Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 3

It’s (NOT) A Date

Arci sudah berada di kamarnya sore ini. Besok hari sabtu dan minggu kantornya libur. Tapi besok juga adalah hari yang nggak ingin ia hadapi. Sebuah janji yang terpaksa diiyakan olehnya telah ia sanggupi. Arci tak habis pikir kenapa ia sampai mengiyakan. Tidak, sebenarnya ia tidak mengiyakan, hanya tidak menjawab. Kamarnya yang berukuran 2×3 meter ini serasa sempit untuk bisa membuat dia berpikir. Udara Malang cukup dingin malam ini, bahkan dengan jendela tertutup pun masih terasa.

Sejujurnya ia tak pernah cerita kepada ibu dan kakaknya tentang kejadian di hotel itu. Yang jelas, mereka tahu bahwa Arci bisa menghasilkan uang. Itu saja. Dan selama ini Arci bekerja mati-matian untuk mereka agar mereka tidak melacur lagi.

Uang kontrakannya pun baru dibayar separuh, sisanya menyusul. Arci yakin gajinya nanti bisa untuk menutupi hutang-hutang ibu dan kakaknya. Dan Arci melarang kalau sampai mereka membayar hutang-hutang itu dengan tubuh mereka.

“Kalau kalian kepengen, aku bisa memberikan. Tapi aku mohon kalian jangan melakukannya lagi. Jangan menjual diri!” itu yang selalu dikatakan Arci kepada ibu dan kakaknya. Ya, dia tahu itu hal tabu. Bahkan di beberapa negara lain incest adalah perbuatan yang melanggar hukum dan pelakunya akan dipidana.

Tapi di negara Indonesia, beda. Asal suka sama suka, hukum tak bisa menjerat. Emang negara ini agak sedikit kacau dalam soal ini. Penjeratan hukum hanya untuk mereka yang melakukan pelecehan seksual, bukan atas hubungan seperti ini.

Pemuda ini kemudian memejamkan matanya. Ia tak mau memikirkan dulu hal ini. Apa yang akan terjadi nanti, ia ingin mencoba untuk menikmatinya. Biarkan seperti air yang mengalir.

***

Matos, Malang Town Square. Sebuah mall yang megah di Malang. Mungkin termegah pertama kali waktu itu setelah Sarinah. Kali ini Malang dijejali dengan mall-mall yang tak hanya satu dua, tapi banyak mall-mall yang berdiri. Letak Matos cukup strategis. Selain di sebelah pemukiman elit, Matos juga dikerubuti oleh kampus dan lembaga pendidikan lainnya. Tak heran anak muda banyak yang mampir ke sini.

Di sebelah utara ada makam pahlawan, di sebelahnya juga baru ada sebuah mall yang lebih megah, namanya MX Mall. Walaupun mall ini megah, tapi masih sedikit stand-stand yang ada di sini. Tapi yang menarik adalah ada sebuah stand yang sudah disewa oleh Apple. Hanya saja, kapan digunakan masih tidak ada kabar sampai sekarang.

Arci dan sepeda motor. Itu adalah pemandangan yang tidak pas sebenarnya. Mengganggu. Orang secakep itu naik sepeda motor bebek? Apa kata dunia. Tapi itulah yang terjadi. Hidup memang kejam, mungkin dengan kekejaman itulah akan muncul suatu rahmat yang entah dari mana.

Arci sudah sampai duluan setelah masuk dan menerima karcis parkir. Andini duduk di food court menunggu dia. Food Court ada di lantai dua, satu lantai dengan play ground dan cineplex 21. Beberapa stand juga memenuhi tempat ini seperti stand toko boneka, batik, dan time zone yang letaknya tepat persis di sebelah teather.

Selama perjalanan ia terus saling kirim BBM ke atasannya ini. Begitu sampai di Food Court Arci menyapu pandangannya. Dia pun melihat Andini sedang duduk sendirian sambil fokus ke ponselnya. Dia begitu spesial, karena sekalipun dia duduk di meja, tapi tak ada orang yang mau mendekat, padahal wanita secantik itu bisa duduk dengan gaun berwarna biru yang menampakkan kulit halusnya. Kali ini Arci menelan ludah.

