Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 27

RIOT AND CHAOS

Dendam hanya akan membawa kehancuran
Menyeret pelakunya ke dalam kehampaan
Akan banyak orang yang kehilangan
Dan akan banyak darah ditumpahkan

Pasukan Tommy terbagi menjadi dua, mereka yang menuju ke rumah Rahma dan satunya yang ingin menggempur pasukan Yuswo. Arci juga membagi pasukan menjadi beberapa bagian. Satu melindungi keluarganya, yang lainnya ikut dia. Dan satu lagi untuk mencegah agar pasukan Tommy lari. Malam itu preman-preman tidak tidur. Sorenya mereka sudah galau. Mereka sebenarnya khawatir dirinya akan mati malam itu.

Tapi itu tak menjadi masalah, hidup sebagai preman, mati sebagai preman apa bedanya? Daripada mati di tangan timah panas polisi, mereka lebih baik mati berkelahi dengan orang lain. Para preman stasiun yang biasanya mangkal sebagai tukang parkir, sebagai penjual gorengan, sebagai polisi cepek dan berbagai profesi yang mereka tekuni malam itu bangun. Mereka mengejutkan istri-istri dan anak-anak mereka.

Dan pesan mereka kepada keluarganya adalah “Kalau pagi aku tidak pulang, tolong jangan cari aku. Mungkin aku sudah pergi.” Kurang lebih semua suami yang berpesan kepada istrinya seperti itu.

Ghea, Andini, Lian dan Rahma tampak bersiap. Sedari siang mereka tak bisa keluar rumah karena ratusan orang berpakaian preman sudah berjaga-jaga di sana. Mereka semua adalah para preman yang ditugaskan oleh Yuswo. Ditambah lagi para polisi yang juga sudah bersiaga dari kemarin-kemarin kini mulai bersiap. Mereka memakai rompi anti peluru dan berbagai persenjataan.

Semua toko tiba-tiba tutup lebih awal. Beberapa orang swadaya masyarakat tampak berjaga-jaga sebagai keamanan. Mereka juga takut kalau-kalau terjadi sesuatu. Para polisi sudah menyebar pasukannya di mana-mana. Bahkan pasukan anti huru-hara sudah bersiap dengan tameng dan tongkat pemukulnya di sepanjang jalan Ahmad Yani. Mobil ambulance dan pemadam kebakaran di kerahkan. Malam itu keadaan benar-benar mencekam.

Arci menelpon istrinya.

“Halo?!” sapa Arci.

“Sayang, kamu di mana? Aku tak bisa keluar ada orang-orang yang mencegah kami keluar. Katanya kami harus tinggal di dalam rumah!” ujar Andini.

“Iya, mereka orang-orangku. Bertahanlah! Aku akan membuat perhitungan dengan mereka semua,” ujar Arci.

Andini membalas, “Tidak! Hentikan semua ini. Kamu suamiku, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu! Ayo kita pergi sayang, kita sudahi semua ini. Hentikan balas dendam ini.”

“Aku tak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku hidup lebih lama bersama kakakku. Dia berkorban banyak buat kami. Bahkan demi agar diakui keluarganya dia rela menyumbangkan ginjalnya untuk ayahnya tapi itu tidak diakui. Akhirnya hanya aku yang bisa mengakui dirinya. Hanya aku yang bisa memberikan kehidupan untuknya. Ada alasan kenapa dia mencintaiku, ada alasan kenapa aku juga mencintai dia. Dia bukan sekedar kakak buatku. Kau juga tahu itu. Itulah alasannya kenapa aku tak bisa berhenti. Apalagi ketika dia harus tewas di depan mataku sendiri, terlebih dia juga mengandung anakku.”

“Apa?”

“Ya, dia tewas saat mengandung anakku. Karena itulah aku tak akan memaafkan mereka. Aku sudah bersumpah akan menjadi vampir malam ini. Aku akan hirup darah mereka. Aku akan habisi mereka semua sampai mereka menyesal telah hidup.”

“Sayangku….aku tak tahu….”

“Sabarlah, aku akan pulang. Kalau toh aku tidak pulang, kamu jangan khawatir. Aku akan pergi ke tempat di mana orang yang aku cintai berada.”

