Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 21

SERPIHAN RINDU​

“Arci, bangun!” Andini menggoyangkan tubuhnya.

Arci pun bangun. Ia membuka matanya. Dilihatnya Safira memakai baju piyama. Wajahnya sungguh cantik. “Kamu cantik sekali hari ini.”

“Gombal”

“Beneran. Kamu seperti bidadari.”

“Ayo bangun!”

“Aku rasanya tak ingin bangun. Kalau memang ini mimpi aku ingin di sini terus.”

Safira mendekat dan memberikan kecupan di keningnya. “Kalau kamu tidak bangun, bagaimana kamu akan menyongsong hari ini? Banyak yang menunggumu.”

“Temani aku sebentar! Aku rindu kamu, aku sangat kehilangan kamu.”

Safira menggeleng-geleng. Ia pun berbaring di sebelah kekasihnya. Kedua mata mereka bertatapan, mata Arci menyiratkan kerinduan yang sangat. Arci lalu merangkul Safira, lalu menciumnya. Ia memejamkan mata. Arci bersedih, ia ingin memeluk kakaknya lebih lama. Ia sangat kehilangan.

“Jangan pergi kak! Jangan pergi! Aku akan berikan apa saja, tapi jangan pergi. Aku tak mau separuh nafasku pergi meninggalkanku.”

“Ada banyak perjumpaan, ada pula kepergian. Aku tak bisa di sini terus.”

Arci berderai air mata. “Kumohon jangan pergi. Kamu sudah berjanji akan jadi ibu dari anak-anakku, jangan pergi! Aku mohon!”

“Aku akan selalu bersamamu. Aku selalu melihatmu. Adek. Kamu sudah ada Andini, jangan lepaskan dia!”

“Hiks…aku butuh kamu, aku rela membuang semua kekayaan ini untuk kamu! Jangan pergi! Aku janji aku akan mengajakmu liburan, aku janji aku akan buatkan rumah untuk kita. Aku janji!”

Safira mengusap wajah adiknya, ia lalu bangun. Ia mendorong pelan agar pelukan Arci terlepas.

“Dunia ini cuma sementara adikku. Di mana tempat untuk orang seperti aku? Tak ada yang menerimaku, engkau satu-satunya orang yang mau menerimaku. Engkau satu-satunya orang yang memelukku erat saat tak ada siapapun yang mau peduli kepadaku. Engkau satu-satunya lelaki yang menghiburku saat yang lain merendahkanku. Aku sudah punya tempat tinggal di hatimu, aku akan selamanya di sana. Kamu harus berjuang untuk hidup. Karena Andini juga tinggal di sana. Aku dan dia ada di hatimu. Selamanya…”

“Kaak…! Maafkan aku…!”

Safira tersenyum. Senyumnya tak akan pernah dilupakan oleh Arci. Perlahan-lahan tubuhnya bercahaya, kemudian menghilang.

“Kaaaakk! Kak Safiraaa!”

* * *​

Ghea melihat jalannya operasi. Tubuh Arci penuh luka, bacokan di punggung, sayatan di lengan, pelipisnya berdarah, enam peluru menembus dada dan perutnya. Beruntung tidak mengenai jantung. Arci kehilangan banyak darah, bahkan detak jantungnya sempat berhenti beberapa kali. Tapi kondisi kritis itu sudah lewat. Ada sesuatu yang membuat Arci berjuang hidup. Ghea keluar dari kamar bedah lalu duduk di kursi tunggu.

Dokter lalu keluar dari kamar operasi. Ia melihat Ghea yang sepertinya kelelahan. Bajunya masih basah akibat terjun ke sungai. Tangan Ghea gemetar sambil membawa pistol glocknya.

“Kamu perlu baju ganti?” tanya sang dokter.

Ghea menatap ke arahnya.

“Jangan berpikir buruk, aku cuma mau menolong. Aku tak peduli apa yang sedang terjadi dengan kalian. Aku hanya ingin menolong. Itu sudah jadi tugasku,” ujar sang dokter.

