Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 26

RAJA PREMAN

Kalau kamu tak diakui oleh rakyatmu sebagai raja
kamu hanya harus membuat kerajaan baru
Kemudian menggempur kerajaanmu yang lama.

“Tommy sudah mengerahkan tukang pukulnya, artinya ia tidak main-main sekarang ini. Ia akan terus memburu kamu dan Andini. Terlebih Alfred sudah kamu bunuh, Kani juga sudah kamu bunuh,” ujar Ghea.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Arci.

“Kita tak punya pasukan. Menghantam mereka sama saja kita cari mati. Kita hanya berdua,” ujar Ghea.

“Kamu benar. Lalu rencananya?”

“Kamu harus cari pasukan dan aku tahu kemana tempatnya.”

“Di mana?”

“Ke tempat Yuswo, dia orang yang netral. Tapi kalau kamu bisa mendapatkan deal yang tepat dengan dirinya, maka aku yakin dia akan menolong kita.”

“Siapa Yuswo?”

“Yuswono Glegoh Bariono, seorang preman dulunya. Kemudian dia menguasai beberapa pasar dan kemudian menjadi raja pengemis. Tak hanya itu, ia punya pengikut yang loyal. Yang jelas para pengikutnya tak bisa disamakan dengan orang-orang yang dimiliki oleh keluarga Zendine.”

“Baiklah, kapan kita ke sana?”

“Not so fast, Kamu yakinkan dulu keluargamu bahwa mereka benar-benar aman. Tempat ini terlalu terbuka. Aku takut mereka akan dengan mudah menemukan kita.”

“Kamu benar,” ujar Arci sambil menghela nafas.

“Ada masalah apa kamu dengan istrimu?” selidik Ghea ingin tahu.

“Tak ada apa-apa,” jawab Arci.

“Pasti kamu senang sekarang sudah melampiaskan kerinduanmu.”

“Ya, tentu saja.”

Ghea tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.”

“Kenapa?”

“It’s OKAY, I’m fine.”

“Maafkan aku.”

“Kenapa minta maaf?” Ghea bingung

“Setelah urusan ini selesai, aku ingin pergi. Agar hatimu tak sakit lagi.”

“Tidak, aku tak apa-apa. Akulah yang seharusnya minta maaf. Aku hanya bisa berharap, bukan begitu?”

Arci tak bisa berkata apa-apa. Ia pun pergi meninggalkan Ghea. Terkadang cinta itu susah diungkapkan dengan kata-kata. Dan Ghea mempelajarinya sekarang. Rasa sakitnya tak bisa dilukiksan dengan kata-kata. Mungkin memang benar kata Arci, ia harus mencari sosok lelaki yang tepat agar bisa melupakan dirinya. Tapi siapa?

***

Arci sendirian. Ya, dia sendirian dan ingin bertemu dengan Yuswo. Sungguh sesuatu yang tak diduga Arci harus berhadapan dengan salah seorang Raja Preman. Dia tinggal di wilayah pinggiran sungai kali Brantas. Bukan orang biasa. Karena begitu Arci bertanya kepada salah seorang yang ada di sana mereka semua mengenalnya.

“Kalau jam segini, dia lagi mancing sam. Samperin aja dia,” kata salah seorang yang ia temui.

Arci masuk ke gang-gang sempit, melewati jalan bertangga dan landai. Dia melewati beberapa rumah yang sangat penuh dengan penghuni. Agaknya untuk mencapai pinggiran sungai tak sesulit yang dikira. Sesaat sebelum turun Arci melihat sebuah rumah yang sangat sederhana, terbuat dari kayu.

Ia kira itu adalah kandang kambing, ternyata setelah dilihat kandang kambing dan rumah jadi satu. Miris. Betapa ternyata masih saja ada rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Agaknya ia bersyukur tidak menikmati hidup seperti itu walaupun ia selalu dikejar-kejar oleh renternir dulu.