“Ajaklah aku!”

“Aku tidak ingin mengajakmu. Kamu harus hidup.”

“Aku juga tidak akan bisa hidup, aku hamil….”

DEGG!

Tangan Arci gemetar. “Apa tadi yang kamu bilang?”

“Aku hamil,” kata Andini sambil terisak.

“Katakan sekali lagi?!”

“Aku hamil.”

“Kenapa kamu tak bilang?”

“Aku akan bilang kepadamu.”

Arci entah bahagia atau bersedih. Ia tak tahu yang mana yang benar dan yang salah sekarang. Di hadapannya sudah ada barikade polisi. Polisi benar-benar sekarang berada di tengah dua kekuatan.

“Sekarang belum terlambat. Sudahi ini semua sayangku, pulanglah! Ayo kita hidup menyendiri, menjauh dari semua. Kita hidup di sebuah gubuk kecil, dengan anak-anak kita. Jauhi ini semua.”

Tangan Arci gemetar. Dia tak pernah menyangka akan seperti ini. Air matanya meleleh.

“Demi anak kita suamiku, jangan lakukan ini!”

Pasukan Arci berhenti menunggu aba-aba Arci. Arci memejamkan mata. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan? Ia sudah berjalan jauh. Dan ini di depannya. Sudah ada pihak kepolisian menantang dirinya. Dan di seberang sana ada pasukan dari Tommy.

“Mundur! Kalau tidak kami akan menembak! Kalian harus membubarkan diri secepatnya!” tampak suara keras dari salah satu polisi terdengar jelas. “Kami hitung sampai sepuluh hitungan!”

“Cici, itu apa? Suara apa itu?” tanya Andini.

“Polisi. Mereka akan membubarkan kami,” jawab Arci.

“Tidak mungkin! Sudahilah, kumohon aku sangat khawatir. Pulanglah!”

“Aku tidak bisa. Belum bisa,” Arci segera menutup teleponnya.

Andini menjerit histeris. Ghea yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas. Berat bagi Arci, berat bagi Andini. Lian berusaha menenangkan Andini. Rahma pun ikut menenangkannya.

“Sudahlah, kita hanya bisa berharap Arci pulang dengan selamat,” kata Lian.

“Dini, yang tabah ya?!” kata Rahma.

“Kalian tak perlu khawatir. Arci bukan orang yang akan jatuh begitu saja. Dia pernah melewati masa-masa kritis, dia telah melewati banyak cobaan. Dia lelaki tampan yang paling kuat yang pernah aku kenal,” kata Ghea.

“Ghea?” gumam Andini.

“Perlu kalian ketahui, aku juga berharap ia selamat. Tapi aku tak pernah menyerah akan berharap kepadanya. Kamu adalah orang yang paling ia cintai. Kamu harusnya yakin!” kata Ghea sambil memegang bahu Andini. “Ini!” Ghea memberikan sebuah senjata kepada Andini. “Pakai pistol ini, kamu harus kuat. Sebagai istri seorang bos mafia kamu harus kuat. Tembak siapapun yang ingin mendekat kepadamu. Malam ini kita akan mati. Jadi jangan berharap untuk bisa hidup esok hari.”

Andini berkaca-kaca, air matanya meleleh. “Ghea, terima kasih…”

“Kalian adalah keluargaku juga. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekati kalian,” kata Ghea.

Sementara itu Arci menyimpan ponselnya. Dia menatap ke arah para polisi yang sudah bersiaga. Dia memberi aba-aba.

“Ingat, kita tak bisa kembali lagi. Maju atau mati!” teriak Arci.

HIIYYEEEE! teriak semua orang.

“Tujuh, Enam, Lima, Empat, Tiga, Dua, Satu! Waktu habis!” seru suara polisi di TOA.

Tak berapa lama kemudian pasukan anti huru-hara mulai maju menuju ke arah Arci. Tapi Arci belum memberi aba-aba menyerang. Sementara gas air mata sudah dilontarkan. Beberapa orang langsung mengoleskan pasta gigi di bahwa mata mereka dan memakai masker. Arci mengeluarkan topeng gas dan memakainya. Beberapa orang yang membawa topeng gas pun langsung memakainya. Di tempat lain, di mana pasukan Tommy sekarang juga memakai topeng gas. Mereka kemudian langsung bentrok dengan polisi.