Ghea tersenyum tipis. “Baiklah, ada baju?”

“Ada, asistenku bisa menyediakannya. Aku tak tahu ukurannya pas atau tidak.”

“Ada mobil?”

“Kalau soal itu…”

“Heh, jangan khawatir. Aku akan mengembalikannya!”

Singkat cerita setelah Ghea mendapatkan baju ganti, ia segera membawa Arci pergi dengan mobil milik sang dokter. Satu hal yang dijanjikan oleh Ghea kepada sang dokter. “Aku akan mengembalikannya nanti, berikut uang untuk biaya operasi.”

Mobil Hyundai Avega milik sang dokter itu melaju. Ghea menuju ke sebuah tempat yang sering ia jadikan latihan. Tempat itu tak banyak orang yang tahu, termasuk Tommy. Jadi menurutnya itu tempat teraman bagi dia sekarang. Hari itu ia juga membaca banyak berita tentang kerusuhan kemarin. Letnan Yanuar tewas, Jacques, Pieter, Amanda, dan Safira. Mata Ghea berkaca-kaca saat mengetahui kematian ayahnya. Semua orang kehilangan. Arci kehilangan, dia juga. Agaknya kedua orang ini punya satu tujuan yang sama, balas dendam.

Ghea melajukan mobilnya sampai ke daerah perbukitan, jalanan berliku, berkelok. Setelah mengisi bahan bakar di SPBU, dia masih terus menyetir hingga dua jam. Jauh sekali. Mereka berhenti di sebuah pondok. Halamannya cukup luas, dan pemandangannya di depannya ada sebuah gunung dan jurang. Dari jauh terlihat sebuah Waduk. Ghea tiba di sana hari sudah malam. Segera ia menggendong Arci menuju ke dalam pondok. Ghea mengambil kunci yang dia simpan di sebuah pot, lalu dibukalah pintunya. Cewek berambut merah ini menuju ke kamar dan meletakkan Arci di sana. Ghea juga ambruk di samping Arci.

“Aku juga capek. Kamu harus hidup! Aku tak bisa menghadapi mereka sendirian. Kamu harus hidup!…”

Ghea menatap wajah Arci. Ada perasaan tertentu ketika dia menatap wajah pemuda itu. Ia mulai ada rasa tertarik kepada pemuda yang dulu ia todong. Sang pemuda ini berani menghadapi semuanya sendirian. Ia juga tak takut terhadap ancaman pistol. Baru kali ini ia bertemu pemuda seperti ini, berbeda dengan cowok-cowok pengecut yang pernah ia temui. Ghea kemudian mengecup bibir Arci.

“Ini hadiah buat kamu. Kamu harus hidup. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadaku, aku jadi mellow kalau dekat kamu. Jadi malu, jadi tersipu-sipu, dadaku berdebar-debar. Aku tak mengerti apa yang terjadi kepadaku. Tapi kalau perasaanku ini bisa membuatmu hidup, maka hiduplah! Aku tak tahu… tapi aku sepertinya menyukaimu, cinta? Entahlah….jangan mati! Jangan mati!”

***

Suara ayam jago berkokok membangunkan sang mentari. Arci yang sudah tiga hari pingsan pun akhirnya bangun. Tubuhnya rasanya sakit semua. Di kamar yang berukuran 3×3 meter itu ia kebingungan kenapa bisa ada di sana. Padahal ia tadinya berharap mati saja. Rasa kehilangannya sangat dalam, kehilangan Safira membuat ia benar-benar tak punya semangat hidup. Arci membuka matanya, menatap langit-langit, merasakan hawa dingin yang menusuk. Selimut tebal yang menutupinya rasanya tak bisa menghalau hawa dingin itu.