Arci melihat seseorang tua yang sedang memancing. Orang tua ini berjenggot putih, bajunya lusuh, dan dia memakai topi. Pemuda ini mulai mendekat. Arci kemudian duduk di sebelahnya.

“Kamu sudah tahu kedatanganku,” ujar Arci.

“Ya, ada anak buahku yang memberitahuku kalau ada orang yang mencariku. Ketika dia memberitahukan ciri-cirimu maka aku sudah tahu bahwa kau dari keluarga Zenedine. Sebab dalam hidupku hanya tiga orang dari keluarga mereka yang menemuiku. Pertama Arthur, kedua adalah Archer, ketiga Tommy. Kamu adalah orang yang keempat. Dan semua keperluannya aneh-aneh. Ada yang ingin jadi sekutuku, ada yang ingin agar aku ikut mereka, dan yang paling lucu adalah Tommy. Dia ingin merekrutku. Bodoh semuanya. Sedangkan kau mau apa?”

Arci memeriksa box yang digunakan untuk menampung ikan. Tak ada apa-apa di sana. Yuswo mengelus-elus jenggot putihnya. Arci mengetahui bahwa tangan orang ini sangat kekar. Bukan orang biasa. Tampak dari sempilan baju di lehernya ada sebuah tatto.

“Aku punya sebuah tawaran yang menarik,” kata Arci.

“Katakan!”

“Kamu bantu aku untuk menghancurkan bisnis keluarga Zenedine dan orang-orang yang melindungi bisnis mereka. Terutama orang-orang yang bersama Tommy dan mendukung Tommy.”

“Lalu aku dapat apa?”

“Kamu dapatkan semua harta yang kamu inginkan di keluarga Zenedine.”

Yuswo menoleh ke arah Arci. “Kamu mengigau.”

“Tidak mengigau, lagipula aku tidak butuh kekayaan mereka. Hidupku telah berhenti semenjak mereka membunuh kakakku.”

“Kamu siapa namamu?”

“Arczre aku anak dari Archer.”

“Hahahahaha, Archer. Aku ingat sekarang. Bagaimana dia culun waktu itu. Memintaku agar bisa menjadi sekutu mereka. Bodoh sekali. Banyak orang-orang yang mengincar posisiku, mereka meminta bantuanku karena aku yang punya banyak pasukan, banyak pengikut loyal. Dan kami memang tak mau ikut campur dengan urusan keluarga Zenedine. Kami netral.”

“Aku tahu kamu netral, tapi apakah semua orang akan menolak apabila diberi kekuasaan? Aku rasa tidak. Aku berjanji engkau akan mendapatkan semuanya.”

Yuswo tersenyum, “Apalah artinya kekayaan bagiku. Aku sudah tua, aku sudah bau tanah.”

“Baiklah, bagaimana bila aku menawarkan diri untuk menggantikanmu?”

“Maksudmu?”

“Aku tahu kamu tidak mau kekayaan, tidak ingin apapun. Tapi sudah pasti kamu ingin seorang penerus bukan? Aku menawarkan diriku.”

Unik, pikir Yuswo. Kalau saja Arci ini orang biasa sudah pasti dia akan ditempeleng. Tapi pemuda ini seorang negosiator yang baik. Menggantikan dirinya?

“Kamu bisa apa?” tanya Yuswo. “Bahkan mungkin kamu mengenal daerahku saja tidak bisa.”

“Kalau begitu ajari aku. Aku hanya ingin bisa menghabisi orang-orang yang telah mencelakai keluargaku. Itu saja,” kata Arci. “Setelah itu dengan segala apapun yang aku punya, aku menawarkan diri menjadi penerusmu.”

Yuswo tertawa. “Hahahahahaha, baru kali ini ada yang menawarkan diri jadi penerusku. Boleh, boleh, tapi sini kemarikan tanganmu!”

