperti facebook, twitter, dan lain-lain.”

“Hmm?? Pasarkan melalui online?”

“Yang penting stock di gudang itu bisa habis bukan? Saya yakin dalam waktu kurang dari dua minggu ini stock itu bisa habis terjual. Kita tinggal melakukan pemasaran melalui media online, memberikan diskon, kemudian kita akan berikan semua yang diinginkan oleh customer. Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan sosial media. Seperti yang kita tahu sosial media saat ini lebih digandrungi oleh orang-orang. Untuk online pun sekarang tidak terlalu sulit seperti dulu,” jelas Arci.

“Sebentar, lalu bagaimana cara pembayarannya?”

“Saya kemarin telah berunding dengan bagian keuangan, untuk kasus ini saya bisa memakai rekening perusahaan untuk masalah ini dan katanya saya harus meminta persetujuan ibu. Enaknya bagaimana?”

“Oh, baiklah. Kita ada nomor akun untuk semua jenis pembayaran. Kamu saya ijinkan untuk memakainya sebagai tempat unuk pembayaran. Paypal, mastercard dan lain-lain, silakan tanya ke bendahara.”

“OK, kalau begitu nggak ada masalah, besok kita sudah launching,” kata Arci. “Situs pertama kita Evolus Textil, Untuk Evolusi gaya Anda.”

“Hahahaha, kamu yang mikirin moto itu?”

“Iya.”

“Baiklah, keren. OK, besok saya inginkan hasilnya.”

“Beres.”

Setelah itu Andini berbalik menuju ke ruangannya. Yusuf hanya tercengang melihat hal itu. Rahma juga sepertinya tak menyangka Arci melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh tim pemasaran. Membuat sebuah situs website? Hei, ini beneran?! Kurang dari satu minggu udah selesai?

Mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kebanyakan orang bahwa Arci ini selain anaknya jenius juga tekun dalam mengerjakan sesuatu. Dia benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Memang mungkin bisa dilihat tentang bagaimana dia mengerjakan apa yang diinginkan oleh atasannya dengan cepat dan sempurna. Hanya saja dibalik keseriusan dirinya, dia adalah orang yang lebih cenderung tertutup. Seperti hari itu, dia akhirnya mengikuti peraturan Andini istirahat siang.

Di kantin dia duduk di dekat jendela. Semangkuk pangsit yang sudah dia pesan belum disentuh sama sekali. Ia hanya memandangi keluar jendela, ia asyik dengan pikirannya sendiri sambil menopang dagunya.

“Hei!?” seseorang mengejutkannya.

Arci terkejut ketika Rahma sudah ada di hadapannya. “Hai juga,” sapa Arci.

“Sendirian aja? Nggak ganggu kan? Atau lagi nunggu orang?” tanya Rahma.

“Sendirian, ada apa?”

“Hehehe, nggak. Cuma kepengen mau nemeni aja.”

“Ada sesuatu? Pasti soal aku dan Bu Dini kemarin kan?”

“Hehehehe, tau aja. Kemarin kamu jalan ama beliau ya?” Rahma pura-pura nggak tahu.

“Iya”

“Kalian jadian?”

“Nggak”

“Yang bener?”

“Beneran”

“Oh”

“Sebenarnya gosipnya apa sih? Aku cuma nonton aja sama Bu Dini, nggak ada maksud lain koq.”

Padahal kemarin Rahma sangat tahu kalau mereka berdua berciuman. Dia ingin menjelaskan ke Arci kalau dia dan teman-temannya duduk di belakang mereka tapi urung ia beritahu.

“Kamu punya cewek nggak?” tanya Rahma. “Kulihat kamu sendirian aja.”

“Blom punya. Kamu sendiri?”

Rahma menghela nafas. “Kalau aku sih, dibilang punya nggak. Dibilang nggak punya, ada.”

“Complicated?”

Rahma mengangguk.

“LDR?”

Rahma mengangguk.

“Udah lama?”

Rahma mengangguk lagi.

“Dia setia nggak?”

“Entahlah Ci, wong arek’e di luar nagrek”

“Tapi masih kontak-kontak ‘kan?”

