Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 28

FOREVER LOVE

Aku adalah cintamu
Selamanya…..

Andini tersenyum pagi itu. Kicauan burung dan matahari masuk melalui jendela ruang tengah rumah Rahma. Tadi malam sungguh luar biasa. Ini kedua kalinya mereka berhubungan badan. Teringat dalam benak Andini, bagaimana Arci bermain penuh nafsu tadi malam. Dia diguling-gulingkan seperti bantal, Arci benar-benar membuat ia KO. Walaupun tidur di ruang tengah dengan kasur tipis, tapi mereka berdua cukup bahagia.

“Sayang, bangun!” bisik Andini.

“Hmm….,” jawab Arci.

“Kamu capek?” tanya Andini. “Aku buatin teh hangat yah?”

“Hmmm…”

Begitu Andini beranjak Arci menahan tangannya. “Ntar dulu, temeni aku lagi!”

“Ihh…udah pagi ini, matahari udah terbit. Mau bangun jam berapa?”

“Oh ya? Ah jam enam yah?”

“Tadi Rahma ngajak jalan-jalan suaminya, Ibu ama Putri belanja.”

Arci menarik tangan Andini hingga istrinya itu ke pelukannya lagi. “Lagi yuk?”

“Udah dong say, ntar kalau mereka datang gimana?”

“Peduli amat.”

“Udah aaaahh!”

Arci kemudian mengecup bibir Andini. Keduanya berpagutan. Andini menjauh dari wajah Arci.

“Kenapa?” tanya Arci.

“Bau acem,” jawab Andini.

Arci tertawa geli. Ia segera memeluk istrinya. “Kalau gitu mandi bareng yuk?”

“Hmm?? Mandi apa mandiii?”

“Mandi sambil ehm-ehm….”

“Hihihihi, dasar. Bener berarti yah kata orang. Suami itu ibarat anak kecil berbadan gedhe.”

“Bodo amat, aku kangen susumu.”

“Kamu mau nyusu?”

Arci mengangguk.

“Sambil mandi?”

Arci mengangguk lagi.

“Yuk, tapi cepet yah, takut kalau yang lain dateng.”

Mereka berdua pun beranjak. Tapi sebagai pengantin baru, maklum saja kalau mereka berdua sedang di masa gairah. Gairah sex-nya meluap-luap. Arci tak sabar. Ia pun mencium Andini, mereka terus berpagutan sambil berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan mereka sebenarnya ada yang melihat, siapa lagi kalau bukan Ghea. Dia ada di teras dan mengintip apa yang dilakukan oleh sepupunya itu. Dan ia sangat cemburu. Ia memejamkan mata dan menahan seluruh gejolak yang ada di dadanya.

“Arci, aku tak bisa mencari lelaki lain. Aku mencintaimu selamanya….,” bisik Ghea. “Dan maafkan aku Andini, aku tak bisa menghilangkan perasaan cintaku kepada suamimu.”

Sementara itu Arci dan Andini sudah berada di kamar mandi, pakaian mereka pun sudah dilepas. Arci tak henti-hentinya mengenyot puting Andini. Wanita ini kini pasrah apapun yang dilakukan suaminya. Ia juga menikmatinya. Bahkan sekarang dia ingin agar Arci terus melakukan itu. Perlahan-lahan keran shower dinyalakan, keduanya pun diguyur air. Sensasi berpagutan di bawah pancuran air memang berbeda.

Andini membasuh tubuh Arci, seluruh otot-otot Arci dibasuh dari kepala, telinga, leher, dada, perut hingga di daerah vital bagian bawah di mana batangnya sudah mengacung keras. Ereksinya sampai menyentuh perut Andini. Arci merasakan nikmat ketika batang itu diurut. Kocokan lembut Andini membuat dia merasakan nikmat yang luar biasa.

“Enak sayangku?” tanya Andini.

“Iya”

Arci juga kini membilas tubuh istrinya, mulai dari lehernya yang jenjang ada bekas cupangan di sana, akibat ulahnya. Kemudian buah dadanya yang juga ada bekas cupang di sana. Andini benar-benar terangsang dengan usapan lembut Arci, hingga jari telunjuk Arci sekarang juga mengobok-obok belahan vaginanya. Keduanya sama-sama merangsang saling memberikan setruman-setruman di setiap sentuhannya.

Andini menggigit bibir bawahnya, hal itu membuat Arci lebih gemas lagi karena gigi Andini yang tampak seperti kelinci itu sangat menggairahkan untuk dijilat. Akhirnya bibirnya pun memagut. Tangan Arci satunya meremas-remas bongkahan pantat Andini.

“Ci, aku udah kepengen banget,” bisik Andini.

Akhirnya Arci membalikkan tubuh Andini. Pantat Andini menungging dan ia menyandarkan tangannya ke dinding kamar mandi. Mudah bagi Arci untuk masuk karena pelumasnya sudah banyak. Ia pun menggoyang tubuh seksi istrinya. Kepala penisnya menggesek liang senggama Andini.

Andini pun menjerit keenakan ketika gesekan demi gesekan menghantarkan kenikmatan surgawi yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Arci meremas-remas toket Andini yang sangat ia sukai itu. Andini pun makin membusung, Ia menoleh ke belakang, Arci pun menciumi bibirnya dan lidah mereka saling menjilat.

Sungguh mungkin kalau ada orang yang menyaksikan pergumulan panas mereka pasti juga akan merasakan gelora birahi. Suara kecipak pertemuan pantat dan selakangan itu benar-benar menggairahkan, terlebih banjir lendir dari kemaluan Andini menandakan wanita ini benar-benar sudah terangsang sekali.