Arci mengulurkan tangannya. Yuswo memegang tangan pemuda itu dan merasakan telapak tangannya. Setelah itu dia mengangguk-angguk. Yuswo menghela nafas dan melepaskan tangan Arci. Pemuda ini tak memahami apa yang dilakukan oleh orang tua itu.

“Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, aku akan melatihmu selama dua minggu. Itu kalau kamu tak keberatan. Karena urusan ini lebih rumit dari biasanya. Kalau kamu ingin menjadi raja preman, bos dari para mafia kamu harus kuat. Yang ada sekarang kamu lemah. Seorang bos, dia harus bisa melawan banyak orang sendirian. Kamu belum sampai ke tahap ini. Kamu masih menggunakan senjata api, sesekali menggunakan pisau dan kapak. Aku bisa merasakannya dari guratan-guratan di telapak tangan dan jemarimu.”

Arci sungguh takjub, ia tak pernah bertemu dengan orang seperti ini. Dia bisa mengerti apa yang pernah dipegangnya. Yuswo kini menatapnya dengan tatapan serius.

“Dua minggu? Lalu bagaimana keluargaku?”

“Kamu jangan khawatir, orang-orangku akan melindungi kalian! Keluargamu tak akan berani menyentuh mereka,” ujar Yuswo.

“Tapi aku dengar mereka mempunyai pembunuh bayaran nomor satu,” ujar Arci.

“Yakinlah, selama ada aku, mereka tak akan berani mendekat.”

“Baiklah, aku terima.”

Arci dan Yuswo berjabat tangan. Sebuah kesepakatan yang menandai awal sebuah kehidupan kelam tanpa batas. Arci makin masuk ke dalam dunia hitam. Dia tak bisa keluar lagi sekarang. Tak bisa semudah itu.

***

“Hooeeek! Hooeek!” Andini muntah-muntah hari itu. Sudah seminggu Arci meninggalkannya. Dan tepat sekali, dia hamil.

“Waduh, kamu tak apa-apa?” tanya Lian.

Andini menggeleng. “Kayaknya sebentar lagi ibu bakal jadi nenek.”

“Oh ya?”

“Aku bisa merasakannya, ada yang aneh ama tubuhku. Mencium masakannya Rahma saja sampai mual,” ujar Andini.

“Waaaahhh…nggak nyangka secepat itu hihihihi. Kalian ngelakuinnya di mana? Jangan bilang di ruang tengah!”

“Emang di situ koq. Emang kita punya kamar?”

“Hahahaha, pantesan koq malem-malem seperti ada suara orang mendesah. Itu kalian toh. Hihihihi.”

“Ah, ibu jadi malu,” muka Andini memerah.

“Arci kemana? Ia harus diberitahu,” kata Lian.

“Dia sedang ada urusan selama beberapa minggu,” kata Andini. “Dia tadi omong ke aku.”

“Yah, mau gimana lagi. Tapi kamu harus menjaganya lho,” ucap Lian sambil mengusap-usap perut Andini. Andini sangat bahagia hari itu, melebihi apapun di dunia ini.

“Nanti kalau dia sudah datang aku akan memberitahu,” kata Andini.

Ghea yang dari tadi berdiri di pintu dapur hanya menghela nafas. Ia memakai tanktop dan kombor berwarna coklat. “Rasanya kita akan sedikit kesulitan kali ini.”

Andini mendengarkan gumaman Ghea, “Kesulitan?”

“Iya, Arci tak akan mungkin membawamu yang sedang mengandung kalau kita harus lari lagi nanti,” kata Ghea kemudian menoleh ke arah Andini.

“Benar juga,” kata Lian. “Kalau kamu sampai kelelahan takutnya bakal kenapa-napa sama janinnya.”

“Aku punya ide, itu kalau kamu terima. Kalau tidak ya…sudahlah, bagiamana?”

“Apa itu?”

Ghea tersenyum sambil menegakkan alisnya.