“Masih lah, tapi ya itu. Makin lama makin hambar saja. Godaannya di sini berat.”

“Hahaha, mulai ada yang nyangkut di sini?”

“Sebenarnya juga sih kita belom resmi koq.”

“Trus? Siapa cowok ini kalau boleh aku tahu?”

“Namanya Singgih. Sekarang sedang kuliah di Inggris.”

“Hmmm…Inggris ya.” Arci mulai menyantap pangsit mie ayamnya yang sudah dingin.

“Biarpun dikit pake ongkosnya juga ke sananya.”

Rahma menoleh ke arah lain. Saat itu tampak Andini baru saja datang.

“Tuh, ibu suri datang. Aku menyingkir dulu,” kata Rahma yang ingin beranjak.

“Ngapain? Nggak usah, sini aja!” Arci mencegah Rahma. Dia memegang lengan Rahma.

Andini mendekat ke meja Arci. Rahma yang tadi mau berdiri jadi enggan karena bossnya sudah ada di dekat mereka lalu duduk di kursi yang kosong.

“Keberatan aku ikut?” tanya Andini.

Arci menggeleng, “Nggak.”

“Saya permisi dulu bu,” kata Rahma.

“Nggak perlu sungkan. Duduk aja!” kata Andini.

Rahma nyengir. Ia jadi sedikit malu-malu kucing.

“Aku tahu kalian sedang ngomongin aku ya?” tanya Andini langsung to the point.

“Eh, nggak koq bu. Nggak,” elak Rahma.

“Gosip sudah beredar, nggak perlu ditutupi. Kamu pasti minta klarifikasi ke Arci ya?”

Rahma menelan ludahnya. Ia pun mengangguk. Padahal dia tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin di bioskop.

“Nah, Arci. Kamu sudah berikan penjelasan ke dia soal kemarin?” tanya Andini.

“Ya, begitulah,” kata Arci.

“Bagus.”

“Kamu sudah pesen?” tanya Andini ke Rahma.

“B..belum bu,” jawab Rahma.

Andini melambaikan tangan kemudian sang pelayan datang. Rahma jadi canggung setengah mati. Dalam hati Arci hanya ngikik saja. Tentu saja makan siang itu dilewatkan dengan canggung. Andini bertanya banyak hal kepada Rahma tentang pekerjaan. Arci sedikit lega karena tidak ditanyai lagi hal-hal yang aneh oleh Rahma.

Setelah makan siang yang canggung Arci sibuk lagi. Hingga akhirnya tak terasa sudah sampai jam pulang. Arci masih berada di meja kerjanya.

“Kamu lembur?” tanya Yusuf yang sudah memberesi mejanya.

“Yah, mau gimana lagi,” jawab Arci.

“Oke, aku duluan yah,” kata Yusuf.

“OK”

Rahma pun sudah beberes dan mengambil tasnya. “Pulang dulu ya Ci. Eh, iya. Boleh minta nomor telepon atau BBM?”

“Oh, silakan. Nomorku 0819221200***, pinku BG78***”

Rahma kemudian menambahkannya di ponselnya. “Makasih, dulu ya Ci.”

“OK”

Arci kembali sibuk. Sampai setengah jam kemudian gantian Andini yang keluar dari ruangannya.

“Masih di sini?” tanya Andini.

“Iya bu, ini sudah mau selesai, tinggal dikit. Ini sedang mempersiapkan materi untuk besok sekalian,” kata Arci.

“Besok bisa selesai?” tanya Andini.

“Mestinya begiu,” jawab Arci.

“OK, besok kamu coba paparkan ke seluruh jajaran direksi,” kata Andini.

“OK, siapa takut.”

“Aku pulang dulu ya?”

Arci hanya ada di ruangan itu sendirian. Namun bagi orang yang sudah terbiasa dengan yang namanya sendiri. Maka kesunyian justru merupakan temannya. Ia tak pernah menyesali ketika sudah akrab dengan yang namanya sepi. Baginya dalam kesendiriannya ia bisa mendengar dengungan lebah. Ya, dengungan lebah-lebah yang sedang bekerja. Sesibuk dirinya dalam kesendirian.