Arci mengusap-usap tubuh Andini yang lain, yaitu pinggang dan perut sambil terus ia pompa batangnya keluar masuk. Kepalanya pun menyusup ke ketiak Andini dan menghisapnya kuat. Andini mengelinjang kegelian. Ia makin basah dan makin gatal. Tidak bahkan ia makin geli. Pantatnya pun ikut bergoyang mengimbangi gesekan batang kejantanan Arci.

“Ehhmm…ohhh….sayangku, enak sekali…” racau Andini.

“Peret banget memekmu sayangku!” ujar Arci.

Sementara itu Ghea masuk ke dalam rumah dan menguping apa yang dilakukan oleh Arci dan Andini. Ia pun memasukkan tangannya ke dalam celananya dan menggosok-gosok belahan kemaluannya. Tampaknya ia sangat rindu dimasuki lagi oleh Arci.

Dan dia pun sekarang membayangkan dirinya sedang disetubuhi oleh Arci. Ghea berusaha agar tak bersuara ketika ia mastrubasi. Mendengarkan suara desahan suami istri itu saja membuat ia terangsang. Apalagi lelaki itu adalah orang yang ia cintai.

***

“Apa yang akan kita lakukan kepadanya?” tanya Michael.

Lian pun tersadar. Tapi tangan dan kakinya sudah terikat. Ia melihat Alexandra ada di hadapannya.

“Hai pelacur, kita ketemu lagi!” kata Alexandra.

PLAK! Tamparan keras mengena ke pipi Lian.

“Brengsek! Bajingan, lepaskan Andini! Kalau kalian menginginkan aku sakiti aku saja, tapi lepaskan dia!” kata Lian.

“Melepaskannya? Kau gila? Justru dia ada di sini karena kita akan bersenang-senang. Arci sudah membohongi kami dengan memalsukan tanda tangan di surat pengesahan. Ia pantas mendapatkan sesuatu yang pantas. Menghancurkan hidupnya,” kata Alexandra. “Sayangku, lakukan saja!”

Michael tertawa. Tommy dan Agus tampak ada di ruangan itu juga tertawa.

“Mau apa kalian?!” tanya Lian.

“Ini biar bagianku!” kata Agus. “Aku tidak pernah merasakan binor.”

“Hahahaha, terserah. Aku akan tinggalkan kalian di luar,” kata Tommy meninggalkan mereka semua.

“Brengsek! Lepaskan Andini! Lepaskan dia!” Lian histeris, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena terikat. Sementara itu, Michael melepaskan pakaiannya satu per satu hingga telanjang bulat, begitu pula dengan Agus. Sementara itu Andini masih pingsan tak berdaya.

Michael mulai menelanjangi istri Arci itu, Agus pun telaten membantunya. Lian menjerit, “JANGAAAAN!”

“Lihatlah pelacur, aku akan buat menantumu mengikuti jejakmu menjadi pelacur. Hahahahahahaha!” Alexandra menduduki tubuh Lian.

“Shit! Boobsnya gedhe! Mulus lagi!” kata Michael.

***

Arci terus menggenjot Andini. Dan Andini sudah mulai orgasme lagi. Wanita ini makin kesetanan meliuk-liukkan pantatnya membuat penis Arci seperti diurut-urut. Dan akhirnya Andini orgasme. Arci menghentikan gerakannya dan mencumbui Andini. Dia mencabut batangnya, dengan mata sayu keduanya berpagutan lagi. Sungguh sebuah hubungan yang penuh gairah.

“Kamu ingin berapa anak sayangku?” tanya Andini.

“Sebanyak-banyaknya,” jawab Arci.

“Hihihihi, dasar, enak di kamu rempong di aku,” jawab Andini.

Arci mengangkat paha kanan Andini ke atas. Batang kemaluannya sudah meluncur lagi ke dalam liang senggama Andini yang basah. Licin sekali tapi peret hingga membuat keduanya melenguh lagi. Pergumulan panas pun terjadi lagi. Arci memagut istrinya itu sambil memepetnya ke dinding kamar mandi bermarmer. Andini merasa geli sekali ketika otot-otot batang kemaluan Arci menelusuri setiap rongga kemaluannya. Arci kembali menyusu kepadanya.

“Buah dadamu sayangku, sungguh memabukkanku. Aku rasanya tak puas-puas menikmatinya.”

“Ahh…sayangku, nikmatilah sepuasnya. Aku ada untukmu.”

Arci menghisap kuat puting Andini sambil terus menyodok Andini dengan ritme sedang. Andini melenguh lagi. Ia menggigit pundak Arci karena tak tahan kenikmatan yang terus menderanya. Sementara sodokan Arci yang seperti memompa piston itu makin kencang, sungguh batangnya serasa tak tahan lagi ingin menyemburkan lahar hangat.

“Sayangku, mau keluar?” tanya Andini.

“Iya,” jawab Arci.

“Aaahhkk… Cici, aku juga mau keluar.”

“Aarrghhh!”

Keduanya pun menjerit saat gelombang orgasme keluar. Semburan air mani kental pun kembali membasahi rahim Andini. Arci menekan kuat-kuat kemaluannya di rahim Andini. Kenikmatan yang luar biasa saat orgasme itu datang membuat mereka kelelahan. Keduanya berpelukan erat, tubuh Andini lemas.

***

“Jangaaan! Kumohon jangaaaan! Hentikan! Dia sedang hamil, jangaaann!” Lian memohon kepada Michael dan Agus. Tapi terlambat.