***

Sementara itu Tommy tampak sedang berada di depan sebuah peti mati. Peti mati anaknya, Alfred. Dia makin geram. Banyak orang yang tewas hanya karena mengejar Arci. Dia kini mulai tak lagi meremehkan Arci. Orang-orang tampak berkabung, mereka semua dari keluarga dan kerabatnya.

“Bos, ada kabar dari Arci,” ujar salah seorang anak buahnya yang mendekat kepadanya sambil berbisik.

“Apa?” tanya Tommy.

“Raja Preman menyatakan mendukung Arci.”

“Apa kau bilang? Bukannya ia netral?”

“Sepertinya Arci melakukan deal dengannya.”

“Brengsek!”

“Tapi katanya begini, ‘Jika ada yang berani mengganggu keluarga Arci, dia akan berurusan denganku'”

“Dia bilang begitu?”

“Iya.”

“Ini tidak baik. Aku ingin bertemu dengan orang-orang Trunojoyo. Kalau mereka ingin perang, kita akan berikan perang. Aku tidak takut. Kita buat Malang banjir darah.”

“Siap!”

***

“Dua minggu, waktu yang cukup untuk melatihmu. Dari perkiraanku kamu telah dilatih sebelumnya. Tapi aku hanya akan mengajarimu tiga macam hal. Pertama aku akan mengajarimu cara untuk bertarung menghadapi masa keroyokan. Kedua aku akan mengajarimu cara untuk menaklukkan orang-orang. Ketiga aku akan mengajarimu cara untuk menjadi seorang pemimpin. Tiga hal ini akan aku ajarkan dalam waktu cepat.”

Arci pun mulai belajar. Tak ada yang mengetahui bagaimana cara Yuswo mengajar Arci. Yang jelas. Tak terasa dua minggu pun berlalu dengan sangat cepat. Tommy mulai mengumpulkan kekuatan. Mereka benar-benar ingin agar Arci dan keluarganya binasa. Latihan Arci memang tidak biasa.

Di pagi hari ia sudah harus berada di pasar, berkerumun dengan orang banyak. Dia diperkenalkan oleh Yuswo sebagai penerusnya. Dan semua orang harus patuh kepadanya. Dari sini Arci punya kekuasaan sekarang. Hampir separuh dari kota Malang ini mengetahui siapa dia. Rumor pun tersebar. Bergabungnya Arci dengan sang Raja Preman sampai terdengar ke telinga Letnan Basuki.

Ia menganggap ini kejutan karena Arci tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dia pun berpesan kepada anak buahnya untuk tetap waspada karena sebentar lagi pasti akan terjadi perang besar antara dua kekuatan.

Siangnya Arci berlatih. Dia berlatih dengan latihan yang tidak biasa. Dia wajib mengangkat lengannya dan tak boleh diturunkan. Dan dia harus masuk ke dalam sebuah barisan pedang kayu. Barisan pedang kayu itu harus ia lawan dengan apapun dan jangan sampai ia terkena satu pun. Hasilnya adalah ia babak belur ketika barisan pedang kayu yang digantung dengan menggunakan tali itu mengenainya. Kepalanya benjol-benjol terkena hantaman itu.

Malam harinya Arci diberikan arahan dari mana penghasilan sang Raja Preman dan bagaimana menarik simpati masyarakat. Selama tiga hari awal Arci benar-benar merasakan tubuhnya sakit semua. Tapi ia tahan. Seminggu kemudian tubuhnya mulai terbiasa. Dia mulai bisa beradaptasi dengan latihan yang diberikan oleh Yuswo. Bahkan ketika ia berlatih keroyokan pun, sekarang ia sudah tak lagi babak belur. Kemajuan yang sangat pesat.

Sementara itu group Trunojoyo telah bergerak. Mereka juga mengumpulkan preman-preman untuk bergabung dengan keluarga Zenedine. Bahkan mereka juga merekrut orang-orang baru. Letnan Basuki sebenarnya mencium adanya pergerakan aneh, beberapa truk berisi parang, clurit dan senjata-senjata tajam maupun senjata lainnya dipasok ke sebuah tempat.