***

Rahma sudah sampai di rumahnya saat waktu petang sudah hampir habis. Dia tinggal di sebuah tempat kos di dekat Kampus Widiyagama. Di sini sebenarnya adalah rumah pamannya yang mana juga dibuat sebagai tempat kos. Sebagai keponakan, tentunya ia tak membayar. Hanya saja tak enak kalau tak membayar, akhirnya ia pun ikut andil bagian walaupun harus dengan harga diskon yang besar.

Teman-teman Rahma adalah para mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi yang ada di sekitar Malang. Mereka cukup akrab satu sama lain. Begitu masuk kamar ia langsung ambruk di kasurnya. BRUK! Untuk beberapa saat lamanya dia membenamkan kepalanya di kasur. Lalu Rahma mengambil ponselnya dan menyapa seseorang di ponselnya. Sebuah nama. “Singgih”

BBM RAHMA said:
Rahma: ping!
Koq nggak ngasih kabar??
Kamu ngapain?
Sehat nggak?

Menurutnya percuma saja memberi kabar ke Singgih. Toh BBM-nya nggak bakal dibalas. Sudah lebih dari sebulan ini tak ada kabar, hal ini tentu saja membuat Rahma khawatir. Dia lalu melihat nama. “Arczre”. Iseng ia chatting dengan Arci.

BBM RAHMA said:
Rahma: ping!
Masih di kantor aja?

Lama tak ada balasan. Rahma akhirnya menggeliat, lalu melepas seluruh pakaiannya, ganti baju dengan baju rumahan berupa kaos dan celana pendek sepaha. Ia sengaja tak memakai bra dan celana dalam karena ingin mandi. Peralatan mandi dibawanya, rambutnya diikat. Begitu ia mau keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi, ada balasan dari BBM-nya.

BBM RAHMA said:
Arczre: Barusan mau keluar.

Rahma tersenyum. Ia pun membalasnya lagi.

BBM RAHMA said:
Rahma: Emang ngerjain apa sih?

Arczre: Ada deh.

Rahma: Ya udah, hati-hati pulangnya. Jangan ngebut!

Arczre: Nggak bisa non, laki-laki nggak ngebut itu namanya banci.

Rahma: 😀 yah, setidaknya hati-hati saja deh.

Arczre: Thx. 🙂

Rahma: Btw, tadi itu aku canggung banget tauk. Semeja ama Bu Dini.

Arczre: Lha, kamu kan sekretarisnya. Masa’ canggung?

Rahma: Yeee… kamu ini gimana sih? Ya jelas canggung lah, tahu sendiri gosip di kantor seperti apa? Tapi aku senang kalau misalnya kamu ama Bu Dini bisa bersama.

Arczre: Apa sih? Kan udah aku bilang, kita nggak ada hubungan apa-apa.

Rahma: Nggak mungkin deh, Ci. Dari tatapan mata kalian saja aku tahu koq kalau kalian berdua deket.

Arczre: Dibilangin koq.

Rahma: Emangnya kamu udah punya cewek?

Arczre: Belum. Hmm….lebih tepatnya complicated.

Rahma: Ealah, melok-melok wae.

Arczre: Hahaha….Nanti disambung deh, ini aku mau nyetir motor.

Rahma: Oh, ok. Aku juga mau mandi. Udah bau acem.

Arczre: Wogh, boleh ikut?

Rahma: Enak aja.

Rahma senyum-senyum sendiri. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur lalu pergi ke kamar mandi. Singgih, bagaimana Rahma bisa sesetia ini kepada Singgih? Padahal bisa jadi Singgih di luar sana tak setia. Entahlah, yang namanya cinta memang bikin orang jadi bodoh. Rahma tak habis pikir dengan kondisi dirinya sendiri. Dikata Jomblo, iya. Dikata udah punya pacar iya juga. Bingung. Semua ini hanya karena satu kesalahan ya ia lakukan. Ya, satu kesalahan.

Hari itu, tepatnya dua tahun yang lalu…..

Bersambung