Tubuh Andini sudah ditelanjangi dan kini sedang dihisap puting susunya oleh Agus dan Michael. Mereka berbagi susu Andini, kiri dan kanan. Lian meronta, terus meronta, ia tak ingin Andini dilukai. Sebab dia adalah nyawa anaknya. Arci pasti akan sangat bersedih melihat kondisi Andini sekarang.

Tangan Andini mulai dijilati oleh dua pria hidung belang ini. Bahkan sekarang Agus mulai menjilati kemaluan Andini. Ya, lidahnya menari-nari di sepanjang garis kemaluan Andini. Andini masih tak sadar. Pukulan Baek tadi terlalu keras, mungkin saja bisa menghancurkan janin yang ada di dalam kandungannya.

Sementara itu Arci dan Ghea sudah bersiap. Mereka sampai ke lantai paling atas. Di sini sepi. Hanya ada seseorang yang berdiri di sana, yaitu Baek. Dia tampak sombong, berkacak pinggang sambil memberi isyarat menantang Arci.

“Kau tenang saja, ia bagianku,” ujar Arci. “Istirahatlah!”

Baek tertawa, “Kamu kira sendirian bisa mengalahkanku? Baiklah, ayo!”

Kaki Baek mulai bergerak-gerak. Arci mengetahui gaya ini. Ini gaya Tae Kwondo. Arci memasang kuda-kuda bebas. Ia gayanya seperti petinju sekarang. Baek menendang ke udara, lalu melakukan spinning kick. Dia memerkan tendangannya kepada Arci. Arci tetap tenang, sekalipun sebenarnya lukanya nyut-nyutan.

Baek mulai menyerang, ia menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan sedangkan kaki kanannya maju menendang wajah Arci. Arci bisa menangkis dengan tangannya, kaki Baek bergantian menendang dan Arci menangkis semuanya. Gantian Arci menyerang, kiri kanan. Kemudian ditutup dengan low kick. Dia mengenai lutut Baek. Baek sedikit meringis. Tendangan Arci tepat mengenai tempurung lututnya.

Baek melompat lagi dengan tendangan, tubuhnya seperti terbang ketika dua tendangan mengarah ke Arci. Arci sekali lagi bisa menangkis. Baek menaikkan kakinya tinggi-tinggi dan menurunkannya dengan cepat, tapi Arci berputar dan masuk ke pertahanan Baek yang kosong. Baek tentu saja kaget, tapi Arci memberikan uppercut. Baek bisa menghindar, tapi ternyata serangan Arci bukan sekedar uppercut, tapi sebuah pukulan smash yang tiba-tiba berubah arah. Dan pukulan itu telah mengenai wajah Baek.

Baek tersungkur.

“Beladiri apa itu, pukulan apa itu?” tanya Baek.

“Who knows? Siapa tahu aku sekarang sedang menggunakan street fighter,” jawab Arci.

Baek kembali bangkit dan menyerang Arci, kini dia memakai pukulan sesekali menendang, Arci bisa membaca semua serangannya. Baek makin gusar. Terlebih semua serangannya bisa dibaca oleh Arci. Dan Arci sekali lagi begitu ada kesempatan langsung menyerang dengan pukulan ataupun dengan tedangan dan semuanya mengena. Baek kemudian menghentikan serangannya dan berpikir, kenapa setiap serangannya bisa diketahui?

Arci kini berbalik menyerang. Kini pukulan-pukulan Arci seperti seorang petinju. Tentu saja pertahannya sangat kokoh. Ketika Arci memukul, dia terkadang melepaskan jab cepat, kemudian dengan pukulan satu dua, seperti petinju dia mendaratkan pukulan ke wajah Baek. Belum selesai, Arci memukul Baek dengan kedua tangannya lagi, kiri kanan. Kemudian ia daratkan sebuah tendangan tepat ke dada assasin itu. Tapi kaki Arci ditangkap oleh Baek. Arci tak tinggal diam, ia segera melompat ke udara berputar dan tendangannya menghantam pipi Baek hingga lelaki itu pun tumbang. Menangkap kaki Arci itu adalah hal bodoh, pikir Baek.

Dia bersusah payah bangkit sambil meludah. Darah segar keluar dari mulutnya. Baek kini mengganti kuda-kudanya. Arci mulai mengerutkan dahi. Dari kuda-kuda itu ia sangat tahu sekali apa yang sedang ada di depannya, Baek tidak hanya belajar tae-kwondo, tapi juga Cappoeira. Tangannya menari-nari dan kakinya menyapu-nyapu.

Dan yang terjadi selanjutnya, dengan gerakan memutar, Baek menerjang Arci dengan tendangan. Arci menurunkan badannya, sehingga hampir saja kaki Baek menyapu wajahnya. Tapi Baek tak cukup satu serangan, dengan gerakan gesit tangannya sebagai tumpuan dia sudah memutar kakinya seperti baling-baling lalu menghantam dada Arci. Arci terhempas. Baek belum berhenti, di saat Arci jatuh ke lantai, Baek sudah terbang salto untuk menghempaskan dua kakinya ke tubuh Arci, segera Arci berguling untuk menghindar.

Hampir saja Arci terkena injakan Baek.

Mereka berdua kini sama-sama berdiri lagi, semuanya memasang kuda-kuda. Semuanya bersiap untuk menyerang. Tapi siapa yang akan maju terlebih dahulu?

Arci melepaskan jasnya. Ia melucuti semua senjata yang ia bawa. Pistol, pisau, kapak. Ia singkirkan dengan kakinya. Baek mengernyitkan dahi.