Beberapa amunisi dan senjata api dari Pindad dicuri. Hal ini semakin kuat mengindikasikan akan terjadi perang. Letnan Basuki secara sembunyi-sembunyi telah menempatkan anak buahnya ke sudut-sudut kota. Mereka semua menyamar, bahkan sebagian menjaga rumah Rahma yang sekarang ditinggali oleh Andini dan yang lainnya.

Anak buah Letnan Basuki bercerita, “Let, ada tiga kelompok yang mengawasi rumah itu. Kita, dan dua kelompok. Satu dari orang-orangnya Tommy, satunya lagi dari orang-orangnya Yuswo.”

“Tetap awasi. Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti!” ujar Letnan Basuki.

“Anda yakin?”

“Yakin, kita tak boleh gegabah. Salah sedikit orang-orang yang tak bersalah bisa celaka.”

“Siap Let!”

Tommy dan Agus pun bertemu akhirnya. Mereka berada di gedung PT Evolus. Keduanya mengumpulkan semua orang yang telah direkrutnya. Sudah hampir dimulai ternyata. Dengan bersatunya Arci dengan sang Raja Preman, apalagi grup Zenedine bergabung dengan grup Trunojoyo, maka ini semua mengindikasikan perang besar akan terjadi.

“Semua sudah siap?” tanya Tommy.

“Sudah!” jawab salah seorang anak buahnya.

Tommy menatap ke arah Baek, Tina dan Ungi. Baek sudah siap menerima perintah, Tina juga, dan Ungi anggota yang paling muda sibuk mengaca pada katana yang ia bawa.

“Kalian semua segera tangkap semua keluarga Arci, siapapun yang menghalang bunuh. Jangan beri ampun. Baek, Tina kalian pergi. Ungi kamu tetap di sini!” ujar Tommy.

Cowok dengan rambut acak-acakan bernama Ungi tersebut hanya diam sambil terseyum kecut. Wajahnya menunjukkan kebosanan yang amat sangat. Baek dan Tina kemudian menyingkir, semua orang pun mengikuti dia. Tommy dan Agus tersenyum melihat semua anak buah mereka pergi keluar. Mereka semua berpakaian necis, berkemeja putih, berdasi hitam dan berjas hitam. Mereka membawa senjata apapun, parang, pisau, kapak, tongkat baseball bahkan ada yang membawa senjata api.

Salah seorang informan polisi yang sedang berada di jalan dengan menyamar sebagai penjual nasi goreng tampaknya terkejut karena mendapati banyak lautan manusia keluar dari dalam halaman PT Evolus dan mereka membawa senjata semuanya. Dia langsung menghubungi Letnan Basuki.

“Let, perang akan dimulai, mereka bersiap!” kata penjual nasi goreng itu.

Letnan Basuki yang mendapati info ini segera beranjak dari tempat duduknya dan mengumpulkan semua anak buahnya. Seluruh anak buahnya dari pasukan khusus dan pasukan elit mulai bergerak. Mereka berbaris di halaman Polres Malang. Jumlahnya ratusan. Tidak cukup pasukan anti huru-hara saja yang akan bergerak, dari tim Gegana juga diturunkan.

Letnan Basuki mulai mengambil TOA. “Kalian semua, saya ingin menyampaikan sesuatu.

Malam ini akan terjadi perang besar antar mafia. Mereka semua akan saling bunuh. Kita sebagai para penegak hukum wajib menghentikannya agar tak terjadi pertumpahan darah yang besar. Aku ingin kalian melindungi orang-orang yang tida bersalah. Mereka berbahaya, mereka adalah preman, pembunuh dan kriminal.