“Cantik banget ya bosku ini,” gumam Arci.

Andini mendongak dan melihat-lihat ke semua arah. Begitu pandangan mereka bertemu, Arci segera melambai. Andini tersenyum. Semua mata lelaki melihat ke arah Andini. Mereka berandai-andai kalau bisa, jadi kursi yang diduduki oleh Andini. Andini kembali tersenyum, hal itu seolah-olah seperti ada cupid yang memanah langsung ke hati Arci.

“Oh tidak, jangan. Ini tak mungkin,” ujar Arci dalam hati. “Jaimput, koq aku deg-degan gini!?”

Andini kemudian berdiri. Arci bisa melihat beberapa orang yang kepalanya ikut naik ketika Andini berdiri. Beberapa di antara mereka geleng-geleng saja. Andini memakai gaun panjang warna biru. Sepatunya high-heels bermerk. Dia menenteng sebuah tas kecil. Hal itu membuat ia semakin terlihat anggun. Kontras dengan Arci berpakaian kaos berkrah hitam, celana jeans dan memakai sandal.

Andini menghampirinya. “Jadi, kamu telat lima menit.”

“Ayolah, di parkir tadi ngantri,” Arci beralasan.

“No excuse, kamu telat. Harusnya datang lebih awal.”

“Iya deh bu, iya.”

“Jangan panggil ibu, kalau di luar kantor panggil saja Dini.”

“OK, Din. Eh, nggak enah manggil Dini.”

“Kenapa?”

“Mirip suara klakson.”

Andini ketawa. Arci lagi-lagi mengumpat dalam hati, buset dah ini bosnya. Ketawanya bisa bikin hatinya rontok. Arci jadi nyengir.

“Nama lengkapku Andini Maharani. Terserah deh, mau panggil apa.”

“Oke, Din. Dini aja. Biar selalu ingat kamu kalau aku nekan klakson,” kata Arci. Hal itu membuat Andini ketawa.

“Udah ah, perutku sakit nanti kalau ketawa terus ama lelucon kamu,” ujar Andini sambil megang perutnya.

“Trus, jadi nih?”

“Nggak usah pake boso resmi lapo? Biasa wae. Niatnya kan emang uklam-uklam.” Andini mulai berjalan berdampingan dengan Arci.

“Habis itu nakam oskab? Tapi aku yang traktir kali ini,” kata Arci.

“Yuk!”

Tak ada yang tahu bagaimana Arci bisa sedekat itu dengan Andini. Dalam hati Andini sangat senang sekali bisa bersama dengan Arci. Andai Arci tahu siapa dirinya apakah bisa seperti ini nantinya? Tapi itu semua tak bisa dipungkiri kalau Andini mulai menyukai Arci, bukan saja sekarang, tapi sejak dulu. Dan perjumpaan dengan Arci ini bukan yang pertama. Takdirlah yang akhirnya mempertemukan mereka lagi.

Mereka pun akhirnya melangkah ke teather bioskop. Setelah membeli tiket masuk dan beberapa snack, mereka pun akhirnya masuk ke studio. Untungnya mereka masih kedapatan kursi di deret D. Bisa jadi karena terbaawa suasana, akhirnya Andini pun merangkul lengan Arci, bahkan ketika mereka sudah duduk kepala Andini disandarkan ke bahu pemuda ini.

Arci sendiri bingung bagaimana menolak Andini yang sudah sedekat ini dengan dirinya. Akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan. Ya, tak ada yang bisa ia lakukan.

Film pun dimulai. Selama pemutaran film itu, kedua insan ini menikmatinya. Tertawa ketika lucu, dan tegang saat ada adegan actionnya. Arci agak canggung, tapi kecanggungannya hilang begitu saja. Semuanya mengalir begitu saja saat Arci menoleh ke arah Andini.