“Maaf, tadi gerakanku terhalang oleh beban, sekarang ayo!” ujar Arci.

Baek merasa diremehkan, dia kembali maju dengan bertumpu kepada telapak tangannya, kemudian kakinya berputar seperti baling-baling. Arci menghindar. Saat Baek berguling ke depan Arci dengan cepat menghantam punggung tangan Baek. Seketika itu Baek meringis. Kenapa punggung tangan yang Arci jadikan sasaran? Baek mengaduh.

“Aarrghh!” berkali-kali Baek mengibas-kibaskan tangannya.

Arci mundur. Baek sekali lagi memainkan kakinya sambil bertumpu kepada tangannya tapi ia terpeleset. Arci memahami, kelemahan Cappoeira adalah tumpuan yang dipakai untuk bisa menggerakkan kakinya seperti baling-baling ada pada tangannya, apabila tangannya bisa dilumpuhkan, ia hanya bisa mengandalkan kakinya.

“Jenius!” puji Baek.

Sekarang giliran Arci, dia berlari ke arah Baek. Melihat Arci berlari ke arahnya, Baek segera bersiaga. Tapi begitu mendekat Arci melompat ke udara dan mendaratkan sebuah tendangan ke wajah Baek. Ini baru, Arci tak pernah melakukan ini sebelumnya, bukan ini bukan hanya sebuah tendagan. Gerakan berikutnya kakinya ditekuk sehingga kedua lututnya mencengkram kepala Baek sekarang. Lalu Arci mengarahkan kedua sikunya ke kepala Baek. Seketika itu Baek seperti dihantam sebuah pipa linggis. Dan Arci menghantamnya berkali-kali.

Setelah itu Baek ambruk dengan kepala bocor. Dan terakhir Arci melompat ke udara kemudian menuntaskannya dengan lutut terjun ke punggung Baek, mengakibatkan tulang punggung pendekar Tae Kwondo itu remuk.

KRRRAAAKK!

Sebuah akhir yang mengenaskan bagi Baek. Arci jadi mengerti kenapa dia diajari Ghea beberapa ilmu beladiri, terlebih ketika ia juga diajari oleh Yuswo beladiri yang aneh. Tapi hal itu membuat gerakannya jadi tak terdeteksi. Inilah yang disebut cara preman, mereka memang tak pernah belajar di sebuah padepokan, mereka juga tak pernah diajarkan bagaimana membangun sebuah aturan dalam menyerang maupun bertahan diri. Mereka hanya punya satu tujuan, yaitu mengalahkan lawan. Boleh jadi inilah yang disebut petarung jalanan.

Setelah menghabisi Baek, Arci menoleh ke sebuah pintu. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Ghea berjalan tertatih-tatih mendekat ke sepupunya. Arci mengambil kembali kapak dan pisaunya. Dan mereka berdua mendekat ke arah pintu di mana Tommy dan yang lainnya ada di dalam. Dan mereka pun masuk.

“Jangaaan!” terdengar suara Lian. “Kumohon jangan!”

Arci langsung naik darah mencari arah suaranya. Tampak dia dihalangi oleh seorang pemuda berambut cepak dan sebuah katana. Sang pemuda itu sesekali menggerak-gerakkan kepalanya seperti orang terkena ayan. Ia menggedek-gedek. Ghea menahan Arci.

“Dia bagianku, kamu pergilah!” kata Ghea.

“Hati-hati!” ujar Arci.

Arci menjauh dari Ungi yang sekarang ini berhadapan dengan Ghea. Ghea menghunuskan katananya. Ungi pun kemudian mengeluarkan katana dari sarung pedangnya. Ghea dan Ungi sekarang bersiap untuk bertarung. Sementara Arci meninggalkan mereka menuju ke sebuah pintu seperti kamar.

***

“Cici, aku tak ingin pergi darimu,” kata Andini.

“Aku juga,” kata Arci.

“Rasanya perjumpaan kita terlalu singkat ya, aku ingin seumur hidup bersamamu menikmati hari. Kita bersama selamanya.”

“Bukankah kita sudah seperti itu sekarang?”

Andini menggeleng, “Tidak, sepertinya kamu jauh.”

“Andini, perasaanku kepadamu kepadamu tak akan pernah berubah. Engkau adalah nyawaku sekarang. Kalau kau pergi maka separuh jiwaku akan hilang. Aku selalu memikirkanmu, bayang-bayangmu tak akan pernah lepas dari benakku. Aku telah menyerahkan separuh nyawaku untukmu.”

“Cici, aku cinta kamu selamanya.”

“Selamanya aku juga mencintaimu.”

“Sayangku, aku sangat menyesal sekali sebenarnya.”

“Menyesal kenapa?”

“Andai waktu itu aku jujur kepadamu aku bukan Iskha, andai perjumpaan pertama kali itu kita sudah langsung bersama, apakah engkau akan bisa bersamaku seperti sekarang ini?”

“Entahlah, yang jelas bukankah perjumpaan kita sekarang sudah ditakdirkan dan kita sudah bersama?”

“Tapi aku merasa sebentar lagi kita akan berpisah lagi.”

“Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap berjuang untuk hidup.”

“Kalau misalnya nanti kita berpisah…”

“Jangan ucapkan itu. Aku tak mau lagi kehilangan orang-orang yang aku cintai.”

Andini memeluk Arci. “Aku cinta selamanya.”

***

“Selamat datang, keponakan!” kata Tommy.