Arci pun menyingkapkan selimut itu. Ia kebingungan melihat tubuhnya telanjang. Dan yang pertama kali dirasakannya adalah “panggilan alam”. Dia segera menuju ke sebuah pintu yang dia kira kamar mandi. Dan benar, itu pintu kamar mandi. Dia mengeluarkan hajat yang ada di dalam tubuhnya.

Setelah itu berkaca di cermin yang ada di kamar mandi. Ada banyak luka yang diperban. Ia masih ingat peluru-peluru itu menembus tubuhnya. Sayatan-sayatan parang, pukulan pipa, ia ingat bagaimana rasanya itu semua. Kehidupannya belum berubah. Masih kelam. Tapi ia merasa ini lebih gelap. Kekayaan tak menjamin ia bisa hidup dengan tenang sebagaimana yang ia inginkan. Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Arci mengambil handuk yang ada di gantungan kamar mandi. Ia keluar.

Agak terkejut ketika mendapati Ghea ada di sana. Ghea memakai tanktop warna merah dan celana pendek jeans. Hal menampakkan kemulusan tubuhnya. Arci tak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada tubuh Ghea yang terpampang di hadapannya. Apalagi Ghea sedang duduk di tepi ranjang, dengan tangan bersedekap, dan kakinya disilangkan.

“Kamu sudah siuman?” tanya Ghea.

“Kalau sudah begini ya sudah siuman,” jawab Arci.

“Hahahaha, aku pikir kamu tak akan selamat kemarin. Tiga hari pingsan. Engkau sekarang sudah merasakan bagaimana peluru menembus tubuhmu kan?”

“Iya”

“Sekarang, apa yang ada di pikiranmu?”

Arci tak menjawab. Dia masih bingung. Dia teringat lagi tentang Safira.

“Apa yang sudah terjadi?”

“Kamu harus berterima kasih kepadaku, aku mengumpulkan berita selama tiga hari engkau berada di rumah pribadiku.”

“Ini? Di mana?”

“Ini di daerah Nongko Jajar. Di atas gunung. Aku memang memilih tempat ini untuk menyepi. Tak akan ada orang yang mengganggu. Bahkan para cecunguk Tommy tak akan menemukan kita. Tak ada sinyal telepon, tapi kalau kamu mau akses internet, kita ada sambungan satelit.”

“Nongko Jajar?”

“Iya, daerah ini dari Malang terus ke timur melewati Pakis, kemudian ke Utara. Kalau kamu mau terus ke Utara, kamu akan mendapati hutan belantara yang belum tersentuh.”

“Aku baru tahu daerah yang belum tersentuh.”

“Jadi, apa yang ada di pikiranmu sekarang?”

“Aku mau balas dendam.”

“Sama sepertiku.”

Arci mengangkat alisnya.

“Tapi, dengan kondisimu yang sekarang kamu belum siap. Aku akan melatihmu hingga kamu siap.”

“Melatihku?”

“Kita masih ada waktu. Kamu jangan khawatir, istrimu, ibumu, adikmu semuanya selamat. Aku yang mengabari mereka.”

Arci baru ingat kalau ponselnya tak ada. Ghea berdiri menuju ke lemari, di sana ada beberapa baju. Ia mengambilnya kemudian menyerahkannya ke Arci.

“Pakailah, ini baju ayahku. Kuharap pas, kalau toh tidak, kamu bakalan tiap hari pakai handuk itu!” kata Ghea sambil tersenyum.

Arci nyengir melihat kondisi tubuhnya yang hanya memakai handuk. Ghea setelah itu keluar dari kamarnya. Segera Arci memakai baju yang ada. Dia kemudian melangkah keluar. Dia melihat suasana rumah yang kecil, nyaman, hampir semuanya terbuat dari kayu. Sampai ubinnya juga terbuat dari kayu. Beberapa foto ada di sana. Foto-foto pamannya, juga Ghea. Ada foto Ghea merangkul senapan laras panjang, seperti sniper rifle. Ada juga senapan yang di pajang, itu senapan asli.