Adegan di layar memperlihatkan bagaimana dua insan berciuman, saat itu seperti ditarik oleh magnet Arci dan Andini pun sudah berciuman. Keduanya saling mengecup. Arci bisa menghirup bau parfum Andini yang sangat wangi, bibirnya yang lembut itu seperti marshmallow. Kalau biasanya ia hanya melihat sekarang Arci bisa merasakannya.

“Din, rasanya ini terlalu cepat,” bisik Arci.

“Tak ada yang terlalu cepat. Semuanya memang seperti ini,” bisik Andini.

“Maaf, aku tak bisa melakukannya,” kata Arci mulai menjauhkan wajahnya.

Tangan Andini memegang pipi Arci dan mengarahkan wajahnya agar menatap ke Andini, “Katakan kamu mencintaiku.”

“Aku…,” mulut Arci seperti tercekat. Ia takut untuk meneruskan hubungan ini. Ia sangat takut. “Aku tak bisa Din. Bukan berarti aku tidak suka, kamu cantik, anggung, semua pria pasti memimpikanmu, tapi…. aku tak pantas buatmu.”

“Arci…,” panggil Andini dengan nada manja. “Tak apa-apa, aku akan menerimanya.”

“Tidak, kamu tak tahu siapa aku. Maaf, aku harus pergi. Kita tak boleh seperti ini!” kata Arci. Dia berdiri, lalu pergi dari tempat dia duduk.

Andini beranjak ia mengikutinya. Dengan terpaksa sekali mereka harus keluar padahal film belum usai. Arci berjalan pelan di depan. Sepatu hak Andini terdengar setiap kali Arci melangkah. Arci menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Andini. Tubuh semampai, cantik, memakai gaun biru. Siapa yang bakal menoal jalan dengannya? Andini tidak menampakkan ekspresinya. Hal itu makin membuat Arci bersalah.

“Maafkan aku,” kata Arci.

“Tak apa, mungkin memang aku seperti wanita gatel menurutmu.” Andini menghela nafas.

“Bukan, bukan begitu. Jujur aku akui kamu menarik, kamu cantik. Siapapun pasti terpesona kepadamu. Tapi, aku tak mau seperti ini. Kuharap kamu bisa maklum.”

“Kamu gay?”

“Aku normal.”

“Kenapa kamu tidak mau? Aku benar-benar ingin kita bisa jalan.”

“Din, ada sesuatu yang aku tak ingin kamu mengetahuinya. Kumohon. Dua bulan lagi hari ulang tahunku. Dan aku harus kerja keras sampai waktu itu.”

“Ada sesuatu kah?”

“Iya, ada sesuatu.”

“Apa ada wanita lain?”

“Ya, aku sudah janji kepadanya.”

“Oh, katanya kamu tidak punya cewek.”

“Iya, aku memang tidak punya cewek, tapi aku sudah janji kepadanya untuk menikahinya diusiaku 25 tahun nanti. Dan aku punya banyak hutang kepadanya.”

“Tapi Arci…,” Andini ingin memberitahu siapa dirinya. Tapi Arci memotongnya.

“Kumohon, beri aku waktu sampai saat itu tiba. Aku tak ingin mengecewakanmu, tapi ini terlalu cepat dan aku tak bisa. Aku… ya aku akui aku suka sama kamu. Aku sangat bersyukur punya bos seperti dirimu, tapi kuharap kita tak terlalu cepat.”

Andini menghela nafas. “Baiklah, tapi bukan berarti kita tak bisa bersahabat bukan?”

Arci tersenyum. “Tentu saja.”

Andini mendekat ke Arci dan mengulurkan jari kelingkingnya. “We are still friends then. Until you findished you bussines.”

“Yeah, friends.” Arci mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Andini. Sebenarnya ingin sekali Arci merengkuh Andini tapi cukuplah mereka berciuman hari ini. Jangan lebih dari itu.

“Jadi nakamn oskab?” tanya Andini.