Tiba-tiba tubuh Arci dipegangi oleh beberapa orang. Lututnya ditendang sehingga ia kini berlutut. Ia tak bisa bergerak ketika punggungnya kemudian diinjak hingga ia tiarap. Kemudian kepalanya ditahan hingga mendongak dan dia menyaksikan sesuatu di depan matanya. Sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sesuatu yang membuat darahnya mendidih.

“ANDINIIIIII! LEPASKAAAN! LEPASKAN DIAAAA! BAJINGAN! BRENGSEK! BEDEBAH KALIAN! LEPASKAN DIA!” Arci menjerit histeris.

Di depannya terpampang sebuah scene di mana Michael menggenjot Andini sementara Agus menggenjot Andini dari bawah. Dia mencengkram buah dada Andini. Andini tak berdaya, ia tak sadar bahwa sekarang ia sedang digagahi dengan double penetration. Lian menangis sejadi-jadinya. Dengan tubuh terikat dan diduduki oleh Alexandra. Ia tak bisa berbuat banyak. Melihat Arci datang ia juga tambah bersedih. Ia tahu bagaimana putranya itu sangat mencintai Andini.

“Ini adalah akibat kalau kamu main-main dengan kami. Kamu berani-beraninya memalsukan tanda tanganmu, kamu kira kamu siapa? Kamu hanya anak seorang pelacur. Kamu hanya anak seorang pelacur, kamu tak pantas menyandang nama Zenedine. Sekarang, kamu lihat kamu tak berdaya di hadapanku, semua orang-orang yang kamu cintai aku rampas. Hahahahaha, menangislah, marahlah! Sekarang kamu tak bisa berbuat apa-apa.”

Air mata Arci keluar, ia berusaha meronta untuk bisa terbebas dari cengkraman orang-orang Tommy. Matanya dipaksa untuk menyaksikan bagaimana istrinya diperkosa oleh Michael dan Agus.

Apakah kalian pernah melihat istri yang kalian sayangi dizinahi? Semua orang apabila melihat istrinya selingkuh pasti sakit. Ya, sangat sakit. Apalagi apabila seorang suami sangat mencintai istrinya. Tapi itu semua berakhir dan akan disadari bahwa sang istri tidak baik bagi dirinya. Tapi berbeda, apabila sang istri yang sangat mencintainya, diperkosa di hadapannya, sedangkan ia tak bisa berbuat apa-apa. Arci sangat mencintai Andini. Ia menangis, histeris, air matanya tak tertahan lagi. Ia meronta, memanggil-manggil nama istrinya.

“HENTIKAAAANN! AKU MOHONNN! HENTIKAN! DIA SEDANG HAMIL! HENTIKAAAANN!” jerit Arci.

“Peret banget istrimu, aku tak bosan ngentotin dia, betul nggak Gus?” tanya Michael yang nafsunya sudah diubun-ubun.

“Uhh, enak banget ini dubur istrimu, belum pernah dipake kan? Aahahh…ahahh…aaaahhh..aku keluar Mike!”

“Uuufffhh…gila, enak banget, aku jugaaaa….!”

“BANGSAAAATTT! AKU BERSUMPAH! AKU TAK AKAN MATI SAMPAI MENGHABISI KALIAN SEMUA! AKU AKAN BERIKAN KALIAN MIMPI BURUK YANG TAK AKAN PERNAH KALIAN LUPAKAN, BAHKAN KALIAN AKAN MEMINTA SENDIRI KEMATIAN!”

“Hahahahaha….kamu bisa apa? Kamu tak bisa apa-apa sekarang. Nikmati saja suguhan ini!” kata Tommy.

***

Apa yang terjadi denganku?

Siapa dia? Kenapa dia ada di atasku? Tubuhku sakit semua. Apa yang terjadi?

Arci, kenapa dia ada di sana? Oh, suamiku ada di sana. Tubuhku sakit semua. Kenapa dia ada di sini? Aku di mana?

Ada seorang lelaki yang menindihku?

Sakit sekali, sakiiitt…. Apakah aku akan mati?

“Aku puaas…akhirnya keluar juga…ohhh!”

Suara siapa itu?

“Aku juga Mike, ternyata dia benar-benar peret.”

“Lepaskan dia!”

“Heeii, darah apa ini?”

“Shit! Kenapa dia mengeluarkan banyak darah?”

“Darah apa ini?”

“Dia keguguran!”

“BAJINGAAANN! AKU BUNUH KALIAN SEMUAA!”

Arci, apa yang terjadi?

Tiba-tiba tubuhku di dekap. Arci, itu dia. Suamiku datang. Akhirnya…. oh, aku merindukanmu sayangku. Tapi tubuhku sakit semua. Apa yang sedang terjadi? Kenapa dia menangis? Jangan menangis. Jangan bersedih. Aku ingin menghiburmu sayangku, jangan bersedih. Kumohon!…Ciciku jangan bersedih. Kenapa kamu menangis.

***

“Andini….Andini, maafkan aku, maafkan aku!” Arci menangis. Dia terisak. Dia berhasil meronta dari cengkraman anak buah Tommy dan berlari menuju Andini. Ia segera menyelimuti Andini yang sudah tanpa busana. Darah keluar dari kemaluan Andini dan terus keluar tanpa henti.

Tommy, Michael dan Agus tertawa. Alexandra tampak puas melihat itu semua.

“Ciciku…kamu datang?” bisik Andini.

“Ya, aku datang,” jawab Arci.

“Tubuhku sakit semua…apa yang terjadi?”