Arci memberi aba-aba untuk maju. Tapi bukan maju secara fisik, para preman melemparkan sesuatu.

BANG! BANG! DOR! RATATATATATA!

Ternyata mereka melemparkan petasan. Hal itu membuat para polisi kalang kabut. Pasukan anti huru-hara kocar-kacir karena lemparan petasan itu. Arci pun langsung berlari menuju ke arah para polisi yang kalang kabut itu. Akhirnya terjadilah bentrok. Tiga pasukan pun bertemu, mereka saling serang, saling pukul,s saling bantai.

Keadaan kacau sekali. Arci tak segan-segan membalas serangan para polisi. Mereka juga bertahan ketika dua kekuatan saling bertemu, tapi karena kekuatan pasukan anti huru-hara ini sedikit akhirnya mereka pun terdesak. Pasukan Gegana yang diterjunkan pun tak bisa berbuat banyak terlebih salah satu preman membawa RPG dan menembakkan RPG itu ke arah salah satu mobil panser hingga mobil panser itu bersalto di udara.

Tembakan pistol dan ledakan granat membahana. Malam itu Malang terjadi perang. Listrik di sepanjang jalan Ahmad Yani dipadamkan. Beberapa di antaranya takut dan lari terus dikejar. Para polisi makin terdesak, hingga akhirnya pasukan Tommy dan pasukan Arci bertemu. Mereka pun bertarung satu sama lain. Para polisi tak bisa berbuat banyak dan mereka meminta bantuan.

Arci mempraktekan apa yang telah ia pelajari bertarung keroyokan. Dia mengambil senjata polisi yaitu tongkat pemukul dan menghajar siapapun yang ada di depannya. Semua yang terkena pukulannya pasti tumbang. Setiap orang mendapatkan paling sedikit dua pukulan, perut dan kepala, perut dan kepala, kaki dan kepala. Arci terus mengalahkan setiap orang yang dilewatinya sekalipun mereka bersenjatakan parang dan pipa besi.

“Pergi ke sana, dapatkan wanita itu! Mereka butuh bantuan” seru seseorang.

Arci mendengarkannya. “Wanita itu” mungkinkah Andini? pikirnya. Ia segera melihat banyak sekali pasukan dari Tommy berbelok ke sebuah gang. Arci pun segera mengejarnya. Tak salah lagi mereka ingin menangkap keluarganya. Arci segera menelpon Ghea.

“Ghea!?” sapa Arci.

“Ya?!” jawab Ghea.

“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Arci.

“Kacau, di sini terjadi perang! Kami bertahan di rumah!” jawabnya.

DOR! DOR! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan.

“Apa itu?” tanya Arci.

“Mereka menyerang dengan banyak senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol in…auhh!” suara Ghea terputus.

“GHEA! GHEA!” teriak Arci. Arci pun segera berlari menuju rumah Rahma yang letaknya memang tak begitu jauh dari tempat pertempuran ini. “Tidak, tidak, tidak, aku tak mau kehilangan kalian. Aku tak mau. Aku tak mau!”

***

Rusuh, itulah yang terjadi. Terlebih ketika dua orang assasins suruhan Tommy tiba di tempat Andini dan yang lainnya berada. Baek dan Tina. Para polisi dan preman-preman yang berjaga melindungi rumah Rahma tak ada yang diberi ampun. Mereka semua dibantai. Ghea baru menyadari siapa lawan mereka.

“Ini tidak baik,” kata Ghea.

“Ada apa?” tanya Andini.

“Mereka bukan orang biasa, mereka pembunuh bayaran nomor satu. Kalian segera pergi tak ada yang bisa melawan mereka!” kata Ghea.

Telepon Ghea berbunyi. Ghea segera mengangkatnya.

“Ghea!?” sapa Arci.

“Ya?!” jawab Ghea.

“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Arci.