“Aku traktir.”

“Siapa takut.”

Mereka pun berjalan bersama untuk mencari bakso terenak di kota Malang. Ya, kota yang sangat terkenal dengan kuliner baksonya. Mulai dari bakso biasa, bakso bakar bahkan bakso berbagai isi ada di sini. Cara penyajiannya pun beragam. Hal ini membuat kota Malang memang terkenal dijuluki kota Bakso.

***

Sementara itu sebenarnya di dalam bioskop tadi Rahma, Nita dan Sonia melihat Arci dan Andini. Mereka terkejut ketika mendapati dua orang itu bisa ketawa-ketiwi sambil beli tiket. Mereka bertiga benar-benar kalah dalam hal pakaian. Pakaian Rahma, Nita dan Sonia cukup casual, berbeda jauh dengan Andini yang memakai gaun menawan. Seluruh mata lelaki tertuju ke Andini daripada ke mereka bertiga. Rasanya membandingkan antara putri raja dengan kacung.

“Eh, ternyata beneran Bu Dini sama Arci nonton bareng. Waduuuhhh…..remuk deh hatiku,” kata Rahma.

“Eh, eh, mereka koq bisa gandengan seperti itu?! Nggak boleh, nggak boleh. Ini pelanggaran namanya. Gimana bisa. Woi, kalian jadian aja belum koq sudah pegang-pegang!” bisik Nita.

“Kalau kamu ngomong sebaiknya di depan mereka saja!” kata Sonia sewot.

Ketiga gadis ini melihat dua orang itu dari jauh. Mereka tak berani untuk mendekat atau sekedar menyapa. Tapi memang bagi mereka ini peristiwa langka. Orang seperti Andini yang selama ini tak mau dekat dengan cowok, bisa sedekat itu dengan Arci, mana Arci juga cowok paling tampan di kantor. Rasanya dunia serasa mau kiamat. Ketiga gadis ini seolah-olah tak ada lagi kesempatan buat mereka untuk menang.

Ketika pintu teather dibuka mereka pun masuk agak akhir setelah Arci dan Andini masuk. Ketiga gadis ini masih menjaga jarak agar tak ketahuan. Dan surprise, mereka duduk di atas Andini dan Arci.

“Gilak, koq ya pas ya duduknya di bawah kita,” bisik Rahma.

“Apa menurutmu mereka berdua udah jadian?” tanya Nita.

Rahma dan Sonia mengangkat bahu mereka.

Selama menonton film mereka juga sibuk menonton kedekatan Andini dan Arci.

“Eh, eh, itu kepala kepala kepala!” bisik Sonia.

“Kenapa?” tanya Rahma.

“Kepalanya mereka koq nempel?” kata Sonia.

Saat itu Andini dan Arci sedang berciuman. Dan benar seperti dugaan mereka bertiga. Arci dan Andini berciuman saat itu. Tak berapa lama kemudian Arci beranjak meninggalkan Andini. Andini kemudian menyusul. Rahma pun berinisiatif menyusul mereka sambil menjaga jarak. Nita dan Sonia awalnya berpadangan tapi akhirnya mengikuti Rahma.

Ya, mereka bertiga mendengarkan semua percakapan Andini dan Arci. Itu artinya Rahma dan kawan-kawannya masih punya kesempatan untuk mendekati Arci.

“Syukurlah, mereka nggak jadian,” kata Rahma setelah mendengarkan percakapan mereka di lorong EXIT dari teather.

“Iya, nggak jadian, tapi bikin penasaran. Janji Arci itu kepada siapa?” gumam Nita.

“Ada sesuatu nih. Kita selidik yuk!?” ajak Sonia.

“Eh, apa baik nyelidiki seperti itu? Takutnya itu urusan pribadi Arci. Nggak baik kalau kita bongkar-bongkar,” kata Rahma.

“Yee, aku bukannya bongkar. Cuma penasaran saja. Pasti ada sesuatu dengan diri anak baru itu. Pesonanya memang luar biasa, tapi… ada yang aneh aja sih,” lanjut Sonia.