“Tak apa-apa, tak apa-apa sayangku. Tidurlah! Tidurlah! Aku akan memelukmu dengan erat.”

“Aku tahu…tapi entah kenapa…rasanya engkau akan pergi jauh.”

“Jangan katakan itu kumohon, jangan katakan itu….”

“Aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku, perutku seperti dililit, aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku. Sayangku…kita pulang saja yuk!?”

“Iya, kita pulang. Kita pulang! Kita pulang. Kita akan bangun gubuk, kita akan hidup sendiri. Aku akan turuti keinginanmu. Kita akan bersama, kita akan punya banyak anak. Kumohon jangan tinggalkan aku. Kumohon! Kamu adalah nyawaku, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?”

“Apakah aku akan mati?”

“Tidak, kamu tidak boleh mati.”

“Tapi aku merasa ada sesuatu yang lepas dari diriku. Cici, semuanya gelap.”

“TIDAAAAKKK! Jangan pergi aku mohooonn! Jangaaaan! Aku akan melakukan apapun asal kamu jangan pergi. Andiniii… aku mencintaimu….aku mencintaimu…”

Lian menangis melihat itu semua. Hatinya hancur melihat putranya rapuh sekarang ini.

***

Ungi dan Ghea saling beradu pedang, gerakan Ungi sangat lincah seperti samurai sesungguhnya. Sabetan-sabetan pedangnya benar-benar akurat dan cepat. Ghea dengan kaki pincang tentu saja kewalahan melawan Ungi. Tapi ia terus bertahan.

“Hebat, hebat, hebat! Kamu wanita pertama yang sanggup mengimbangiku,” kata Ungi sambil bergedek.

Luka-luka di tubuh Ghea mulai bereaksi. Tapi dia harus hidup. Dan yang dilakukan olehnya sekarang adalah berpikir bagaimana agar bisa mengalahkan Ungi. Ghea menahan rasa sakit di pahanya yang robek. Darah membuat celananya makin berat. Bahkan sepatunya pun sekarang sudah berisi darahnya sendiri sehingga meninggalkan jejak di lantai. Terlebih luka sabetan pisau di perutnya membuat rasa sendiri. Ghea menyadari gerakannya mulai melambat. Ia banyak kehilangan darah. Terlebih luka di pahanya cukup dalam.

Ghea bertahan. Dia memegang gagang katananya dengan kedua tangan. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam. Posisi kuda-kudanya sekarang seperti seseorang atlit kendo. Kedua tangan ke depan, katananya memanjang seolah-olah mengukur jarak antara dia dengan Ungi.

Ungi tersenyum sinis. Tubuhnya tiba-tiba berputar cepat sambil mengayunkan katananya ke arah Ghea. Ungi sekarang seperti angin topan. Ghea hanya bisa berdiri mematung menanti saat yang tepat untuk menyerang. Ketika Ungi menyerangnya Ghea menghindar. Gerakan Ungi sangat cepat. Untunglah terlambat sedikit saja, badan Ghea bakal terpotong menjadi dua. Bertarung menggunakan pedang bukan keahliannya, tapi kalau tidak memakai katana bagaimana cara mengalahkan Ungi?

Ungi yang merasa Ghea bisa menghindari serangannya, tampaknya tak heran. Dia kemudian melakukan lagi gerakan memutarnya, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Gadis berambut merah ini pun bertahan. Kakinya tiba-tiba terasa lagi nyut-nyut. Ghea mengumpat kepada dirinya sendiri kenapa di saat seperti ini malah merasa sakit. Akhirnya dengan tenaga seadanya ia bertahan dan menangkis serangan itu.

TRANG!TRANG!TRANG!TRANG!

Gerakan berputar itu ternyata datang bertubi-tubi. Ghea tak bisa bertahan lebih lama karena serangannya cepat dan beruntun. Ghea pun terdesak dan dengan benturan beruntun itulah tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah tendangan yang menghantam kepalanya.

BUAAKK!

Tubuh Ghea terhempas dan membentur sebuah meja yang ada di ruangan itu. Ghea tersungkur. Rasa lelah mulai merambat di tubuhnya. Mungkin dikarenakan ia merasakan sakit. Tapi ia pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya bukan? Dengan sisa-sisa tenaganya ia bertumpu kepada katananya untuk berdiri.

“Ayo, aku masih belum kalah!” kata Ghea.

Ungi pun datang secepat kilat kemudian menebaskan katananya ke tubuh Ghea. Ghea kemudian ambruk ke lantai. Melihat Ghea sudah tak berdaya, Ungi pun meninggalkannya sambil sesekali kepalanya bergedek.

***

“Terima kasih atas cintamu sayangku. Aku tahu kalau kamu sangat mencintaiku. Aku adalah bagian terindah dari hidupmu. Tapi kalau kita tidak ditakdirkan bersama apakah yang bisa kita lakukan?”

“Pasti ada. Pasti ada yang bisa aku lakukan. Kalau kamu pergi… siapa yang akan menjadi nyawaku sekarang? Safira telah pergi, lalu kamu??”

“Ada seorang wanita yang sangat mencintaimu.”

“Siapa?”

“Kamu tidak tahu?”

“Aku tahu, tapi kenapa dia?”

“Dia sangat mencintaimu.”

“Tapi aku mencintaimu.”

“Ya, kau memang mencintaiku. Tapi aku tak bisa bersanding denganmu.”

“Setelah apa yang selama ini telah kita lakukan? Kita perjuangkan? Kamu harus pergi? Ini terlalu sakit bagiku.”

“Dia juga telah merasakan sakit. Sakit karena cintanya tak dibalas.”

