Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 30

AKU DATANG

Sepuluh tahun kemudian……

Arci berdiri di sebuah makam. Batu nisan itu bertuliskan Rahma. Di sebelahnya tampak Singgih dengan kursi rodanya. Mereka berdua menatap batu nisan itu.

“Sungguh aku iri kepadamu,” ujar Singgih.

“Iri kenapa? Kehidupan yang kelam sepertiku tidak pantas engkau iri.”

“Bukan, bukan itu. Aku iri, karena engkau seharusnya bisa bersama Rahma.”

“Apa maksudmu?”

“Aku membaca buku harianya.”

Arci menoleh ke arah Singgih.

“Dia memang masih mencintaiku, tapi semenjak ia mendekatimu, semenjak kau pura-pura dekat dengan dia, ia mulai suka kepadamu. Hanya saja ketika tahu kamu membawaku kembali ke sini, ia jadi bimbang. Ia merasa tak enak. Ia selama ini sebenarnya menahan rasa sakit, terhadap seorang rekan kerja yang ia cintai, tapi harus menerima kenyataan pahit bahwa lelaki yang disukainya bersama wanita lain.”

Arci tak bisa bicara apa-apa. Hanya diam.

“Tapi tak mengapa, aku sadar dengan kekurangan yang ada pada diriku. Rahma lebih tertarik kepadamu. LDR memang membuat hidupku hancur. Seharusnya kamu tak membawaku pulang. Aku baru tahu kalau hatinya sesakit itu. Tapi ia berusaha baik kepadaku dan belajar mencintaiku dengan segala keterbasan ini. Dia wanita yang paling baik.”

“Ya, dia wanita yang baik.”

“Kamu sudah punya anak?”

“Ya, anakku laki-laki. Mungkin sekarang sedang bermain bersama ibunya.”

“Ah,..dari dulu Rahma dan aku ingin punya anak laki-laki juga. Selamat buat kamu dan Ghea.”

“Aku akan meninggalkanmu sendiri. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku habis ini menjemput istri dan anakku.”

“Hahaha, aku tak tahu wanita seperti Ghea bisa sefeminim itu sekarang. Padahal aku lihat dia seorang wanita yang tangguh.”

“Percayalah ia tetap seperti itu.”

Arci menyerahkan sebuah kotak remote kecil kepada Singgih. Ia letakkan di pahanya. Setelah itu Arci menepuk pundak Singgih dan pergi meninggalkan Singgih sendirian di depan kuburan istrinya. Singgih menghela nafas. Bebannya sedikit berkurang setelah ia menceritakan bagaimana perasaan Rahma kepada Arci. Dia menoleh ke sebuah arah. Tak jauh dari tempat dia duduk di atas kursi rodanya, ada seseorang dengan mulut dilakban dan tangan beserta kakinya terikat kuat. Seorang lelaki dengan mata yang nanar, pelipisnya berdarah dan bajunya robek di sana-sini.

Orang itu sudah berubah penampilan. Sangat berbeda dengan wajahnya beberapa tahun yang lalu. Ternyata operasi plastik telah mengubah wajahnya menjadi orang lain. Sayangnya hal itu tak akan bisa menyembunyikan sidik jari yang ia punyai. Wajah boleh berubah, tapi sidik jari tetaplah sidik jari. Kalau saja waktu itu Arci tidak tertarik kepada sebuah lukisan maka ia tak akan bisa menemukan orang ini. Ya, Tommy ditemukan dengan profesinya sebagai pelukis. Wajahnya memang berubah, tapi ketika Arci menyelidiki sidik jarinya, ia yakin bahwa pelukis itu adalah Tommy.

Arci sudah tak lagi dendam kepada Tommy. Ia tahu dendam hanya akan membuat penyesalan seumur hidupnya. Maka ia serahkan hidup Tommy kepada Singgih yang sangat kehilangan Rahma. Di tempat Tommy duduk ada sebuah bom tertanam di sana. Singgih hanya menekan tombol itu dan meledaklah Tommy.

“Seharusnya tak kamu lakukan itu,” kata Singgih.

Tommy menggeleng-geleng. Mulutnya tak bisa bicara ia hanya melotot. Terlebih setelah Singgih menekan tombol remotenya.

DUAAARRR!

Tubuh Tommy hancur berkeping-keping. Setelah itu Singgih menyingkirkan remote kecil itu dengan sikunya. Seseorang datang kepadanya dan membantu dia untuk mendorong kursi rodanya. Dia adalah Catherine. Perasaan Singgih sekarang lega. Akhirnya Tommy sudah mati dengan tubuh berhamburan di sana-sini.

“Kita pergi,” kata Singgih.

“Sekarang, kemana lagi?” tanya Catherine.

“Kembali ke London?”

“Boleh, siapa takut?”