“Oke deh, setuju,” kata Nita.

“Girls..yang bener aja!” Rahma tak setuju.

“Ayolah non, kalau misalnya Arci itu orang baik-baik, kita nggak bakal rugi kan suka ama orang baik? Tapi kalau orang yang jahat, baru deh silakan kita kasih tahu ke Bu Dini,” kata Sonia.

“Koq gitu?” tanya Rahma.

“Hello, Bu Dini itu atasan kita. Dia juga wanita. Masa’ kita nggak ngasih tahu hal itu kalau memang itu baik buat Bu Dini. Kalau misalnya Arci bukan pemuda baik-baik, yang rugi bukan cuma Bu Dini, kita-kita juga,” lanjut Sonia.

“Ah, kamu benar. Nggak ada salahnya juga kita selidiki siapa itu Arci,” kata Nita.

Rahma menghela nafas. Ia tampaknya tak bisa mencegah teman-temannya ini. “Terserah kalian deh.”

“Nah, gitu dong. Oke, kita gerak yuk!”

“Aku balik ah, mau nonton lagi,” kata Rahma sedikit mendongkol karena cowok idamannya akan distalking oleh kedua sahabatnya.

“Ayolah nooon…jangan sewot begitu!” Sonia kepengen membujuk Rahma. Nita pun mengikuti.

***

Di sebelah MX Mall ada sebuah pujasera, dikenal sebagai Pujasera UB. Di sini banyak warung-warung yang menawarkan berbagai macam kuliner. Saat itu Andini dan Arci menikmati makan bakso di salah warung ini. Mereka mengobrol banyak hal. Tapi seperti biasa Arci merasa tertutup. Ia tetap tak mau membuka tabir tentang dirinya. Andini tak ingin memaksa Arci. Ia tahu beban yang dibawa oleh Arci sangat berat.

Setelah kenyang makan bakso, Andini berniat pulang. Arci pun mengantarkannya sampai ke tempat parkir. Adalah bodoh kalau membiarkan wanita secantik ini jalan sendirian menuju tempat parkir yang gelap. Sebagai seorang gentlemen, Arci tak sebodoh itu membiarkan wanita seperti Andini pergi sendirian.

“Baiklah, hari ini sangat menyenangkan,” kata Andini saat mereka akan berpisah.

“Sorry atas ciuman tak terduga tadi,” kata Arci.

“Halah, nggak usah dipikirin, anggap aja bonus.”

“Bonus? Bonus yang kane ilakes”

Andini memukul bahu Arci. Arci tertawa.

“Kamu tak perlu tertutup kepadaku, katanya aku sahabatmu?”

“Yeah, aku belum siap. Aku tak mau ketika aku ceritakan siapa diriku, kamu akan berempati kepadaku. Aku tak mau. Aku cowok, aku kuat. Aku bisa menghadapi segalanya. Sekalipun aku seorang diri.”

“Jangan sok kuat, terkadang kamu butuh seseorang untuk menumpahkannya.”

“Sekarang aku masih sanggup.”

Andini tersenyum. “OK, met malem. Sampai ketemu Senin?”

“Iya, sampai ketemu Senin. Have a sweet dream.”

“You too.”

Andini menghirup nafas dalam-dalam. Setelah menghela nafas ia kemudian beranjak meninggalkan Arci. Arci hanya bisa melihat Andini masuk ke mobilnya, kemudian ia melambai kepada wanita itu. Setelah mobil Andini pergi ia hanya bisa mengumpat ke dirinya sendiri.

“Fuuucckk! Apa itu tadi?” katanya. “Kenapa aku jadi suka ama dia. Bu Susiati, Iskha. Janjiku kepada kalian… apakah harus aku ingkari?”

Arci kemudian berjalan menuju ke tempat parkiran sepeda motor. Hari itu ia pulang dengan perasaan galau. Galau yang tak terkira.

To Be Continue