Ada tiga sofa di ruang tengah dan sebuah meja. Di tengahnya ada vas bunga yang isinya kosong. Arci melihat keluar rumah, di sana ada Ghea yang sedang mengelap pistolnya. Di sana ada meja dan Ghea berdiri di depan meja. Ada beberapa senjata api yang digelarnya. Arci menghampirinya.

“Hidup ini memang keras, aku yakin kamu tahu itu. Terkadang kita tak bisa lari, terkadang kita harus melawan balik.” Ghea menggenggam pistolnya, lalu membidik Arci.

KLIK!

Arci sedikit kaget. Ia sangka Ghea beneran menembaknya.

“Itu yang aku suka, kamu tak berkedip ketika pistol ini aku tarik pelatuknya. Orang biasa pasti akan memejamkan mata. Kamu tidak, kamu sudah tahu rasanya menembakkan senjata, kamu juga sudah tahu rasanya ditembus peluru. Itu akan jadi nilai plus. Aku tahu kamu kehilangan, sangat kehilangan. Dan aku ingin rasa kehilanganmu itu kamu fokuskan untuk membalas perbuatan mereka. Jadikan itu sebagai semangatmu. Nih, tangkap!”

Arci menangkap pistol glock yang dilemparkan oleh Ghea. Rasanya sedikit ringan daripada yang ia pegang dulu. Mungkin karena tak ada pelurunya. Mungkin juga ia pernah memegang pistol sebelumnya. Dia menatap Ghea. Di mata gadis ini, terpancar hawa balas dendam. Dan dia sedang butuh bantuan.

“Aku ingin menghubungi Andini,” kata Arci.

“Kamu nanti bisa menggunakan laptop di kamarku,” kata Ghea. Dia segera menghampiri Arci dipegang tangan pemuda ini, “Aku ingin bertanya kepadamu lagi. Kamu sudah masuk di keluarga ini. Suka atau tidak kamu akan berkubang lumpur di keluarga ini. Dan kamu harus siap. Sebelum lebih jauh melangkah aku tanya lagi. Kamu siap?”

Arci menatap mata Ghea. Ia tak mampu menjelaskan apa yang ada di dalam dirinya sekarang ini. Ketika ingat Safira, ia pun langsung berkata, “Aku siap.”

***

Andini bersedih. Ya, dia bersedih. Dia berdiri di hadapan kuburan Safira. Ia tak bisa membendung tangisnya. Padahal mereka baru saja dekat, tapi semuanya berlalu begitu cepat. Hanya sang ibu yang bisa mengelus-elus punggungnya untuk menenangkan putrinya. Saat sedang bersedih itulah Ghea tiba-tiba muncul.

“Andini?!” sapa Ghea.

Andini menoleh ke arah Ghea. Bu Susiati juga tak menyadari kalau Ghea ada di dekat mereka.

“Arci selamat. Aku ingin kamu, ibunya Arci, adiknya dan kalian semua sembunyi dulu. Kalian tak aman berada di sini,” kata Ghea.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andini. “Kenapa mereka melakukan ini?”

“Ada orang yang gila harta ingin menghabisi Arci dan yang lainnya. Papaku juga telah dibunuh oleh mereka. Bukan kamu saja yang kehilangan,” kata Ghea.

“Maaf, aku turut berduka,” kata Andini.

Ghea tersenyum simpul. Dia melangkah mendekat ke Andini lalu memberikan dia pelukan. Bukan seperti Ghea pada umumnya. Ghea juga heran kenapa dia bisa berbuat demikian, semenjak mengenal Arci dan tenggelam dalam kehidupan sepupunya itu, ia banyak berubah. Dan kali ini ia melakukannya secara spontanitas.