***​

Letnan Basuki sekarang bukan lagi letnan tapi komisaris diundang Arci ke kantornya. Bagi polisi yang diundang oleh Big Boss, tentu saja hal ini merupakan hal teraneh. Terlebih polisi sekarang sedang mencari-cari kesalahan yang bisa menjerat Arci. Sekarang hampir semuanya dikuasai oleh Arci, mulai dari mall, toko-toko, jalan-jalan, semua kota dikuasai olehnya. Kalau dulu ada keluarga Trunojoyo sekarang mereka tak ada apa-apanya setelah perusahaannya tumbang dan dibeli oleh Arci dengan harga murah.

Komisaris Basuki memakai baju biasa. Kemeja berwarna coklat dengan celana kain warna hitam. Sikapnya yang formal membuat ia dikenali sebagai polisi. Kantor tempat Arci berada sekarang dirombak. Gedungnya ketambahan lantai lagi, bahkan fasilitasnya sangat mewah. Arci sedang menanti dua orang tepatnya, seorang yang melamar kerja dan seorang tamu.

TOK! TOK! TOK! pintu diketuk.

Arci berkata, “Masuk!?”

Seorang lelaki berkumis berbadan tegap masuk ke dalam ruangannya. Dia adalah Komisaris Basuki. Arci mengangguk-angguk. Dia berdiri menyambut polisi itu. Ini perjumpaan kesekian kalinya. Setelah beberapa tahun lalu ia berseteru dengan sang polisi.

“Selamat datang, Komisaris,” sapa Arci.

Komisaris Basuki mendekat dan menjabat tangan Arci. “Sudahlah, tak usah basa-basi lagi. Katakan apa yang ingin kamu katakan!”

“Aku hanya ingin kita bersahabat itu saja. Aku kemari dengan niat baik. Kita sudahi permusuhan ini, lagipula aku tak punya dendam kepadamu.”

“Kamu memang tak punya dendam kepadaku, tapi jangan lupa kamu yang menggerakkan masa enam belas tahun yang lalu! Kamu membuat kekacauan di Malang, nyawa anak buahku tak terhitung yang tewas. Dalam sehari kamu buat kota Malang mencekam. Tapi aku cukup takjub kamu bisa punya mertua seorang pengacara handal. Tak kusangka kamu bisa memanfaatkan semua orang.”

“Aku tak memanfaatkan siapapun. Bu Susiati sudah menganggapku sebagai anaknya. Aku juga mencintai putrinya.”

“Agaknya aku sia-sia saja kamu panggil ke sini, aku tak akan bersahabat dengan kriminal sepertimu.”

“Pak, aku berterima kasih.”

Komisaris Basuki agak terkejut. “Berterima kasih, buat apa?”

“Berterima kasih karena telah menjagaku selama ini.”

“Cih. Menjaga?”

“Ya, aku tahu apa yang dilakukan Letnan Yanuar. Aku tahu yang kalian inginkan. Sekarang ini aku memang telah menguasai kota ini, tapi dulu sebelum aku seperti ini kalian yang telah melindungiku. Melindungiku ketika para pembunuh itu ingin menghabisi seluruh keluargaku. Itulah sebabnya aku tidak pernah menyakitimu ataupun Letnan Yanuar.”

Komisaris Basuki tertawa. “Kamu merasa begitu?”

“Begitulah.”

“Sungguh bodoh,” ujar Komisaris Basuki. “Aku tak ada urusan lagi denganmu. AKu cuma ingatkan kamu, usaha ilegalmu akan aku dapatkan dan kamu bisa mendekam lagi di penjara dalam waktu yang lama.”

“Ini artinya Anda ingin menangkap orang yang telah menjadi penguasa kota ini, sedangkan semuanya yang ada di kota ini adalah rumah dan tempatku hidup? Itu artinya anda ingin menyalahkanku terhadap apa yang aku lakukan di dalam rumahku sendiri sedangkan anda sendiri adalah oang yang sekedar menumpang?”

Komisaris Basuki tak bicara. Ia terdiam tanpa menjawab.

“Well,… good luck!”

Komisaris Basuki mendengus, ia segera berbalik dan sebelum membuka pintu ia berkata, “Dulu, Letnan Yanuar sangat berharap engkau membuang semua kesempatan untuk bergabung dengan keluarga Zenedine. Tapi tampaknya hal itu tidak akan mungkin. Mungkin itu sebabnya kau kehilangan orang-orang yang kamu cintai.”

“Ya, aku tahu. Ini adalah karma yang aku peroleh,” ujar Arci.

Komisaris Basuki pun keluar. Arci menoleh ke dinding. Di dinding itu ada pigura-pigura yang berisi foto-foto. Ada dua pigura besar. Satu berisi foto Andini dan satunya adalah foto Safira. Keduanya tersenyum manis, Arci sengaja memajangnya ia merasa mereka berdua sekarang masih hidup, berdiri di sampingnya. Setiap hari ia merasa demikian. Terkadang juga bisikan-bisikan Andini masih terdengar di telinganya.

TOK! TOK! TOK! pintu diketuk.