Saya juga tak tahu apakah tindakan persuasif dibutuhkan. Tetapi kita sudah mendapatkan ijin dari Mahkamah Agung dan Kejaksaan bahwa kita boleh menggunakan peluru timah kalau sampai mereka berbuat nekat. Dan ingat jangan sampai peluru kalian nyasar ke rakyat sipil yang tidak bersalah. Kita harus menghentikan mereka semua sebelum terjadi bentrok. Apa kalian semua mengerti?”

“Siap mengerti!” seru semuanya.

Yuswo pun mendapatkan laporan tentang bergeraknya orang-orang Zenedine dan Trunojoyo. Maka dia pun menginstruksikan hal yang serupa. Karena ia tahu kemana mereka akan bergerak. Ke tempat keluarga Arci. Arci yang sudah menerima pelatihan terakhirnya sekarang sedang menunggu. Dua minggu lebih ia dilatih. Plus sebuah latihan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh siapapun. Dia sudah mengira akan adanya penyerbuan. Makanya Arci seharian itu istirahat untuk mengumpulkan kekuatannya. Ia menghubungi Ghea untuk waspada karena malam ini akan terjadi peperangan besar.

“Kamu sudah saatnya bergerak. Mereka akan datang sebentar lagi,” kata Yuswo.

Arci mengangguk. Ia pun berdiri. Mereka berada di teras rumah Yuswo.

“Anda tak ikut?” tanya Arci.

“Hahahahaha, sam, sam, kenapa aku harus ikut? Aku sudah tua. Energiku tak sekuat dulu ketika muda. Tapi itu, ambillah pedang itu!” Yuswo menunjuk ke sebilah katana yang masih tertutup sarung pedangnya.

“Katana?”

“Itu bukan katana biasa. Kamu pasti akan membutuhkannya. Kamu butuh persenjataan lain?”

“Mungkin.”

“Darmo! Darmo!” suara Yuswo melengking.

Dari dalam rumah muncul seorang pembantu. “Iya mbah.”

“Ambil kotak besar!” ujarnya.

Darmo sang pembantu yang awalnya terkejut, tapi melihat kesungguhan mata sang majikan ia pun pergi ke dalam. Tak berapa lama kemudian dia menggeret sebuah kotak besar yang digembok. Kotak yang mempunyai roda di keempat sudutnya itu pun sekarang berada di samping Yuswo duduk. Arci menebak-nebak isi dari kotak itu. Yuswo memberi aba-aba agar pembantunya itu membuka kotak tersebut. Darmo mengambil kunci dan membuka gemboknya. Dibukalah kotak itu.

Arci menelan ludah, ia tak menyangka Yuswo mempunyai ini semua. Dia melihat segala jenis senjata tertumpuk di kotak itu. Makanya sepertinya sangat berat tadi ketika Darmo menggeret kotak itu.

“Semua senjata dan amunisinya ada di kotak itu. Ambil sepuasnya,” ujar Yuswo. “Ingat yah, aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Semua anak buahku sudah siap menunggu instruksimu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”

Arci mengambil dua buah pistol yang cukup berat. Pistol yang dia ambil adalah Desert Eagle .50 AE Snakeskin atau disingkat DE50DS. Dia juga mengambil beberapa magazine. Dia mahir menggunakan pisau, maka dia ambil beberapa pisau baja hitam. Kemudian dia mengambil sebilah karimbit, dua buah granat dan sebilah kapak kecil. Arci kemudian mengambil katana yang ditunjuk oleh Yuswo.

“Ingat, gunakan sebaik-baiknya!” kata Yuswo.

“Iya, aku akan menggunakan dengan sebaik-baiknya,” kata Arci.

“Aku telah memberitahukan kepada semua orang yang ada di luar gang sana. Hari ini, kau adalah raja preman. Pimpin pasukanku dengan bijak. Karena setelah ini aku tidak akan memimpinnya lagi, kaulah yang memimpinnya.”