“Aku akan menjaga Arci, kamu jangan khawatir. Sementara ini, kamu ganti nomor telepon. Mereka bisa melacakmu kalau kamu pakai nomor yang lama,” kata Ghea.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

“Karena kita keluarga, Arci sudah menjadi keluargaku, dan engkau juga. Kalian juga,” kata Ghea sambil menepuk-nepuk punggung Andini.

Ghea melepaskan pelukannya. Andini tampak masih bersedih. Ia tak percaya terhadap apa yang baru saja terjadi.

“Kalian punya tempat untuk sembunyi bukan?” tanya Ghea.

Bu Susiati menghela nafas, “Ada, kami akan mengajak Lian dan anaknya. Kamu jangan khawatir. Bagaimana keadaan Arci?”

“Dia masih pingsan, belum siuman sampai sekarang. Tapi dia telah melewati masa kritis. Maaf, merusak acara bulan madu kalian,” Ghea menggenggam tangan Andini yang dingin.

Wajah Andini datar. Ia terlalu sedih untuk dihibur.

“Jaga diri kalian, aku akan menyuruh Arci untuk menghubungimu lewat email kalau nanti dia sudah sadar, untuk sementara kalian jangan bertemu dulu dengan dia. Dia sendiri nanti yang akan menemui kalian,” kata Ghea.

“Ghea….”

“Ada apa?”

“Bilang kepada Arci, balaskan setiap tetes darah Safira yang ditumpahkan oleh mereka. Balaskan sakit hatiku, sakit hati kita semua.”

“Ya, aku akan menyampaikannya,” ujar Ghea sambil tersenyum kepada Andini.

Setelah itu ia meninggalkan Andini dan ibunya. Andini kemudian merangkul ibunya. Seharusnya ini menjadi hari bahagia karena Andini sudah bisa bersama Arci. Entah apalagi yang akan terjadi ke depannya. Ghea dan Arci pasti punya rencana sendiri pikir Andini. Dan ia akan menunggu kedatangan Arci suatu saat nanti.

***

Tommy tampak puas. Dia telah melaksanakan apa yang dia inginkan. Kini ia duduk di kursi presiden direktur. Dia melihat sebuah foto yang terpampang di pigura. Foto Andini.

“Tch, aku lupa kalau mereka sudah menikah,” gumam Tommy. “Ah, whatever. Tak penting. Sekarang tak akan ada lagi yang bisa merebut kekayaan ini.”

Alfred masuk ke ruangannya. “Papa?”

“Hai Alfred, kerja bagus. Kamu sudah melacak keberadaan mereka?” tanya Tommy.

“Mereka sepertinya menghilang.”

“Apa kita sandera saja istrinya biar dia bisa muncul?”

“Itu ide bagus. Aku juga sudah berpikir ke arah sana, tapi mereka juga menghilang tanpa jejak.”

“What?”

“Ah, tapi aku tak peduli. Mereka tak akan mungkin merebut ini. Apa mereka mau cari mati? Hahahaha, kerja bagus. Sekarang tinggal kita satukan perusahaan ini dengan PT Denim.”

***

Andini menerima email Arci.

From: arci
To: andini
Subject: I’m Sorry

Maaf sayangku, sepertinya aku harus menunda bulan madu kita. Tapi secepatnya aku akan kembali.

I love you.

Arci.

“Arci, aku merindukanmu,” desah Andini. Dia bersama dengan ibu, ayahnya, Lian dan Putri mengendarai mobil pergi ke tempat yang dirasa mereka aman. Andini tak membalas email dari Arci. Tapi ia yakin Arci sekarang pasti sangat merindukannya. Tiba-tiba saja pikirannya mengatakan bagaimana kalau Ghea jadi lebih dekat ke Arci? Ah, itu hanya perasaannya. Tapi sebagai istrinya ia juga punya rasa cemburu.

“Arci, aku merindukanmu,” lagi-lagi Andini mendesah.

Dan Arci saat itu sedang memandang langit yang penuh bintang. Dia bergumam, “Andini, tunggulah aku….”

Bersambung