“Kacau, di sini terjadi perang! Kami bertahan di rumah!” jawabnya.

Ghea menembakkan senjatanya DOR! DOR! DOR! DOR!

“Apa itu?” tanya Arci.

“Mereka menyerang dengan banyak senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol in…auhh!” Ghea memekik ketika sebuah pisau kecil menancap di punggung tangannya. Tampak Tina yang dari kejauhan memainkan pisaunya mulai merangsek masuk.

“Lari!” seru Ghea. Andini yang memegang pistol pun tak punya pilihan lain.

Dia sama sekali belum menembakkan satu peluru pun. Andini dan yang lainnya segera keluar lewat pintu belakang. Singgih dengan kursi rodanya didorong oleh Rahma. Andini, Lian dan Putri segera berlari keluar rumah, tapi ketika Singgih dan Rahma keluar sebuah tendangan menghantam tubuh Singgih hingga dia yang tak mempunyai kaki dan tangan langsung mendarat seperti bantal ke tanah. Rahma pun terhantam hingga mental ke dalam rumah lagi. Andini berbalik dan melihat keadaan. Dia membidik Baek.

“Pergi dari dia, kamu mengincar aku bukan?! Sini kamu! Aku akan menembakmu!” kata Andini.

Baek menginjak-injak tubuh Singgih. Singgih hanya bisa mengerang kesakitan. Ia tak bisa berbuat banyak dengan tubuhnya yang cacat. Ia hanya berteriak, “Rahmaaa! Rahmaaa!”

Melihat Andini menantangnya, Baek segera menghampiri Andini. Andini berusaha menarik pelatuknya tapi susah. Apa yang terjadi? Bahkan sekarang Baek sudah mendekat persis di depannya hingga moncong pistolnya tepat berada di dada Baek. Baek tersenyum geli.

“Bagaimana kamu bisa menembak kalau masih kau kunci?” tanya Baek. Andini terkejut. Baek memberikan hantaman ke perut Andini hingga Andini tak bisa bernafas. Lian yang melihatnya segera menolong Andini tapi dia terkena tamparan Baek hingga ambruk ke tanah. Rahma yang baru bangun segera mengambil sapu dan menerjang Baek, lalu ia memukulkan sapu itu ke kepala Baek. Kayunya patah tapi Baek masih baik-baik saja. Baek berbalik.

Dia kemudian mengapit leher Rahma dengan siku lengan bagian dalam lalu memelintir leher Rahma hingga berbunyi KRAAK! lalu tubuh Rahma dilempar begitu saja ke tanah. Mata Rahma melotot, ia sudah tak bernyawa dengan gerakan Baek tadi.

Singgih histeris, “Rahmaaa! TIDAAK! Rahmaaaa!” Dia berusaha menggapai tubuh Rahma dengan kekuatan seadanya. Ia berjalan seperti penyu, merayap.

Baek meninggalkan Singgih yang histeris. Dia kemudian menggelandang tangan Andini dan Lian. Dia menyeret tubuh kedua wanita yang pingsan itu. Tapi di tengah jalan, tampak Putri dengan membawa tongkat menghalangi Baek.

“Lepaskan ibuku! Lepaskan!” kata Putri. Dia segera memukul-mukul Baek. Baek tak merasa sakit, bahkan dengan tendangan keras ia menendang perut Putri hingga ia terpental dan menghantam sebuah kotak kayu yang di atasnya ada tumpukan kasur busa yang memang dijemur oleh para tetangga. Putri pun pingsan.

Sementara itu Ghea terlibat perkelahian sengit dengan Tina. Tina mahir memakai pisau. Tidak, bahkan keduanya mahir. Bedanya adalah Tina mahir menggunakan pisau terbang berukuran kecil, sedangkan Ghea mahir menggunakan pisau yang lebih besar. Terjadilah adegan melempar pisau yang dilakukan oleh Tina. Tapi karena ini pertarungan jarak dekat, akhirnya Tina dan Ghea saling membenturkan pisau mereka. Pisau Tina adalah pisau baja sepanjang dua puluh senti yang biasanya digunakan di bayonet. Sedangkan Ghea lebih ke pisau belati yang biasanya digunakan oleh tentara seperti satuan elit.