Arci menjabat tangan Yuswo, tidak hanya itu ia mencium tangannya sebagai bentuk hormat kepada orang tua sekaligus gurunya. Setelah itu Arci pergi.

“Mbah, nggak apa-apa membiarkan dia?” tanya Darmo. “Perang ini pasti sudah tercium oleh polisi kan? Bisa timbul banyak korban.”

“Kamu tak akan ngerti. Dia sudah bosan hidup. Aku tak melihat pancaran kehidupan di matanya. Ia sudah ingin mati. Dan orang yang ingin mati, bakal sulit dikalahkan. Di dalam dirinya hanya ada dendam. Kamu sendiri lihat, dia berani korbankan apapun demi hari ini. Ah, dasar kunyuk!”

“Kenapa mbah?”

“Dia ngambil senjata kesukaanku.”

“Maksud mbah? Yang mana?”

“Desert Eagle itu satu harganya dua puluh juta. Satu-satunya senjata resmi yang aku beli. Ah, persetan. Nasi sudah jadi bubur.”

Arci berjalan menyusuri gang di rumah Yuswo. Sepatunya melangkah mantab. Ia tahu hari ini akan terjadi. Penentuan di mana ia akan menagih darah yang telah ditumpahkan oleh Tommy Zenedine dan Agus Trunojoyo. Arci melihat di depan gang. Orang-orang berpakaian preman tampak sudah menunggu. Mereka jumlahnya ribuan dan tentu saja mereka menyambut sang raja preman yang baru.

“Kalian siap?” tanya Arci.

“Ya bos, kami siap!” seru semuanya.

“Hari ini, mungkin kita akan mati. Jadi kalau ada yang takut mati silakan pergi! Kalau ada yang ingin lari dari perang nanti, aku tidak akan mengampuninya. Hari ini kita serbu PT Evolus!”

Semua orang bersorak. Arci melangkah maju sambil menenteng pistolnya. Dia yang memimpin ribuan pasukan preman ini. Jalanan malam itu menjadi mencekam. Para polisi sudah bersiaga di tempat di mana kedua kekuatan akan bertemu. Mereka menerjunkan panser-panser dan dengan cekatan memasang kawat berduri. Malam itu Malang menjadi mencekam, melebihi suasana ketika terjadi kerusuhan Mei tahun 98.

Kabar tentang akan adanya peperangan ini tampaknya membuat jalanan protokol sepi. Mereka sangat ketakutan. Bahkan beberapa arus lalu lintas di belokkan agar tak terlibat. Polisi mulai bersiaga saat pasukan gabungan dari Zenedine dan Trunojoyo terlihat. Begitu pula ketika pasukan yang dipimpin oleh Arci terlihat, mereka sudah bersiaga.

Di tengah jalan yang akan dilalui Arci Letnan Basuki tampak berdiri di sana. Dia berkacak pinggang tak ada penjaga, apalagi ia tak membawa senjata apapun. Arci terus berjalan menghampirinya hingga berhenti di depannya.

“Arci, kau tak perlu melakukan ini. Kau tahu, kalau kamu melakukan ini kau bisa dihukum berat,” ujar Letnan Basuki. “Ayolah, kamu orang baik. Aku yakin itu, sudahi balas dendam ini. Kembalilah ke keluargamu!”

Arci menatap mata Letnan Basuki tanpa berkedip, “Letnan, jaga keluargaku!” Hanya itu yang disampaikan oleh Arci. Dia melewati Letnan Basuki begitu saja. Kemudian orang-orang yang ada di belakangnya juga melewati sang polisi.

“Brengsek!” umpat sang polisi itu. Segera ia berlari ke arah lain menuju ke mobilnya. Dia menginstruksikan anak buahnya untuk bersiaga melalui radio, “Cegah mereka, mereka akan bertemu di jalan Ahmad Yani, di flyover! Cegah mereka. Tembakkan apa saja, gas air mata kek, peluru beneran kek. Cepat!”

Bersambung