“Jangan lakukan ini Andini, jangan!”

“Aku tak bisa berbuat apa-apa.”

“Biarkan aku pergi denganmu.”

“Tidak bisa, jangan! Kamu harus hidup! Cintailah dia!”

“Tak akan ada yang bisa mengisi hatiku lagi selain dirimu.”

“Bisa, kamu bisa mencintainya. Dia bisa memberikanmu kehangatan seperti yang kuberikan. Dia bisa memberikanmu kesejukan seperti yang kuberikan. Kau hanya perlu mengajarinya.”

“Andini….aku rapuh.”

“Kuatlah suamiku, kamu harus kuat.”

“Engkau adalah kekuatanku. Engkau adalah cintaku.”

“Kalau kau mencintaiku, kamu harus tegar.”

“Kenapa perjumpaan kita begitu cepat?”

“Semuanya telah digariskan. Sebagaimana Safira bilang, semua yang ada awal pasti ada akhir. Hiduplah untuk cintamu. Masih ada ibumu, masih ada Putri dan Ghea.”

“Andini….”

“Terima kasih, cinta…”

“Aku mencintaimu selamanya Andini.”

“Aku juga mencintaimu….selamanya, suamiku. Lelaki yang paling tampan.”

“Biarkan aku memelukmu. Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kali.”

“Selamat tinggal cinta….”

***

Arci membisu. Nafas Andini berhenti. Jantungnya berhenti. Arci memeluk tubuh istrinya untuk terakhir kali. Ia menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Menciumnya untuk yang terakhir kali. Matanya memerah. Ia mencopot kemejanya. Terlihat kemejanya bersimbah darah karena luka-lukanya. Arci menutupkan kemejanya ke tubuh istrinya. Ia menciumi wajah yang terlihat damai itu sekarang. Ya, Andini telah pergi dengan menyunggingkan senyuman. Terlihatlah luka-luka di tubuh Arci. Bahkan Lian pun tak sanggup untuk melihat luka-luka di tubuh itu. Di punggungnya ada banyak luka sabetan, terlebih ketika Arci berbalik memperlihatkan dadanya. Ada beberapa bekas luka tertembus peluru di sana.

“Hajar dia!” kata Tommy kepada anak buahnya.

Empat anak buah Tommy yang memegangi Arci tadi langsung menuju ke arah Arci. Mereka memukul Arci, menendang, tapi Arci tak bergeming. Ia seperti mati rasa. Matanya masih menatap tajam. Pukulan demi pukulan ia terima tapi sekali lagi tak ada rasa sakit. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang lebih sakit daripada sebuah pukulan ataupun tendangan. Bahkan kalau saja dia mati hari ini, mungkin tak ada rasanya sama sekali.

Arci dengan satu tangan menangkap leher salah seorang anak buah Tommy. Kemudian menangkap tenggorokannya dan mematahkannya. KLEEK! Orang itu pun langsung ambruk. Melihat rekannya tewas begitu saja, yang lainnya berusaha menghajar Arci lagi, tapi Arci menangkap tangan salah seorang dari mereka, kemudian menekuknya ke arah berlawanan. KRAAK! Orang itu langsung menjerit. Tommy heran melihat Arci seperti itu. Dua orang lainnya berasa ketakutan. Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa. Kapak kecil itu digenggamnya rapat-rapat setelah itu ia ayunkan ke salah seorang anak buah Tommy, tepat mengenai kepalanya. Setela itu ia cabut dan ayunkan lagi ke perut temannya.

“Aku sudah katakan, aku akan menjadi vampir malam ini. Aku akan hisap darah kalian!” kata Arci. “Aku tak akan memaafkan kalian. Aku akan hisap sampai kalian bahkan ingin menginginkan kematian!”

Tommy jadi merinding. Alexandra jadi ketakutan melihat Arci sekarang ini. Tiba-tiba Arci bergerak cepat ke arah Alexandra dan rambutnya dijambak. Gerakan cepat itu tak pernah disadari oleh siapapun, atau lebih tepatnya semuanya takut sekarang. Arci sudah tidak bisa berfikir tentang logika. Yang ada di dalam otaknya adalah membunuh semua orang.

“AAARRGHH!” jerit Alexandra. “Kamu mau menyakiti wanita?”

Arci tak peduli, ia segera membenturkan Alexandra ke lantai. Michael yang melihat istrinya diperlakukan seperti itu segera berlari ke arah Arci sambil membawa sebuah tongkat basebal. Arci dipukul-pukul kepalanya. Tapi tongkat itu berhasil ditangkap oleh Arci dengan tangan kirinya. Alexandra menggeliat di lantai. Arci mengayunkan kapaknya, kalau saja Michael tidak melepaskan tongkat baseball itu mungkin ia sudah terkena sabetan kapak Arci. Alexandra yang sekarang berada di bawah kaki Arci tampak ketakutan. Entah bagaimana Arci punya kekuatan seperti ini sekarang. Tongkat baseball itu pun diayunkan ke kepalanya. Arci dengan membabi buta terus-menerus memukul-mukul kepala Alexandra hingga remuk. Istri Michael itu pun tewas dengan kepala remuk karena tongkat baseball.

Semua orang yang ada di tempat itu merinding. Tommy mencari-cari pistolnya. Tak ada di pinggangnya, padahal harusnya ia selalu bawa. Michael menatap ngeri tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu. Arci membuang tongkat baseball tersebut. Ia berjalan ke arah Michael.