“Masuk!” perintah Arci. Lamunannya pun buyar.

Seorang wanita masuk ke dalam. Dia seorang gadis yang cantik dengan baju atasan kemeja putih dan bawahan hitam. Ia pasti datang untuk interview. Ya, Arci sedang menunggu gadis ini.

“Maaf, tadi saya disuruh HRD langsung ke sini saja untuk interview,” ujar gadis itu.

“Silakan duduk!” kata Arci. “Anda memang sudah ditunggu.”

“Terima kasih pak,” kata gadis itu.

Arci membuka sebuah stopmap folio. Di dalamnya ada data gadis itu. Ia memeriksa latar belakang pendidikan dan lain-lain. Arci tertarik ketika ternyata gadis cantik yang ada di depannya ini kuliah di Unbraw dengan IPK 3,9. Jurusan Tehnik Informatika, tapi melamar sebagai seorang sekretaris.

“OK, sepertinya saya tak perlu panjang-panjang bicara. Saya memang membutuhkan seorang sekretaris,” kata Arci.

***​

Komisaris Basuki keluar dari ruangan Presiden Direktur. Dia berpapasan dengan gadis dengan kemeja putih dan celana hitam tadi. Dia sepertinya agak-agak ingat dengan gadis itu. Namun ia pun mengangkat bahunya. Banyak ia temui gadis-gadis bahkan mungkin terlalu banyak sehingga ia pasti pernah melihatnya di suatu tempat.

Polisi ini serasa dilecehkan di kantor ini. Mungkin kalau Arci tak punya banyak beking, bisa jadi ia akan menghajar lelaki itu. Dia melihat kantor Arci yang sangat besar ini, semuanya berbeda sekarang. Para pekerjanya tampak sibuk, namun sebagian santai. Sebagian lain berdiskusi, sebagian lain sedang merancang sesuatu, apalagi kalau bukan produk fashion terbaru mereka. Komisaris Basuki berada di depan lift, hingga ia teringat dengan satu hal.

“Sebentar, …. gadis tadi….oh tidak, celaka!” segera Komisaris Basuki berbalik.

***​

Di depan Arci gadis itu sekarang sedang menodongkan senjatanya ke arah Arci. Sebuah pistol Desert Eagle mengarah tepat ke kepalanya. Arci dengan santai tersenyum kepadanya.

“Siapa kamu ini?” tanya Arci.

“Kamu tak tahu aku? Tentu saja. Aku adalah anak Agus Trunojoyo. Kau dapat salam dari dia!”

Arci menghela nafas. Apakah ini yang namanya karma? Akhirnya setelah lama menunggu, akan ada orang yang senekad ini. Menodongkan pistolnya tepat dihadapannya. Arci tak akan bisa menghindar kalau dia menarik pelatuknya. Jaraknya terlalu dekat. Terdengar di telinga Arci suara gemetar. Gadis itu gemetar memegang pistolnya.

“Apakah kamu masih ingin hidup?” Arci bertanya kepada dirinya sendiri. “Aku sudah tak ingin hidup sejak lama. Nyawaku sudah pergi. Tembaklah kalau kamu ingin menembakku, jangan pernah ragu. Jangan gemetar seperti itu.”

Gadis itu menatap tajam Arci, matanya berair. Entah kenapa keberaniannya berhenti ketika Arci memang berniat untuk mati.

“TEMBAK AKU! JANGAN PERNAH RAGU!” bentak Arci.

“AAAAAAARRRGGGHHH!” gadis itu berteriak histeris.

Komisaris Basuki teringat, ketika saat ia datang ke pemakaman Agus Trunojoyo. Dia ingat gadis itu, gadis kecil yang menangis meraung-raung di depan makam ayahnya. Dia teringat bagaimana gadis itu histeris sambil berteriak, “Aku akan bunuh dia, aku akan bunuh orang itu!”

“Brengsek! Kenapa dia bisa ada di sini!?” ujar Komisaris Basuki sambil mengumpat. Dia mengeluarkan revolvernya berlari kencang menuju pintu tempat di mana Arci berada. Semua orang terkejut karena suaranya larinya yang ribut sambil mengangkat senjata.

Sang polisi reserse itu pun menubruk pintu ruangan Arci.

BRRAKK!

“Gladis Trunojoyo! Hentikan!” Komisaris Basuki berada di pintu sambil menodongkan senjatanya.

Arci hanya tersenyum, ia memejamkan matanya. “Andini, Safira, aku datang……”

DOR!

(The End)

Epilog

​Ghea menyimpan kembali PSG-2 miliknya. Dia menaruhnya di kotak senjata. Setelah itu ia beranjak dari tempat dia tiarap, menenteng kotak panjang itu. Dia berada di gedung seberang tempat Arci berada. Salah seorang ajudannya menerima kotak yang ia bawa, kemudian dengan santai Ghea berjalan pergi ke gedung tempat suaminya berada.

“Andini, Safira, maaf. Aku masih ingin bersama suamiku.”