TRANG! TRANG! TRANG!

Suara pisau mereka sangat nyaring. Sekilas Ghea menoleh ke arah Baek yang telah berhasil menyeret Andini dan Lian. Ia pun makin frustasi. Tina berhasil menyabet perutnya. Ghea mulai meliuk-liukkan pisaunya, dia terus mendesak Tina. Tina tak tinggal diam, ia juga sesekali melemparkan senjata rahasianya, satu pisau menancap di bahu Ghea.

Ghea mencabutnya dan melempar balik, Tina menangkisnya, itu membuat Tina hilang konsentrasi sehingga sebuah tendangan tanggung menghantam dada Tina hingga ia terpental ke meja kaca yang ada di dalam rumah. Kaca pun berhamburan karenanya.

Tina berguling, tampak pinggangnya tertancap kaca. Ia pun mencabutnya lalu dibuang. Darah mengalir dari lukanya. Demikian juga Ghea. Perempuan berambut merah ini sudah bersiap dengan kuda-kudanya walaupun tangannya berkedut karena sakit akibat tertancap pisau tadi.

“Kita tak bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini,” kata Ghea.

“Hehehehe, aku tak peduli. Ternyata aku tak salah memilih lawan. Kamu hebat!” kata Tina.

Ghea kemudian menerjang Tina. Tina pun menangkap Ghea, keduanya masih menghunuskan pisau mereka dan saling mendorong dengan pisau masing-masing. Tiba-tiba tubuh Ghea meloncat ke atas. Tina sedikit kaget, belum sempat kekagetannya hilang tiba-tiba sebuah lutut langsung mengarah ke dadanya dua kali. Hal itu seketika membuat kantong paru-parunya kosong. Tina kehilangan nafas. Ia langsung mundur.

Ghea, belum selesai sekali lagi dia menekuk lengan sikunya, kakinya juga ditekuk, ini adalah kuda-kuda Muay Boran. Dia mendekat dengan kaki merendah ke arah Tina. Dan tanpa Tina sadari Ghea melompat lagi, kini lututnya tiba-tiba sudah berada di telinganya, menghantam kepala bagian kiri. Tina terhuyung ke kanan. Bagai slow motion, Tina berusaha bertahan agar tak jatuh, belum sempat ia menahan keseimbangannya, Ghea sudah menendang ulu hatinya, membuat cewek assasin ini terhempas ke tembok.

Tina memijat-mijat dadanya yang sakit. “Muay Boran?”

“Kamu kira aku hanya belajar satu ilmu beladiri? Kamu salah!” ujar Ghea. Dia pun melemparkan pisaunya, saat bersamaan dengan sisa-sisa tenaganya Tina juga melemparkan pisaunya hingga kedua pisau itu saling menghantam dan tersebar ke arah yang berbeda.

Tina mendorong tubuhnya dari tembok hingga seakan-akan ia melesat terbang ke arah Ghea. Ghea sudah siap, ia memantapkan kuda-kudanya kemudian merendahkan tubuhnya lalu menerima tendangan Tina dengan tangkisan siku di kaki dan lengannya. Hantaman kaki Tina membuat Ghea mundur beberapa langkah.

Tak butuh waktu lama, ia segera melakukan counter attack, kemudian menyapu kaki Tina dan dengan tendangan memutar lagi kepala Tina dijadikan sasaran empuk tendangan Ghea yang ternyata adalah spinning kick. Tina terhempas ke kiri.

Cewek Assasins ini segera berdiri, belum sempurna ia berdiri Ghea sudah melompat ke arahnya dan mendaratkan sikunya tepat ke arah kepala Tina. Jurus ini sungguh telak, Kepala Tina langsung robek bersamaan itu tulang tengkoraknya retak. Tina terhuyung-huyung, Ghea mendarat di depannya dan mengambil sebuah pisau kecil yang disimpan Tina di kakinya. Ghea lalu menusukkan pisau itu tepat ke dagu cewek Assasins ini dan merobeknya. Terakhir ia mencengkeram kepala Tina dan menghadiahi lututnya hingga cewek ini terhempas ke lantai.