“Tu..tunggu dulu!” kata Michael memohon. Tommy dan Agus mundur menghindar. Arci sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Michael ketakutan, sangat ketakutan. Ia pun berlutut. “Maafkan aku, tolong jangan bunuh aku. Tom! Tommy lakukan sesuatu!”

Tommy dan Agus akan keluar ke pintu tapi Arci melemparkan kapaknya hingga menancap di pintu. Tommy dan Agus terkejut tentu saja. Arci segera menendang kemaluan Michael. Michael langsung mengerang ketika kedua telurnya dengan keras ditendang oleh Arci. Mungkin ia tak pernah menyangka dalam hidupnya bahwa kantong testisnya akan hancur hari itu dengan sekali tendang. Dan Arci menggigit lehernya. KRRAASSSHH!

“AAAAAAARRRGGGHHH!” Michael meronta-ronta agar Arci melepaskannya. Tapi gigitan Arci lebih kuat seperti serigala. Michael berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Arci tapi semakin dia mendorong gigitan itu semakin kuat. Arci menggigit Michael tepat di pembuluh nadinya. Dia menggigit sekeras-kerasnya sambil menghisap setiap darah yang keluar dari luka Michael.

Tommy begidik melihat itu semua. Terlebih Agus. Lian sungguh tak tega melihat itu ia memejamkan mata. Melihat tubuh Andini yang sudah tergolek tak bernyawa itu ia pun merasa bersalah. Bersalah dan menyesal atas dosa-dosanya selama ini. Seharusnya ia tolak cinta dari Archer. Cinta yang membawa petaka, cinta yang hanya membawa derita. Ia sendiri tampaknya tak tega melihat kondisi Arci seperti sekarang ini. Arci sekarang seperti binatang buas. Ia tak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi.

Michael mengerang dan meronta. Tapi tenaga Arci sangat kuat, entah dari mana tenaga itu berasal. Hingga akhirnya Michael pun lemas. Darahnya banyak yang keluar. Apalagi Arci berhasil memutuskan pembuluh nadinya. Ia pun menggigit dan menarik daging yang ia dapatkan dari leher Michael dan meludahkannya. Kini mulutnya penuh darah.

Tommy dan Agus sangat ketakutan, apa yang mereka hadapi sekarang ini bukan manusia. Ternyata mereka telah bertemu dengan binatang yang sesungguhnya. Mereka selama ini bersifat seperti binatang. Menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan mereka. Namun ketika mereka bertemu dengan keadaan yang sekarang ini, di mana manusia yang menjadi binatang sesungguhnya mereka pun takut.

Dari pintu muncullah Ungi.

“Ungi, bagus. Bunuh dia! Cepat!” suruh Tommy.

Ungi yang melihat Arci segera menerjang ke arah Arci. Dan dengan satu gerakan tusukan ke perutnya hingga katana Ungi menembus perut Arci hingga ke punggungnya. Ungi tersenyum sambil bergedek. Tapi kali ini Arci menengklengkan kepalanya. Dia menggenggam erat katana Ungi. Ungi berusaha mencabut lagi katananya. Tapi katana itu seakan-akan dijepit dengan kuat oleh Arci sehingga tak bisa dia cabut lagi.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan?” tanya Ungi.

Arci mengayunkan kapaknya ke pundak Ungi. JLEB! KRESSS! Ungi menjerit keras. Arci mendaratkan kapak kecilnya berkali-kali ke tubuh Ungi hingga pundaknya tampak terbelah seperti sepotong kayu. Ungi melepaskan katananya dan mengerang merasakan sakit di pundaknya yang sekarang menganga dengan kucuran darah segar yang keluar dari lukanya. Ungi merayap meninggalkan Arci. Arci kemudian perlahan-lahan menarik katana itu keluar dari tubuhnya. Setelah berhasil ia keluarkan. Dengan darah yang makin banyak mengucur ia pun berjalan mengejar Ungi. Ungi ketakutan. Ia tak pernah merasakan akan dijemput oleh kematian secepat ini. Tidak di usia mudanya. Arci menginjak tubuhnya dan menancapkan katana itu persis ke wajahnya. Ungi tak pernah menyangka ia mati dengan katana miliknya sendiri.

Tommy mendorong tubuh Agus hingga Agus yang tidak siap langsung tersungkur ke depan Arci. Sementara itu Tommy keluar dari ruangan itu dan lari.

“Arci, Arci maaf, kita bisa bicarakan baik-baik. Kau bisa dapatkan lagi perusahaanmu. Anggap semua tidak terjadi OK, ampuni aku,” kata Agus.

Arci melemparkan kapaknya ke lantai. Agus menghela nafas lega. Berarti kata-katanya tadi seolah-olah telah didengarkan oleh Arci. Namun tidak, Arci langsung menggigit lehernya. KRESSS! Sama seperti yang dilakukan Arci terhadap Michael.

Agus menjerit. Ia tak pernah menyangka dalam hidupnya ia akan mati oleh pemuda seperti Arci. Pembuluh nadinya langsung putus ketika gigi Arci yang entah bagaimana bisa tajam itu mengoyak lehernya dan menghisap darahnya. Cukup lama Arci menghisap darah Agus.

“Arci, sudah! Hentikan!” kata Lian. “Hentikan nak! Kamu harus berhenti! Sudah cukup!”

Dari pintu muncullah Letnan Basuki. Melihat Arci menggigit Agus, dia langsung berteriak, “Arci, hentikan!”

DOR!

Letnan Basuki melepaskan tembakannya. Arci pun melepaskan gigitannya ke Agus lalu dia ambruk.

Bersambung