Pertarungan ini dimenangkan oleh Ghea. Tina tewas di tempat dengan leher robek dan wajah bonyok. Ghea teringat dengan Andini segera ia mengejar ke mana Baek tadi membawa Andini dan Lian. Ghea terus berlari mengejar Baek yang sudah tak kelihatan lagi. Kemana ia harus mengejar?

***

Arci telah sampai di muka gang. Di sana mayat-mayat bergelimpangan, dari mulai polisi sampai para preman. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia melihat Andini dan Lian diseret oleh Baek dari kejauhan. Baek menuju ke sebuah mobil SUV. Dengan kasar ia melempar Andni ke dalam mobil juga dengan Lian.

Melihat itu Arci segera berlari. “Berhenti! Berhenti kataku!”

Ghea berjumpa dengan Arci. Arci melihat Ghea terluka bahu dan perutnya. Darah mengalir dari kedua luka itu. Tapi Ghea merasa tak apa-apa. Keduanya berlari mengejar mobil itu sambil menyerang orang-orang yang berusaha menghalangi langkah mereka.

“Aku tahu kemana mereka pergi,” kata Arci.

“Kemana?” tanya Ghea.

“PT Evolus!”

Dan mereka berdua pun membajak sebuah mobil, kemudian segera menuju ke perusahaan textil milik keluarga Zenedine.

* * *‚Äč

Letnan Basuki yang melihat kekacauan ini mendapati Arci yang tampak masuk ke sebuah mobil bersama Ghea. Dia pun segera mengambil sebuah motor milik kepolisian. Dia pun mengejar Arci. Letnan Basuki benar-benar tak habis pikir akan terjadi seperti ini. Semuanya kacau, rusuh, dan ini semua hanya sebuah perebutan harta.

“Kamu terluka?” tanya Arci yang khawatir kepada Ghea.

“Aku tak apa-apa,” jawab Ghea.

“Yakin?”

“Sudah kemudikan saja!”

Arci mengemudikan mobilnya dengan kesetanan. Bahkan lampu merah pun ia terobos. Baek sudah masuk ke dalam halaman perkantoran PT Evolus. Tak berapa lama kemudian Arci pun menyusul. Melihat Baek menyeret Andini dan ibunya Arci tampak sangat marah, ia pun menghantamkan mobil yang ia kendarai ke mobil SUV yang dikendarai oleh Baek.

BRRAAAKKK!

Suara hantaman keras itu mengejutkan Baek. Segera para penjaga yang ada di tempat itu menuju ke arah Arci. Arci menyerahkan salah satu pistol Desert Eagle-nya kepada Ghea dan dua magazinenya. Arci dan Ghea segera keluar dan menembaki para penjaga. Arci dan sepupunya segera masuk ke dalam kantor. Terjadi baku tembak. Beberapa orang petugas keamanan menjadi korban. Sekarang ini Arci lebih prioritas untuk menyelamatkan Andini. Ia tak mempedulikan apa yang ia lakukan.

Saat Arci dan Andini sampai di depan lift mereka terlambat karena Baek sudah naik ke atas sambil melambai kepada Arci. Dan di hadapan Arci sekarang ada puluhan orang yang menghadang keduanya.

“Brengsek, kenapa mereka banyak sekali?” gumam Arci.

“Sepertinya tak ada gunanya kita memakai senjata api di sini,” kata Ghea.

“Kau benar,” kata Arci. Ia menyimpan lagi senjata mahal itu. Sebagaimana janji dia kepada Yuswo untuk mengembalikannya. Dia memberikan katana yang ia bawa kepada Ghea. “Gunakan ini!”

Ghea menerimanya. Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa sejak tadi. Ghea melepaskan jaketnya, dia kemudian membalut luka di perutnya dengan jaket itu agar rasa nyerinya reda. Ia sekarang terlihat memakai kaos singlet You-can-see berwarna hijau dengan bra yang tercetak jelas. Punggung Ghea dan Arci saling bersandar. Mereka kini dikepung oleh puluhan orang dengan senjata tajam mereka.

“Katakan kepadaku!” kata Ghea. “Apa kamu menyesal mengenal keluargaku?”

Arci menggeleng, “Tidak. Tapi kehidupan seperti ini jauh lebih menarik.”

“Maafkan aku yang telah membawamu jauh ke tempat ini, rasanya aku makin berdosa,” kata Ghea.

“Tak perlu merasa bersalah! Aku sudah terlalu jauh masuk, aku akan menikmatinya. Setidaknya statusku sekarang tak bisa dianggap remeh sebagai raja preman.”

“Kau sinting!”

“Kita bukankah pasangan yang sinting?”

Mendengar kata “pasangan” membuat wajah Ghea memerah. Tapi rasanya adrenalinnya lebih terpacu untuk bertarung daripada merasakan debar-debar cinta yang dirasakannya sekarang. Ghea tersenyum. Ia sudah siap dengan katana di tangannya.

“Arci, boleh minta satu hal?” tanya Ghea.

“Apa?”

“Kalau kita berdua masih hidup setelah ini, jadikanlah aku istrimu!”

“What? Apa yang kau katakan?”

“Dengarlah, di dunia ini tak ada lelaki yang cocok denganku. Tak ada sama sekali yang bisa menerima Ghea. Tak masalah, kamu sudah beristri atau tidak. Kabulkanlah permintaan terakhirku ini. Aku siap menjadi nyonya Arczre!”

“Kau sinting. Aku sudah katakan kalau…”

“Cukup! Aku tahu, cinta tak bisa dipaksa. Dan aku tak ingin hidup terus dengan sakit hati karena kamu menolak cintaku. Bullshit semua itu. Kita deal?”

“Ini nggak mudah.”

“Deal?”

“Arghh…whatever, deal!”

“I love you, Handsome!” bisik Ghea.

Puluhan orang yang mengepung Arci dan Ghea langsung serentak menyerang mereka. Arci pun mempraktekkan apa yang telah ia pelajari bersama Yuswo, bertarung dalam keroyokan. Arci menganggap semua orang yang menyerang dia adalah pedang-pedang kayu yang menjadi latihannya, ia bisa menangkis dan menyabetkan kapaknya.

Ia memutar-mutar kapak itu seperti baling-baling hingga tak ada satu pun orang yang bisa menghindar dari sabetan kapak itu. Begitu juga Ghea, ia dengan lihai memainkan katana yang ia pegang sekarang. Akibat dari sabetannya banyak orang yang kehilangan lengan dan jarinya.

Perutnya robek, badannya robek, tertusuk. Bukan, karena Ghea expert dalam memainkan pedang, tapi ada sebuah kekuatan baru di dalam dirinya yang bangkit. Kamu bisa menyebutnya kekuatan cinta kalau mau.

Singkat cerita puluhan orang itu pun akhirnya bisa ditaklukkan dengan sisanya lari tunggang langgang setelah melihat teman-temannya terkapar oleh aksi dua monster ini. Tubuh Arci bertambah lukanya karena beberapa sabetan parang mengenai punggungnya dan dadanya, tapi lukanya tak begitu dalam. Agaknya Ghea tidak demikian. Pahanya berdarah, tampaknya lukanya cukup dalam.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Arci memberikan perhatian kepada Ghea dengan memegang bahunya.

“Fuck off!” jawab Ghea.

“Kondisimu seperti ini, sebaiknya aku sendirian saja yang berangkat ke atas,” kata Arci.

“Kamu tak akan sanggup. Kita sama-sama,” kata Ghea.

“Tidak, kamu di sini. Dengan luka seperti ini kau tak akan sanggup!” kata Arci.

“Kamu juga terluka.”

“Ini tak seberapa, lukamu dalam!”

“Luka hati lebih sakit daripada luka ini.”

Arci menghela nafas. “Terserah deh. Ayo!”

Kedua saudara sepupu ini pun berjalan menuju ke lift. Arci masih memegang kapaknya yang sekarang berlumuran darah. Ghea juga memegang katananya yang berlumuran darah. Mereka berdua menuju lantai teratas, tempat di mana Tommy dan Agus Trunojoyo berada.

Bersambung